• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAGASAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN BUYA HAMKA DI INDONESIA TAHUN 1950-1975

N/A
N/A
M Yusuf Rabil

Academic year: 2024

Membagikan "GAGASAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN BUYA HAMKA DI INDONESIA TAHUN 1950-1975 "

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

GAGASAN PENDIDIKAN ISLAM MODERN BUYA HAMKA DI INDONESIA TAHUN 1950-1975

Muhammad Yusuf Rabil, Samsudin [email protected],[email protected] Prodi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora

UIN SGD Bandung 2020 Abstrak

Buya Hamka adalah seorang yang dengan pemikiran-pemikirannya banyak memengaruhi masyarakat Indonesia. Salah satu masalah yang muncul dalam dunia pendidikan hari ini adalah terjadinya pengesampingan nilai dan akhlak dalam setiap kegiatan pendidikan. Lebih spesifik lagi apabila melihat dari khazanah teori pendidikan Islam, pendidikan lebih berorientasi pada ranah taklim dan tarbiyah saja, dan mengesampingkan ranah ta’dīb, sehingga secara tidak langsung mengantarkan manusia pada paham yang materialistis.

Dengan demikian perlunya penulis sebagai pelajar sejarah Islam mengetahui konsep-konsep gagasan Buya Hamka akan pendidikan modern agar mampu diterapkan pada dunia pendidikan kontemporer yang penuh dengan problem-problem ketimpangan nilai-nilai dan akhlak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah heuristik, kritik, interpretasi, dan histiograf. Tujuan penelitian untuk memberikan gambaran gagasan pedidikan modern Buya Hamka yang dihubungkan dengan kondisi saat ini, sehingga penulis menemukenali adanya relevansi gagasan pendidikan modern Buya Hamka dengan kondisi keterkinian dan pada akhirnya bila ini diterapkan akan mampu membawa bangsa ini kepada kehidupan yang jauh lebih baik. Hasil penelitian gagasan pendidikan modern juga sejalan dengan pendidikan yang ada saat ini dengan konsep pendidikan modern yang disusun oleh Buya Hamka sebagai bukti kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.

Kata kunci: Buya Hamka,Pendidikan,Pemikiran,Modernisasi

(2)

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap manusia, karena pendidikan merupakan kunci dari kemajuan suatu bangsa. pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kea rah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Pendidikan Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.1

Buya Hamka adalah di antara para tokoh muslim yang memberi perhatian pada persoalan pendidikan modern yang integratif ini. Dalam konteks ini, Buya Hamka mencoba membangun proses pendidikan modern dalam sebuah pemahaman yang integratif. Dalam gagasannya, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat material- duniawi. Karena menurutnya pendekatan ini tidak akan membawa manusia kepada kebahagiaan rohani. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan potensi fitrah-Nya yang tinggi dengan potensi akal pikiran, perasaan dan sifat-sifat kemanusiaannya yang lain secara serasi dan seimbang. Melalui integrasi kedua unsur potensi tersebut, maka peserta didik akan mampu mengetahui rahasia AlQuran dan Al-Hadits serta alam semesta.2

Dalam perspektif Hamka, tujuan pendidikan Islam ternyata memiliki dua dimensi, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus melaksanakan tugas atau kewajibannya secara baik, yaitu beribadah kepada Allah Swt. Oleh karena itu, segala proses pendidikan pada dasarnya bertujuan agar dapat menjadikan murid sebagai hamba Allah Swt yang baik3. Pendidikan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Hamka, memang tidak hanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat materi. Pendidikan yang baik, dalam perspektif Hamka, tentu ialah pendidikan yang dapat mengintegralkan potensi lahir dan bati manusia. Sebab mustahil bagi seorang manusia untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat dengan mengabaikan salah satunya. Oleh karenanya, pendidikan mestilah seimbang, dalam arti selaras antara potensi fitrah lahir dan batin.

Metode Penetilian

Penelitian ini berfokus pada gagasan pendidikan modern Buya Hamka, bahwa gagasan Buya Hamka tentang pendidikan modern yang menekankan akhlak dan strategisnya posisi pendidik masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, bahkan perlu dipertahankan dan terus dikembangkan.

Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah.

Metode penelitian sejarah sendiri bisa diartikan sebagai suatu metode penelitian dan penulisan sejarah yang menggunakan prosedur atau cara sistematik sesuai asas-asas dan aturan ilmu sejarah, Metode ini memiliki tahapan-tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.

Heuristik merupakan sebuah kegiatan mencari sumber-sumber untuk mendapatkan data-data baik berupa sumber tulisan maupun sumber lisan, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dikaji oleh penulis4. Dalam tahap ini penulis mengumpulkan beberapa sumber dari buku-buku , jurnal-jurnal, website sejarah, dan wawancara. Sumber terbagi menjadi dua yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Buku karangan Buya Hamka yaitu Lembaga Hidup. Melalui buku ini, Buya Hamka mengajak untuk berikhtiar menuang lembaga hidup manusia masing-masing dengan berbagai kewajiban sesuai tuntunan Islam dan tidak membiarkannya menjadi sebatas lembaga. “Marilah berusaha, moga-moga sesuailah usaha 1 Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2004), 153

2 Http//Biografi Buya Hamka-Biografi (Referensi Biografi Tokoh dan Public Figur) Web.Httm.

3 Susanto, A. 2009. Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.

4 Syamsudin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Ombak

(3)

kita dengan ketentuan yang telah disediakan Tuhan buat kita,” nasihat Buya. Di buku ketiga seri Mutiara Falsafah Buya Hamka ini ragam kewajiban diuraikan, mulai kewajiban kepada diri pribadi, keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, tanah air, politik, hingga harta benda.

Dan, di atas semua itu, diuraikan juga kewajiban yang terpenting; kewajiban kepada Allah Swt”. Sumber sekunder yang digunakan pada penelitian ini adalah buku-buku yang ditulis mengenai pandangan Buya Hamka seperti Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam karya Samsul Nizar, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20 karangan Mohammad Heri.

Tahap selanjutnya adalah kritik sumber. Penulis melakukan penyaringan secara kritis terhadap sumber yang telah diperoleh, terutama terhadap sumber-sumber primer agar terjaring fakta yang menjadi pilihannya Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Dwi Fajri “Pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan Islam”(2000) dalam penelitian sebelumnya masih kurangnya pemaparannya untuk direlevansikan gagasan Pendidikan Buya Humka dengan kondisi keterkinian.

Selanjutnya Interpretasi dilakukan terhadap fakta dari sumber sejarah yang telah di kritik, dengan uraian dan pernyataan. Tahap akhir adalah historigrafi atau penulisan sejarah.

Studi Pustaka

Pada sebuah upaya untuk melakukan penelitian maka dibutuhkan sebuah panduan serta dukungan untuk setiap hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya yang akan berkaitan dengan sebuah penelitian yang sedang dilakukan. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Dwi Fajri “Pemikiran Buya Hamka tentang pendidikan Islam”(2000) dalam penelitian sebelumnya masih kurangnya pemaparannya untuk direlevansikan gagasan Pendidikan Buya Humka dengan kondisi keterkinian.

Melihat kekurangan diatas, maka penulis mencoba menggali kembali gagasan- gagasan pendidikan modern dari generasi terdahulu yang sudah terbukti akhlak dan kredibilitasnya dalam ke-Islam-an nya dan dalam hal ini gagasan Buya Hamka untuk bisa meramu kembali konsep pendidikan modern dalam rangka menjawab tantangan masa kini dan masa depan yang lebih baik. Meskipun sudah banyak para akademisi yang membahas tentang gagasan Buya Hamka, tetapi penulis memilih gagasan Buya Hamka karena adanya keyakinan penulis bahwa gagasan pendidikan modern Buya Hamka masih sangat relevan untuk menjawab persoalan-persoalan Bangsa yang dihadapi saat ini. Terutama bagaimana Bangsa ini mempersiapkan generasi mudanya, khususnya generasi muda Islam untuk menghadapi pengaruh perkembangan teknologi dan gerakan-gerakan golongan anti islam yang terus berupaya melunpuhkan sendi-sendi kekuatan Islam di Indonesia, bahkan dunia.

Pembahasan

Biografi singkat Buya Hamka

Hamka merupakan nama singkatan dari H. Abdul Malik Karim Amrullah. Nama ini adalah sesudah beliau menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 dan mendapat tambahan haji.

Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Tanah Sirah, dalam Nagari Sungai Batang, ditepi Danau Maninjau, Sumatra Barat, pada tahun 17 Februari 1908 ( 14 Muharram 1326 )5. Ia lahir sebagai anak pertama dari tujuh orang bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam.

Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau sering disebut Haji Rasul bin Syekh Muhammad Amarullah bin Tuanku Abdullah Saleh. Haji Rasul merupakan salah seorang ulama yang pernah mendalami agama di Mekkah, pelopor kebangkitan kaum muda dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, sedangkan ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria (w. 1934). Dari geneologis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal

5 Mafri Amri dan Lilik Ummi Kultsum, Literatur Tafsir Indonesia, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011), hlm.

156

(4)

dari keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Oleh karna itu, dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya6.

Hamka adalah salah satu tokoh pembaharu Minangkabau yang berupaya mengubah dinamika umat dan mujaddid yang unik. walaupun hanya sebagai produk pendidikan lama karena lahir dipeadaban pendidikan yang masih sederhana, namun beliau merupakan seorang intelektual yang memiliki wawasan menyeluruh dan visioner. Hal ini nampak pada pembaharuan pendidikan Islam yang ia perkenalkan melalui Masjid Al-Azhar yang ia kelola atas permintaan pihak yayasan melalui Ghazali Syahlan dan Abdullah Salim. Hamka menjadikan Masjid Al-Azhar bukan hanya sebagai institusi keagamaan, tetapi juga sebagai lembaga sosial7.

Urgensi Pendidikan

Mengenai urgensi pendidikan, Hamka mengemukakan pemikirannya tentang pentingnya manusia mencari ilmu pengetahuan, sebab bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak, tetapi lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah8. Hanya dengan bentuk pendidikan yang demikian, manusia akan memperoleh ketentraman (hikmat) dalam hidupnya.

Dalam pandangan Hamka pendidikan sebenarnya terbagi kepada dua bagian:

Pertama, pendidikan jasmani, yaitu pendidikan untuk pertumbuhan dan kesempurnaan jasmani serta kekuatan jiwa dan akal. Dengan memahami pentingnya pendidikan tubuh atau badan, seperti berolah raga teratur, istirahat yang cukup dan bekerja, maka tubuh akan sehat dan jauh dari sakit.

Kedua, pendidikan ruhani, yaitu pendidikan untuk kesempurnaan fitrah manusia dengan ilmu pengetahuan dan pengalamannya yang didasarkan kepada agama. Maksudnya ialah jiwa atau ruhani harus diberikan siraman pendidikan agama, beribadah, bersikap dan berakhlak baik.

Kedua unsur jasmani dan ruhani tersebut memiliki kecenderungan untuk berkembang, dan untuk menumbuhkembangkan keduanya adalah melalui pendidikan karena pendidikan merupakan sarana yang paling tepat dalam menentukan perkembangan secara optimal kedua unsur tersebut. Dalam pandangan Islam, kedua unsur tersebut dikenal dengan istilah fitrah. Artinya, setiap manusia pada dasarnya menuntun untuk senantiasa berbuat kebajikan dan untuk mengabdi kepada khaliq-Nya9.

Jika ada manusia yang tidak berbuat kebajikan, maka sesungguhnya ia telah menyimpang dari fitrahnya tersebut. Menurutnya, pada diri setiap anak (manusia), terdapat tiga unsur utama yang dapat menopang tugasnya sebagai khalifah fil ardh maupun

‘abdullah10. Selain itu, menurut Hamka bahwa fitrah manusia yang berjalan seirama dengan hukum-hukum Allah akan menemui dirinya sendiri yang awalnya tercipta dalam keadaan suci tanpa dosa11.

6 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 15-17.

7 Samsul Nizar, Sejarah dan Dinamika Lembaga- Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara, jakarta: Kencana Prenada, hlm.102

8 Hamka, Lembaga Hidup, (Jakarta: Djajamurni, 1972), h. 54.

9 Hamka, Falsafah Hidup, (Medan: Pustaka Islamiyah, 1980), h.66.

10 Susanto, Op. Cit, h.106.

11 Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Jilid 1, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h.

53.

(5)

Dengan perpaduan tiga unsur, yaitu akal, hati dan pancaindra yang terdapat pada jasad manusia, maka membantu manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan membangun peradaban, memahami fungsi kekhalifahannya, serta menangkap tanda-tanda kebesaran Allah12.

Pengertian Pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Sosok Hamka adalah multiperan. Selain sebagai ulama, ia juga seorang pemikir. Di antara pikirannya adalah tentang pendidikan. Bagi Hamka, pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi-pribadi. Kelahiran manusia di dunia ini tak hanya untuk mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tetapi juga selain beribadah kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya.

Buya Hamka membedakan makna pendidikan dengan pengajaran. Menurutnya pendidikan Islam adalah serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga Buya Hamka tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara pengajaran Islam adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan13. Perbedaan kedua pengertian tersebut sebenarnya hanya pada maknanya saja, namun secara prinsip ia tidak membedakannya. Kedua kata tersebut memuat makna yang integral dan saling melengkapi dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Sebab, setiap proses pendidikan di dalamnya terdapat proses pengajaran. Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan proses pendidikan.

Pendidikan Islam adalah pembentukan pribadi yang berbudi pekerti untuk mencapai kemajuan bangsa untuk mencapai kemuliaan14. Pendidikan budi maksudnya: membiasakan diri berterusterang, berani berkata benar, sabar atas rintangan dan bantahan, tahan akan kritik, dan teguh serta kuat. Kemudian Hamka juga meperhatikan pendidikan akal dengan maksud untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperbanyak penyelidikan, itulah pintu untuk merdeka. Sebab itu melepaskan kita dari keraguan dalam suatau keyakinan. Dengan ini akan menyebabkan kita tidak segera menerima yang baru datang dan tidak tetap atas yang lama, sebelum ditetapkan oleh akal kita sendiri.

Menurut Hamka, para ahli pendidikan telah sepakat bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan dua jalan untuk menjadi satu dan antara keduanya tak dapat dipisahkan. Pendidikan dan pengajaran adalah wasilah (jalan)yang paling utama bagi memajuan bangsa, mencapai kedudukan mulia di dunia. Berkat pendidikan dan pengajaran, tercapailah cita-cita yang tinggi. Sebab tiap-tiap bangsa, mesti mempunyai citacita yang tinggi. Akan tetapi apabila suatu bangsa hanya mementingkan pengajaran saja tanpa memikirkan pendidikan untuk melatih budi pekerti maka output yang dihasilkan tidak memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan spiritual. Hal tersebut akan menghasilkan orang yang boleh jadi pintartetapi buruk akhlaqnya, walaupun ada kemajuan karena kepintarannya tetapi akan menjadi racun bukanlah obat15.

Tujuan pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Menurut Buya Hamka pendidikan seharusnya memiliki dua dimensi, bahagia di dunia dan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus menjalankan tugasnya dengan baik yaitu beribadah. Oleh karena itu, segala proses pendidikan pada akhirnya bertujuan agar dapat menuju dan menjadikan anak didik sebagai abdi Allah. Dengan dmikian, tujuan pendidikan Islam menurut Hamka sama degan tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yaitu untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. Ia mengatakan bahwa ibadah adalah mengakui 12 Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: CV. Amzah, 2009), h. 99.

13 Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 230

14 Hamka, Lembaga Hidup, Cetakan kesebelas, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1997) 15 Lembaga Hidup, Op. Cit p. 257

(6)

diri sebagai hamba Allah, tunduk kepada kemauannya, baik secara sukarelamaupun terpaksa16.

Menurut Hamka didalam menuntut Ilmu hendaklah yang menimbulkan keinginannya menuntut ilmu itu keridhaan Allah Swt. Sebab dengan ilmu yang luas itulah dapat mengenal tuhan dan membangun budi pekerti. Bukanlah ilmu sekedar untuk mencari makan dan mencari gaji. Jangan menuntut ilmu karena hendak riya tetapi karena mengharap ridha Allah Swt. Karena orang yang riya itu sebenernya tidaklah menjadi besar, tetapi orang terhina.

Pengambil muka tidaklah hormat tetapi tersisih17.

Menurut Hamka dalam buku yang berjudul jejak pemikiran tokoh pendidikan Islam, beliau menjelaskan bahwa pentingnya manusia mencari ilmu pengetahuan, bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak, melainkan lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah Swt.

Dalam Pandangan Hamka di dalam buku yang berjudul Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20 adalah sarana untuk mendidik watak pribadi. Pendidikan juga sebagai sarana yang dapat menunjang dan menimbulkan serta menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan hidup manusia dalam berbagai ilmu pengetahuan. Kelahiran manusia di dunia ini tak hanya untuk mengenal apa yang dimaksud dengan baik dan buruk, tetapi juga, selain beribadah kepada Allah, juga berguna sesama dan alam lingkungannya18.

Lebih lanjut mengenai pendidikan, maka Hamka membedakan tentang makna pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, pendidikan adalah “serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik19. Sementara pengajaran adalah “upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan20.

Perbedaan kedua pengertian tersebut menurutnya sebetulnya hanya pada maknanya saja, namun secara esensi ia tidak membedakannya. Kedua kata tersebut memuat makna yang tak terpisahkan dan saling melengkapi dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Sebab, setiap proses pendidikan didalamnya terdapat proses pengajaran. Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak berarti apabila tidak dibarengi dengan proses pendidikan21.

Pendidik dalam Pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Tugas pendidik secara umum adalah memantau mempersiapkan dan mengantarkan peserta didik untuk memiliki ilmu pengetahuan yang luas, berakhlak mulia dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas. Dengan pelaksanaan pendidikan yang demikian peserta didik diharapkan mampu mewujudkan tujuan hidupnya baik secara horizontal (khalifah fil ard) maupun vertikal (abd Allah).

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang tersusun secara terencana dan sistematis. Sekolah bertugas mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam peserta didik secara maksimal sehingga memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan fungsinya di tengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini seorang pendidik bertugas membimbing peserta didiknya untuk memiliki ilmu yang luas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Untuk mewujudkan proses pendidikan yang ideal, seorang pendidik dituntut memiliki syarat-syarat sebagai berikut : 1) Adil dan obyektif. 2)Berakhlakul karimah.

3)Menyampaikan ilmu tanpa ada yang ditutupi. 4)Menghormati keberadaan murid sebagai manusia yang dinamis. 5)Memberikan ilmu sesuai dengan tempat, waktu, kemampuan, dan perkembangan jiwa. 6)Memperbaiki akhlak dengan bijaksana. 7)Membimbing sesuai dengan

16 A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: AMZAH, 2015), h. 107 17 Hamka, Lembaga Hidup., Op. Cit. h. 283

18 Herry Mohammad, Dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20.(Jakarta, Gema Insani Press, 2006), h.

64.

19 Hamka, Lembaga Hidup, Op. Cit, h. 202 20 Ibid, h. 202

21 Susanto, Op. Cit, h.107

(7)

tujuan pendidikan. 8)Memberikan bekal ilmu agama dan umum. 9)Mengajari hidup teratur.

10)Ikhlas dan tawadhu. 11)Membiasakan diri untuk membaca22 Peserta Didik dalam Pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Menurut Buya Hamka tugas dan tanggung jawab peserta didik ialah berupaya mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan seperangkat ilmu pengetahuan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt. melalui fitrah-Nya.

Sebagai seorang yang berupaya mncari ilmu pengetahuan maka peserta didik dituntut untuk : a) Jangan putus asa b) Jangan lalai c) Tidak merasa terhalang karena faktor usia d) Bertingkah laku sesuai dengan ilmu yang dimiliki e) Memperbagus tulisan agar mudah dibaca f) Sabar dan meneguhkan hati g) Mempererat hubungan dengan guru h) Khusu dan tekun i) Berbuat baik kepada orang tua dan abdikan ilmu untuk maslahat umat j) Jangan menjawab sesuatu yang tidak berfaedah k) Menganalisa fenomena alam semesta secara bersama dan bertafakur23

Setiap peserta didik hendaklah mengakui kelebihan seorang pendidik dan

menghormatinya karena pendidik itu lebih utama daripada ibu dan bapak tentang kebesaran jasanya. Ibu dan bapak mengasuh anak sejak dilahirkan. Tetapi pendidik melatih muridnya supaya berguna setelah besar. Karena akal budi itu adalah laksana berlian yang baru keluar dari tambang, masih kotor dan belum berkilat. Adalah guru yang menjadi tukang gosoknya dan membersihkannya, sehingga menjadi berlian yang berharga24.

Kurikulum Pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Dalam muatan kurikulum pendidikan, menurut Hamka harus mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan hidup manusia.

Materi pendidikan merupakan faktor terpenting dalam membantu peserta didik untuk menyerap pendekatan Islam terhadap materi-materi tersebut agar dapat menumbuhkan sikap Islam dalam kehidupannya.

Ada dua prinsip dasar yang dapat menunjang dan menjadikan kemajuan dan kejayaan manusia, yaitu prinsip keberanian dan prinsip kemerdekaan berpikir. Kedua prinsip ini menimbulkan berbagai macam pengetahuan dan tanpa keduanya ilmu pengetahuan tidak pernah muncul serta kejayaan manusia hanya berada dalam angan-angan.

Untuk menanamkan prinsip keberanian pada diri peserta didik, menurutnya ada lima pengetahuan yang diberikan kepada mereka, yaitu sebagai berikut :

a. Pelajaran olahraga, yang menjadikan jasmani anak didik kuat dan sehat. Olahraga tersebut seperti sepak bola, basket, mendaki bukit, dan berburu.

b. Pelajaran sejarah, terutama mengenai tokoh-tokoh pemberani dalam kebenaran dan mempertahankan bangsa dan tanah air serta agama.

c. Biasakan berterus terang dalam perkataan. Jangan terlalu banyak ambil muka dan tenggang-menenggang. Namun demikian, tetap dalam kesopanan dan teguh dalam keyakinan serta jujur.

d. Tidak percaya kepada khufarat.

e. Memperkaya akal dengan ilmu yang memberi faedah, sehingga dapat mengetahui hakikat sesuatu dan menutup pintu bagi masuknya khufarat25.

22 Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), h.

272

23 Ibid, h. 276

24 Hamka, Lembaga Hidup, (Jakarta: Republika Penerbit, 2016), h. 290 25 A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: AMZAH, 2015), h. 111

(8)

Adapun prinsip kemerdekaan berpikir, menurutnya kemerdekaan berpikir merupakan pangkal kemajuan dunia. Jika bukan karena kebebasan berpikir tentu manusia tetap berada dalam kondisi statis, dan tidak dapat mencapai kemajuan dalam langkah hidupnya. Kebebasan berpikir menyebabkan manusia berusaha terus menerus, berlomba dalam kecepatan informasi dan komunikasi. Dan yang menyebabkan pikiran tidak bebas, sebagian besar disebabkan karena kebodohan atau kejahilan yang merupakan dinding penghambat cita dalam mencapai kemajuan manusia.

Pengetahuan yang dapat menanamkan prinsip kebebasan berpikir ini menurut Hamka dapat diperoleh dari ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, ilmu tafsir, dan ilmu tasawuf.

Metode Pendidikan Islam menurut Buya Hamka

Agar proses pendidikan bisa terlaksana secara efektif dan efesien, maka hendaknya perlu mempergunakan berbagai macam-macam metode yang bisa mengantarkan peserta didik memahami semua materi dengan baik. Adapun metode pendidikan menurut Buya Hamka adalah sebagai berikut:

a) Diskusi, yaitu proses bertukar pikiran antara dua belah pihak. Proses ini bertujuan untuk mencari kebenaran melalui dialog dengan penuh keterbukaan dan persaudaraan.

b) Karyawisata, mengajak anak mengenal lingkungannya, dengan ini sang anak akan memperoleh pengalaman langsung serta kepekaan terhadap sosial.

c) Resitasi, memberikan tugas seperti menyerahkan sejumlah soal untuk dikerjakan, dimaksudkan agar anak didik memiliki rasa taggung jawab terhadap amanat yang diberikan kepadanya26.

d) Amar ma’ruf nahi munkar, memyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat jahat.

Bertujuan agar tulus hati dalam memperjuangkan kebenaran dan menjadikan pergaulan hidup lebih sentosa.

e) Observasi, memberikan penjelasan dan pemahaman materi pada peserta didik. Metode ini digunakan agar peserta didik lebih mengenal Tuhannya27.

Relevansi Gagasan Pendidikan Modern Islam Buya Hamka Dengan Saat Ini

Kondisi saat ini Umat Islam dihadapkan kepada tantangan yang cukup berat dan kompleks yang menyangkut beberapa aspek diantaranya: Teknologi, khususnya Media Telekomunikasi dan Informasi yang berkembang sedemikian pesatnya. Teknologi Internet mengawali perubahan yang sangat signifikan dalam kontruksi keterhubungan antar umat manusia dengan memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi di seluruh dunia, sehingga membuat hubungan tidak lagi dibatasi oleh ruang, jarak, dan waktu, kapanpun dimanapun selama terhubung dengan akses Internet maka keterhubungan akan terjalin.

Munculnya gerakan - gerakan paham Neo-Liberalisme dan Sekulerisme yang sengaja dirancang dengan melakukan berbagai cara pendangkalan dan pembelokkan Aqidah dan Iman terhadap umat Islam. Gerakan ini dilakukan oleh sekelompok Orang atau Organisasi anti Islam yang tidak tampak dan ini akan sangat berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran Islam yang murni dan benar atas dasar Al-Qur’an dan Hadist. Menurut Hasbi Indra dalam Bukunya “Pendidikan Islam Tantangan & Peluang di Era Globalisasi” juga membahas tentang besarnya pengaruh arus globalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk umat Islam, seperti dalam salah satu pernyataanya yaitu “Menghadapi berbagai fenomena hidup yang ditandai oleh kemajuan dalam berbagai hal yang juga memunculkan dampak negatif, umat Islam dituntut berperan aktif dengan membenahi pandangan hidupnya yang juga memandang penting kehidupan masa kini, pentingnya kerja bersama umat dan 26 Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Cputat: Quantum Teaching, 2005), h.

281

27 Syamsul Kurniawan dan Erwin Makhrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), h. 246

(9)

ditengah pluralitas yang ada harus dihadapi dengan kelapangan dada dan jiwa yang shabar , serta berperan secara aktif atas hal yang bersifat real kehidupan dengan berbagai problem kemanusiaan yang nyata yang harus segera diatasi.”

Para ulama dari waktu ke waktu sepakat bahwa pembaruan (tajdîd) harus dilakukan agar pokok-pokok ajaran Islam dapat diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat. Tanpa tajdîd, ajaran Islam akan membeku untuk kemudian ditinggalkan oleh pengikutnya. Beberapa ayat dan hadist yang mendasari pentingnya pembaruan antara lain Q.S. al-Dhuhâ: 4:

“Sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang dahulu”. Maka muncul upaya pembaruan pola pikir, etos kerja, dan metode agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Juga hadits Rasulullah yang terkenal:

Hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk umat ini pada pangkal tiap seratus tahun, orang yang akan memperbarui bagi mereka, urusan agama mereka”. H.R. Abu Dâwud, al-Baihaqî, dan al-Hâkim).

Buya Hamka menjelaskan bahwa pembaruan (modernisasi) mutlak diperlukan di segala bidang. Modernisasi untuk membangun jiwa bebas merdeka setelah sekian tahun terjajah. Modernisasi dari suasana feodal kepada alam demokrasi. Modernisasi dari sebuah negeri agraris tradisional menjadi Negara maju dan industrialis. Modernisasi dari suasana kebodohan kepada ilmu pengetahuan. Modernisasi ilmu pengetahuan untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju28. Apa yang diperjuangkan Muhammad s.a.w. kata Buya Hamka, hingga terjadi kebangkitan Islam adalah modernisasi yang tulen di berbagai bidang. Rasulullah berhasil mempersatukan bangsa Arab menjadi bangsa yang sadar akan harga diri, memiliki risalah menjadi besar dan menjadi guru pendidik bagi dunia. Rasulullah mendidik manusia untuk menghargai dan mengangkat setinggi-tingginya martabat perempuan yang saat itu sangat dihinakan. Beliau melarang eksploitasi manusia atas manusia untuk kepentingan pribadi, membenci kezaliman, menganjurkan pentingnya menegakkan amanah dan keadilan29.

Pembaruan di bidang pendidikan mutlak diperlukan. Hal itu karena terjadinya ketimpangan serius dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pertama pendidikan Barat yang menghasilkan rasa antipati kepada Islam. Dan kedua, pendidikan surau atau pondok yang membenci segala yang berbau Barat.

Karena umat Islam tidak mau berkompromi dengan kolonialisme dan kristenisasi, maka pihak penjajah memeras otak untuk dapat menjinakkan umat Islam yang dianggap

“liar” itu. Caranya dengan menyusun sistem pendidikan baru. Snouck Hourgronye pernah memberikan nasehat kepada pemerintah Hindia Belanda, supaya semangat Islam itu lemah dan kendor, agar diberikan pendidikan yang mengemukakan kemegahan nenek moyang sebelum Islam datang, hendaknya mengobarkan semangat nasionalisme, dan membangun orientasi berpikir seperti Barat. Sejak di sekolah dasar, hendaknya ditanamkan dasar netral agama. Setelah masuk jenjang perguruan tinggi, dituntun mempelajari agama Islam secara

“ilmiah” yang dipandu oleh sarjana Barat (para orentalis) yang beragama Kristen dan Yahudi, yang memandang Islam dari luar. Dengan model pendidikan itu, mereka merasa sebagai kalangan terpelajar Islam. “Bikinlah mereka jadi Belanda di Timur, sebagaimana kita jadi Belanda di Barat”, kata Hourgronye. Ditanamkan kepada mereka bahwa Islam itu kotor, santrinya kotor dan kudisan, kyainya tukang kawin bininya banyak, kolam masjidnya kotor dan sebagainya. Pahlawan yang dibanggakan bukan Raden Patah atau Sunan Gunung Jati, melainkan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Akhirnya mereka memandang Islam dengan sinis dan penuh cemoohan30.

Sebagai akibat dari sistem pendidikan Barat itu, maka di kalangan orang Islam yang teguh memegang Islam menjadi antipati dengan segala yang berbau Belanda (Barat). Mereka yang tinggi ghirah agamanya tidak sudi menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda. Mereka lebih suka mendirikan pondok, belajar pengetahuan Islam yang tinggi ke Makkah lalu pulang.

28 Hamka, Dari Hati ke Hati, (Jakarta: Pustaka Panjimas 2002), p. 266-267 29 Ibid., p. 268

30 Ibid., p. 306

(10)

Setelah pulang mereka mendidik anak-anak dalam lingkungan Islam, isolasi dan memisah kan diri. Maka di negeri ini muncul dua golongan terpelajar Islam, yang satu golongan berkiblat ke Amsterdam dan yang lain berkiblat ke Makkah. Didikan Barat memandang sinis kepada agama, dan pendidikan surau membenci segala yang berbau Barat. Keduanya memandang yang lain dari segi negatifnya saja31.

Pertentangan dua front yang berbeda cara berpikir itu begitu kuat sampai zaman kemerdekaan. Pertentangan itu terus berlangsung entah sampai kapan akan berakhir.

Gagalnya umat Islam dalam sidang Majelis Konstitusi hasil Pemilihan Umum 1955, adalah bukti nyata betapa pada dua kubu itu terdapat jurang yang sangat dalam yang sangat sulit didamaikan. Bahkan pertentangan dua kubu itu masih kita rasakan pengaruhnya sampai saat ini dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan banyaknya pemahaman yang dapat merusak peserta didik, maka gagasan pendidikan Islam modern Buya Hamka dapat menjadi tameng yang sangat kuat pada pembentukan pondasi Agama (Aqidah) dan Akhlak bagi peserta didik. Dan ini mengandung makna, bahwa pondasi keagamaan seseorang (khususnya Aqidah) dan Akhlak merupakan komponen yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, merupakan keharusan bagi peserta didik untuk difahami, dikuasai dan sudah menjadi kesatuan yang utuh dalam jiwa dan raganya peserta didik.

Buya Hamka dalam hal ini sangat yakin, apabila kedua komponen diatas sudah teraktualisasikan dalam diri peserta didik, maka gocangan, tantangan, hambatan atau godaan sebesar apapun tidak akan mampu menggoyahkan aqidah dan keimananan peserta didik dan pada akhirnya akan dihasilkan perta didik yang berkualitas serta mampu mencapai tujuan pendidikan islam yaitu menjadikan manusia yang Insan Kamil (paripurna). Bila merujuk pada uraian diatas, dimana konsep pendidikan menurut Buya Hamka adalah didasarkan pada tiga aspek potensi peserta didik yaitu; jiwa , Jasad dan akal, dengan tiga aspek tersebut jelas dimana Buya Hamka lebih menekankan pemikiran pendidikannya pada aspek pendidikan jiwa atau akhlakul karimah (budi pekerti) yang dibentengi dengan aqidah yang kuat, maka penulis sepakat bahwa gagasan Buya Hamka ini masih relevan, bahkan tidak hanya untuk saat ini tapi juga untuk masa yang akan datang.

Dengan kekuatan jiwa yang dibentengi oleh Aqidah dan Akhlak yang kuat, maka Jasad yang cenderung bergerak kearah duniawi (hubud dunya) dan akal yang cenderung mengarah kepada “logika” unsih dan mudah diombang –ambing kan dengan berbagai kemungkinan kebenaran menjadi tunduk kepada Jiwa, artinya jiwa sebagai pengendali Utama, sementara Jasad dan Akal adalah pihak yang dikendalikan. Dengan demikian maka, gagasan Buya Hamka disini mampu meresponse kondisi yang terjadi saat ini dan sangat tepat untuk terus diterapkankan dan dikembangkan.

Berbicara tentang keberhasilan pelaksanaan pendidikan Islam di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Selain masalah-masalah baru yang bermunculan, terdapat juga berbagai problematika lama yang belum tuntas diselesaikan dan dicarikan penyelesaian, sehingga pekerjaan rumah bagi pemerintah dan stakeholder pendidikan semakin menumpuk.

Menurut Arif Rachman, seorang pakar pendidikan, berpendapat bahwa beberapa titik lemah pendidikan Islam di Indonesia yang menghambat kemajuannya adalah:

1. Keberhasilan pendidikan hanya diukur dari keunggulan ranah kognitif dan nyaris tidak mengurus ranah efektif dan psikomotorik.

2. Peserta didik menjadi obyek didik dan bukan pelaku aktif.

3. Proses pendidikan berubah menjadi proses pengajaran. Sehingga materi pelajaran menjadi yang tidak relevan dengan kenyataan. Hal ini terbukti dengan terjadinya kesenjangan antara dunia sekolah dan dunia kerja.

4. Titel dan gelar pendidikan menjadi target pendidikan yang tidak disertai dengan tanggung jawab ilmiah yang mumpuni sehingga terjadi “pengejaran titel” yang tidak sehat.

5. Profesi guru terkesan menjadi profesi ilmiah saja dan kurang disertai dengan bobot profesi kemanusiaan sehingga hubungan guru dan murid terkesan sebagai hubungan

31 Ibid., p. 308

(11)

produsen dan konsumen. Hal ini diperparah dengan kedudukan profesi guru yang secara finansial berada pada profesi papan bawah

6. Manajemen pendidikan yang menekankan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah dan bukan kepada seluruh stake holder pendidikan seperti masyarakat, ortu, guru dan siswa itu sendiri32.

Menurut penulis, rumusan masalah mengenai pendidikan di Indonesia yang telah disebutkan oleh Arif Rachman di atas telah sejak lama menjadi kendala pendidikan nasional yang menggelisahkan pikiran dan hati masyarakat Indonesia, terutama seorang pemikir bernama Buya Hamka. Hal ini terbukti dari hasil pemikiran dan perenungannya yang secara tersirat terdapat di karya-karya tulisnya. Jika Arif Rachman mengatakan bahwa proses pendidikan berubah menjadi proses pengajaran sehingga materi pelajaran menjadi tidak relevan dengan kenyataan, maka jauh-jauh hari Hamka telah berpendapat bahwa pada masa ini, banyak terdapat sekolah-sekolah yang mengajarkan agama, tetapi tidak mendidikan agama. Maka keluar pulalah anak-anak muda yang alim ulama, bahasa Arabnya seperti air yang mengalir, tetapi budinya rendah. Sama sajalah harganya sekolah-sekolah semacam ini dengan sekolah yang tidak mengajarkan dan mendidikan agama33. Pernyataan di atas mengandung arti bahwa pengajaran semata tanpa diiringi dengan upaya mendidik hanya akan mengasilkan peserta didik yang cerdas tapi kurang berbudi. Hal ini tentu akan menyalahi rumusan tujuan pendidikan Indonesia sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 1 UU RI No. 20 th. 2003).

Proses pendidikan harus dimulai sejak dini, bahkan semenjak anak lahir ke dunia.

Pendidikan pertama yang harus dilakukan ketika anak lahir oleh orang tua sebagai pendidik adalah dengan mengazankan dan mengiqomahkannya. Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa rahasia dilakukannya adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir mengandung harapan yang optimis agar mula-mula suara yang terdengar oleh telinga sang bayi adalah seruan adzan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk Islam. Perlakuan ini menerangkan akan kepedulian Nabi Muhammad saw. terhadap aqidah tauhid yang harus ditanamkan secara dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu sang bayi semenjak kehadirannya dalam memulai kehidupan barunya di alam dunia34.Lebih jelasnya, pemikiran Hamka yang menghendaki keseimbangan antara peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam proses pendidikan dan pengajaran anak .

Dengan melihat kondisi yang terjadi sekarang, upaya-upaya refleksi pemikiran Buya Hamka yang mengutip perkataan Buya Hamka bahwa adab-sopan anak-anak itu dibentuk sejak dari kecilnya. Karena ketika kecilnya masih mudah membentuk dan mengasuhnya, belum dirusakkan oleh adat kebiasaan yang sukar meninggalkan. Tiap-tiap manusia apabila telah terbiasa mengerjakan dan mentabiatkan suatu pekerti sejak kecilnya, yang baik atau yang buruk, sukarlah membelokkannya kepada yang lain, apabila dia telah besar35.

Selain itu menurut Buya Hamka, didikan di sekolah bertali dengan didikan di rumah.

Hendaklah ada kontak yang baik di antara orang tua murid dengan guru. Kadang-kadang datang mendatangi, ziarah menziarahi, selidik menyelidiki tentang tabiat anak yang dalam didikan itu. Tentu saja di dalam didikan secara Islam akan mudah melakukan ini. Sebab kalau rumah guru berdekatan dengan rumah orang tua murid, sekurangnya sekali sehari, diantara Maghrib dan Isya, guru dan orang tua murid itu akan bertemu di surau. Dan kalau rumahnya berjauhan, akan bertemu di hari Jum’at. Kesempurnaan didikan anak itu dapat dibicarakan dengan baik.

Gagasan Hamka mengenai hal tersebut sangat baik jika mampu dipahami, disadari dan diterapkan oleh para pendidik dalam mengoptimalkan proses pendidikan Islam. Hal ini 32 Arif Rachman, Mengurai Benang Kusut Pendidikan Gagasan Para Pakar Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Transformasi UNJ, 2003), hlm. 1989-200.

33 Hamka, Falsafah Hidup, op. cit., hlm. 205-206

34 http://titipan-cucu.blogspot.com/2010/05/anjuran-menyerukan-adzan-pada-telinga.html 35 Hamka, Lembaga Budi, op.cit., hlm. 226

(12)

berdasarkan pertimbangan bahwa fenomena tawuran, narkoba, pergaulan bebas, kecurangan dalam belajar, dan berbagai perilaku menyimpang dan negatif marak terjadi, sehingga para pendidik yang terdiri dari orang tua, guru dan masyarakat diharuskan merapatkan barisan untuk perbaikan mutu akademis dan moral anak didiknya.

Di zaman modern seperti ini, pertemuan dan kerja sama para pendidik tersebut dapat ditempuh dengan banyak media, beberapa diantara bentuk perlibatan diri atau partisipasi orang tua dan masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai bentuk organisasi, seperti parent teacher organization, komite akuntabilitas perbaikakan sekolah, komite penasehat sekolah, dan sebagainya36. Selain itu dapat pula ditempuh dengan surat menyurat, kunjung mengunjungi, bahkan dengan menggunakan media elektronik seperti telepon, telegram, dan facebook atau jejaring sosial lainnya. Berdasarkan hasil riset mengatakan bahwa pekerjaan guru di sekolah akan lebih efektif apabila dia mengetahui latar belakang dan pengalaman anak didik di rumah tangganya. Anak didik yang kurang maju dalam pelajarannya, berkat kerja sama antara orang tua dan guru, banyak kekurangan anak didik yang dapat diatasi.

Jika ditinjau lebih lanjut, pemikiran Hamka dalam pendidikan Islam sebenarnya masih relevan dan mumpuni untuk dijadikan acuan pendidikan pada masa sekarang, jika di rekonstruksi dengan baik. Salah satu contoh dalam hal tujuan pendidikan menurut Hamka, menilik keadaan masa sekarang yang serba mudah dengan keberadaan teknologi, memungkinkan munculnya manusia-manusia yang kurang bersyukur dan cenderung merasa puas dengan keaadaan yang serba mudah. Padahal sejatinya, manusia harus diajarkan untuk selalu bersyukur dengan kemudahan yang ada. Selain itu, mulai berkembangnya budaya hedonis, hura-hura, ingin selalu terlihat menonjol, memungkinkan generasi muda Islam terjangkit budaya semacam ini, sehingga butuh treatment khusus untuk mengembalikkan mereka pada jalan yang benar. Lewat rekonstruksi pemikiran Hamka inilah, terutama pada tujuan pendidikan Islamnya, penulis yakin bisa membawa kembali peserta didik untuk memaksimalkan potensi keilmuannya pada arah yang baik, yaitu untuk menjadi hamba Allah yang taat, bersikap rendah hati, tawadhu, namun dengan tetap mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

Oleh karena itu, pembaruan pendidikan Islam sangat diperlukan. Cara pandang yang serba negatif dan mencoba lari dari Islam harus dihentikan. Anak-anak Islam harus dididik untuk kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah. Bangga dengan sumber ajaran agamanya, memahami sejarah bangsanya, dan tidak tercerabut dari akar keislamannya. Begitu juga cara pandang yang sempit, mengisolasi diri, tidak mau membuka wawasan, sejatinya telah melenceng dari ajaran hakiki Islam yang menyuruh untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi khalifah di muka bumi.

Kesimpulan

Pendidikan Islam merupakan suatu proses berjalannya alat-alat pendidikan dalam sebuah sistem yang saling berhubungan antar alat tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Prinsip pendidikan Islam menurut Hamka adalah tauhid. Sebab tauhid akan memberi nilai tambah bagi manusia dan menumbuhkan kepercayaan pada dirinya serta 36 Syamsir, “Pendidik dalam Perspektif Islam”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 15, 5, Februari, 2009, hlm.

887.

(13)

mempunyai pegangan hidup yang benar. apabila tauhid sudah teraktualisasikan dalam diri peserta didik, maka gocangan, tantangan, hambatan atau godaan sebesar apapun tidak akan mampu menggoyahkan aqidah dan keimananan peserta didik dan pada akhirnya akan dihasilkan perta didik yang berkualitas serta mampu mencapai tujuan pendidikan islam yaitu menjadikan manusia yang Insan Kamil (paripurna).

Pendidikan menurut pandangan Buya Hamka ini masih relevan dengan kondisi saat ini, mengingat proses Pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggunga jawab lembaga pendidikan formal, tetapi sesungguhnya menjadi tanggung jawab bersama dan dimulai dari rumah, sekolah maupun lingkungan. Hasil yang diharapkan dari sistem pendidikan yang demikian adalah lahirnya kaum terpelajar Islam yang mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa Indonesia karena penguasaannya terhadap sains dan teknologi tanpa meninggalkan jati diri sebagai muslim sejati, atau akan terlahir para ulama yang mampu menguasai ilmu keislaman dengan tidak mengisolasi diri terhadap perkembangan sains dan teknologi. Buya Hamka menginkan lahirnya generasi baru Islam sebagai bukan hanya kaum intelek yang tahu agama, kaum ulama yang intelek.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Rachman, Mengurai Benang Kusut Pendidikan Gagasan Para Pakar Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Transformasi UNJ, 2003), hlm. 1989-200.

A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: AMZAH, 2015)

Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Jilid 1, (Bandung:

Pustaka Setia, 2009), h. 53.

Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2004), 153 Hamka, Lembaga Budi, op.cit., hlm. 226

Hamka, Dari Hati ke Hati, (Jakarta: Pustaka Panjimas 2002), p. 266-267

(14)

Hamka, Falsafah Hidup, (Medan: Pustaka Islamiyah, 1980)

Hamka, Lembaga Hidup, Cetakan kesebelas, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1997)

Herry Mohammad, Dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20.(Jakarta, Gema Insani Press, 2006), h. 64.

Http//Biografi Buya Hamka-Biografi (Referensi Biografi Tokoh dan Public Figur) Web.Httm (di akses pada tanggal 16 November 2021)

http://titipan-cucu.blogspot.com/2010/05/ anjuran-menyerukan-adzan-pada-telinga .html (di akses pada tanggal 14 November 2021)

Mafri Amri dan Lilik Ummi Kultsum, Literatur Tafsir Indonesia, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011), hlm. 156

Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005)

Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 15-17.

Samsul Nizar, Sejarah dan Dinamika Lembaga- Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara, (jakarta: Kencana Prenada), hlm.102

Syamsir, “Pendidik dalam Perspektif Islam”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 15, 5, Februari, 2009, hlm. 887.

Syamsudin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Penerbit Ombak

Syamsul Kurniawan dan Erwin Makhrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011)

Ramayulis dan Syamsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Cputat: Quantum Teaching, 2005), h. 281

Referensi

Dokumen terkait