• Tidak ada hasil yang ditemukan

hak naafkah istri dalam perkara cerai gugat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "hak naafkah istri dalam perkara cerai gugat"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Pasal 149 KHI hanya mengatur akibat hukum talak yang diajukan suami (talak talak), bukan talak yang diajukan istri (Cerai Gugat). Berdasarkan pasal 149 KHI, apabila perceraian karena talak (cerai yang diajukan oleh suami), maka mantan suami wajib memberikan mut’ah yang layak kepada mantan istrinya baik berupa uang atau benda, kecuali mantan tersebut istri qabla al dukhul, memberi nafkah, makan dan lain-lain. Putusan Pengadilan Agama Manna Nomor 278/Pdt.G/2021/PA.Mna yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam perkara Perceraian. Hakim memberikan putusan ex officio yang mengabulkan gugatan cerai Penggugat dan talak satu ba’in sughra pada Penggugat terhadap Penggugat dengan membebankan nafkah Madiyah, mut’ah dan iddah kepada tergugat/.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Apa pertimbangan hakim dalam memutus hak nafkah perempuan dalam perkara perceraian dalam Putusan Pengadilan Agama Manna Nomor 278/Pdt.G/2021/PA.Mna. Bagaimana analisis pertimbangan hakim mengenai hak nafkah istri dalam perkara perceraian pada Putusan Pengadilan Agama Manna Nomor 278/Pdt.G/2021/PA.Mna dalam perspektif Maslahah.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Sebagai bahan pertimbangan hukum oleh hakim dan penyiasat hukum dalam masalah hak nafkah isteri untuk proses perceraian.

Penelitian Yang Relevan

Menimbang bahwa penggugat menuntut tunjangan mut'ah sebesar Rp 25 juta rupiah) sedangkan tergugat tidak dapat didengar jawabannya; Majelis hakim pun mengeluarkan putusan yang memerintahkan mantan suami membayar nafkah mut'ah dan iddah. Majelis hakim pun mengeluarkan putusan yang memerintahkan mantan suami untuk membayar tunjangan yang belum dibayar, tunjangan Iddah, tunjangan mut'ah dan Hadhanah.

Kerangka Pikir

  • Metode Penelitian

Sistematika Pembahasan

KAJIAN TEORI

Pengertian Nafkah

Nafkah adalah kewajiban suami kepada istrinya dalam bentuk materi, jika ada yang seharusnya menafkahinya, maka hartanya berkurang karena digunakan untuk keperluan lain. Dikombinasikan dengan perkawinan, artinya: sesuatu yang diambil dari hartanya demi kepentingan istrinya, sehingga mengurangi hartanya. Dengan demikian, nafkah suami-istri berarti pemberian yang wajib diberikan oleh seorang suami kepada istrinya selama perkawinannya.

Dasar Hukum Nafkah

Dan orang yang terbatas) disempitkan (rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang dibawa kepadanya), iaitu dari rezeki yang telah diberikan kepadanya (oleh Allah) menurut kemampuannya. 34; Dari Mu'awiyah Al-Qustairi, dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW, Muawiyah berkata: lalu aku bertanya: Apakah yang engkau (wahai Rasulullah SAW) perintahkan tentang isteri-isteri kami. Rasulullah SAW bersabda: Berilah mereka makanan dari apa yang kamu makan, berilah mereka pakaian dari apa yang kamu pakai, jangan kamu pukul mereka dan jangan kamu burukkan mereka.

Macam-macam Nafkah

Di antara kewajiban laki-laki yang paling kuat terhadap istrinya adalah kewajiban memberi nafkah berupa sandang, pangan, dan papan. Islam menjelaskan wajibnya laki-laki menafkahi istrinya karena sahnya ikatan perkawinan, istri hanya terikat pada suaminya. Apabila laki-laki tersebut adalah orang yang mampu memberi nafkah, namun laki-laki itu melalaikan kewajibannya untuk mencari nafkah, maka laki-laki tersebut dianggap berbuat ketidakadilan karena melalaikan kewajibannya.

Kadar Nafkah

Istri

Peran dan fungsi suami istri dikonstruksikan berdasarkan hak dan kewajiban yang melekat pada kedua belah pihak. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy “Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta saling membutuhkan”. Mengenai hak dan kewajiban suami istri ada dua hak yaitu kewajiban materil dan kewajiban immateriil.

Sedangkan mengenai ketentuan praktis mengenai hak dan kewajiban antara suami dan istri, banyak dalil yang dapat ditemukan dalam Al-Qur'an. Dalil-dalil tersebut meliputi hak dan kewajiban bersama antara suami dan istri, kewajiban suami terhadap istri, kewajiban istri terhadap suami.

Perceraian

  • Pengertian Perceraian
  • Dasar Hukum Perceraian

Cerai Gugat

  • Pengertian Cerai Gugat
  • Alasan-alasan Cerai Gugat
  • Akibat Hukum Cerai Gugat

Keenam, keputusan hakim untuk menetapkan hak nafkah istri dalam perkara perceraian harus memenuhi rasa keadilan dan kemanfaatan. Bab IV, merupakan bab yang membahas mengenai Tinjauan Mashlahah tentang pertimbangan hakim dalam memutus hak nafkah seorang perempuan dalam perkara cerai gugat dalam putusan Pengadilan Agama Manna Nomor 278/Pdt.G/2021/PA.Mna dan analisis pertimbangan hakim terhadap Putusan Pengadilan Agama Manna Nomor 278 /Pdt.G/2021/PA.Mna perspektif Maslahah. Perceraian dilakukan dengan alasan pasangan telah dijatuhi hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat setelah menikah.

9 Tahun 1975 Pasal 19 (d) dan KHI Pasal 116 (d). e.) Perceraian diajukan atas dasar suami/istri mempunyai cacat fisik atau sakit yang disebabkan karena tidak mampu menunaikan kewajibannya sebagai suami/istri. 9 Tahun 1975 Pasal 19 (e) dan KHI Pasal 116 (e). f.) Perceraian digugat dengan alasan terus-menerus terjadi perselisihan antara suami dan istri dan tidak ada lagi harapan untuk hidup rukun dalam rumah tangga.

Nusyuz

Manakala perpisahan suami isteri kerana fasakh tidak mengurangkan jumlah perceraian, yang bermaksud sekiranya berlaku fasakh kerana khiyar balig, maka kedua-dua suami isteri berkahwin dengan akad baru, maka suami masih berpeluang untuk berpisah. tiga kali. 125. Manakala dalam kitab tafsir Al-Qasimi dan Al-Jami’ pula, nusyuz bermaksud sesuatu yang tinggi atau tempat yang tinggi di muka bumi. Jika konteksnya berkaitan dengan hubungan suami isteri, maka ia bermaksud keingkaran, penentangan dan kebencian isteri terhadap suaminya.

Menurut istilah, nusyuz mempunyai beberapa pengertian antaranya: Menurut fuqaha Hanafiyah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Saleh Ganim, ditakrifkan oleh ketidaksenangan yang berlaku antara lelaki dan perempuan. Manakala menurut ulama Syafi’iyah, nusyuz adalah perselisihan antara suami isteri, manakala ulama Hanbaliyah mentakrifkannya sebagai rasa tidak senang di pihak isteri atau suami yang disertai dengan pergaulan yang tidak harmoni. 131. Menurut Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah dalam kitab Tafsir Al-Kabair, nusyuz ialah apabila seorang wanita menderhakai suaminya hingga melarikan diri dari suaminya dengan beberapa darjat kemaksiatan apabila lelaki itu mengajak persetubuhan, atau wanita itu keluar dari rumahnya tanpa keizinan suaminya atau apa-apa yang serupa dengannya yang menyebabkan keengganan isteri untuk mentaati suaminya. 132.

134 Muhammad Navevi Al-Xavi, Marah Labid Li Kasyf Ma‟na Qur‟an Majhid (Jeddah: Al-Haramain, t.t), hlm. Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, dalam kitabnya Tanwir al-Qulub fi Muamalati "allamil Ghuyub mengatakan bahawa nusyuz ialah wanita yang tidak menunaikan kewajipannya terhadap suaminya, seperti meninggalkan atau bersikap acuh tak acuh setelah kehidupan yang halus, meninggalkan, meninggalkan rumah. .tidak lain kecuali keluar kerana hukum atau syara'.136 Syamsudin Muhammad, dalam kitabnya Mughnil Muhtaj ila Ma'rifati Ma'ani Alfadzil Manhej, mendefinisikan nusyuz sebagai derhaka isteri kepada suaminya dalam perkara-perkara. bahawa Allah telah menetapkan bahawa dia mentaatinya, seolah-olah dia menyombongkan diri dan menampakkan dirinya. 137. Nusyuz dalam fiqh sering dikaitkan dengan syikak, tetapi sebahagian ulama berpendapat bahawa nusyuz tidak sama dengan syiqaq, kerana nusyuz dilakukan oleh salah seorang daripadanya. suami isteri.

Apabila seorang lelaki dan perempuan melanggar kewajipannya, sehingga mereka merasa tidak dihargai atau diabaikan dalam Islam, ia dinamakan nusyuz.

GAMBARAN UMUM TENTANG MASHLAHAH DAN

Gambaran Umum Putusan Pengadilan Agama Manna Nomor

TINJAUAN MASLAHAH TENTANG PERTIMBANGAN

Analisa Pertimbangan Hakim Dalam memutuskan hak Nafkah

Wanita yang sedang menjalani masa 'iddah tidak boleh meninggalkan rumah yang mereka tinggali bersama suaminya sebelum perceraian. Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 149 huruf (b) mengatur “pemeliharaan, makanan dan kiswah kepada bekas isteri selama masa iddah, kecuali bekas isteri itu pernah dihukum talak ba’in atau nusyus dan tidak sedang hamil. Kewajiban istri pada masa 'iddah adalah menjaga diri dari keluar rumah, membuat hiasan, menerima lamaran orang lain, bahkan menikah, sebagaimana disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 151.

Dalam hal ini kita mengetahui bahwa jika hak hidup 'iddah tidak terpenuhi maka akan ada konsekuensinya. Sudah sepatutnya kewajiban suami untuk memberikan nafkah iddah dalam perceraian yang digugat diatur dalam hukum Indonesia agar tidak terjadi kekosongan hukum, yaitu dengan memberikan sanksi bagi mantan suami yang tidak memberikan hak isterinya dengan kepastian hukum. Melihat kondisi-kondisi yang telah disebutkan, maka seorang istri yang tidak mendapat kehidupan iddah dapat mengakibatkan kesulitan finansial bagi istri dalam kehidupan sehari-hari selama masa iddah, dan jika hal itu terjadi maka dapat mendatangkan atau menghancurkan dlaruriyyat al-khamsnya. .

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketentuan nafkah iddah harus diatur karena perempuan mempunyai hak atas nafkah selama masa iddah. Sedangkan diatur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 151: Mantan isteri dalam masa iddah wajib mengurus dirinya sendiri, tidak menerima lamaran dan tidak menikah dengan laki-laki lain. Dari hal tersebut perlu adanya suatu undang-undang yang mengatur tentang hukum yang berkaitan dengan pemeliharaan iddah agar apapun yang menjadi hak perempuan dapat terpenuhi.

Melihat aturan yang mengatur tentang kewajiban melakukan iddah dan kewajiban laki-laki untuk menafkahi dirinya selama masa iddah yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dan dalam Kompilasi Hukum Islam, hal ini sudah selayaknya dilaksanakan.

PENUTUP

Saran

Pengadilan agama khususnya Pengadilan Agama Bengkulu Selatan dapat bekerjasama dengan kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkulu Selatan untuk memediasi putusan pengadilan mengenai hak istri dalam perkara perceraian. Sehingga para mantan suami istri dapat menerima hasil putusan pengadilan dengan lapang dada dan iktikad baik. Kementerian Agama RI, Membangun Keluarga Harmonis (Tafsir Tematik dari Al-Qur'an), (Jakarta: Penerbit Aku Bisa, 2012).

Al' Ati, Mahmudah 'Abd, Moslem Familie, (Surabaja: Bina Ilmu, 1984) Al-Hamdani, H.S.A., Notules van die huwelik, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002) Al-Munawar, Said Agil Husin, Building Ushul fiqh metodologie. Ashofa, Burhan, Regsnavorsingsmetodes, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996) Asmawi, Comparison of Ushul Fiqh (Jakarta: Amzah Publishers, 2011). Harahap, Fitri Gamelia, Review of Islamic Law and Positive Law on Requests for Madhiyah Support in Divorce Cases, Syahsia: Journal of Islamic Civil Law, Vol.

Ihwanudin, Nandang, Menunaikan Kewajipan Cerai di Pengadilan Agama, Sekolah Agama Islam (STAI) Siliwangi Bandung, Majalah 'Aoliya Vol.10, No.1, Jun 2016 Ilyas, Hamim Wanita Tertindas: Kajian Hadis "Misoginis". Khallaf, Abdul Wahab, Rules of Islamic Law, Knowledge of Ushul Fiqh, translation by Noer al Barsany, Iskandar, Moh. Tanzeh, Ahmad, An Introduction to Research Methods, (Yogyakarta: Teras, 2009) Tihami and Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: A Study of Fikih Nikah.

Salma, Elfita dan Afifah Djalal, Perlindungan Hukum Perempuan dan Anak (Analisis Putusan Hakim Terkait Dukungan Madhiyah di Peradilan Agama di Sumatera Barat) dalam Istinbath: Jurnal Hukum Islam/Jurnal Hukum Islam, Vol.16.

Referensi

Dokumen terkait