MENGHINDARI PERGAULAN BEBAS DAN PERBUATAN KEJI 1. QS. al-Isra’ [17] : 32
للْيِبَس َء َسَولة َشِحاَف َناَك ٗهّنِا ٓىٰنّزلا اوُبَرْقَت َلَو ۤا ۗ ٣٢
a. Mufradad
اوُبَرْقَت َلَو = janganlah kalian ٓىٰنّزلا = perbuatan zina لة َشِحاَف = perbuatan keji
للْيِبَس َء َسَو ۤا = jalan terburuk
b. Terjemah Kemenag 2019
Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.
c. Penjelasan ayat
1) Zina adalah segala persetubuhan1 yang tidak disahkan dengan nikah, atau yang tidak sah nikahnya.
2) Dikatakan zina ketika :
a) kemaluan laki-laki (meski hanya sebagian) ke dalam kemaluan perempuan walaupun dengan penghalang (mis. alat kontrasepsi)
b) dilakukan tanpa syubhat (melakukah hubungan intim kepada wanita lain yang disangka istrinya)
c) atas dasar suka sama suka d) ada unsur kesengajaan 3) nikah yang tidak sah
Inilah kita buat definisi atau arti zina. Dengan simpulan sekalian persetubuhan yang tidak disahkan lebih dahulu dengan nikah, sebenarnya sudah cukup. Tetapi, ada juga, yang walaupun diadakan nikah terlebih dahulu, nikah mereka adalah tidak sah, yaitu bersetubuh dengan mahram (yang haram dinikahi tersebut lengkap dalam surah an-Nisaa' ayat 33), atau menikahi istri orang, atau menikahi orang dalam iddah.
1)
32. (32) Dalam ayat ini, Allah swt melarang para hamba-Nya mendekati perbuatan zina.
Maksudnya ialah melakukan perbuatan yang membawa pada perzinaan, seperti pergaulan bebas tanpa kontrol antara laki-laki dan perempuan, membaca bacaan yang merangsang, menonton tayangan sinetron dan film yang mengumbar sensualitas perempuan, dan merebaknya pornografi dan pornoaksi. Semua itu benar-benar merupakan situasi yang kondusif bagi terjadinya perzinaan.
Larangan melakukan zina diungkapkan dengan larangan mendekati zina untuk memberikan kesan yang tegas, bahwa jika mendekati perbuatan zina saja sudah dilarang, apa lagi melakukannya. Dengan pengungkapan seperti ini, seseorang akan
1 Masuknya kemaluan laki-laki pada kemaluan perempuan
dapat memahami bahwa larangan melakukan zina adalah larangan yang keras, sehingga benar-benar harus dijauhi.
Yang dimaksud dengan perbuatan zina ialah hubungan kelamin yang dilakukan oleh pria dengan wanita di luar pernikahan, baik pria ataupun wanita itu sudah pernah melakukan hubungan kelamin yang sah ataupun belum, dan bukan karena sebab kekeliruan.
Selanjutnya Allah memberikan alasan mengapa zina dilarang. Alasan yang disebut di akhir ayat ini ialah karena zina benar-benar perbuatan yang keji yang mengakibatkan banyak kerusakan, di antaranya:
1. Merusak garis keturunan, yang mengakibatkan seseorang akan menjadi ragu terhadap nasab anaknya, apakah anak yang lahir itu keturunannya atau hasil perzinaan.
Dugaan suami bahwa istrinya berzina dengan laki-laki lain mengakibatkan timbulnya berbagai kesulitan, seperti perceraian dan kesulitan dalam pendidikan dan kedudukan hukum si anak. Keadaan seperti itu menyebabkan terganggunya pertumbuhan jiwa anak dan menghancurkan tatanan kemasyarakatan.
2. Menimbulkan kegoncangan dan kegelisahan dalam masyarakat, karena tidak terpeliharanya kehormatan. Betapa banyaknya pembunuhan yang terjadi dalam masyarakat yang disebabkan karena anggota masyarakat itu melakukan zina.
3. Merusak ketenangan hidup berumah tangga. Nama baik seorang perempuan atau laki-laki yang telah berbuat zina akan ternoda di tengah-tengah masyarakat. Ketenangan hidup berumah tangga tidak akan pernah terjelma, dan hubungan kasih sayang antara suami istri menjadi rusak.
4. Menghancurkan rumah tangga. Istri bukanlah semata-mata sebagai pemuas hawa nafsu, akan tetapi sebagai teman hidup dalam berumah tangga dan membina kesejahteraan rumah tangga. Oleh sebab itu, apabila suami sebagai penanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, maka si istri adalah sebagai penanggung jawab dalam memeliharanya, baik harta maupun anak-anak dan ketertiban rumah tangga itu. Jadi jika si istri atau suami ternoda karena zina, kehancuran rumah tangga itu sukar untuk dielakkan lagi.
5. Merebaknya perzinaan di masyarakat menyebabkan berkembangnya berbagai penyakit kelamin seperti sifilis (raja singa). Di samping itu, juga meningkatkan penyebaran penyakit AIDS atau penyakit yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh (immunity) penderitanya, sehingga dia akan mati perlahan-lahan.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa perbuatan zina adalah perbuat-an yang sangat keji, yang menyebabkan hancurnya garis keturunan, menimbulkan kegoncangan dan kegelisahan dalam masyarakat, merusak ketenangan hidup berumah tangga, menghancurkan rumah tangga itu sendiri, dan merendahkan martabat manusia. Jika perbuatan itu dibiarkan merajalela di tengah-tengah masyarakat berarti manusia sama derajatnya dengan binatang.
Ayat ini mengandung larangan berbuat zina dan isyarat akan perilaku orang-orang Arab Jahiliah yang berlaku boros. Perzinaan adalah penyebab keborosan.
ِنْيِد ْيِف ٌةَََف ْأَر اَمِهِب ْمُكْذُخْأَت َلّوٍةَدْلَج َةَئاِم اَمُهْنّم ٍدِحاَو ّلُك اْوُدِلْجاَف ْيِناّزلاَو ُةَيِناّزلَا ۖ
َنْيِنِمْؤُمْلا َنّم ٌةَفِٕى َط اَمُهَباَذَع ْدَه ْشَيْلَو ِخٰ ْلا ِمْوَيْلاَو ِهّٰللاِب َنْوُنِمْؤُت ْمُتْنُك ْنِا ِهّٰللا ۤا ِۚر
٢
Terjemah Kemenag 2019
2. Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (melaksanakan) agama (hukum) Allah jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Hendaklah (pelaksanaan) hukuman atas mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang mukmin.
Tafsir Lengkap Kemenag
2. (2) Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang Islam yang berzina baik perempuan maupun laki-laki yang sudah akil balig, merdeka, dan tidak mu¥¡an hukumnya didera seratus kali dera, sebagai hukuman atas perbuatannya itu. Yang dimaksud dengan mu¥¡an ialah perempuan atau laki-laki yang pernah menikah dan bersebadan. Tidak mu¥¡an berarti belum pernah menikah dan bersebadan, artinya gadis dan perjaka. Mereka bila berzina hukumannya adalah dicambuk seratus kali.
Pencambukan itu harus dilakukan tanpa belas kasihan yaitu tanpa henti dengan syarat tidak mengakibatkan luka atau patah tulang.
Bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tidak dibenarkan bahkan dilarang menaruh belas kasihan kepada pelanggar hukum itu yang tidak menjalankan ketentuan yang telah digariskan di dalam agama Allah. Nabi Muhammad harus dijadikan contoh atau teladan dalam menegakkan hukum. Beliau pernah berkata:
هاور) اَهَدَي ُت ْعَطَقَل ْتَق َرَس ٍدّم َحُم َتْنِب َةَم ِطاَف ّنَا ْوَل َمّلَس َو ِهْيَلَعُ ا ىّلَص ِا ُل ْوُسَر َلاَق : ْتَلاَق َةَشِئاَع ْنَع ناخيشلا
)Dari Aisyah berkata Rasulullah bersabda, “Andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti saya potong tangannya.” (Riwayat asy-Syaikhān) ;Hukuman cambuk itu hendaklah dilaksanakan oleh yang berwajib dan dilakukan di tempat umum dan terhormat, seperti di masjid, sehingga dapat disaksikan oleh orang banyak, dengan maksud supaya orang- orang yang menyaksikan pelaksanaan hukuman dera itu mendapat pelajaran, sehingga mereka benar-benar dapat menahan dirinya dari perbuatan zina. Adapun pezina-pezina muhsan baik perempuan maupun laki-laki hukumannya ialah dilempar dengan batu sampai mati, yang menurut istilah dalam Islam dinamakan “rajam”. Hukuman rajam ini juga dilaksanakan oleh orang yang berwenang dan dilakukan di tempat umum yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Hukum rajam ini didasarkan atas sunnah Nabi saw yang mutawatir.
Diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Jabir bin Abdillah, Abu Said Al-Khudri, Abu Hurairah, Zaid bin Khalid dan Buraidah al-Aslamy, bahwa seorang sahabat Nabi yang bernama Mā`iz telah dijatuhi hukuman rajam berdasarkan pengakuannya sendiri bahwa ia berzina. Begitu pula dua orang perempuan dari Bani Lahm dan Bani Hamid telah dijatuhi hukuman rajam, berdasarkan pengakuan keduanya bahwa mereka telah berzina.
Hukuman itu dilakukan di hadapan umum. Begitulah hukuman perbuatan zina di dunia.
Adapun di akhirat nanti, pezina itu akan masuk neraka jika tidak bertaubat, sebagaimana sabda Nabi saw.
ُبِج ْوُُُي َو َن ٰم ْحّرُُلا ُطِخ ُُْسُي َو َق ِْزّرُُلا ُعَُُطْقَي َو ِه ُُْج َوْلا ِنَع َءاَُُهَبْلا ُبَهْذَُُي ٍلا َُُصِخ َعَب ْرَا ِهْيِف ّنِاَف ىَنِّزلا َو ْمُكاّيِا
سابع نبا نع طسولا ىف ىناربطلا هاور) . ِراّنلا ىِف َد ْوُلُخْلا
)“Jauhilah zina karena di dalam zina ada empat perkara. Menghilangkan kewibawaan wajah, memutus rezeki, membikin murka Allah, dan menyebabkan kekal di neraka.”
(Riwayat a¯-°abrān³ dalam Mujam al-Ausa¯, dari Ibnu Abbas);Kenyataannya adalah bahwa budaya pergaulan bebas laki-laki dan perempuan telah menimbulkan penyakit- penyakit yang sulit disembuhkan, yaitu HIV/AIDS, hilangnya sistem kekebalan tubuh pada manusia pada akhirnya yang bersangkutan akan mati secara perlahan. Juga telah memunculkan banyaknya bayi lahir di luar nikah, sehingga mengacaukan keturunan dan pada gilirannya mengacaukan tatanan hukum dan sosial.
Perbuatan zina telah disepakati sebagai dosa besar yang berada pada posisi ketiga sesudah musyrik dan membunuh, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Nabi saw:
َلُُُتْقَت ْنَا َو َلاَُُق ؟ ّيَأ ّمُث ُتْلُق ,َكَُُقَل َخ َوُُُه َو اًّدُُِن ِل َلَُُع ْجَت ْنَا َلاَق ؟ِا َدْنِع ُمَظ ْعَا ِبْنّذلا ّيَا ِا َل ْوُس َراَي ُتْلُق
َك ِراَج ِةَلْيِلَحِب َيِن ِْزَت ْنَا َو َلاَق ؟ّيَأ ّمُث ُتْلُق ،َكَعَم َلُكْأَي ْنَا َةَيْشَخ َكَدَل َو
Berkata Abdullah bin Mas`ud, “Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Rasulullah menjawab, “Engkau jadikan bagi Allah sekutu padahal Dialah yang menciptakanmu,” Berkata Ibnu Mas`ud, “Kemudian dosa apalagi?”, jawab Rasulullah,
“Engkau membunuh anakmu karena takut akan makan bersamamu.” Berkata Ibnu Mas`µd, “Kemudian dosa apalagi?” Rasulullah menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” ;Senada dengan hadis ini, firman Allah:
َۚن ْوُن ِْزَي َل َو ّقَحْلاِب ّلِا ُ ّٰا َمّرَح ْيِتّلا َسْفّنلا َن ْوُلُتْقَي َل َو َرَخٰا اًهٰلِا ِ ّٰا َعَم َن ْوُعْدَي َل َنْيِذّلا َو
Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, serta tidak berzina. (al-Furqān/25: 68);Hukuman di dunia itu baru dilaksanakan bila tindakan perzinaan itu benar-benar terjadi. Kepastian terjadi atau tidaknya perbuatan zina ditentukan oleh salah satu dari tiga hal berikut: bukti (bayyinah), hamil, dan pengakuan yang bersangkutan, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Huzaifah:
ِوَا ُلُُْم َحْلا ِوَا ُةَنّيَبلْا ِتَماَق اَذِا ِءاَسّنلا َنِم ْوَا ِلا َجّرلا َنِم َنَص ْحَا اَذِا ىَن َِز ْنَم ىَلَع ّق َح ِا ِباَتِك ىِف ُم َج ّرلاَف ملسمو يراخبلا هاور) . ُفا َرِت ْعِلْا
)Hukum rajam dalam Kitabullah jelas atas siapa yang berzina bila dia muhsan, baik laki- laki maupun perempuan, bila terdapat bukti, hamil atau pengakuan. (Riwayat al-Bukhār³ dan Muslim);Yang dimaksud dengan “bukti” dalam hadis tersebut adalah kesaksian para saksi yang jumlahnya paling kurang empat orang laki-laki yang menyaksikan dengan jelas terjadinya perzinaan. Bila tidak ada atau tidak cukup saksi, diperlukan pengakuan yang bersangkutan, bila yang bersangkutan tidak mengaku, maka hukuman tidak bisa dijatuhkan.
Hukuman di akhirat, yaitu azab di dalam neraka sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan Huzaifah di atas, terjadi bila yang bersangkutan tidak tobat. Bila yang bersangkutan tobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, maka ia terlepas dari hukuman akhirat, sebagaimana hadis yang mengisahkan seorang sahabat yang bernama Hilal yang menuduh istrinya berzina tetapi si istri membantahnya. Nabi mengatakan bahwa hukuman di akhirat lebih dahsyat dari hukuman di dunia, yaitu rajam, jauh lebih ringan. Tetapi perempuan itu malah mengingkari bahwa ia telah berzina.
Dari peristiwa itu dipahami bahwa bila orang yang berzina telah bertobat dan bersedia menjalankan hukuman di dunia, ia terlepas dari hukuman di akhirat.