• Tidak ada hasil yang ditemukan

Home - Open Access Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Home - Open Access Repository"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Skizofrenia merupakan penyakit kronis, parah yang mengakibatkan gangguan otak ditandai dengan pikiran kacau, waham, delusi, halusinasi dan perilaku aneh atau katatonik. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang bersifat kronis yang ditandai dengan hambatan dalam berkomunikasi, gangguan realitas, afek tidak wajar atau tumpul, gangguan fungsi kognitif serta mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Pardede &

Laia., 2020).

Gangguan jiwa menurut American psychiatric association (1994) mendefinisikan gangguan jiwa sebagai sindrom atau pola perilaku yang penting secara klinis, yang terjadi pada individu dan sindrom itu dihubungkan dengan adanya distress (misalnya gejala nyeri menyakitkan) atau disabilitas (ketidakmanpuan pada salah satu bagian atau beberapa fungsi penting) atau disertai peningkatan resiko secara bermakna untuk mati, sakit, ketidakmanpuan atau kehilangan kebebasan (Notosoedirdjo, 2007 dalam Prabowo, 2014).

Pasien dengan diagnosis medis skizofrenia 90 % pasien mengalami halusinasi. Dimana 70% diantaranya mengalami halusinasi pendengaran, 20%

mengalami halusinasi penglihatan dan 10% adalah halusinasi penciuman, pengacapan dan perabaan. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa jenis halusinasi yang paling banyak diderita oleh pasien dengan skizofrenia adalah halusinasi pendengaran (Hidayah, 2015). Menurut Livana (2020) menyatakan bahwa dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami halusinasi adalah kehilangan control dirinya. Pasien akan mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasi. Pada situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (Suicide), membunuh orang lain (Homicide), bahkan merusak lingkungan.

(2)

Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan persepsi sensori yang dialami oleh pasien gangguan mental. Biasanya penderita merasakan sensasi suara, penegelihatan, rasa, sentuhan, atau penciuman tanpa rangsangan yang nyata (Pardede, 2020).

Adapun gejala-gejala yang dapat dilihat pada pasien halusinasi diantaranya bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, menunjuk kearah tertentu, ketakutan pada sesuatu yang tida kjelas, tampak mencium bau sesuatu, menutup hidung. Sehingga halusinasi benar-benar nyata dirasakan oleh pasien yang mengalaminya. Pasien mungkin tidak punya cara untuk menentukan persepsi tersebut nyata atau tidak. Ketidak mampuan untuk mempersepsikan stimulus secara riil dapat menyulitkan kehidupan klien.

Karenanya halusinasi menjadi prioritas untuk segera diatasi (Putri, 2017).

Upaya yang dilakukan untuk menangani klien halusinasi adalah dengan memberikan tindakan keperawatan yaitu membantu pasien mengenali halusinasi, isi halusinasi, waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusi nasi muncul dan respon klien saat halusinasi muncul. Kemudian dengan melatih klien mengontrol halusinasi dengan menggunakan strategi pelaksanaan yaitu dengan cara menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas yang terjadwal dan menggunakan obat secara teratur. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sensori, upaya memusatkan perhatian, kesegaran jasmani dan mengekspresikan perasaan. Penggunaan terapi kelompok dalam praktek keperawatan jiwa akan memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan, pengobatan atau terapi serta pemulihan kesehatan. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi ini sebagai upaya untuk memotivasi proses berpikir, mengenal halusinasi, melatih pasien mengontrol halusinasi serta mengurangi perilaku maladaptif (Sutinah, et al, 2020).

Penatalaksanaan keperawatan pasien gangguan jiwa untuk mengatasi halusinasi adalah terapi psikofarma kodinamika, terapi ECT (Elektroconvulsive Therapy) dan TAK. Salah satu intervensi keperawatan

(3)

yang ada adalah TAK. TAK adalah salah satu terapi modalitas yang merupakan upaya untuk memfasilitasi perawat atau psikoterapis terhadap sejumlah pasien pada waktu yang sama. Tujuan dari terapi aktivitas adalah untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota (Purwanto, 2015).

Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi bisa dikendalikan dengan TAK Stimulasi Persepsi halusinasi. TAK Stimulasi Persepsi adalah melatih pasien mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi pasien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini diharapkan respons pasien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif (Sustrami & Sundari, 2014).

Menurut World Health Organization (2022), jumlah penderita Skizofrenia di dunia meningkat sejak tahun 2018, yaitu sekitar 23 juta orang, dan jumlah ini meningkat menjadi sekitar 24 juta orang, atau 1 dari 300 (0,32%) orang di seluruh dunia. 1/222 (0,45%) dari mereka yang terkena dampak adalah orang dewasa. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dan sering terjadi pada akhir usia belasan dan 20-an.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi skizofrenia di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia. Penyebaran prevalensi tertinggi terdapat di Bali dan Daerah Istemewa Yogyakarta dengan masing-masing 11,1 dan 10,4 per 1.000 rumah tangga yang mempunyai ART mengidap skizofrenia. Prevalensi di Kalimantan Selatan menunjukkan prevelensi 5,1 per 1000 rumah tangga.

Prevelansi Gangguan Jiwa Skizofrenia menurut Riskesdas Kalimantan Selatan yaitu 5,06%. Penyebaran prevalensi wilayah/kota, Tanah Laut 4,56%, Kotabaru 6,35%, Banjar 6,17%, Barito Kuala 2,18%, Tapin 9,13%, Hulu Sungai Selatan 5,22%, Hulu Sungai Tengah 13,58%, Hulu Sungai Utara 8,89%, Tabalong 7,00%, Tanah Bumbu 1,14%, Balangan 2,07%, Kota Banjarmasin 1,53% dan Banjarbaru 4,08% (Riskesdas, 2019).

(4)

Berdasarkan hasil data di RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan pada tahun 2022 di dapatkan pasien rawat inap di ruang jiwa dengan skizofrenia secara keseluruhan sebanyak 147 pasien. Dari total 147 pasien rawat inap dengan diagnose medis skizofrenia sebanyak 132 pasien mengalami halusinasi.

Peneliti melakukan observasi kepada 6 pasien halusinasi yang dirawat, dari 6 pasien ada 1 pasien yang selalu tidak mengikuti TAK Persepsi Sensori karena tidak kooperatif. Dari 5 pasien yang selalu mengikuti TAK Persepsi Sensori sebanyak 4 pasien menunjukkan sikap mampu mengontrol halusinasinya sedangkan 1 pasien belum mampu mengontrol halusinasi. Sedangkan 1 pasien yang selalu tidak mengikuti TAK Persepsi Sensori memilki sikap tidak mampu mengontrol halusinasi. Dari hasil observasi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa ada sikap kemampuan pasien mengontrol halusinasi setelah di berikan TAK Persepsi Sensori.

Berdasarkan hasil uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan”.

1.2 Rumusan Masalah

Adakah Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepasi terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H.

Hasan Basry Kandangan.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan.

(5)

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi gambaran mengontrol halusinasi sebelum dilakukan TAK Stimulasi Persepsi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan.

1.3.2.2 Mengidentifikasi gambaran mengontrol halusinasi sesudah dilakukan TAK Stimulasi Persepsi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan.

1.3.2.3 Menganalisis pengaruh TAK Stimulasi Persepsi terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan.

1.4 Manfaat Pelitian 1.4.1 Bagi Masyarakat

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi bagi masyarakat agar dapat memberikan dukungan social kepada keluarga dan pasien halusinasi.

1.4.2 Bagi Institusi

Dapat menambah daftar referensi dalam penelitian selanjutnya, serta sumbangan pemikiran dan acuan ilmu pengetahuan tentang pengaruh TAK Stimulasi Persepsi halusinasi. Diharapkan agar perawat mengevaluasi kemampuan pasien setelah memberikan TAK dan dapat memberikan TAK ulang bagi pasien yang belum mampu untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi.

1.4.3 Bagi Rumah Sakit

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai gambaran tentang pengaruh pelaksanaan TAK stimulasi persepsi pada pasien halusinasi dan diharapkan pelaksanaan TAK menjadi salah satu terapi modalitas rutin dan membudaya di Ruang Jiwa RSUD Brigjend H. Hasan Basry Kandangan.

1.4.4 Bagi Peneliti

Sebagai bahan dan pedoman untuk melakukan riset selanjutnya yang berhubungan terhadap pengaruh TAK stimulasi persepsi halusinasi

(6)

serta dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut dalam lingkup yang sama dan masalah yang sama.

1.5 Penelitian Terkait

1.5.1 Menurut penelitian Hidayah (2014) dengan judul Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Sensori Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pada Pasien Halusinasi Di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang dengan penelitian quasy eskperiment dengan menggunakan rancangan pre-test dan post-test control group design. Dengan metode purposive sampling dengan 20 responden (10 kelompok kontrol dan 10 kelompoki ntervensi), diberikan perlakuan TAK stimulasi persepsi sensori sebanyak II sesi pada kelompok intervensi yang berjumlah 10 responden dan diberikanperlakuan TAK stimulasi persepsisesi I dan II pada kelompok kontrol yang berjumlah 10 responden, menunjukkan tidak ada beda yang signifikan kemampuan pasien mengontrol halusinasi sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol dan ada beda yang signifikan kemampuan pasien mengontrol halusinasi sebelum pemberian TAK dengan sesudah pemberian TAK dengan nilai signifikan. Terdapat pengaruh yang signifikan pada pengaruh TAK stimulasi persepsi –sensori terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien halusinasi.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian yaitu pra eksperimen kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesi I dan II, populasi dan sampel pasien halusinasi yang dirawat dirumah sakit, teori, tempat dan waktu penelitian.

1.5.2 Menurut penelitian Firmawati dan Syukur (2017) dengan judul Efektivitas Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Pasien Dalam Mengendalikan Halusinasi Menggunakan Pendekatan Health Belief Model (HBM). Metode penelitian ini adalah quasy eskperiment dengan menggunakan rancangan pre-test dan post- test control group design dengan desain penelitian Nonequivalent

(7)

Control Group Design. Sampel dalampenelitian ini sebanyak 11 orang untuk kelompok kontrol dan 11 orang orang untuk kelompok intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan terapi perceptual aktivitas kelompoks timulasi terhadap kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi menggunakan Health Belief Model (HBM).

Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode quasy eskperiment dengan desain Nonequivalent Control Group Design, populasi dan sampel pasien halusinasi yang dirawat dirumah sakit, menggunakan pendekatan Health Belief Model, teori, instrument penelitian, tempat dan waktu penelitian.

1.5.3 Menurut Penelitian Gasril, dkk (2020) dengan judul Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulus Persepsi Sesi 1-3 Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Skizoferniadi Ruangan Sebayang Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasi Eksperimen dilakukan terhadap 16 responden. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen jeni sone group pretest-posttest yang hanya terdiri dari 1 kelompok dan tidak ada kelompok pembanding (kontrol). Peneliti menggunakan modul dan lembar evaluasi Auditory Hallucinations Rating Scale sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antaraTerapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah modul dan lembar evaluasi Auditory Hallucinations Rating Scale sebelum dan sesudah intervensi, populasi dan sampel yaitu pasien halusinasi yang dirawat di rumah sakit, teori, instrument penelitian, tempat dan waktu penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

There are 3 (three) independent variables tested in this study (leadership style, organizational culture, and work motivation) so that there are three test results

Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok per satuan produk yang dihasilkan untuk memenuhi pesanan tersebut,