• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hidup Harmony dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi di Desa Saban

N/A
N/A
041 Nahja Nurul

Academic year: 2024

Membagikan " Hidup Harmony dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi di Desa Saban"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT WORKSHOP STRENGTH TIPOLOGI (KEBERAGAMAN BAKAT INDIVIDU) BERBASIS MODERASI BERAGAMA

“HIDUP HARMONY DENGAN MEMANFAATKAN KEKUATAN KOLABORASI DI DESA SABAN”

Disusun Oleh : KETUA ABDIMAS

Dr. H. Abu Choir, M.A. 197705172003121002 ANGGOTA ABDIMAS

No. NIM Nama Prodi

1 2150210069 Afrida Himatul Aulia MBS

2 2120110003 Alfiya Zumrotut Thoharoh HKI

3 2120210079 Ali Istiadi HES

4 2140110074 Anita Shofiyana BKI

5 2110510035 Halimatus Sa'diyah BI

6 2140210077 Misbah Zainal Mustofa KPI

7 2110310013 Nabila Rizqiyyatul Ulya PGMI

8 2140410041 Nahja Nurul Hidayah PMI

9 2150410115 Novita PS

10 2130110048 Siti Alwafiatul Hidayah IQT

11 2110810016 Sonya Miranda TB

12 2150410135 Yoga Anjasmara Dwi Saputra PS LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA

MASYARAKAT

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS TAHUN 2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Kudus dengan ini mengesahkan Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kolaborasi Dosen dengan Mahasiswa sebagai berikut:

1. Judul Workshop Strength Tipologi

(Keberagaman Bakat Individu) Berbasis Moderasi Beragama dengan Tema “Hidup Harmoni Dengan Kekuatan Kolaborasi” di Desa Saban.

2. Dosen Pembimbing Lapangan :

Nama : Dr. H. Abu Choir, M.A.

NIP : 197705172003121002 3. Mahasiswa yang

Terlibat

No. NIM Nama Prodi

1 2150210069 Afrida Himatul Aulia MBS

2 2120110003 Alfiya Zumrotut Thoharoh HKI

3 2120210079 Ali Istiadi HES

4 2140110074 Anita Shofiyana BKI

5 2110510035 Halimatus Sa'diyah BI

6 2140210077 Misbah Zainal Mustofa KPI

7 2110310013 Nabila Rizqiyyatul Ulya PGMI

8 2140410041 Nahja Nurul Hidayah PMI

9 2150410115 Novita PS

10 2130110048 Siti Alwafiatul Hidayah IQT

11 2110810016 Sonya Miranda TB

12 2150410135 Yoga Anjasmara Dwi Saputra PS Kudus, 28 September 2024 Mengetahui:

Ketua LPPM IAIN Kudus Ketua Tim

(3)

...

(4)

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan Kegiatan Workshop Strength Tipology Berbasis Moderasi Beragama di Desa Saban dalam rangka pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dan menyelesaikan pembuatan laporan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan baik dan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dan para sahabat-Nya, yang telah memberikan tauladan baik sehingga akal dan Pikiran penulis mampu menyelesaikan laporan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini.

Semoga kita semua termasuk ke dalam umat-Nya yang kelak mendapatkan syafa’at dalam menuntut ilmu. Kegiatan Workshop Strength Tipology Berbasis Moderasi Beragama ini merupakan suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang dilaksanakan dalam bentuk kolaborasi dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya Hidup harmony dengan Kekuatan kolaborasi bagi Masyarakat Desa Saban dan juga pentingnya Keorganisasian bagi Karang Taruna di Desa Saban.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan dan penyusunan Laporan Pengabdian kepada Masyarakat, diantaranya : 1. Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan sehingga dapat

melaksanakan PKM dengan baik dan lancar.

2. Bapak Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc. M.Si selaku Rektor IAIN Kudus.

3. Bapak H. Shobirin, M.Ag. selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IAIN Kudus.

4. Bapak Dr. H. Abu Choir, M.A. selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN-MB Desa Saban, Gubug, Grobogan yang senantiasa memberikan bimbingannya dalam melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Moderasi Beragama (KKN-MB) 2024.

(5)

5. Bapak Fahrudin, selaku Kepala Desa Saban beserta seluruh anggota perangkat Desa , Gubug, Grobogan yang telah memberikan izin dan dukungan kepada tim KKN-MB IAIN Kudus 2024 untuk melaksanakan KKN-MB di Desa Saban, Gubug, Grobogan.

6. Seluruh masyarakat Desa Saban, yang telah hadir memeriahkan acara Workshop Strength Typologi Berbasis Moderasi Beragama KKN-MB Desa Saban, Gubug, Grobogan, serta senantiasa memberikan dukungan dan semangat dalam melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Berbasis Moderasi Beragama (KKN-MB) 2024.

7. Teman-teman KKN IAIN KUDUS di Desa Saban, Gubug, Grobogan, yang telah berkerja sama dalam melaksanakan kegiatan Workshop Strength Tipology dari awal hingga akhir.

8. Semua pihak-pihak terkait yang selalu memberikan bantuan, bimbingan, serta arahan beliau-beliau dalam pelaksanaan dan penyusunan Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, baik secara la ngsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis, hanya bisa memanjatkan do’a atas segala jasa dan kebaikannya.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Laporan Workshop Streng Tipology masih jauh dari kesempurnaan dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu, kritik dan saran bersifat membangun dari pembaca selalu tim penulis nantikan dalam perbaikan ke depannya. Tim penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya para pembaca maupun kita semua.

Kudus, 28 September 2024

Tim Penyusun

(6)

DAFTAR ISI PENGESAHAN

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Fokus Pengabdian B. Tujuan dan Manfaat Pengabdian C. Kajian Pustaka dan Teori

D. Metode Pengabdian Kepada Masyarakat E. Sistematika Pembahasan

BAB II GAMBARAN SUBJEK DAN OBJEK SASARAN A. Fokus Pengabdian

B. Komunitas Sasaran Program

BAB III PROSES PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT A. Bidang Pengabdian

B. Partisipasi dan Pelibatan Para Pihak

C. Tahapan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat D. Faktor Pendukung dan Penghambat

BAB IV HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengabdian

B. Pembahasan C. Kontribusi BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan B. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

(7)

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama, budaya, dan etnis yang tinggi, moderasi beragama menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Kolaborasi Strength Typology dan penguatan moderasi beragama didasarkan pada kebutuhan untuk mengembangkan individu yang memiliki pemahaman mendalam tentang kekuatan personal sekaligus memiliki sikap yang moderat dalam beragama. Pengembangan Kekuatan Pribadi (Strength Typology) dalam Konteks Sosial, bertujuan membantu individu mengenali kekuatan unik yang mereka miliki.

Setiap orang memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda, dan dengan memahami kekuatan-kekuatan ini, seseorang dapat lebih produktif dalam kontribusinya kepada masyarakat. Namun, tanpa pengendalian diri yang baik dan pemahaman konteks sosial yang tepat, potensi ini bisa disalah gunakan. Oleh karena itu, penguatan nilai moderasi beragama diintegrasikan untuk memastikan bahwa kekuatan individu diterapkan dalam kerangka etika yang inklusif dan toleran.

Pentingnya Moderasi Beragama dalam Masyarakat yang Beragam, masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, moderasi beragama sangat diperlukan untuk mencegah konflik, intoleransi, dan radikalisasi. Moderasi beragama menekankan pada keseimbangan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Mengajarkan pentingnya moderasi beragama kepada individu yang sadar akan kekuatan pribadi mereka dapat membantu menciptakan pemimpin dan warga masyarakat yang menghargai keragaman dan bekerja untuk kesejahteraan bersama.

Moderasi beragama merupakan konsep yang menekankan keseimbangan, jalan tengah melalui sikap saling menghormati dan toleransi di antara kelompok agama yang berbeda maupun sesama kelompok beragama (Internal). Di tengah beragamnya pandangan keagamaan, moderasi beragama mengajak setiap individu untuk tidak condong pada sikap ektremisme dalam bentuk radikalisme (keras dan Intoleran) maupun liberalisme yang mengabaikan prinsip-prinsip agama. Tujuan diselenggarakannya Workshop Strength Tipology

(8)

Berbasis Moderasi Beragama ini adalah semakin meningkatnya dinamika kehidupan beragama di masyarakat yang ditandai dengan adanya potensi konflik Horizontal akibat perbedaan pandangan.

Kondisi ini di perparah oleh maraknya penyebaran hoax dan ujaran kebencian di media sosial yang dapat memicu perpecahan.

Workshop ini bertujuan untuk mengedukasi peserta mengenai pentingnya toleransi, saling menghargai, dan bekerja sama di tengah perbedaan agama dan budaya Oleh karena itu, melalui workshop ini, kami (Dosen dan Mahasiswa) berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya moderasi beragama, serta membekali mereka dengan pengetahuan mendalam dan keterampilan untuk membangun kerukunan antar umat beragama melalui program pengabdian kepada masyarakat berinisiatif untuk memberikan layanan berupa sosialisasi dengan Judul Strength Tipology berbasis Moderasi Beragama dengan Tema “Hidup Harmony dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi”. Sosialisasi Strength Typologi dan Moderasi Beragama untuk seluruh Serta Manajemen Keorganisasian Untuk Karang Taruna di desa Saban. Dengan kegiatan ini kami mengharapkan bisa memberikan sedikit kontribusi wawasan kepada para warga desa khususnya remaja tentang pentingnya memiliki cara berfikir yang moderat, selain itu agar mereka juga lebih toleran kepada setiap individu atau golongan yang berbeda dengan mereka di Negara Indonesia yang faktanya majemuk, dan juga pentingnya manajemen keorganisasian dan juga kepemimpinan dalam sebuah organisasi.

B. Tujuan dan Manfaat

Dalam pelaksanaan kegiatan Workshop Strength Tipologi Berbasis Moderasi Beragama Dengan Tema: Hidup Harmony Dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi Di Desa Saban memiliki tujuan dan manfaat yaitu:

Tujuan:

1. Menentukan dan memahami jenis bakat individu untuk meningkatkan toleransi dan adaptabilitas dalam kehidupan sehari- hari.

(9)

2. Memberikan pemahaman kepada peserta tentang pentingnya moderasi beragama dalam masyarakat plural untuk menjaga hidup bersama yang harmonis.

3. Mengajarkan peserta untuk menggunakan kekuatan kolaborasi dalam menghadapi tantangan sosial dan religius untuk membantu menciptakan lingkungan desa yang lebih harmonis.

4. Menciptakan platform interaktif bagi penduduk Desa Saban mulai dari remaja hingga dewasa untuk saling berinteraksi dan memahami potensi masing-masing, sehingga dapat meningkatkan integrasi sosial.

5. Menghadirkan narasumber yang ahli dalam bidang psikologi dan agama untuk menyampaikan materi secara aktif dan interaktif, sehingga peserta dapat lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

6. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan desa yang lebih harmonis dengan menerapkan moderasi beragama dalam setiap aspek kehidupan, sehingga dapat meningkatkan kerukunan sosial dan persatuan warga desa.

Manfaat:

1. Peserta workshop akan memiliki kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya moderasi beragama dalam menjaga harmoni sosial.

2. Partisipan akan belajar cara bekerja sama efektif dan efisien dalam menghadapi tantangan sosial dan religius.

3. Workshop ini akan membantu meningkatkan integrasi sosial di Desa Saban dengan cara memfasilitasi pertemuan dan diskusi antarpribadi.

4. Peserta akan mendapat edukasi yang aktif dan interaktif dari narasumber ahli, sehingga materi dapat dipahami lebih baik dan diimplementasikan dalam praktik.

5. Workshop ini turut membahas tipologi bakat guna meningkatkan toleransi dan adaptibilitas individu, sehingga mereka dapat

(10)

menjalani kehidupan secara harmonis.

6. Acara ini juga bertujuan untuk menyatukan generasi remaja dan dewasa dalam satu platform edukatif, sehingga dapat meningkatkan komunikasi dan integrasi antargenerasi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Desa Saban dapat menjadi contoh lingkungan yang harmonis dan moderat, dengan setiap individu saling berkontribusi demi kebaikan bersama.

C. Kajian Pustaka

Kajian pustaka dan teori yang digunakan berkaitan dengan workshop moderasi beragama dan minat bakat individu. Adapun kajian pustaka yang sesuai dengan penyusun laporan Pengabdian Kepada Masyarakat yang berjudul Workshop Strength Tipologi (Keberagaman Bakat Individu) Berbasis Moderasi Beragama dengan tema “Hidup Harmoni Dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi”

di Desa Saban merupakan inisiatif penting dalam meningkatkan pemahaman moderasi beragama di kalangan masyarakat. Moderasi beragama sangat penting untuk menjaga harmoni sosial di Indonesia, yang kaya akan keragaman agama dan budaya. Kementerian Agama menyatakan bahwa moderasi beragama mengajarkan toleransi dan menghormati perbedaan. Diharapkan bahwa kegiatan ini akan membantu masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda untuk memahami pentingnya hidup berdampingan dengan baik.

Workshop ini melibatkan narasumber yang berkompeten, seperti Dr. H. Abu Choir, M.A., dan Hj. Rubiah, S.Psi., yang menyampaikan materi tentang tipologi bakat dan komunikasi efektif. Pemahaman tentang tipologi bakat menjadi sangat penting dalam konteks kolaborasi, di mana setiap orang perlu memahami kekuatan dan kelemahan mereka sendiri serta orang lain untuk membangun kerja sama yang produktif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa meningkatkan interaksi sosial dan memperkuat hubungan antarwarga dapat dicapai melalui pengembangan potensi individu.

Kegiatan ini juga memperkuat jaringan sosial dalam komunitas dengan memungkinkan peserta untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman. Melalui kegiatan ini, diharapkan Desa Saban dapat menjadi model bagi desa-desa lain untuk menerapkan kolaborasi dan

(11)

moderasi beragama. Dengan dukungan dari kepala desa dan partisipasi aktif masyarakat, workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kerja sama antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan hasil dari workshop ini tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih rukun.

Berikut paparan teori-teori yang dipergunakan dalam penyusunan laporan Pengabdian Kepada Masyarakat.

1. Bakat Individu

Bakat merupakan ukuran nilai yang menggambarkan keterampilan, kemampuan, kekayaan, kelimpahan, bakat, sikap, dan disposisi. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang untuk menginspirasi dan membangkitkan emosi pada orang lain.

Sedangkan bakat individu adalah keterampilan, kemampuan, ekkayaan, kelimpahan, bakat, sikap, dan disposisi yang dimiliki oleh setiap orang yang dimiliki sejak lahir, yang memungkinkan mereka untuk belajar dan menguasai keterampilan tertentu dengan lebih cepat dan lebih baik.

Bakat ini sangat beragam, mulai dari kemampuan dalam seni, olahraga, akademik, hingga keterampilan teknis. Secara umum, bakat dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Bakat umum adalah kemampuan dasar yang dimiliki oleh hampir semua orang, seperti kemampuan berfikir logis atau kemampuan berkomunikasi.

2. Bakat khusus adalah kemampuan yang lebih spesifik dan tidak dimiliki oleh semua orang, seperti bakat dalam musik, seni, atau matematika.

Unsur-unsur penting bakat meliputi:

a. Potensi (kekuatan seseorang, pengaruh dan kemampuan untuk mencapai hasil).

b. Minat yang sesungguhnya (gairah).

c. Kecerdasan keterampilan (pembelajaran mental dan fisik dan kemampuan kinerja untuk bersaing, menaklukkan dan bertahan hidup).

d. Kecerdasan kebijakan atau keunggulan moral dan integritas.

2. Moderasi Beragama

Moderasi berasal dari bahasa inggris, moderation, yang berarti

(12)

sikap sedag atau sikap tidak berlebihan. Jika dikatakan orang itu bersikap moderat berarti dia wajar, biasa-biasa saja, dan tidak ekstim. Moderasi asal mulanya dari bahasa Latin moderatio, artinya kesedangan (tidak berlebihan juga tidak kekurangan).

Moderat juga dimaknai sebagai pengendalian diri dari sikap yang berlebihan dan kekurangan. Moderasi asal mulanya dari kata moderat yang artinya mengambil jalan tengah, artinya tidak condong kanan ataupun kiri. Sikap ini merupakan salah satu ciri keislaman.

Banyak literatur mendefinisikan konsep Islam moderat, salah satunya adalah as-Salabi yang berpendapat bahwa moderat (wasathiyah) memiliki banyak arti, yaitu antara dua ujung, dipilih (khiyar), adil, terbaik, istimewa, dan sesuatu yang berada di antara baik dan buruk. Sejalan dengan as-Salabi, Kamali memberikan arti wasatiyah dengan tawassut (tengah), 'itidal (tegak lurus), tawazun (seimbang), iqtishad (tidak berlebihan) Sedangkan Qardlawi memberikan pengertian yang lebih luas kepada wasatiyah seperti keadilan, istiqamah (lurus), menjadi terpilih atau yang terbaik, keamanan, kekuatan, dan persatuan.

Bakat individu yang memiliki perbedaan dalam setiap orang dapat menjadikan adanya permusuhan atau kesenggangan sosial dan harus ditangani atau di selesaikan dengan memberikan pengakuan dan penghormatan keragaman dalam iman dan praktik religius. Ini merupakan panggilan untuk membangun hubungan yang harmonis dan damai di tengah perbedaan, dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip cinta kasih dan saling menghomarti.

3. Remaja

Kemenkes merumuskan remaja sebagai suatu periode kehidupan manusia yang mana terjadi pertumbuhan dan perkembangan fisik, psikologis, dan intelektual secara pesat. Ia memiliki ciri khas berupa rasa ingin tahu yang tinggi, cenderung berani mengambil risiko dari perbuatannya tanpa mempertimbangkan dengan matang, dan menyukai hal-hal berbau petualangan.

(13)

Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO), remaja merupakan masyarakat yang berada di rentang usia 10 sampai 19 tahun. Adapun, menurut Peraturan Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja didefinisikan sebagai penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah.

Adapun menurut Monks dan Haditono, remaja merupakan seseorang yang berada di rentang usia 12-21 tahun. Masa remaja juga menjadi transisi dari anak-anak ke dewasa. Oleh sebab itu, pola pikir akan berubah dan berproses menuju dewasa. Dari beberapa pengerian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan fase atau masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, biasanya terjadi pada rentang usia 10 sampai 18 tahun.

Pada masa remaja, biasanya terjadi perkembangan baik fisik, psikologi, dan intelektual. Ia menjadi bagian masa perkembangan manusia.

D. Metode Pengabdian Kepada Masyarakat

Dalam pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Moderasi Beragama dan Manajemen Keorganisasian ini, metode yang digunakan adalah metode Seminar, dan tanya jawab yang disampaikan oleh narasumber.

1. Metode Seminar, Metode seminar pada kegiatan sosialisasi moderasi beragama ini adalah dengan mengumpulkan peserta kegiatan di Balai Desa Saban yakni Masyarakat Desa Saban, perangkat Desa Saban dan juga Karang Taruna Desa Saban yang bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait pentingnya pendekatan moderasi beragama dalam pembentukan karakter generasi milenial serta pemberian bekal manajemen organisasi untuk Karang Taruna

2. Metode Tanya Jawab, Metode tanya jawab pada kegiatan ini adalah dengan cara memberikan penjelasan materi terkait moderasi beragama dan Pendidikan Kebangsaan pada Generasi Milenial dan juga mengenai manajemen keorganisasian pada Karang Taruna Desa Saban yang dilaksanakan dengan saling bertanya dan menjawab antara narasumber dengan peserta kegiatan.

E. Sistematika Pembahasan

(14)

Sistematika Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen yang berkolaborasi dengan mahasiswa hasil kegiatan sosialisasi dan penguatan nilai-nilai Moderasi Beragama meliputi :

1. Bagian Awal Laporan, meliputi: cover (judul, nama dosen dan mahasiswa beserta NIPf. /NID./NUP. Dan NIM., logo, nama Instansi IAIN Kudus, dan tahun), halaman pengesahan, kata pengesahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran (kalau ada);

2. Bagian Isi Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), meliputi:

a. Bab I Pendahuluan, meliputi:

1) Latar Belakang dan Fokus Pengabdian 2) Tujuan dan Manfaat Pengabdian 3) Kajian Pustaka dan Teori

4) Metode Pengabdian Kepada Masyarakat 5) Sistematika Pembahasan

b. Bab II Gambaran Subjek dan Objek Sasaran, meliputi:

1) Fakus Pengabdian

2) Komunitas Sasaran Program

c. Bab III Proses Pengabdian Kepada Masyarakat, meliputi:

1) Bidang Partisipasi dan Pelibatan Para Pihak

2) Tahapan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat 3) Faktor Pendukung dan Penghambat

d. Bab IV Hasil Pengabdian dan Pembahasan, meliputi:

1) Hasil Pengabdian 2) Pembahasan 3) Konstribusi

a) Konstribusi bagi peningkatan sikap b) Konstribusi bagi pemanfaatan IPTEK c) Konstribusi bagi terawatnya tradisi

BAB II

GAMBARAN SUBJEK DAN OBJEK SASARAN

(15)

A. Fokus Bidang Pengabdian

Pada kegiatan PKM ini kami melakukan Workshop Strength Tipologi (Keberagaman Bakat Individu) Berbasis Moderasi Beragama dengan tema “Hidup Harmoni Dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi” sehingga kami menyusun bebrapa program kerja di Desa Saban ini, salah satunya yaitu ikut mengajarkan pentingnya moderasi beragama kepada komponen masyarakat melalui workshop tentang bakat individu dan moderasi beragama pada remaja Desa Saban.

Fokus kegiatan yang kami buat tentunya tidak keluar dari konteks tema yang telah diwawancarakan oleh kampus. Untuk fokus pengabdian dalam bidang potensi desa, tim PKM Desa Saban mengadakan seminar tentang Stop Bullying, pencegahan pernikahan dini, menabung, Spinner Talk, dan pembuatan kemasan untuk produk UMKM. Acara ini kami cannagkan setelah melihat dan meninjau para pengusaha dari berbagai jenis usaha yang ada, diantaranya jamu seduh, rempeyek, kembang goyang, dan ceriping pisang.

Selanjutnya kegiatan yang kami selenggarakan adalah workshop moderasi beragama. Acara ini melibatkan narasumber yang berpengalaman sesuai dengan bidangnya yaitu Ibu Hj.

Rubiah, S.Psi. Praktisi atau konsultan bakat dan pengasuh pesantren Bahagia Al Fadholi Pati. Acara yang kami adakan berfokus untuk mewujudkan hidup harmoni dalam keberagaman minat bakat berbasis moderasi beragama di Desa Saban.

Desa Saban terletak di wilayah kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Desa ini memiliki karakteristik pedesaan dengan mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai petani, beberapa penduduk juga menjalankan usaha kecil, seperti membuat kerajinan tangan dan berdagang di pasar. Akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan di desa ini cukup terbatas, namun semangat masyarakat untuk maju sangat tinggi. Desa Saban dipilih sebagai lokus pengabdian karena memiliki potensi besar dalam

(16)

pengembangan komunitas berbasis nilai-nilai keagamaan dan kolaborasi sosial. Selain itu, keberagaman masyarakat di desa ini menjadi peluang yang baik untuk memperkenalkan konsep moderasi beragama melalui workshop yang berfokus pada strength typologi dan kolaborasi.

Secara geografis, Desa Saban dikelilingi oleh persawahan.

Masyarakat desa ini masih mempertahankan tradisi dan budaya lokal, termasuk praktik keagamaan yang kental. Dengan demikian, lokus pengabdian ini cocok untuk program yang mengedepankan pendekatan partisipatif dalam membangun kebersamaan dan harmoni di tengah masyarakat.

B. Karakteristik Komunitas Sasaran Program

Komunitas sasaran dalam program ini adalah masyarakat Desa Saban yang terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang tua, dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang beragam. Desa Saban dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi sosial masyarakat Desa Saban menunjukkan adanya pola interaksi yang kuat di antara warga, dengan ikatan kekerabatan dan gotong royong yang masih terjaga. Namun, tantangan dalam membangun harmoni muncul ketika terjadi perbedaan pandangan keagamaan atau kepentingan antarindividu dan kelompok. Hal ini menjadi alasan pentingnya program workshop yang mengusung tema "Hidup Harmony dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi," guna memperkuat semangat kebersamaan dan kerukunan di tengah masyarakat.

Selain itu, tingkat pendidikan masyarakat Desa Saban secara umum masih relatif rendah, dengan sebagian besar penduduk hanya mengenyam pendidikan sampai jenjang sekolah menengah.

Oleh karena itu, pendekatan workshop ini akan difokuskan pada metode partisipatif yang mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat, sehingga mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang pentingnya moderasi beragama dan kekuatan kolaborasi. Dengan memanfaatkan karakteristik dan potensi yang ada, program ini diharapkan dapat menciptakan kerukunan, harmoni sosial, menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama. dan memperkuat kebersamaan di Desa Saban.

(17)
(18)

BAB III

PROSES PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT A. Bidang Pengabdian

Program pengabdian ini berfokus pada bidang sosial dan keagamaan, dengan tujuan untuk memperkuat harmoni masyarakat melalui pendekatan moderasi beragama dan kolaborasi. Kegiatan yang dilaksanakan adalah workshop "Strength Tipologi Berbasis Moderasi Beragama" dengan tema "Hidup Harmony dengan Memanfaatkan Kekuatan Kolaborasi”. Ada 4 pilar Moderasi yaitu Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Anti Kekerasan, dan Akomodatif terhadap nilai budaya local. Fokus utama program ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan beragama dan sosial, terutama dalam konteks keberagaman yang ada di Desa Saban.

B. Partisipasi dan Pelibatan Para Pihak

Keberhasilan program pengabdian ini sangat bergantung pada partisipasi aktif dan pelibatan berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengabdian ini meliputi:

1. Masyarakat Desa Saban:

a. Warga Desa Saban merupakan subjek utama program pengabdian ini, dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat seperti tokoh agama, pemuda, dan ibu rumah tangga. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi, sangat penting untuk memastikan bahwa program ini sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

b. Kelompok pemuda dan remaja turut dilibatkan secara aktif sebagai peserta, agar mereka dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat harmoni dan kolaborasi ke dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pemerintah Desa Saban :

a. Pemerintah desa berperan dalam memberikan dukungan administratif dan logistik bagi pelaksanaan kegiatan. Mereka juga membantu dalam mengkoordinasikan peserta serta menso sialisasikan program ini kepada masyarakat luas.

b. Dukungan pemerintah desa diperlukan dalam penyediaan tempat kegiatan, perijinan, serta penyaluran informasi terkait program kepada warga.

(19)

3. Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat:

a. Tokoh agama memiliki peran penting dalam memberikan wawasan terkait moderasi beragama dan membantu membangun kesepahaman di antara warga yang memiliki latar belakang keagamaan berbeda.

b. Tokoh masyarakat yang dihormati, seperti tokoh berpengaruh , dilibatkan untuk memberikan masukan mengenai pendekatan yang sesuai dalam pelaksanaan program, serta membantu menciptakan suasana yang kondusif selama kegiatan berlangsung.

4. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (Dosen Pembimbing Lapangan dan Mahasiswa :

a. Tim pengabdian yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan memainkan peran penting dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan. Mereka bertanggung jawab untuk memastikan bahwa materi dan metode yang digunakan relevan dan efektif bagi masyarakat.

Dengan adanya partisipasi dari berbagai pihak, program pengabdian ini diharapkan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu menciptakan kehidupan yang harmonis dan kolaboratif di Desa Saban. Pelibatan berbagai pihak juga memungkinkan terjadinya proses transfer pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas, sehingga manfaat dari program ini dapat dirasakan secara berkelanjutan.

C. Tahapan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat

Dalam tahapan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ada beberapa tahap, yakni sebagai berikut:

1. Persiapan

Sebelum melakukan kegiatan, kami menyiapkan beberapa hal untuk kelancaran acara. Adapun yang kami lakukan antara lain adalah menyiapkan konsumsi dan tata letak rungan acara. Selain itu, kami juga memberikan undangan kepada remaja masyarakat Desa Saban.

2. Perencanaan

Dalam tahap perencanaan ini, kami, berusaha untuk mengkonsep acara dari awal sampai akhir. Mempersiapkan segala

(20)

bentuk dan keperluan yang akan dibutuhkan ketika acara. Tidak lupa diawal kami menentukan tanggal, tema, waktu, dan tempat.

Sehingga diharapkan acara bisa berjalan dengan sukses.

Kami duduk melingkar untuk mendiskusikan acara Moderasi Beragama. Acara yang diusung dengan konsep khas religius ini diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat bahwasannya dengan adanya banyak aliran bukan berarti agama islam itu berbeda. Setelah mendapatkan hasil kesepakatan dari perdevisi, kami langsung menghubungi dari pihak petinggi Desa Saban untuk konfirmasi tempat dan cek perlengkapan. Dalam perencanaan ini, kami juga mengadakan perencanaan anggaran yang akan dikeluarkan. Dengan begitu, apapun yang akan dibeli nanti tidak melebar dari target.

Selain itu, kami juga menyusun rundown acara keseluruhan dari awal hingga akhir, sebagai tolak ukur kami dalam menjalankan acara ketika hari itu. Kami juga membuat dua rundown sebagai planing kedua ketika susunan acara yang pertama terjadi suatu kendala.

3. Pelaksanaan

Dalam tahap ini, kami langsung mengerahkan semua tim untuk melaksanakan kinerjanya sesuai dengan jobdesk yang sudah ditentukan. Adapun kegiatan kami dari awal sampai akhir adalah sebagai berikut:

a. Cek kelengkapan kami melakukan cek kelengkapan sebelum acara dimulai, agar acara bisa berjalan dengan tidak kurangnya kelengkapan yang dibutuhkan.

b. Ceremonial dalam acara kali ini, kami mengerahkan humas dan seksi acara untuk membawakan acara dan membukanya sesuai dengan susunan acara yang sudah dibuat. Dalam acara ceremonial ini dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Petinggi Desa Saban dan jajaran Petinggi Desa Saban dan remaja masyarakat Desa Saban.

c. Pembukaan ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya, sambutan oleh ketua panitia, dilanjutkan oleh Kepala Desa, dan yang

(21)

terakhir sambutan oleh Dosen Pembimbing Lapangan, serta membuka acara Moderasi Beragama.

d. Acara inti dalam acara inti membahas terkait judul yang sudah diberikan, yaitu Workshop Typology (Keberagaman Bakat Individu) Berbasis Moderasi Beragama dengan tema “Hidup Harmoni dengan Kekuatan Kolaborasi”. Adapun yang menyampaikan materi adalah dari narasumber yang sudah dihadirkan, yaitu dari Ibu Hj. Rubiah, S.Psi. merupakan praktisi atau konsultan bakat dan pengasuh Pesantren Bahagia Al Fadholi Pati.

e. Penutupan acara tersebut, kami beserta seluruh peserta yang menghadiri Wrokshop Moderasi Beragama mengambil dokumentasi sebagai laporan kegiatan PKM.

4. Controling

Tahap controling ini dilakukan oleh ketua acara dalam menghandle acara dari awal sampai akhir. Controling ini dilakukan kepada seluruh kinerja panitia apakah sudah sesuai dengan jobdesk yang sudah dilaksanakan atau belum. Serta memberikan arahan kepada panitia yang sedang menjalankan pembukaan dan mengisi acara. Sehingga acara Workshop Moderasi Beragama berjalan lancar.

5. Evaluasi

Evaluasi kali dilaksanakan pada akhir acara. Dengan mengumpulkan seluruh panitia. Mengevaluasi kegiatan yang sudah terlaksana. Agar kedepannya tidak terjadi kesalahan yang sama dalam menjalankan acara. Sehingga didapatkan beberapa kinerja yang kurang efektif selama runtutan acara. Memberikan arahan untuk progja kedepan dengan tersebut dapat berjalan dengan maksimal dan runtut dengan acara yang udah diagendakan.

Sebagai yang memimpin acara dalam evaluasi ini adalah ketua panitia.

D. Faktor Pendukung dan Penghambat

Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat menemukan adanya faktor pendukung dan faktor penghambat. Berikut akan diuraikan

(22)

beberapa faktor pendukung dan penghambat.

a. Faktor Pendukung

Faktor pendukung atau pendorong yang ditemukan dalam pelaksanaan workshop moderasi beragama, yaitu:

1. Adanya peran serta dukungan dari berbagai pihak dalam pelaksanaan PKM, serta bimbingan dan arahan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

2. Penentuan peran seperti ketua, sekretaris, bendahara seksi dokumentasi, sehingga mempermudah pengorganisasian kelompok kami.

3. Sambutan masyarakat yang antusias dan sikap kekeluargaan serta memberikan respon posistif terhadap pelaksanaan program kami dengan memberikan dukungan penuh terhadap program kerja kami.

b. Faktor Penghambat

Faktor penghambat atau kendala dalam pelaksanaan seminar moderasi beragama sebagai berikut:

1. Keterbatasan waktu seperti kegiatan yang sangat padat dengan waktu yang relatif singkat dan harus di sesuaikan dengan kegiatan atau jam kerja.

2. Kurangnya kekompakan kelompok kami dalam melaksanakan program kerja.

3. Kurangnya kesadaran untuk datang tepat waktu di setiap acara atau kegiatan.

(23)

BAB IV

HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengabdian

B. Pembahasan

Salah satu program kerja yang diagendakan oleh kelompok PKM IAIN Kudus di Desa Saban adalah membuat acara workshop moderasi beragama dengan judul Workshop Strength Typology (Keberagaman Bakat Individu) Berbasis Moderasi Beragama dengan tema “Hidup Harmonis dengan Kekuatan Kolaborasi”.

Tema ini secara umum membahas tentang bagaimana seseorang yang mempunyai bakat sendiri-sendiri agar bisa bertoleransi dengan perbedaannya dengan sesuai ajaran agama islam yaitu bertoleransi antar umat beragama. Agama hadir dalam kehidupan manusia sebagai penerang sekaligus rahmat bagi manusia.

Penerang dalam hal ini maksudnya adalah, agama hadir sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia supaya manusia bisa membedakan antara hal yang harus dikerjakan dan hal mana yang harus ditinggalkan.

Seminar ini diisi satu narasumber. Narasumber dibawakan oleh salah satu Praktisi atau Konsultan Bakat dan pengasuh Pesantren bahagia Al Fadholi Pati yaitu, Ibu Hj. Rubiah, S.Psi. dalam pemaparan yang di sampaikan oleh beliau dapat disimpulkan bahwa,

Referensi

Dokumen terkait