• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasan Saiful Rizal S,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Hasan Saiful Rizal S, "

Copied!
87
0
0

Teks penuh

Dalam jual beli ayam broiler penulis menemukan adanya perbedaan antara jual beli menurut hukum fiqh dengan jual beli yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan. Dari uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti tentang penimbangan dan pengembalian ayam broiler karena cacat atau mati setelah ditimbang pada jual beli ayam broiler di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan.

RUMUSAN MASALAH

TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN 1. Tujuan penelitian

Selanjutnya penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi penelitian selanjutnya dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan sehubungan dengan jual beli. Sebagai upaya memberikan nasehat dan masukan kepada para pedagang mengenai amalan jual beli yang sesuai dengan syariat Islam.

KAJIAN PUSTAKA

9Ircham Junaidi, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Jual Beli Gabah, di Desa Tanjungrejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun, (Disertasi: STAIN, Ponorogo, 2011). 10 Lilik Indarti, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Jual Beli Jeruk, Di Dusun Nglegok, Desa Jurug, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, (Skripsi, STAIN, Ponorogo, 2010).

METODE PENELITIAN 1) Pendekatan

Untuk itu penulis akan mendeskripsikan wilayah penelitian yang dilanjutkan dengan jual beli ayam di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan. Dimana peneliti melakukan hal tersebut dengan terjun langsung ke lapangan atau ke masyarakat yaitu peternak unggas di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan.

SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Jual beli atau jual beli dalam istilah fiqh disebut al-ba'i yang secara etimologis berarti menjual atau mengganti. Dengan melihat syarat-syarat jual beli dapat dipahami bahwa dalam suatu transaksi jual beli ada dua pihak yang terlibat, transaksi tersebut terjadi pada suatu benda atau harta yang mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, barang yang diperjualbelikan itu sah, dan keduanya para pihak berhak atas kepemilikannya selama-lamanya. 21 Selain itu hakikat jual beli adalah perjanjian pertukaran benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela antara kedua belah pihak.

Dasar Hukum Jual Beli

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perniagaan yang ada di antara kamu”.

ملس و يلع هاا ىلص ّ ّلا لئسل اقف ؟بيط أ بسكلا ّيا

لمع

رورم عيب ّلكو ديب لج ّرلا

مك ا او راّزبا اور (

ىقهيبلا اورجام نباو

ءادهشلاو نقيدصلاو نب ل(

ى ذمرلا اور)

Rukun Dan Syarat Jual Beli

Jual beli mempunyai prinsip dan syarat yang mesti dipenuhi agar jual beli syar boleh dianggap sah. Dalam menentukan prinsip jual beli, terdapat perbezaan pendapat antara ulama H}}}anafi>yah dengan jumhur ulama. Hanya ada satu rukun jual beli, menurut ulama Hanafi>yah, ija>b (ungkapan jual beli dari pembeli) dan qabu>l (ungkapan jual beli dari penjual).

Dalam jual beli ada empat macam syarat iaitu syarat pembentukan akad (in’iqad), syarat sah akad, syarat pelaksanaan akad (nafadz) dan syarat syarat luj> umun (mengikat). 33. Ia adalah syarat yang ditetapkan oleh syarak. Jika keperluan ini tidak dipenuhi, penjualan akan terbatal. a) Syarat Akid (orang yang mempunyai Akat).

Macam-Macam Jual Beli

Sedangkan jual beli fa>sit yang diharamkan adalah jual beli habli>l ha>balah. Menurut Sya>fi'i>, jual beli habli>l ha>balah adalah menjual daging unta dengan harga tertentu hingga unta tersebut melahirkan anak.

Khiyar dalam Jual Beli

قرفتي م ام راي اب امه م دحاو لكف ناجرلا عيابت اذإ

ير احبلا اور)

ملس اا وخأ ملس ا ,

بيع يفو اعيب يخأ نم عاب ملس ل انباإ

Larangan dalam Jual Beli

Seorang muslim tidak boleh melakukan jual beli secara akad, melainkan harus melakukan keduanya secara bersamaan. Dari ayat di atas apabila orang yang bertransaksi jual beli jujur ​​maka akan mendapat kepuasan yang lebih besar. Salah satu wujud kejujuran dalam jual beli adalah jujur ​​dalam menimbang dan mengukur.

Harus dipahami betapa Islam ingin menghindari ketidakadilan yang terjadi dalam jual beli. Jual beli yang demikian ini dapat dikatagorikan sebagai jual beli yang halal, namun haram, bahkan yang melakukannya jelas akan berdosa.

Manfaat dan Hikmah Jual Beli 62 1. Manfaat jual beli

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis di atas, penulis dapat memahami bahwa fiqh sangat menganjurkan kejujuran dalam transaksi jual beli yang dilakukan oleh para pedagang. Apabila transaksi ketidakjujuran dari segi takaran dan bobotnya maka akan menimbulkan jual beli yang mengandung unsur penipuan, dan tentunya merugikan salah satu pihak yaitu konsumen (pembeli). Allah SWT menghendaki jual beli sebagai pemberian kesempatan dan kebebasan bagi hamba-hamba-Nya, karena semua manusia mempunyai kebutuhan pribadi berupa sandang, pangan, dan papan.

Tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, oleh karena itu manusia wajib berhubungan satu sama lain. Dalam hubungan ini tidak ada yang lebih sempurna dari saling tukar menukar, dimana seseorang memberikan apa yang dimilikinya kemudian ia mendapatkan sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Pengertian Al - ‘Urf 1) Pengertian

PRAKTEK BELAJAR AYAM AYAM ING DESA GINUK KECAMATAN KARAS WILAYAH MAGETAN A. Sekilas Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan. Desa Ginuk kaperang dadi 3 desa, yaiku Ginuk Krajan, Sidowayah lan Sumberrejo, lan nduweni 25 Rt lan 3 Rw. Perekonomian Desa Ginuk, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, isih ngendelake sektor pertanian.

Dari desa-desa potensial di atas, sebagian besar penduduk desa Ginuk sebagian besar berprofesi sebagai petani pemilik sawah. Kondisi sosial keagamaan masyarakat Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan semuanya menganut agama Islam.

Praktik Penimbangan pada Jual Beli Ayam di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan

Saya pernah menjual 2.500 ekor ayam dengan berat 4.762 kg dan ada 25 ekor ayam yang masing-masing berbobot minus ½ kg. Ibu Suwarti menjelaskan bahwa: “Sistem penimbangan yang digunakan oleh pembeli ayam adalah sama, dimana hasil penimbangan setiap kali dikurangi ½ kg dan beratnya akan dikurangi lagi sesuai dengan berat keranjang yang digunakan”. Menurut Pak. Sofwan, penulis dapat menyimpulkan bahwa setiap ayam ditimbang di keranjang timbang maka beratnya akan bertambah sebanyak ½ kilogram.

Saya berbesar hati untuk membeli dan menjual berat ayam potong menggunakan bakul, walaupun saya mendapat potongan seberat ½ kilo gram, dan potong semula mengikut berat bakul yang digunakan untuk menimbang, ia tidak mencukupi, saya masih normal. , katanya bagi berat bersih dan sebagai balasan apabila berlaku pengurangan nanti”.79. Terdapat had berat untuk jual beli ayam potong dalam bakul seberat ½ kilogram, kerana pada masa ini, sebagai penternak ayam potong, saya menjual ayam kepada peniaga, jadi berat ayam dalam bakul, dari setiap bakul. , dia mendapat potongan ½ kilogram gram, dan dia mendapat potongan lagi, iaitu sama dengan berat bakul yang digunakan, atas alasan peniaga mendapatkan berat bersih dan sebagai pampasan jika berlaku pengurangan daging ayam. ”.80.

Praktik pengembalian ayam potong karena cacat atau mati setelah penimbangan di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan

Apabila pada saat ayam dimasukkan ke dalam truk, ada ayam yang cacat atau mati, maka ayam tersebut dikembalikan kepada peternak untuk diganti.” 81. Praktek pengembalian ayam broiler karena cacat atau mati setelah ditimbang dalam jual beli di Desa Ginuk Kecamatan Karas. Seluruh ayam ditimbang dalam keranjang, setelah ditimbang ayam diangkut dan dimasukkan ke dalam truk, terdapat 15 ekor ayam cacat dan 8 ekor ayam mati.

Mengembalikan ayam yang rusak atau mati setelah ditimbang adalah hal yang benar, karena saya sendiri sebagai peternak ayam pernah menjual ayam saya, lalu menimbang semua ayam dalam satu keranjang. Analisis Fikh Muamalah Jumlah Timbangan dalam Jual Beli Ayam di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten.

Analisa Fiqh Muamalah Terhadap Kuantitas Timbangan Pada Jual Beli Ayam Potong di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten

Praktek jual beli ayam broiler di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan dilakukan baik oleh pihak peternak ayam broiler maupun pembeli ayam broiler dengan terlebih dahulu melakukan tawar menawar dengan pembeli secara bermitra. Berdasarkan ayat diatas penulis dapat memahami bahwa dasar hukum jual beli adalah saling memuaskan antara dua pihak yaitu antara penjual dan pembeli agar tidak merugikan salah satu pihak. Begitu juga dalam jual beli ayam di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan.

Seperti yang telah dijelaskan pada bab tiga pelaksanaan praktek jual beli ayam pedaging yang ditimbang dengan keranjang, satu pada saat penimbangan untuk setiap penimbangan akan dikenakan penentuan potongan seberat ½ kilogram dan satu potong lagi mendapat berat keranjang yang digunakan. untuk penimbangan, dan diskon ini akan diganti jika nanti daging ayamnya menyusut dan untuk mendapatkan berat bersih potongan ayam tersebut. Praktik yang ditemukan di lapangan terkait jual beli ayam broiler di Desa Ginuk, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan.

ص لاب تباثلاك فرعلاب تباثلاو اطرش طورش اك افرع فورع ا

Analisa Fiqh Muamalah Terhadap Pengembalian Ayam Potong Yang Cacat Atau Mati Setelah Penimbangan Pada Jual Beli Ayam Potong

Pada umumnya hubungan hukum dalam perdagangan antara penjual dan pembeli biasanya dilakukan antara lain dalam bentuk perjanjian jual beli. Perkembangannya kemudian mengenal dan juga mengenal hubungan hukum dalam bentuk lain seperti pengembalian barang karena cacat. Pada praktik pengembalian ayam pedaging di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan yaitu apabila ayam pedaging dalam kondisi tidak berdaya atau mati setelah ditimbang maka ayam pedaging tersebut akan dikembalikan ke peternak untuk diganti.

Padahal perundingan sudah dilakukan di awal yakni dilakukan oleh pembeli dengan cara bermitra dan uangnya sudah dibayar lunas di muka, karena para peternak ayam di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan mencoba bekerjasama dengan kemitraan. Pengembalian ayam karena cacat atau mati setelah ditimbang tidak hanya dilakukan bagi peternak yang bekerja sama dalam kemitraan, tetapi juga bagi peternak dengan perusahaan mandiri.

Dalam fiqih Madzhab Syafi’i yang dikutip oleh Muhammad dan Alimini, al-Khatibi mengatakan jika suatu barang rusak di tangan pembeli maka dia mengetahui bahwa ada cacat pada barang yang dibeli, maka pembeli berhak menuntut kerugian. sebatas cacat yang terjadi, menghitung nilai jika barang dalam keadaan sempurna, sedangkan harga patokan diambil dari harga terendah pada hari transaksi.93 Intinya, konsumen mencari kompensasi dari penjual, bukan penjual, yang memberi mereka beban kerugian bagi pembeli.

يذم رلا اور

Jadi menurut penulis, amalan khiyar al-'ayb atau amalan pengembalian ayam yang dalam keadaan tidak berdaya atau mati setelah ditimbang di Desa Ginuk, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, bertentangan dengan fiqih karena ada pihak yang dirugikan dalam transaksi tersebut. dalam jual beli ayam yaitu penjual (peternak) yang harus menanggung resiko ayam broiler akibat cacat atau kematian yang disebabkan oleh pembeli. Dalam menjual dan membeli ayam, ada juga pembeli yang merugi, sebaliknya penjual (peternak) harus menanggung kerugian, karena ayam yang tidak mampu atau mati dikembalikan kepadanya untuk diganti. Dengan demikian, transaksi jual beli dengan pengembalian ayam broiler karena cacat atau mati setelah ditimbang di Desa Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan adalah sah menurut hukum Fiqih.

Dalam praktik jual beli ayam pedaging di Desa Ginuk, 'aib' merupakan larangan dalam 'Urf' atau adat istiadat masyarakat. Maka mengembalikan potongan ayam setelah ditimbang adalah sah menurut hukum fiqh muamalah karena memenuhi syarat dan rukun jual beli serta sudah menjadi adat masyarakat disana dan dilakukan atas dasar suka rela dan suka rela antara keduanya. Para Pihak.

PENUTUP

Saran- Saran

Referensi

Dokumen terkait

250 Kritika Kultura 18 2012: 250-252 © Ateneo de Manila University K r i t i K A KUltUrA LITERARY SECTION POEMS Mookie Katigbak-Lacuesta Manila, Philippines