• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Genealogis terbentuknya Rasisme terhadap Kelompok Gipsi di Eropa: Paradoks Nilai Kosmopolitan dalam Geopolitik Identitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Faktor Genealogis terbentuknya Rasisme terhadap Kelompok Gipsi di Eropa: Paradoks Nilai Kosmopolitan dalam Geopolitik Identitas"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 1 Faktor Genealogis terbentuknya Rasisme terhadap Kelompok Gipsi di

Eropa: Paradoks Nilai Kosmopolitan dalam Geopolitik Identitas

Ayu Puteri Hartono

Prodi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Airlangga [email protected]

Abstract

The existence of Gypsies who are different from the indigenous people in the European region, makes them experience the phenomenon of racism and violence in their lives. With a history as nomadic people, the existence of those can not blend well with the local culture and live in exclusivity makes them experience this racism. The presence of Gypsies in contemporary times can be said to be in a relatively low social spectrum caused by social construction and by the internal solid doctrine of their people. In this paper, the author will examine the phenomenon of racism and violence of the Gypsies further within the framework of genealogy and other ideas in post-structuralism and cosmopolitans and labels in international migration cosmopolitanism.

Keywords: cosmopolitics, Europe, genealogy, Gypsies, labels, othering, racism

Abstrak

Keberadaan kaum Gipsi yang berbeda dengan penduduk asli di kawasan Eropa, membuat mereka mengalami fenomena rasisme dan kekerasan dalam kehidupannya. Dengan sejarah sebagai penduduk nomaden, keberadaan mereka yang tidak mampu berbaur dengan baik terhadap budaya setempat serta hidup dalam eksklusivitasnya membuat mereka mengalami rasisme tersebut. Kehadiran kaum Gipsi pada masa kontemporer dapat dikatakan berada dalam spektrum sosial yang cukup rendah yang disebabkan oleh konstruksi sosial namun juga dengan doktrin internal kaumnya yang kuat. Dalam tulisan ini, penulis akan mengkaji fenomena rasisme dan kekerasan kaum Gipsi secara lebih lanjut dengan kerangka pemikiran genealogi dan othering dalam pascastrukturalisme serta kosmopolitik dan label dalam kosmopolitanisme migrasi internasional.

Kata Kunci: kosmopolitik, Eropa, genealogi, kaum Gipsi, label, othering, rasisme

1. Latar Belakang Masalah

Sejak abad ke-14 kelompok Gipsi atau biasa disebut dengan bangsa Roma/

Romani telah menjadi salah satu kelompok minoritas terbesar di kawasan Eropa.

Kehadirannya terus terdifusi hingga ke berbagai kawasan, termasuk Benua Amerika di abad ke-19. Akan tetapi, studi literatur yang mengulas mengenai adanya struktur sosial dan sejarah di Benua Eropa khususnya kawasan barat, menolak adanya eksistensi dari kelompok Gipsi yang notabenenya merupakan migran. Kelompok Gipsi merupakan imigran yang datangnya dari kawasan Asia Selatan yang terspesifikasi di India, dan secara struktur sejarah telah bermigrasi menuju Benua Eropa. Awal kehadirannya tersebar luas di daerah teritorial

(2)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 2 Kerajaan Ottoman hingga kawasan Balkan (mencakup Albania, Bosnia, Bulgaria, Turki, Serbia, dan tersebar dalam skala kecil di negara Balkan yang lain). Seiring berjalannya waktu, kelompok Gipsi terus bergerak hingga kawasan Eropa Barat yang juga melewati dan tersebar di bagian Eropa Tengah dan Timur. Secara linguistik, pemilihan kata Gypsy atau Gipsi adalah sekelompok orang nomaden yang tidak secara spesifik ditujukan pada orang-orang Romani, dengan kata lain merupakan penjelajah (Mac Laughlin, 1999).

Pembentukan identitas serta tujuan kaum Gipsi sebagai kaum nomaden atau petualang belum dapat ditemukan dengan jelas namun Loveland dan Popescu (2015) menjelaskan kaum Gipsi sejak era awal migrasinya telah digolongkan sebagai kelompok yang terluntang-lantung juga erat dengan kriminal. Kursus geopolitik ini memiliki dapat ditemukan berikutnya memiliki kesamaan dengan persepsi yang diterima kaum Gipsi di tempat barunya. Indikasi migrasi yang dilakukan kaum Gipsi ini diduga didasari oleh kebutuhan ekonomi karena mereka tercatat melakukan perjalanan baik sebagai pedagang maupun budak. Sebagai diaspora yang berpindah maupun menetap di tempat barunya di Eropa, kaum Gipsi dinilai sebagai sekelompok suku yang ‘jelek dan kusam’. Secara penampilan mereka tidak cukup menarik, memiliki perbedaan fisik dengan rambut bergelombang juga kulit lebih sawo matang yang menjadi dasar awal narasi dari perbedaan dengan kaum Eropa yang mayoritas terdiri atas masyarakat kulit putih (Loveland dan Popescu, 2015)

Dalam studi literatur mengenai kaum Gipsi, terdapat perbedaan dalam merespon kehadiran kelompok Gipsi setidaknya bagi Kekaisaran Ottoman dan wilayah persebaran di Eropa. Kekaisaran Ottoman (sekarang Turki) secara normatif akan menerima dengan baik adanya imigran-imigran termasuk kelompok Gipsi. Berbeda dengan kawasan Eropa, dimana kedatangan kelompok Gipsi tidak disambut dengan baik, adanya hal ini mengakibatkan adanya cikal bakal rasisme yang terus muncul di era kontemporer terhadap kelompok Gipsi. Adanya respon buruk Eropa terhadap kehadiran kelompok Gipsi akan merujuk pada adanya tiga kondisi utama. Pertama, kelompok Gipsi akan cenderung melekat dengan stigma buruk atau adanya kriminalitas (Brearley, 2001). Hal ini terjadi dikarenakan adanya berbagai kasus yang menunjukan tindak kriminal kelompok Gipsi dalam upayanya bertahan hidup. Sehingga, hal ini memunculkan pelekatan identitas kelompok Gipsi dari victimization dan melekat pada natural criminals (Mac Laughlin, 1999). Pada akhirnya terkonstruksi secara sosial dan menjadi stigma hingga saat ini. Selanjutnya merupakan adanya gerakan anti-Gipsi yang muncul di abad ke-17 oleh otoritas gereja. Hal ini juga didukung dengan adanya tuduhan- tuduhan secara normatif yang merujuk pada kelompok Gipsi sekalipun tindakan kriminal tersebut dilakukan oleh kelompok non-Gipsi (Mac Laughlin, 1999).

Kedua, kaum Gipsi sendiri memiliki ciri khas dalam hal berpakaian yang merupakan identitas klasik sukunya. Model berpakaian ini sesungguhnya merupakan dua sisi konstruksi sosial ketika kaum Gipsi ingin mengedepankan budaya yang telah mereka lestarikan namun di sisi lainnya model pakaian ini menjadi bukti pula bahwa kaum Gipsi tidak ingin mengikuti tren pakaian yang sedang beredar di dunia. Hal ini menjadi permasalahan terutama bagi kaum sosial

(3)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 3 di Eropa terutama kawasan Eropa Barat yang merupakan pusat budaya dan perkembangan modernitas. Kaum Gipsi seolah menutup diri dan mengeksklusifkan kelompok mereka dengan pola pakaian tersebut yang juga diikuti dengan berbagai budaya dan cara interaksi sosial mereka (Mac Laughlin, 1999). Perkembangan ini tentu mengaktifkan segregasi sosial yang semakin tajam terutama ketika kaum Gipsi berusaha untuk mengembangbiakkan suku mereka semurni mungkin. Konteks dalam kemurnian ras ini adalah menjaga tradisi yang tidak hanya ditunjukkan dengan pakaian dan cara berinteraksi sosial namun secara lebih dalam merupakan misi untuk memperbanyak kaum Gipsi yang menikah dengan sesamanya.

Ketiga, latar belakang sebagian besar kelompok Gipsi yang tidak memeluk agama Kristen Ortodox. Hal ini menjadi sorot penting di abad kedatangan pertama kelompok Gipsi, dikarenakan otoritas dan kekuasaan tertinggi masih dipegang oleh gereja di era tersebut (Mac Laughlin, 1999). Kebijakan berdasarkan garis spiritual akan berperan besar terutama kebencian masyarakat terhadap kelompok Gipsi akan terus mengalir dengan adanya stigma buruk atas aliran kepercayaan gelap yang dimiliki oleh kelompok Gipsi. Kepercayaan gelap tersebut merujuk pada adanya praktik sihir yang tidak jarang ditemukan dan dipraktekkan oleh kelompok Gipsi (Mac Laughlin, 1999). Praktik sihir tersebut sering ditunjukan dengan adanya penculikan hingga kematian dan sakit besar beberapa kaum kristen khususnya anak dari peserta gereja. Fenomena tersebut memupuk rasisme yang tertanam di pola pikir masyarakat terlebih kelompok Gipsi tidak memiliki otoritas atas kelompoknya secara penuh yang menghasilkan perbudakan terhadap kelompok Gipsi oleh masyarakat Eropa (Halasz, 2009). Hal tersebut yang kemudian menanamkan konstruksi sosial atas standar hidup dan skala normatif bagi kelompok Gipsi.

Rasisme terhadap kelompok Gipsi yang telah terjadi sejak lama ini berlanjut hingga era kontemporer. Peningkatan jumlah tindakan kekerasan rasis dan xenofobia terhadap kelompok Gipsi banyak terjadi dalam lingkungan politik yang menggunakan pendekatan utilitarian. Para migran Gipsi akan datang ke Eropa untuk beberapa tahun dalam jangka waktu yang pendek. Imigrasi tersebut akan berkontribusi pada perekonomian di negara yang didatangi dan biasanya akan pergi sebelum mereka menjadi 'beban', namun dalam beberapa kasus mereka mencoba opsi untuk menetap (Halasz, 2009). Mereka cenderung dijadikan objek eksploitasi pada pekerjaan kasar oleh orang Eropa. Eropa Tengah dan Timur menjadi negara yang banyak didatangi kaum Gipsi pada awalnya karena kaum ini berasal dari Asia Selatan. Hal ini menyebabkan negara blok Timur kesulitan untuk masuk dan diterima ke dalam Uni Eropa (UE). Kaum Gipsi berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya menjadi salah satu faktor penting. Di kebanyakan negara, populasi kaum Gipsi memiliki posisi yang cukup besar seperti di Hungaria dengan populasi lebih dari 5%, 9-10% populasi di Bulgaria, Slovakia dan Romania (Brearley, 2001).

Para pemangku kebijakan, kelompok sayap kanan dan media massa adalah pihak penting yang menyebabkan kaum Gipsi sangat dekat dengan hal-hal rasisme dan xenophobia, yaitu stereotip dan penggambaran negatif kaum ini

(4)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 4 (Halasz, 2009). Kenyataan yang terlihat, kondisi kualitas hidup kaum Gipsi yang cenderung kurang baik dengan: 1) mayoritas dari mereka adalah orang miskin;

2) berada pada tingkatan paling bawah pada spektrum sosial masyarakat; 3) tempat tinggal dengan kondisi pemukiman yang buruk; 4) persentase tunawisma yang tinggi; 5) tingkat buta huruf hingga 60% di beberapa negara; 6) tingkat harapan hidup hingga tiga kali dibawah non-gipsi; 7) kaum ini cenderung tertutup dari pergaulan sosial (Brearly, 2001). Kedatangan orang Gipsi di Italia digambarkan sebagai sebuah invasi dan ancaman terhadap keamanan penduduk Italia. Sentimen rasis oleh media massa dan pejabat publik, memicu iklim kebencian terbuka terhadap warga Gipsi (Halasz, 2009). Seorang gadis Gipsi pada bulan Mei 2008 dituduh mencoba menculik seorang bayi, di Ponticelli, sebuah distrik Napoli. Tuduhan tersebut merupakan manipulasi dan digunakan untuk memperkuat persepsi rasa tidak aman terhadap kaum tersebut. Contoh insiden semacam ini telah menyebabkan meningkatnya reaksi xenofobia terhadap Gipsi yang mana kemudian mengarah pada keputusan baru yang diusulkan oleh pemerintah tentang keamanan publik dan serangkaian ketentuan yang menyatakan 'keadaan darurat' di beberapa bagian negara karena kehadiran komunitas 'nomaden'. Pada awal Juli 2009, sebuah kebijakan keamanan baru disahkan yang secara langsung menargetkan para migran dan minoritas termasuk kaum Gipsi (Halasz, 2009). Contohnya ketika Perancis menggusur sekitar 300 pemukiman Gipsi dalam waktu tiga bulan (BBC Indonesia, 2010)

Rasisme terhadap orang Gipsi hampir terjadi di segala usia, tidak terkecuali anak-anak. Dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda, anak-anak Gipsi umumnya diklasifikasikan sebagai terbelakang. Contoh pada pertengahan 1980-an di Hungaria misalnya, 36% dari semua anak di "lembaga pendidikan khusus" untuk "anak terbelakang atau sulit" adalah Gipsi, dan 15,2% dari semua anak sekolah Gipsi berada di sekolah untuk orang cacat (Crowe, 1995 dalam Brearly, 2001). Beberapa anak Gipsi bersekolah di sekolah menengah. Sebagian besar dari mereka meninggalkan sekolah pada usia 9 tahun, dan hanya 51,3%

anak-anak Gipsi berusia di bawah 10 tahun yang bersekolah secara teratur (British Broadcasting Corporation, 1993 dalam Halasz, 2022). Hal ini kemudian semakin diperparah dengan budaya masyarakat Gipsi yang masih patriarkis bahwa remaja putri Gipsi dianggap tidak memerlukan tingkat pendidikan tinggi karena tugas hidup mereka adalah menikah dan memberikan keturunan. Budaya yang dilanggengkan ini kemudian memperdalam jurang iliterasi anak-anak keturunan Gipsi yang mempersulit mereka untuk berbaur dalam masyarakat Eropa. Tulisan ini bertujuan menjawab mengapa kelompok Gipsi dianggap sebagai outsider bagi masyarakat asli terutama kawasan Eropa Timur dan Eropa Tengah meskipun telah lama bermukim disana?

2. Genealogi dan Othering dalam Pascastrukturalisme

Konsep genealogi diperkenalkan untuk meninjau asal muasal suatu fenomena yang sifatnya inheren tetapi tidak given. Hal ini masih berselingkungan dengan logika berpikir teori-teori kritis yang tidak meninjau objective truth dari

(5)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 5 suatu objek material melainkan what factors revolving and making up around atau dengan kata lain menganalisis diskursus apa yang terbawa dari suatu objek material sehingga menjadi boundary dalam proses sosial (Hansen & Wæver, 2002). Secara lebih lanjut, penulis kemudian menurunkannya melalui konsep boundary geopolitics dalam kajian identitas sosial-spasial yang kemudian diterjemahkan agensi terlibat dalam pembentukan perbatasan baik fisik, maupun sosial (Flint, 2006). Kaitannya dalam tulisan ini adalah, penulis akan menganalisisnya dalam proses othering ‘self versus other’ yang dikenakan pada kaum Gipsi sebagai pihak Other sementara di negara-negara yang secara budaya ekonomi-sosial dan politik menganut prinsip kosmopolitan dan nilai kemasyarakatan liberal sebagai pihak Self.

2.1Atribut dan Faktor Sejarah

Keberadaan Kaum Gipsi pada dasarnya dapat ditarik sejak berabad-abad lalu.

Bahasan mengenai kehidupan Gipsi yang nomaden, anarkis, saling ketergantungan, dan antagonistik tidak disebutkan satu pun di tulisan komprehensif terkait perkembangan peradaban Eropa (Mac Laughlin, 1999).

Dalam realita, masyarakat Eropa Barat lebih sering menemui eksistensi Gipsi dibandingkan dengan Afrika, Amerika dan Asia. Akan tetapi, bahasan perihal Kaum Gipsi hampir tidak pernah eksis di sebagian besar catatan sejarah. Di studi rasisme periode pra-Nazi, jurnal rasisme pra-modern, literatur peradaban modern awal, hingga studi kebijakan di Spanyol terhadap Yahudi, Muslim dan Kristen, hanya terdapat catatan singkat mengenai etnis minoritas teraniaya yang baru tiba di tanah Iberia. Kaum Gipsi hidup sebagai kaum yang terpinggirkan dan terlupakan baik dalam kehidupan maupun sejarah keilmuan modern (Eliav- Feldon, 1997). Gipsi sepenuhnya diabaikan terkait dengan peran integratif mereka di Eropa. Mereka hanya dilihat sebagai subjek yang akan dicambuk dan dibuang secepatnya. Kepercayaan lain mereka juga dilabeli sebagai anti-kristen.

Singkatnya, di Eropa Kaum Gipsi dianggap sebagai manusia liar, tidak beradab, dan bagian rakyat yang lebih rendah (Mac Laughlin, 1999).

Perasaan akan perbedaan ini kemudian menjadi faktor sejarah yang mencipta pola rasisme terhadap Gipsi di masa sekarang. Penulis menggunakan argumen pemikiran post-strukturalis yang dikemukakan oleh Michael Foucault yakni genealogi postrukturalisme. Genealogi dasarnya adalah gaya pemikiran sejarah terkait signifikansi hubungan kekuasaan dan pengetahuan (Devetak, 2009). Kekuasaan bagi Foucault bukan merupakan kepemilikan individu, kelas ataupun dalam model negara, melainkan sesuatu yang menyebar di masyarakat untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Kekuasaan adalah jaring penentuan sejarah yang tidak bisa lepas sepenuhnya. Kekuasaan ini kemudian bertempat pada struktur dalam kapasitas untuk menentukan tindakan, identitas hingga norma dan nilai dalam kehidupan (Williams 2014). Kekuasaan ini kemudian menjadi justifikasi sesuatu benar atau salah. Kebenaran subjektif kemudian menjadi hasil dari kekuasaan dan pengetahuan (Umanailo, 2019). Setiap masyarakat ada politik

(6)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 6 kebenaran masing-masing, dalam hal ini adalah pemikiran rasisme yang tertanam dalam masyarakat Eropa. Roland Bleiker, (2000) dalam Devetak (2009) menyatakan bahwa genealogi berfokus pada proses dimana individu telah membangun asal usul dan memberikan makna kepada representasi tertentu di masa lalu. Representasi inilah yang kemudian secara kontinyu memandu kehidupan masyarakat sehari-hari dan menggariskan batas-batas politik dan sosial. Rasisme yang dialami Kaum Gipsi adalah hasil dari mekanisme kekuasaan.

Kekuasaan dan pengetahuan ini digunakan untuk membentuk kontrol sosial melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan, yakni penjara, pabrik, sekolah, rumah sakit, rumah sakit jiwa, dan militer. Hal ini terlihat dalam realita rasisme Gipsi di lingkup institusi formal, diantaranya di rumah sakit oleh seorang bidan, lingkungan kerja oleh kolega, hingga sekolah yang menyebabkan ditariknya anak- anak untuk menghindari perilaku-perilaku tersebut (Gleadow, 2022).

Pada masa dimana Eropa berada dalam zaman “Penemuan Manusia dan Dunia”, masyarakat lebih banyak memperdebatkan terkait penduduk Asia, Afrika dan Amerika. Adanya pertemuan, penaklukan, dan perbudakan kemudian melahirkan catatan-catatan sejarah yang masif. Kategorisasi dan klasifikasi ras modern kemudian menjadi perhatian penuh para sarjana. Pergolakan atau perkembangan revolusioner ini kemudian menutupi adanya realita sekelompok kecil orang yang tidak dikenal di Eropa Barat. Orang-orang Gipsi, yang seringkali ditulis tanpa menggunakan kapital untuk menunjukkan ketidakpentingan mereka hingga saat ini, merupakan orang-orang yang memasuki negara Barat secara bertahap. Mereka tiba di Italia, Jerman, Prancis, Belanda, dan negara-negara Iberia sekitar awal abad 15 serta tiba di Inggris pada abad keenam belas dengan mulanya tidak lebih dari sekelompok kecil orang asing (Eliav-Feldon, 1997).

Genealogi adalah usaha deskripsi sejarah mengenai asal usul suatu pemikiran (Umanailo, 2019). Dalam hal ini, titik tolak pemberangkatan rasisme berasal dari masa sekitar abad 15, yakni perpindahan Kaum Gipsi yang terbelakangi gemerlap zaman penemuan dunia dan manusia Eropa.

Kemudian pada tahun 1930-an, kaum Gipsi menghadapi tantangan yang juga besar dari kehadiran tentara Nazi. Pada Era ini mereka yang tergolong warga atau kelompok asing seperti Yahudi dan juga Gipsi mengalami eksekusi masal dibawah perundang-undangan Nazi (Eliav-Feldon, 1997). Mereka dikategorikan sebagai orang asing yang membutuhkan eksekusi masal atau genosida karena yang berusaha dieliminasi adalah ras yang dapat merusak keturunan bangsa Arya sebagai keturunan murni warga Jerman. Nazi melakukan ini sebagai bentuk kejahatan manusia namun hal ini sedikit banyak turut menyumbangkan atribut sejarah yang mencatat sisi kelam pembunuhan terhadap kaum Gipsi. Kaum Gipsi juga mendapatkan label ‘orang jahat’ dari Nazi yang sedikit banyak terdoktrin ke pemikiran kaum Eropa modern.

(7)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 7 2.2 Ketidakmampuan Integrasi dan Ketiadaan Peran dalam Struktur Sosial serta

Motif Ekonomi

Dengan sejarah dan pola hidup nomaden dari kaum Gipsi terutama di kawasan Eropa, banyak sisi negatif dan positif yang dihasilkan. Dari sisi negatif, kaum Gipsi justru menjadi sangat mudah menjadi pihak “outsider” yang membutuhkan waktu tidak sedikit dalam proses adaptasi masyarakat. Pihak outsider ini menjadi pihak terlemah dalam struktur sosial karena menjadi kelompok other (MG-S-ROM, 1999). Maka, kaum Gipsi menjadi rentan ketika terjadi konflik, menjadi subjek victim, dan dianggap pihak yang tidak berkontribusi dalam struktur sosial. Dalam sisi positif, kehidupan nomaden dari Gipsi menjadikan mereka kaum yang lebih solid sesama kaumnya dan juga memiliki keterampilan yang lebih banyak. Kaum Gipsi secara tradisional yang nomaden menggunakan rombongan karavan akan menghasilkan kerajinan kesenian, menjual hasil ternak dan menampilkan hiburan sebagai mata pencaharian. Namun, kecenderungan kaum Gipsi yang tertutup dan berusaha meminimalisir percampuran budaya mereka dengan masyarakat lainnya menjadikan mereka semakin mudah untuk tidak dikategorikan dalam sebuah kelompok identitas negara tempat domisilinya.

Penulis membongkar argumentasi dasar postmodern yang melihat kepercayaan dan nilai dari kelompok masyarakat dibentuk dengan kebudayaan yang tunggal serta adanya pola pikir yang mempengaruhi suatu pengetahuan (Steans, 2010). Campbell (2013) mengkonstruksikan diskursus sebagai struktur kompleks bahasa yang datang dari sebuah dorongan power, tindakan eksternal terhadap kaum Gipsi akan menjadi sebuah kerangka berpikir yang utuh. Kaum Gipsi tidak memiliki kontribusi secara ekonomi-sosial yang cukup untuk mendorong mereka sebagai sebuah kesatuan masyarakat beridentitaskan negara.

Turunan dari kedua pendekatan ilmu hubungan internasional ini akan semakin terlihat dalam teori labeling dimana identitas dan perilaku seorang individu maupun kelompok kepada objek atau subjek tertentu akan berpengaruh terhadap sesuatu label yang dilekatkan kepada mereka. Secara umum kita dapat melihatnya sebagai stereotip atau bentuk identitas yang dilabeli menyimpang serta tercipta dalam norma budaya melalui interaksi sosial masyarakat (Goffman, 1974).

Kaum Gipsi terutama dalam dunia ekonomi menjadi sebuah subjek yang amat mudah dilabeli sebagai anomali dalam sosial masyarakat Eropa. Kebudayaan nomaden dan bentuk interaksi mereka semakin memperjelas segregasi keterampilan pekerjaan karir yang dapat mereka lakukan. Data ini turut diperkuat oleh European Union Agendy for Fundamental Rights (2020) yang menjelaskan bahwa kaum Gipsi mengalami bullying, serta perlakuan kebencian kepada kaum mereka karena identitas mereka sebagai kelompok nomaden yang masih kuat di beberapa negara terutama Belgia, Perancis, Irlandia, Belanda, Swedia, dan Inggris. Kaum Gipsi dengan mata pencaharian pengrajin, penghibur, penjual ternak serta buruh tenaga kasar dianggap tidak memberikan kontribusi yang signifikan dalam struktur sosial. Ketidakinginan secara kolektif dari kaum Gipsi

(8)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 8 untuk mengintegrasikan diri ke dalam bentuk identitas serta karir terbarukan menjadi dinding limitasi yang dibuat oleh mereka sendiri dalam kerangka kebudayaan mereka (Bradford, 2018). Maka, label terhadap kaum Gipsi yang diberikan warga Eropa sebagai mayoritas, memiliki power lebih besar secara kolektif dan menunjukkan konstruksi label terhadap Gipsi tersebut akan menjadi hal yang terus berulang.

Dalam sisi ekonomi, seluruh pekerjaan memiliki kontribusi sesuai peranannya masing-masing dalam pertumbuhan perekonomian. Dengan keberadaan kaum Gipsi untuk mengisi tenaga kasar yang tidak diisi oleh orang Eropa tentu menjadi poin positif untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun kembali labelling terutama kepada blue collar worker menjadi stigmatisasi yang telah tertanam negatif melalui persepsi barat. Maka kontribusi yang sifatnya pelayanan komunitas dan pekerjaan berdimensi blue collar ini akan lebih mudah tergantikan secara struktur sosial karena Eropa merupakan pusat peradaban yang menarik masyarakat dari banyak penjuru untuk hadir bermigrasi dan bermukim disana. Limitasi ini awalnya merupakan pola dasar para imigran suaka yang berusaha mencari pundi uang dalam memenuhi kebutuhan atau bentuk remitansi lainnya. Namun yang menjadi masalah adalah kaum Gipsi tidak berusaha secara lebih aktif untuk memperjuangkan atau mengangkat derajat pekerjaan sosial mereka dengan pekerjaan yang dianggap lebih ‘layak’ (Bradford, 2018). Hal ini bersinggungan banyak dengan safe zone yang dibentuk oleh komunitas mereka serta upaya lebih lanjut yang didorong kaum Gipsi untuk bekerja seperlunya, lebih banyak berinteraksi dengan keluarga juga komunitas dan terus melakukan pelayanan kepada sesama.

Keturunan kaum Gipsi dalam era kontemporer sesungguhnya telah berusaha menunjukkan keterbukaan terhadap lowongan pekerjaan. Populasi mereka yang juga mulai menetap dan tidak lagi melakukan nomaden turut mengharuskan mereka mencari pekerjaan secara tetap di tempat tersebut. Namun, pekerjaan yang tetap sukses dilakukan kaum Gipsi adalah pekerjaan seperti seniman, para pembaca tarot maupun musisi. Mayoritas kaum Gipsi masih tetap melakukan pekerjaan kasar dan menjadi buruh pabrik (Acton, 1997). Bentuk transisi ini tidak serta merta menjadikan mereka semakin terbuka dalam kehidupan sosialnya.

Oleh karenanya, dalam kasta struktur pekerjaan sosial, kehadiran kaum Gipsi hanya menjadi pengisi lantai dasar hierarki pekerjaan dan tidak memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi komunitas dan negaranya. Bentuk labeling terhadap kaum Gipsi menjadi cara tradisional bagi masyarakat negara tertentu untuk mengeliminasi mereka yang bukan bagian dari identitas mereka, terutama ketika suatu kaum tersebut dianggap tidak cukup bermanfaat secara kolektif dalam kehidupan sosial dengan prioritas ekonomi.

Kaum Gipsi kemudian secara struktur sosial-ekonomi memang mampu mengisi berbagai kekurangan dalam hal tenaga. Kehadiran kaum Gipsi yang lebih isolasionis pada awal migrasinya kemudian memaksa mereka untuk memenuhi peran sebagai pekerja lepas kasar yang tidak terlalu terikat. Dalam kasus ini, masyarakat Eropa pada umumnya tidak mengambil peran sebagai pekerja kasar tersebut. Kategori dari pekerja kasar ini kemudian bervariasi namun banyak

(9)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 9 berkaitan dengan pelayanan komunitas yang kembali lagi, terkadang teresklusifkan kepada anggota komunitas Gipsi ini. Sehingga labelling ini kemudian semakin menebal dan mempertegas adanya jarak antara anggota Gipsi yang monoton dalam kehidupan sosial ekonominya serta cukup mudah untuk digantikan sewaktu-waktu karena sifatnya yang pekerjaan replaceable (MG-S- ROM, 1999). Namun kontur seperti ini seharusnya dengan mudah terselesaikan ketika Gipsi mau membaur dan berintegrasi dalam konteks sosial ekonominya dibandingkan membiarkan kaum mereka terpinggirkan dalam peradaban juga sejarah Eropa.

Perkembangan kontemporer dari kaum Gipsi tentu akan bergerak dinamis.

Setelah menempati Eropa selama beberapa abat tentu mereka telah mampu sedikit-banyak berintegrasi dengan komunitas lokal. Sebagai contoh di Lom, kota kecil di Bulgaria, kaum Gipsi telah berhasil keluar dari kerangka identitas pelancong juga pekerja kasar dengan menjadi dokter, kepala sekolah, wiraswasta (Jovanovic, 2019). Bentuk cerita dan pengalaman ini terkesan bukan pencapaian yang luar biasa namun mengingat kaum Gipsi yang terus menerus mengalami diskriminasi akibat masalah ekonomi dan peran sosialnya secara perlahan mampu mengikis pendapat tersebut. Dalam ranah politik sendiri, kaum Gipsi masih bergerak dalam level komunitas kecil sebagai tempat mereka menuangkan aspirasi dan belum banyak menunjukkan cerita sukses dalam sisi nasional yang mampu menggarisbawahi sebagai momentum perubahan kaum Gipsi dari segregasi partisipasi politik, sosial dan terutama ekonomi.

3. Kosmopolitik dan Label dalam Kosmopolitanisme Migrasi Internasional

Wacana kosmopolitanisme merupakan state of art dalam Hubungan Internasional (HI) dan analisis publik melihat lebih jauh fenomena migrasi, terutama melalui pendekatan identitas tetapi berimplikasi pada disiplin-disiplin lain, seperti ekonomi. Hal ini diperkuat melalui kajian-kajian kapita selekta serta dampak migrasi terhadap pembangunan dan pertumbuhan masyarakat seperti yang ditesiskan oleh Brock (2010), maupun kajian yang sifatnya berfokus pada perkembangan peradaban dan keterbukaan masyarakat terhadap imigran seperti yang tesiskan oleh Cuccioletta (2001). Di samping itu, globalisasi juga sedikit menggeser paradigma dari pemikiran kosmopolitan yang sifatnya viable dan sukarela menuju kosmopolitan ala rezim globalisasi-neoliberal yang sifatnya kosmopolitik (Jacobsen et al., 2010). Dengan menggunakan konsep kosmopolitik, tulisan ini juga berusaha menganalisis paradoks yang terjadi pada negara-negara Eropa yang menerapkan sistem Welfare State. Kosmopolitik sendiri dijelaskan oleh Jacobsen (et al., 2010) sebagai tindakan selektif-restriktif dalam memilih object referent mana yang dikategorikan sebagai pihak inside atau self untuk dapat dibantu dalam aksi-aksi humanitarian. Hal ini menjadi menarik terutama apabila dianalisis secara diskursif dan value dari keberadaan kelompok Gipsi sendiri yang sering dinilai oleh pihak inside tidak dapat memberikan keuntungan (value-added) sehingga seringkali dieksklusifkan dari sistem sosial-spasial.

(10)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 10 3.1 Rasisme dan Pengucilan Kaum Gipsi

Rasisme yang dialami Kaum Gipsi sebagai hasil dari mekanisme kekuasaan kemudian secara kontinyu memandu kehidupan masyarakat sehari-hari dan menggariskan batas-batas politik dan sosial di negara-negara Eropa. Pada Februari 2020, pelapor khusus PBB melaporkan tentang terbentuknya kemiskinan ekstrim dan mengutuk keras bagaimana Spanyol memperlakukan komunitas Gipsinya. Di Eropa Barat, Spanyol menjadi negara dengan kelompok Gipsi terbesar dan hampir setengahnya hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak anggota komunitas Gipsi mengalami diskriminasi, terutama di pasar kerja. Salah satu insiden terburuk terjadi di Desa Torredonjimeno yang diduga dipicu oleh perkelahian antara seorang Gipsi muda dan seorang penduduk tua di desa tersebut. Kejadian tersebut mengakibatkan penduduk tua dibawa ke rumah sakit dengan tengkorak retak dan tertangkapnya seorang pemuda Gipsi (CNN, 2010).

Penduduk Desa Torredonjimeno kemudian mengepung rumah pemuda Gipsi dan membakarnya hingga menyebabkan penghuni rumah tersebut mengalami luka bakar yang parah. Sejak itu, para pemimpin komunitas Gipsi, melalui media televisi, menuduh pemerintah nasional melakukan pengabaian terhadap rasisme yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat Spanyol kepada kaum Gipsi. Hal ini menunjukkan bahwa stereotip yang mengacu pada kecenderungan genetik kaum Gipsi yang lekat dengan kejahatan serta media yang memperkuat rasisme, secara teratur mengidentifikasi identitas kaum Gipsi yang berakibat pada diskriminasi ekonomi, politik dan budaya, baik dalam masyarakat demokratis dan totaliter (CNN, 2010). Dampaknya, sebesar 80 persen dari kaum Gipsi Spanyol kehilangan pekerjaan, 68 persen buta huruf, hanya setengah dari perkiraan 100.000 anak- anak Gipsi pergi ke sekolah, dan hanya 7 persen yang menyelesaikan sekolah mereka.

Stereotip yang melekat dan rasisme yang dilakukan terhadap kaum Gipsi juga terjadi di ranah kepolitikan beberapa negara lain. Pada tahun 2019, sebuah survei yang dilakukan oleh Uni Eropa menemukan bahwa kaum Gipsi semakin terancam oleh sayap kanan di seluruh Eropa. Seperti yang dilakukan oleh Douglas Ross, pemimpin partai konservatif di Skotlandia ketika ditanya pada tahun 2017 terkait prioritas pertamanya jika dia menjadi Perdana Menteri adalah untuk melakukan penegakan yang lebih keras terhadap kaum Gipsi dan pelancong (Zaretsky & Miljanic, 2010). Lebih lanjut, rasisme institusional terhadap kaum Gipsi terbukti dilakukan dalam kebrutalan polisi dan prasangka pengadilan. Sejak tahun 1989, program dan serangan massa terhadap lingkungan komunitas Gipsi telah dilaporkan di Rumania, Bulgaria, Hongaria, dan Republik Ceko dan Slovakia yang ditambah dengan non-intervensi yang disengaja oleh pihak berwenang.

Sebagai dampaknya, orang Gipsi umumnya enggan mengungkapkan identitas mereka karena takut akan penganiayaan.

Menurut British Medical Association, komunitas Gipsi memiliki tingkat kematian anak tertinggi di Inggris dan harapan hidup orang Gipsi adalah 7-20 tahun lebih rendah daripada populasi lainnya. Pada masa merebaknya virus

(11)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 11 COVID-19, pemerintah juga mengabaikan kesehatan kaum Gipsi karena fasilitas di lokasi otoritas lokal yang sangat buruk (Haider, 2020). Pada tahun 2019, parlemen Westminster mengidentifikasi bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh kaum Gipsi menghadapi hambatan penyelesaian yang lebih besar daripada non-Gipsi (Haider, 2020). Lebih sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang mereka butuhkan guna menghindari atau meninggalkan para pelaku kekerasan. Dalam situasi ini, perempuan Gipsi kemudian enggan melaporkan pelecehan, karena takut akan dikucilkan dari keluarga besar mereka dan menghindari diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat luas. Sedangkan di Rumania, pemerintah dengan enggan merancang inisiatif program yang bertujuan untuk memfasilitasi integrasi Roma. Program aksi afirmatif dan penunjukan mediator pendidikan dan kesehatan bagi kaum Gipsi di tingkat lokal telah banyak dipublikasikan (Zaretsky & Miljanic, 2010). Tetapi efektivitas program-program ini sangat terbatas akibat sentimen anti-Gipsi yang terdapat di masyarakat, khususnya di antara para pembuat kebijakan.

Konsep ini semakin dipertegas ketika labelling others ini semakin diaminkan oleh pihak Gipsi. Perempuan Gipsi masih memegang teguh konsep kekeluargaan yang ditekankan oleh kaumnya. Pengucilan ini bersifat dua arah ketika dari sisi internal, perempuan yang akan menjadi ibu dan pendidikan pertama anak-anak Gipsi justru dibatasi pendidikannya hingga level dasar saja. Cukup jarang perempuan Gipsi menempuh pendidikan hingga level SMA bahkan universitas.

Lebih lanjut, kaum Gipsi memiliki tradisi bahwa perempuan harus mendapatkan jodoh sesegera mungkin demi meneruskan keturunan mereka. Pengucilan dari sisi eksternal atau others ini semakin dipertegas dalam rangka ketidakmampuan dan ketidakmauan kaum Gipsi untuk membaur dengan konsep liberalisasi yang diperkenalkan oleh kaum barat (Zaretsky & Miljanic, 2010). Pengucilan karena mereka tidak mampu memberikan value added justru dilanggengkan karena kaum Gipsi tidak memiliki urgensi untuk mendorong kaum mereka berintegrasi dalam kelompok sosial Eropa yang mendorong konsep liberalisasi dengan sangat kental.

Rasisme struktural yang terbentuk karena pelanggengan perbedaan ini menunjukkan kuatnya konsep self dari kaum Gipsi. Mereka tidak keberatan bahwa kaum mereka mendapat label negative dari kaum sosial Eropa yang cukup terintegrasi dengan berbagai imigran serta identitas masyarakat lainnya. Terlebih ketika kaum Gipsi telah berada di Eropa selama lebih dari 500 tahun di Eropa.

Mereka memiliki eksklusifitas yang sangat tinggi hingga kelompok ini tertutup dalam berbagai event sosial. Rasisme dan xenophobia menjadi langgeng karena diaminkan oleh sisi internal yang tidak mengintegrasikan dengan kemajuan modernitas Eropa (Zaretsky & Miljanic, 2010). Dari sisi eksternal masyarakat Eropa seakan tidak membutuhkan sebuah kelompok masyarakat yang tidak terintegrasi dalam kelompok masyarakat lainnya ditambah mereka tidak memiliki sejarah yang cukup untuk ‘menghormati’ kaum Gipsi. Hal inilah yang menjadi paradoks dari konsep kosmopolitik yang dijunjung kaum Eropa namun masih memperlakukan kaum Gipsi layaknya orang asing di tempat yang telah mereka tinggali selama beberapa abad.

(12)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 12 3.2 Perbedaan Perspektif Kaum Gipsi pada Konsep Ethnic Nationalism

Berdasarkan ketiga argumen di atas, penulis mengarahkan pada argumen terakhir yakni mengenai sikap kaum Gipsi yang kaitannya dengan karakter clique dan kecenderungan untuk mewujudkan ethnic nationalism. Istilah clique memiliki dua tingkat signifikansi. Dalam penggunaan netral oleh para peneliti sosial, clique menunjukkan sekelompok orang yang berinteraksi satu sama lain lebih intensif daripada dengan rekan-rekan lain dalam pengaturan yang sama. Dalam bentuknya yang lebih populer, clique memiliki konotasi negatif yang digunakan untuk menggambarkan kelompok sosial yang mengecualikan orang lain atas dasar perbedaan yang dangkal, melakukan tekanan teman sebaya yang lebih besar dari rata-rata terhadap anggotanya. Sedangkan, ethnic nationalism sendiri merujuk pada sekelompok orang yang tidak dapat dan tidak ingin mengadopsi budaya baru di tempat mereka tinggal sehingga mereka akan bersikukuh untuk mempertahankan budaya mereka. Beberapa perhatian dan aspek nasionalisme etnis membentuk bagaimana nasionalis etnis mendefinisikan bangsa dan tujuan politik mereka yakni penentuan nasib sendiri (self-determination), peran suku/etnis, peran bahasa, agama, dan asas asimilasi.

Secara garis besar kaum Gipsi cenderung menutup diri dan mengurangi percampuran budaya dengan masyarakat lainnya. Hal ini pun juga tidak hanya dilakukan beberapa orang saja namun secara kolektif kaum Gipsi enggan mengintegrasikan diri, sebagaimana yang dijelaskan pada argumen sebelumnya bahwa hal tersebut kemudian berdampak pada kesejahteraan mereka sendiri.

Seringkali dari pemerintah lokal menyerukan kepada kaum Roma untuk melakukan perubahan pada kebiasaan dan kebudayaan mereka. Hal ini dinilai sebagai suatu fair game, sebab dalam struktur sosial mereka adalah kelompok yang paling lemah dan juga dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat asli ditambah lagi mereka merupakan pendatang (Pidd, 2013).

Ancaman ini beberapa kali menimbulkan spekulasi bahwa akan ada potensi terjadinya kericuhan antara masyarakat lokal dengan imigran Gipsi. Seperti yang dilansirkan oleh Pidd (2013) dalam The Guardian, masyarakat lokal di Page Hall, Sheffield, Inggris mengatakan bahwa mereka merasa terintimidasi di lingkungan sendiri dan berusaha untuk membuat pendatang baru mengerti bagaimana kehidupan berjalan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, kaum Gipsi pada awalnya tidak mengerti cara mendaur ulang sehingga wilayah tersebut memiliki masalah terkait sampah. Banyak pihak berwenang telah mencoba mempekerjakan juga mengajarkan orang Gipsi untuk melakukan berbagai kebiasaan sosial dalam keseharian. Mulai dari sistem daur ulang lokal yang dapat dilakukan oleh orang dewasa hingga pentingnya inokulasi masa kanak-kanak pada keseharian masyarakat Eropa, tetapi terbukti sulit. Perlu ada keseriusan seperti niat dari orang Gipsi tersebut yang kemudian menentukan bisa atau tidaknya upaya integrasi tersebut berjalan dengan baik. Dalam hal perekonomian juga ditemui kesulitannya, mereka berpendapat bahwa mereka bekerja untuk membantu keluarga mereka, tetapi yang terlihat di berbagai saluran media menunjukkan

(13)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 13 bahwa banyak dari mereka mengemis atau lebih buruk lagi mereka melakukan tindakan ilegal. Situasi genting keluarga miskin, tunawisma, kurangnya dokumen identitas (akta kelahiran atau kartu identitas) menyebabkan cerminan negatif pendidikan dalam keluarga. Hal ini juga memberikan anggapan bahwa kaum Gipsi adalah pemalas, kasar, tidak mematuhi hukum, lebih suka mendapatkan uang atau properti secara ilegal. Karena citra buruk yang mereka ciptakan pada waktunya terbukti sangat sulit untuk mewujudkan integrasi profesional dan bahkan integrasi sosial (Roman, 2013).

Menurut Kovats (2003), keragaman linguistik/komunal mereka dan kurangnya minat bersama, membuat Gipsi tidak mungkin bisa bersatu secara politik di negara bagian mana pun. Bahkan jika ini terjadi, akan sulit bagi minoritas yang miskin, tersebar dan tidak populer untuk melepaskan diri dari marginalisasi politik. Isu keterlibatan atau partisipasi komunitas Gipsi dalam elaborasi, desain, implementasi dan pemantauan solusi inovatif untuk masalah ekonomi dan pekerjaan mereka tentunya juga memang sangat diperlukan. Tidak ada hasil yang sesuai dan abadi yang akan dicapai jika komunitas Gipsi ditinggalkan dari proses refleksi dan dianggap sebagai objek daripada subjek perkembangannya sendiri.

Percobaan tersebut pernah dilakukan oleh Council of Europe Group of Specialists on Roma, Gypsies, and Travelers untuk memperbaiki situasi Roma/Gipsi, di berbagai wilayah Eropa dan khususnya di tahun tujuh puluhan di Eropa Barat yang mengabaikan pentingnya partisipasi komunitas Gipsi. Sayangnya, upaya ini sangat sering menemui kegagalan, yang kemudian memperkuat stigma umum di antara penduduk mayoritas bahwa Roma/Gipsi "tidak ingin diintegrasikan". Hal ini sangat kentara merujuk pada sikap clique dan ethnonationalism dari kaum Gipsi.

Apabila dikaitkan dengan fokus sebelumnya, maka sikap ini kemudian sangat menonjolkan mengapa kaum Gipsi dianggap sebagai pihak other.

Hal yang menjadi kontras dalam bentuk nasionalisme kaum Gipsi dengan warga Eropa lainnya tentu terlihat dari bagaimana kaum Eropa sangat menjunjung tinggi nilai civic nationalism. Sebagai kawasan yang turut melahirkan konsep kebebasan, toleransi, keadilan juga hak-hak individualitas, warga Eropa sangat menghargai bentuk kebersamaan yang terbentuk atas asas tersebut (Pidd, 2013).

Kembali menekankan bahwa kaum Gipsi melihat kelompok mereka merupakan kelompok yang terbangun dari asas suku, keturunan, darah yang cukup termanipulasi dalam suatu penghalang yang tidak sesuai dengan civic nationalism kaum Eropa. Terlebih lagi, kaum Gipsi merupakan imigran di Eropa yang tidak membentuk suatu negara dalam suku homogen layaknya Korea dan Jepang.

Dengan tersebarnya kaum Gipsi di seluruh dunia terutama Eropa, mereka seharusnya lebih pandai dalam menyesuaikan keadaan terutama dalam sosial juga mengikuti berbagai perubahan sesuai tempat mereka tinggal. Dalam hal ini, Eropa yang menjunjung nilai kebebasan dan hak individu dalam civic nationalism nampaknya tidak sesuai dengan ethnic nationalism yang dijunjung oleh kaum Gipsi selama mereka masih merestriksi pembauran sosial tersebut. Hal ini juga didukung oleh Holloway (2003) yang menunjukkan bagaimana kompleksitas dari nasionalisme berbasis kultural sesungguhnya masih tertanam di kaum Gipsi yang

(14)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 14 didukung oleh konsep space yang dibuat oleh Gipsi sendiri dalam segregasi yang dilakukan mereka dalam berbagai generasi.

4. Kesimpulan

Berdasarkan tulisan diatas, dapat disimpulkan bahwa Bangsa Roma atau Kaum Gipsi merupakan salah satu kaum dengan rasisme yang dihadapi secara kontinyu sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. Kaum Gipsi sejak abad ke 14 merupakan salah satu kelompok minoritas terbesar di Eropa dengan kehidupan nomaden ke seluruh daratan termasuk Benua Amerika. Perbedaan antara pihak penerima dengan kaum nomaden Gipsi lambat laun terkonstruksi menjadi stigma yang berujung pada rasisme. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan konsep Genealogi serta Othering dalam paham pascastrukturalisme untuk kemudian menganalisis perilaku yang dikenakan terhadap Kaum Gipsi di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat liberal dan kosmopolitan. Selain itu, digunakan juga wacana kosmopolitik serta label dalam kosmopolitanisme migrasi internasional untuk kemudian menganalisis nilai dari kelompok Gipsi sebagai pihak yang seringkali dieksklusifkan. Berkaca pada atribut dan faktor sejarah, keberadaan Kaum Gipsi sejak berabad-abad lalu kemudian menumpuk perasaan berbeda dan ketidaksukaan yang dimanifestasikan menjadi rasisme hingga masa sekarang.

Kaum Gipsi juga dipandang tidak mampu dalam hal integrasi serta ketiadaan peran dalam struktur sosial yang ada. Dalam dunia ekonomi, Kaum Gipsi kemudian menjadi subjek yang dilabeli sebagai anomali. Rasisme yang diderita oleh Kaum Gipsi ini merupakan hasil dari mekanisme kekuasaan yang kemudian membentuk garis batas politik dan sosial di negara-negara tempat Kaum Gipsi berada. Adanya perbedaan perspektif juga kecenderungan Kaum Gipsi terhadap konsep ethnic nationalism mengarahkan Kaum Gipsi menuju definisi bangsa sendiri serta perwujudan tujuan politik yakni self-determination dan peran suku, bahasa, agama dan asas asimilasi. Paradoks yang dapat dirasakan terhadap kaum Gipsi ini terlihat dari perilaku juga identitas negatif yang disematkan kepada mereka dalam dunia internasional yang semakin terglobalisasi serta menunjukkan hasil perilaku kepada Kaum Gipsi yang tidak terlalu baik.

Referensi

Artikel Jurnal

Brearley, M. (2001). The persecution of Gypsies in Europe. American Behavioral Scientist, 45(4), 588-599.

Brock, G. (2010). Immigration and Global Justice: What kinds of policies should a Cosmopolitan support? Ethics and Politics, 12(1), 362-376.

(15)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 15 Cuccioletta, D. (2001). Multiculturalism or transculturalism: Towards a

cosmopolitan citizenship. London Journal of Canadian Studies, 17(1).

Eliav-Feldon, M. (1997). Vagrants or vermin? Attitudes towards Gypsies in early modern Europe. The William and Mary Quarterly, 54(1).

Halasz, K. (2009). The Rise of the Radical Right in Europe and the Case of Hungary: ‘Gypsy crime’ defines national identity?. Development, 52(4), 490- 494.

Holloway, Sarah L. (2003). Outside in Rural Society? Constructions of Rurality and Nature -Society Relations in the Racialisation of English Gypsy-Travellers, 1869-1934. Environment and Planning D: Society and Space. 21.

Loveland, Matthew T. dan Delia Popescu (2015) The Gypsy Threat Narrative:

Explaining Anti-Roma Attitudes in the European Union. Humanity & Society, 1(24).

Mac Laughlin, J. (1999). European Gypsies and the historical geography of loathing. Review (Fernand Braudel Center), 31-59.

Buku

Acton, T. A. (1997). Gypsy politics and Traveller identity. University of Hertfordshire Press.

Campbell, David. (2013). Poststructuralism. In: Dunne, Tim, Kurki, Milja & Smith, Steve (eds.) International Relations Theories: Discipline and Diversity.

Oxford University Press.

Devetak, R. (2009). Post-structuralism. In: Burchill, Scott et al. Theories of international relations. Palgrave.

European Union Agency for Fundamental Rights. (2020). Roma and Travellers in Six Countries. Luxembourg: Publication Office of the European Union.

Goffman, Erving. (1974). Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience. Harvard University Press.

Roman, Ioana. 2013. Gypsies Integration – Education for All. Procedia - Social and Behavioral Sciences. Elsevier, 712-722.

Steans, Jill et al. (2010). An Introduction to International Relations Theory:

Perspective and Themes. Pearson Education.

Umanailo, M. C. B. (2019). Pemikiran Michel Foucault. OSF Preprints.

Williams, J. (2014). Poststructuralism, history, genealogy: Michel Foucault’s The Archaeology of Knowledge. In: Understanding Poststructuralism. Routledge, 105-131.

Conference Proceedings

MG-S-ROM (Council of Europe Group of Specialists on Roma, Gypsies and Travellers). (1999). Economic and Employment Problems Faced by Roma/Gypsies in Europe. Strasbourg, 3 August 1999.

Webpages

BBC Indonesia. (2010). Prancis Deportasi Kaum Gipsi.

https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/08/100819_francegypsi

(16)

AEGIS | Vol. 7 No.2, September 2023 16 Bradford, Alina. (2018). Roma Culture: Customs, Traditions & Beliefs. Live

Science. https://www.livescience.com/64171-roma-culture.html.

CNN. (2010). Roma in Europe: Persecuted and Misunderstood.

http://edition.cnn.com/2010/WORLD/europe/08/19/france.roma.backgroun d/index.html

Gleadow, et al (2022). Gypsy Mum Reveals She's Had to Pull Her Kids Out of School Over Cruel and Racist Abuse. Daily Star.

https://www.dailystar.co.uk/news/latest-news/romani-gypsy-launches- grassroots-campaign-26982973 .

Haider, Suki. (2020). The Historical and Ongoing Persecution of Europe’s Gypsies.

https://www.open.edu/openlearn/history-the-arts/history/the-historical- and-ongoing-persecution-europes-gypsies.

Jovanovic, Zeljko. (2019). When Roma Lead the Way to Prosperity.

https://www.tbd.community/en/a/when-roma-lead-way-prosperity

Kovats, Martin. (2003). The Politics of Roma Identity: Between Nationalism and

Destitution. OpenDemocracy.

https://www.opendemocracy.net/en/article_1399jsp/

Pidd, Helen. 2013. Slovakian Roma in Sheffield: 'This is a boiling pot ready to explode'. The Guardian. https://www.theguardian.com/uk- news/2013/nov/15/sheffield-page-hall-roma-slovakia-immigration.

Zaretsky, Robert & Miljanic, Olivia. (2010). France and the Gypsies, Then and Now. NY Times. https://www.nytimes.com/2010/09/07/opinion/07iht- edzaretsky.html.

Referensi

Dokumen terkait