• Tidak ada hasil yang ditemukan

halaman depan sintami - Repository IAIN Bengkulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "halaman depan sintami - Repository IAIN Bengkulu"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Kegunaan Penelitian
  • Penelitian Terdahulu
  • Metode Penelitian
    • Jenis dan Pendekatan Penelitian
    • Waktu dan Lokasi Penelitian
    • Subjek/ Informan Penelitian
    • Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data A. Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
    • Wawancara
    • Observasi
    • Teknik Analisis Data
    • Sistematika Penulisan

Pemilik dan penggarap perkebunan kopi (studi kasus di Desa Pungguk Meranti Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang). Tinjauan Hukum Islam tentang Akad Bagi Hasil Muzara'ah (Studi Kasus di Desa Dalangan Kabupaten Klaten), Afia Susilo.

LANDASAN TEORI

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Rukun Akad dan Syarat Akad a. Rukun Akad

Artinya, orang tersebut adalah pemilik asli, wali, atau wakil dari suatu objek transaksi, sehingga ia mempunyai hak dan wewenang untuk melakukannya. Dan yang penting, pihak yang membuat kontrak harus bebas dari tekanan sehingga bisa leluasa menyatakan pilihannya.

Dasar Hukum Akad

Hak akad adalah sesuatu yang wajib dilakukan untuk menciptakan hukum adat, seperti penyerahan barang yang dijual, retensi harga (uang), pengembalian barang cacat dan khiyar. Hak jual beli yang meliputi hak adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan barang yang dibeli, yang meliputi berbagai hak yang harus ada dari suatu obyek yang disebut pengawasan (muraiq).

Terbentuknya Akad

Dihitung sebagai akibat tasharruf syara’, berimplikasi pada beberapa ketentuan, baik bagi orang yang menerima wasiat maupun bagi orang atau benda yang diwariskan. Aturan umum yang berlaku dalam hal ini misalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah, yaitu jendela, pintu, ruangan, dapur, dan lain-lain, sekalipun tidak disebutkan dalam kontrak, kecuali ada pengecualian.

Prinsip-Prinsip Muamalah

Islam memberi kebebasan kepada parti-parti untuk mengadakan sebarang perjanjian atau pakatan. Bentuk dan kandungan perjanjian ditentukan oleh para pihak. Setelah bentuk dan kandungan dipersetujui, perjanjian itu mengikat pihak yang bersetuju dengannya dan semua hak dan kewajipan mereka mesti dilaksanakan. Namun, kebebasan ini bukanlah mutlak. Dalam Syariah, prinsip kebebasan berkontrak bukanlah mutlak (mutlak), tetapi bersifat relatif kerana sentiasa dikaitkan dengan kemaslahatan bersama (maslahah 'ammah). Prinsip kebebasan berkontrak adalah prinsip yang mengajar bahawa pihak-pihak dalam perjanjian atau kontrak bebas untuk membuat perjanjian, menentukan kandungan dan bahan perjanjian, menentukan syarat-syaratnya, menentukan prestasinya, dengan sesiapa sahaja untuk membuat perjanjian. . , membuat perjanjian bertulis atau lisan, termasuk mewujudkan cara penyelesaian sekiranya berlaku pertikaian. Dengan mencapai kesepakatan antara pihak ('aqidain'), yang diwujudkan melalui ijab dan qabul, maka lahirlah kontrak (akad).

Meskipun pada kenyataannya jarang terjadi keseimbangan antara para pihak dalam suatu transaksi, namun hukum akad Islam tetap menekankan perlunya keseimbangan, baik keseimbangan antara apa yang diberikan dan apa yang diterima maupun keseimbangan dalam menanggung risiko.42 Prinsip keseimbangan dalam transaksi (antara apa yang diberikan dan apa yang diterima). diterima) tercermin dari pembatalan kontrak yang mengalami ketidakseimbangan kinerja yang mencolok. Kejujuran merupakan landasan utama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran karena kejujuran identik dengan kebenaran. Dengan demikian, kejujuran dan kebenaran merupakan asas akad dalam Islam sebagai syarat hukum sahnya suatu akad. Apabila asas ini tidak diterapkan dalam suatu kontrak, maka akan merusak keabsahan suatu kontrak dan dapat menimbulkan perselisihan antar para pihak.

Syarat aqid (orang yang berakad)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. Kejujuran tidak seharusnya ditafsir secara sempit hanya sebagai "keharmonian antara perkataan dan perbuatan, keserasian antara perkataan dan fakta". Ia juga mesti bermakna kebenaran dan keadilan dalam tindakan, dan kebijaksanaan dalam mengambil pendirian. Disyaratkan bahawa kedua-dua pihak yang mengikat kontrak jualan adalah orang yang mempunyai hak pemilikan penuh ke atas barang yang dijual atau mempunyai hak untuk menggantikan kedudukan pemilik asal barang tersebut.

Syarat-syarat yang berkaitan dengan akad dan qabul akad adalah kewajiban-kewajiban yang ditetapkan dalam akad dan qabul berdasarkan ketentuan syara' yang berdampak pada obyeknya.

Batalnya Akad

Teori Musaqah

  • Dasar Hukum Musaqah

Secara etimologis, al-musaqah berarti transaksi dalam bidang irigasi, yang oleh masyarakat Madinah disebut dengan al-mu'amalah. Oleh karena itu, akad al-musaqah merupakan suatu bentuk kerjasama antara pemilik perkebunan dan petani dengan tujuan agar kebun tetap terjaga dan dirawat sedemikian rupa sehingga memberikan hasil yang maksimal. Dalam menentukan keabsahan akad musaqah dari segi syara, Zufair bin Huzail berpendapat bahwa akad al-musaqah dengan ketentuan praktisi menerima bagian dari hasil kerjasama tersebut adalah tidak sah, karena al-musaqah seperti ini juga melibatkan pembayaran kepada seseorang sebagai imbalan atas bagian dari hasil panen dari kebun.

Sejumlah ulama fiqih, antara lain Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani, keduanya tokoh fiqih Hanafi, berpendapat bahwa akad al-musaka diperbolehkan. Selain kedua hadits di atas, diperbolehkannya al-musakah juga didasarkan pada ijma (kesepakatan para ulama fiqh), karena pandangan mereka adalah transaksi yang memang diperlukan manusia untuk memenuhi kebutuhan vitalnya.

Pengertian Penggarap

Alasan lain yang mereka kemukakan adalah sebagian pemilik perkebunan tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk mengolah sendiri perkebunannya.

Pengertian Pemilik Lahan

  • Sejarah Desa Pungguk Meranti
  • Sarana dan Prasarana
  • Jumlah Penduduk

Desa Pungguk Meranti merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Kepahiang, sebelum ada desa di Kepayang yang dipimpin oleh Ir. Kader, M.M., periode 7 Agustus 2005 sampai dengan 7 Agustus 2010 sebagai Bupati pertama Kabupaten Kepahiang secara definitif berdasarkan hasil pemilihan langsung Kepala Daerah (Pimilukada Langsung) Kepahiang Tahun 2005. Warga Pungguk Meranti Desa, Kabupaten Kepahiang membangun sarana ibadah berupa masjid dan tempat pembuangan sampah.

Berdasarkan data yang ada di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang, jumlah data yang berhasil dikumpulkan adalah 2 sarana dan prasarana pendidikan. Untuk sarana pendidikan di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang terdapat sarana pendidikan yaitu Taman Kanak-Kanak, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.

Kondisi Sosiologis Masyarakat DesaPungguk Meranti Kabupaten Kepahiang

Pekerjaan tersebut tidak lepas dari kerja keras dan kemampuan fisik dalam menjalankannya, sektor pertanian perkebunan kopi juga sangat bergantung pada faktor alam untuk menentukan hasil yang maksimal.

Kondisi Sosiologis Masyarakat DesaPungguk Meranti Kabupaten Kepahiang

Pelaksanaan Akad Penjualan Kopi Sebelum Pembagian Hasil Antara Pemilik Dan Penggarap Kebun

Hal ini menimbulkan beberapa pelanggaran terhadap kerjasama yang telah disepakati sehingga menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak, misalnya petani secara diam-diam menjual hasil perkebunannya kepada orang lain tanpa sepengetahuan pemilik perkebunan, atau pemilik perkebunan menetapkan standar harga kopi secara diam-diam. Pembagian hasil menurut adat setempat dibagi menjadi setengah, sepertiga, dan seperempat, sedangkan harga per kilogram kopi ditetapkan berdasarkan harga pasar lokal kota dikurangi 2 persen. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, pihak pekebun menyetujui apa yang didengarnya kemudian dibuatlah perjanjian atau kontrak.

Fenomena Penjuala Kopi Sebelum Pembagian Hasil Antara Pemilik Dan Penggarap Kebun

  • Soni
  • Karli
  • Yanto
  • Jarno
  • Idit

Saya kenal Pak Toni, dia adalah paman saya, adik dari ibu saya, saya bekerja di kebun paman saya karena paman saya sudah tidak bisa lagi bekerja di kebun karena usianya, saya hanya datang ke kebun paman saya, tidak ada bukti. perjanjian/kontrak dibuat secara lisan ya kakak. - Apakah mereka hanya percaya satu sama lain? Saya bekerja dan merawat kebun sendiri. Paman jarang sekali datang ke kebun untuk melihat perkembangan kebunnya. Kalau panen pamanku sudah selesai, ia tidak ikut berjualan. Ia langsung membagi-bagikan uang yang diterima sesuai kesepakatan. Kami selalu datang ke rumah pamanku. Uang itu kita simpan. Yang bekerja di kebunku adalah Soni, keponakanku sendiri, dia tidak punya pekerjaan lain selain bekerja di kebunku. Saya tidak lagi dapat bekerja keras karena usia dan seringnya saya sakit. Aku percaya sepenuhnya pada Soni, Kak, karena tak mungkin Soni membohongiku. Yang bekerja di perkebunan kopi saya adalah Pak Karli, saya baru mengenalnya 2 tahun, beliau adalah orang yang jujur ​​dan gigih.

Kelemahan bekerja di ladang kopi ialah racun rumpai sering sampai lambat, walaupun pakcik ini datang ke ladang setiap minggu. Saya bekerja di ladang kopi ayah saya, saya anak jiran ayah saya dan kami masih ada ikatan keluarga, ayah ini anak saya.

Analisis Bagi Hasil Penggarapan Perkebunan Kopi di desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang

  • Sistem Bagi Hasil Penggarapan Perkebunan Kopi di desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang
  • Pelaksanaan Sistem Bagi Hasil Penggarapan Perkebunan Kopi di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang

Hal itu diwujudkan Toni (57 tahun) saat mengadakan perjanjian pembagian keuntungan dari budidaya tanaman kopi miliknya. Dalam sistem bagi hasil budidaya perkebunan kopi, terdapat tiga unsur utama yaitu pemilik lahan perkebunan, petani penggarap, dan petani kopi. Beberapa alasan yang mendasari pemilik perkebunan kopi mengadakan perjanjian sistem bagi hasil dalam budidaya tanaman kopi adalah sebagai berikut.

Penerapan sistem bagi hasil pada budidaya tanaman kopi di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang Kopi di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang. Dalam kesepakatan sistem bagi hasil budidaya tanaman kopi di Desa Pungguk Meranti Kabupaten Kepahiang tidak ada persyaratan bagi kedua belah pihak. Pemilik tanah mempercayakan sepenuhnya pekerjaan penggarapan lahan perkebunannya kepada petani penggarap.

Analisis Praktek Bagi Hasil Kebun Kopi Antara Penggarap dan Pemilik Kebun

Agama Islam telah mengatur segala aktivitas manusia dalam mua'malah, diantaranya adalah sistem bagi hasil, dalam hal ini ada beberapa jenis sistem bagi hasil, misalnya bagi hasil dengan pedagang dalam konsep mua'malah, dengan pembagian hasil atau keuntungan sesuai dengan yang disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pemilik modal dan pengelola modal, adapun yang akan peneliti analisa adalah mengenai pembagian keuntungan dengan obyek perkebunan khususnya perkebunan kopi menurut konsep muamalat sebagai berikut. Kerja sama bagi hasil bagi masyarakat ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, karena dengan bagi hasil seperti ini bagi pemilik yang mempunyai kebun, namun bila tidak mampu mengelolanya tetap dapat memanfaatkan kebun tersebut, dan. Namun jika dilihat dari syariat Islam kerjasama tersebut tidak sesuai dengan syariat Islam, maka berdasarkan pengertian berbagai penjelasan di atas, konsep bagi hasil dalam musaqoh yang terjadi di Desa Pungguk Meranti khususnya petani kopi, sebelumnya sesuai. dengan konsep mua'malah, karena akad yang digunakan sejak awal masih ada unsur adatnya, meskipun dari segi pembagiannya sudah sesuai dengan konsep Islam.

Sedangkan mengenai pendistribusian hasil perkebunan kopi, seringkali pemilik perkebunan menganggap hal tersebut tidak wajar atau masih menganggap buruk para pekerja perkebunan karena hasil yang dibagikan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dari hal tersebut peneliti juga menyimpulkan bahwa para petani kopi diam-diam menjual produk kopinya ke agen lain karena kebutuhan ekonomi yang mereka hadapi saat ini sangat sulit, mata pencaharian mereka hanya bercocok tanam, tidak mempunyai kebun pribadi dan pembagian keuntungan kopi yang terkadang tidak konsisten. dengan pekerjaannya, betapa sulitnya merawat taman.

Pandangan Islam

Seringkali petani menjual produk kopinya secara diam-diam ke agen kopi lain, bukan ke agen kopi yang disepakati kedua belah pihak. Pemilik kafe kerap menerima laporan dari masyarakat mengenai hal ini. Sehingga para pemilik kopi terkadang merasa sedikit dirugikan oleh para pekerja perkebunan, hal ini yang mereka takutkan jika kontrak yang dibuat sebelum kerjasama terjadi adalah kontrak lisan. Setelah memperhatikan penjelasan pada bagian diatas mengenai kewajiban membantu dan membagi hasil dengan baik, maka kerjasama bagi hasil antara pemilik kebun kopi dengan penggarap pada dasarnya tidak jauh dari transaksi mudharabah, yaitu akad pembagian keuntungan usaha dagang antara pemilik modal dan pedagang.

Kerja sama pembagian keuntungan perkebunan kopi yang dilakukan oleh para pekebun juga bermanfaat bagi pemilik perkebunan. Dapat kita pahami bahwa akad yang dilakukan oleh petani dan pemilik perkebunan yang bekerja sama membagi hasil perkebunan kopi dengan akad lisan tidaklah sesuai dengan syariat Islam.

PENUTUP

SARAN

Dwi Fatmawati, Tinjauan Hukum Islam Tentang Kerja Sama Bagi Hasil Dalam Budidaya Sawah Dan Perkebunan Kopi Studi Kasus Di Desa Talang Jawa Kecamatan Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus. Skripsi, Universitas Islam Raden Intan, Lampung,.

Gambar

Tabel 4.1  Pendidikan Formal
Tabel 4.1  Pendidikan Formal
Tabel 4.1 Jumlah dan Persentase Respoden   Menurut Pendapatan Kebun Kopi  No  Pendapatan/

Referensi

Dokumen terkait

Tapi, kami pasti datang dan langsung ke rumah sakit.” Dara berbicara lagi, “Ma, saya sebetulnya ingin bercerita banyak sekali, tapi tidak tahu saya harus mulai dari mana?” Kedua