Hitam dan Putih: Merayakan Hadirnya Abu-Abu
Merujuk pada satu kicauan di salah satu aplikasi yang kini berganti nama menjadi satu huruf saja, perempuan setidaknya memiliki satu dari tiga “B” yang ada. Bisexual, Bitch, dan Bipolar. Lantas di bagian manakah saya berada berdasarkan peta nyeleneh tersebut? Mari kita bedah satu per satu.
Bisexual, orientasi seksual yang paling dipandang sebelah mata oleh warga dan komunitas LGBT itu sendiri. Sebuah orientasi di mana seseorang menyukai kedua gender baik laki-laki, perempuan, maupun lainnya. Banyak yang mencatat orientasi ini sebagai orientasi yang paling serakah dan terkesan paling nakal karena dianggap bisa memiliki hubungan dengan dua gender sekaligus, padahal nyatanya dalam dunia nyata seorang bisexual hanya mengencani satu gender di satu waktu entah sesama jenis maupun lawan jenis, atau malah kebanyakan yang men-jomblo karena seseorang yang disukainya adalah orang yang tidak bisa digapai. Ps: bukan pengalaman nyata. Oh, saya mungkin adalah seorang bisexual tapi sepertinya saya belum yakin, jadi mari kita coret.
Bitch atau dalam KBBI biasanya disebut jalang. Tidak, opsi ini akan saya coret sebesar-besarnya menggunakan spidol hitam permanen. Saya bukan seorang dengan akun alter yang melempar opini si paling edgy tanpa peduli fakta yang ada lalu meminta traktiran dengan modal beberapa foto syur cantiknya.
Bipolar. Oh izinkan saya mengganti kata Bipolar—sebab saya tidak mengidap penyakit tersebut—dengan Emotional Unstable Personality Disorder atau lebih akrab disapa dengan Borderline Personality Disorder (BPD). BPD (bukan Badan Pengurus Desa) merupakan sahabat karib saya sejak kurang lebih dua tahun terakhir dengan perjalanan pengobatan yang baru selama tiga bulan. Singkatnya, BPD ini membuat saya dan fighter lainnya di luar sana merasakan emosi yang sangat tidak stabil dan kesulitan membina hubungan dengan orang lain.
Apakah sama seperti Bipolar? Tidak. Sangat berbeda. Masih banyak masyarakat yang merasa bahwa BPD dan Bipolar adalah gangguan kejiwaan yang sama karena sesama bermasalah dengan emosinya. Maka izinkan saya, mahasiswa kesehatan semester 9 (doakan saya lulus segera ya) sekaligus pasien menerangkannya secara singkat mengenai perbedannya.
Bipolar memang gangguan emosi, namun ia memiliki dua episode yang masing- masing episodenya akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, misalkan seminggu atau sebulan. Kedua episode tersebut adalah episode maniac di mana penderita akan merasakan bahagia yang sangat luar biasa seolah dunia selalu berpihak kepadanya dan episode depressive di mana penderita akan merasakan hal sebaliknya, merasa sedih, tidak memiliki harapan hidup, merasa tidak mampu melakukan apapun. Kedua episode tersebut terjadi selama teratur dan tidak terjadi secara mendadak.
Sedangkan BPD ini, oh sebelumnya saya harusnya berkenalan dulu ya. Mari berkenalan sejenak dalam intermezzo berikut.
Halo! Saya Mala, seperti yang sudah saya jelaskan secara singkat sebelumnya saya adalah penderita EUPD/BPD sejak 2022. Saat ini saya masih menjalani rawat jalan dan tentu saja masih merasakan ups and downs sebagai penderita gangguan kejiwaan tersebut. Setelah perkenalan ini, penjelasan mengenai BPD rasanya akan terasa lebih subjektif karena saya menceritakannya dari segi penderita.
BPD sendiri merupakan gangguan kesehatan jiwa di mana penderitanya mengalami kesulitan dalam mengenali dirinya, mengatur emosinya, hingga kesulitan membangun hubungan baik pertemanan maupun romantis dengan orang lain. Penyebabnya? Banyak benang merah yang bisa saling terhubung jika berbicara mengenai penyebabnya. Kalau dari saya sendiri karena terdapat permasalahan dalam syaraf otak dan beberapa trauma yang terjadi di masa lalu membentuk diri saya menjadi seperti ini.
Bagaimana rasanya hidup sebagai penderita BPD?
Tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. Sebelum menjalani pengobatan, emosi saya naik turun secara drastis dalam 24 jam. Ini yang membedakannya dengan bipolar. Saya bisa merasa senang yang luar biasa di pukul 8 pagi saat berkuliah, kemudian sedih dan melukai diri sendiri di pukul 8 malam. Isi otak saya hanya hitam dan putih. Segala sesuatu menurut saya harus pasti. Ketidakpastian membuat saya terpicu untuk sedih dan berpikir bahwa saya tidak berguna dan sebagainya. Tidak ada abu-abu atau suatu hal lain selain hitam dan putih dalam kehidupan saya.
Saya mudah sekali terpicu atau ke-trigger apabila diabaikan. Bahkan sesederhana ketika seseorang sibuk dan lebih memprioritaskan pekerjaanya daripada saya. Saya bisa langsung mengusirnya dari hidup saya karena berpikir bahwa sosok saya tidak penting—
hanya hama yang mengganggu. Menyebalkan, bukan, memiliki teman atau pasangan seperti saya?
Selain hal di atas, salah satu yang paling mencolok dalam gangguan kesehatan diri saya adalah mirroring dan disconnection dengan diri sendiri. Selama hidup saya di perantauan, saya selalu berusaha memiripkan diri saya dengan siapapun yang saya temui baik dari cara bicara, kesukaan, hingga apa yang dibencinya. Inilah yang membuat saya kehilangan jati diri saya. Sampai saya pernah bertanya dalam satu bulan penuh, “Sebenarnya saya ini siapa?” yang berakhir dengan saya tidak dapat menjawabnya hingga kini.
Apakah saya akan seperti ini terus?
Mungkin iya, sampai saya berakhir duduk berhadapan dengan psikiater di sebuah rumah sakit swasta dan menjelaskan yang saya alami pada beliau. Berakhir pada saya harus menenggak obat-obatan selama minimal 6 bulan ke depan. Sebuah tantangan yang saya benci
—dokter menyebut minum obat selama itu sebagai sebuah tantangan—agar emosi saya tidak meledak-ledak seperti pengendara Fortuner atau Innova diesel yang emosian di Surabaya.
Dua bulan sudah berjalan dan saat ini saya sudah jauh lebih baik. Otak saya mulai mengenali bahwa dunia tidak hanya hitam dan putih saja. Saya mulai bisa memiliki emosi yang stabil seperti orang sehat pada umumnya. Hingga saya bisa menjalani hubungan yang menyenangkan dengan pasangan. Tidak mudah mencapai tahap ini tapi saya tahu akan tiba di puncaknya kelak.
Bagian yang paling menyenangkan adalah, saya mulai tahu saya ini siapa. Saya tahu ingin menjadi pribadi yang seperti apa tanpa harus scroll media sosial agar bisa seperti orang tersebut. Obrolan pun terasa lebih menyenangkan ketika mulai mengenali pola obrolan dan pribadi saya.
Memang belum sepenuhnya, tapi, bukankah setiap pencapaian perlu dirayakan?
Menurut saya iya. Karena tidak semua orang mengerti rintangan apa yang dialami dan bagaimana sulitnya untuk menjadi ‘normal’. Saya mungkin belum mencintai diri sepenuhnya, namun setidaknya mencintai diri saya yang mau berproses sedikit demi sedikit.
Emosi dan permasalahan saya valid. Begitu pula dengan teman-teman BPD di luar sana yang sedang berjuang. Semua emosi yang dirasakan Saya, Anda, dan semua orang di muka bumi baik sehat maupun tidak, itu valid.