• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN MANUSIA BERAGAMA

N/A
N/A
Nawal Annisa

Academic year: 2024

Membagikan "GAMBARAN MANUSIA BERAGAMA "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN MANUSIA BERAGAMA PENDAHULUAN

Agama merupakan ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun temurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi yang bertujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar sampai pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang didalamnya mencakup unsur kepercayaan kepada kekuatan ghaib yang selanjutnya menimbulkan respon emosional dan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup tersebut tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Begitulah perkiraan makna agama secara universal1.

Adapun dalam pandangan humanistik hakikat manusia ialah memiliki suatu dorongan dalam dirinya untuk mencapai tujuan positif, serta memiliki rasionalitas dan dapat menentukan nasibnya sendiri. Hal inilah yang membuat manusia terus berkembang dan menjadi lebih baik dan lebih sempurna. Sedangkan dalam Islam manusia memiliki beberapa dimensi, salah satunya ialah manusia sebagai hamba Allah SWT (abd Allah) dimana manusia wajib mengabdikan diri dan taat kepada Allah SWT selaku pencipta. Pengabdian diri tersebut tidak cukup pada perkataan dan perbuatan saja, melainkan perlu adanya keikhlasan hati dalam melaksanakannya.

Dalam pandangan Islam manusia juga memiliki karakteristik khusus, beberapa diantara ialah, kemampuan menyadari diri, pemilikan kata hati, moral dan aturan, kemampuan bertanggungjawab, dan rasa kebebasan2.

Hakikatnya manusia tidak akan bisa dipisahkan dengan agama, yang menjadi pegangan serta pedoman dalam mengatur penghidupannya di muka bumi ini.

Terlepas daripada itu semua, manusia memiliki hak serta kebebasannya dalam menentukan agama yang menjadi pedoman hidupnya, begitu pula yang disampaikan dalam agama Islam, diantaranya diungkapkan dalam Al Qur’an Surat Yunus: 99.

1 Ahmad Asir, “AGAMA DAN FUNGSINYA DALAM KEHIDUPAN UMAT MANUSIA”, Al-Ulum Jurnal Pemikiran dan Penelitian ke Islaman, vol. 1, no. 1 (2014), p. 3.

2 Siti Khasinah, “HAKIKAT MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM DAN BARAT”, JURNAL ILMIAH DIDAKTIKA, vol. 13, no. 2 (2013), p. 12, https://jurnal.ar- raniry.ac.id/index.php/didaktika/article/view/480, accessed 13 Jan 2024.

(2)

“Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”

Ayat tersebut diperjelas dalam tafsir Ibnu katsir bahwa jika Allah berkehendak maka bisa saja Allah menjadikan seluruh umat sebagai penyembahnya, namun Allah melihat segala sesuatu secara seimbang, hak dan bathil, baik dan buruk, dan lain sebagainya. Maka dalam hal ini Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya.3

Berbicara mengenai manusia beragama, maka tak akan terlepas dari problematikanya yang terjadi pada masa potmodern ini, dimana zaman ini didominasi oleh analisis logis yang menolak pembicaraan mengenai spiritual yang dianggap tidak rasional dan merupakan sebuah omong kosong4. Hal ini apabila tidak cepat diatasi maka akan menimbulkan konflik dari emosi para pemeluknya dan pada akhirnya melahirkan tindakan-tindakan radikalisme5. Nilai-nilai kemanusiaan membutuhkan keragaman dalam setiap pemahaman, penghayatan, dan pengalaman agama yang diyakininya secara benar.

Maka berdasarkan penjelasan singkat diatas maka, dalam kesempatan ini penulis hendak membahas MANUSIA BERAGAMA secara dasar dan mendalam.

Tujuan pembahasan ini ialah terlahir kembali pengetahuan mengenai umat beragama secara mendasar, dengan harapan dapat mengingatkan kembali nilai-nilai yang perlu terkandung dalam setiap umat beragama sehingga dapat menghadapi tantangan dan problematika di zaman postmodern ini, khususnya problem radikalisme dan liberalism yang mengikis nilai-nilai tersebut secara perlahan. Dalam pembahasan ini penulis membatasi pembahasan meliputi, ciri manusia beragama, konsep manusia beragama, gambaran manusia beragama, manfaat menjadi manusia beragama, serta tantangan menjadi umat beragama. Metode pendekatan yang digunakan ialah

3 Kartika Nur Utami, “Kebebasan Beragama dalam Perspektif al-Qur’an”, KALIMAH, vol. 16, no. 1 (2018), p. 7.

4 Muh Ray Utomo Putra, “Tantangan UmatBeragama dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Kemanusiaan di Era Post Modernisme”, Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, vol. 3, no. 1 (2022), p. 7.

5 Angga Natalia, “FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RADIKALISME DALAM BERAGAMA (Kajian Sosiologi Terhadap Pluralisme Agama Di Indonesia)”, Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, vol. 11, no. 1 (2017), p. 19.

(3)

pendekatan fenomenologi terhadap umat beragama, guna mendapat informasi secara pengalaman sehari-hari dari umat beragama itu sendiri. Adapun metode penulisan ialah secara kualitatif dengan library research, yakni pengumpulan data berdasarkan sumber Pustaka dan artikel yang tentunya akurat untuk dijadikan referensi atau rujukan pembahasan.

PEMBAHASAN

A. CIRI-CIRI MANUSIA BERAGAMA

Dalam pribadi seorang manusia, terdapat beberapa ciri yang menjadikannya berbeda antar satu dengan yang lainnya serta antar manusia dengan makhluk ciptaan lainnya. Tak hanya dalam lingkup tersebut, di dalam beragama, juga terdapat beberapa ciri khas manusia yang menunjukkan bahwasanya ia memeluk sebuah agama yang membedakannya dengan manusia lain yang tidak menganut agama apa pun.6

Bagi orang dewasa, beragama merupakan sebuah pegangan terpenting dalam hidup. Bukan hanya sebatas mengikuti orang lain. semakin berkembangnya manusia, semakin pula terlihat perbedaan dari dirinya. Baik itu secara lahiriah maupun batiniah. Begitu pula dalam beragama. Seorang dewasa yang telah mencapai umur dan akal yang matang, akan Nampak jelas dari dirinya ciri-ciri keberagamaan yang berbeda. Diantara ciri-ciri tersebut ialah:

1. menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, tidak hanya mengikuti orang lain.

2. bersifat realistis, sehingga dalam tingkah laku serta sikapnya lebih banyak mengaplikasikan aturan-aturan agama.

3. Bersikap positif kepada ajaran dan aturan dalam agama serta berusaha mempelajari dan memperdalam pemahaman mengenai agama.

4. Segala bentuk ketaatan dalam agama berasaskan pada pertimbangan akal yang matang dan tanggung jawab diri.

5. Lebih terbuka serta memiliki wawasan yang lebih luas.

6. Sikapnya yang lebih kritis terhadap ajaran agama.

7. Sikap keberagamaan kembali lagi kepada tipe tiap pribadi masing-masing.

6 Mustafa, “Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Dewasa”, Jurnal Edukasi, vol. 2, no. 1 (2016), pp. 79–89.

(4)

8. Terbentuknya hubungan antara agama dan sosial yang kuat.7 B. KONSEP MANUSIA BERAGAMA

Di dalam al-qur’an, terdapat beberapa kalimat yang menunjukkan makna manusia. Yang mana, menjelaskan bahwasanya manusia merupakan salah satu ciptaan allah swt yang dalam kehidupannya di dunia ini terjadi secara berangsur- angsur. Dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Serta dilengkapi pula dengan kelemahan dan kelebihan dari manusia.8

Diantaranya: al-basyar, al insan, an-nas dan bani adam. Berikut perincian dari setiap kalimat :

1. Konsep Al-basyar. Konsep ini dilihat dari segi biologis manusia, bahwasanya manusia tidak terlepas dari prinsip kehidupan yang biologis.

Seperti berkembang biak, bertumbuh, dan lain sebagainya. Salah satu ayat al-qur’an yang menyebutkan kata al-basyar tertuang dalam surah ar- rum:20:

ٌر َشَب ِمُتِن َأ اَذِإ َمُث ٍباَرُت ِنِم ِمُكَقَلَخ ْنَأ ِهِتاَيآ ِنِمَو

َنو ُرِشَتِنَت

Tafsiran dari ayat di atas jika kita lihat dalam tafsir al-misbah, menerangkan bahwasanya allahlah yang berkuasa untuk menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah mati. Serta dengan kuasa-nya pula allah menciptakan manusia dari tanah yang tak memiliki unsur kehidupan sama sekali. Setelah itu, tanpa adanya campur tangan manusia, jadilah manusia yang tumbuh dan berkembang biak di bumi ini.

2. Konsep Al-Insan. Al-insan berasal dari kata nasiya yang berarti lupa.

Menurut jalaludin ancok, al-insan digunakan untuk merujuk kepada kemampuan manusia yang diberikan oleh allah swt. Diantara kemampuan tersebut ialah tumbuh dan berkembang dari segi fisik dan juga spiritualnya.

7 Ibid.

8 Nurfarida Deliani, “Image Manusia Beragama dalam Perspektif Psikologi Islam”, Jurnal Al-Irsyad, vol. 11, no. 1 (2020), pp. 49–60.

(5)

Sedangkan di dalam al-qur’an, penggunaan kata ini merujuk pada manusia dan semua totalitasnya, yang terdiri dari jiwa dan raga. Yang menjadi perbedaan antar manusia ialah fisik serta kecerdasannya.

3. Konsep An-Nas. Kalimat ini merujuk pada fungsionalitas manusia sebagai makhluk sosial. Dari awal penciptaanya, manusia diciptakan untuk hidup berpasangan dan bermasyarakat. Lalu, berkembang menjadi satu kesatuan suku dan bangsa.

4. Konsep Bani Adam. Dalam al-gharib al-isfahany, bani berarti keturunan.

Banyak sekali ayat al-qur’an yang menggunakan kalimat ini, entah itu sebagai sebuah peringatan atau perintah untuk beriman kepada allah atau sebagai sebuah kesaksian manusia kepada tuhannya ataupun sebagai pengingat agar manusia tidak tertipu dengan hasutan setan.9

C. GAMBARAN MANUSIA BERAGAMA

Manusia disebut dengan homo religious, sebab kebutuhannya akan agama.

Manusia akan selalu membutuhkan pondasi hidup, yakni agama. Karena ia merasa bahwasanya di dalam jiwanya terdapat sebuah perasaan yang mengakui adanya sang Maha Kuasa sebagai tempat memohon dan berlindung.

Agama, menjadi suatu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Serta merupakan teman hidup yang tak terpisahkan. Jika telah terpisah dari kehidupan seseorang, maka ia sudah tidak bisa memegang nilai-nilai kemanusiaan. Serta, darinyalah, akan terbentuk seseorang dengan kepribadian baik atau buruk. Jika berpengaruh positif baginya, maka ia telah melaksanakan kewajibannya yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai seorang hamba. Tetapi, jika berpengaruh sebaliknya, maka ia telah melanggar larangan Tuhan.10

Dalam pandangan psikologi Islam, Gambaran manusia beragama tak dapat terlepaskan dari keberadaan agama. Jika seseorang telah menganggap bahwasanya agama merupakan suatu hal yang benar, maka segala sesuatu yang berhubungan dengannya berdampak positif.

9 Ibid.

10 Wardoyo, “Agama dan Manusia”, Jurnal Al-A’raf, vol. 11, no. 1 (2014), pp. 81–100.

(6)

Gambaran manusia beragama, terinterpretasikan dalam beberapa sisi serta dimensi kehidupan manusia. Dalam islam, seluruh umat manusia diperintahkan untuk memeluk agama Islam. perintah ini tertuang dalam surah al-baqarah:208 :

َلا اَََهُيَأاَي

َلَو ًةَفاَك ِمْل ََِسلا يِف اْوََُلُخْدا اْوََُنَمآ َنْيِ ذ

ٌنِيبُم ٌوُدَع ْمُكَل ُهَنِإ ِناَطِي َشلا ِتاَوُطُخ اْوُعِبَتَت

Dalam tafsir Al-Misbah, diterangkan bahwasanya barang siapa yang beriman kepada Allah, maka ia diwajibkan untuk mengerjakan segala ajaran Islam bukan setengahnya saja ataupun sebagian saja dan menolak sebagian lainnya.

Serta seluruh manusia diwajibkan untuk masuk ke dalam agama islam bukan agama yang lainnya.11

Dalam beragama, gambaran seseorang yang beragama akan terwujud dalam beberapa dimensi. Salah satu konsep dimensi beragama yang banyak digunakan oleh sebagian psikolog dan sosiolog ialah konsep religiusitas karya C.Y.Glock dan juga R.Stark. konsep ini terhimpun dalam lima dimensi, diantaranya:

1. Dimensi keyakinan/akidah

Sebuah dimensi yang terdiri dari harapan-harapan seseorang yang berpegang teguh dengan pendirian agamanya serta pengakuan atas kebenaran ajaran tersebut. Dimana, setiap agama pasti memiliki beragam cara untuk memperkuat pertahanan penganutnya.

2. Dimensi praktik agama/syari’ah

Sebuah dimensi yang meliputi sikap seorang penganut dalam pemujaan, ketaatan serta beragam hal yang dikerjakan untuk memperlihatkan konsistensinya terhadap agama yang dianut.

3. Dimensi pengalaman/akhlak

11 Deliani, “Image Manusia Beragama dalam Perspektif Psikologi Islam”.

(7)

Dimensi ini merujuk kepada sebuah sikap seseorang dalam menghayati agamanya, yang berasal dari pengalamannya yang didapat dari faktor eksternal dan internal lingkungannya.

4. Dimensi pengetahuan agama

Dimensi yang terfokus pada harapan bagi para setiap penganutnya agar mempunyai ilmu dasar yang berkaitan dengan keyakinan, ritual-ritual, kitab suci serta tradisi dalam sebuah agama. Dimana, melalui dimensi ini, dapat diperoleh gambaran seseorang yang memahami ajaran agamanya.

5. Dimensi pengalaman konsekuensi

Dimensi yang tertuju pada akibat dari keyakinan keagamaan, praktek, pengalaman dan pengetahuan seorang dari hari ke hari. Yang didapat dari pengalaman konsistensi seseorang dalam menjalankan agamanya.12

D. MANFAAT MENJADI MANUSIA BERAGAMA

Manfaat agama bagi kehidupan manusia pada dasarnya mengarahkan pada dua kondisi umum yaitu kehidupan manusia sebagai orang per orang dan hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat (Jalaludin, 2012). Bimbingan dalam kehidupan ini meliputi baik yang bersifat individual maupun kolektif atau sosial. Berdasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa agama bagi para responden memiliki beberapa manfaat yaitu terkait dengan hidup yang terarah, ketenangan hidup, memiliki keyakinan terhadap Tuhan, menghindarkan perilaku buruk, menambah ilmu dan memahami orang lain.13

Pertama, agama memberikan manfaat menjadikan hidup menjadi lebih terarah telah dijelaskan oleh Argyle (2000); Jalaludin (2012); Hommel dan Colzato (2015) yang merupakan salah satu peran dari agama adalah memberikan bimbingan atau arahan bagi kehidupan manusia sebagai individu. Dalam hal ini agama akan menjadi sebuah norma maupun nilai dalam diri individu yang akan menjadi kerangka dalam bersikap maupun bertingkah laku agar sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Agama memotivasi individu untuk melakukan

12 Ibid.

13 Muhammaddin, “KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA,” t.t., 101–2.

(8)

tindakan berdasarkan apa yang diperbolehkan dan dilarang oleh ajaran agama.

Agama Islam sendiri menekankan pada keberadaan ajaran agama sebagai arah dalam kehidupan individu.

Kedua, agama memberikan ketenangan dalam hidup. Keberadaan agama yang memberikan sebuah ketenangan dalam hidup. Dijelaskan oleh para ahli tersebut adalah keberadaan agama yang dapat memberikan ketenangan dalam hidup individu mengarahkan pada fungsi agama yang dapat menjadi pengobat akan ketakutan maupun frustrasi yang menjadi stressor dalam kehidupan sehari- hari.14 Individu menggantungkan dirinya pada agama sebagai sebuah pengharapan serta bentuk dukungan sosial di dalam menghadapi ketakutan dan frustasi tersebut. Hal ini tidak lepas dari keberadaan Tuhan di balik agama. Agama memberikan pemahaman kepada individu bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan yang melampaui batas akal manusia dan sifat-Nya yang mengatur segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Ketiga, meningkatkan keyakinan dalam beragama. Peran agama dalam peningkatan keyakinan dalam beragama. Konsep tersebut dijelaskan sebagai keyakinan individu yang berkaitan dengan konten-konten yang ada dalam agama.

Keyakinan ini pada dasarnya tidak hanya terhadap keberadaan Tuhan, tetapi juga berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual maupun pengetahuan umum yang ada di dalam agama seperti penciptaan, surga dan neraka, keberadaan iblis, kehidupan setelah kematian serta konten keagamaan yang lainnya. Dalam ajaran Islam sendiri, keberadaan iman tersebut tercermin dalam konsep rukun iman.

Keempat, menghindarkan diri dari perilaku buruk. Menghindarkan dari perilaku buruk yang dipaparkan oleh para ahli tersebut secara umum mengarahkan pada peran agama yang menjadi dasar nilai etika dan moral. Keberadaan etika dan moral tersebut akan memberikan panduan bagi para individu untuk berperilaku yang benar dan menghindari perilaku-perilaku yang dinilai tidak baik. Keberadaan akan etika dan moral ini pada dasarnya tidak hanya dikaitkan dengan peran individu dalam suatu komunitas atau masyarakat. Selain itu, keberadaan etika dan

14 Handrix Chris Haryanto, “APA MANFAAT DARI AGAMA? (STUDI PADA MASYARAKAT BERAGAMA ISLAM DI JAKARTA)” (InSight, 2016), 25.

(9)

moral juga memberikan pedoman bagi manusia untuk menjadi individu yang baik, seperti menghindari keserakahan, nafsu, iri hati, dan amarah.15

Kelima, meningkatkan toleransi. Para ahli secara umum menyepakati bahwa ajaran agama pada dasarnya mengarahkan individu untuk bisa menghargai perbedaan dan memahami keberadaan individu lain yang berbeda sehingga tercipta toleransi. Keberadaan toleransi ini bisa terlihat dengan banyaknya ajaran dalam agama yang mengarahkan untuk saling tolong menolong, menghormati satu sama lain hingga tidak boleh melakukan kekerasan terhadap individu lain.

Keyakinan serta nilai-nilai agama seperti kasih sayang, rendah hati dan lain-lain diinternalisasikan ke dalam dirinya tanpa syarat yang dimaknai bahwa agama tidak disesuaikan dengan kebutuhan maupun tujuan dalam diri sendiri akan tetapi malah sebaliknya. Orang dengan orientasi keagamaan pada dasarnya akan menjalani kehidupan yang penuh motivasi dan makna. Islam sendiri memiliki nilai-nilai toleransi yang menjadi landasan dalam kehidupan bermasyarakat.16 E. TANTANGAN BAGI UMAT YANG BERAGAMA

Dalam umat beragama pasti mereka memiliki kepercayaan yang sangat mereka percayai menurut agama mereka masing-masing. Dalam umat beragama sangat mempercayai segala hal yang mana kembalinya hanya kepada Tuhannya.

Dalam islam memang suatu kewajiban bagi umatnya untuk selalu meletakkan Tuhannya Allah SWT untuk segala pekerjaannya. Dengan demikia umat beragama disini merupakan sebuah hikmah yang turun dari Tuhannya yang menciptakannya dan memberikan beberapa hukum syariat dan peraturan lainnya.

Namun dengan begitu tentramnya hidup bukan berarti mereka tidak memiliki sebuah tantangan dalam kehidupannya, baik itu dalam ilmu dan agamanya. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa terdapat permsalahan baru umat beragama yaitu munculnya sebuah pluralitas dalam agama dan menjadi sebuah kepercayaan yaitu pluralisme. Yang mana mungkin bisa jadi merusak agama itu sendiri. Dengan tantangan umat manusia harus berpegang teguh kepada

15 Haryanto, 26.

16 Ahmad Asir, “AGAMA DAN FUNGSINYA DALAM KEHIDUPAN UMAT MANUSIA” (JURNAL PENELITIAN DAN PEMIKIRAN KEISLAMAN, 2014), 55–56.

(10)

agama mereka masing-masing. Dan memiliki rasa tanggung jawab atas sebuah tantangan ini.17

Berikut adalah beberapa Solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi pluralism: 1.) Memberikan sebuah pemahaman meluas atau komperehensif kepada masyarakat melalui Pendidikan dan kegiatan Masyarakat tentang pluralism dan pentingnya sebuah toleransi dalam agama, sehingga mereka dapat membedakan antara pluraisme dan toleransi. 2.) Tidak mudah terbawa emosi dalam berbagai isu yang tidak jelas dan menyangkut mengenai agama. 3.) Para pemimpin an pemuka agama dapat menyepakati kode etik tentang penyiaran agama dan hal lain yang mengenai agama. 4.) Menjalankan dan menaati undang- undang yang berlaku terkait perlindungan negara atas kerukunan umat beragama.

5.) Pemerintahan Bersama Masyarakat harus memiliki sebuah komitmen untuk memajukan dan mensejahterakan umat yang beragama. Demikian adalah beberapa tawaran Solusi dalam menghadapi pluralisme. Jika dapat memaksimalkan dalam pelaksanaan dalam berbagai Solusi ini maka akan selalu hidup damai dalam pluralitas atau kemajemukan.18

Dapat ditemukan bahwa Allah memang menciptakan manusia yang berbeda-beda maksudnya disini adalah berbagai suku dan berpasang-pasangan hal ini yang mana telah dijelaskan dalam ayat Al-qur’an surah Al-Hujurat ayat 13 19:

اًبْوُع ُششش ْمُكٰنْلَعَجَو ىٰثْنُاّو ٍرششَكَذ ْنّم ْمُكٰنْقَلَخ اّنِا ُساّنلا اَهّيَآٰي

ٌمْيِلَع َهّٰللا ّنِا ُ كىٰقْتَا ِهّٰللا َدْنِع ْمُكَمَرْكَا ّنِا ْوُفَراَعَتِل َلِٕى َبَقّو ْۗم ۚا ۤا رْيِبَخ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di

17 Wahyu Pramudya, Pluralitas Agama : Tantangan “Baru” bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia (Seminari Alkitab Asia Tenggara, 2005), http://repository.seabs.ac.id/handle/123456789/120, accessed 13 Jan 2024.

18 Nury Firdausia, “AL QURAN MENJAWAB TANTANGAN PLURALISME TERHADAP KERUKUNAN UMAT BERAGAMA”, Ulul Albab , vol. Volume 14, no. No.1 (2013).

19 Ibid.

(11)

antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Namun hal ini bukan dibuat dengan tujuan untuk menghancurkan sebuah hubungan manusia, dengan menjadi manusia harus bisa memahami sebuah perbedaan ini. Dan cara yang dilakukan dalam untuk mengenali seseorang kita harus mengenalinya terlebih dahulu. Hal ini yang disarankan dalam Al-qur’an agar tidak terjadi sebuah pertikaian dalam umat beragama tersebut.

KESIMPULAN

Manusia adalah sebuah mahluk yang sangat membutuhkan agama dalam kehidupannya. Sehingga memiki julukan sebagai Homo Religion. Dalam kehidupan yang tidak bisa berjalan dengan sendirinya tanpa ada bantuan dari mahluk lainnya, sehingga disebuat dengan mahluk sosial. Manusia memang telah diciptakan Allah dengan berbagai macam ragam suku dan diciptakan dengan berpasang-pasangan, sehingga tak sedikit didapatkan sebuah perbedaan atau konflik diantara manusia tersebut.

Dengan menjadi umat beragama, manusia dapat menjalankan kehidupan dengan ketenangan yang mereka rasakan sesuai dengan kepercayaan yang mereka Yakini. Dengan demikian dalam kehidupan yang damai dan pula tidak menutupkemungkinan akan terdapat sebuah tantangan didalamnya. Dan tantangan umat beragama adalah sebuah kepluralitasan terhadap agama. Yang mana dapat mengganggu sebuah syariat agama dan yang lainnya. Dengan demikian umat beragama harus bisa menghadapi dan bertanggungjawab akan tantangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Asir, A. (2014). Agama dan fungsinya dalam kehidupan umat manusia. Al-Ulum Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Ke Islaman, 1(1), 50-58.

Deliani, N. D. (2020). Image manusia beragama dalam perspektif psikologi islam. Al Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 11(1), 49-60.

Firdausia, N. (2013). Al-Quran Menjawab Tantangan Pluralisme Terhadap

(12)

Kerukunan Ummat Beragama. ULUL ALBAB Jurnal Studi Islam, 14(1), 43-56.

Haryanto, H. C. (2016). Apa Manfaat Dari Agama?(Studi Pada Masyarakat Beragama Islam Di Jakarta). Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 18(1), 19- 31.

Khasinah, S. (2013). Hakikat manusia menurut pandangan islam dan Barat. Jurnal

Ilmiah Didaktika: Media Ilmiah Pendidikan Dan Pengajaran, 13(2).

Muhammaddin, M. (2013). Kebutuhan Manusia Terhadap Agama. Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, Dan Fenomena Agama, 14(1), 99- 114.

Mustafa, M. (2016). Perkembangan jiwa beragama pada masa dewasa. JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 2(1), 77-90.

Natalia, A. (2017). Faktor-faktor penyebab radikalisme dalam beragama (kajian sosiologi terhadap pluralisme agama di Indonesia). Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 11(1), 36-56.

Pramudya, W. (2005). Pluralitas Agama: Tantangan. Baru” bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia”. Varitas, 6, 277.

Putra, M. R. U. (2022). Tantangan UmatBeragama dalam Mengembangkan Nilai- Nilai Kemanusiaan di Era Post Modernisme. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 3(1), 95-102.

Utami, K. N. (2018). Kebebasan Beragama dalam Perspektif al-Qur’an. Kalimah:

Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 16(1), 23-34.

Wardoyo, W. (2014). AGAMA DAN MANUSIA. Al-A'raf: Jurnal Pemikiran Islam

(13)

dan Filsafat, 11(1), 81-100.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diketahui tidak adanya responden yang memiliki tingkat kebersihan diri yang buruk, yang terdapat dalam penelitian ini adalah

Diketahui sebagian besar responden memiliki lama/waktu binaan jenis B-1 (>1 tahun) sebanyak 87 responden (87%) dan pidana paling lama yaitu penjara seumur

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menyatakan setuju bahwa perbedaan agama merupakan hal yang wajar dalam kehidupan

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa 85.5% atau sebanyak 313 mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini memiliki emotional eating

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik presentasi 65,2%, untuk cukup dan kurang memiliki

Bagi mere- ka, agama mencakup semua ajaran hidup dan tidak ada sistem hak asasi yang mengabaikan aksiom yang fundamental ini sebagai adopsi dan penguatan yang

Berdasarkan hasil penelitian alasan lain yang mengganggu tidur , pada tabel diatas dapat diketahui, hampir sebagian besar dari responden (61%) tidak memiliki alasan

Berdasarkan hasil penelitian sesuai tabel 5.6 diketahui bahwa sikap ibu hamil lebih dari sebagian responden yakni sebanyak 37 orang (59,7%) memiliki motivasi