• Tidak ada hasil yang ditemukan

gubernur sulawesi selatan - DPMPTSP Sulsel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "gubernur sulawesi selatan - DPMPTSP Sulsel"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

GUBERNUR SULAWESI SELATAN

PERATURAN GUBERNUR SULAWESI SELATAN NOMOR 2 TAHUN 2023

TENTANG

PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO, PERIZINAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN USAHA,

DAN NON PERIZINAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

Menimbang : a. bahwa untuk memberikan kepastian hukum dalam berusaha, meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha serta menjaga kualitas perizinan yang dapat dipertanggungjawabkan, perlu didukung penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan pada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang cepat, mudah, terintegrasi, transparan, efisien, efektif, dan akuntabel;

b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan untuk melaksanakan perizinan berusaha berbasis risiko;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan untuk Menunjang Kegiatan Usaha, dan Non Perizinan;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011

(2)

Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6801);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);

4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);

5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2022 tentang Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6775);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6617);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021

(3)

Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6618);

8. Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 221);

9. Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2022 tentang Pendelegasian Pemberian Perizinan Berusaha di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 91);

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 138 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1956);

11. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 3 Tahun 2021 tentang Sistem Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Terintegrasi secara Elektronik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 271);

12. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 4 Tahun 2021 tentang Pedoman dan Tata Cara Pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Fasilitas Penanaman Modal (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 272);

13. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 273);

14. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 92 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 1573);

15. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penanaman Modal Daerah

(4)

(Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 250);

16. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pemberian Insentif dan/atau Pemberian Kemudahan Investasi (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2021 Nomor 3, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 316);

17. Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pelayanan Publik (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Nomor 16);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO, PERIZINAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN USAHA, DAN NON PERIZINAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan:

1. Provinsi adalah Provinsi Sulawesi Selatan.

2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Otonom.

3. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Selatan.

4. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Selatan.

5. Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat PD adalah Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

(5)

6. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang selanjutnya disingkat DPMPTSP adalah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

7. Kepala DPMPTSP adalah Kepala Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu.

8. Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan adalah Bidang yang melaksanakan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

9. Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal adalah Bidang yang melaksanakan fungsi pengawasan dan pengendalian penanaman modal pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan.

10. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

11. Penanaman Modal adalah segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam negeri maupun penanam modal asing, untuk melakukan usaha di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

12. Penanam Modal adalah perseorangan atau badan usaha yang melakukan penanaman modal, yang dapat berupa penanaman modal dalam negeri dan/atau penanaman modal asing.

13. Pelaku Usaha adalah orang perseorangan atau badan usaha yang melakukan usaha dan/atau kegiatan pada bidang tertentu.

14. Penanaman Modal Dalam Negeri yang selanjutnya disingkat PMDN adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, yang dilakukan oleh penanaman modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.

15. Penanaman Modal Asing yang selanjutnya disingkat PMA adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri.

16. Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang selanjutnya disingkat PTSP adalah kegiatan pelaksanaan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan berdasarkan kewenangan, dengan

(6)

proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen, yang dilakukan dalam satu tempat.

17. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten/Kota, yang selanjutnya disingkat DPMPTSP Kabupaten/Kota adalah Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota yang menyelenggarakan fungsi Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di pemerintah kabupaten/kota.

18. Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah adalah kegiatan perizinan berusaha yang proses pengelolaannya secara elektronik mulai dari tahap permohonan sampai dengan terbitnya dokumen yang dilakukan secara terpadu dalam satu pintu.

19. Perizinan Berusaha adalah legalitas yang diberikan kepada pelaku usaha untuk memulai dan menjalankan usaha dan/ atau kegiatannya.

20. Risiko adalah potensi terjadinya cedera atau kerugian dari suatu bahaya atau kombinasi kemungkinan dan akibat bahaya.

21. Perizinan Berusaha Berbasis Risiko adalah Perizinan Berusaha berdasarkan tingkat Risiko kegiatan usaha.

22. Izin adalah persetujuan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah untuk pelaksanaan kegiatan usaha yang wajib dipenuhi oleh Pelaku Usaha sebelum melaksanakan kegiatan usahanya.

23. Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (Online Single Submission) yang selanjutnya disebut Sistem OSS adalah sistem elektronik terintegrasi yang dikelola dan diselenggarakan oleh Lembaga OSS untuk penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

24. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS yang selanjutnya disebut sebagai Lembaga OSS adalah lembaga pemerintah non kementerian yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang koordinasi penanaman modal.

25. Perizinan untuk Menunjang Kegiatan Usaha yang selanjutnya disingkat Perizinan UMKU adalah legalitas yang diberikan kepada Pelaku Usaha untuk menunjang kegiatan usaha.

26. Non Perizinan adalah pemberian legalitas kepada seseorang atau pelaku usaha dan/atau kegiatan tertentu baik dalam bentuk

(7)

persetujuan, rekomendasi atau bentuk lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

27. Sistem Informasi Kapal Izin Daerah yang selanjutnya disingkat SIMKADA adalah sistem informasi pelayanan perizinan Surat Izin Usaha Perikanan, Surat Izin Penangkapan Ikan, dan Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan yang terintegrasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan DPMPTSP Provinsi, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi.

28. Sistem Perizinan Undian Gratis Berhadiah secara online yang selanjutnya disingkat SIMPPSDBS adalah sistem pelayanan perizinan Undian Gratis Berhadiah dan Pengumpulan Uang dan Barang yang terintegrasi antara Kementerian Sosial dengan DPMPTSP Provinsi, Dinas Sosial Provinsi, dan Penyelenggara.

29. Perizinan Online PTSP yang selanjutnya disebut PROPTSP adalah sistem pelayanan Perizinan online yang digunakan dalam memproses perizinan berusaha, perizinan untuk menunjang kegiatan usaha (UMKU) dan Non Perizinan dalam lingkup DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan.

30. New Normal Innovation Sistem Informasi Penelitian Online Campus yang selanjutnya disebut Neni Si Linca adalah Sistem Pelayanan secara Online untuk memproses Izin Penelitian untuk Mahasiswa, Lembaga dan Peneliti Lainnya.

31. Gerai Perizinan adalah Layanan Perizinan yang merupakan kerjasama antara pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/Kota.

32. Nomor Induk Berusaha yang selanjutnya disingkat NIB adalah bukti registrasi/pendaftaran Pelaku Usaha untuk melakukan kegiatan usaha dan sebagai identitas bagi Pelaku Usaha dalam pelaksanaan kegiatan usahanya.

33. Sertifikat Standar adalah Pernyataan dan/atau bukti pemenuhan standar pelaksanaan kegiatan Usaha.

34. Pendelegasian wewenang adalah penyerahan tugas hak, kewajiban, dan pertanggung jawaban Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan, termasuk penandatanganan atas nama pemberi wewenang, oleh Gubernur kepada Kepala DPMPTSP yang ditetapkan dengan uraian yang jelas.

(8)

35. Penugasan adalah penyerahan tugas, hak, wewenang, kewajiban dan pertanggungjawaban termasuk penandatanganan atas nama pemberi wewenang, oleh Gubernur kepada Kepala DPMPTSP untuk melaksanakan urusan Pemerintahan di Bidang Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, yang menjadi kewenangan pemerintah berdasarkan hak subsitusi.

36. Monitoring adalah kegiatan mengamati, mengawasi keadaan dan pelaksanaan di lapangan yang secara terus menerus atau berkala di setiap tingkatan atas program sesuai rencana.

37. Evaluasi adalah proses kegiatan penilaian kebijakan, akuntabilitas kinerja, program dan kegiatan penyelenggaraan pelayanan Perizinan Berusaha berbasis risiko, Perizinan untuk menunjang kegiatan usaha dan Non Perizinan melalui PTSP.

38. Pelayanan Secara Elektronik yang selanjutnya disingkat PSE adalah Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan yang diberikan melalui PTSP secara elektronik.

39. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentifikasi.

40. Tanda Tangan Elektronik Tersertifikasi adalah tanda tangan elektronik yang dibuat menggunakan jasa penyelenggara sertifikasi elektronik.

41. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik adalah Badan Hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikat Elektronik.

42. Administrator adalah Kepala DPMPTSP yang memberikan persetujuan pada Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan menandatangani Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

43. Verifikator adalah Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan yang melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan/atau pengujian terhadap kelengkapan administrasi dan prosedur perolehan proses Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan.

(9)

44. Korektor adalah pegawai negeri sipil yang melakukan koreksi administrasi Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan.

45. Tim Teknis adalah kelompok kerja yang dibentuk sesuai kebutuhan dalam rangka penyelenggaraan PTSP yang mempunyai kewenangan memberikan rekomendasi atas penerbitan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan.

46. Petugas Front Office adalah aparatur sipil negara yang ditugaskan khusus untuk melakukan pelayanan permohonan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan sesuai Standar pelayanan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

47. Petugas Back Office adalah aparatur sipil negara yang ditugaskan khusus untuk memproses permohonan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan sesuai Standar pelayanan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

48. Pembinaan adalah upaya pengembangan, pemantapan, pemantauan, konsultasi, pembinaan teknis, fasilitasi, pendidikan pelatihan dan litbang, evaluasi, penilaian dan pemberian penghargaan kepada Perangkat Daerah dalam pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan melalui PTSP yang dilakukan oleh Gubernur.

49. Pengawasan adalah upaya untuk memastikan pelaksanaan kegiatan usaha sesuai dengan standar pelaksanaan kegiatan usaha yang dilakukan melalui pendekatan berbasis risiko dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha, dan ketaatan pelaku usaha terhadap aturan dan perundang – undangan.

50. Pengaduan masyarakat adalah laporan dari masyarakat mengenai adanya keluhan dalam rangka penyelenggaraan/proses Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan Untuk Menunjang Kegiatan Usaha dan Non Perizinan melalui DPMPTSP.

51. Laporan Kegiatan Penanaman Modal yang selanjutnya disingkat LKPM adalah laporan mengenai perkembangan realisasi penanaman modal

(10)

dan permasalahan yang dihadapi pelaku usaha yang wajib dibuat dan disampaikan secara berkala.

52. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang berasal dari Pemerintah Pusat.

53. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Pasal 2

Pembentukan Peraturan Gubernur ini bertujuan untuk:

a. mengoptimalkan penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan di Daerah;

b. mampu menyelenggarakan manajemen Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan cepat, mudah, terintegrasi, transparan, efisien, efektif dan akuntabel sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

c. memberikan kepastian hukum, meningkatkan ekosistem investasi serta keberlangsungan kinerja Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan di Daerah.

Pasal 3

Ruang lingkup pengaturan dalam Peraturan Gubernur ini meliputi:

a. kewenangan penyelenggaraan perizinan berusaha dan non perizinan;

b. pelaksanaan perizinan berusaha berbasis risiko;

c. pelaksanaan perizinan untuk menunjang kegiatan usaha;

d. pelaksanaan non perizinan;

e. penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu;

f. penanganan pengaduan layanan perizinan usaha;

g. pelayanan informasi;

h. pembinaan dan pengawasan;

i. laporan kegiatan penanaman modal;

j. pendanaan; dan k. pelaporan.

(11)

BAB II

KEWENANGAN PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA DAN NON PERIZINAN

Pasal 4

(1) Penyelenggaraan Perizinan Berusaha dan Non Perizinan di Daerah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah meliputi:

a. perizinan berusaha berbasis risiko;

b. perizinan untuk menunjang kegiatan usaha (Perizinan UMKU); dan c. non perizinan.

(3) Gubernur mendelegasikan kewenangan Penandatanganan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU, dan Non Perizinan di Daerah kepada Kepala DPMPTSP.

(4) Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang merupakan kewenangan provinsi yang dapat dilaksanakan pada Gerai Perizinan yang terletak di kabupaten/kota.

BAB III

PELAKSANAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO Bagian Kesatu

Umum Pasal 5

(1) Penyelenggaraan Perizinan Berusaha dilakukan untuk meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha.

(2) Peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. perizinan berusaha berbasis risiko;

b. persyaratan dasar perizinan berusaha; dan

c. perizinan berusaha sektor dan kemudahan persyaratan investasi.

(12)

(3) Perizinan Berusaha Berbasis Risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilakukan berdasarkan penetapan tingkat risiko dan peringkat skala usaha kegiatan usaha sebagai berikut :

a. kegiatan usaha risiko rendah memperoleh perizinan berusaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB);

b. kegiatan usaha risiko menengah memperoleh perizinan berusaha berupa sertifikat standar (SS); dan

c. kegiatan usaha risiko tinggi memperoleh perizinan berusaha berupa Izin.

(4) Persyaratan dasar Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:

a. kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang; dan b. persetujuan lingkungan.

(5) Perizinan Berusaha sektor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c yang diselenggarakan terdiri atas sektor :

a. kelautan dan perikanan;

b. pertanian;

c. lingkungan hidup dan kehutanan;

d. energi dan sumber daya mineral;

e. perindustrian;

f. perdagangan;

g. pekerjaan umum dan perumahan rakyat;

h. transportasi;

i. kesehatan, obat dan makanan;

j. pendidikan dan kebudayaan;

k. pariwisata; dan l. ketenagakerjaan.

m. Pertanahan dan keamanan n. keagamaan

Pasal 6

Jenis dan Persyaratan perizinan berusaha Berbasis Risiko pada setiap sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5) diatur dengan Standar Pelayanan dan Standar Operasional Prosedur yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

(13)

Bagian Kedua

Mekanisme Permohonan Pasal 7

(1) Permohonan perizinan berusaha Berbasis Risiko pendaftarannya dilakukan melalui Sistem Online Single Submission Risk Based Approach .

(2) Untuk memperoleh izin pemohon melengkapi dokumen atau berkas yang disyaratkan oleh Sistem Online Single Submission Risk Based Approach.

(3) Dalam hal kelengkapan Dokumen telah terpenuhi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemohon mengunggah Persyaratan ke dalam Sistem Online Single Submission Risk Based Approach untuk selanjutnya divalidasi oleh Tim Teknis.

(4) Dokumen yang telah divalidasi diteruskan kepada verifikator untuk dilakukan verifikasi atas kelengkapan syarat administrasi.

(5) Persetujuan perizinan berusaha Berbasis Risiko dilaksanakan oleh Kepala DPMPTSP selaku Administrator setelah memperoleh verifikasi administrasi dan prosedur yang dilaksanakan oleh Verifikator.

(6) Penandatanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan secara elektronik.

BAB IV

PELAKSANAAN PERIZINAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN USAHA

Bagian Kesatu Umum Pasal 8

(1) Perizinan UMKU dilaksanakan oleh DPMPTSP melalui Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan.

(2) Perizinan UMKU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diselenggarakan terdiri atas sektor:

a. koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah;

b. sosial;

c. ketenagakerjaan;

(14)

d. pekerjaan umum dan tata ruang;

e. energi dan sumber daya mineral;

f. kesehatan;

g. kehutanan;

h. lingkungan hidup; dan i. kebudayaan dan pariwisata.

Pasal 9

Jenis dan Persyaratan perizinan UMKU pada setiap sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diatur dengan Standar Pelayanan dan Standar Operasional Prosedur yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Bagian Kedua

Mekanisme Permohonan Pasal 10

(1) Setiap permohonan perizinan UMKU dilakukan dengan menggunakan perangkat sistem OSS.

(2) Dalam hal sistem OSS terjadi gangguan, pendaftaran dapat dilakukan melalui PROPTSP dengan berkoordinasi kepada lembaga OSS.

(3) Kepala DPMPTSP menyampaikan pemberitahuan kepada masyarakat atas terjadinya gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4) Gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus terselesaikan paling lama 1 (satu) hari sejak dinyatakan terjadinya gangguan teknis.

(5) Dalam hal kelengkapan berkas pemohon telah terpenuhi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Petugas Front Office meneruskan ke Tim Teknis untuk divalidasi dan memperoleh pertimbangan teknis berupa penerimaan atau penolakan permohonan dimaksud.

(6) Dokumen yang telah divalidasi diteruskan kepada korektor untuk dilakukan koreksi atas kelengkapan syarat dan draft perizinan.

(7) Dokumen yang telah dikoreksi diteruskan kepada verifikator untuk dilakukan verifikasi atas kelengkapan syarat administrasi, teknis dan finansial.

(15)

(8) Penandatanganan/persetujuan Perizinan UMKU dilaksanakan oleh Kepala DPMPTSP Provinsi selaku Administrator setelah memperoleh verifikasi.

(9) Penandatanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dilakukan secara elektronik.

Bagian ketiga

Mekanisme Pelayanan Secara Elektronik Pasal 11

(1) Dalam pelaksanaan PSE pada pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan oleh DPMPTSP menggunakan Aplikasi PROPTSP, SIMKADA, SIMPPSDBS, dan Neni Si Linca yang terintegrasi dengan SPBE.

(2) Pelaksanaan PSE untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan yang lebih mudah, cepat, tepat, efisien, transparan, dan akuntabel.

(3) PTSP dalam melaksanakan PROPTSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyelenggarakan sistem elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab.

Pasal 12 (1) Penyelenggaraan PSE terdiri atas:

a. subsistem pelayanan informasi;

b. subsistem pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan; dan c. subsistem pendukung yakni PROPTSP dan Neni Si Linca.

(2) Subsistem Pelayanan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menyediakan jenis informasi paling sedikit terdiri atas:

a. panduan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan direktori PTSP;

b. data realisasi penerbitan Perizinan UMKU dan Non Perizinan yang disediakan untuk publik;

c. jenis, persyaratan teknis, mekanisme penelusuran posisi dokumen pada setiap proses, biaya retribusi, dan waktu pelayanan;

d. tata cara layanan pengaduan Perizinan UMKU dan Non Perizinan;

(16)

e. peraturan perundang-undangan di bidang PTSP;

f. pelayanan informasi publik kepada masyarakat; dan

g. data referensi yang digunakan dalam pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan.

(3) Subsistem pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit terdiri atas sistem elektronik yang menyediakan layanan:

a. integrasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Badan Pertanahan Nasional, Perbankan, Asuransi, dan Bidang Pengendalian Dan Pelaksanaan Penanaman Modal;

b. penelusuran proses penerbitan Perizinan UMKU dan Non Perizinan Online Tracking Sistem; dan

c. penerbitan dokumen Perizinan UMKU dan Non Perizinan dapat berwujud kertas yang ditandatangani secara manual dibubuhi stempel basah, atau secara elektronik yang memiliki tanda tangan elektronik.

(4) Subsistem Pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c paling sedikit terdiri atas sistem elektronik:

a. pengaturan administrasi jaringan elektronik;

b. pengaturan administrasi basis data;

c. pengaturan keamanan informasi dan jaringan elektronik;

d. bantuan permasalahan aplikasi untuk petugas pelayanan;

e. pelayanan konsultasi;

f. pelaporan perkembangan penerbitan izin dan non izin;

g. catatan sistem elektronik;

h. jejak audit atas seluruh kegiatan dalam pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan;

i. cadangan sistem elektronik dan basis data secara berkala; dan j. pusat pemulihan bencana.

Pasal 13

(1) PROPTSP dapat diakses dengan menggunakan hak akses atau tanpa menggunakan hak akses.

(17)

(2) Pelayanan Informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dapat diakses oleh pengguna tanpa menggunakan hak akses.

(3) Pelayanan Perizinan UMKU dan Non Perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dan Subsistem Pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4) dapat diakses oleh pengguna dengan menggunakan hak akses.

(4) Hak akses sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan kepada Kepala DPMPTSP, petugas pelayanan, pemohon Perizinan UMKU dan Non Perizinan, dan pegawai instansi lain sesuai dengan kewenangan.

(5) Tata cara pemberian hak akses sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan oleh Kepala DPMPTSP dalam bentuk petunjuk teknis.

Pasal 14

(1) Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah selama memenuhi persyaratan.

(2) Data pembuatan tanda tangan elektronik pada saat proses penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa penandatanganan.

(3) Segala perubahan terhadap tanda tangan elektronik yang terjadi setelah waktu penandatanganan dapat diketahui.

(4) Segala perubahan terhadap dokumen elektronik yang terkait dengan tanda tangan elektronik tersebut setelah waktu penandatanganan dapat diketahui.

BAB V

PELAKSANAAN NON PERIZINAN Bagian Kesatu

Umum Pasal 15

(1) Pelaksanaan Non Perizinan dilaksanakan oleh DPMPTSP Provinsi melalui Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan.

(2) Jenis non perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diselenggarakan terdiri atas sektor:

a. sosial;

b. perhubungan;

(18)

c. pekerjaan umum dan tata ruang;

d. energi dan sumber daya mineral;

e. kesehatan;

f. pendidikan;

g. kehutanan;

h. ketahanan pangan;

i. tanaman pangan, holtikultura dan perkebunan;

j. kesatuan bangsa dan politik;

k. penelitian dan pengembangan; dan l. kebudayaan dan pariwisata;

Pasal 16

Jenis dan Persyaratan perizinan UMKU pada setiap sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) akan diatur dengan Standar Pelayanan dan Standar Operasional Prosedur yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Bagian Kedua

Mekanisme Permohonan Pasal 17

(1) Setiap permohonan non perizinan yang diterima oleh PTSP melalui Petugas Front Office, maka Petugas Front Office tersebut melakukan check list kelengkapan berkas pemohon.

(2) Dalam hal kelengkapan berkas pemohon telah terpenuhi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka Petugas Front Office meneruskan ke Tim Teknis untuk dikaji dan memperoleh persetujuan teknis tertulis dalam Berita Acara berupa penerimaan atau penolakan permohonan dimaksud.

(3) Dalam hal berkas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak lengkap, maka Petugas Front Office mengembalikan berkas permohonan kepada pemohon untuk dilengkapi.

(4) Penandatanganan non perizinan dilaksanakan oleh Kepala DPMPTSP Provinsi selaku Administrator setelah memperoleh verifikasi administrasi dan prosedur yang dilaksanakan oleh Verifikator.

(19)

(5) Penandatanganan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan secara elektronik.

BAB VI

PENYELENGGARAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU Pasal 18

Penyelenggaraan Pelayanan terpadu satu pintu oleh DPMPTSP meliputi : a. proses Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non

Perizinan;

b. penandatanganan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan;

c. pencabutan dan pembatalan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan;

d. pembekuan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan; dan

e. pengesahan Perizinan UMKU dan Non Perizinan.

Pasal 19

DPMPTSP dalam menyelenggarakan pelayanan perizinan membentuk tim teknis sesuai dengan kebutuhan pelayanan perizinan berusaha dan non perizinan.

Pasal 20

(1) Dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan PTSP didukung oleh Tim Teknis.

(2) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kelompok kerja yang dibentuk sesuai kebutuhan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan.

(3) Susunan Tim Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Gubernur.

(4) Tim Teknis sebagaimana pada ayat (1) adalah Aparatur Sipil Negara dengan kriteria:

a. paham product knowledge sektor terkait;

b. memiliki kompetensi sesuai bidang penugasan minimal 5 (lima) tahun masa kerja di Perangkat Daerah teknis;

(20)

c. menguasai teknologi informasi;

d. disiplin; dan

e. memiliki sikap yang baik dan ramah sebagai petugas pelayanan.

(5) Dalam hal Tim Teknis berkinerja buruk atau tidak disiplin maka kepala DPMPTSP melalui Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan merekomendasikan kepada Kepala Perangkat Daerah terkait agar yang bersangkutan diberhentikan sebagai tim teknis dan menetapkan penggantinya.

(6) Pengusulan pergantian Tim Teknis yang akan ditempatkan pada DPMPTSP dilakukan oleh Kepala DPMPTSP berdasarkan pertimbangan dan/atau usulan dari Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan disetujui oleh Kepala Perangkat Daerah teknis terkait.

(7) Dalam hal pergantian tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung setelah surat atau rekomendasi dari Kepala DPMPTSP telah diterima oleh Kepala Perangkat Daerah teknis.

(8) Pembinaan dan penilaian kinerja Tim Teknis dilakukan oleh Kepala Perangkat Daerah yang bersangkutan dengan mendapatkan pertimbangan/Penilaian awal dari Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan.

Pasal 21

Dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan tugas, maka pegawai PTSP termasuk tim teknis dapat mengenakan pakaian seragam khusus, yang ditetapkan oleh Kepala DPMPTSP berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VII

PELAYANAN PENGADUAN MASYARAKAT Pasal 22

(1) DPMPTSP menyediakan layanan pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan.

(2) Pelaksanaan Pengelolaan pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan secara cepat, tepat waktu, transparan, adil, tidak diskriminatif, dan tidak dipungut biaya.

(21)

(3) Pelaksanaan pengelolaan pengaduan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Tim Pengaduan ditetapkandengan Keputusan Kepala DPMPTSP.

Pasal 23

(1) Pemohon izin berhak menyampaikan pengaduan secara lisan, tertulis dan atau menggunakan aplikasi elektronik melalui sistem OSS, Aplikasi PROPTSP, layanan Pengaduan Aplikasi BARUGA dan Aplikasi SP4N- LAPOR apabila pelayanan administrasi dan teknis perizinan tidak sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan.

(2) Pengaduan secara lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan melalui:

a. Call Centre; atau

b. Loket Pengaduan di DPMPTSP.

(3) Pengaduan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:

a. Email dan Website DPMPTSP; atau

b. surat yang ditujukan kepada Kepala DPMPTSP melalui kotak pengaduan, melalui pos dengan mencantumkan alamat kantor yang jelas dan lengkap.

(4) Penanganan Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditindaklanjuti secara langsung dan/atau tidak langsung.

(5) Untuk pengaduan yang ditindaklanjuti secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan pengaduan masyarakat yang sifatnya administratif.

(6) Untuk pengaduan masyarakat yang ditindaklanjuti secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan pengaduan masyarakat yang sifatnya teknis dan melibatkan Tim Pembinaan dan Pengawasan, Tim Teknis dan/atau unsur Lembaga lain yang terkait.

Pasal 24

(1) Sebelum menindaklanjuti pengaduan masyarakat, petugas pelayanan pengaduan wajib melaporkan kepada Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan untuk mendapatkan arahan dan masukan.

(2) Dalam hal Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berada di tempat, Petugas

(22)

pelayanan pengaduan dapat secara langsung melakukan komunikasi dan berkoordinasi dengan Tim Teknis dan unsur petugas pelayanan lainnya untuk mendapatkan informasi tentang permasalahan yang menjadi substansi aduan.

(3) Dalam rangka percepatan penyelesaian pengaduan masyarakat, Terhadap pengaduan yang sifatnya memerlukan visitasi pada lokasi izin, wajib mengikutsertakan petugas pelayanan pengaduan.

Pasal 25

Pengelolaan layanan pengaduan masyarakat dilaksanakan dengan tahapan paling sedikit meliputi:

a. menerima serta meregistrasi pengaduan layanan perizinan berusaha;

b. memeriksa kelengkapan dokumen;

c. menelaah, menanggapi mengklasifikasi jenis aduan dan mengidentifikasi aduan yang menjadi prioritas penyelesaian;

d. melakukan pencatatan dan pelaporan hasil penanganan pengaduan;

e. menatausahakan;

f. melaporkan hasil penanganan pengaduan kepada pimpinan; dan g. melakukan pemantauan dan evaluasi.

Pasal 26

Dalam hal substansi pengaduan bukan menjadi kewenangan DPMPTSP, pengaduan disampaikan ke Perangkat Daerah terkait.

Pasal 27

Mekanisme, waktu penyelesaian, dan tahapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ditetapkan dengan Keputusan Kepala DPMPTSP.

BAB VIII

PELAYANAN INFORMASI Pasal 28

(1) PTSP menyediakan layanan informasi Pelayanan pada DPMPTSP yang dilakukan secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(23)

(2) Layanan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga diberikan kepada penyelenggara PTSP Perangkat Daerah Kabupaten/Kota dalam hal ini DPMPTSP Kabupaten/Kota.

(3) Penyediaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi:

a. layanan informasi umum perizinan berusaha;

b. profil kelembagaan, struktur organisasi;

c. maklumat pelayanan, Standar Pelayanan dan Standar Operasional Prosedur;

d. kamus OSS;

e. user manual OSS;

f. FAQ;

g. simulasi perizinan;

h. penilaian kinerja PTSP; dan

i. pelaksanaan Indeks Kepuasan Masyarakat.

Pasal 29

(1) Penyediaan dan pemberian informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dilakukan melalui:

a. subsistem layanan informasi pada sistem OSS;

b. PROPTSP;

c. media cetak; dan

d. melalui petugas pendamping di DPMPTSP.

(2) Penyediaan dan pemberian informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipungut biaya.

BAB IX

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 30

(1) Pembinaan dan pengawasan Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan di Daerah dilakukan dengan cara terkoordinasi di lingkup Pemerintah Daerah.

(2) Pembinaan dan Pengawasan pelaksanaan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan sebagaimana

(24)

dimaksud ayat (1) dilakukan oleh DPMPTSP Daerah selaku koordinator bersama Perangkat Daerah teknis.

(3) Pembinaan dan Pengawasan secara teknis dilakukan oleh Perangkat Daerah teknis.

(4) Pembinaan dan pengawasan umum dan teknis di kabupaten/kota, dilakukan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5) Pemerintah daerah wajib melakukan pengawasan atas:

a. pemenuhan komitmen; dan

b. pemenuhan standar, sertifikasi, lisensi, tanggung jawab sosial dan lingkungan, usaha dan/atau kegiatan.

(6) Dalam hal pelaksanaan pengawasan ditemukan ketidaksesuaian atau penyimpangan, tim koordinasi pembinaan pengawasan mengambil tindakan berupa:

a. peringatan tertulis;

b. penghentian sementara kegiatan usaha; dan c. pencabutan perizinan berusaha.

(7) Dalam hal Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan memerlukan kajian teknis/tinjauan lokasi maka pelaksanaannya dilakukan oleh tim koordinasi pembinaan pengawasan.

(8) Hasil kajian teknis selanjutnya menjadi salah satu pertimbangan pemberian rekomendasi/persetujuan Perangkat Daerah teknis kepada Kepala Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan untuk penerbitan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU, dan Non Perizinan.

(9) Tim koordinasi pembinaan, pengawasan dan pengendaliannya sebagaimana dimaksud pada ayat (6), ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Gubernur.

(10) Dalam rangka pembinaan pengawasan dan pengendaliannya DPMPTSP melakukan monitoring dalam bentuk rapat kordinasi dengan Perangkat Daerah dan lembaga terkait, pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan, serta dalam bentuk kegiatan lainnya.

(25)

BAB X

LAPORAN KEGIATAN PENANAMAN MODAL Pasal 31

(1) Pelaku usaha wajib menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal secara daring melalui sistem OSS sesuai dengan periode berjalan.

(2) Penyampaian LKPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diwajibkan bagi:

a. pelaku usaha mikro; dan

b. bidang usaha hulu migas, perbankan, lembaga keuangan non bank, dan asuransi.

Pasal 32

(1) Pelaku usaha yang mengajukan Permohonan perubahan dan perpanjangan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko wajib melampirkan Laporan kegiatan penanaman modal.

(2) Data Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan yang diterbitkan dapat diakses oleh bidang pengendalian pelaksanaan penanaman modal.

BAB XI PENDANAAN

Pasal 33

Pendanaan pelaksanaan Peraturan Gubernur ini bersumber dari:

a. anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; dan

b. pendapatan lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XII PELAPORAN

Pasal 34

(1) Kepala DPMPTSP setiap 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu diperlukan untuk melaporkan penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis

(26)

Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah Provinsi sebagai bahan pembinaan dan evaluasi.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. jumlah Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, Perizinan UMKU dan Non Perizinan yang diterbitkan dan ditolak; dan

b. kendala teknis yang dihadapi dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan dan non perizinan serta solusi.

(3) Kepala DPMPTSP Provinsi setiap 3 (tiga) bulan melaporkan Realisasi invetasi penanaman modal kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah Provinsi sebagai bahan pembinaan dan evaluasi.

BAB XIII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 35

Perizinan dan Non Perizinan yang telah diperoleh dari Pemerintah Provinsi sebelum berlakunya Peraturan Gubernur ini, tetap berlaku sampai dengan berakhirnya perizinan dan non perizinan tersebut sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP Pasal 36

Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 26 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan Terpadu Satu Pintu pada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019 Nomor 26, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(27)

Pasal 37

Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Ditetapkan di Makassar pada tanggal 3 Januari 2023 P GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

ANDI SUDIRMAN SULAIMAN Diundangkan di Makassar

pada tanggal 3 Januari 2023 Plh. SEKRETARIS DAERAH PROVINSI

SULAWESI SELATAN,

A. ASLAM PATONANGI

BERITA DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2023 NOMOR 2

Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BIRO HUKUM,

MARWAN MANSYUR, S.H., M.H.

NIP 19730914 200003 1 005 ttd.

ttd.

(28)

TENTANG

PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO, PERIZINAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN USAHA, DAN NON PERIZINAN

JENIS PERIZINAN BERUSAHA, PERIZINAN UNTUK MENUNJANG KEGIATAN USAHA, DAN NON PERIZINAN YANG DITERBITKAN

MELALUI DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU

No. Sektor Jenis Perizinan Aplikasi

A. Penanaman Modal

1. Nomor Induk Berusaha (NIB) Perizinan Berusaha OSS-RBA 2. Sertifikat Standar Perizinan Berusaha OSS-RBA

3. Izin Perizinan Berusaha OSS-RBA

B. Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah 1. Izin Pembukaan Kantor Cabang, Kantor

Cabang Pembantu dan Kantor Kas Koperasi Simpan Pinjam

Perizinan UMKU PROPTSP C. Sosial

1. Izin Pengumpulan Uang atau Barang

Skala Provinsi Perizinan UMKU SIMPPSDBS

2. Rekomendasi Undian Gratis Berhadiah

(UGB) Non Perizinan PROPTSP/

SIMPPSDBS 3. Rekomendasi Pengumpulan Uang atau

Barang (PUB) Skala Nasional Non Perizinan PROPTSP/

SIMPPSDBS 4. Tanda Terdaftar Bagi Organisasi

Sosial/Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di Bidang Kesejahteraan Sosial

Non Perizinan SIMPPSDBS

D. Kelautan dan Perikanan

1. Perizinan Berusaha Subsektor Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI)

Perizinan Berusaha OSS-RBA/

SIMKADA

(29)

2. Perizinan Berusaha Subsektor Pengangkutan Ikan dari Daerah Penangkapan Ikan di Wilayah

Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI)

Perizinan Berusaha OSS-RBA/

SIMKADA

3. Izin Lokasi Reklamasi Perizinan UMKU PROPTSP 4. Izin Pelaksanaan Reklamasi Perizinan UMKU PROPTSP

5 Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) 0 sampai dengan 12 Mil

Perizinan OSS RBA/

PROPTSP 6. Pencabutan/Pengembalian Perizinan

Berusaha Sektor Perikanan Non Perizinan PROPTSP E. Perhubungan

1. Kartu Pengawasan Non Perizinan PROPTSP

2. Rekomendasi Plat Hitam ke Plat Kuning Non Perizinan PROPTSP 3. Rekomendasi Plat Kuning untuk

Kendaraan Baru Non Perizinan PROPTSP

4. Surat keterangan Terdaftar Perusahaan

Karoseri Non Perizinan PROPTSP

5. Persetujuan Andalalin

Non Perizinan PROPTSP 6. Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal

Angkutan Penyeberangan (Dalam

Provinsi) Non Perizinan PROPTSP

F. Peternakan dan Kesehatan Hewan

1. Izin Pengeluaran Ternak Bibit/Potong Perizinan Berusaha PROPTSP 2. Izin Pemasukan Ternak Bibit/Potong Perizinan Berusaha PROPTSP 3. Izin Pengeluaran Bahan Pangan Asal

Hewan (BAH) dan Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH)

Perizinan Berusaha PROPTSP 4. Izin Pemasukan Bahan Pangan Asal

Hewan (BAH) dan Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH)

Perizinan Berusaha PROPTSP 5. Izin Pemasukan Ternak Kesayangan Perizinan Berusaha PROPTSP 6. Izin Pengeluaran Ternak Kesayangan Perizinan Berusaha PROPTSP 7. Izin Pemasukan Bahan Pakan Asal Hewan Perizinan Berusaha PROPTSP

(30)

8. Izin Pengeluaran Bahan Pakan Asal

Hewan Perizinan Berusaha PROPTSP

G. Perdagangan

1. Rekomendasi Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol (SIUP MB) Distributor

Non Perizinan PROPTSP H. Pekerjaan Umum dan Tata Ruang

1. Perizinan Non Berusaha Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) RTRW Provinsi /Lintas Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan

Non Perizinan PROPTSP 2. Perizinan Berusaha Persetujuan

Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) RTRW Provinsi /Lintas Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan

Non Perizinan PROPTSP 3. Izin Pemanfaatan dan Penggunaan

Bagian-Bagian Jalan pada Ruas Jalan

Provinsi Perizinan UMKU PROPTSP

4. Lisensi Arsitek Perizinan PROPTSP

5. Perpanjangan Lisensi Arsitek Perizinan PROPTSP 6. Penggantian Lisensi Arsitek Perizinan PROPTSP

I. Energi dan Sumber Daya Mineral 1. Penutupan Sumur/Pencabutan Izin

Usaha Pengusahaan Air Tanah Non Perizinan PROPTSP 2. Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP)

Mineral Bukan Logam, Mineral Bukan

Logam Jenis Tertentu dan Batuan Non Perizinan

Perizinan Minerba 3. Rekomendasi Penundaan Kegiatan

(Suspend) Izin Usaha Pertambangan Non Perizinan PROPTSP 4. Izin Usaha Pertambangan Perubahan

pemegang Saham, Susunan Direksi dan

Komisaris Perizinan PROPTSP

5. Persetujuan Pemindahtanganan/

Pengalihan Izin Usaha Pertambangan Mineral Bukan Logam, Mineral Bukan Logam Jenis Tertentu dan Batuan

Non Perizinan PROPTSP 6. Pengembalian Wilayah Izin Usaha

Pertambangan Tahap Kegiatan

Eksplorasi dan Pengembalian Wilayah Izin Usaha Pertambangan Tahap

Kegiatan Tahap Kegiatan Oprasi Produksi

Non Perizinan PROPTSP

7. Izin Usaha Pertambangan untuk

Penjualan Komoditas Batuan Non Perizinan PROPTSP

(31)

J. Kesehatan

1. Izin Mendirikan Rumah Sakit Umum dan

Khusus Kelas B Pemerintah dan Swasta Perizinan UMKU PROPTSP 2. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis

Kefarmasian (STRTTK) Non Perizinan PROPTSP

3. Izin Operasional Rumah Sakit Umum dan

Khusus Kelas B Pemerintah/Swasta Perizinan PROPTSP K. Pendidikan

1. Izin Operasional Penyelenggaraan

Sekolah Luar Biasa (SLB) Pemerintah Perizinan PROPTSP 2. Izin Operasional Penyelenggaraan

Sekolah Luar Biasa (SLB) Swasta Perizinan PROPTSP 3. Izin Operasional Pendidikan Menengah

yang diselenggarakan oleh Pemerintah Perizinan PROPTSP 4. Izin Operasional Pendidikan Menengah

yang diselenggarakan oleh Masyarakat (Swasta)

Perizinan PROPTSP 5. Rekomendasi Mengikuti Kegiatan/Event

Bidang Pendidikan Non Perizinan PROPTSP

6. Rekomendasi Melaksanakan Kegiatan

/Event Bidang Pendidikan Non Perizinan PROPTSP 7. Rekomendasi Pendidikan Jenjang Strata I

(S1), Pasca Sarjana (S2) Dalam dan Luar Negeri

Non Perizinan PROPTSP

8. Penutupan Sekolah Non Perizinan PROPTSP

L. Kehutanan

1. Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan

Non Komersil Maksimfneal 5 Ha Perizinan UMKU PROPTSP

(32)

2. Rekomendasi Persetujuan Penggunaan Kawasan Komersial pada Hutan Lindung /Hutan Produksi (HL/HP)

Non Perizinan PROPTSP 3. Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan

Komersil Areal Penggunaan Lain (APL) Perizinan UMKU PROPTSP 4. Persetujuan Pembuatan Koridor Perizinan UMKU PROPTSP 5. Persetujuan Penggunaan Koridor Perizinan UMKU PROPTSP 6. Rekomendasi Perubahan Fungsi Kawasan

Hutan Non Perizinan PROPTSP

7. Rekomendasi Perizinan Berusaha

Pemanfaatan Hutan (HL dan HP) Non Perizinan PROPTSP 8. Pemungutan Hasil Hutan pada Areal

Penggunaan Lain (APL) Perizinan UMKU PROPTSP 9. Adendum Perizinan Berusaha Pengolahan

Hasil Hutan (PBPHH) Kapasitas < 6.000 M2/ Tahun

Perizinan PROPTSP 10. Penetapan Pengumpul Terdaftar Hasil

Hutan Bukan Kayu (HHBK) Non Perizinan PROPTSP 11. Rekomendasi Perubahan Peruntukan

Kawasan Hutan Non Perizinan PROPTSP

12. Penetapan Tempat Pengumpulan Kayu

Rakyat Terdaftar Non Perizinan PROPTSP

13. Persetujuan Pemanfaatan Kayu Kegiatan

Non Kehutanan (PKKNK) di APL Perizinan UMKU PROPTSP 14. Surat Perintah Cruising PKKNK di APL Non Perizinan PROPTSP

M. Lingkungan Hidup

1. Persetujuan Pemerintah (Dokumen

Lingkungan untuk Kegiatan Pemerintah) Perizinan UMKU PROPTSP 2. Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan

Hidup (SKKLH) Perizinan UMKU PROPTSP

3. Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup Non Perizinan PROPTSP 4. Persetujuan Pernyataan Kesanggupan

Pengelolaan Lingkungan Hidup (PKPLH) -

(Khusus Sektor Pertambangan) Perizinan PROPTSP

(33)

N. Ketahanan Pangan

1. Sertifikasi Produk Prima 3 dan Prima 2 Non Perizinan PROPTSP O. Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan

1. Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan

(IUP-P) Perizinan Berusaha PROPTSP

2. Izin Perubahan Luas Lahan Jenis

Tanaman Perizinan Berusaha PROPTSP

3. Izin Perubahan Kapasitas Pengolahan

Hasil Perizinan Berusaha PROPTSP

4. Izin Diverifikasi Usaha Perkebunan Perizinan Berusaha PROPTSP 5. Rekomendasi Teknik Kesesuaian Lahan Non Perizinan PROPTSP P. Kesatuan Bangsa dan Politik

1. Rekomendasi Survey/Kegiatan Tim,

Kelompok dan Organisasi Non Perizinan PROPTSP 2. Rekomendasi Penelitian Orang Asing dan

Lembaga Asing Non Perizinan PROPTSP

Q. Kebudayaan dan Pariwisata

1. Rekomendasi Pengiriman Misi Kesenian dan Kegiatan Lainnya Dalam Rangka Kerjasama Luar Negeri Skala Provinsi

Non Perizinan PROPTSP 2. Izin Membawa Benda Cagar Budaya

Koleksi Ke Luar Provinsi dan Luar Negeri Perizinan UMKU PROPTSP 3. Izin Pengangkatan Benda Cagar Budaya

sampai dengan 12 Mill Perizinan UMKU PROPTSP R. Penelitian dan Pengembangan

1. Izin Penelitian Perizinan PROPTSP

2. Izin Pengumpulan Data Perizinan PROPTSP

GUBERNUR SULAWESI SELATAN,

ANDI SUDIRMAN SULAIMAN Salinan sesuai dengan aslinya

KEPALA BIRO HUKUM,

MARWAN MANSYUR, S.H., M.H.

NIP 19730914 200003 1 005

ttd.

Referensi

Dokumen terkait

KESIMPULAN Peneliti menyimpulkan Implementasi kebijakan pelayanan terkait sistem pelayanan berbasis online atau ONLINE SINGLE SUBMISSION RISK BASED AP-PROACHOSS-RBA dalam perizinan