• Tidak ada hasil yang ditemukan

GRI 3 Topik Material 2021 - Indonesian

N/A
N/A
Raihani Mufti

Academic year: 2025

Membagikan "GRI 3 Topik Material 2021 - Indonesian"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

TANGGAL EFEKTIF BERLAKU 1 JANUARI 2023

STANDAR UNIVERSAL 3

(2)

Standar Universal

Tanggal efektif berlaku

Standar ini berlaku untuk laporan atau materi lain yang dipublikasikan pada atau setelah tanggal 1 Januari 2023 Tanggung jawab

Standar ini dikeluarkan oleh Global Sustainability Standards Board (GSSB). Tanggapan terkait Standar GRI dapat dikirimkan ke [email protected] untuk dipertimbangkan GSSB.

Proses hukum

Standar ini dikembangkan untuk kepentingan publik dan sesuai dengan persyaratan Protokol Proses Pembuktian GSSB. Dokumen ini dikembangkan dengan memanfaatkan keahlian beberapa pemangku kepentingan, dan dengan mempertimbangkan instrumen resmi antarpemerintah dan harapan luas organisasi terkait dengan tanggung jawab sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Kewajiban hukum

Dokumen yang disusun oleh Global Sustainability Standards Board (GSSB) untuk mempromosikan pelaporan keberlanjutan ini telah melalui proses konsultasi spesifik dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pelibatan perwakilan dari berbagai organisasi serta pengguna informasi laporan di seluruh dunia. Meskipun Dewan Direksi GRI dan GSSB mendorong penggunaan Standar Pelaporan Keberlanjutan GRI (Standar GRI) dan interpretasi- interpretasi terkait oleh semua organisasi, persiapan dan penerbitan laporan yang mengacu sepenuhnya atau sebagian pada Standar GRI serta Interpretasi terkait merupakan tanggung jawab penuh dari pihak yang menerbitkan laporan. Baik Dewan Direksi GRI, GSSB, ataupun Stichting Global Reporting Initiative (GRI) tidak dapat bertanggung jawab atas konsekuensi atau kerugian apa pun yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung dari penggunaan Standar GRI dan Interpretasi terkait dalam persiapan laporan, atau penggunaan laporan berdasarkan Standar GRI dan Interpretasi terkait.

Pemberitahuan hak cipta dan merek dagang

Dokumen ini dilindungi oleh hak cipta dari Stichting Global Reporting Initiative (GRI). Reproduksi dan distribusi dokumen ini sebagai sumber informasi dan/atau penggunaannya untuk menyiapkan sebuah laporan keberlanjutan dapat dilaksanakan tanpa harus meminta izin terlebih dahulu dari GRI. Namun, baik dokumen ini maupun kutipannya tidak boleh direproduksi, disimpan, diterjemahkan, atau dipindahkan ke dalam bentuk apa pun atau dengan cara apa pun (elektronik, mekanis, fotokopi, direkam, atau lainnya) untuk tujuan lain apa pun tanpa izin tertulis sebelumnya dari GRI.

Global Reporting Initiative, GRI dan logonya, GSSB dan logonya, serta GRI Sustainability Reporting Standards (Standar GRI) dan logonya adalah merek dagang dari Stichting Global Reporting Initiative.

© 2023 GRI. All rights reserved.

(3)

Daftar isi

Pendahuluan 4

1. Panduan untuk menentukan topik material 7

Langkah 1. Memahami konteks organisasi 8

Langkah 2. Mengidentifikasi dampak aktual dan potensial 9

Langkah 3. Menilai signifikansi dampak 13

Langkah 4. Memprioritaskan dampak paling signifikan untuk pelaporan 14

2. Pengungkapan dalam topik material 17

Pengungkapan 3-1 Proses untuk menentukan topik material 17

Pengungkapan 3-2 Daftar topik material 19

Pengungkapan 3-3 Manajemen topik material 20

Daftar Istilah 26

Daftar Pustaka 31

(4)

Pendahuluan

GRI 3: Topik Material 2021 menyediakan panduan bertahap untuk organisasi tentang cara menentukan topik

material. Panduan ini juga menjelaskan cara Standar Sektor digunakan dalam proses ini. Topik material adalah topik yang mencerminkan dampak organisasi yang paling signifikan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia.

GRI 3 juga memuat pengungkapan untuk organisasi untuk melaporkan informasi tentang proses mereka dalam menentukan topik material, daftar topik material, dan cara mereka mengelola setiap topik material mereka.

Standar ini tersusun sebagai berikut:

Bagian lain Pendahuluan menyediakan ikhtisar sistem Standar GRI dan informasi lebih lanjut tentang penggunaan Standar ini.

Sistem Standar GRI

Standar ini adalah bagian dari Standar Pelaporan Keberlanjutan GRI (Standar GRI). Standar GRI memungkinkan organisasi dapat melaporkan informasi tentang dampak organisasi yang paling signifikan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia, serta cara organisasi mengelola dampaknya.

Standar GRI disusun sebagai sistem standar yang saling berkaitan dan dirangkai ke dalam tiga seri: Standar Universal GRI, Standar Sektor GRI, dan Standar Topik GRI (lihat Gambar 1 dalam Standar ini).

Standar Universal: GRI 1, GRI 2 dan GRI 3

GRI 1: Landasan 2021 menentukan persyaratan yang harus dipatuhi oleh organisasi untuk menyusun laporan sesuai dengan Standar GRI. Organisasi dapat mulai menggunakan Standar GRI dengan memahami GRI 1.

GRI 2: Pengungkapan Umum 2021 berisi pengungkapan yang digunakan oleh organisasi untuk menyediakan informasi tentang praktik pelaporan mereka dan informasi organisasi lainnya, seperti aktivitas, tata kelola, dan kebijakan mereka.

GRI 3: Topik Materi 2021 menyediakan panduan bertahap tentang cara menentukan topik material. Ini juga memuat pengungkapan yang digunakan organisasi untuk melaporkan informasi tentang proses mereka dalam menentukan topik material, daftar topik material, dan cara mereka mengelola setiap topik material.

Standar Sektor

Standar sektor menyediakan informasi untuk organisasi mengenai mana yang berpotensi menjadi topik material mereka. Organisasi menggunakan Standar Sektor yang berlaku untuk sektor mereka saat menentukan topik material, dan saat menentukan apa yang akan dilaporkan untuk setiap topik material.

Standar Topik

Standar Topik berisi pengungkapan yang digunakan organisasi untuk melaporkan informasi mengenai dampak mereka terkait dengan topik tertentu. Organisasi menggunakan Standar Topik sesuai dengan daftar topik material yang telah mereka tentukan menggunakan GRI 3.

Bagian 1 menyediakan panduan bertahap tentang cara menentukan topik materi.

Bagian 2 memuat tiga pengungkapan, yang menyediakan informasi tentang proses organisasi dalam menentukan topik material, daftar topik material, dan cara mereka mengelola setiap topik material.

Daftar Istilah berisi istilah-istilah yang didefinisikan dengan makna khusus ketika digunakan di Standar GRI.

Istilah-istilah tersebut digarisbawahi di dalam teks Standar GRI dan terkait dengan definisinya.

Daftar Pustaka mencantumkan instrumen resmi antarpemerintah dan rujukan tambahan yang digunakan dalam mengembangkan Standar ini, serta sumber daya yang dapat dipelajari oleh organisasi.

(5)

Gambar 1. Standar GRI: Standar Universal, Sektor, dan Topik

Terapkan ketiga Standar Universal pada pelaporan Anda

Gunakan Standar Sektor yang berlaku untuk sektor organisasi Anda

Pilih Standar Topik untuk melaporkan informasi tertentu

tentang topik material Anda Standar Sektor

Standar Universal Standar Topik

Standar GRI

Persyaratan dan prinsip-prinsip dalam menggunakan standar GRI

Pengungkapan tentang organisasi pelapor

Pengungkapan dan panduan tentang topik material organisasi

Menggunakan Standar ini

Organisasi yang menyusun laporan sesuai dengan Standar GRI diwajibkan untuk menentukan topik material dan melaporkan semua pengungkapan dalam Standar ini. Organisasi diwajibkan untuk melaporkan Pengungkapan 3-3 Manajemen topik material untuk setiap topik material.

Alasan tidak mencantumkan hanya diperbolehkan untuk Pengungkapan 3-3.

Jika organisasi tidak dapat mematuhi Pengungkapan 3-3 atau persyaratan dalam Pengungkapan 3-3 (misalnya, karena informasi yang diperlukan bersifat rahasia atau tunduk pada larangan hukum), berarti organisasi diwajibkan untuk menyebutkan ini dalam indeks konten GRI, dan memberikan alasan tidak mencantumkan disertai dengan penjelasan. Lihat Persyaratan 6 dalam GRI 1: Landasan 2021 untuk informasi lebih lanjut mengenai alasan tidak mencantumkan.

Jika organisasi tidak dapat melaporkan informasi yang diperlukan mengenai pokok perihal yang ditentukan dalam pengungkapan karena pokok perihal tersebut (seperti, komite, kebijakan, praktik, proses) tidak ada, mereka dapat mematuhi persyaratan dengan melaporkan bahwa keadaannya seperti itu. Organisasi dapat menjelaskan alasan tidak mencantumkan pokok perihal tersebut atau menjelaskan rencana untuk mengembangkannya. Pengungkapan tidak mewajibkan organisasi untuk mengimplementasikan pokok perihal tersebut (misalnya, mengembangkan kebijakan) tetapi melaporkan bahwa pokok perihal tersebut tidak ada.

Jika organisasi ingin memublikasikan laporan berkelanjutan yang berdiri sendiri, organisasi tersebut tidak perlu mengulangi informasi yang sudah dilaporkan secara publik di tempat lain, seperti di halaman web atau pada laporan tahunan mereka. Dalam kasus tersebut, organisasi dapat melaporkan pengungkapan yang diwajibkan dengan memberikan rujukan dalam indeks konten GRI mengenai di mana informasi ini dapat ditemukan (misalnya, dengan memberikan tautan ke halaman web atau mengutip halaman di laporan tahunan di mana informasi tersebut telah dipublikasikan).

Persyaratan, panduan, dan istilah yang didefinisikan Hal berikut berlaku di seluruh Standar GRI:

Persyaratan disajikan dalam tulisan huruf cetak tebal dan ditunjukkan dengan kata 'harus'. Organisasi harus

(6)

mematuhi seluruh persyaratan untuk menyusun laporan sesuai dengan Standar GRI.

Persyaratan dapat disertai dengan panduan.

Panduan mencantumkan informasi latar belakang, penjelasan, dan contoh untuk membantu organisasi lebih memahami persyaratan tersebut. Organisasi tidak diwajibkan untuk mematuhi panduan.

Standar juga dapat mencakup rekomendasi. Hal-hal ini adalah keadaan-keadaan di mana suatu tindakan tertentu disarankan tetapi tidak diwajibkan.

Kata 'sebaiknya' menunjukkan rekomendasi, dan kata 'dapat' menunjukkan kemungkinan atau pilihan.

Istilah yang didefinisikan digarisbawahi dalam teks Standar GRI dan dikaitkan dengan definisinya pada Daftar Istilah.

Organisasi diwajibkan untuk menerapkan definisi di dalam Daftar Istilah.

(7)

1. Panduan untuk menentukan topik material

Organisasi yang membuat laporan sesuai dengan Standar GRI diwajibkan untuk menentukan topik material. Saat melakukan hal ini, organisasi juga diwajibkan untuk menggunakan Standar Sektor GRI yang berlaku (lihat Persyaratan 3 dalam GRI 1: Landasan 2021 dan Kotak 5 dalam Standar ini).

Bagian ini menjelaskan empat langkah yang sebaiknya diikuti oleh organisasi dalam menentukan topik material mereka (lihat Gambar 2). Mengikuti langkah-langkah dalam bagian ini akan membantu organisasi dalam menentukan topik material dan melaporkan pengungkapan dalam bagian 2 dari Standar ini. Langkah-langkah tersebut menyediakan panduan dan bukan merupakan persyaratan.

Gambar 2. Proses untuk menentukan topik material

Topik material Melibatkan berbagai

pemangku kepentingan dan pakar yang relevan

Menguji topik material dengan pakar dan pengguna informasi Mengidentifkasi dan menilai dampak

secara berkesinambungan

Menentukan topik material untuk pelaporan

Menilai signifkansi

dampak 3

Menguji topik material terhadap

topik dalam Standar Sektor Menggunakan

Standar Sektor untuk memahami

konteks sektor

Mempertimbangkan topik dan dampak yang dideskripsikan

dalam Standar Sektor 1

Mengidentifkasi dampak aktual dan potensial

2

Memprioritaskan dampak paling signifikansi untuk

pelaporan 4

Ketiga langkah pertama dalam proses untuk menentukan topik material berkaitan dengan identifikasi dan penilaian dampak yang terus-menerus oleh organisasi. Pada tahap ini, organisasi mengidentifikasi dan menilai dampak- dampak mereka secara rutin, sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, dan sembari melibatkan pemangku kepentingan dan para pakar. Langkah-langkah berkelanjutan ini memungkinkan organisasi dapat mengidentifikasi dan mengelola dampak mereka secara aktif seiring mereka berkembang dan ada organisasi baru yang muncul.

Ketiga langkah pertama dilaksanakan secara terpisah dari proses pelaporan berkelanjutan, tetapi ketiga langkah tersebut memberikan informasi untuk langkah terakhir. Dalam langkah 4, organisasi memprioritaskan dampak paling penting untuk pelaporan dan, dengan cara ini, menentukan topik material mereka.

Dalam setiap periode pelaporan, organisasi sebaiknya meninjau topik material mereka dibandingkan periode pelaporan sebelumnya untuk mengetahui perubahan-perubahan dalam dampak mereka. Perubahan dalam dampak dapat berasal dari perubahan dalam aktivitas dan hubungan bisnis organisasi. Peninjauan ini membantu

memastikan topik material mewakili dampak paling signifikan dalam setiap periode pelaporan yang baru.

Organisasi sebaiknya mendokumentasikan proses mereka dalam menentukan topik material. Hal ini termasuk mendokumentasikan pendekatan yang diambil, keputusan, asumsi, dan penilaian subjektif yang diambil, sumber yang dianalisis, serta bukti yang dikumpulkan. Catatan yang akurat membantu organisasi menjelaskan pendekatan yang mereka pilih dan melaporkan pengungkapan dalam bagian 2 dari Standar ini. Catatan mempermudah analisis dan penjaminan. Lihat prinsip Verifiabilitas dalam GRI 1 untuk informasi lebih lanjut.

(8)

Pendekatan untuk setiap langkah akan berbeda-beda sesuai dengan keadaan spesifik dari organisasi, seperti model bisnis; sektor; konteks geografis, budaya, dan hukum; struktur kepemilikan; dan sifat dampak-dampak tersebut. Dengan mempertimbangkan keadaan spesifik ini, langkah-langkah yang ditempuh sebaiknya sistematis, terdokumentasi, dapat direplikasi, dan digunakan secara konsisten dalam setiap periode pelaporan. Organisasi sebaiknya mendokumentasikan setiap perubahan dalam pendekatan mereka dengan alasan terjadinya perubahan tersebut dan implikasinya.

Badan tata kelola tertinggi organisasi sebaiknya mengawasi proses serta meninjau dan menyetujui topik material.

Jika organisasi tidak memiliki badan tata kelola tertinggi, eksekutif senior atau kelompok eksekutif senior sebaiknya mengawasi proses serta meninjau dan menyetujui topik material.

Kotak 1. Input untuk pelaporan keuangan dan penciptaan nilai

Topik material dan dampak-dampak yang telah ditentukan melalui proses ini memberikan informasi untuk pelaporan keuangan dan penciptaan nilai. Topik material dan dampak tersebut menyediakan masukan penting untuk mengidentifikasi risiko dan peluang yang terkait dengan dampak organisasi serta untuk penilaian keuangan. Selanjutnya, hal ini membantu dalam mengambil pertimbangan materialitas keuangan tentang apa yang perlu diidentifikasi dalam laporan keuangan.

Meskipun sebagian besar, jika tidak semua, dampak yang telah diidentifikasi melalui proses ini pada akhirnya akan menjadi material secara finansial, pelaporan keberlanjutan juga sangat relevan dengan sendirinya sebagai kegiatan kepentingan publik dan independen dari pertimbangan implikasi finansial. Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menyusun laporan tentang semua topik material yang telah mereka tentukan dengan menggunakan Standar GRI. Topik material ini tidak dapat dikurangi prioritasnya dengan alasan tidak menjadi pertimbangan finansial dari organisasi.

Lihat Kotak 1 dalam GRI 1: Landasan 2021 untuk informasi lebih lanjut tentang pelaporan keberlanjutan serta pelaporan keuangan dan penciptaan nilai.

Bagian berikut menjelaskan empat langkah dalam menentukan topik material secara lebih terperinci.

Langkah 1. Memahami konteks organisasi

Dalam langkah ini, organisasi membuat ikhtisar awal tingkat tinggi tentang aktivitas dan hubungan bisnis, konteks keberlanjutan terjadinya hal ini, dan ikhtisar pemangku kepentingan. Hai ini memberikan informasi penting bagi organisasi untuk mengidentifikasi dampak.

Organisasi sebaiknya mempertimbangkan aktivitas, hubungan bisnis, pemangku kepentingan, dan konteks keberlanjutan dari semua entitas yang mereka kendalikan atau punya kepentingan atasnya (misalnya, anak perusahaan, usaha bersama, afiliasi), termasuk kepentingan minoritas.

Departemen dan fungsi terkait dalam organisasi yang dapat membantu dalam langkah ini meliputi departemen atau fungsi komunikasi, sumber daya manusia, hubungan investor, legal dan kepatuhan, pemasaran dan penjualan, pengadaan, dan pengembangan produk. Standar Sektor GRI menjelaskan konteks sektor dan dapat bermanfaat dalam langkah ini.

Aktivitas

Organisasi sebaiknya mempertimbangkan hal berikut terkait dengan aktivitas mereka:

Tujuan, pernyataan nilai atau misi, model bisnis, dan strategi perusahaan.

Jenis aktivitas yang dilakukan organisasi (misalnya, penjualan, pemasaran, manufaktur, distribusi) dan lokasi geografis dari aktivitas ini.

Jenis produk dan layanan yang ditawarkan organisasi dan pasar yang dilayani organisasi (yaitu, jenis pelanggan dan penerima manfaat yang menjadi sasaran, dan lokasi geografis tempat produk dan layanan ditawarkan).

Sektor di mana organisasi aktif dan karakteristik sektor tersebut (misalnya, apakah mereka melibatkan pekerjaan informal, apakah mereka banyak menggunakan tenaga kerja atau sumber daya).

Jumlah karyawan, termasuk apakah mereka bekerja penuh waktu, purna waktu, tanpa jaminan jam, permanen atau sementara, serta karakteristik demografi karyawan (misalnya, usia, jenis kelamin, lokasi geografis).

(9)

Hubungan bisnis

Hubungan bisnis organisasi mencakup hubungan dengan mitra bisnis, entitas dalam rantai nilai mereka (termasuk entitas di luar level pertama), dan setiap entitas lain yang berhubungan secara langsung dengan operasi, produk, atau layanan organisasi. Organisasi sebaiknya mempertimbangkan hal berikut terkait dengan hubungan bisnis mereka:

Konteks keberlanjutan

Organisasi sebaiknya mempertimbangkan hal berikut untuk memahami konteks keberlanjutan aktivitas dan hubungan bisnis mereka:

Lihat Prinsip Keberlanjutan dalam GRI 1: Landasan 2021 untuk informasi lebih lanjut.

Pemangku kepentingan

Organisasi sebaiknya mengidentifikasi siapa saja pemangku kepentingan mereka di seluruh kegiatan dan

hubungan bisnis mereka serta melibatkan mereka untuk membantu mengidentifikasi dampak-dampak organisasi.

Organisasi sebaiknya menyusun daftar lengkap individu dan kelompok yang kepentingannya terpengaruh atau dapat terpengaruh oleh kegiatan organisasi. Kategori umum pemangku kepentingan untuk organisasi adalah mitra bisnis, organisasi masyarakat sipil, konsumen, pelanggan, karyawanlangsung dan pekerja lainnya, pemerintah, masyarakat lokal, organisasi nonpemerintah, pemegang saham dan investor lain, pemasok, serikat pekerja, dan kelompok rentan. Organisasi selanjutnya dapat membedakan antara individu dan kelompok yang hak asasi manusia mereka terpengaruh atau dapat terpengaruh, serta individu dan kelompok yang memiliki kepentingan lain.

Ketika mengidentifikasi pemangku kepentingan, organisasi sebaiknya memastikan mereka mengidentifikasi individu atau kelompok yang tidak memiliki hubungan langsung dengan mereka (misalnya, pekerja dalam rantai pasokan atau masyarakat lokal yang tinggal berjauhan dari operasi organisasi) dan mereka yang tidak dapat mengungkapkan pendapat mereka (misalnya, generasi masa depan) tetapi memiliki kepentingan yang terpengaruh atau dapat terpengaruh oleh aktivitas organisasi.

Berbagai daftar pemangku kepentingan dapat dibuat sesuai dengan aktivitas, proyek, produk atau layanan, atau klasifikasi lain yang sesuai untuk organisasi.

Lihat Kotak 2 dalam Standar ini untuk mendapatkan informasi tentang keterlibatan dengan pemangku kepentingan.

Langkah 2. Mengidentifikasi dampak aktual dan potensial

Dalam langkah ini, organisasi mengidentifikasi dampak aktual dan potensial mereka terhadap ekonomi, lingkungan, Jumlah pekerja yang bukan karyawan dan yang pekerjaannya dikendalikan oleh organisasi, termasuk jenis pekerja (misalnya, pekerja agensi, kontraktor, pekerja mandiri, sukarelawan), hubungan kontrak dengan organisasi (yaitu, apakah organisasi melibatkan pekerja ini secara langsung atau tidak langsung melalui pihak ketiga), dan pekerjaan yang mereka lakukan.

Jenis hubungan bisnis yang mereka miliki (misalnya, usaha bersama, pemasok, penerima waralaba).

Jenis aktivitas yang dilakukan oleh mereka yang memiliki hubungan bisnis dengan organisasi (misalnya, memproduksi produk organisasi, menyediakan layanan keamanan untuk organisasi).

Sifat hubungan bisnis (misalnya, apakah hubungan bisnis berdasarkan pada kontrak jangka panjang atau jangka pendek, apakah hubungan tersebut berdasarkan pada proyek atau acara tertentu).

Lokasi geografis tempat aktivitas hubungan bisnis terjadi.

Tantangan ekonomi, lingkungan hak asasi manusia, dan sosial lainnya di tingkat lokal, regional, dan global yang berkaitan dengan sektor organisasi dan lokasi geografis aktivitas dan hubungan bisnis organisasi (misalnya, perubahan iklim, kurangnya penegakan hukum, kemiskinan, konflik politik, kelangkaan air).

Tanggung jawab organisasi mengenai instrumen resmi antarpemerintah yang diharapkan dipatuhi oleh organisasi.

Contoh instrumen tersebut meliputi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Deklarasi Tripartit tentang Prinsip- Prinsip mengenai Perusahaan Multinasional dan Kebijakan Sosial [1]; Panduan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi [OECD] untuk Perusahaan Multinasional [3]; Prinsip-Prinsip Panduan tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia Konvensi Kerangka Kerja tentang Perubahan Iklim (FCCC) Perjanjian Paris [4]; Prinsip-Prinsip Penuntun PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia [5]; dan Perserikatan Bangsa-bangsa, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia [6].

Tanggung jawab organisasi mengenai undang-undang dan peraturan yang diharapkan dipatuhi oleh organisasi.

(10)

dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia, di seluruh aktivitas dan hubungan bisnis organisasi. Dampak aktual merupakan dampak yang sudah benar-benar terjadi, dan dampak potensial adalah dampak yang dapat terjadi tetapi belum terjadi. Dampak-dampak ini meliputi dampak negatif dan positif, dampak jangka pendek dan jangka panjang, dampak yang diharapkan dan tidak diharapkan, serta dampak yang dapat dipulihkan dan tidak dapat dipulihkan.

Untuk mengetahui dampak-dampak tersebut, organisasi dapat menggunakan informasi dari berbagai sumber.

Organisasi dapat menggunakan informasi dari penilaian dampak yang dilakukan mereka sendiri atau pihak ketiga terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia. Organisasi juga dapat menggunakan informasi dari ulasan hukum, sistem manajemen kepatuhan antikorupsi, audit keuangan, pemeriksaan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, serta dokumen pemegang saham. Organisasi juga dapat menggunakan informasi dari penilaian hubungan bisnis lainnya yang relevan yang dilaksanakan oleh organisasi atau oleh inisiatif industri atau multipemangku kepentingan.

Informasi lebih lanjut dapat dikumpulkan melalui mekanisme pengaduan yang telah ditetapkan oleh organisasi itu sendiri, atau yang telah ditetapkan oleh organisasi lain. Organisasi juga dapat menggunakan informasi dari sistem manajemen risiko perusahaan yang lebih luas, dengan syarat bahwa sistem ini mengidentifikasi dampak organisasi terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, selain mengidentifikasi risiko untuk organisasi itu sendiri.

Organisasi juga dapat menggunakan informasi dari sumber eksternal, seperti organisasi yang bergerak di bidang berita dan organisasi masyarakat sipil.

Selain itu, organisasi sebaiknya berusaha memahami masalah pemangku kepentingan (lihat Kotak 2 dalam Standar ini) dan berkonsultasi dengan pakar internal dan eksternal, seperti organisasi masyarakat sipil atau akademisi.

(11)

Kotak 2. Melibatkan pemangku kepentingan dan pakar yang relevan

Organisasi sebaiknya berusaha memahami masalah pemangku kepentingan mereka dengan bertanya secara langsung kepada mereka dengan cara yang mempertimbangkan bahasa dan potensi hambatan lainnya (misalnya, perbedaan budaya, ketidakseimbangan jenis kelamin dan kekuasaan, pengkotak-kotakan dalam masyarakat). Mengidentifikasi dan menyingkirkan potensi hambatan itu perlu untuk memastikan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan berjalan efektif.

Keterlibatan dengan kelompok berisiko atau kelompok rentan mungkin memerlukan pendekatan khusus dan perhatian khusus. Pendekatan tersebut termasuk menyingkirkan hambatan sosial yang membatasi

partisipasi perempuan dalam forum publik dan menyingkirkan hambatan fisik sehingga masyarakat yang lokasinya jauh dapat menghadiri pertemuan.

Organisasi sebaiknya menghormati hak asasi manusia semua pemangku kepentingan dan individu lain yang terlibat dengan mereka (misalnya, hak privasi mereka, kebebasan berpendapat, serta demo dan protes damai) dan organisasi sebaiknya melindungi mereka dari tindakan pembalasan (yaitu, tidak dendam karena mengajukan keluhan atau masalah).

Keterlibatan yang luas dengan pemangku kepentingan bisa saja tidak memungkinkan dalam kasus yang melibatkan banyak pemangku kepentingan atau dalam kasus yang melibatkan dampak yang menimbulkan bahaya kolektif. Misalnya, keterlibatan luas bisa saja tidak memungkinkan dalam kasus korupsi, yang secara kolektif membahayakan populasi yurisdiksi tempat terjadinya korupsi atau emisi gas rumah kaca (GHG), yang berkontribusi pada bahaya kolektif lintas batas.

Dalam kasus tersebut, organisasi dapat melibatkan perwakilan pemangku kepentingan yang kredibel atau perwakilan organisasi (misalnya, organisasi nonpemerintah, serikat pekerja). Hal ini juga relevan dalam kasus ketika melibatkan individu dapat melemahkan hak-hak tertentu atau kepentingan kolektif. Misalnya, saat mempertimbangkan keputusan untuk merestrukturisasi atau menutup pabrik, mungkin penting bagi

organisasi untuk melibatkan serikat pekerja untuk meminimalkan dampak pekerjaan dari keputusan tersebut.

Dalam kasus tersebut, melibatkan masing-masing pekerja dapat melemahkan hak pekerja untuk membentuk atau bergabung dengan serikat pekerja dan untuk melakukan tawar-menawar secara kolektif.

Besarnya dampak terhadap pemangku kepentingan dapat memberikan masukan tentang tingkat keterlibatan.

Organisasi sebaiknya memprioritaskan pemangku kepentingan yang paling terpengaruh atau berpotensi terpengaruh untuk dilibatkan.

Apabila diskusi secara langsung tidak memungkinkan, organisasi sebaiknya mempertimbangan alternatif yang masuk akal, seperti berkonsultasi dengan pakar independen yang kredibel, seperti lembaga hak asasi manusia nasional, pembela HAM dan lingkungan, serikat pekerja, dan anggota lain masyarakat sipil.

Lihat rujukan [2] dan [5] dalam Daftar Pustaka.

Dalam langkah ini, organisasi perlu mempertimbangkan dampak-dampak yang dijelaskan dalam Standar Sektor GRI yang berlaku dan menentukan apakah dampak-dampak ini berlaku untuk organisasi.

Dampak-dampak dapat berubah seiring berjalannya waktu karena berkembangnya aktivitas, hubungan bisnis, dan konteks organisasi. Aktivitas baru, hubungan bisnis baru, dan perubahan besar dalam operasi atau konteks operasi (misalnya, masuk pasar baru, peluncuran produk, perubahan kebijakan, tantangan lebih luas pada organisasi) dapat menyebabkan perubahan dalam dampak organisasi. Untuk alasan ini, organisasi sebaiknya menilai konteks mereka dan mengidentifikasi dampak-dampak mereka secara terus-menerus.

Dalam kasus ketika organisasi memiliki sumber daya yang terbatas untuk mengidentifikasi dampak-dampak mereka, organisasi sebaiknya mengidentifikasi terlebih dahulu dampak negatifnya, sebelum mengidentifikasi dampak positif, untuk memastikan bahwa organisasi mematuhi undang-undang, peraturan, dan instrumen resmi antarpemerintah yang berlaku.

Mengidentifikasi dampak negatif

Mengidentifikasi dampak aktual dan potensial yang negatif yang dihadirkan atau dapat dihadirkan oleh organisasi merupakan langkah pertama uji tuntas. Organisasi sebaiknya mempertimbangkan dampak aktual dan potensial yang disebabkan atau ikut disebabkan oleh mereka melalui aktivitas mereka, serta dampak aktual dan potensial yang berkaitan secara langsung dengan operasi, produk, atau layanan melalui hubungan bisnis(lihat Kotak 3 dalam

(12)

Standar ini).

Dalam beberapa kasus, organisasi mungkin tidak dapat mengidentifikasi dampak negatif aktual dan potensial di seluruh aktivitas dan hubungan bisnis mereka. Hal ini bisa saja, misalnya, karena organisasi memiliki beragam atau beberapa operasi global atau karena rantai nilainya mencakup banyak entitas. Dalam kasus tersebut, organisasi dapat melaksanakan penilaian awal atau pelingkupan (scoping) untuk mengidentifikasi area umum di seluruh aktivitas dan hubungan bisnis mereka (misalnya, lini produk, pemasok yang berada di lokasi geografis tertentu) di mana dampak negatif kemungkinan besar muncul dan bersifat signifikan. Setelah organisasi melaksanakan penilaian awal atau pelingkupan, mereka dapat mengidentifikasi serta menilai dampak aktual dan potensial untuk area umum ini.

Sebagai bagian dari penilaian awal atau pelingkupan, organisasi sebaiknya mempertimbangkan dampak yang biasanya berkaitan dengan sektor, produk, lokasi geografis mereka, atau dengan organisasi tertentu (yaitu, dampak yang berkaitan dengan entitas tertentu organisasi, atau dengan entitas yang memiliki hubungan bisnis dengan organisasi, seperti sejarah perilaku buruk dalam menghormati hak asasi manusia). Organisasi sebaiknya juga mempertimbangkan dampak-dampak yang telah terkait dengan mereka atau yang mereka tahu kemungkinan akan berkaitan dengan mereka. Selain Standar Sektor GRI, organisasi dapat menggunakan Panduan Uji Tuntas

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab [2]

serta panduan sektoral OECD dalam uji tuntas [13] untuk informasi tentang dampak-dampak yang biasanya berkaitan dengan sektor, produk, lokasi geografis, dan organisasi tertentu. Organisasi juga dapat menggunakan laporan dari pemerintah, lembaga lingkungan hidup, organisasi internasional, organisasi masyarakat sipil, perwakilan pekerja dan serikat pekerja, lembaga HAM nasional, media, atau pakar lainnya.

Lihat rujukan [2], [3], [5] dan [13] dalam Daftar Pustaka.

Kotak 3. Menyebabkan, berkontribusi, atau terkait secara langsung dengan dampak negatif

Sebuah organisasi ‘menyebabkan’ dampak negatif jika aktivitas mereka sendiri menyebabkan dampak tersebut, misalnya, jika organisasi memberi suap kepada pejabat publik luar negeri, atau jika mereka mengambil air dari akuifer yang langka air tanpa mengisi kembali level airnya.

Sebuah organisasi ‘berkontribusi pada’ dampak negatif jika aktivitas mereka mengarahkan, memfasilitasi, atau mendukung entitas lain menyebabkan dampak tersebut. Organisasi juga dapat berkontribusi pada dampak negatif jika aktivitas mereka digabungkan dengan aktivitas entitas lain menyebabkan dampak tersebut. Misalnya, jika organisasi menetapkan waktu pemenuhan pesanan bagi pemasok untuk

mengirimkan produk, meskipun tahu dari pengalaman bahwa waktu produksi ini tidak mungkin dilakukan, hal dapat menyebabkan waktu lembur yang berlebihan bagi pekerja pemasok. Dalam kasus tersebut, organisasi dapat berkontribusi memberikan dampak negatif terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja ini.

Organisasi dapat menyebabkan atau berkontribusi pada dampak negatif melalui tindakannya serta karena gagal melakukan tindakan (misalnya, gagal mencegah atau memitigasi potensi dampak negatif).

Meskipun organisasi tidak menyebabkan atau berkontribusi pada dampak negatif, operasi, produk, atau layanan mereka dampak ‘berhubungan secara langsung dengan’ dampak negatif karena hubungan bisnis mereka. Misalnya, jika organisasi menggunakan kobalt dalam produknya yang ditambang menggunakan tenaga kerja anak, dampak negatif (yaitu tenaga kerja anak) berhubungan secara langsung dengan produk organisasi melalui beberapa tingkatan hubungan bisnis dalam rantai pasokan mereka (misalnya, melalui pabrik peleburan dan pedagang mineral, hingga perusahaan pertambangan yang menggunakan tenaga kerja anak), meskipun organisasi tidak menyebabkan atau berkontribusi pada dampak negatif mereka sendiri.

'Hubungan langsung' tidak ditentukan oleh hubungan antara organisasi dan entitas lain, dan karena itu tidak terbatas pada hubungan kontrak langsung, seperti 'pengadaan langsung'.

Cara organisasi terlibat dengan dampak negatif menentukan bagaimana mereka sebaiknya menangani dampak-dampak tersebut dan apakah mereka punya tanggung jawab untuk memberikan atau bekerja sama dalam tindakan pemulihan (lihat bagian 2.3 dalam GRI 1: Landasan 2021).

Lihat rujukan [2] dan [5] dalam Daftar Pustaka. Untuk panduan tambahan dan contoh, lihat Panduan Uji Tuntas Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk Perilaku Bisnis yang Bertanggung Jawab [2], halaman 70-72, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa’ (UN) The Corporate Responsibility to Respect Human Rights: An Interpretive Guide [15], halaman 15-18.

(13)

Mengidentifikasi dampak positif

Untuk mengidentifikasi dampak positif aktual dan potensial, organisasi sebaiknya menilai cara mereka berkontribusi atau dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan melalui aktivitas mereka, misalnya, melalui produk, layanan, investasi, praktik pengadaan, praktik pemekerjaan, atau pembayaran pajak mereka. Ini juga termasuk menilai bagaimana organisasi dapat menyusun tujuan, model bisnis, dan strategi mereka untuk menghadirkan dampak positif yang berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan.

Contoh dampak positif adalah organisasi yang menerapkan tindakan yang menurunkan biaya energi tak terbarukan untuk pelanggan, sehingga memungkinkan lebih banyak pelanggan beralih penggunaan dari energi tak terbarukan menuju energi terbarukan, dan karena itu turut berkontribusi untuk memitigasi perubahan iklim. Contoh lain adalah organisasi yang memilih area dengan tingkat pengangguran tinggi untuk membuka pabrik baru sehingga mereka dapat mempekerjakan dan melatih anggota masyarakat lokal yang menganggur, dan dengan cara ini, mereka berkontribusi untuk menghadirkan lapangan pekerjaan dan pembangunan masyarakat.

Organisasi sebaiknya mempertimbangkan dampak negatif yang dapat berasal dari aktivitas yang ditujukan untuk memberikan kontribusi positif pada pembangunan berkelanjutan. Dampak negatif tidak dapat dinetralkan oleh dampak positif. Misalnya, instalasi energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan suatu daerah pada bahan bakar fosil dan menghadirkan energi ke masyarakat yang terbelakang. Sekalipun demikian, jika instalasi tersebut membuat masyarakat pribumi lokal berpindah dari tanah atau wilayah mereka tanpa persetujuan mereka, dampak negatif ini sebaiknya ditangani dan dipulihkan, dan itu tidak dapat dinetralkan dengan dampak positif.

Langkah 3. Menilai signifikansi dampak

Organisasi dapat mengidentifikasi banyak dampak aktual dan potensial. Dalam tahap ini, organisasi menilai signifikansi dampak yang sudah teridentifikasi tersebut untuk memprioritaskan. Prioritisasi memungkinkan organisasi mengambil tindakan untuk menangani dampak dan menentukan topik material untuk pelaporan.

Memprioritaskan dampak untuk mengambil tindakan adalah pilihan tepat apabila tidak mungkin untuk mengatasi semua dampak sekaligus.

Untuk menilai signifikansi dampak diperlukan analisis kuantitatif dan kualitatif. Seberapa signifikan suatu dampak akan spesifik terhadap organisasi tersebut dan akan dipengaruhi oleh sektor tempat organisasi beroperasi, dan hubungan bisnis, di antara faktor lainnya. Dalam beberapa kasus, hal ini mungkin membutuhkan keputusan yang subjektif. Organisasi sebaiknya berkonsultasi dengan pemangku kepentinganterkait (lihat Kotak 2 dalam Standar ini) dan mempertimbangkan hubungan bisnis untuk menilai signifikansi dampak mereka. Organisasi sebaiknya juga berkonsultasi dengan pakar internal atau eksternal yang relevan.

Menilai signifikansi dampak negatif

Signifikansi dampak negatif aktual ditentukan oleh tingkat keparahan dampak tersebut. Signifikansi dari potensi dampak negatif ditentukan oleh tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya.

Kombinasi tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya dampak negatif dapat disebut sebagai ‘risiko’. Penilaian signifikansi dampak dapat dimasukkan ke dalam sistem manajemen risiko perusahaan yang lebih luas, dengan syarat bahwa sistem ini menilai dampak yang ditimbulkan perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, selain menilai risiko untuk organisasi itu sendiri.

Tingkat keparahan

Tingkat keparahan dari dampak negatif aktual dan potensial ditentukan oleh beberapa karakteristik berikut:

Skala dampak negatif (yaitu, seberapa berat dampak negatif tersebut) dapat tergantung pada apakah dampak tersebut menyebabkan ketidakpatuhan terhadap undang-undang dan peraturan atau instrumen resmi antarpemerintah yang seharusnya dipatuhi oleh organisasi. Misalnya, jika dampak negatif menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia atau hak dasar di tempat kerja atau menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (GHG) yang harus dicapai berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Perubahan Iklim (FCCC), Perjanjian Paris [4], maka skala dampak ini dapat dianggap lebih besar.

Skala: seberapa berat dampak tersebut.

Ruang lingkup: seberapa luas dampak tersebut, misalnya, jumlah individu yang terpengaruh atau seberapa luas kerusakan lingkungan.

Karakter yang tidak dapat diperbaiki: seberapa sulit untuk menangkal atau memperbaiki kerusakan yang terjadi.

(14)

Skala dampak negatif juga dapat bergantung pada konteks tempat terjadinya dampak tersebut. Misalnya, skala dampak pengambilan air organisasi dapat bergantung pada area tempat air tersebut diambil. Skalanya akan lebih besar jika air diambil dari area yang terpengaruh oleh kelangkaan air, dibandingkan area yang memiliki sumber daya air melimpah untuk memenuhi kebutuhan pengguna air dan ekosistem.

Salah satu dari ketiga karakteristik tersebut (skala, ruang lingkup, dan karakter yang tidak dapat diperbaiki) dapat memperburuk dampak. Tetapi sering kali ketiga karakteristik ini saling berkaitan: semakin besar skalanya atau ruang lingkup dampak tersebut, semakin sulit perbaikannya.

Tingkat keparahan – dan karena itu signifikansi – dampak bukanlah konsep yang mutlak. Tingkat keparahan suatu dampak sebaiknya dinilai dalam kaitannya dengan dampak lain dari organisasi. Misalnya, organisasi sebaiknya membandingkan tingkat keparahan dampak emisi gas rumah kaca mereka dengan tingkat keparahan dampak lainnya. Organisasi tidak boleh menilai signifikansi emisi gas rumah kaca mereka dalam kaitannya dengan emisi gas rumah kaca global, karena perbandingan tersebut mengarahkan pada kesimpulan yang menyesatkan bahwa emisi organisasi menjadi tidak signifikan.

Lihat rujukan [2], [3], [4] dan [5] dalam Daftar Pustaka.

Kemungkinan terjadinya

Kemungkinan terjadinya potensi negatif dampak diartikan sebagai peluang terjadinya dampak tersebut.

Kemungkinan terjadinya suatu dampak dapat diukur atau ditentukan secara kualitatif atau kuantitatif. Hal ini dapat dijelaskan menggunakan istilah umum (misalnya, sangat mungkin, mungkin) atau secara matematis menggunakan probabilitas (misalnya, 10 dalam 100, 10%) atau frekuensi selama periode waktu tertentu (misalnya, sekali tiap tiga tahun).

Hak asasi manusia

Dalam kasus potensi negatif dampak terhadap hak asasi manusia, tingkat keparahan dampak lebih diprioritaskan dibandingkan kemungkinan terjadinya. Misalnya, organisasi yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir dapat memprioritaskan potensi dampak terkait hilangnya nyawa jika terjadi bencana alam yang memengaruhi pembangkit listrik, meskipun kemungkinan terjadinya bencana alam lebih kecil dibandingkan insiden lainnya.

Tingkat keparahan dampak negatif terhadap hak asasi manusia tidak terbatas pada bahaya fisik. Dampak yang sangat parah dapat terjadi terkait dengan hak asasi manusia manapun. Misalnya, mengganggu, merusak, atau menghancurkan tempat suci tanpa berkonsultasi atau memperoleh kesepakatan dengan orang-orang yang menganggap penting tempat tersebut secara spiritual dapat memiliki dampak yang sangat parah terhadap hak budaya mereka.

Ketika memprioritaskan jenis dampak lainnya, seperti potensi negatif dampak lingkungan, organisasi juga dapat memilih untuk memprioritaskan dampak negatif yang sangat parah meskipun kemungkinan terjadinya lebih kecil.

Menilai signifikansi dampak positif

Signifikansi dampak positif aktual ditentukan oleh skala dan ruang lingkup dampak tersebut. Signifikansi potensi positif dampak ditentukan oleh skala dan ruang lingkup serta kemungkinan terjadinya dampak.

Skala dan ruang lingkup

Dalam kasus dampak positif, skala suatu dampak diartikan sebagai seberapa menguntungkan atau dapat

menguntungkan dari dampak tersebut, dan ruang lingkup berarti seberapa luas dampak tersebut (misalnya, jumlah individu atau seberapa luas sumber daya lingkungan yang terpengaruh atau dapat terpengaruh secara positif).

Kemungkinan terjadinya

Kemungkinan terjadinya potensi positif dampak diartikan sebagai peluang terjadinya dampak tersebut.

Kemungkinan terjadinya suatu dampak dapat diukur atau ditentukan secara kualitatif atau kuantitatif. Hal ini dapat dijelaskan menggunakan istilah umum (misalnya, sangat mungkin, mungkin) atau secara matematis menggunakan probabilitas (misalnya, 10 dalam 100, 10%) atau frekuensi selama periode waktu tertentu (misalnya, sekali tiap tiga tahun).

Langkah 4. Memprioritaskan dampak paling signifikan untuk pelaporan

Langkah ini, untuk menentukan topik material untuk pelaporan, organisasi memprioritaskan dampak mereka

1

2

1 International Organization for Standardization (ISO), ISO 31000:2018 Risk management – Guidelines, 2018.

2 Ibidem.

(15)

berdasarkan pada signifikansinya.

Menentapkan ambang batas untuk menentukan topik mana yang bersifat material

Signifikansi dari suatu dampak dinilai berkaitan dengan dampak lain yang telah diidentifikasi organisasi. Organisasi sebaiknya menyusun dampak mereka dari yang paling signifikan ke yang tidak signifikan serta menentukan titik batas atau ambang batas untuk menentukan dampak mana yang menjadi fokus dalam pelaporan. Organisasi sebaiknya mendokumentasikan ambang batas ini. Untuk mempermudah proses prioritisasi, organisasi sebaiknya mengelompokkan dampak-dampak tersebut ke dalam topik-topik (lihat Kotak 4 dalam Standar ini).

Misalnya, saat menetapkan ambang batas, organisasi pertama-tama mengelompokkan dampak-dampak menjadi sejumlah topik dan memberikan peringkat, berdasarkan signifikansi dampak, dari prioritas tertinggi hingga terendah.

Kemudian, organisasi menentukan berapa banyak topik yang akan mereka laporkan, dimulai dari topik yang memiliki prioritas tertinggi. Penetapan ambang batas menjadi keputusan organisasi. Untuk transparansi, organisasi dapat memberikan gambaran visual prioritisasi mereka yang menunjukkan daftar awal topik yang telah mereka identifikasi dan ambang batas yang telah mereka tetapkan untuk pelaporan.

Signifikansi suatu dampak merupakan kriteria tunggal untuk menentukan apakah suatu topik bersifat material untuk dilaporkan. Organisasi tidak dapat menggunakan kesulitan dalam membuat laporan dalam suatu topik atau fakta bahwa mereka belum mengelola topik tersebut sebagai kriteria untuk menentukan apakah akan membuat laporan dalam topik tersebut atau tidak. Dalam kasus di mana organisasi tidak mengelola topik material, mereka dapat melaporkan alasan tidak melakukannya atau rencana untuk mengelola topik agar mematuhi persyaratan dalam Pengungkapan 3-3 Manajemen topik material dalam Standar ini.

Meskipun beberapa topik dapat mencakup dampak positif dan negatif, tidak selalu memungkinkan untuk

membandingkan keduanya. Selain itu, dampak negatif tidak dapat dinetralkan oleh dampak positif. Oleh karena itu, organisasi sebaiknya memprioritaskan dampak negatif secara terpisah dari dampak positif.

Meskipun organisasi tidak memprioritaskan dampak negatif aktual atau potensial untuk pelaporan, mereka masih bertanggung jawab untuk menangani dampak tersebut sesuai dengan undang-undang, peraturan, atau instrumen resmi antarpemerintah yang berlaku. Lihat bagian 2.3 dalam GRI 1: Landasan 2021 untuk informasi lebih lanjut.

Kotak 4. Mengelompokkan dampak ke dalam topik-topik

Mengelompokkan dampak menjadi beberapa topik, seperti 'air dan efluen', membantu organisasi melaporkan beberapa dampak secara terpadu yang terkait dengan topik yang sama.

Organisasi dapat mengelompokkan dampak menjadi beberapa topik sesuai dengan kategori umum yang terkait dengan aktivitas bisnis, kategori pemangku kepentingan, jenis hubungan bisnis, atau sumber daya ekonomi atau lingkungan. Misalnya, aktivitas suatu organisasi menghasilkan polusi air, yang menyebabkan dampak negatif terhadap ekosistem dan akses masyarakat lokal ke air minum yang aman. Organisasi dapat mengelompokkan dampak ini menjadi topik 'air dan efluen' karena kedua hal itu terkait dengan penggunaan air.

Organisasi dapat merujuk ke topik-topik dalam Standar Topik GRI dan Standar Sektor GRI. Topik-topik ini memberikan rujukan yang bermanfaat untuk memahami rentang dampak yang dapat dicakup dalam setiap topik. Untuk dampak atau topik yang tidak dicakup oleh Standar GRI, organisasi dapat merujuk ke sumber lain, seperti instrumen resmi antarpemerintah atau standar industri.

Menguji topik material

Organisasi sebaiknya menguji pemilihan topik material mereka terhadap topik-topik yang ada dalam Standar Sektor GRI yang berlaku. Ini membantu organisasi memastikan bahwa mereka tidak melupakan setiap topik yang

kemungkinan bersifat material untuk sektor mereka.

Organisasi sebaiknya juga menguji pemilihan topik material mereka dengan calon pengguna informasi dan pakar yang memahami organisasi tersebut atau sektor mereka serta memiliki wawasan dalam satu atau beberapa topik material. Ini dapat membantu organisasi memvalidasi ambang batas yang telah mereka tetapkan untuk menentukan topik mana yang bersifat material yang akan dilaporkan. Contoh pakar yang dapat dimintai konsultasi oleh organisasi adalah akademisi, konsultan, investor, pengacara, lembaga nasional, dan organisasi nonpemerintah.

Organisasi sebaiknya mencari penjaminan eksternal untuk menilai kualitas dan kredibilitas proses mereka dalam menentukan topik material. Lihat bagian 5.2 dalam GRI 1 untuk informasi lebih lanjut tentang pencarian penjaminan

(16)

eksternal.

Proses pengujian ini menghasilkan daftar topik material organisasi.

Persetujuan topik material

Badan tata kelola tertinggi organisasi sebaiknya meninjau dan menyetujui daftar topik material. Jika badan seperti itu tidak ada, daftar tersebut sebaiknya disetujui oleh eksekutif senior atau kelompok eksekutif senior dalam organisasi.

Menentukan apa yang akan dilaporkan untuk setiap topik material

Setelah organisasi menentukan topik material, mereka perlu menentukan apa yang akan dilaporkan untuk setiap topik material. Lihat Persyaratan 4 dan Persyaratan 5 dalam GRI 1 untuk mengetahui informasi tentang cara membuat laporan dalam topik material.

Kotak 5. Menggunakan Standar Sektor GRI untuk menentukan topik material

Standar Sektor GRI memberikan informasi untuk organisasi mengenai mana yang berpotensi menjadi topik material mereka. Topik-topik telah diidentifikasi berdasarkan pada dampak paling signifikan dari sektor, menggunakan keahlian beberapa pemangku kepentingan, instrumen resmi antarpemerintah, dan bukti relevan lainnya.

Organisasi diwajibkan untuk menggunakan Standar Sektor yang berlaku saat menentukan topik material mereka (lihat Persyaratan 3-b dalam GRI: Landasan 2021). Menggunakan Standar Sektor bukan sebagai pengganti untuk proses dalam menentukan topik material, tetapi sebagai bantuan. Organisasi masih perlu mempertimbangkan keadaan spesifik mereka sendiri saat menentukan topik material.

Organisasi diwajibkan untuk meninjau setiap topik yang dideskripsikan pada Standar Sektor yang berlaku dan menentukan apakah itu adalah topik material untuk organisasi.

Bisa jadi ada kasus di mana topik yang disertakan dalam Standar Sektor yang berlaku tidak bersifat material untuk perusahaan. Ini mungkin karena organisasi menilai dampak tertentu yang dicakup topik tidak ada. Ini mungkin juga karena, dibandingkan dampak lain organisasi, dampak yang dicakup oleh topik bukan merupakan yang paling signifikan.

Misalnya, organisasi dalam sektor minyak dan gas diwajibkan untuk menggunakan GRI 11: Sektor Minyak dan Gas 2021 saat menentukan topik material mereka. Salah satu topik yang dicakup dalam Standar Sektor ini adalah hak atas tanah dan sumber daya. Proyek minyak dan gas sering membutuhkan lahan untuk kepentingan operasi, rute akses, dan distribusi. Hal ini dapat menimbulkan dampak seperti penggusuran tempat tinggal masyarakat lokal secara terpaksa, yang dapat melibatkan pemindahan fisik dan pemindahan ekonomi sehingga mereka kehilangan akses ke sumber daya. Sekalipun demikian, jika proyek minyak dan gas organisasi tidak menghasilkan dampak-dampak ini dan tidak akan menghasilkan dampak-dampak ini di masa depan, organisasi dapat menentukan bahwa topik hak atas tanah dan sumber daya bukan merupakan topik material bagi organisasi tersebut. Dalam kasus tersebut, organisasi pelapor diwajibkan untuk

menjelaskan mengapa mereka telah menentukan bahwa topik ini, yang kemungkinan bersifat material untuk organisasi dalam sektor minyak dan gas, bukanlah topik material untuk organisasi tersebut.

Jika salah satu topik yang dicantumkan dalam Standar Sektor yang berlaku telah ditentukan oleh organisasi sebagai bukan material, organisasi diwajibkan untuk mencantumkan topik tersebut dalam indeks konten GRI dan menjelaskan mengapa topik tersebut bukan material (lihat Persyaratan 3-b-ii dalam GRI 1). Penjelasan ini membantu pengguna informasi memahami mengapa organisasi telah menentukan bahwa topik tersebut yang kemungkinan bersifat material untuk sektor organisasi bukanlah bersifat material dalam kondisi khusus mereka.

Penjelasan singkat dalam indeks konten GRI tentang mengapa topik bukan bersifat material cukup untuk mematuhi Persyaratan 3-b-ii dalam GRI 1. Dalam contoh sebelumnya, organisasi dapat menjelaskan bahwa hak atas tanah dan sumber daya bukan merupakan topik material karena proyek minyak dan gas mereka yang ada berada di area tidak berpenduduk, dan tidak ada rencana untuk memulai proyek di area baru.

(17)

2. Pengungkapan dalam topik material

Pengungkapan dalam bagian ini memberikan informasi tentang topik material organisasi, cara organisasi menentukan topik-topik ini, dan cara mereka mengelola setiap topik material. Topik material adalah topik yang mencerminkan dampak organisasi yang paling signifikan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia. Bagian 1 dari Standar ini memberikan panduan tentang cara menentukan topik material dan membantu dalam memahami dan melaporkan pengungkapan dalam bagian ini.

Pengungkapan 3-1 Proses untuk menentukan topik material

Organisasi harus:

PERSYARATAN

menjelaskan proses yang telah mereka ikuti untuk menentukan topik material, termasuk:

cara organisasi mengidentifikasi dampak aktual dan potensial, negatif dan positif mereka terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia, di seluruh aktivitas dan hubungan bisnis organisasi;

i.

cara organisasi memprioritaskan dampak-dampak untuk pelaporan berdasarkan pada signifikansinya;

ii.

a.

menyebutkan para pemangku kepentingan dan pakar yang pendapat mereka telah memberikan informasi pada proses penentuan topik material.

b.

Pengungkapan ini memerlukan informasi tentang cara organisasi menentukan topik material mereka. Daftar topik material dilaporkan berdasarkan Pengungkapan 3-2 dalam Standar ini.

Organisasi diwajibkan untuk menggunakan Standar Sektor GRI yang berlaku saat menentukan topik material mereka. Jika salah satu topik yang dicantumkan dalam Standar Sektor yang berlaku telah ditentukan oleh organisasi sebagai bukan material, organisasi diwajibkan untuk mencantumkan topik tersebut dalam indeks konten GRI dan menjelaskan mengapa topik tersebut bukan material. Lihat Persyaratan 5 dan Persyaratan 7 dalam GRI 1: Landasan 2021 dan Kotak 5 dalam Standar ini untuk informasi lebih lanjut.

Jika tidak ada Standar Sektor yang berlaku, organisasi sebaiknya menjelaskan bagaimana mereka mempertimbangkan dampak yang biasanya berkaitan dengan sektor mereka, dan apakah dampak ini telah ditentukan sebagai bukan material, bersama dengan penjelasan mengapa terjadi seperti itu. Organisasi sebaiknya juga menjelaskan bagaimana mereka mempertimbangkan dampak-dampak yang biasanya berkaitan dengan produk dan lokasi geografis mereka. Lihat bagian 1 dalam Standar ini dan Standar Sektor untuk panduan tentang dampak-dampak yang biasanya berkaitan dengan sektor, produk, dan lokasi geografis.

Panduan untuk 3-1-a-i

Organisasi sebaiknya menjelaskan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dampak- dampak mereka, misalnya penilaian dampak-dampak ekonomi, lingkungan, sosial, dan hak asasi manusia, mekanisme pengaduan, atau menggunakan informasi dari sumber eksternal, seperti organisasi masyarakat sipil. Organisasi sebaiknya menjelaskan sumber dan bukti yang telah mereka gunakan untuk mengidentifikasi dampak-dampak.

Organisasi sebaiknya juga menjelaskan ruang lingkup yang telah mereka tetapkan saat mengidentifikasi dampak, misalnya, apakah mereka telah mengidentifikasi dampak jangka pendek serta jangka panjang. Organisasi sebaiknya juga menjelaskan keterbatasan atau pengecualian, misalnya, apakah mereka telah mengecualikan hubungan bisnis dari beberapa bagian tertentu dari rantai nilai mereka saat mengidentifikasi dampak-dampak tersebut.

Pengungkapan 2-12 dalam GRI 2: Pengungkapan Umum 2021 memerlukan informasi tentang peran badan tata kelola tertinggi dalam mengawasi uji tuntas organisasi dan proses lain untuk mengidentifikasi dampak-dampak organisasi terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.

PANDUAN

(18)

Panduan untuk 3-1-a-ii

Organisasi sebaiknya menjelaskan cara mereka menilai signifikansi dampak-dampak, termasuk setiap asumsi dan pertimbangan subjektif yang mereka miliki.

Signifikansi dampak negatif yang aktual ditentukan oleh tingkat keparahan dampak tersebut (skala, ruang lingkup, dan karakter yang tidak dapat diperbaiki), sementara signifikansi dampak negatif potensial ditentukan oleh tingkat keparahan dan kemungkinan terjadinya dampak tersebut. Dalam kasus potensi dampak negatif terhadap hak asasi manusia, tingkat keparahan dampak tersebut lebih diprioritaskan dibandingkan tingkat kemungkinannya.

Signifikansi dampak positif yang aktual ditentukan oleh skala dan ruang lingkup dampak tersebut, sedangkan signifikansi dampak positif potensial ditentukan oleh skala dan ruang lingkup serta kemungkinan terjadinya dampak.

Lihat bagian 1 dalam Standar ini untuk panduan lebih lanjut tentang penilaian signfikansi dampak.

Organisasi sebaiknya menjelaskan apakah mereka telah menggunakan pendekatan berbeda untuk memprioritaskan dampak, misalnya, apakah mereka telah memprioritaskan dampak negatif lingkungan potensial hanya berdasarkan tingkat keparahannya.

Organisasi sebaiknya juga menjelaskan bagaimana mereka menetapkan ambang batas untuk menentukan topik mana yang termasuk material, dan apakah mereka telah menguji pemilihan topik material dengan calon pengguna informasi dan para pakar. Organisasi diwajibkan untuk melaporkan apakah badan tata kelola tertinggi bertanggung jawab untuk meninjau dan menyetujui informasi yang dilaporkan, termasuk topik material organisasi, berdasarkan Pengungkapan 2-14 dalam GRI 2. Organisasi sebaiknya menjelaskan setiap perubahan pada pemilihan awal topik material dengan mengikuti persetujuan internal dan menguji dengan calon pengguna informasi dan para pakar.

Untuk transparansi, organisasi dapat memberikan gambaran visual prioritisasi mereka yang menunjukkan daftar awal topik yang telah mereka identifikasi dan ambang batas yang telah mereka tetapkan untuk pelaporan.

Panduan untuk 3-1-b

Persyaratan 3-1-b memungkinkan organisasi menjelaskan bagaimana keterlibatan dengan pemangku kepentingan dan pakar memberikan masukan tentang identifikasi dan penilaian dampak-dampak organisasi secara terus menerus.

Organisasi dapat melaporkan apakah dan bagaimana mereka memprioritaskan pemangku kepentingan untuk dilibatkan dan metode yang digunakan untuk melibatkan mereka. Mereka juga dapat melaporkan setiap konflik kepentingan yang muncul di antara berbagai pemangku kepentingan dan bagaimana organisasi menyelesaikan konflik kepentingan ini.

(19)

Pengungkapan 3-2 Daftar topik material

Organisasi harus:

PERSYARATAN

mencantumkan topik material ; a.

melaporkan perubahan pada daftar topik material dibandingkan dengan periode pelaporan sebelumnya.

b.

Pengungkapan ini memerlukan informasi tentang topik material organisasi. Proses dalam menentukan topik material dilaporkan berdasarkan Pengungkapan 3-1 dalam Standar ini.

Organisasi diwajibkan untuk mencantumkan topik material yang ada berdasarkan

pengungkapan dalam indeks konten GRI. Jika organisasi telah menentukan salah satu topik yang dicantumkan dalam Standar Sektor yang berlaku sebagai bukan material, berarti organisasi diwajibkan untuk mencantumkan topik tersebut dalam indeks konten dan menjelaskan mengapa topik tersebut bukan material. Lihat Persyaratan 5 dan Persyaratan 7 dalam GRI 1: Landasan 2021 untuk informasi lebih lanjut.

Panduan untuk 3-2-a

Organisasi dapat mengelompokkan topik material berdasarkan kategori yang sesuai jika ini membantu menyampaikan dampak mereka. Misalnya, organisasi dapat menunjukkan topik material mana yang mewakili dampak negatif pada hak asasi manusia.

Panduan 3-2-b

Persyaratan 3-2-b memungkinkan organisasi menjelaskan mengapa suatu topik yang mereka tentukan sebagai material dalam periode pelaporan sebelumnya sudah tidak lagi dianggap material atau mengapa topik baru ditentukan sebagai material untuk periode pelaporan saat ini.

PANDUAN

(20)

Pengungkapan 3-3 Manajemen topik material

Untuk setiap topik material yang dilaporkan berdasarkan Pengungkapan 3-2, organisasi harus:

PERSYARATAN

menjelaskan dampak aktual dan potensial, negatif dan positif mereka terhadap

ekonomi, lingkungan, dan masyarakat, termasuk dampak terhadap hak asasi manusia;

a.

melaporkan apakah organisasi terlibat dengan dampak negatif melalui aktivitas mereka atau sebagai akibat dari hubungan bisnis mereka, serta menjelaskan aktivitas atau hubungan bisnis tersebut;

b.

menjelaskan kebijakan atau komitmen mereka mengenai topik material;

c.

menjelaskan tindakan yang diambil untuk mengelola topik dan dampak terkait, termasuk:

tindakan untuk mencegah atau memitigasi potensi dampak negatif;

i.

tindakan untuk menangani dampak negatif aktual, termasuk tindakan untuk memberikan atau bekerja sama dalam tindakan pemulihan dampak tersebut;

ii.

tindakan untuk mengelola dampak positif aktual dan potensial;

iii.

d.

melaporkan informasi berikut tentang pelacakan efektivitas tindakan yang dilakukan:

proses yang digunakan untuk melacak efektivitas tindakan;

i.

tujuan, target, dan indikator yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan;

ii.

efektivitas tindakan, termasuk kemajuan terhadap tujuan dan target;

iii.

pelajaran yang dipetik dan bagaimana pelajaran ini telah dimasukkan ke dalam kebijakan dan prosedur operasional organisasi;

iv.

e.

menjelaskan bagaimana keterlibatan pemangku kepentingan telah memberikan masukan pada tindakan yang diambil (3-3-d) dan bagaimana keterlibatan tersebut telah memberikan informasi apakah tindakan tersebut efektif (3-3-e).

f.

Pengungkapan ini mewajibkan organisasi untuk menjelaskan cara mereka mengelola masing- masing topik material mereka. Ini berarti bahwa organisasi diwajibkan untuk melaporkan pengungkapan ini untuk setiap topik material mereka. Persyaratan dalam pengungkapan ini berlaku untuk setiap topik material.

Selain pengungkapan ini, mungkin juga ada pengungkapan dan panduan dalam Standar Topik dan Standar Sektor yang membahas pelaporan informasi tentang cara organisasi mengelola suatu topik. Misalnya, beberapa Standar Topik berisi pengungkapan tentang tindakan atau metode tertentu untuk mengelola suatu topik. Organisasi tidak perlu mengulangi informasi ini berdasarkan Pengungkapan 3-3 jika mereka sudah melaporkan informasi tersebut

berdasarkan pengungkapan lain. Organisasi dapat melaporkan informasi sekali dan memberikan rujukan ke informasi ini untuk memenuhi persyaratan terkait dalam Pengungkapan 3-3.

Jika pendekatan organisasi terhadap pengelolaan suatu topik material, seperti kebijakan mereka atau tindakan yang diambil, diterapkan untuk topik material lainnya, organisasi tersebut tidak perlu mengulangi informasi ini untuk setiap topik. Organisasi dapat melaporkan informasi ini sekali, dengan penjelasan jelas tentang semua topik yang dicakup.

Jika organisasi tidak dapat melaporkan informasi yang diwajibkan tentang suatu item yang disebutkan dalam pengungkapan ini karena pokok perihal tersebut (misalnya, kebijakan, tindakan) tidak ada, mereka dapat mematuhi persyaratan dengan melaporkan hal ini sebagai masalahnya. Organisasi dapat menjelaskan alasan tidak mencantumkan pokok perihal tersebut atau menguraikan setiap rencana untuk mengembangkannya. Pengungkapan tidak mewajibkan organisasi untuk mengimplementasikan pokok perihal tersebut (contohnya, mengembangkan kebijakan), tetapi melaporkan bahwa pokok perihal tersebut tidak ada.

Jika organisasi tidak mengelola suatu topik material, mereka dapat mematuhi persyaratan berdasarkan pengungkapan ini dengan menjelaskan alasan tidak mengelola topik atau menjelaskan rencana untuk mengelolanya.

PANDUAN

(21)

Panduan untuk 3-3-a

Persyaratan 3-3-a memungkinkan organisasi menunjukkan jika suatu topik bersifat material karena dampak negatif, dampak positif, atau keduanya. Mereka tidak memerlukan daftar semua dampak yang diidentifikasi atau penjelasan terperinci tentang dampak-dampak. Sebaliknya, organisasi dapat memberikan ikhtisar tingkat tinggi tentang dampak-dampak yang telah mereka identifikasi.

Menjelaskan dampak negatif Organisasi dapat menjelaskan:

Melaporkan informasi tentang dampak negatif dapat membantu organisasi menunjukkan bahwa mereka mengetahui dampak-dampak ini dan telah mengambil tindakan atau berencana menanganinya. Organisasi mungkin memiliki kekhawatiran mengenai pelaporan informasi tentang dampak negatif meskipun dampak negatif ini sudah diketahui publik. Dalam kasus di mana dampak negatif sudah diketahui publik, kegagalan mengakui dampak-dampak ini dan menjelaskan cara dampak negatif tersebut ditangani dapat memberikan konsekuensi finansial, operasional, dan reputasi bagi organisasi. Jika organisasi tidak dapat mengungkapkan informasi tertentu (misalnya, karena hak privasi pemangku kepentingan), mereka dapat memberikan informasi dalam bentuk gabungan atau anonim, atau mereka dapat membuat rujukan untuk dampak-dampak yang biasanya berkaitan dengan sektor, produk, atau lokasi geografis mereka. [11]

Menjelaskan dampak positif Organisasi dapat menjelaskan:

Panduan untuk 3-3-b

Cara organisasi terlibat dengan dampak negatif menentukan bagaimana mereka sebaiknya menangani dampak-dampak tersebut dan apakah mereka punya tanggung jawab untuk memberikan atau bekerja sama dalam tindakan pemulihan (lihat bagian 2.3 dalam GRI 1:

Landasan 2021). Persyaratan 3-3-b menyediakan informasi kontekstual yang membantu memahami tindakan yang diambil oleh organisasi untuk mengelola dampak negatif mereka.

Tindakan yang diambil dilaporkan berdasarkan 3-3-d-i dan 3-3-d-ii.

Berdasarkan persyaratan 3-3-b, organisasi diwajibkan untuk melaporkan apakah organisasi terlibat dengan dampak negatif melalui aktivitas mereka atau sebagai akibat dari hubungan bisnis mereka. Apabila memungkinkan, organisasi sebaiknya juga melaporkan:

Lihat Kotak 3 dalam Standar ini untuk informasi lebih lanjut tentang hal yang menyebabkan, berkontribusi, atau terkait secara langsung dengan dampak negatif

apakah dampak negatif tersebut bersifat aktual atau potensial;

kerangka waktu dampak negatif (yaitu, apakah dampak negatif bersifat jangka pendek atau jangka panjang dan kapan dampak negatif tersebut kemungkinan muncul);

apakah dampak negatif bersifat sistemik (misalnya, tenaga kerja anak atau tenaga kerja paksa di negara tempat organisasi beroperasi atau mengambil material) atau berkaitan dengan insiden tertentu (misalnya, tumpahan minyak);

sumber daya ekonomi, sumber daya lingkungan, dan pemangku kepentingan (tanpa mengidentifikasi individu tertentu) yang terpengaruh atau dapat terpengaruh secara negatif, termasuk lokasi geografis mereka.

apakah dampak positif tersebut bersifat aktual atau potensial;

kerangka waktu dampak positif (yaitu, apakah dampak positif bersifat jangka pendek atau jangka panjang dan kapan dampak positif tersebut kemungkinan muncul);

aktivitas yang menyebabkan dampak positif (misanya, produk, layanan, investasi, pengadaan, praktik);

sumber daya ekonomi, sumber daya lingkungan, dan pemangku kepentingan (tanpa mengidentifikasi individu tertentu) yang terpengaruh atau dapat terpengaruh secara positif, termasuk lokasi geografis mereka.

apakah mereka menyebabkan atau dapat menyebabkan, atau berkontribusi atau dapat berkontribusi, pada dampak negatif melalui aktivitas mereka; atau

apakah dampak-dampak tersebut berkaitan atau dapat berkaitan secara langsung dengan operasional, produk, atau layanan organisasi karena hubungan bisnis mereka, meskipun hubungan bisnis tersebut tidak berkontribusi pada dampak negatif tersebut.

(22)

Berdasarkan persyaratan 3-3-b, organisasi juga diwajibkan untuk menjelaskan aktivitas atau hubungan bisnis tersebut. Ini memungkinkan organisasi untuk mengindikasikan apakah dampak-dampak yang berkaitan dengan suatu topik material tersebar luas dalam aktivitas atau hubungan bisnis organisasi, atau apakah dampak-dampak tersebut berkaitan dengan aktivitas atau hubungan bisnis tertentu.

Jika dampak berkaitan dengan aktivitas tertentu, organisasi sebaiknya menjelaskan jenis aktivitasnya (misalnya, manufaktur, ritel) dan lokasi geografisnya. Jika dampak berkaitan dengan hubungan bisnis tertentu, organisasi sebaiknya menjelaskan jenis hubungan bisnisnya (misalnya, pemasok bahan mentah, pemegang waralaba), posisi mereka dalam rantai nilai, dan lokasi geografis mereka.

Misalnya, jika organisasi telah mengidentifikasi bahwa aktivitas mereka di tempat tertentu dapat menyebabkan polusi air, mereka sebaiknya menjelaskan jenis aktivitas yang dilaksanakan di tempat ini dan lokasi geografis dari tempat ini. Atau, jika organisasi telah mengidentifikasi bahwa itu berkaitan secara langsung dengan pekerja anak karena hubungan bisnis dalam rantai pasokan mereka, mereka sebaiknya menyebutkan jenis pemasok yang menggunakan tenaga kerja anak (misalnya, subkontraktor yang melakukan pekerjaan bordir untuk produk organisasi) dan lokasi geografis dari pemasok ini.

Organisasi dapat memberikan informasi konteks tambahan untuk memahami seberapa luas dampak mereka. Sebagai tambahan untuk contoh sebelumnya, organisasi dapat melaporkan berapa banyak lokasi mereka yang dapat menyebabkan polusi air (misalnya, 60% dari lokasi, lima dari 12 lokasi) atau proporsi produksi yang diwakili oleh lokasi ini, atau mereka dapat melaporkan perkiraan jumlah subkontraktor yang menggunakan tenaga kerja anak yang melakukan pekerjaan bordir untuk organisasi.

Panduan untuk 3-3-c

Persyaratan 3-3-c memerlukan penjelasan kebijakan atau komitmen yang telah dikembangkan secara khusus oleh organisasi untuk topik, selain komitmen kebijakan yang dilaporkan berdasarkan Pengungkapan 2-23 dalam GRI 2: Pengungkapan Umum 2021. Jika organisasi telah menjelaskan kebijakan mereka untuk topik material berdasarkan Pengungkapan 2-23, mereka dapat memberikan rujukan ke informasi ini berdasarkan 3-3-c dan tidak perlu

mengulangi informasinya. Lihat Pengungkapan 2-23 dalam GRI 2 untuk mendapatkan panduan mengenai cara melaporkan informasi tentang kebijakan.

Ketika melaporkan komitmen mereka mengenai topik material, organisasi sebaiknya memberikan pernyataan kehendak untuk mengelola topik atau menjelaskan:

Panduan 3-3-d

Persyaratan 3-3-d memungkinkan organisasi menjelaskan cara mereka menanggapi dampak- dampak mereka. Persyaratan ini tidak mewajibkan penjelasan tindakan yang diambil secara terperinci untuk setiap dampak. Sebaliknya, organisasi dapat memberikan ikhtisar tingkat tinggi tentang cara mereka mengelola dampak-dampak.

Organisasi sebaiknya melaporkan cara mereka mengintegrasikan penemuan-penemuan dari identifikasi dan penilaian dampak mereka di seluruh fungsi dan proses internal yang relevan, termasuk:

Pengungkapan 2-12 dan Pengungkapan 2-13 dalam GRI 2 memerlukan informasi tentang peran badan tata kelola tertinggi dalam mengawasi manajemen dampak organisasi dan tentang cara mereka mendelegasikan tanggung jawab untuk hal ini.

Organisasi sebaiknya juga melaporkan cara mereka mengelola dampak aktual yang pendirian organisasi pada topik;

apakah komitmen untuk mengelola topik berdasarkan pada kepatuhan terhadap peraturan atau lebih dari itu;

kepatuhan terhadap instrumen resmi antarpemerintah yang terkait dengan topik.

level dan fungsi di dalam organisasi yang telah diberi tanggung jawab untuk mengelola dampak-dampak;

pengambilan keputusan internal, alokasi anggaran, dan proses pengawasan (misalnya, audit internal) untuk memungkinkan tindakan yang efektif untuk mengelola dampak- dampak.

Gambar

Gambar 1. Standar GRI: Standar Universal, Sektor, dan Topik
Gambar 2. Proses untuk menentukan topik material

Referensi

Dokumen terkait