PENDAHULUAN
GAGASAN UMUM HUKUM WARIS
Waris dalam Hukum Islam dan Hukum Positif
Oleh karena itu ahli waris yang mempunyai hak atas bagian warisan yang menjadi haknya tidak dapat dipengaruhi atau ditentang oleh ahli waris lainnya. Apabila ahli waris dan ahli waris bersatu, maka yang masih berhak menjadi ahli waris ada lima orang, yaitu Tuan, Nyonya.
Urf dalam Hukum Islam
Sedangkan adat istiadat yang rusak tidak dapat dijadikan sebagai dasar pembuktian karena bertentangan dengan usulan syariat atau membatalkan hukum syariat. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga ulama tersebut menjadikan 'urf sebagai salah satu dasar dalilnya, tentu saja 'urf yang tidak bertentangan dengan ketentuan syariat'.49.
Harta Bersama
Pendapat ini menerima bahwa apa yang diatur dalam undang-undang no. Dengan demikian, keputusan mengenai pembagian harta bersama tidak hanya sebatas pada keputusan Pengadilan Agama, tetapi juga mencakup kesepakatan berdasarkan musyawarah antara kedua belah pihak, sehingga besarnya keuntungan bagi keduanya akan ditentukan berdasarkan hasil tersebut. dari diskusi. tanpa ada pihak yang merasa dirugikan dengan proses ini.
Teori Perlindungan Hukum
Para ahli waris dapat bersepakat untuk berdamai dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing mengetahui bagiannya.” Para ahli waris boleh bersepakat untuk berdamai dalam pembagian harta warisan setelah masing-masing orang telah menunaikan bagiannya”132.
PRAKTEK PUSAKE PADA MASYRAKAT
Pelaksanaan Pembagian Pusake Pada Masyarakat
Telah peneliti jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa proses perpindahan harta benda dari orang tua kepada anaknya pada masyarakat Lombok Tengah tidak hanya sebatas pada proses pewarisan saja, yaitu peralihan harta benda akibat meninggalnya ahli waris kepada ahli waris. Perbedaan besarnya bagian harta yang diperoleh seorang anak dalam warisannya sendiri disebabkan oleh sumber harta yang diperolehnya. Dalam proses pewarisan, anak laki-laki akan menerima harta dari ayahnya, sedangkan anak perempuan akan menerima harta dari ibunya.
Jadi, salah satu tujuan pembagian harta pada saat orang tua masih hidup adalah untuk mencegah terjadinya konflik antara anak dan cucu di kemudian hari akibat sengketa harta benda. Kehadiran keluarga menjadi penting dalam pewarisan ini, karena proses dan bagian harta yang diterima oleh pihak yang menerima bagian tersebut nantinya akan diketahui oleh keluarga.
Nilai-Nilai dalam Pelaksanaan Pusake
Pada pasal di atas terlihat bahwa salah satu alasan seseorang menjadi ahli waris adalah karena ia beragama Islam. Dalam sistem pewarisan adat di Lombok Tengah, ahli waris adalah anak laki-laki dan anak perempuan yang merupakan ahli waris dari orang tuanya. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa menurut hukum waris Islam, ahli waris berasal dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan, serta dari hubungan perkawinan.
Kedudukan ahli waris laki-laki adalah ashabah bi nafsihi, sendiri atau lebih dari satu orang. Pembagian harta warisan secara damai (sulhu) ini biasa dilakukan oleh ahli waris agar hubungan kekeluargaan tetap baik.
PUSAKE DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Pembagian Pusake Pada Masyarakat Lombok
Hukum adat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat berbagai daerah di Indonesia dan dipatuhi oleh masyarakat karena sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat secara turun temurun. Oleh karena itu, perbedaan agama dan budaya akan membawa banyak perbedaan dalam sistem hukum adat di Indonesia. Persoalan waris dalam hukum Islam tidak mengenal istilah perjanjian damai dalam pembagian warisan sebagaimana tercantum dalam pasal 183 KHI.
Namun hal ini sering dijumpai pada masyarakat yang tidak menerapkan syariat Islam sebagai dasar pembagian harta warisan. Jika diartikan dengan sepakat secara damai untuk membagi harta warisan sesuai keinginannya sendiri, maka hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam dan haram.
Pembagian Harta Melalui Pusake Pada Masyarakat
Pasal 171 (b) Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disingkat KHI) menyatakan bahwa ahli waris adalah seseorang yang pada saat meninggal dunia atau dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan Islam, meninggalkan ahli waris dan harta warisan. Penerima warisan dalam hukum adat terdiri dari ahli waris dan bukan ahli waris, namun mendapat bagian warisan, sedangkan dalam hukum Islam penerima warisan hanyalah ahli waris. Istilah warisan digunakan dalam hukum adat untuk menyebut orang-orang yang menerima warisan, yang terdiri dari para ahli waris, yaitu mereka yang berhak menerima warisan dan bukan ahli waris melainkan juga harta warisan yang diwariskan.
Pasal 171 (c) KHI mengatur, ahli waris adalah orang yang pada waktu meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak dihalangi hukum untuk menjadi ahli waris. Ahli waris adalah orang yang berhak mewaris101. Untuk menjadi ahli waris ada tiga syarat yang disebutkan dalam pasal 171 c KHI, yaitu:102.
Nilai-Nilai Perlindungan Perempuan
Namun demikian, anak laki-laki tidak bisa menolak pemberian kekayaan yang diberikan orang tuanya semasa hidup kepada anak perempuan dan sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pewarisan Islam bersifat dua arah, yaitu sistem pewarisan yang ahli warisnya berasal dari keturunan laki-laki dan perempuan. Jika anda mempunyai anak perempuan maka anda dapat menarik anak perempuan tersebut untuk menjadi sahabat. 116 Kedudukan anak laki-laki sangat kuat dalam hukum waris Islam, kehadirannya dapat menghalangi ahli waris non-primer untuk menerima warisan.
Laki-laki mendapatkan bagian warisan yang lebih besar dibandingkan perempuan, namun bukan berarti tidak adil. Hak diberikan sesuai dengan kewajiban yang dilakukan, begitu pula dalam pembagian warisan antara anak laki-laki dan anak perempuan dimana anak laki-laki lebih dominan karena mempunyai kewajiban yang lebih besar.
Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksaaan
Selain itu, menurut Ahmad Rofiq, upaya damai (sulhu) dapat dilakukan untuk memperkecil kesenjangan ekonomi antara ahli waris yang satu dengan ahli waris yang lain, karena kesenjangan ekonomi antar keluarga dapat menimbulkan konflik di antara mereka. Padahal, inti dari asas ini adalah kesediaan para ahli waris yang ada untuk memberikan bagiannya sebagaimana mestinya. Berdasarkan keterangan Abu Zahrah, pembagian harta warisan adalah jika masing-masing ahli waris bersedia membaginya secara kekeluargaan atau damai sesuai dengan kesepakatan masing-masing pihak yang terkait.
Padahal berdasarkan hal tersebut, sah-sah saja jika salah satu ahli waris melepaskan atau menyerahkan hak pembagian harta warisan untuk diserahkan kepada ahli waris lainnya. Dengan demikian, apakah ada upaya untuk memperkecil kesenjangan ekonomi antara ahli waris yang satu dengan ahli waris yang lain, karena kesenjangan ekonomi dapat memicu konflik antar ahli waris?
KONSEP AS-SULHU DALAM WARIS
Pendahuluan
Hukum Islam membolehkan salah satu ahli waris menyatakan tidak akan mengambil hak warisnya dan bagiannya akan diberikan kepada ahli waris lainnya. Jika ada salah satu ahli waris yang berkecukupan, sedangkan ahli waris yang lain miskin, maka ahli waris miskin tersebut dengan sengaja mengambil bagian yang lebih besar. Perkataan musyawarah yang dihasilkan berdasarkan musyawarah terkadang menimbulkan perbedaan bagian yang diterima ahli waris dengan bagian yang ditentukan dalam Islam.
Sistem faraid dalam Islam memberikan kesempatan kepada ahli waris untuk membagi harta warisan tanpa mengikuti rincian pembagian yang ditentukan oleh Al-Qur'an dan Hadits. Berdasarkan kesepakatan para ahli waris, besarnya bagian masing-masing ahli waris selanjutnya dapat berubah sesuai dengan kesepakatan para ahli waris.
Gagasan Umum Tentang As-Sulhu
Menurut ulama Hanafiyah, rukun shulh hanyalah ijab dan qabul antara dua pihak yang berakad. 128. Seperti hukum-hukum yang lain, dalam shulh juga terdapat syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh orang yang harus melakukan shulh. Ia tidak disyaratkan bahawa pihak yang berkontrak telah mencapai umur yang sah, dan oleh itu undi diambil oleh.
Pihak yang melakukan shulh (perdamaian) tidak boleh di bawah umur, kedua-duanya atau salah satu pihak, jika perdamaian yang akan dilakukan berkaitan dengan perkara yang mendatangkan mudarat atau kerugian. Salah satu pihak yang berkontrak bukanlah seorang yang murtad. Syarat terakhir ini dibuat oleh golongan Hanafiyah, sedangkan kebanyakan ulama tidak menerapkan syarat ini.
Pembagian Waris Dengan Sulhu
Imam Syafi’i berpendapat dalam kitabnya al-Umm bahwa “apabila seseorang meninggal dunia dan yang menjadi ahli warisnya adalah istri atau anak atau kalalah (tidak meninggalkan ayah atau anak), maka ahli warisnya shuluh setelah mengetahui bagiannya masing-masing. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ada tidak ada halangan bagi seorang atau beberapa ahli waris untuk menyerahkan sebagian atau seluruh hak warisnya kepada ahli waris lain atau kepada orang lain.Namun bagi Munawiri, konsep ini masih mempunyai keraguan yang serius akan kewajarannya, berdasarkan penelitian dan kenyataan yang terjadi di masyarakat, menurut Munawir, laporan hakim di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan mengungkapkan bahwa perbuatan masyarakat menyimpang dari ketentuan Al-Qur'an tentang pemisahan laki-laki dan perempuan dengan perhitungan 2:1, dalam praktiknya di masyarakat. , ahli waris tetap memerlukan fatwa.
Artinya, apabila ahli waris yang mendapat bagian lebih besar ternyata berkecukupan secara ekonomi, sedangkan ahli waris yang menerima bagian kecil masih kekurangan secara ekonomi, maka pembagian warisan di antara para ahli waris dapat dilakukan dengan cara shulh atau musyawarah. dalam pembagian warisan. Dalam hal ini Kompilasi Hukum Islam (KHI) menerapkan sistem pembagian warisan secara damai atau shulh pada Pasal 183 yang menyatakan demikian.
PENUTUP
Kesimpulan
Pembagian pusake pada masyarakat Lombok Tengah berbeda dengan pembagian warisan yang berlaku pada masyarakat pada umumnya, hal ini terlihat dari beberapa sisi, antara lain: 1) pusake dilakukan pada saat pemilik harta (orang tua) masih hidup, sedangkan pewarisan hanya dapat dilakukan apabila ada yang meninggal dunia sebagai ahli warisnya. Pelaksanaan pusake dilakukan dengan berpegang pada prinsip musyawarah keluarga, sehingga dalam proses pembagian dan penyelesaian apabila terjadi permasalahan cenderung mengedepankan nilai-nilai musyawarah dan mufakat antar keluarga dengan melibatkan krame gubuq dan krame dese. . sebagai mediator di antara mereka. Pembagian harta warisan itu sendiri dilakukan dengan ketentuan anak laki-laki menerima harta dari bapaknya dan sebaliknya anak perempuan menerima harta dari ibu.Jika ternyata penerima harta itu ada dua orang atau lebih maka dilakukan pembagian. keluar sama-sama mempertimbangkan nilai mashlahat dan mafsadat melalui musyawarah keluarga.
Salah satu nilai yang terkandung dalam pusakes di kalangan masyarakat Lombok tengah adalah perlindungan terhadap perempuan. Realitas empiris dalam masyarakat saat ini menunjukkan bahwa perempuan seringkali tidak memiliki akses terhadap keadilan dalam pembagian harta benda, sehingga tujuan pembagian warisan juga untuk menjamin perlindungan hak-hak perempuan.
Implikasi Teoritik
Saran
Abdul Ghoful Anshori, Hukum Waris Islam dalam Eksistensi dan Penyesuaian Indonesia, (Yogyakarta: Ekonisia, 2002), Abdul Ghofur Ansori, Filsafat Hukum Waris Islam (Konsep. Akhmad Haries, Analisis Studi Perbandingan Hukum Waris Islam dan Hukum Adat, ( Jurnal Fenomena, Vol. 6 No. 2, 2014. Amin Husein Nasution, Hukum Waris (Analisis Perbandingan Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014).
Eric, Hubungan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Pembagian Warisan Masyarakat Minangkabau (Jurnal: Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Volume 3 No 1 April 2019) Fachtur Rahman, Ilmu Mawaris, (Bandung: Al-Ma' karang , 1975). Idris Ramuyo, Hukum Waris, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafa, 1995) Mardani, Hukum Warisan Islam di Indonesia.