Genghis Khan Sang Penakluk dari Mongol Jilid II
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest
“GENGHIS KHAN : BADAI DI TENGAH PADANG Buku II”
“BAGIAN KEDUA”
Oleh : Sam Djang Penterjemah : Reni Indardini
Penerbit : Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka Tahun : 2011.
Di distribusikan oleh : Mizan Media Utama Penyadur : Pujo Prayitno
DAFTAR - ISI
1. 1. Serangan ke Kerajaan Shisha 26
2. Takluknya Kerajaan Shisha 27
3. Perang Dengan Chin 28
4. Perpecahan di Chin 29
5. Perundingan Dengan Chin 30
6. Jatuhnya Zhongdu 31
7. Perjanjian dagang dengan Kesultanan Khwarazm 32
8. Langkah Kuchlug 33
9. Genghis Khan Menaklukkan Kara Khitai 34
10. Tragedi di Otral 35
11. Genghis Khan Memutuskan Berperang dengan Khwarazm 36 12. Mars Melawan Khwarazm 37
13. Jatuhnya Bukhara dan Otral 38
14. Jatuhnya Smarqand 39
15. Nestapa di Merv 40
16. Tragedi di Nishapur 41
17. Pertempuran Terakhir di Sungai Indus 42
18. Akhir Riwayat Sultan Muhammad 43
19. Mars Panjang Jebe dan Subedei 44
20. Pertemuan dengan Chang-Chun 45
21. Hukuman Untuk Kerajaan Shisha 46
22. Permintaan Terakhir Lelaki Besi 47 Catatan Terakhir
Adendum : Sejarah Singkat Bangsa Mongol Pasca Genghis Khan.
26. SERANGAN KE KERAJAAN SHISHA
Kerajaan Shisha didirikan oleh Kaum tangut, keturunan orang-orang Tibet, dan terletak di pojok barat laut Benua Asia, di sebelah selatan Gurun Gobi. Penduduknya terdiri dari orang-orang Tangur, Uighur, dan minoritas Cina Han. Sebagian besr penduduk terlibat dalam perdagangan asing, peternakan, dan pertanian, sedangkan agama utama mereka adalah Budhhisme. Mereka adalah orang-orang yang sangat independen, dan mereka membuat serta menggunakan sistem tulisan utama mereka sendiri, dimodifikasi dari aksara Cina.
Pada tahun 108, Li Wonho, Pendiri Kerajaan Shisha, mengambil kendali atas sebagian Jalur Sutra, setelah mengusir kaum Uighur, yang sebelum nya menduduki silayah itu. Kian kuat sejak saat itu, mereka mulai menaklukkan kota-kota di dekat sana satu demi satu, termasuk Dun Huang. Mreeka memiliki pasukan berkekuatan 150.000 orang yang disokong oleh kekuatan ekonomi, untuk melindungi sumber pendapatan utama mereka, yaitu jalur sutra. Karena perekonomian mereka amat bergantung pada bisnis perdagangan internasional serta pajak dari karavan, mereka memperhatikan politik internasional dan perubahan situasi baik-baik.
Pada tahun 1207, saat pasukan Khitan yang dipimpin oleh Yelu Ahai, atas seizin Genghis Khan, menginvasi dan menjarah teritori mereka, gegerlah istana mereka.
“Bagaimana bisa orang-orang Mongol berperang dengan kita tanpa alasan yang dapat dibenarkan?” tanya salah satu pejabat senior, yang termasuk anggota faksi moderat, dalam rapat kerajaan, Jendral Weiming Linggong, anggota kelompok garis keras di antara mereka menyangkal kata-katanya. Pria tersebut adalah seseorang yang panjang akal dan memiliki visi.
“Apa kita mengambil tanah orang-orang Uighur dengan alasan moral yang dapat dibenarkan? Sudah jelas bahwa kaum Uighur bersedia menyerah kepada kaum Mongol. Seandainya demikian, mereka mungkin saja mendatangi kita dengan teman baru mereka, orang-orang Mongol,
untuk meminta wilayah lama mereka didkembalikan. Siapa saja bisa berperang, jika perlu, tanpa dilandasi kewajiban moral apa pun.”
Seorang pejabat senior lainnya, seorang Moderat, membuka mulut dan berkata, “ Walau pun kaum Mongol mendatangi kita, kita punya sekutu sendiri, Chinn, dan kita bisa minta pertolongan kepada mereka.
Bagaimana mungkin orang-orang Mongol mengira mereka bisa melawan bangsa yang memiliki 600.000 tentara?”
Kerajaan Shisha amempunyai pakta pertahanan bersama dengan Chin sejak tahun 1165, dan pakta tersebut masih berlaku pada saat itu.
Waiming Linggong melompat berdiri sambil menggebrak meja dengan kepalanya. Dia berargumen dengan suara keras sambil memelototi si pejabat yang baru saja mengatakan itu.
“Pakta pertahanan bersama hanya berlaku ketika menguntungkan kedua belah pihak! Kecil kemungkinannya mereka mau mengirim pasukan untuk membantu kita! Jangan percayai siapa pun! Kita harus mengurus diri kita sendiri!”
Mreka pun berselisih. Karena raja mereka Li Cunyu, memihak kaum moderat, Weiming Linggong dan Kao Liang Hui, beserta para pejabat garis skeras lainnya., bersekongkol dan melancarkan kudeta. Mereka menurunkan Li Chunyu dan mendukung Li Anqan, yang juga orang garis keras karena mereka paham motif orang-orang itu semua adalah demi melindungi masyarakat.
Li Anqan, raja baru Shisha, memperbaiki dan memperkuat benteng Wolohai. Benteng tersebut adalah gerbang dari Dataran Mongolia ke Chunghing, Ibu Kota Shisha. Dia juga memperkuat tembok kota Chunghing dan menyewa 20.000 terntara bayaran baru, meningkatkan jumlah terntara pertahanan dari 150.000 menjadi 170.000 orang. Saat itu tahun 1208.
Pada bulan Mei 1209, Genghis Khan maju untuk menyerang Kerajaan Shisha. Dia mengirim sekitar 60.000 serdadu. Pasukan Mongol menyeberangi Gurun Gobi. Mereka berderap siang malam, melintasi jalan gurun berjarak sekitar 320 kilometer. Mereka berderap pelan tapi pasti, menghasilkan kepulan besar debu keemasan di jalan gurun, yang kasar, dilatarbelakangi pemandangan berupa bukit-bukit pasir, cakrawala di kejahuan, serta semak pendek meranggas yang terkadang mencuat di tanah dari pasir serta lumpur. Kelompok depan, kavaleri Jebe, membawa panji-panji Genghis Khan yang terbuat dari suari sembilan kuda tinggi- tinggi, dan siluaet gelapnya yang dihasilkan oleh sinar matahari terik gurun berkibar-kibar, menari-nari. Di malam hari, bulan gurun di langit gelap menumpahkan berkas-berkas sinarnya yang terang ke kepala serta pundak para prajurit serta kuda, menghasilkan bayangan bulan panjang di lahan berpasir. Bilah tombak mereka yang tajam berkilat memantulkan sinar bulan, memberikan kesan dingin, Barisan panjang prajurit terbentang dari cakrawala utara hingga selaan, sedangkan tapak kaki kuda mereka terus menerus mengguncangkan bumi, menghasilkan gemuruh dalam. Pemadangan tersebut amat mengagumkan. Mreka apenuh dengan hasrat, impian tentang dunia luar, kepercayaan bahwa mereka akan menang dan berjaya. Semangat mereka tinggi.
Seteah melakukan mars sejauh kira-kira seribu kilometer, pada pagi keempat sesudah mereka meninggalkan dataran rendah, mereka tiba di
lokasi tempat mereka dapat melihat sebuah benteng besar yang dibangun di atas tanah yang ditinggikan. Di kedua sisi benteng, tembok tinggi dari bata merah, dibangun dengan gaya Cina terentang ke area yang lebih luas, mengelilingi seluruh kota. Rangkaian bukit tinggi berhutan rimbun juga mengelilingi bagian luar kota bagaikan tembok pertahanan kedua.
Itulan Wolohai, kota paling utara di Shisha, yang memiliki benteng sempurna.
Genghis Khan berhenti di sana dan menata ulang pasukannya.
Genghis Khan naik ke bukit di dekat sana dan memandang benteng serta tembok pertahanan. Tembok pertahanan dari bata kuat memantulkan sinar mentari pagi yang jernih.
“Kenapa mereka tidak menebang semua pohon di perbukitan sekitar kota?” khan berpikir sendiri sambil mengamati perbukitan dan pegunungan tinggi berhutan rimbun di dekat tembok pertahanan. Hitan di sekitar tembok tersebut bisa –bisa malah mengganggu alih-alih membantu mreka berlindung. Pasukan Shisha tidak menunjukkan tanda- tandan pergerakan meskipun pasukan Mongol sudah tiba. Tampaknya mereka menggunakan taktik bertahan saja.
Khan pun mengadakan rapat staf. Pertama-tama Yelu Ahai menjelaskan situasi serta tata benteng dan tata kota di peta.
Genghis Khan bertanya, “Tiga puluh li, berdasarkan sistem pengukuran Cina.”
Jaraknya kira-kira 120 kilometer.
Genghis Khan mempertimbangkan hal ini. Jelas bahwa orang-orang tangut tidak menebang pohon karena mereka ingin mempertahankan sumbe air mereka. Mereka menggunakan kali pegunungan sebagai sumber air minum mereka. Genghis Khan menanyakan pendapat stafnya.
Banyak yang berkeras agar mreka menyerang benteng dan tembok pertahanan secara langsung dengan peralatan yang mereka bawa, sebab pra prajurit sudah menginvestasikan banyak waktu untuk berlatih menggunakan alat-alat itu.
Genghis Khan menyimpulkan, “Kita akan menyerang mereka dengan api. Jika kita meluncurkan serangan langsung sedari awal, kita akan kehilangan banyak prajurit. Kita harus menarik mereka keluar dari benteng..”
Genghis Khan menggerakkan sayap kirinya untuk memblokade aliran sungai Kuning ke benteng dan, pada saat bersamaan, mengirim tiga ribu serdadu Uighur untuk mengambil alih kali pegunungan di hutan dekat benteng pertahanan. Genghis Khan menduga bahwa karena benteng serta kota Wolohai dibangun di atas tanah yang ditinggikan, sulit bagi waraganya untuk mendapatkan air, dan bahwa semua rumah di kota tersebut dibuat dari kayu, sebab lokasinya di area berhutan.
Benteng Wolohai aslinya adalah kota berpenduduk sipil 20.000 orang dengan 5.000 prajurit garnisun perbatasan. Kira-kira setahun sebelumnya, Pangeran Shisha, Li Tsun Hsiang dan Jendral Kao Liang Hui pindah ke sana bersama 50.000 serdadu reguler mereka. Mereka mengevakuasi warga sipil ke kota lain dan mengambil alih semua rumah mereka untuk prajurit.
Mereka menggunakan rumah-rumah itu sebagai barak. Mereka tahu bahwa Benteng Wolohai berada di tanah tinggi, yang bagus untuk perlindungan, tetapi pengadaan airnya sulit. Mereka pun menggali sumur
di beberapa area, tapi tidak berhasil. Benteng Wolohai yang tak tertembus mengungkapkan kelemahannya, yaitu masalah air. Jumlah air yang diperlukan 50.000 prajurit dan 50.000 kuda sangatlah banyak. Kira-kira lima belas hari kemudian, mereka menghadapi masalah pelik. Pasukan Mongol yang menduduki perbukitan dan pegunungan tinggi di dekat tembok pertahanan mulai menembakkan panah raksasa ke dalam kota.
Busur raksasa mereka terbuat dari batang besi besar kokok dan dirancang untuk dibawa menggunakan gerobak beroda dua dan dihela oleh seekor kuda. Ketika menembak, dua hingga empat prajurit harus menggabungkan kekuatan mereka supaya bisa menarik busur untuk menembakkan panah raksasa tersebut, yang seukuran tombak biasa.
Mereka mengikat kain yagn sudah direndam minyak erat-erat ke ujung panah, menyulutnya dengan api, dan menembakkan panah tersebut ke benteng. Panah logam raksasa ini memiliki daya jelajah lebih jauh daripada panah biasa dan menancap di dinding kayu serta pilar rumah di dalam benteng. Dalam sekejap, sejumlah besar rumah dilalap api, menghasilkan asap tebal. Para penduduk tidak punya air untuk memadamkan api. Kuda-kuda yang ketakutan mulai meringkik dan mendompak.
Kao Liang Hui pun mengeluarkan perintah kepada ke 50.000 prajuritnya.
“Buka gerbang! Kita akan bertarung sampai orang terakhir!”
Setelah mengencangkan tali pengikat helm, dia pun menaiki kudanya,
Akhirnya, gerbang benteng pun dibuka, dan sejumlah besar prajurit Shisha tumpah ruah dari beteng. Pasukan utama Genghis Khan telah menunggu mreka di padang, dalam lima barisan. Sementara ke 50.000 prajurit Shisha melesat keluar. Genghis Khan yang menyaksikan ini dari sebuah bukit kecil, memberikan perintah kepada ajudannya agar mengangkat bendera biru. Saat melihat sinyal ini, para pemanah Mongol di barisan pertama mulai menembak seiring tabuhan nyaring genderang timah. Banyak pelari terdepan di kavaleri Shisha yang mulai berjatuhan dari kuda mereka, bagaikan daun gugur. Setelah menuntaskan tugas mereka, para pemanah mundur lewat jalan yang dibuat di tengah-tengah keempat barisan lainnya. Setelah ini barisan kedua 10.000 prajurit kavaleri ringan. Melesat ke arah musuh yang berdatangan. Senjata utama mereka adalah busur dan panah jarak pendek serta lembing. Mereka melesat ke arah musuh sambil menembakkan panah. Hanya prajurit Mongol yang dapat menembakkan panah sambil berkuda dengan kecepatan penuh. Mereka begitu cepat sehingga tak seorang pun jatuh dari kudanya hingga mereka mundur kembali. Sekarang tibalah giliran barisan ketiga. Baris ketiga juga merupakan unit kavaleri ringan dan senjata mereka dalah lembing. Masing-masing membawa empat atau lima lembing dan mereka menembak jatuh musuh yang mendekat, satu demi satu. Tugas utama mereka adalah mengaaukan fomasi tempur musuh, tetapi kali ini prajurit Shisha yang binasa lebih dari setengah. Setelah ini, sebuah bendera merah diangkat tinggi-tinggi di tengah-tengah bunyi tabuhan nacara yang memekkan. Baris keempat, kavaleri berat, melesat ke arah musuh. Mereka dilindungi baju zirah berat serta helm logam, dan kuda mereka sekali pun menggunakan baju zirah. Merekalah kekuatan
destruktif yang utama. Mereka menggunakan tombak panjang berkait, pedang sabit, kapak perang, gada, dan tehnik pertempuran satu lawan satu.
Tidak lama kemudian, jumlah prajurit Shisha berkurang setengah lagi.
Medan tempur dipenuhi mayat, terutama orang Tangut. Kao Liang Hui mundur ke dalam beteng bersama sisa pasukannya. Genghis Khan memerintahkan pasukannya untuk merebut beteng. Para prajurit Mongol naik ke dinding beteng menggunakan pengusung tangga. Pengusung tangga memiliki empat roda dan setinggi tembok pertahanan musuh. Sisi depan, kiri, serta kanan tangga dilingkupi dinding kayu untuk melindungi para prajurit selagi mereka menggerakkkan struktur tersebut atau menggunakan tangga.
Gerbang benteng telah dibuka oleh para serdadu Mongol dan para prajurit kavaleri Mongol pun tumpah ruah ke dalam. Lagi-lagi terjadi pembantaian besar-besaran di dalam beteng dan Kao Liang Hui dicabik- cabik oleh prajurit Mongol. Sang Pangeran Shisha, Li Tsun Hsiang, menyerah bersama 15.000 prajuritnya yang tersisa. Benteng Wolohai jatuh ke tangan bangsa Mongol. Pintu menuju Chunghing, Ibu Kota Shisha, telah terbuka.
23.TAKLUKNYA KERAJAAN SHISHA
Genghis Khan beristirahat tiga hari di Wolohai, kemudian lagi-lagi memulai mars ke selatan. Jarak dari Wolohai ke Chunghing, Ibu Kota Shisha, kira-kira 190 kilometer. Chunghing adalah sebuah kota besar di tepi Sungai Kuning. Kota itu dilindungi tembok pertahanan tinggi dan sebagian besar rumah di dalam kota dibangun dengan gaya Cina.
Mayoritas penduduknya adalah warga Buddha di dalam kota. Pagoda tinggi yang dibangun di setiap penjuru kota daat dilihat dari jauh. Jalan- jalan di dalam kota berukuran lebar, dan rumah-rumahnya berkonstruksi bagus serta tertata rapi. Kota ini merupakan tempat perhentian bagi karavan yang menggembara antara Chang-an di Cina dengan Samarqand atau Bagdad. Alhasil. Toko kios, dan penginapan untuk karavan berdiri rapat-rapat, mengapit jalan. Para penduduk membangun kanal di tengah kota dan menerima kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, buah dan daging, dari luar kota lewat jalur ini. Setiap hari, di kanal dan bantarannya, berserakanlah penjual dan pembeli barang dagangan mulai fajar hingga tengah hari, yang resminya merupakan jam beroperasinya pasar tersebut. Di jalan masuk dan jalan keluar kanal, dipasang gerbang dari jeruji besi tebal yang bisa dengan gampang diangkat dan diturunkan untuk mengontrol lalu lintas. Gerbang jeruji besi ini dibuka saat fajar dan ditutup saat senja hari seperti semua gerbang lainnya.
Paukan Mongol yang telah meninggalkan Wolohai saat subuh, tiba pada tengah hari di lokasi tempat mereka bisa melihat sejumlah bukit tinggi berselimut hutan lebat. Lokasi itu berjarak sekitar 48 Kilometer dari kota. Genghis Khan berhenti di sana dan mengadakan rapat staf.
Genghis Khan bertanya, “Siapa itu Weiming?”
Yelu Ahai menjawab, “Dia dianggap sebagai panglima terhebat di antara mereka. Dia telah banyak memenangkan pertempuran besar dan kecil dengan bangsa-bangsa tetangga. Konon, dia orang yang gampang naik darah dan gegabah.”
Khan, sudah berdiskusi dengan panglima stafnya, memberikan kesimpulan.
“Weiming mungkins aja menyembunyikan pasukan besarnya di perbukitan itu. Kita akan mengelabui mereka.”
Pasukan Mongol pun terus berderap. Saat baris depan Mongol melangkah ke jalan di antara bukit, panah menghujani mereka dari kedua sisi bukit. Sementara baris depan terus berderap, sambil menutupi tubuh mereka dengan tameng besar, sejumlah besar prajurit Shisha mulai tumpah ruah dari hutan. Baris depan Mongol berbalik dan mulai mundur.
Dipicu semangatnya oleh hal ini, Panglima Shisha, Weiming, memerintahkan serangan habis-habisan. Bahkan setelah mengejar sejauh delapan kilometer, mereka tidak bisa menyusul baris depan Mongol yang tengah mundur. Keahlian berkuda prajurit kavaleri Mongol lebih unggul dibandingkan dengan prajurit Tangut.
Pada saat ini, dari hutan di sebelah kiri dan kanan jalan, terdengarlah pekik perang nyaring. Mucullah pasukan sayap kiri dan kanan Mongol, menyergap musuh. Weiming, yang memimpin pasukan di bagian depan, menyesal dan meratap. Namun, sduah terlambat.
“Celaka! Aku jatuh ke dalam jebakan mereka!”
Banyak sekali prajurit Shisha yang jatuh dari kuda mreeka, ditusuk oleh panah yang menghujani mereka dari hutan di kiri kanan jalan. Pada saat bersamaan, baris depan Mongol yang tengah mundur berbalik dan meluncurkan serangan balasan, disokong oleh pasukan inti Mongol.
Prajurit Shisha yang berjulah banyak, 100.000 orang, berkurang setengahnya karena dihabisi sayap kiri dan kanan Mongol, seperti ular yang dipotong jadi dua. Di ladang dan bukit, mayat orang Tangur bertebaran. Mereka mengalami kerugian besar. Hanya setengah dari mereka yang berhasil kembali ke kota, sedangkan Weiming, panglima tertinggi pasukan Shisha ditahan oleh prajurit Mongol. Pasukan Mongol pun terus berderap dan mengelilingi pinggiran Kota Chunghing. Genghis Khan memandang ke penjuru kota. Tembok pertahanan kota yang dibangun dengan bata merah tampaknya memiliki ukuran dan kekokohan yang tiada tanding. Genghis Khan mengaguminya, tetapi berpikir, “Untuk merebut kota berbenteng ini, kami akan kehilangan banyak prajurit. Aku harus mencari cara lain.”
Pada saat ini, di dalam kota, Raja Shisha, Li Anqan, menggelar rapat darurat yang dihadiri oleh para pejabat tinggi senior dan para panglimanya. Li Anqan berkata dengan anda murung, “Orang-orang Mongol sudah mengepung kota. Apa yang harus kita lakukan? Beri tahu aku apa pendapat kalian.”
Keheningan pekat menggelayuti mereka beberapa lama. Tak seorang pun besedia membuka mulut seenaknya. Mereka tidak bisa menemukan cara yang mudah, setelah ke 100.000 prajurit mereka kocar kacir dan panglima terpercaya mereka Weiming Linggong ditawan oleh kaum Mongol.
Setelah keheningan panjan seorang panglima senior berdiri dan berkata, “Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menutup gerbang rapat-rapat dan menyiapkan diri untuk bertahan. Kita masih punya 70.000 serdadu di dalam kota dan kita sudah menyimpan persediaan makanan yang cukup untuk satu tahun. Kita mempunya tembol pertahanan yang
sangat kuat dan berkonstruksi kokoh. Kaum Mongol sekali pun mungkin saja tidak bisa memanjatnya dengan mudah. Selain itu, kita sebaiknya mengutus kurir kilat ke Chin untuk minta pertolongan, sebab kita punya pakta pertahanan bersama dengan mereka.”
Li Anqan menerima sarannya.
Pada tenga malam hari itu juga, sebuah tongkang menyelinap keluar dari kota tanpa suara, melewati gerbang besi yang terbuka di antara kanal dengan Sungai Kuning. Sisi timur kota, di seberang Sungai Kuning, belum diduduki oleh pasukan Mongol. Dua prajurit pembawa pesan dan kedua kuda mereka ada di atas tongkang, dikemudikan seorang tukang feri. Di tengah kegelapan total, tanpa sinar bulan yang redup sekali pun, sang tukang feri berpengalaman membawa mereka ke seberang sungai dengan selamat. Saat mendarat, kedua kurir cepat-epat menaiki kuda mereka dan berderap ke timur dengan kecepatan penuh. Tujuan mereka adalah kota Zhongdu, Ibu Kota Chin. Mreeka berkuda sejauh 1.100 kilometer, hanya tidur dan berhenti sebentar sekali. Tiga hari kemudian, sampailah mereka di Zhongdu. Mereka berhasil menyelesaikan misi mereka, menyerahkan surat dari Raja Shisha kepada Kaisar Chin.
Kaisar Chin, Wheishao, menyelenggarakan rapat. Sudah hampir enam bulan sejak dia menjadi kaisar setelah pendahulunya, Zhaosong, meninggal. Pertama-tama, Kaisar Chin menyuruh keraninya membacakan surat dari Raja Shisha. Setelah mendengarkan pesan dalam surat itu.
Kaisar Chin memandang seluruh yang hadir, yaitu sekitar seratus pejabat tinggi serta panglimanya dan berkata, “Sebagaimana yang kalian semua dengar, orang –orang mongol telah mengepung Chunghing, Ibu Kota Shisha. Raja Shisha meminta pasukan penolong, berdasarkan pakta pertahanan bersama, yang di tekenoleh pendahuluku. Aku ingin mendengar apa pendapat kalian tentang ini.”
Hushahu, yang dikenal sebagai “Panglima besar”, berdiri. Hushahu adalah pria luar biasa yang memiliki keberanian mau pun kecerdikan. Dia meraih serangkaian kemenangan dalam perang melawan Sung Selatan, yang membuatnya sangat populer di antara rakyat.
Pria ambisius bernafsu makan besar ini berkata, “Ada pepatah lama yang berbunyi, “Jika kau kehilangan bibir, gigimu akan menderita. Jika Shisha jatuh, orang-orang Mongol sudah pasti akan menyerang kita. Kita sebaiknya mengirim pasukan untuk menolong mreka. Dengan cara itulah kita bisa menolong diri sendiri.”
Sebagian hadirin yang lain juga berpendapat sama dengannya.
Namun, Weishao, sang Kaisar, adalah pria berpikiran sempit dan berpandangan picik. Dia tidak menerima saran Hushahu.
“Kaum Tangut dan Shisha dan kaum Mongol bermusuhan. Menurutku akan menguntungkan bagi kita apabila mereka saling bertarung. Biarkan saja anjing-anjing saling bertarung.”
Chin tidak mengirimkan pasukan penolong. Oleh sebab itu, pakta pertahanan bersama, yang disahkan tahun 1163, batal karena sikap abai Kaisar Chin.
Setelah menerima informasi lewat jaringan mata-matanya di Zhongdu bahwa Chin tidak mengirim pasukan penolong. Genghis Khan menyiapkan tahap kedua rencananya, yaitu perang jangka panjang. Tanpa mengendurkan kepungan, dia memblokade semua jalur suplai ke Kota
Chunghing dari luar. Tiga bulan berlalu. Sementara itu, tidak ada perang berskala besar, hanya segelintir huru hara minor. Beberapa prajurit Mongol mengolok-olok kaum Tangut dan cara menunjukkan keahlian berkuda mereka yang hebat ketika mereka merasa bosan. Mereka melajukan kuda mereka di sepanjang tembol pertahanan, bergelyutan di samping kuda mereka, setelah menutupi sisi yag menghadap musuh dengan baju zirah. Kali lain, sebagian bahkan berdiri bertopang tangan di atas kuda mereka yang berlari ketika mereka berada pada jarak yang aman.
Karena musim gugur sudah semakin dekat, Genghis Khan harus mencoba taktik yang berbeda. Genghis Khan menyadari bahwa mereka punya cukup makanan untuk perang berkepanjangan, sebab mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kesusahan setelah jalan diblokade tiga bulan.
Genghis Khan memerintahkan Yelu Ahai agar menginterogasi para tawanan. Pertama-tama, Yelu Ahai mencoba Weiming Linggong dan sang Pangeran Li Tsun Hsiang.
Yelu Ahai menanyai Weiming, “Berapa jumlah persediaan makanan yang disimpan di dalam kota?”
Walau demikian tidak ada respon dari Weiming yang duduk bersila di tanah. Memang sudah dapat diduga bahwa seseorang seperti Weiming tak akan mengungkapkan rahasia sepenting itu, apa pun alasannya.
Sementara Yelu Ahai mengulangi pertanyaan yang sama. Weiming merespon dengan sikap keras kepala yang sama.
“Aku ini prajurit yang sudah kalah. Silahkan saja penggal kepalaku!
Itulah yang kuinginkan!”
Keheningan canggung menggelayut di antara mereka selama beberapa waktu. Yelu Ahai membuka mulut pelan-pelan dan berkata lagi,
“Jendral Weiming, Anda sebaiknya menyerah. Tuanku, Genghis Khan, menerima siapa pun yang tulus menyerah dari lubuk hatinya yang terdalam. Anda akan menjadi temannya. Tapi, jika Anda terus melawan.
Anda dan orang-orang Anda akan dibinasakan.”
Seteah mengucap kata-kata ini, Yelu Ahai membawanya ke sebuah cekungan besar, tempat 20.000 tahanan Shisha dijejalkan. Cekungan ini alamiah, tapi diperbesar oleh tangan manusia supaya cukup besar guna menampung 20.000 tawanan. Cekungan tersebut begitu dalam sehingga mustahil mereka memanjatnya hingga ke puncak tanpa bantuan tangga atau tali. Seorang prajurit Mongol di permukaan tanah melemparkan beberapa potong dendeng ke dalam cekungan dan ribuan tawanan pun merangsek mau untuk menangkapnya.
“Lihatlah! Kami tidak punya cukup makanan untuk 20.000 tawanan.
Beberapa lusin dari mereka meninggal setiap hari. Rekan-rekan mereka sesama prajurit di dalam kotak tak akan pernah mengetahui penderitaan mereka. Kami tidak bisa berbuat apa-apa soal ini. Ingat, merekalah yang menyreah supaya bisa terus hidup.”
Sampai saat itu, Weiming tidak mengetahui situasi mantan prajuritnya, sebab dia dan sang Pengeran Shisha Li Tsun Hsiang, diperkenankan tinggal di tenda terpisah dengan makanan serta pelayanan khusus, kendati mereka adalah tahanan.
Genghis Khan tahu bahwa mereka memiliki cukup makanan bagi 300.000 penghuni kota dan 70.000 prajurti yang tersisa untuk setidaknya
satu tahun. Dia juga berhasil mengetahui bahwa sebagian besar persediaan makanan disimpan di raung bawah tanah, dalam bentuk beras, gandum, dan kacang yang dikeringkan. Genghis Khan pun menyusun strategi baru berdasarkan pengetahuan bahwa sebagian besar rumah kota terbuat dari bata serta lumpur dan mereka punya pasokan air lebih dari cukup karena adanya kanal.
“Akan kita serang mereka dengan air!”
Genghis Khan memerintahkan korps insinyurnya untuk membangun bendungan di sungai Kuning. Korps insinyur mulai membangun bendungan tepat di bawah kota. Mereka memanfaatkan tawanan Tangut untuk membawa batu dan lumpur. Pembangunan bendungan dimulai pada permulaan musim gugur dan berlangsung lebih dari tiga bulan. Saat pembangunan bendungan hampir selesai, air mulai menggenangi kota.
Kanal meluap. Air mulai mengalir masuk ke ruang bawah tanah. Kota tersebut dinyatakan berada dalam keadaan darurat. Sejumlah besar prajurit dan penduduk diberdayakan untuk memindahkan berkarung- karung biji-bijian ke tempat yang lebih tinggi, tetapi mereka sudah kehilangan lebih dari separuh persediaan makanan. Terlebih lagi, gudang- gudang, yang memuat jutaan gulung sutra serta ratusan ribu karpet, juga kebanjiran. Itulah barang-barng yang memuncaki daftar prioritas mereka.
Jika barang-barang tersebut rusak, perekonomian mereka akan ikut hancur. Permukaan air di kota tersebut kian meninggi, hingga mencapai lutut orang dewasa, Mereka bahkan tidak bisa menyalakan api untuk memaak. Para penduduk menjadi resah dan gelisah. Pembicaraan mengenai pernyerahan diri un mengemuka.
Pada saat ini, terjadilah sesuatu : Bendungan runtuh, Korps insinyur Mongol tidak cukup berpengalaman membangun bendungan. Mereka juga tidak memiliki cukup banyak insinyur yang andal. Gelombang besar Sungai Kuning mulai menyapu perkemahan Mongol. Kaum Mongol serta merta merobohkan tenda, mengambil senjata, perlengkapan, dan makanan mereka. Lalu meralrikan diri ke tanah yang lebih tinggi. Genghis Khan merasakan sekali betapa – selain membutuhkan panglima hebat, ahli strategi brilian, prajurit pemberani, dan senjata bermutu tinggi – teknologi ilmiah serta keahlian terkait juga diperlukan untuk memenangi perang. Setelah kejadian ini. Genghis Khan mengajak serta teknisi, insinyur,d an para ahli kemana pun dia pergi. Dia bukan saja menyelamatkan mereka, melainkan juga memperlakukan mereka dengan sangat baik, untuk menarik hati mereka sehingga mau berpihak padanya.
Selagi mereka sedang sibuk kabur, Yelu Ahai buru-buru melesat ke tenda khan dan melapor, “Tuan, cekungan kebanjiran. Harus ita apakan para tawanan?”
Jawaban Khan cepat dan jelas, “Selamatkan mereka!”
Operasi untuk menyelamatkan 20.000 tawanan Tangut pun dimulai.
Para prajurti Mongol menyelamatkan sebagian besar menggunakan tanagga dan tali. Beberapa hari kemudia, ketinggain Sungai Kuning kembali seperti semula, menyisakan genangan air keci serta besar dan bahkan sebuah danau baru. Pada saat inilah, Weining Linggong dari Shisha secara sukarela muncul di hadapan Genghis Khan. Dia bersujud sembilan kali kepada khan. Sampai saat itu, dia menolak melakukan hal tersebut.
Dia membuka mulut dan berkata dengan serius, “Jika Anda memberi saya kesempatan, akan saya coba membujuk Raja Shisha agar menyerah.”
Saat mendengar kata-kata ini, Yelu Ahai, yang berdiri di sebelah Genghis Khan, berbisik ke telinganya, “Tuan, bisakah kita mempercayainya?”
Genghis Khan mempersilah duduk dan menyajikan teh hangat untuknya.
“Jendral Weiming, mulai saat ini, Anda adalah temanku. Berusahalah sebaik mungkin agar kata-katamu tidak menjadi janji kosong belaka.”
Weiming, sebagaimana yang dinjajikannya, berhsil membujuk Raja Shisha, Li Anqan, sehingga menyerah. Dia mengakui bahwa Genghis Khan tak akan pulang jika Shisha tidak menyerah dan itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Pangeran Li Tsun Hsiang, 20.000 tawanan, dan perekonomian Shisha. Sebenarnya, kaerna sumber pendapatan utama mereka adalah laba dari aktivitas perdagangan serta pajak dari karavan, perekonomian mereka sudah mengalami kerugian besar akibat pereang berkepanjangan. Setelah bernegosiasi selama kira-kira dua bulan, bendera putih akhirnya muncul di gerbang utama kota.
Upacara penyerahan diri resmi diselenggarakan di lapangan terbuka besar di depan gerbang utama kota. Saat gerbang utama berukuran besar dibuka, peristiwa yang tak pernah terjadi delapan bulan terakhir, Raaj Shisha, Li Anqan, muncul beserta dua ekor unta putih angka dan dua ekor elang putih, yang merupakan simbo penyerahan diri. Li Anqan mengenakan busana dan tutup kepala resmi, jubah sutra keemasanberdesain mewah serta peci pendek keagungan. Dia diikuti oleh sekitar dua puluh pejabat tinggi dan di sebelahnya ada putrinya yang berusia tujuh belas tahun, Chaqa.
Raja Shisha digiring ke dalam tenda resmi Genghis Khan. Sekitar duaratus panglima dan orang penting Mongol berdiri membentuk dua barisan di dalam tenda, memunggungi dinding timur dan barat tenda, sedangkan karpet merah dihamparkan dengan rapi dan jalan masuk selatan hingga ke tempat duduk khan di ujung utaara. Saar Raaj Shisha melangkah masuk ke tenda, Genghis Khan berdiri dari tempat duduknya.
Raja Shisha berjalan pelan-pelan di atas karpet dan membungkuk ketika dia tiba di hadapan Genghis Khan. Sesuai dengan negosiasi sebelumnya, dia tidak perlu bersujud. Genghis Khan juga balas membungkuk kepadanya dan mempersilahkan Raja Shisha duduk di kanannya. Setelah duduk, Raaj Shisha membuka mulut dan berkata dengan nada lembut :
“Kami, kaum Tangut, sudah mendengar tentang nama Anda yang membangkitkan rasa kagum. Kini, Anda rela muncul secara langsung dan kami, kam tangut, atas seizin Anda, berjanji akan berusaha sebaik mungkin menjadi tangan kanan Anda.”
Yelu Ahai, yang duduk di belakang Genghis Khan dan Raja Shisha, menerjemahkan kata-katanya dan menyampaikannya dalam bahasa Mongolia kepada Genghis Khan. Yelu Ahai fasih berbahasa Tangut.
Genghis Khan berkata kepaa Raja Shisha sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, “Terima ksih banyak atas kata-kata Anda yang tulus.
Mulai saat ini, Imperium Mongol dan Kerajaan Shisha akan menjadikan persahabatan, berbagi takdir yang sama.”
Raja Shisha, Li Anqan, melanjutkan, “Kami, kaum Tangut, tidak seperti orang-orang Mongol, aalah pemukim tetap. Kami membangun rumah dan menetap di sini. Kami memiliki rumah dan tembok pertahanan yang harus dijaga. Kami tidak bisa serta merta bergabung dalam pertempuran dan kami tidak bisa membuat serta melaksanakan rencana strategi secara cepat. Oleh sebab itu, kami akan menyuplai banyak unta, yang dapat digunakan baik untuk transportasi mau pun untuk seumber makanan. Pada saat bersamaan, kami juga akan menyuplai bena-benda dari wol serta sutra.
Saat mendengar kata-kata ini, senyum menghilang dari wajah Genghis Khan. Pernyataan itu bertentangan dengan syarat nomor satu penyerahan diri, yang dituntut dengan tegas oleh Genghis Khan. Syarat itu berbunyi bahwa kapan pun, saat diminta, Raaj Shisha harus memobilisasi dan mengirim pasukan kepada Genghis Khan untuk menyokongnya, dan syarat tersebut telah disepakati. Raja Shisha mengatakan bahwa dukungan ekonomi dari mreka memang mungkin, tapi dukungan militer mereka tidak.
Sambil menatap matanya, Genghis Khan berujar dengan jelas,
“Tanpa menjanjikan dukungan militer, kesepakatan ini tidak akan terwujud.”
Saat Yelu Ahai mengatakan ini kepada Raja Shisha, dia menundukkan kepala dan setuju untuk menerima syarat itu. Dibuatlah dokumen perjanjian damai, yang sebenarnya merupakan instrumen penyerahan diri Raaj Shisha kepada Genghis Khan. Dokumen tersebut ditulis dalam dua bahasa, dan distempel nasional keduanya dibubuhkan di sana.
Instrumen tersebut dibuat oleh Tata Tunga dan dibuatlah masing-masing dua dokument untuk satiap bangsa. Pada saat ini, bangsa Mongol sudah memiliki sistem tulisan sendiri, yang dikembangkan dari aksara Uighur.
Sistem tulisan Mongol dikembangkan oleh Sigi Qutuku atas perintah Genghis Khan. Bangsa Tangut juga memiliki alfabet sendiri, dimodifikasi dari aksara Cina. Raja Shisha dan kerajaannya bertahan, dengan otonomi sendiri.
Setelah perjanjian damai, Pangeran Shisha Li Tsun Hsiang, dan 20.000 tawanan dilepaskan. Sementara itu, Chaqa, putri Raja Shisha yang berumur tujuhbelas tahun, menjadi istri kelima Genghis Khan. Selain itu, dua ribu unta dan bergunung-gunung barang dari wol serta sutra, juga sejumlah hadiah lainnya, diserahkan kepada Genghis Khan. Saat itu, bulan Januari 1210.
28. PERANG DENGAN CHIN
Pada bulan Maret 1211, diadakan khuriltai di tepi Sungai Kerulen di Dataran Mongolia. Didirikanlah sebuah tenda besar, yang bisa memuat lebih dari dua ribu orang. Semua pejabat dan panglima tinggi di Imperium, Barchuq sang idu qut Uighur, dan Arslan Raja Qarluud bekumpul bersama. Lewat Khuriltai ini, mereka secara resmi menunjuk kerajaan kaum Uighur dan Qarluud sebagai kerajaan bawahan dan sekaligus, yang lebih penting, mereka secara bulat menyepakati perang dengan Kekaisaran Chin.
Bangsa Mongol sudah siap, Genghis Khan mempersiapkan perang ini selama dua tahun terakir. Perang dengan Chin akan berdampak besar terhadap masa depan Imperium Mongol yang baru lahir. Jika bangsa
Mongol menang, mereka mungkin saja dapat mendirikan fondasi yang kuat bagi Imperium baru. Jika mereka gagal, impian mereka akan lenyap.
Genghis Khan memperkitakan bahwa perang melawan Chin akan memakan waktu sekitar lima tahun. Setelah mereka memenangi perang dengan Sung Selatan, mereka mengambil alih jantung dataran Cina dan semua kota besar.
Pada batu raksasa sekali pun, pasti ada retakan yang bisa dimasuki pahat. Itulah yang diyakini Genghis Khan. Genghis Khan sduah memiliki rencana yang hampir sempurna.
Sebelum berangkat, Genghis Khan pergi ke Gunung Burkan. Dia mendirikan tenda di sana, tempatnya berencana untuk bermalam sendirian. Gunung Burkan, yang tak berubah dan masih memiliki keagungan serta kemuliaannya, seolah diselubungi kesucian. Puncak gunung yang mengesankan ditabiri kabut dan terhubung dengan alngit ungu.
Genghis Khan berpuasa dan berdoa selama tiga hari tiga malam.
Selama tiga hari, dia tidak mengkonsumsi apa-apa selain air. Di puncak gunung, tempatnya hanya bisa mendengar bunyi angin yang melewati daun jarum pohon pinus leksana ombak, dia menghabiskan tiga hari untuk berdoa dan bermeditasi. Hasil dari perang melawan Chin akan menentukan nasibnya serta rakyatnya. Genghis Khan hanya tidur lima jam sepanjang tiga hari itu, dan hanya minum sedikit air dari kantong kulit domba yang dia bawa. Punak gunung di bulan Mei masih dingin, tetapi butir-butir peluh bermunculan di keningnya. Dia berteriak ke angkasa dengan ikat pinggang dikalungkan di leher :
Tenggri, dewa langit biru kekal!
Beri aku kekuatan.
Perkenankan aku membalaskan dendam Ambakai Khan dan Okin Barak
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid
Yang telah mempermalukan dan menyengsarakkan Leluhurku.
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid Yang terus menerus mematahkan sayap kami, Dainmenjerumuskan kami dalam perpecahan Dan konflik tak berkesudahan.
Perkenankan aku menghukum kaum Juchid, Yang akan mengekang anak-anak kami Selamanya
Hancurkan dunia tak berjiwa.
Yang dipenuhi kepalsuan dan keegoisan.
Perkenankan aku menjadi tangan kananmu, Untuk menciptakan dunia baru dengan Tatanan baru.
Beri aku kemenangan!
Agar nama suci bangsa Mongol, Tak akan diinjak-injak lagi.
Pada pagi keempat, Genghis Khan turun dari Gunung Burkan. Sekitar 200.000 orang Mongol sudah menantinya di kaki gunung. Mereka ikut serta dalam acara puasa dan doa Genghis Khan selama tiga hari.
Sebelumya, mereka telah membangun dua kota tenda sementara, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.
Genghis Khan berjalan menghampiri mereka dan berteriak, “Langit menizinkanku berjaya! Kemenangan milik kita!”
Ke-200.000 orang Mongol mulai bersorak dengan suara keras sambil mengepalkan tinju ke udara.
“Tenggri! Tengri! Tengri!”
Teriakan mereka berkumandang ke langit biru misterius yang kedalamannya tak diketahui dan dipenuhi udara gurun.
Genghis Khan menuju selatan ke Chin bersama pasukannya, yang telah dibagi menjadi tiga kelompok. Saat itu pertengahan bulan Mei, dua bulan sesudah Khuriltai. Dia membawa total 65.000 prajurit berkuda.
Itulah jumlah maksimum yang bisa dibawanya.
Serdadu musuh yang harus dia hadapi berjumlah 120.000 prajurit berkuda, ditambah setengah juta prajurit infantri, sehingga totalnya 620.000 orang. Jumlahnya hampir sepuluh kali lipat serdadunya sendiri. Di mata pihak ketiga, kelihatannya dia pasti berjudi. Genghis Khan meninggalkan 20.000 serdadu di Dataran Mongolia untuk mengatasi pemberontakan yang mungkin saja terjadi dan menunjuk Taquchar, si orang Onggut, sebagai komandan.
Perang melawan Chin diduga akan berlangsung selama empat hingga lima tahun. Oleh sebab itu, para prajurit yagn sudah menikah diperbolehkan membawa serta anggota keluarga untuk menemani mereka. Karena mereka tidak membangun rumah, tetapi yurt yang bisa dibongkar pasang, gaya hidup mereka memungkinkan hal ini. Hal tersebut memberi mereka keuntungan emosional serta psikologis, sebab mereka jadi merasa lebih nyaman menghadapi ekspedisi jangka panjang. Namun, tak semua anggota keluarga diperkenankan ikut denegan mereka.
Sebelum keberangkatan, semua orang yang mendaftar harus lulus pemeriksaan dan siapa saja yang idanggap tidak layak mengikuti ekspedisi jangka panjang akan ditolak, terasuk mereka yang terlalu muda, terlalu tua, atau cacat. Ada sistem bagus di tanah air mereka untuk menjaga anggota keluarga yang tetap tinggal di sana.
Genghis Khan mengajak serta dua istrinya. Yesugen dan Qulan.
Ebelumnya, Genghis Khan telah melucuti kedudukan istri ketiganya, Ibaka, karena ayah wanita itu memberontak, dan menempatkan Yesugen, adik perempuan istri keduanya, Yesui, sebagai istrik ketiganya untuk menggantikan Ibaka. Genghis Khan memperbolehkan keempat putranya, Juchi, Chagatai, Ogodei, dan Tolui, untuk ikut serta juga dalam perang tersebut. Meskipun tolui yang berumur tujuh belas tahun belum boleh mengomandani unit tersendiri. Dia dizinkan mendampingi ayahnya dan mempelajari seni berperang.
Genhis tiak pernah lalai mendidik, mengajar, menasihati, dan menempa keempat putranya. Kapan pun dia punya waktu luang, Genghis Khan duduk bersama keempat putranya dan mengisahkan kepada mereka semua cerita yang dia dengar dari orang tuanya, serta semua tetua lain semasa kanak-kanak, tentang pengalaman serta filosofi mereka sebenarnya.
Suatu saat, dia sedang duduk bersama keempat putranya, di depan seekor penyu besar yang ditinggalkan seorang saudagar Muslim sebagai
hadiah. Genghis Khan berkata kepada keempat putranya, “Lihatlah penyu ini! Ia dianugerahi perlindungan alami. Selagi ia berada di dalam cangkangnya, keamanan terjamin. Namun, ketika ia berada di dalam cangkangnya, ia tidak dapat bergerak. Orang-orang Cina seperti ini.
Mereka membangun benteng, tembok pertahanan, dan dinding tinggi pelindung kota supaya mereka bisa hidup dengan aman, tapi karena itu, mereka tidak bisa bergerak ke luar dunia mereka samak sekali selama ribuan tahun.”
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Genghis Khan mengajukan pertanyaan kepada keempat putranya, “Ada hewan yang makan makhluk bercangkang sekeras batu ini. Kira-kira hewan apakah itu?”
Karena tidak ada yang memberikan jawaban untuk pertanyaan ini, Genghis Khan berkata sambil menyunginggkan senyum di bibir, “Harimau.
Apa kalian tahu bagaimana cara harimau memakan penyu ini?”
Karena lagi-lagi tidak ada yang menjawab, Genghis Khan memberi tahu mereka. “Harimau menggit penyu kuat-kuat untuk meremukkan cangkangnya. Gigi dan tulang rahang mereka cukup kuat untuk melakukan itu.”
Sesudah mengucapkan kata-kata ini, Genghis Khan terkekeh-kekeh nyaring.
Beberapa saat kemudian, Genghis Khan memandangi ke empat putranya dan bertanya lagi, dengan sikap serius, “Orang-orang Cina makan penyu. Apa kalian tahu cara mereka membunuh penyu sebelum dimasak?”
Karena mereka tidak pernah melihat hal semacam itu, mereka tidak bisa memberi jawaban, Juchi coba-coba menjawab, “Mereka bisa merebusnya di dalam air mendidih bukan?”
Genghis Khan menampik jawaban tersebut, “Orang-orang Cia tidak menyukai reknik memasak seperti itu. Mreka mengeluarkan darah si penyu sebelum memasaknya.”
Genghis Khan menyuruh salah sartu pelayan di dekat sana untuk membawakan sepotong daging dan tongkat logam berkait kecil di ujungnya. Ketika daging dan kait sudah siap, Genghis Khan memotong daging kecil-kecil dan menusuk satu potong dengan kait. Dia mengulurkan potongan daging itu di dekat mulut si makhluk berpelindung dan menunggu. Karena terpikat oleh bau daging, si penyu seketika menangkap umpan. Saat Genghis Khan menarik tongkat berkait, leher si penyu meregang hampir sedepa.
Genghis Khan melanjutnkan, “Mereka memosisikan penyu seeprti ini di talenan dan memotong lehernya.”
Suatu kali, Genghis Khan menanyai putra-putranya, “Apa yang dikejar manusia pada akhirat?”
Ogodei, putra ketiga, menjawab, “Suatu kali Ayah memberi tahu kami jawabannya adalah kebebasan.”
Genghis Khan menjawab, “Bebar! Manusia mengejar kebebasan.
Namun, meskipun kebebasan dapat memberi mereka kepuasan batin dan jiwa, hal tersebut tidak dapat mengenyahkan kehampaan. Mereka senantiasa mencari-cari sesuatu yang bisa membantu mereka menaklukkan rasa hampa. Sebagian orang menghibur diri dengan Agama dan sebagian yang lain mengabdikan hidup untuk anak-anak mereka.
Sebagian orang bahkan melepaskan kebebasan yang mereka perjuangkan demi hal lain. Itulah yang harus dilakukan pemimpin, menemukan sesuatu untuk mereka. Jika kalian bisa menemukannya untuk mereka, mereka akan mengikuti kalian hingga ke ujung dunia.”
Pasukan Mongol pun menapak masuk ke gurun. Tanah berupa pasir bercampur lumpur terbentang tak berujung ke cakrawala yang jauh. Dari sana, pasukan Mongol mulai menyebar. Pasukan perama, dimpin oleh Jebe, mengarah ke barat, sedangkan pasukan ke tiga, yang dipimpin ketiga putra Genghis Khan, mengarah ke timur. Tujuannya untuk membingungkan musuh dan memecah belah baris pertahanan musuh.
Pasukan kedua Genghis Khan, kelompok utama, tiba di sisi utara Tembok Besar pada awal Juni setelah berderap melintasi Gurun Gobi sejauh 720 kilometer. Tempat itu merupakan teritorial kaum Onggut. Ala Qus, kepala suku Onggut, datang menemui Genghis Khan. Genghis Khan dan Ala Qus sudah menjadi kerabat lewat pernikahan. Genghis Khan memiliki empat putra dan lima putri dengan Borte, Istri pertamanya, dan salah seorang putrinya, Alaqa, menikahi Taquchar, putra sulung Ala Qus.
“Selamat dartang Genghis Khan! Senang sekali bertemu kembali dengan Anda.”
Bersama beberap lusin panglimanya, Ala Qus menunjukkan keramahtamahannya. Mreeka menunggang kuda berdampingan untuk melihat-lihat Tembok Besar. Tembok Besar, dibangun dari bata merah, mengular di atas bukit dan gunung, terentang tak berujung dan berkilau merah darah, memantulkan sinar matahari siang. Genghis Khan dipenuhi rasa kagum saat melihat besarnya skala bangunan tersebut, dia juga dipenuhi rasa benci terhadap para pembangunnya.
Berapa banyak orang yang harus dikorbankan untuk ini? Dan berapa lama? Tidakkah mereka tahu bahwa tembok pelindung sejati semestinya dibangun di dalam benak mereka.?
Direktu, manager dan pengawas Tembok Besar adalah orang-orang Onggut. Ala Qus pemimpin kaum Onggut, bukan saja membukakan semua gerbang Tembok Besar untuk Genghis Khan, melainkan juga menyokongnya dengan 10.000 serdadu sendiri sebagai sukarelawan.
Pasukan pertama Jebe dan pasukan ketiga pimpinan ketiga putra Genghis Khan tidak kesulitan menyeberangi Tembok Besar. Genghis Khan tidak kesulitan menyeberangi Besar. Genghis Khan berdiskusi dengan Ala Qus mengenai semua konsekuensi perang yang mungkin terjadi. Ala Qus menjanjikan dukungan penuh bagi Genghis Khan.
Genghis Khan terus maju ke selatan sambil memandangi wilayah Cinna yang luas. Ketiga pasukan senantiasa menjalin kontak, menggunakan kurir cepat setiap hari. Walau pun pasukkan Mongol bergerak dalam tiga kelopok terpisah, karena adanya sistem kurir ini, mereka bergerak layaknya satu tubuh, dan ketika dibutuhkan, mereka bisa berkumpul dalam waktu teramat singkat.
Genghis Khan membahas kerangka rencana dan strategi perang dengan para panglima dan komandan tingginya. Setiap komandan diperbolehkan mengoperasikan rencana da taktiknya sendiri asalkan masih dalam batas-batas rancangan utama perang.
Pasukan utama Genghis Khan maju kian jauh ke selatan menyerang dan mengambil alih Fucho, kota paling utara di Chin, kemudian menyapu
area tersebut. Juga merebut Kalgan dan Xiandefu. Semua kota di dekat perbatasan memiliki tembok kota yang relatif rendah dan garnisun mereka terutama beranggotakan prajurit infantri. Jadi mreka tidak bisa menandingi prajurit berkuda Mongol. Genghis Khan bergerak lebih lanjut ke delatan, dengan kedua kepala mata-matanya, Yelu Ahai dan Jafar.
Beberapa hari setelah melintasi Tembok Besar, Genghis Khan tiba di kaki pengunungan besar.
Genghis Khan menayai Yelu Ahai, yang berkuda di sebelahnya. “Apa kau tahu pelintasan gunung yang bisa kita gunakan untuk menyeberangi pegunungan itu?”
Yelu Ahai menjawab, “Ya, ada Pelintasan Yehuling.”
Genghis Khan mencari-cari pelintasan Yehuling, yang artinya pelintasan “Rubah liar”. Di antara pegunungan tinggi berselimut hutan rimbun, terdapat jalur yang dapat dilewati sejumlah besar serdadu, meskipun jalur itu sempit. Genghis Khan mengeluarkan perintah kepada para panglimanya.
“Kita akan tinggal di sini dan menunggu untuk sementara.”
Strategi dan taktik Genghis Khan unik, dan alhasil hampir mustahil ditebak musuh. Mreka tidak pernah bisa menebak di mana dan kapan dia datang. Strategi dan taktik Genghis Khan selalu berbeda, sama sepeti juru masak ahli yang menciptakan ribuan hidangan berbeda hanya dengan bahan-bahan yang diberikan kepanya. Genghis Khan acap kali menasihati para panglimanya : “Untuk memenangi pertempuran, kalian harus mau mengambil resiko lebih banyak daripada musuh kalian.”
Pasukan pertama Jebe menyapu kota-kota di Provinsi Shansi. Genghis Khan mengutus pembawa pesan untuk memberi tahu Jebe agar menyerang Xijing. Xijing terletak di kira-kira 320 kilometer di barat laut Zhongdu, Ibu Kota Chin, dan berada di tengah-tengan provinsi Shansi.
Populasinya sekitar 200.000 orang dan garnisun beranggotakan 50.000 serdadu menjaga kota tersebut. Atas perintah Genghis Khan, parukan pertama Jebe menyerang kota itu setiap hari. Akan tetapi, kota itu tidak pernah jatuh ke tangan penyerang karena perlindungan dari dinding kota yang tinggi dan kokoh.
Kira-kira lima belas hari kemudian, dua prajurit berkuda Chin bergegas keluar dari kota lewat gerbang yang setengah terbuka dan berderap dengan kecepatan penuh ke selatan sesudah menembus kepungan.
Mereka adalah kurir kilat, dikirim oleh Jenderal Hushahu, panglima tertinggi Xijing. Kaisar Chin, Weishao, mengadakan pertemuan darurat setelah dia menerima pesan tersebut. Sampai saat itu, dia tidak mengetahui pergerakan bangsa Mongol. Sebelumnya, Konflik dan masalah minor sering kali terjadi di area perbatasan, jadi Weishao tidak terlalu memperhatikan laporan itu. Namun, banyak pejabat dan panglima, merasa bahwa ada yang lain dalam kasus ini, yang dengan tegas mendorongnya agar mengambil tindakan. Akhirnya, Kaiar Chin mengeluarkan perintah kepada Jujin, sang “Panglima besar” untuk mengurus masalah itu, memberinya 100.000 anak buah.
Jujin, sang panglima Chin, menuju utara ke Xijing bersama ke- 100.000 serdadunya. Pasukan Chin yang terdiri dari 100.000 serdadu mulai menyusuri Pelintasan Yehuling. Tidk tahu bahwa ketiga pasukan
Genghis Khan tengah menunggu untuk menyergap, mereka melalui berbarais panjang untuk melewati perlintasan itu. Ketika setengah prajurit mereka sudah menyeberangi pelintasan, mereka diserang oleh bangsa Mongol. Terpotong dua, tanpa waktu untuk menata ulang diri mereka, pasukan Chin pun kalah telak. Dalam waktu setengah hari saja sekitar 70.000 serdadu Chin yang mati sudah bertebaran di padang Shansi. Ini adalah kemenangan terbesar yang telah dicapai bangsa Mongol hingga saat itu. Para prajurit Mongol berteriak girang sambil mengangkat kepala panglima musuh. Jujin yang telah dipenggal dan memasukannya ke ujung tombak. Genghis Khan memerintahkan pasukan pertama Jebe maju ke selatan untuk membuka jalan ke Zhongdu dan juga menyuruh ketiga putranya menyerang serta menduduki kota-kota di Provinsi Hopei.
Pasukan pertama Jebe terus maju ke selatan dan menyerang Juyung Kuan, gerbang pertama menuju Zhongdu. Juyung Kuan, yang berupa benteng tak tertembus, terletak di puncak sebuah bukit tinggi dan dijaga oleh 30.000 prajurit garnisun. Pasukan pertama Jebe yang beranggotakan 15.000 orang menyerang benteng itu setiap hari. Orang-orang Mongol menembakkan batu seberat kira-kira tujuh puluh kilogram dengan ketepel yang mereka bawa. Namun, batu-batu tidak bisa mencapai benteng karena kurangnya tenaga.
Jebe memutuskan untuk mencoba taktik berbeda : pura-pura mundur.
Pasukan Mongol meninggalkan semua peralatan di sana dan mundur.
Begitu mereka menyaksikan pasukan Mongol menghilang ke cakrawala, pasukan Chin pun membuka gerbang dan keluar untuk mengambil semua peralatan serta perlengkapan. Selagi mereka sedang sibuk memindahkan barang-barang tersebut ke dalam benteng, pasukan Mongol mendadak kembali. Mereka bahkan tidak sempat kembali ke beteng dan menutup gerbang. Kecepatan merupakan senjata terbesar bangsa Mongol. Mereka tidak memperkenankan musuh mereka menaksir waktu secara tepat.
Benteng yang tak tertembus, Juyung Kuan, jatuh ke tangan bangsa Mongol setelah ke-30.000 serdadu garnisun Chin dibinasakan.
Saat menerima laporan bahwa Juyung Kuan telah direbut, Genghis Khan mengeluarkan perintah kepada Yelu Ahai, yang sedang bersama Jebe, untuk meluncurkan serangan ke peternakan kuda milik keluarga kerajaan Chin, yagn berlokasi di dekat kota Zhongdu. Yelu Ahai, beserta 2.000 serdadunya, menyerang peternakan itu, membuat 50.000 serdadu kuda berpencar ke segala arah. Mereka juga mengambil beberapa ribu kuda. Pasukan Chin mengalami situasi sulit saat berusaha mengambil kembali kuda-kuda tersebut. Hal tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan. Alhasil, jalan menuju Zhongdu pun terbuka.
29. PERPECAHAN DI CHIN
Zhongdu adalah kota terbesar di dunia pada zaman itu. Kota berpenduduk sejuta orang tersebut dilindungi oleh tembok pertahanan setinggi duabelas meter yang terbuat dari bata kuat. Lebar tembok di dasarnya adalah lima belas meter dan di puncak selabrnya duabelas meter, cukup lebar untuk dilewati empat prajurti kavaleri bersisian. Di bawah tembok pertahanan terdapat tiga parit yang menghadang mendekatnya musuh, dan panjang total tembok itu adalah 42 kilometer.
Sembilan ratus menara pengintai terdapat di atas tembok tersebut,d an
kedua belas gerbangnya, semua terbuat dari logam tebal, mustahil dirobohkan dengan peralatan apa pun yagn dikeal saat itu.
Kora Zhongdu menjadi ibu Kota dari banyak kekaisaran. Sebelum Kekaisaran Chin, Zhongdu juga pernah menjadi Ibu Kota Kekaisaran Liao kaum Khitan, saat meereka menamainya Yenking. Kelak kota itu disebut Peking atau Beijing.
Sebagian panglima Genghis Khan berkeras agar mereka melakukan serangan langsung ke Kota Chongdu. Walau begitu, Genghis Khan menjelaskan kepada mereka, “Cina adalah negara belahan luas dan berpopulasi besar. Sebelum kita menyerang Zhongdu, kita harus merebut Provinsi Xijing dan Hopei terlebih dahulu. Jika tidak, kita bisa dikepung oleh mereka.”
Pada saat ini, seorang kurir kilat yang dikirim Jebe tiba di Juyung Kuan. Pesannya adalah bahwa tim perundingan damai dari Chin telah tiba di sana dan sedang menunggu jawaban Khan. Genghis Khan memutuskan untuk menemui mereka.
Tim Perundingan Chin berangggotakan kepala utusan dan dua asisten, dan salah satu asisten adalah orang Khitan bernama Simo Mingan. Dia adalah kenalan Genghis Khan. Pihak Chin khusus memilih Simo Mingan sebagai salah satu utusan karrena fasihnya berbahasa Mongolia dan karena dia kenal dengan Genghis Khan. Pada masa lalu, Simo Mingan pernah bertemu Genghis Khan beberaa kali di tenda kebesaran Wang-Khan. Namun kali ini, dia sesungguhnya adalah mata- mata. Dia disuruh mengumpulkan semua informasi terkait pergerakan bangsa Mongol.
Perundingan tidak berjalan lancar. Ada terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Suatu hari sebelum mereka pulang, Yelu Ahai, yang memandu mereka dari Juyung Kuan ke perkemahan Genghis Khan, datang menemui sang Khan dan berkata, “Tuan, Simo Mingan ingin menemui Anda secara pribadi. Bagaimana menurut Anda?”
Genghis Khan setuju. Saat Simo Mingan tiba, pengawal Genghis Khan berusaha melepas pakaiannya. Orang-orang Cina secara historis sering kali memerintahkan pembunuh mendekati pemimpn musuh, dengan cara menyamar sebagai utusan khusus atau pembelot. Oleh karenanya, pakaian mereka biasanya dilucuti dan mereka diberi pakaian baru untuk didkenakan sebelum pertemuan.
“Biarkan dia! Jika aku tidak mempercayainya, dia tak akan mempercayaiku juga.”
Genghis Khan menyambutnya, mengangkat kedua tangan tinggi- tinggi, dan berjabat tangan dengannya.
“Selamat datang! Jendral! Simo Mingan, pria berusia akhir empat puluhan, dengan jujur mengakui bahwa dia adalah mata-mata Chin.
Mendengar ini, Genghis Khan menjawab sambil menyunggingkan senyum di bibir, “Aku sudah tahu itu.”
Simo Mingan mengutarakan niatnya menyerah kepada Genghis Khan.
Kaum Khitan, yang telah ditaklukkan oleh orang-orang Juchid dari Chin, adalah warga kelas dua dalam amsyarakat Chin. Mereka tidak bisa memperoleh jabatan terpenting dan tertinggi sementara semua pekerjaan yang sulit dan kotor diperuntukkan bagi mereka. Satu kelompok pasrah saja dan menerima nasib, tetapi ada kelompok lain yang senantiasa
berusaha membebaskan diri dari penindasan kaum Juchid. Simo Mingan termasuk bagian dari kelompok yang disebut belakangan. Bahasa Mongolia dan Khitan aslinya merupakan bahasa yang sama.. Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa mereka berubah, sedikit demi sedikit, dan pada masa Genghis Khan mereka tidak bisa berkomunikasi sama sekali tanpa penerjemah.
“Perang ini bukan saja untuk bangsa Mongol, melainkan juga untuk bangsa Khitan supaya bisa membebaskan diri dari cengkeraman Chin.”
Genghis Khan menjelaskan.
Genghis Khan menerima informasi berharga dari Simon Mingan.
Selain fakta bahwa di Kota Zhongdu terdapat persediaan makanan yang cukup untuk setahun bagi sejuta orang, dia mendapat informasi bahwa orang-orang Khitan di Provinsi Liodong bersedia bertarung melawan Chin, dengan bantuan Genghis Khan.
“Aku berjanji kaum Khitan akan memperoleh pemerintahan otonomi dan tanah mereka sendiri, “Genghis Khan memberi tahu Simo Mingan.
Simo Mingan tdak kembali ke Zhongdu. Saat menyadari penghianatan Simo Mingan. Kaisar Chin mengeluarkan perintah bahwa seluruh anggota keluarganya harus dipenggal. Mereka membawa kira-kira empat puluh anggota keluarganya ke pasar dan memenggal kepala mereka atas tuduhan sebagai keluarga penghianat.
Simo Mingan mengucurkan air mata ketika dia mendengar kabar buruk ini.
“Orang-orang Khitan bukan Cuma keluarga saya.” Sambil mengucapkan ini, dia menahan air mata. Genghis Khan berusaha menghiburnya.
Pada saat bersamaan, kabar buruk terus menerus datang dari pasukan ketigaberanggotakan 15.000 prajurit kavaleri, yang tengah menyerang Provinsi Hopei. Laporannya adalah bahwa mereka bisa merebut kota-kota akecil, tetapi gagal merebut kota-kita besar karena kuatnya tembok pertahanan yang melindungi kota. Mereka mengatakan bahwa mustahil menyeberangi tembok pertahanan dengan peralatan yang mereka punyai. Perang seakan terhenti. Genghis Khan merasa mereka perlu segera memperbaiki peralatan.
Pada bulan Maret 1212, Genghis Khan membuat strategi baru. Dia mengirim Yelu Ahai dan Simo Mingan untuk melaksanakan misi rahasia, yakni menghubungi Yelu Luko, yang merupakan keturunan keluarga kerajaan Khitan dari Kekaisaran Liao serta pemimpin spiritual bagi banyak orang khitan. Mereka berhasil menghubunginya dan membuat kesepakatan rahasia untuk bekerja sama dalam membangun bangsa Khitan. Genghis Khan mengutus Jebe beserta 20.000 prajurit kavaleri untuk membantu mereka. Ke 20.000 prajurit kavaleri Jebe dan milisi Khitan bekerja sama dan sukses mengambil alih Kota Lioyang, yang adalah bekas Ibu Kota Kekaisaran Liao, serta wilayah besar di dekat sana.
Genghis Khan mengesahkan Kerajaan Khitan yang baru lahir dan memberi mereka otonomi.
Genghis Khan menepati janjinya kepada Simo Mingan. Yelu Luko, Raja baru Kerajaan Khitan yang baru lahir, tulus menghargai tindakan tersebut dan alhasil tetap setia kepda Genghis Khan selama delapan tahun, hingga dia meninggal.
Pada Bulan Mei, Genghis Khan meluncurkan serangan ke Kota Xijing bersama pasukan utamanya. Mereka amenggunakan peralatan yang sudah disempurnakan untuk menyerang benteng dan tembok pertahanan, tetapi mereka tetap saja tidak bisa merebutnya dengan mudah.
Perempuran berlangsung selama sekitar sebulan. Kali ini, sesuatu terjadi.
Genghis Khan sedang menyemangati anak buahnya di garis depan, ditembak panah dari benteng kota. Panah tersebut menancap di bahu kanannya, mematahkan tulang selangka. Seorang dokter militer Uighur pun melakukan operasi darurat.
“Semua akan baik-baik saja, Tuan. Namun, butuh setidaknya beberapa bulan sebelum Anda dapat mempergunakan bahu Anda dengan bebas seperti sebelumnya, “Kata sang dokter militer Uighur.
Pasukan Mongol mundur dari semua garis pertempuran, karena luka Genghis Khan. Genghis Khan kembali menyeberangi tembok Besar dan mendirikan markas besar sementara di dekat Danu Dalan, di Wilayah Onggur. Sia menetap di sana hingga musim semi tahun 1213, untuk beristirahat. Sementara itu, unit rekayasanya diperintahkan mengembangkan peralatan baru untuk kota bertembok tinggi.
Pada musim semi tahun 1213, Genghis Khan lagi-lagi melintasi tembok Besar. Bangsa Mongol maju tanpa halangan merebut kota-kota satu demi satu dengan peralatan baru mereka. Termasuk kota-kota yagn tidak dapat mereka rebut sebelumnya. Salah satu peralatan yagn baru saja dikembangkan untuk menyeberangi tembok pertahanan adalah kendaraan tangga besar, yang ditarik enampuluh ekor lembu. Bangsa Mongol dalam rangka persiapan untuk menyerang benteng atau kota besar, menyerang kota-kota kecil di dekatnya terlebih dahulu, sehingga mengisolasi kota besar tersebut. Sesudah kota besar terisolasi, barulah mereka melanjutkan. Dalam pertempuran ini, jika orang-orang di kota- kota kecil menyerah, mereka selamat. Jika tidak, mereka semua dibantai.
Ini adalah bagian dari perang psikologis untuk meneror musuh. Orang- orang di kota, begitu mereka mengetahui bahwa bangsa Mongol datang, ketakutan dan kehilangan tekad untuk bertarung.
Bangsa Mongol tidak bisa tak melakukan itu, sebab mereka harus menangani musuh berpopulasi lebih besar di negeri yang luas. Setelah merebut kota Hsuan Hua, Pan An, dan Huai Lai, bangsa Mongol menghancurkan garnisun beranggotakan 100.000 serdadu di dekat Nan Chow, Genghis Khan maju ke Lung Hu Tai, sebuah kota di dekat Ibu Kota.
Namun, kali ini terjadi peristiwa lain, kaum Onggut memberontak.
Sedari awal, kaum Onggut terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok pro-Mongol, sedangkan yang satu lagi pro-Chin. Pemimpin kelompok pertama adalah Ala Qus, kepala suku yagn sekarang sedangkan kelompok satunya dikepalai oleh Kelmish, keponakan Ala Qus.
Kelmish adalah pewaris sah jabatan kepla suku, dengan bangsa Mongol secara sepihak, membukakan gerbang Tembok Besar dan menyimpankan semua pampasan perang untuk mereka. Dia mulai mengompori orang-orangnya, “Tidak ada jaminan bahwa orang-orang Mongol akan memenagni perang ini! Apabila mereka kalah, Chin akan membalas dendam kepada mereka. Kita sebaiknya tetap netral!”.
Dia menyrang tenda Ala Qus dengan dua puluh pengikutnya, dan menombak dada pamannya, Ala Qus. Dia menyatakan diri sebagai Kepala
Suku baru dan menyita sejumlah besar pampasan perang yang telah dipercayakan Genghis Khan kepada Ala Qus. Genghis Khan menanggapi hal ini secara sangat serius, sebab teritori Onggut adalah gudang pebekalan dan kompleks militernya, dia serta merta membatalkan semua rencana perang, mengutus Subedei sebagai komandan pasukan penumpas. Subedei, dengan 5.000 serdadunya, dengan mudah menumpas para pemberontak. Mayoritas anggota pasukan penumpas adalah adalah orang-oranng Onggut. Sesudah menahan sekitar dua ribu pemberontak dan keluarga mereka, Subedei menanyakan hukuman mereka kepada Genghis Khan. Setelah mempertimbangkan hubungan mereka dengan kaum Onggut, Genghis Khan memmerintahkan Subedi agar mengeksekusi Kelmish dan para pengikut dekatnya beserta anggota keluarga mereka saja, menjadikan total sekitar dua ratus orang.
Hushahu, komandan garnisun Xijing, kota terbesar di kawasan barat Chin, tidak senang. Kendati dia adalah panglima sanga tpopuler yang telah memenangi banyak pertempuran melawan Sung, dia dikirim ke Xijing, kota yan relatif tidak penting di Chin. Kaisar Chin, Weishao, iri dan tidak nyaman dengan popularitasnya yang kian meningkat. Secara historis, Kaisar Cina acap kali mengirim panglima yang popularitasnya menanjak ke area terpencil untuk mencegah kemungkinan terjadinya pemberontakan. Rasa tidak senangn karena menjadi korban perlakuan tak adil kaisarnya berpadu dengan hasrat tak terkendali yang menginginkan kekuasaan, sehingga memotivasi Hushahu untuk kembali ke Zhongdu, meninggalkan Xijing. Dia hanya meninggalkan 10.000 prajuritdi Xijing, di bawah kepemiminan salah satu anak buahnya yang berpangkat terendah, dan menunju ke Zhongdu bersma 40.000 prajurit regulernya. Dia berhasil emmasuki kota, mengelabui serta membunuh komandan garnisun, dan mengepung istana. Dia melancarkan kudeta. Dia menangkap dan membunuh Kaisar Weishao, besrta para istri, selir, dan anaknya, yang totalnya sekitar tiga ratus orang. Dia menjadi wali raja dan mengemuka sebagai penguasa baru Kekaisaran Chin. Dia memilih Pangeran Udabu, sepupu Weishao, sebagai kaisar baru, dengan gelar Xuanzong.
Sang kaisar Boneka, Xuanzong, tidak senang, sebab dia tahu dirinya tidak punya kekuasaan. Hushahu sang wali raja dan diktator, mulai mengambil tindakan untuk menyingkirkan lawan politiknya. Yang pertama adalah panglima bernama Shuhu Gaoqi. Dia menunjuk Shuhu Gaoqi sebagai kepala pasukan lapangan untuk bertempur melawan bangsa Mongol. Pada masa itu, penguasa atau diktator acap kali mengirim musuh politik mereka ke medan tempur ketika apeluang menangnya tipis, untuk mengenyahkan mereka.
Shuhu Gaoqi pergi ke medan tempur. Tapi tidak lama kemudian, dia memutuskan untuk kembali. Begitu dia kalah dalam pertempuran, sudah jelas bahwa dia akan disingkirkan oeh Hushahu. Setelah memasuki kota bersama pasukannya, dia mengepung rumah Hushahu. Para prajurit membinasakan semua yang menghalangi mereka, membunuh semua anggota keluarga Hushahu. Hushahu mencoba kabur sambil masih mengenakan piyamanya, melintasi dinding belakang. Dia terlambat.
Tombak yang didlemparkan oleh Shuhu Gaoqi tertancap di punggungnya dan dia pun jatuh.
“Bajingan kau!” kata ShuhuGaoqi, sambil menjambak rambut Hushahu dengan tangan kiri, mengangkat kepalanya, kemudian menebas lehernya dengan pedang di tangan kanan. Kekuasaan Hushahu selama dua puluh satu hari berakhir seperti ini. Shuhu Gaoqi menghadiahkan kepalanya kepada Xuanzong, sang kaisar baru. Hal ini membuat sang kaisar cukup senang. Sebagai imbalan dia menunjuk Shuhu Gaoqi sebagai komandan parnisun Zhongdu. Shuhu Gaoqi memberi tahu Xuanzong.
“Mustahil menghadapi kaum Mongol di medan tempur. Namun, kita berkonsentrasi pada pertahanan Zhongdu, mereka tak akan pernah bisa melintasi tembok pertahanan.”
Shuhu Gaoqi pun memperkuat sistem pertahanan Zhongdu. Saat itu Bulan September 12113.
30. PERUNDINGAN DENGAN CHIN
Setelah kudeta dan perubahan politik dalam pemerintahan Chin, bangsa Mongol menyapu lahan di hulu Sungai Kuning selama enam bulan, Genghis Khan membagi pasukannya menjadi lima kelompok, kemudian dia mengutus mereka untuk mengmbil ali Shansi, Hopei, Shantung, dan wilayah Manchuria selatan. Pasukan pertama, kedua dan ketiga, diberikan kepada ketiga putra Genghis Khan, Juchi, Chagatai, dan Ochigin Nayan.
Genghis Khan menepati janjinya kepada ibunya untuk tak melukai Kasar dan kelak, dia memperkenankan Kasar memperoleh kembali sebagian posisinya. Genghis Khan bersama putra keempatnya, Tolui, dan pasukan kelima, maju ke Provinsi Shantung.
Pada periode ini, pasukan Mongol mengambil alih, atau menghancurkan, sembilan puluh kota kecil, dan besar di kawasan ini.
Warga kota yang melawan dibantai habis, sedangkan rumah, bangunan, serta tembok pertahanan diratakan dengan tanah. Bagian Utara Dataran Cina terndoa darah dan diselimuti mayat orang-orang Juchid. Jika sebuah kota menyerah, orang Khitan atau Cina Han ditunjuk sebagai pemimpin dan semua penduduk harus bekerja sama dengan bangsa Mongol dalam peretempuran mereka selanjutnya.
Kasar, yang telah maju ke Manchuria selatan, sembari mengambil alih semua kota di akwaan itu, menapak masuk ke wilayah Koryo dan Korea, setelah menyeberangi Sungai Yalu. Dia mengirim utusan ke pemerintahan Koryo, menanyakan apakah mereka bersedia bekerja sama dengan bangsa Mongol untuk menyingkirkan sisa-sisa pasukan Chin yang bersembunyi di wilayah mereka, dengan cara menyediakan tambahan pasukan serta makanan. Menyadari bahwa mereka tidak bisa melawan pasukan Mongol, pemerintah Koryo setuju untuk bekerja sama. Dengan skongan berupa makanan dan pemandu jalan, Kasar menghancurkan orang-orang Chin yang bersembunyi di Korea, Kemudian kembali dengan cara menyeberangi Sungai Yalu.
Dengan demikina, Genghis Khan menaklukkan hampir sebua bagian utara negeri Cina dan mengumpulkan sejumlah besar pampasan perang.
Dia menunjuk Lu Bailin, orang Cina Han yang takluk, sebagai pemimpin baru Kota Xijing, bekas Ibu Kota barat Chin. Kini Zhongdu, Ibu Kota Chin, laksana pulau di samudra.
Pada bulan April 1214, kelima pasukan Mongol berkumpul di padang dekat Kota Zhongdu. Padang itu disebut Sira Keer oleh bangsa Mongol, yang berarti “padang emas” dan padang itu diselimuti rumput tiada akhir