Ika Rahmawati 20043010084
Fotografi Jurnalistik
Harmoni Tradisi dan Modernitas di Jalan Tunjungan: Pantomim Becak, Ikon Seni Tua yang Menghiasi Mlaku Mlaku nang Tunjungan
Di jantung kota Surabaya, tepat di Jalan Tunjungan, sebuah citra menakjubkan memperlihatkan harmoni antara tradisi dan modernitas. Seorang seniman pantomim yang memakai becak sebagai panggung kelilingnya menjadi ikon hidup di jalan yang begitu terkenal ini. Di sekitarnya, terdapat ikon "Mlaku Mlaku nang Tunjungan", sebuah simbol kegiatan jalan-jalan atau berjalan-jalan yang menghidupkan suasana di kawasan tersebut.
Seniman pantomim itu dengan penuh semangat menjalani panggilannya di antara gemerlap kota. Dengan becak tuanya yang penuh karakter, ia menjadi daya tarik yang tak terelakkan bagi mereka yang melintas di Jalan Tunjungan. Ekspresi wajahnya yang ceria dan gerakan pantomimnya yang mengalir menangkap mata para pejalan kaki, membawa mereka pada perjalanan melintasi masa lalu yang dipadukan dengan pesona masa kini.
Di latar belakang foto, ikon "Mlaku Mlaku nang Tunjungan" menciptakan suasana yang penuh kehidupan. Ornamen dari huruf yang bersinar menyambut setiap orang yang memasuki kawasan ini. Seolah memberikan sambutan, sebagai seorang seniman yang menjadikan jalanan ini sebagai panggungnya sendiri.
Dalam gambaran ini, kita menyaksikan tidak hanya seni yang hidup dari becak, tetapi juga integrasi budaya dan modernitas. Jalan Tunjungan menjadi panggung bagi seniman tua ini, sementara "Mlaku Mlaku nang Tunjungan" adalah selamat datang resmi yang berbicara tentang kegiatan jalan-jalan yang menghidupkan jalan ini.
Meskipun tak ada yang mengajak foto, gambar ini menciptakan kesan tentang kesederhanaan dan keindahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan becaknya yang kuno, dan ikon "Mlaku Mlaku nang Tunjungan" yang modern, berdampingan sebagai dua simbol yang melengkapi satu sama lain, menciptakan harmoni yang menyentuh hati di tengah-tengah kesibukan kota yang tak pernah berhenti. Meskipun sepi dan tanpa satu pun lensa kamera yang menyorot ke arahnya, ia terus beraksi tanpa henti. Setiap gerakan tangannya bagaikan puisi tak berbunyi, mengisi udara senja Surabaya dengan keindahan yang tak terdengar.
Ia mungkin tidak meminta lebih dari sekadar penghargaan yang datang dalam bentuk senyuman lewat mata pejalan kaki yang melintasinya. Di balik setiap gerakan pantomim, ada kisah yang mengajar kita tentang keberanian, ketekunan, dan kebahagiaan yang tak tergoyahkan di dalam hati seorang seniman tua yang tetap setia pada panggilannya.