Frontier Agribisnis 5 (4), Desember 2021 - 137
Frontier Agribisnis
OPENACCESSe-ISSN 0000-0000
Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa (JTAM) https://ppjp.ulm.ac.id/journals/index.php/fag
ANALISIS TATANIAGA GUMBILI NAGARA DI KECAMATAN DAHA SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN
Trading System Analysis of Gumbili Nagara in Daha Selatan Subdistrict, Hulu Sungai Selatan District
Mahfika *, Luthfi Fatah dan Nurmelati Septiana
*Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani km. 36, Banjarbaru 70714, Kalimantan Selatan
ABSTRAK
Kata Kunci
Analisis Tataniaga; Saluran Pemasaran;
Biaya Pemasaran; Efisiensi
Korespondensi Corresponding author
E-mail :
[email protected] Diterima: November 2021, Disetujui: 30 November 2021, Diterbitkan: 1 Desember 2021
Analisis tataniaga gumbili nagara di Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan bertujuan untuk menganalisis struktur dan pola saluran gumbili nagara, menganalisis perilaku pasar dalam kegiatan tataniaga komoditas gumbili nagara, dan menganalisis efisiensi saluran pemasaran gumbili nagara didaerah penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada bulan Oktober 2020. Data penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung atau dari wawancara kepada petani dan lembaga tataniaga sebagai responden, sedangkan data sekunder di ambil dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Hulu Sungai Selatan, Dinas Pertanian Hulu Sungai Selatan, Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kecamatan Daha Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pemasaran gumbili nagara struktur pasar bersaing, produk yang diperjualbelikan produk homogen, dalam memasuki pasar pedagang tidak menemui hambatan yang berarti, informasi mengenai harga sangat mudah didapatkan oleh pedagang, dan pedagang tidak bisa mempengaruhi penentuan harga karena harga gumbili nagara terbentuk dari mekanisme pasar, dan pola saluran dalam penelitian ini terdapat 4 pola saluran pemasaran. Efisiensi saluran gumbili nagara adalah saluran pemasaran yang bernilai efisien secara ekonomis, dalam penelitian ini untuk grade A saluran pemasaran paling efisien adalah saluran 3 dengan nilai efisiensi sebesar 7,2% sedangkan untuk grade B dengan nilai efisiensi 4%
terdapat pada saluran 1. Jika memiliki modal yang cukup besar kemudian berkeinginan untuk menjadi pedagang gumbili nagara maka pilihan yang tepat adalah sebagai pedagang besar pada saluran 3, karena pedagang besar memiliki kuantitas penjualan terbanyak sehingga akan mendapatkan keuntungan yang banyak pula.
PENDAHULUAN
Pertanian sebagai sumber kehidupan yang strategis. Istilah “kehidupan” diartikan sebagai keinginan untuk bertahan disertai usaha untuk memperolehnya. Ketika kehidupan ini di peroleh, yaitu dari hewan ternak melalui produk dengan nilai tambah yang digunakan orang, misalkan susu dari hewan ternak, sutera dari ulat sutera, dan madu dari lebah, atau pun tanaman yang menghasilkan buah-buahan, maka itulah yang disebut dengan pertanian.
Tanaman pangan merupakan salah satu kebutuhan penting bagi makhluk hidup. Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang terpenting selain sandang dan papan. Tanaman pangan merupakan sektor penting dalam bidang pertanian karena kelompok tanaman ini yang menghasilkan bahan pangan sebagai sumber energi untuk menopang kehidupan manusia.
Tanaman pangan terbagi menjadi dua yaitu tanaman palawija dan tanaman utama. Tanaman utama yang biasanya ditanam oleh petani di Indonesia adalah tanaman padi dengan tanaman keduanya dapat berupa tanaman jagung atau ubi.
Ubi jalar (Ipomoea batatas) atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika Bagian Tengah. Ubi jalar menyebar ke seluruh dunia terutama negara-negara beriklim tropika, diperkirakan pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol dianggap berjasa menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia terutama Filipina, Jepang dan Indonesia (Rukmana, 1997).
Menurut Abdrianto dan Indarto (2004), berdasarkan tekstur, ukuran, warna kulit, dan warna umbi yang sangat bervariasi tergantung varietasnya. Warna ubi jalar terdiri dari ubi jalar kuning, ubi jalar oranye, ubi jalar putih, ubi jalar jingga dan ubi jalar ungu. Ubi jalar berwarna jingga atau oranye mengandung betakaroten tinggi dari pada ubi lainnya.
Di dunia, peringkat ubi jalar menduduki tingkat kesembilan di antara tanaman pangan penting lainnya. Ubi jalar merupakan pemanfaatan sumber kalori, dibandingkan padi, kentang, kedelai, nilai gizi ubi jalar dapat dilihat komposisi zat gizinya (Sarwono, 2005).
Dalam rangka peningkatan taraf hidup dan pendapatan petani maka usaha-usaha peningkatan produksi saja tidak cukup, akan tetapi harus diimbangi dengan usaha perbaikan dan penyempurnaan di bidang pemasaran hasil.
Peningkatan produksi tanpa diiringi oleh sistem pemasaran hasil yang efisien menyebabkan rendahnya harga yang diterima petani mengakibatkan berkurangnya pendapatan petani.
Di Hulu Sungai Selatan, khususnya di Nagara, ada beberapa komoditas yang menjadi ikon daerah tersebut yaitu Semangka, Kacang Nagara, dan Ubi atau sering di sebut dengan Gumbili Nagara. Gumbili Nagara adalah ubi lokal Kalimantan Selatan yang diusahakan oleh petani di lahan rawa lebak wilayah Nagara yang kemudian menjadi sentra di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sistem pemasaran atau tataniaga gumbili nagara yang selama ini berjalan menurut pengakuan petani pada survey awal ada beberapa pola saluran, yang pertama petani menjual langsung ke konsumen akhir, kedua petani menjual kepada pengumpul, ketiga petani bisa langsung menjual ke pedagang pengecer, keempat petani menjual langsung ke pedagang besar.
Tujuan dan Kegunaan
Terdapat 3 tujuan dalam penelitian ini. Pertama menganalisis struktur dan pola saluran pemasaran gumbili nagara di daerah penelitian.
Kedua menganalisis perilaku pasar dalam kegiatan tataniaga komoditas gumbili nagara.
Ketiga menganalisis efisiensi saluran pemasaran gumbili nagara di daerah penelitian.
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak terutama bagi petani dan lembaga pemasaran yang terlibat dalam kegiatan pemasaran komoditas gumbili nagara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Daha Selatan yang merupakan salah satu sentra produksi gumbili nagara yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini dimulai pada Bulan Oktober 2020 sampai dengan selesai.
Frontier Agribisnis 5 (4), Desember 2021 - 139 Data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh secara langsung di lapangan, baik melalui pengamatan langsung, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara pada sejumlah petani dan lembaga pemasaran yang terkait (responden) pada wilayah pemasaran gumbili nagara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sedangkan data sekunder merupakan data penunjang yang diperoleh dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Hulu Sungai Selatan, Dinas Pertanian Hulu Sungai Selatan, Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kecamatan Daha Selatan dan literatur terkait.
Daerah penelitian dipilih secara purposive (sengaja) yaitu Kecamatan Daha Selatan, dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Daha Selatan sebagai salah satu sentra produksi terbesar gumbili nagara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Dari Kecamatan Daha Selatan dipilih tiga desa yaitu Desa Tambangan, Baruhjaya dan Samuda.
Penelitian ini mengambil data dari 30 orang responden petani, diambil secara Proporsionate Random Sampling.
Lembaga pemasaran lain seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer di Kecamatan Daha Selatan dilakukan dengan teknik snowball sampling dengan mengikuti alur pemasaran yang terjadi dari petani hingga ke konsumen.
Untuk menjawab tujuan pertama yaitu menganalisis struktur dan pola saluran pemasaran gumbili nagara di daerah penelitian dan tujuan kedua yaitu menganalisis perilaku pasar dalam kegiatan tataniaga komoditas gumbili nagara adalah dengan menggunakan metode observasi langsung ke lapangan kemudian dianalisis secara deskriptif.
Untuk menjawab tujuan ketiga yaitu menganalisis efisiensi saluran pemasaran gumbili nagara di daerah penelitian dilakukan analisis efisiensi ekonomi, tetapi sebelum menentukan efisiensi terlebih dahulu harus mengetahui margin pemasaran yaitu dengan menjumlah biaya dan profit keuntungan pada masing-masing saluran pemasaran menurut Hanafiah (1986) dengan rumus sebagai berikut:
Mi = Psi–Pbi (1)
Mi = Ci + i (2)
Mt = Ct + t (3)
dengan: Mi = margin pemasaran pasar tingkat ke-i (Rp / Kg)
Psi = harga jual paar tingkat ke-i (Rp / Kg)
Pbi = harga beli pasar tingkat ke-i (Rp / Kg)
Ci = biaya pemasaran pada tingkat ke-i (Rp / Kg)
i = keuntungan lembaga pemasaran pada tingkat ke-i (Rp / Kg)
Mt = margin pemasaran total (Rp / Kg)
Ct = biaya pemasaran total (Rp / Kg) t = keuntungan lembaga
pemasaran total (Rp / Kg) Untuk mengetahui saluran pemasaran gumbili nagara mana yang secara ekonomis relatif lebih efisien dari berbagai saluran pemasaran yang ada, dilakukan analisis efisiensi berdasarkan pengukuran efisiensi menurut Soekartawi (1993) yang menggunakan rumus sebagai berikut :
EpE = C / H x 100% (4)
dengan : EpE = Efisiensi tataniaga (%) C = Biaya tataniaga gumbili nagara
(Rp/Kg)
H = Harga jual terakhir / nilai akhir (Rp/Kg)
HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Responden
Karakteristik Responden Petani. Umur responden petani berkisar antara 36 sampai 55 tahun. Kelompok umur 46 – 50 tahun merupakan kelompok umur yang terbesar yaitu 11 orang atau sebesar 36,67% sedangkan umur kelompok petani terkecil adalah 51 – 55 tahun yaitu sebesar 5 orang atau 16,66%. Berdasarkan penelitian 36,67% pendidikan petani hanya
lulusan SD/Sederajat, 23,33% tidak sekolah, 30% bersekolah hingga tingkat SMP/Sederajat, dan hanya 10% yang bersekolah hingga tingkat SMA/Sederajat.
Karakteristik Responden Pedagang, pembagian umur terbanyak terdapat pada kelompok umur 41 – 45 tahun yaitu 5 orang dengan persentase sebesar 35,72%, terbanyak kedua yaitu pada kelompok umur 31-35 tahun yaitu 3 0rang dengan persentase sebesar 21,43%. Hasil penelitian tingkat pendidikan pedagang gumbili nagara terbanyak terdapat pada tingkat SD/Sederajat dengan persentase 50% yaitu 7 orang dari total 14 orang responden pedagang.
Struktur dan Pola Saluran Pemasaran Struktur Pasar. Pertama tingkat petani mengalami pasar bersaing ditandai dengan kondisi jumlah petani gumbili nagara banyak yaitu lebih dari 30 orang disertai dengan banyaknya jumlah pedagang yang bertindak sebagai pembeli. Petani tidak bisa bertindak sebagai penentu harga, harga terbentuk berdasarkan harga yang berlaku di pasar.
Informasi pasar tentang harga gumbili nagara cukup mudah diakses oleh petani. Petani juga dapat memperoleh informasi harga melalui para pedagang yang ada dipasar. Petani sebagai penjual bisa dengan mudah memasuki pasar gumbili nagara karena tidak adanya hambatan yang berarti; Kedua tingkat pedagang pengumpul gumbuli nagara menghadapi struktur pasar bersaing. Produk yang di jual disni juga bersifat homogen yaitu gumbili nagara yang belum mengalami pengolahan.
Dalam memasuki pasar pedagang juga tidak menemui hambatan. Informasi pedagang pengumpul mengenai harga gumbili nagara di pasaran sangat mudah di peroleh. Pedagang pengumpul tidak dapat mempengaruhi harga , karena terbentuk dari mekanisme pasar; Ketiga tingkat pedagang besar menghadapi struktur pasar bersaing produk yang diperjualbelikan disini juga bersifat homogen yaitu gumbili yang belum mengalami pengolahan. Dalam memasuki pasar pedagang besar tidak menemukan hambatan yang berarti sehingga pedagang bisa dengan mudah keluar masuk pasar. Akses pedang besar untuk mendapatkan informasi mengenai harga gumbili nagara di pasar pun sangat mudah. Pedagang besar tidak bisa mempengaruhi harga hanya bertidak sebagai penerima harga karna harga gumbili
nagara biasa sesuai dengan harga pasar atau terbentuk dari mekanisme pasar; Keempat tingkat pedagang pengecer mengalami struktur pasar bersaing. Pedagang pengecer adalah lembaga pemasaran terakhir yang menyalurkan gumbili nagara langsung kepada konsumen akhir. Baik pedagang pengecer maupun konsumen tidak bisa mempengaruhi terbentuknya harga, mereka hanya bertindak sebagai penerima harga. Jenis produk yang diperjualbelikan bersifat homogen Dalam proses keluar masuk pasar pedagang pengecer tidak menemukan hambatan yang berarti.
Pola Pemasaran, Pertama saluran 1 yaitu petani bertindak sebagai pedagang dan menjual langsung ke konsumen; Kedua saluran 2 yaitu Petani menjual gumbili kepda pedagang pengecer kemudian pedagang pengecer langsung menjual kepada konsumen akhir;
Ketiga saluran 3 yaitu petani menjual gumbili kepada pedagang pengumpul kemudian pedagang pengumpul menjual kepada pedagang besar lalu pedagang besar menjual langsung kepada konsumen; Keempat saluran 4 yaitu petani menjual gumbili kepada pedagang pengumpul kemudian pedagang pengumpul menjual kepada pedagang besar lalu pedagang besar menjual kepada pedagang pengecer dan kemudian pedagang pengecer menjual gumbili kepada konsumen.
Perilaku Pasar
Perilaku pasar adalah pola tindakan atau pemikiran peserta tataniaga, yaitu petani, lembaga pemasaran, dan konsumen dalam memberikan respon terhadap situasi pasar yang tengah terjadi. Perilaku pasar ini dapat dilihat dari proses jual-beli gumbili nagara oleh pelaku tataniaga gumbili nagara yang terlibat, dilihat dari sistem penentuan harga, sistem pembayaran dan serta kerjasama yang terjalin antar lembaga pemasaran :
Pertama praktek pembelian dan penjualan pada lembaga tataniaga. Petani gumbili nagara hanya melakukan penjualan saja. Sebagian besar petani menjual gumbili kepada pedagang pengumpul, pedagang pengumpul datang langsung ke lahan petani dan melakukan transaksi jual beli di lahan perkebunan tersebut.
Sistem pembayaran yang di lakukan pedagang pengmpul adalah tunai ada pula dengan sistem pembayaran hutang. Biaya tataniaga yang terdiri dari pencucian, penyortiran dan pengangkutan
Frontier Agribisnis 5 (4), Desember 2021 - 141 serta transfortasi biasanya di tanggung oleh
pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul ini kemudian menjual gumbili nagara yang sudah mengalami proses pencucian penyortiran kepada beberapa pedagang lain seperti pedagang pengecer pada saluran 2 serta kepada pedagang besar pada saluran 3 dan 4. Pedagang besar membeli gumbili nagara dari pedagang pengumpul, gumbili yang diperjualbelikan merupakan gumbili yang belum mengalami pengolahan yaitu gumbili yang masih mentah.
Pembayaran yang dilakukan pedagang besar kepada pedagang pengumpul merupakai langsung atau uang tunai. Gumbili tersebut kemudian dijual kepada pedagang pengecer pada saluran 4.
Kedua sistem penentuan harga pada lembaga tataniaga. Umumnya harga terbentuk dari proses tawar oleh pembeli dan proses menawarkan oleh penjual. Penjual menawarkan harga jual gumbili nagara dengan perhitungan yang telah dipikirkan mengenai biaya dan keuntungan yang diinginkan oleh penjual. Penjual harus dapat melindungi harga yang sudah ditawarkan agar tidak mengalami kerugian. Pembeli menawarkan harga tertentu untuk produk yang sedang diperjualbelikan sesuai dengan pertimbangan yang telah pembeli lakukan.
Pembeli juga harus melindungi harga yang di tawarkan agar pembeli tidak mengalami kerugian. Ketika sudah terjadi kesepakatan harga dari penjual dan pembeli maka saat itulah terjadi harga pasar dan transaksi dapat terjadi.
Petani tidak dapat menentukan harga, petani hanya dapat bertindak sebagai penerima harga.
Harga yang diterima petani merupakan harga yang berlaku di pasar. Pada tingkat pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer biasanya juga tidak dapat menentukan harga, mereka umumnya hanya bertindak sebagai penerima harga . Penentuan harga ditingkat pedagang umumnya berdasarkan dari mekanisme pasar dan harga yang berlaku. Hal ini disebabkan oleh struktur pasar yang di hadapi oleh pedagang ssama yaitu mendekati pasar bersaing.
Ketiga kerjasama antar Lembaga Tataniaga, kerjasama antar lembaga tataniaga sangat penting, hal ini agar penyaluran pemasaran gumbili nagara bisa berjalan dengan lancar mulai dari petani hingga ke konsumen akhir.
Kerjasama antar lembaga tataniaga gumbili nagara di Kecamatan Daha Selatan umumnya
kerjasama yang tidak terikat kontrak. Umumnya pedagang pengepul dan pedagang pengecer membeli gumbili kepada petani adalah merupakan langganan petani tersebut. Demikian pula pedagang pengumpul dengan pedagang besar, pedagang besar dengan pedagang pengecer umumnya mereka melakukan jual beli karena mereka merupakan langganan. Namun tidak menutup kemungkinan petani dapat menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul, pedagang pengecer, dan konsumen lain yang merupakan bukan langganan.
Efisiensi Pemasaran Gumbili Nagara
Efisiensi pemasaran bertujuan untuk mengetahui sistem pemasaran atau saluran pemasaran mana yang bernilai efisien secara ekonomis. Untuk mendapatkan dan mengetahui saluran pemasaran mana yang bernilai efisien terlebih dahulu kita harus tau biaya, keuntungan dan margin pemasaran di setiap saluran pemasaran. Perhitungan biaya keuntungan, dan margin pemasaran gumbili nagara dapat dilihat pada Tabel 1:
Tabel 1. Perhitungan Biaya, Keuntungan, Persentase Keuntungan dan Margin Pemasaran Gumbili Nagara pada Saluran 1 Tahun 2020.
Lembaga Pemasaran dan Komponen Margin
Nilai (Rp/Kg) Grade B
Margin (Rp/Kg)
Persentase Margin (%) Petani sebagai pedagang
Harga beli Biaya-biaya
- Transportasi Harga Jual Keuntungan
1.000
100 2.500 1400
1.500 60
Sumber: Data Primer Tahun 2020
Berdasarkan pada Tabel 1 dapat dilihat biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran Gumbili Nagara di saluran 1 hanya satu biaya yaitu transfortasi. Biaya transfortasi tersebut adalah sebesar Rp 100/Kg. Adapun keuntungan penjualan pada saluran 1 adalah sebesar Rp 1.400/Kg dengan jumlah volume rata-rata satu kali penjualan yaitu sebesar 200Kg dan harga jual sebesar Rp 2.500/Kg.
Tabel 2. Perhitungan Biaya, Keuntungan, Persentase Keuntungan dan Margin Pemasaran Gumbili Nagara pada Saluran 2 Tahun 2020.
LLembaga Pemasaran dan Komponen Margin
Nilai (Rp/Kg)
Margin (Rp/Kg)
Persentase Margin
Grade Grade Grade
A B A B A B
Petani Harga jual
3.000 2.000
Pedagang pengecer Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi -Kemasan -Retribusi Harga jual Keuntungan
3.000
150 180 40 5.000 1.630
2.000
150 90 40 4.000 1.720
2.000 2.000 40 50
Sumber: Data Primer tahun 2020
Biaya pemasaran yang dikeluarkan untuk grade A pada saluran 2 yaitu sebesar Rp 370/Kg dengan biaya tertinggi diperoleh dari kemasan yaitu sebesar Rp 180/Kg, transfortasi sebesar Rp 150/Kg, dan retribusi pasar sebesar Rp 40/Kg.
Adapun untuk grade B memperoleh biaya pemasaran sebesar Rp 280/Kg dengan biaya tertinggi diperoleh dari transfortasi yaitu sebesar Rp 150/Kg, kemasan sebesar Rp 90/Kg, dan retribusi pasar sebesar Rp 40/Kg. Keuntunan total pada saluran 2 untuk grade A sebesar Rp 1.630/Kg dengan margin totalnya sebesar Rp 2.000/Kg. Sedangkan grade B memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.720/Kg dengan total margin sebesar Rp 2.000/Kg. Adapun volume penjualan rata-rata setiap penjualan sebesar 50kg perhari.
Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa biaya total pemasaran untuk grade A sebesar Rp 360/Kg dengan biaya tertinggi diperoleh dari kemasan pada pedagang besar sebesar Rp 180/Kg.
Keuntungan tertinggi diperoleh pada pedagang besar dengan keuntungan sebesar Rp 1.090/Kg untuk grade A dan sebesar Rp 1.380 umtuk grade B. Total keuntungan untuk saluran ini adalah Rp 1.490/Kg untuk grade A dan Rp 1.730/Kg pada grade B.
Tabel 3. Perhitungan Biaya, Keuntungan, Persentase Keuntungan dan Margin Pemasaran Gumbili Nagara pada Saluran 3 Tahun 2020.
Lembaga pemasaran dan
komponen margin
Nilai (Rp/Kg) Margin (Rp/Kg)
Persentase Margin
Grade Grade Grade
A B A B A B
Petani
Harga jual 3.150 2.000 Pedagang
pengumpul Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi
Harga jual Keuntungan
3.150
50 3.600 400
2.000
50 2.400 350
450 400 12,5 16,67
Pedagang besar Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi -Tenaga kerja -Kemasan -Retribusi
Harga jual Keuntungan
3.600
25 100 180 5 5.000 1.090
2.400
25 100 90 5 4.000 1.380
1.400 1.600 28 40
Sumber: Data Primer Tahun 2020
Pada saluran 4 biaya total untuk grade A sebesar Rp 610/Kg dan Rp 520/Kg untuk grade B, total keuntungan pada saluran 4 untuk grade A yaitu Rp 1.990/Kg dan Rp 1.580/Kg untuk grade B.
Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 970/Kg untuk grade A dan sebesar Rp 710/Kg untuk grade B.
Margin terbesar didapatkan oleh pedagang pengecer baik grade A maupun grade B, dan persentase margin terbesar untuk grade B didapatkan oleh pedagang pengecer yaitu sebesar 25% dapat dilihat pada Tabel 4.
Setelah mengetahui masing-masing biaya, keuntungan, dan margin pemasaran di setiap saluran maka dapat diperhitungkan efisiensi ekonomis pada masing-masing saluran
Frontier Agribisnis 5 (4), Desember 2021 - 143 pemasaran gumbili nagara dapat dilihat
pada Table 5.
Tabel 4. Perhitungan Biaya, Keuntungan, Persentase Keuntungan dan Margin Pemasaran Gumbili Nagara pada Saluran 4 Tahun 2020.
Lembaga pemasaran dan
komponen margin
Nilai (Rp/Kg)
Margin (Rp/Kg)
Persentase Margin
Grade Grade Grade
A B A B A B
Petani
Harga jual 2.900 1.900 Pedagang
pengumpul Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi Harga jual Keuntungan
2.900
50 3.500 550
1.900
50 2.400 450
600 500 17,14 20,83
Pedagang besar Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi -Tenaga kerja -Kemasan -Retribusi Harga jual Keuntungan
3.500
25 100 100 5 4.200 470
2.400
25 100 50 5
3.000 420
700 600 16,65 20
Pedagang pengecer Harga beli Biaya-biaya -Transfortasi -Kemasan Harga jual Keuntungan
4.200
250 80 5.500 970
3.000
250 40 4.000 710
1.300 1.000 23,64 25
Sumber : Data Primer Tahun 2020
Terlihat dari Tabel 5, bahwa sluran yang paling efisien adalah saluran
3 yaitu dengan nilai 7,2% pada grade A sedangkan pada grade B terdapat pada saluran 1 dengan nilai efisiensi sebesar 4%.
Tabel 5. Perhitungan efisiensi ekonomis pada masing-masing saluran pemasaran Gumbili Nagara di Kecamatan Daha Selatan 2020
Lembaga pemasaran
dan komponen
margin
Total biaya pemasaran
(Rp)
Harga Jual Terakhir (Rp)
Efisiensi ekonomis (%)
Grade Grade Grade
A B A B A B
Saluran 1 Saluran 2 Saluran 3 Saluran 4
- 370 360 610
100 280 270 520
- 5.000 5.000 5.500
2.500 4.000 4.000 4.000
- 7,4 7,2 11,09
4 7 6,75
13
Sumber : Data Primer Tahun 2020
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Pertama struktur pemasaran gumbili nagara adalah struktur pasar bersaing, produk yang diperjualbelikan merupakan produk homogen yaitu gumbili nagara yang belum mengalami pengolahan, dalam memasuki pasar pedagang tidak menemui hambatan yang berarti, informasi mengenai harga sangat mudah didapatkan oleh pedagang, dan pedagang tidak bisa mempengaruhi penentuan harga karena harga gumbili nagara terbentuk dari mekanisme pasar. Sedangkan pola saluran pemasaran adalah sistem pendistribusian gumbili nagara dari petani sampai ke konsumen akhir, dalam penelitian ini terdapat 4 saluran pemasaran.
Kedua perilaku pasar dalam kegiatan tataniaga gumbili nagara dapat dilihat dari: (a) Praktek Pembelian dan Penjualan pada Lembaga Tataniaga. Sebagian besar petani menjual gumbili kepada pedagang pengumpul, pedagang pengumpul ini kemudian menjual gumbili nagara kepada pedagang pengecer pada saluran 2 serta kepada pedagang besar pada saluran 3 dan 4, kemudian pedagang besar menjual gumbili nagara kepada pedagang pengecer atau langsung kepada konsumen; (b) Sistem Penentuan Harga pada Lembaga Tataniaga.
Umumnya hatga terbentuk dari proses tawar
menawar antar pembeli dengan penjual; (c) Kerjasama antar Lembaga Tataniaga. Kerjasama antar lembaga tataniaga gumbili nagara umumnya kerjasama yang tidak terikat kontrak.
Ketiga e
fisiensi saluran gumbili nagara adalah saluran pemasaran yang bernilai efisien secara ekonomis, dalam penelitian ini saluran pemasaran yang paling efisien terdapat pada saluran 3 yaitu dengan nilai 7,2% pada grade A sedangkan pada grade B terdapat pada saluran 1 dengan nilai efisiensi sebesar 4%.
Saran
Dari hasil penelitian penulis memberikan saran untuk:
Pertama petani sebaiknya memanen gumbili nagara tidak usah terburu-buru agar gumbili yang dihasilkan berukuran lebih besar (grade A), karena ukuran gumbili nagara akan terus bertambah besar seiring bertambahnya usia tanam.
Kedua petani sebaiknya menjual gumbili nagara langsung kepada pedagang pengumpul pada saluran 3 agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Ketiga pedagang pengecer pada saluran 2 adalah pedagang yang mendapatkan keuntungan terbesar perkilogramnya, maka jika ingin berusaha gumbili nagara dengan modal kecil lebih baik sebagai pedagang pengecer yang langsung membeli produk dari petani kemudian menjualnya langsung kepada konsumen akhir.
Jika memiliki modal yang cukup besar kemudian berkeinginan untuk menjadi pedagang gumbili nagara maka pilihan yang tepat adalah sebagai pedagang besar pada saluran 3, karena pedagang besar memiliki kuantitas penjualan terbanyak sehingga akan mendapatkan keuntungan yang banyak pula.
DAFTAR PUSTAKA
Abdrianto, T. T. dan N. Indarto. 2004. Budidaya dan analisis usahatani ubi jalar-kentang.
Absolut. Yogyakarta.
Hanafiah, A.M. dan A.M Saefuddin. 1986.
Tataniaga Hasil Pertanian. Penerbit UI.
Jakarta
Rukmana, 1997. Ubi Jalar-Budidaya dan pasca panen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Sarwono, B. 2005. Ubi Jalar: Cara Budidaya yang Tepat, Efisien dan Ekonomis.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Soekartawi, 1993. Resiko dan Ketidakpastian dalam Agribisnis. Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.