PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penggunaan bahasa tidak mengenal usia, mulai dari orang tua hingga anak kecil pasti menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Bahasa tersebut selalu kita gunakan untuk berbicara dengan teman, orang tua, kakak atau adik. Namun dalam menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, setiap penutur hendaknya berusaha menggunakan bahasa tersebut dengan baik dan benar.
Saat ini sedang marak pembahasan mengenai proses pendidikan, salah satunya adalah upaya guru keyakinan moral untuk pembentukan sopan santun linguistik. Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember sebagian besar gurunya berbahasa Jawa, sehingga mereka menggunakan bahasa Jawa dalam bahasa sehari-hari. Seorang siswa sering kali menggunakan bahasa kasar sesuka hati tanpa melihat batasan antara siswa dan guru.
Fokus Penelitian
Seluruh guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember mempunyai peran yang sama dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa, namun disini guru Aqidah Akhlak mempunyai peranan penting dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa karena tugas guru Aqidah Akhlak adalah membentuk etika. Hal ini menarik untuk diteliti bagaimana upaya guru aqidah moral dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa padahal akhlak siswa saat ini sangat rendah. Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Guru Akhlak Aqidah Membentuk Kesantunan Berbahasa Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember Tahun Ajaran.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai upaya guru keyakinan moral dalam pembentukan kesantunan berbahasa siswa. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan masyarakat agar lebih sadar dan memperhatikan etika berbicara yang baik dan sopan.
Definisi Istilah
Upaya Guru Aqidah Akhlak untuk membentuk kesantunan berbahasa lisan siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018. Upaya Guru Akidah Akhlak untuk membentuk kesantunan berbahasa tulis siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember Tahun Pelajaran 2017/2018. Oleh karena itu, guru keyakinan moral dalam hal ini memegang peranan penting dalam pembentukan kesantunan berbahasa.
Salah satu upaya guru aqidah moral untuk membentuk kesantunan berbahasa lisan siswa adalah dengan membimbing siswa. Upaya guru aqidah akhlak dalam membentuk kesantunan berbahasa lisan siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember adalah dengan cara membimbing siswa. Upaya guru aqidah moral dalam membentuk kesantunan berbahasa tulis siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember adalah melalui konseling, bimbingan dan pengarahan.
Sitematika Pembahasan
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Penelitian Terdahulu
Penelitian Riza Ziana Cholid berjudul Peran Guru Aqidah Akhlak Dalam Membentuk Akhlakul Karimah Siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Rejotangun Tahun Pelajaran 2015/2016. Persamaan penelitian ini dengan yang ingin penulis gali adalah sama-sama penelitian yang mempelajari tentang keyakinan moral dalam pembentukan moral dan menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian Luluk Hamidah berjudul Pembelajaran Akhlak Akhlak dalam Peningkatan Akhlak Siswa di Madrasah Tsanawiyah Baniy Kholiel Bangsalsari Jember Tahun Pelajaran 2016/2017.
Persamaan penelitian ini dengan yang ingin penulis teliti adalah sama-sama membahas tentang pembelajaran keyakinan moral dalam meningkatkan moralitas dan menggunakan penelitian kualitatif. Peran Guru Aqidah Akhlak Dalam Membangun Etika Berbahasa Sanawiyah Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah-Syafi’iyah Mumbulsari Jember”.
Kajian Teori
Sejalan dengan penelitian deskriptif, langkah awal penelitian ini adalah mendeskripsikan secara objektif upaya guru aqidah moral dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember tahun pelajaran 2017/2018. Alasan dipilihnya lokasi ini karena di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember telah dilakukan upaya oleh para guru aqidah akhlak untuk membentuk adab dalam berbahasa lisan dan tulisan siswa. Kemudian, data tersebut dianalisis secara kualitatif untuk mendeskripsikan upaya guru aqidah moral dalam membentuk etika berbahasa siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jember.
Menurut pengamatan peneliti MTsN 5 Jember tentang upaya guru keyakinan moral dalam pembentukan kesantunan berbahasa siswa, hal tersebut ada dan dilaksanakan. Oleh karena itu, dalam hal ini guru keyakinan moral memegang peranan penting dalam pembentukan kesantunan berbahasa tulis. Dari hasil wawancara dan observasi diatas dapat kita simpulkan bahwa guru aqidah akhlak berupaya membentuk kesantunan berbahasa tulis siswa dengan cara memberikan konseling, membimbing dan juga mengarahkan.
Guru yang mempunyai peranan penting dalam upaya membentuk kesantunan berbahasa siswa disini adalah guru keyakinan moral. Selain menasihati dan membimbing siswa, guru keyakinan moral juga berusaha memberikan informasi tentang standar etika berbahasa siswa.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yaitu sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa perkataan tertulis atau lisan orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.38 Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu 'penelitian yang dilakukan mempunyai tujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek, misalnya tindakan, perilaku, persepsi, dan lain-lain secara holistik dan melalui uraian dalam bentuk kata-kata dan bahasa dalam konteks alam khusus dan dengan menggunakan berbagai metode ilmiah.” 39.
Lokasi Penelitian
Subyek Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Menurut Esterberg, wawancara adalah pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan gagasan melalui tanya jawab sehingga dapat dibangun pemahaman mengenai suatu topik tertentu.44 Dengan demikian, wawancara adalah suatu usaha untuk memperoleh informasi secara lisan dengan cara berinteraksi langsung dengan dua orang atau lebih. lebih banyak orang. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data jika peneliti mengetahui secara pasti informasi apa yang akan diperoleh. Wawancara jenis ini termasuk dalam kategori wawancara mendalam yang pelaksanaannya lebih murah dibandingkan dengan wawancara terstruktur.Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka.
Dalam melakukan wawancara, peneliti harus mendengarkan baik-baik dan menuliskan apa yang disampaikan informan. Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara bebas yang penelitinya tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan menyeluruh untuk pengumpulan data. Teknik dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak ditujukan secara langsung kepada subjek penelitian, melainkan melalui dokumen.
Dokumen adalah suatu catatan tertulis yang dikumpulkan oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan penyelidikan suatu peristiwa, dan berguna sebagai sumber data, bukti, informasi alam yang sulit ditemukan, dan memberikan peluang untuk lebih memperluas pengetahuan tentang sesuatu yang ada. . penyelidikan.
Analisis Data
Analisis data adalah proses pencarian dan pengumpulan data secara sistematis yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori-kategori, menguraikannya ke dalam satuan-satuan, mensintesiskannya, menyusunnya ke dalam pola-pola, dan memilih apa yang penting dan apa yang penting. dan menarik kesimpulan agar mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain. 46 Metode penelitian kualitatif tidak didasarkan pada bukti berdasarkan logika matematika, prinsip numerik atau metode statistik. 47. Miles dan Huberman dalam Sugiyono menyatakan bahwa kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus hingga selesai sehingga datanya jenuh. Aktivasi dalam analisis data terdiri dari tiga alur yaitu reduksi data, representasi data dan penarikan/verifikasi kesimpulan.
Reduksi data artinya merangkum, memilih hal yang paling penting, memusatkan perhatian pada hal yang penting, mencari tema dan pola. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dengan deskripsi singkat, diagram, korelasi antar kategori dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan Huberman menyatakan bahwa metode penyajian data yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif adalah teks naratif.
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif, menurut Miles dan Huberman, adalah menarik kesimpulan dan memverifikasinya. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti pendukung yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan tersebut merupakan kesimpulan yang kredibel.49.
Dalam penelitian ini dilakukan analisis data deskriptif kualitatif yaitu reduksi data termasuk melengkapi dan menyederhanakan data, dengan tujuan untuk memudahkan dalam memilih isu-isu kunci yang penting, sehingga memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data, sehingga data tersebut dapat diperoleh dengan mudah. dikumpulkan secara tertib. Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan dengan cara membandingkan data dokumen yang diperoleh melalui observasi dengan data yang diperoleh dari wawancara, terlepas apakah sesuai dengan fakta di lapangan atau tidak, sehingga data yang diperoleh merupakan data yang valid.
Keabsahan Data
Maka di sini saya sebagai guru Aqidah Akhlak harus selalu mengawasi bagaimana terbentuknya etika siswa, termasuk tata krama berbahasa lisan siswa.” 52. Hal ini karena guru akhlak akhlak membimbing dan menasihati siswa melalui kegiatan pembelajaran dan menghubungkan mereka dengan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menjadikan guru aqidah akhlak mempunyai peran yang lebih besar dalam membentuk etika peserta didik, khususnya etika berbahasa peserta didik.
Oleh karena itu, sebagai guru akhlak, kita mempunyai peranan penting dalam membentuk etika siswa, khususnya dalam membentuk kesantunan berbahasa siswa.” 53. Lebih jauh lagi, guru akhlak mempunyai kedudukan tersebut dan diupayakan dengan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan dokumentasi yang diambil peneliti pada Gambar 1.2 yang terlampir 64. Jika ada salah satu siswa yang berbahasa tidak pantas dan tidak pantas, maka guru tersebut akan mempunyai keyakinan moral.
Dari hasil wawancara dan observasi di atas dapat disimpulkan bahwa upaya guru dalam membentuk kesantunan berbahasa lisan siswa sudah terlaksana, yaitu dengan membimbing siswa dalam pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas, dan dikaitkan dengan teori akhlak yang baik. . Selain membimbing, guru aqidah akhlak juga berusaha mengarahkan peserta didik agar dapat berbahasa dengan baik dan sesuai dengan norma kesantunan berbahasa. Peran guru keyakinan moral juga penting di sini, karena termasuk dalam pembentukan etika siswa.
Selain itu, guru aqidah moral juga memberikan informasi dan contoh terkait standar kesantunan dalam bahasa tulis. Guru keyakinan moral MTsN 5 Jember ini memanfaatkannya melalui pembelajaran di kelas dan melalui kegiatan di luar kelas. Oleh karena itu, guru akhlak berusaha membentuk kesantunan dalam berbahasa lisan siswa, agar sesuai dengan teori pada saat wawancara dan observasi.
Dari analisa di atas maka guru aqidah akhlak melakukan upaya pembentukan bahasa tulis siswa dengan cara menasihati, membimbing dan. Guru akhlak di MTsN 5 Jember menerapkannya melalui pembelajaran di kelas maupun melalui kegiatan di luar kelas serta dikaitkan dengan teori tentang akhlak terpuji. Oleh karena itu, guru aqidah akhlak berupaya memberikan informasi melalui arahan mengenai kriteria bahasa tulis yang santun.
Guru yang berkeyakinan moral harus lebih mengembangkan upayanya membentuk kesantunan berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Bagaimana cara guru Aqidah Akhlak mengembangkan cara siswa dalam berbicara atau mengemukakan pendapat ketika berdiskusi di kelas?
Tahap-tahap Penelitian