• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengukuran kekuatan otot selama 5 hari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Hasil pengukuran kekuatan otot selama 5 hari"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Lakukan pengkajian keperawatan pada pasien stroke nonhemoragik untuk mengatasi kebutuhan aktivitas dan olah raga. Mengembangkan rencana asuhan keperawatan untuk pasien dengan stroke nonhemoragik untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan olahraga.

Manfaat Penulisan

  • Manfaat Teoritis
  • Manfaat Praktis

Dengan pemberian latihan ROM active ball handling yang dilakukan penulis didapatkan kekuatan otot tangan pasien meningkat. PENGARUH RANGE OF MOTION (ROM) PENCULIKAN BOLA TERHADAP KEKUATAN OTOT TENGAH PASIEN INSTALASI ISKEMIK.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Stroke adalah hilangnya fungsi otak secara tiba-tiba yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke otak (stroke iskemik atau stroke nonhemanthagic) dan pecahnya pembuluh darah di otak (stroke hemoragik) (Nurtanti & Ningrum, 2018). Stroke merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah di otak, sehingga aliran darah dan oksigen ke otak terhambat bahkan terhenti.

Klasifikasi

Penyumbatan tersebut dapat menyebabkan sistem saraf yang menghentikan suplai darah dan oksigen menjadi rusak bahkan mati sehingga organ-organ yang berhubungan dengan sistem saraf akan kesulitan atau bahkan tidak dapat bergerak (Faridah dkk., 2018). Stroke non-hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh adanya penyumbatan di sepanjang pembuluh darah arteri yang menuju ke otak.

Etiologi

Pendarahan otak disebabkan oleh sejumlah kondisi yang mempengaruhi pembuluh darah, seperti tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol (hipertensi), pengobatan antikoagulan (pengencer darah) yang berlebihan, dan melemahnya dinding pembuluh darah (aneurisma). Penyumbatan di otak disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di otak secara cepat dan tiba-tiba sehingga aliran darah terganggu.

Pemeriksaan Diagnosik

Hipoksia otak dan berkurangnya aliran darah otak: terjadi karena aliran darah dan oksigen yang tidak mencukupi. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan gelombang magnetik untuk mengetahui posisi dan ukuran atau luasnya perdarahan otak.

Penatalaksanaan

Investigasi bertujuan untuk menggambarkan bagian ujung kelenjar yang berlawanan dari massa yang luas, klasifikasi karotis interna yang ditemukan pada trombus serebral, klasifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan subarachnoid.

Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Stroke Non Hemoragik

  • Pengkajian atau Anamesa
  • Diagnosis Keperawatan
  • Intervensi
  • Implementasi
  • Evaluasi

Defisit perawatan diri b.d gangguan neuromuskular d.d tidak mampu mandi, makan, berpakaian, ke toilet mandiri (D.0109) 6. Defisit perawatan diri b.d gangguan neuromuskular d.d ketidakmampuan mandi, makan, berpakaian, ke toilet mandiri ( D.0017) Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil : (L.11103).

Konsep Kebutuhan Aktivitas dan Latihan

2 (lemah) Kemampuan otot untuk bergerak melalui seluruh gerak sendi, tetapi tidak dapat melawan gravitasi, atau. 3 (sedang) Kemampuan otot untuk bergerak melalui rentang gerak penuh melawan gravitasi, namun tidak mampu menahan perlawanan ringan sekalipun. 4 (baik) Kemampuan otot untuk bergerak melalui rentang gerak penuh melawan gravitasi dan melawan tahanan ringan sampai sedang.

5 (normal) Kemampuan otot untuk menggerakkan seluruh rentang gerak sendi melawan gravitasi dan dapat ditahan secara maksimal.

Terapi Genggam Bola

Sedangkan latihan memegang bola dengan bola yang permukaannya halus seperti bola tenis akan merangsang serabut otot untuk berkontraksi meskipun hanya beberapa kontraksi per hari (Azizah & Wahyuningsih, 2020). Selanjutnya, genggam bola tenis dengan kuat selama 5 detik, lalu rileks selama 10 detik dan ulangi sebanyak 10 kali. Menurut (Budi et al., 2019), pada saat melakukan latihan, tindakan memegang bola karet dilakukan selama 5 hari.

Sebelumnya dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan sore hari, durasi tindakan adalah 5 detik dikalikan 10 genggaman dengan 50 detik memegang bola dengan kuat, dilanjutkan dengan istirahat 10 detik dan diulangi. 10 Kali.

2. Gambar latihan menggenggam bola karet
2. Gambar latihan menggenggam bola karet

Kerangka Teori

Kerangka Konsep

Latihan ROM aktif memegang bola ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke yang mengalami kelemahan atau berkurangnya kekuatan otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan otot ekstremitas atas setelah dilakukan latihan ROM dengan bola pada pasien stroke iskemik di RSUP Dr M.M.

Hal ini menunjukkan bahwa latihan ROM memegang bola dapat meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke iskemik yang mengalami kelemahan otot ekstremitas atas.

METODE STUDI KASUS

Subjek Studi Kasus

Dalam hal ini subjek yang akan diteliti meliputi individu, kelompok, keluarga, organisasi dan peristiwa tertentu (Yona, 2014). Subjek yang diteliti dalam kasus ini adalah pasien stroke non hemoragik, berusia 45-80 tahun dan mengalami kelemahan otot ekstremitas atas.

Fokus Studi

Definisi Operasional

Hal ini juga didukung dengan pengukuran kekuatan otot menggunakan skala MMT. Tangan kanan (3) tangan kanan pasien dapat melawan gravitasi namun tidak dapat menahan hambatan ringan sekalipun, tangan kiri (5) tangan kiri pasien bergerak normal, kaki kanan ( 3) kaki pasien dapat melawan gravitasi, namun tidak mampu menahan hambatan ringan sekalipun, kaki kiri (5) kaki kiri pasien dapat bergerak dengan normal. Selanjutnya pada latihan hari keempat dan kelima yaitu latihan ROM aktif dengan memegang bola tenis diperoleh hasil bahwa kekuatan otot pasien masih pada skala 4 (kontraksi otot tangan kanan pasien cukup kuat dan dapat tahan terhadap resistensi ringan hingga sedang). Berdasarkan hasil fakta dan teori diatas, penulis berpendapat bahwa latihan ROM aktif ball handling ini dapat meningkatkan kekuatan otot tangan pasien.

Pengaruh terapi dzikir terhadap kekuatan otot pada pasien stroke non hemoragik di Puskesmas Sibela Surakarta.

Tempat dan Waktu Pengambilan Studi Kasus

Pengumpulan Data

Menurut (Riyanto & Hatmawan, 2020), pengumpulan data adalah suatu teknik yang dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mendukung penelitian. Observasi yang dilakukan pada studi kasus ini menggunakan lembar observasi dan lembar evaluasi penilaian kekuatan otot setelah mendapat latihan ball handling selama 5 hari pada pasien stroke non hemoragik untuk memenuhi kebutuhan aktivitas dan olah raga. Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan melihat anggota tubuh yang diperiksa melalui pengamatan seperti melihat apakah ada bengkak atau ada benjolan, lebam, bekas luka dan lain sebagainya.

Perkusi merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mengetukkan jari pada anggota tubuh yang akan diperiksa.

Penyajian Data

Dokumentasi terdiri dari data yang dikumpulkan berupa tulisan, karya, hasil observasi atau wawancara, dan lain sebagainya. Data yang diperoleh dari dokumentasi sebagian besar merupakan data sekunder dan data tersebut mempunyai makna untuk diinterpretasikan. Hasil dokumentasi studi kasus ini adalah dokumentasi hasil wawancara, observasi, pemeriksaan penunjang diagnostik berupa pemeriksaan laboratorium terhadap darah pasien, dan pemeriksaan penunjang seperti hasil CT scan, MRI pada pasien stroke non hemoragik. (Riyanto & Hatmawan, 2020).

Etika dan Studi Kasus

Rencana tindakan dilakukan dengan teknik intervensi suportif yaitu latihan penguatan otot (I.05184) observasi : mengetahui tingkat kebugaran atau kekuatan otot dengan menggunakan skala MMT, terapeutik : melakukan latihan sesuai program yang ditentukan yaitu latihan ROM aktif saat Anda memegang bola karet. Setelah melakukan tindakan keperawatan menurut jurnal penelitian yang dilakukan (Budi dkk., 2019) ditemukan bahwa latihan ball grip dapat meningkatkan kekuatan otot pasien. Belum ada penelitian mengenai latihan genggaman bola untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke di Unit Neurologi RSUP Dr.

Latihan ROM dengan memegang bola ini sebaiknya diulangi. 2011) bahwa faktor penting yang dapat meningkatkan kekuatan otot adalah olahraga.

HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

Gambaran Lokasi Pengambilan Data

Fasilitas yang tersedia di RSUD Salatiga antara lain instalasi farmasi, instalasi rekam medis, radiologi, konsultan gizi, laboratorium 24 jam, klinik fisioterapi, ruang rawat inap dan klinik gawat darurat 24 jam. RSUD Salatiga memiliki dua unit perawatan intensif, yaitu High Care Unit (HCU) yang saat ini digunakan untuk pasien Covid-19, dan Intensive Care Unit (ICU). Penatalaksanaan kasus ini berlangsung di salah satu ruangan rumah sakit, yakni Ruang Flamboyan 3 RSUD Kota Salatiga.

Gambaran Subjek Studi Kasus

Pemaparan Fokus Studi

Pukul 08.50 WIB dilakukan identifikasi tingkat kebugaran atau kekuatan otot menggunakan skala MMT. Data subjektif dari keluarga pasien menyebutkan bahwa pasien mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan, didukung dengan data objektif setelah dilakukan penilaian kekuatan otot menggunakan skala MMT, kekuatan otot tangan kanan (3) tangan kanan pasien dapat melawan gravitasi, namun tidak dapat menahan walaupun hambatan ringan, lengan kiri (5) tangan kiri pasien bergerak normal, kaki kanan (3) kaki pasien dapat melawan gravitasi, tetapi tidak dapat menahan hambatan ringan sekalipun, kaki kiri (5) kaki kiri pasien dapat bergerak dengan normal . Pelaksanaan pada tanggal pukul 08:50 WIB mengidentifikasi tingkat kebugaran atau kekuatan otot dengan menggunakan skala MMT. Keluarga pasien mengatakan bahwa tangan kanan pasien masih lemah dengan data objektif setelah dilakukan penilaian kekuatan otot menggunakan skala MMT kekuatan otot tangan kanan (3) tangan kanan pasien dapat melawan gravitasi, namun tidak dapat menahan hambatan ringan sekalipun; tangan kiri pasien bergerak normal (5), kaki kanan pasien (3) dapat melawan gravitasi. Pelaksanaan pada tanggal pukul 08.50 WIB mengidentifikasi tingkat kebugaran atau kekuatan otot menggunakan skala MMT keluarga pasien dan menyatakan bahwa tangan kanan pasien mengalami kemajuan dengan data objektif setelah dilakukan penilaian kekuatan otot menggunakan skala MMT kekuatan otot kanan. tangan (4) tangan kanan pasien dapat melawan gravitasi dan menahan beban ringan hingga sedang, tangan kiri (5) tangan kiri pasien bergerak normal, kaki kanan (4) kaki pasien dapat melawan gravitasi dan dapat menahan beban ringan hingga sedang , kaki kiri pasien (5) Kaki kiri pasien dapat bergerak dengan normal.

Selanjutnya pada pukul 09.00 WIB dilakukan latihan sesuai program yaitu latihan ROM aktif, latihan tenis tangan dengan data subyektif respon keluarga pasien bahwa mereka siap pasien melakukan latihan didukung dengan data obyektif, pasien tampak kooperatif dan dapat melakukan latihan dengan bola dengan baik, hasil yang diperoleh adalah penilaian kekuatan otot tangan kanan pada pukul 09:00 WIB sebelum: (4) sesudah (4), pukul 12:00 WIB sebelum (4) sesudah (4), 15:00 sebelum (4) pos (4).

Tabel 4.1 Hasil evaluasi pengukuran otot pre (sebelum) dan post (sesudah) latihan genggam bola
Tabel 4.1 Hasil evaluasi pengukuran otot pre (sebelum) dan post (sesudah) latihan genggam bola

Pembahasan

  • Pengkajian
  • Diagnosis Keperawatan

Hasil kekuatan otot tangan pasien pada hari ketiga setelah melakukan latihan menggenggam bola karet menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot tangan kanan pada skala 4 (kontraksi otot otot tangan kanan). cukup kuat dan dapat menahan resistensi ringan sedang). Menurut (Sudarsono, 2011) dalam (Budi et al., 2019), salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kekuatan otot adalah latihan. Hal ini sejalan dengan pendapat (Budi, 2019) yang mengatakan bahwa pasien dan keluarga yang terlibat langsung dalam perawatan pasien stroke non hemoragik yang mengalami kelemahan ekstremitas atas hendaknya sadar untuk memberikan edukasi agar keluarga pasien dan pasien dapat melakukan latihan ROM aktif penanganan bola di rumah sehingga kekuatan otot pasien dapat ditingkatkan.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Maryanto dkk., 2018) bahwa pemberian latihan genggaman bola yang dilakukan selama 20 hari pada pasien stroke efektif meningkatkan kekuatan otot pasien stroke.

Kesimpulan

  • Pengkajian
  • Diagnosis
  • Intervensi
  • Implementasi
  • Evaluasi

Intervensi yang dilakukan di Tn.B terhadap gangguan mobilitas fisik adalah observasi: mengidentifikasi tingkat kekuatan otot menggunakan skala MMT, terapeutik: melakukan latihan sesuai program yang ditentukan yaitu latihan ROM aktif, bola karet di tangan selama 3 hari. dan bola tenis selama 2 hari dengan jadwal 1 hari ada 3 latihan yaitu pagi, siang dan sore, edukasi : menjelaskan fungsi otot dan akibat tidak menggunakan otot. Lamaran yang diberikan kepada Bpk. B adalah mengetahui kekuatan otot sebelum dan sesudah melakukan latihan ROM aktif dengan bola, memberikan latihan ROM aktif dengan penanganan bola, menjelaskan fungsi otot dan akibat jika tidak menggunakan otot. Penilaian keperawatan terhadap tindakan yang telah dilakukan Tn. B dengan masalah keperawatan gangguan mobilitas data subjektif S : keluarga pasien mengatakan pasien sudah mulai aktif menggerakkan tangan kanannya.

Penilaian : permasalahan gangguan mobilitas fisik teratasi, Perencanaan : Menghentikan intervensi pasien di rumah (mendidik keluarga melakukan latihan genggaman bola di rumah).

Saran

  • Bagi Rumah Sakit
  • Bagi Institusi
  • Bagi Pasien
  • Bagi Pembaca

Pengaruh latihan Rom dengan bola karet terhadap kekuatan cengkeraman otot pasien stroke di RS Raa Soewondo Pati. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian mengenai pengaruh latihan ball-bearing range of motion (ROM) terhadap kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke iskemik di Unit Neurologi RSUD Dr. Setelah melakukan latihan ROM Menjaga bola pada pasien serangan jantung iskemik di ruang saraf RSUP Dr M.

Oleh karena itu, latihan ROM ball ini sebaiknya diketahui oleh pasien, perawat, dan keluarga yang terlibat langsung dalam perawatan pasien stroke iskemik yang mengalami hemiparesis ekstremitas atas agar dapat melakukan latihan tersebut sehingga kekuatan otot pasien dapat meningkat. Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan dengan memberikan pelatihan kepada pasien dan keluarga yang merawat pasien tentang latihan genggaman bola untuk meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke yang mengalami hemiparesis. Djamil Padang untuk dapat melaksanakan latihan ball grip pada pasien stroke yang mengalami kelemahan otot ekstremitas atas dan melakukan latihan ball grip yaitu menangkap bola karet dan bola tenis sebagai prosedur standar atau standar asuhan keperawatan pada pasien stroke yang mengalami ekstremitas atas. hemiparesis untuk meningkatkan kekuatan otot pasien.

Tabel  1.    Distribusi  Frekuensi  Responden    Berdasarkan    Jenis  Kelamin  Di Ruangan Saraf  RSUP Dr
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Ruangan Saraf RSUP Dr

Gambar

2. Gambar latihan menggenggam bola karet
Gambar 2.2 : Kerangka Teori (Sumber : Huda & Kusuma, 2016)
Gambar 2.3 Kerangka KosepGangguan Aktivitas dan
Tabel 4.1 Hasil evaluasi pengukuran otot pre (sebelum) dan post (sesudah) latihan genggam bola
+4

Referensi

Dokumen terkait

c) Variasi latihan shooting dalam penelitian ini adalah latihan shooting bola diam dengan sasaran, Latihan shooting bola bergerak, dan latihan shooting diawali