• Tidak ada hasil yang ditemukan

gaya hidup mahasiswa imigran universitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "gaya hidup mahasiswa imigran universitas"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

Penulis telah mengerahkan segala daya dan upayanya agar artikel ini lengkap dan bermanfaat dalam dunia pendidikan khususnya dalam kerangka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Universitas Muhammadiyah Makassar yang lebih dikenal dengan Unismuh Makassar adalah wujud hasilnya. Dalam keberadaan Universitas Muhammadiyah Makassar terdapat tugas dan amanah besar agama, bangsa dan negara.

Visi Universitas Muhammadiyah Makassar adalah menjadi perguruan tinggi Islam terkemuka, unggul dan mandiri serta menjadi universitas muhammadiyah bertaraf nasional yang berlandaskan nilai-nilai keilmuan dan keislaman. Dengan adanya pola dasar keilmuan (PIP) Universitas Muhammadiyah Makassar akan semakin mendorong terwujudnya kemandirian Islam dan kewirausahaan. Universitas Muhammadiyah Makassar menerapkan sistem “one day service”. Selain untuk mendapatkan mahasiswa baru yang berkualitas, penerapan sistem ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan.

Jika proses transaksi pembayaran sudah selesai maka calon mahasiswa baru tersebut telah diterima menjadi mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Makassar tahun ajaran 2014-2018. Saat ini Universitas Muhammadiyah Makassar telah mempunyai dan mempekerjakan tenaga kependidikan dengan kualifikasi Guru Besar, Doktor, dan Magister di seluruh fakultas. Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Gaya Hidup Mahasiswa Migran di Universitas Muhammadiyah Makassar

Dari hasil observasi tersebut terlihat bahwa mahasiswa pendatang dapat bergaul dengan mahasiswa lokal, hal ini terlihat dari interaksi sosialnya. Sedangkan hasil observasi lapangan terkait perilaku mahasiswa migran dalam berinteraksi dengan mahasiswa lokal bersifat ramah, namun belum mengetahui penyebab mahasiswa migran bersifat fluktuatif. Berikut hasil wawancara mahasiswa migran mengenai gaya hidup mereka selama kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dengan sifat pemberani seperti ini, mahasiswa migran akan dicintai dan dihormati oleh mahasiswa lokal. Seorang pelajar migran mempunyai sifat pendiam dan cenderung menghabiskan waktu sendirian karena tidak tinggal di negaranya, hal ini menunjukkan bahwa ia mempunyai gaya hidup atau gaya hidup yang berbeda dengan negaranya. Karena suka menyendiri, mahasiswa migran tidak banyak bicara dan akan sangat selektif jika berbicara dengan orang lain.

Biasanya sangat sulit berkomunikasi dengan mahasiswa migran karena mereka introvert, sulit ditebak, tidak banyak bicara, sifatnya pemalu. Hal tersebut diungkapkan salah satu mahasiswa migran dari luar negeri terkait sifatnya yang sulit ditebak. Mahasiswa migran harus beradaptasi dengan lingkungan baru agar bisa berbaur dengan mahasiswa lokal.

Saat pertama kali pelajar migran datang ke Indonesia, mereka hanya berinteraksi dengan teman-temannya yang juga berasal dari Thailand. Bersosialisasi merupakan hal yang perlu dilakukan oleh pelajar migran, namun di satu sisi mereka tidak bisa lepas sepenuhnya dari akar budaya negaranya. Penyesuaian tersebut akan berjalan baik jika pelajar migran dapat beradaptasi dan mengurangi gesekan antara nilai dan adat istiadat yang berlaku pada pelajar setempat.

Seorang mahasiswa pendatang di Universitas Muhammadiyah Makassar mungkin menunjukkan sikap ramah namun penuh kehati-hatian. Sosialisasi merupakan kelanjutan dari proses interaksi sosial yang terjalin antara mahasiswa migran dengan lingkungan barunya.

Pengaruh budaya konsumerisme terhadap mahasiswa migran di Universitas Muhammadiyah Makassar Universitas Muhammadiyah Makassar

Mahasiswa migran juga merasa takut karena banyak faktor sosial yang menghalangi mahasiswa untuk mencapai impian atau cita-citanya. Pelajar migran datang ke Indonesia dengan membawa impian dan tujuan yang ingin mereka capai. Pengaruh Budaya Konsumen Pada Mahasiswa Migran Universitas Muhammadiyah Makassar Universitas Muhammadiyah Makassar..diperoleh gambaran tentang budaya konsumer mahasiswa migran Universitas Muhammadiyah Makassar. Seperti yang saya lihat dari mahasiswa migran, mereka sering pergi ke Balsid untuk berbelanja, tapi bukan karena kebutuhan, tapi hanya karena ingin membeli barang yang mereka inginkan.

Dari hasil observasi tersebut diketahui bahwa mahasiswa migran tidak berbelanja karena terpaksa, namun hanya mengikuti keinginannya terhadap barang yang diinginkannya. Karena mahasiswa pendatang ingin mengikuti tren yang ada di lingkungannya, karena mereka yakin bahwa “jika mengikuti tren, mereka tidak akan tertinggal dari mahasiswa pribumi”. Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa jika pelajar migran tidak dapat memiliki mata pelajaran yang diminati sebagian besar orang lain, maka mereka akan merasa tidak enak atau bisa dikatakan akan merasa iri dengan siswa yang dapat memiliki mata pelajaran tersebut.

Gaya hidup mahasiswa perantauan saat ini banyak mengikuti trend yang sedang populer di masyarakat, kecenderungan untuk memiliki barang-barang baru yang sedang populer merupakan salah satu ciri dari mahasiswa masa kini. Pelajar migran mencoba beradaptasi dengan budaya yang berkembang dengan membeli barang atau produk yang sesuai dengan tren saat ini. Bagi mereka, hal ini dapat memberikan mereka rasa percaya diri untuk tampil di hadapan teman-temannya, yang berakibat pada pemahaman bawah sadar bahwa lama kelamaan perilaku tersebut akan berubah sehingga membuat mereka masuk dalam kategori pelajar yang menganut budaya konsumeris. Berdasarkan hasil observasi peneliti, cara hidup mahasiswa perantau di tengah budaya konsumerisme tercermin dari cara mereka berpakaian dan . penampilan atau fashion bagi siswa.

Tidak dapat disangkal bahwa gaya hidup pelajar migran saat ini sangat memudahkan untuk mengikuti tren. Dengan penjualan online, keinginan pelajar migran untuk membeli barang-barang baru semakin meningkat dan semakin ketagihan karena tidak perlu lagi repot-repot pergi ke toko untuk membeli pakaian yang diinginkan. Pemikiran seperti inilah yang dimiliki sebagian besar pelajar dalam budaya konsumer, seperti yang diungkapkan oleh seorang pelajar migran bernama ND: .. pas saya belanja di Indomode lain yang saya rencanakan, ditumpangi hingga tidak sesuai rencana lagi, bahkan jauh dari rencana sebelumnya.

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa migran cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan jika mereka bertindak. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup Mahasiswa Migran Universitas Muhammadiyah Makassar di Mid-Culture Universitas Muhammadiyah Makassar di Mid-Culture.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa migran Universitas Muhammadiyah Makassar ditengah budaya Universitas Muhammadiyah Makassar ditengah budaya

Dalam rangkaian proses penelitian yang juga mencakup kegiatan observasi lapangan berdasarkan observasi ini diperoleh gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa migran. Pelajar migran yang menganut gaya hidup budaya konsumeris cenderung mendorong dirinya untuk terus menggunakan berbagai jenis produk yang dihasilkan sesuai tren yang ada. Dari hasil observasi tersebut diketahui bahwa mahasiswa migran yang mengikuti gaya hidup (behavior) budaya konsumen didorong untuk terus menggunakan berbagai jenis produk yang dihasilkan sesuai tren yang ada agar mendapat pengakuan dari orang lain.

Berdasarkan wawancara ND di atas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa migran memberikan respon positif terhadap tumbuhnya budaya konsumerisme. Mahasiswa migran tidak mampu menyaring aliran konsumerisme yang terus menerus mengarah pada kecanduan terhadap produk tertentu, sehingga ketergantungan ini sulit atau tidak mungkin dihilangkan. Interaksi sosial yang dilakukan mahasiswa migran dengan mahasiswa lokal akan mendorong mahasiswa migran mencapai status sosial yang lebih tinggi.

Hal ini menjadikan mahasiswa migran boros karena membeli barang atas dasar gengsi atau keinginan untuk meningkatkan status sosialnya, bukan atas dasar kebutuhan. Terkait dengan konsep diri siswa yang memasuki usia dewasa, lingkungannya masih mengembangkan kemampuan bersosialisasinya, apalagi siswa migran tidak berada di negara asalnya. Mahasiswa migran cenderung hidup berkelompok dan hal ini akan menimbulkan tekanan untuk mempunyai pendapat atau persepsi yang mengikuti pandangan kelompok tersebut.

Situasi ini akan semakin mendorong mahasiswa imigran untuk mengambil keputusan dalam membeli suatu produk atau kebutuhan. Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri mahasiswa migran berhubungan dengan konsumerisme karena mahasiswa migran memandang dengan memiliki barang mewah akan membuat eksistensinya diakui dalam kelompoknya. Perilaku boros dikalangan mahasiswa perantau Universitas Muhammadiyah Makassar dapat dilihat dari penampilan dan cara mereka bersosialisasi.

Kehadiran ruang sidang meningkatkan konsumsi mahasiswa pendatang karena di ruang sidang banyak terdapat penjual makanan, pakaian, aksesoris, perlengkapan rias dan lain sebagainya. Tempat ini mudah diakses karena berada di bawah perlindungan kampus dan mahasiswa migran juga tinggal di asrama kampus.

Pembahasan

Perilaku atau tindakan yang ditunjukkan oleh mahasiswa pendatang salah satunya adalah mereka cenderung berperilaku dalam peran sosial, termasuk memiliki sikap berani. Mahasiswa perantau berani karena melihat sesuatu atau ada simbol yang diberikan oleh mahasiswa setempat, sehingga mereka mengira jika tidak berani maka akan dikucilkan atau tidak mempunyai teman. Gaya hidup (perilaku) mahasiswa migran yang ketiga adalah menonjolkan sifat mudah bergaul namun penuh kehati-hatian.

Siswa pendatang merespon semua simbol yang diberikan oleh siswa lokal atau lingkungan dan mereka mampu menafsirkan simbol-simbol tersebut. Pengaruh budaya konsumerisme terhadap gaya hidup mahasiswa perantau Dengan pesatnya perkembangan jaman dan kecanggihan teknologi, maka budaya konsumerisme juga ikut berkembang. Meningkatnya konsumsi merupakan salah satu dampak kemajuan teknologi yang menyebabkan pelajar migran mengikuti tren masa kini dan menjalani gaya hidup boros serta kemampuan merespon diri sendiri adalah suatu hal yang mungkin dilakukan.

Orang berperilaku terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain, makna tercipta dalam interaksi antar manusia dan dalam gaya hidup boros yang ditampilkan siswa dalam berpakaian atau mengonsumsi barang, tidak dapat membedakan kebutuhan dan keinginan yang mereka tandai pada siswa migran di dalam. lingkungan kampus, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa perantau telah terpengaruh oleh budaya konsumerisme. Mahasiswa migran juga mempunyai keinginan untuk membeli barang-barang tersebut karena merasa iri karena mereka bisa dan saya tidak. Ketika budaya konsumerisme mempengaruhi pelajar migran, mereka biasanya tidak memikirkan kebutuhan masa depan.

Mahasiswa migran berinteraksi dengan mahasiswa migran dengan cara menafsirkan simbol-simbol yang diberikan oleh mahasiswa lokal sehingga interaksi dapat berjalan dengan baik. Simbol-simbol yang diberikan oleh sebagian besar pelajar, termasuk pelajar migran, juga dapat digunakan oleh para pebisnis untuk mencari pekerjaan. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa perantau karena mahasiswa akan memberi makna pada simbol-simbol yang diberikan oleh teman-temannya di lingkungan tersebut.

Kaitannya dengan teori interaksionisme simbolik adalah mahasiswa migran berusaha memiliki barang-barang mewah yang dijual di toko-toko. Mahasiswa migran mempunyai cara berpikir untuk memiliki segala sesuatu yang diproduksi oleh orang lain, berpikir bahwa apa yang baru di pasaran, di toko atau di tempat lain, pasti mereka miliki.

PENUTUP

Saran

Adakah perbedaan antara gaya hidup di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar dengan gaya hidup di negara anda?

Referensi

Dokumen terkait

Based on Table 3.6 above can be interpreted that the value of R square R ² were obtained by 0.380 , which means that 38 % of passenger satisfaction Y aircraft flight services are