• Tidak ada hasil yang ditemukan

Home - Open Access Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Home - Open Access Repository"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

Merokok adalah kontributor utama kesehatan yang buruk dan tingkat kematian yang tinggi di seluruh dunia. Jika individu terus merokok pada tingkat saat ini, 8 juta nyawa akan hilang setiap tahun pada tahun 2030, membuat tembakau menjadi ancaman utama bagi kesehatan dunia. Merokok adalah praktik yang tersebar luas diantara individu dari segala usia dan kedua jenis kelamin di mana- mana (Bin Abdulrahman et al., 2022). Angka kematian akibat merokok lebih dari 1 miliar orang diperkirakan pada tahun 2019. Minimal 50% perokok tembakau jangka Panjang akan meninggal 10 tahun lebih pendek dari orang yang tidak pernah merokok (Reitsma et al., 2021).

World Health Organization, (2022) Prevalensi dari lebih dari 8 juta orang setiap tahun tingginya kematian motalitasnya karena tembakau. Lebih dari 7 juta kematian ini dapat dikaitkan dengan merokok yang sebenarnya, sementara 1,2 juta lainnya dapat dikaitkan dengan bukan perokok yang terpapar asap rokok.

Diantara sekitar 1,3 miliar perokok reguler di dunia, lebih dari 80% tinggal di negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah. Pada tahun 2020, 36,7%

dari semua pria dan 7,8% dari semua wanita mengonsumsi tembakau di seluruh dunia, dengan total 22,3%. Dua puluh sembilan persen orang Indonesia berusia 15 tahun ke atas merokok, menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2021.

World Health Organization Indonesia, (2018) Indonesia memiliki tingkat merokok yang tinggi dan pemerintah telah menghimbau tentang kenaikan pajak pada tahun 2020 untuk mengurangi tingginya kasus merokok. Pada tahun 2015 populasi merokok di Indonesia 32,2%, pada tahun 2019 29,03%, dan pada tahun 2020 sebanyak 28,69% dan pada tahun 2021 28,96%. Menurut RISKESDAS, (2018) prevalensi di Kalimantan Tengah menunjukan perokok pada umur 10-18

(2)

tahun sebanyak 3,32%, pada jenis kelamin laki-laki 44,87% sedangkan pada perempuan sebanyak 1,78%.

Diperkirakan setiap hari sekitar 1.600 remaja berusia 12 – 17 tahun merokok untuk pertama kalinnya. Sekitar 5,6 juta remaja yang hidup hari ini akan mati sebelum waktunya akibat penyakit dari merokok (Villanti et al., 2019). Dampak merokok mempercepat proses kerusakan organ dan menyebabkan berbagai penyakit, sistem pernapasan. Organ yang pertama diserang zat beracun dalam rokok, penyakit yang sering muncul pada perokok seperti bronchitis kronis, emfisema, dan penyakit paru obstruksi kronis. Berbagai penenlitian juga menunjukan bahwa merokok dapat memicu penuaan terkait perubahan, dari fenotipe sel ke ekspresi gen dan regulasi epigenetic, dalam sistem pernapasan.

Paparan asap rokok menginduksi gangguan autophagy, memproduksi racun yang mempercepat kerusakan paru-paru, perokok saat ini membandingkan dengan yang tidak pernah merokok terkait dengan penurunan DNA (Wu et al., 2019).

Dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Suluh, (2017) bahwa faktor yang menyebabkan remaja merokok adalah dari teman dan lingkungan. Mereka merokok karena terbawa oleh teman dan malu jika tidak ikut merokok, padahal mereka mengetahui bahayanya merokok tapi mereka tetap ingin merokok karena teman dan lingkungan. Jika orang tua diktator dalam pendekatan mereka untuk membesarkan anak-anak mereka, itu mungkin menciptakan lingkungan yang meresahkan bagi anak-anak yang tinggal di sana.

Berdasarkan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Pasaribu & Oktaviana, (2021) pemikiran irasional remaja mendorong mereka untuk ingin melarikan diri dari masalah mereka dengan terlibat dalam perilaku berisiko seperti merokok, anak-anak dari orang tua demokratis cenderung tidak terlibat dalam perilaku berisiko seperti merokok, sedangkan anak-anak dari orang tua otoriter lebih cenderung melakukannya. Beberapa penelitian yang dibahas diatas

(3)

menunjukkan bahwa pengasuhan demokratis dikaitkan dengan lebih sedikit merokok remaja dibandingkan dengan gaya pengasuhan lainnya.

Teori pembelajaran sosial berpendapat bahwa proses memperoleh perilaku tertentu, termasuk merokok dicapai melalui pemodelan sosial di mana perilaku yang dirasakan orang lain bertindak sebagai sumber belajar. Pembelajaran yang paling efektif proses terjadinya dengan adanya kesamaan antara individu dan model peran mereka, terdiri dari teman sebaya dan orang tua mereka. Dalam hal ini pentingnya keteladanan orang tua dengan perilaku merokok pada remaja (Kuang Hock et al., 2021).

Pola, pengasuhan, orang tua, dan keluarga semuanya merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar yaitu pengasuhan. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, menetapkan batasan, dan menegakkan peraturan anak adalah bagian dari pengasuhan, yang merupakan hubungan antara anak dan orang tua (Nomaguchi & Milkie, 2020). Pola asuh otoriter dikaitkan dengan merokok remaja yang hampir universal, sedangkan pengasuhan permisif dikaitkan dengan lebih sedikit remaja yang merokok dan pengasuhan demokratis dikaitkan dengan tidak merokok remaja (Nomaguchi & Milkie, 2020).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Suryawan et al., (2023) didapatkan hasil adanya hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja, tidak bisa dipungkiri bahwa semua aspek pola asuh orang tua bisa menyebabkan anak memiliki perilaku merokok adanya penyebab lain perilaku merokok. Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya didapatkan hasil bahwa pola asuh orang tua dengan metode demokratis terdapat 22 remaja yang merokok dan 16 orang yang tidak merokok, pada metode otoriter pola asuh orang tua didapatkan 8 orang yang merokok, sedangkan pada metode pola asuh permisif ditemukan 10 orang yang merokok dan 3 orang yang tidak merokok. Pada dasarnya kita tidak dapat menilai anak remaja dengan metode pola asuh apa sehingga mereka merokok. Telah dibuktikan dengan penelitian ini

(4)

bahwa pola asuh yang paling pengertian kepada anak saja masih banyak anak yang merokok contohnya dengan pola asuh demokratis saja penelitian ini mendapatkan hasil tertinggi dan terbanyak anak yang merokok.

Maka pengalaman dan sikap orang tua seseorang memiliki dampak signifikan pada perkembangan anak-anak mereka. Jika pendekatan remaja untuk mengasuh anak lebih santai, anak akan bergaul dengan orang lain dan bertindak secara mandiri. Orang tua yang menginvestasikan lebih banyak waktu dan energi ke dalam kehidupan anak-anak mereka, dimulai dengan sekolah, perkembangan sosial, dan perilaku mereka, mengurangi kemungkinan bahwa anak-anak mereka akan terlibat dalam perilaku berisiko. Karena itu, gaya pengasuhan memiliki dampak signifikan pada kemungkinan bahwa seorang anak atau remaja akan terlibat dalam perilaku berisiko seperti merokok.

Setelah dilakukan wawancara pada tanggal 15 Desember 2022 dengan salah satu guru di SMKN 4 Kuala Kapuas, bahwa banyak siswa ketika di sekolah mereka tidak merokok, tetapi saat dilakukan rajia kepada seluruh siswa didapatkan hampir semua siswa putra didapatkan rokok dalam tas, saku celana dan jok motor mereka. Hanya beberapa siswa saja yang tidak merokok, mereka sering didapati biasanya merokok di warung makan dekat sekolah.

Berdasarkan penuturan guru bahwa siswa di sekolah ini bebas dalam melakukan aktivitas harian seperti bergaul dan bermain dengan temannya. Mereka juga sering keluar malam untuk kumpul bersantai dengan teman-temannya. Siswa di desa Terusan Makmur ini termasuk remaja yang mudah bergaul dengan lingkungan dan mereka ketika libur sekolah juga bekerja membantu orang tua, dengan mereka membantu orang tua pergi kesawah mereka berbaur dengan semua kalangan orang dari berbagai umur. Jadi mereka berbaur merokok bersantai di sawah bersama. Mereka dibebaskan oleh orang tua nya untuk bergaul dengan siapa saja, ada beberapa siswa yang dibatasi oleh orang tua nya bergaul dengan semua orang. Ada salah satu siswa yang sempat diwawancara

(5)

kenapa dia tidak merokok karena sangat dilarang keras oleh orang tua dilarang untuk keluar malam dan bergaul dengan anak yang sudah merokok.

Dari data yang telah dilakukan studi pendahuluan di puskesmas terdekat di Terusan Tengah pada tanggal 24 Desember 2022 dalam satu bulan terakhir ada beberapa siswa yang datang ke puskesmas dengan keluhan sesak napas dengan jumlah dua sampai tiga orang dalam satu minggu. Menurut beberapa penuturan perawat puskesmas setempat sering melihat siswa yang masih menggunakan seragam sekolah ketika pulang sekolah mereka dijalan sudah sambil merokok.

Ketika peraat istirahat dan sedang makan sering melihat sejumlah siswa merokok dan lalu lalang tanpa segan menggunakan seragam sekolah. Mereka jika datang dengan keluhan sesak napas maka napas mereka tercium aroma rokok.

Dari data studi pendahuluan yang dilakukan bahwa banyaknya siswa yang mempunyai kebiasaan merokok, dan juga dari latar belakang di atas bahwa dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada salah satu guru pengajar mengatakan bahwa hampir seluruh siswa di SMKN 4 Kuala Kapuas bisa merokok. Beberapa anak yang tidak merokok selama wawancara telah berkecil hati untuk melakukannya oleh orang tua mereka. Maka itu peneliti ingin pelajari lebih lanjut tentang “Hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja di SMKN 4 Kuala Kapuas”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan”apakah ada Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Merokok Pada Seluruh Remaja Siswa Di SMK Negeri 4 Kuala Kapuas”.

(6)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja putra siswa SMK Negeri 4 Kuala Kapuas.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi pola asuh di kalangan remaja SMKN 4 Kuala Kapuas.

1.3.2.2 Mengidentifikasi perilaku merokok pada anak remaja SMKN 4 Kuala Kapuas.

1.3.2.3 Menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja SMKN 4 Kuala Kapuas.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Diharapkan bahwa penelitian ini akan berfungsi sebagai sumber daya yang berguna bagi siswa yang terdaftar dalam program keperawatan.

1.4.2 Bagi Peneliti

Dapat mengaplikasikan pengetahuan ilmu keperawatan yang telah dipelajari selama ini di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin dan untuk menambah wawasan untuk peneliti sendiri.

1.4.3 Bagi Responden

Responden mendapat edukasi dan pengetahuan tambahan dari bahayanya merokok di usia remaja, efek samping yang akan timbul, dan penyakit yang akan muncul apabila merokok.

1.5 Penelitian Terkait

1.5.1 Penelitian yang dilakukan oleh Eni Nuraeni, Imas Yoyoh, Elang Wibisana dan Dina Mardina (2021), para peneliti di SMK Sasmita Jaya 1 Pamulang ingin mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan siswa dan kecenderungan mereka untuk merokok. Kuesioner Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Merokok yang divalidasi dan diperbaiki digunakan untuk mengumpulkan data untuk penelitian cross-sectional analitik deskriptif ini.

(7)

Uji statistik Chi-Square digunakan. Di antara sampel keseluruhan, 55,9 persen individu dengan pengetahuan tinggi adalah perokok berat, sedangkan 44,1 persen dari mereka yang memiliki pengetahuan buruk.

Beberapa siswa tahun kedua di SMK Sasmita Jaya 1 Pamulang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan kebiasaan merokok yang rendah, seperti yang ditunjukkan oleh hasil uji Chi-Square (p = 0,000) = 0,05 dan nilai Rasio Odaa sebesar 1,960. Persamaan dengan penelitian saya yaitu sama sama meneliti tentang merokok pada remaja. Perbedaan dengan penelitian ini peneliti tentang tingkat pengetahuan dan perilaku merokok pada remaja sedangkan penelitian yang akan saya lakukan yaitu hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku merokok pada remaja di sekolah SMK.

1.5.2 Fokus penelitian Anisa dan Saniwati adalah korelasi antara menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan kebiasaan merokok remaja di Rw 04 KRangga kota Bekasi pada tahun 2021. Para peneliti ingin mempelajari lebih lanjut tentang fenomena konformitas teman sebaya dan hubungannya dengan kebiasaan merokok. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif, korelatif, cross sectional. Total sampling digunakan untuk memilih 90 peserta, kuesioner berfungsi sebagai alat utama untuk pengumpulan data, dan analisis univariat dan bivariat dilakukan menggunakan Chi-Square pada tingkat signifikansi 5%. Menurut data yang dikumpulkan, 11% peserta melaporkan tingkat kesesuaian yang tinggi, 79% melaporkan kesesuaian sedang, dan 10% melaporkan tingkat kesesuaian yang rendah. Demikian pula, 11% melaporkan terlibat dalam perilaku merokok berat, 79% melaporkan terlibat perilaku merokok sedang dan 12,2% melaporkan terlibat dalam merokok ringan. Tingkat signifikasi tes Chi-Square ditentukan menjadi 0,0010,05. Penelitian saya sebanding dengan penelitian yang melihat efek merokok pada orang muda.

Sementara penelitian ini berfokus pada korelasi antara kesadaran remaja dan kebiasaan merokok, fokus saya adalah pada pengaruh orang tua

(8)

terhadap perilaku ini di kalangan siswa .

(9)

Referensi