• Tidak ada hasil yang ditemukan

HOTEL WISATA DENGAN KONSEP RUSTIC DI BOGOR, JAWA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "HOTEL WISATA DENGAN KONSEP RUSTIC DI BOGOR, JAWA BARAT"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

HOTEL WISATA DENGAN KONSEP RUSTIC DI BOGOR, JAWA BARAT

Tugas Akhir

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi Strata Satu (S1)

Program Studi Arsitektur

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

Oleh Tiara Amelia

2018460053

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

AGUSTUS 2022

(2)

2

(3)

HOTEL WISATA DENGAN KONSEP RUSTIC DI BOGOR, JAWA BARAT

Tugas Akhir

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi Strata Satu (S1)

Program Studi Arsitektur

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

Oleh Tiara Amelia

2018460053 Dosen Pembimbing:

Dr. Ari Widyati Purwantyasning S.T.,MATRP.IAI Finta Lissimia S.T.,M.T

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

AGUSTUS 2022

(4)

4

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertandatangn di bawah ini:

Nama : Tiara Amelia

NIM : 2018460048

Alamat : Jl. Pisangan Baru 2, No.169, Matraman, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Alama surat elektronik: [email protected]

Dengan ini saya menyatakan bahwa Seminar Tugas Akhir dengan judul:

Hotel Wisata Dengan Konsep Rustic Di Bogor, Jawa Barat

adalah observasi, pemikiran, dan pemaparan asli yang merupakan hasil karya saya sendiri. Karya ini sepenuhnya merupakan karya intelektual saya dan seluruh sumber yang menjadi rujukan didalam karya ilmiah ini telah saya sebutkan sesuai dengan kaidah akademik yang berlaku umum, termasuk para pihak yang telah memberikan kontribusi pemikiran isi, kecuali yang menyangkut ekspresi kalimat dan desain penulisan. Keaslian karya ilmiah ini dapat saya pertanggung jawabkan dan sanggup menerima sanksi apabila ternyata diketahi bahwa Sebagian atau seluruh karya ilmiah ini terditeksi plagiatisme.

Demikian pernyataan ini saya nyatakan secara benar dengan penuh tanggung jawab.

Jakarta, 21 April 2022 Yang Menyatakan

Tiara Amelia

(5)

5

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan konsep perencanaan dan perancangan Tugas Akhir dengan judul

“Hotel Wisata Dengan Konsep Rustic Di Bogor, Jawa Barat” yang telah ditulis oleh TIARA AMELIA dengan NIM 2018460053 telah diujikan pada hari Rabu, 21 April 2022, diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi strata satu (S1) Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Disetujui oleh:

1. Dr. Ari Widyati Purwantyasning S.T.,MATRP.IAI

NIDN 0303017201 (PembimbingUtama)

2. Finta Lissimia S.T.,M.T.

NIDN 0306098901 (Pembimbing Pendamping)

3. Dr. Ir Ashadi M.Si.

NIDN 0325026601 (Penguji)

4. Anisa S.T.,M.T.

NIDN 032403771 (Penguji)

5. Dedi Hantono S.T.,M.T.

NIDN 031208750 (Penguji)

(6)

6 HOTEL WISATA DENGAN KONSEP RUSTIC

Nama Mahasiswa : Tiara Amelia

NIM : 2018460056

Dosen Pembimbing 1 : Dr. Ari Widyati Purwantyasning S.T.,MATRP.IAI.

Dosen Pembimbing 2 : Finta Lissimia S.T.,M.T.

ABSTRAK

Hotel saat ini menjadi salah satu sarana fasilitas yang menunjang pariwisata dan menjadi salah satu tempat wisata. Karena pada saat ini banyak orang yang menjadikan hotel sebagai tempat wisata dikala liburan akhir pekan atau banyak yang menyebutnya adalah “staycation” yang bertujuan untuk sekedar menghilangkan penat selama seminggu kerja. Banyaknya desain hotel yang tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya, sehingga menjadikan hotel itu terlihat sangat kontras dari lingkungannya. Maka penggunaan konsep rustic menjadi pilihan yang tepat karena konsep tersebut memiliki ciri khas yang menggunakan material alam dan menjadikan bangunan menyati dengan lingkungan sekitarnya.

Tujuan dari perancangan ini adlah untuk menyusun konsep perencanaan dan perancangan hotel wisata dengan penerapan arsitektur Rustic serta melakukan analisis dan menerapkan konsep Rustic pada bangunan dan tapak. Penalitian ini adalah penerapan dari konsep arsitektur rustic pada bangunan hotel wisata.

Kata Kunci : Arsitektur, Pedesaan, Hotel, Wisata, Rustik ABSTRACT

Hotels are currently one of the supporting facilities and have become a tourist spot. Because at this time, many people use hotels as tourist attractions during weekend holidays or many call it a "staycation," which aims to relieve fatigue during the work week. Many hotel designs do not pay attention to the surrounding environment, making the hotel look very different from its surroundings. The use of the rustic concept is the right choice because the concept has a characteristic that uses natural materials and makes the building blend with the surrounding

(7)

7 environment. The purpose of this design is to develop the concept of planning and designing a tourist hotel with the application of rustic architecture and to analyze and apply the rustic concept to the building and site. This research is the application of the concept of rustic architecture in tourist hotel buildings.

Keywords : Architecture, Rural, Hotel, Tourism, Rustic

(8)

8

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’aalamin, Puja dan Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah meberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga penulis dapat menyelesaikan konsep Perencanaan &

Perancangan Tugas Akhir ini yang berjudul “Hotel Wisata Dengan Konsep Rustic Di Bogor, Jawa Barat”, dengan tepat waktu. Penelitian ini dilakukan sebagai syarat untuk memenuhi gelar sarjana.

Penyusunan konsep perencanaan ini merupakan suatu proses kajian terhadap semua aspek dalam perancangan dan perencanaan yang berisi tujuan proyek, permasalahan proyek, tinjauan proyek, studi banding dan analisis sehingga pada akhirnya mendapatkan suatu konsep atas jawaban dari suatu kajian permasalahan dan mencapai sasarana tujuan proyek kedalam desain Arsitektur.

Dalam menyusun laporan tugas akhir ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak baik bimbingan, pengarahan, dukungan, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Dr. Ari Widyati Purwantiasning, S.T., MATRP. selaku Dosen pembimbing seminar tugas akhir yang memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan laporan ini sehingga penulis dapat menyelesaikan dan memenuhi syarat laporan yang baik.

2. Ibu Finta Lissimia S.T.,M.T. selaku Dosen pembimbing pendamping mata kuliah seminar tugas akhir yang sangat sabar dan telah memberikan banyak bimbingan serta pengarahan dalam menyusun laporan penelitian ini sampai selesainya karya ilmiah ini.

3. Lutfi Prayogi, S.Ars, M.Urb. Plan, selaku Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang selalu memberikan dukungan dan bimbingan selama penulis menempuh studi di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

4. Yeptadian Sari, S.T., M.T, selaku Koordinator Tugas Akhir, yang selalu memberi arahan dalam teknis berjalannya tugas akhir.

(9)

9 5. Kedua Orang Tua yang selalu memberikan dukungan dalam bentuk materil maupun mendoakan setiap waktu agar anaknya dapat sukses dikemudian hari.

6. Kepada Jihan, Diana, Dinda, Devi, dan Dexsel, selaku sahabat yang selelu memberikan dukungan agar dapat cepat lulus.

7. Semua teman-teman angkatan 2018 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah menjadi kawan selama masa perkuliahan.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang berjasa membantu dan memudahkan penulis menyelesaikan penelitian dan laporan penelitian ini.

Demikianlah semoga perencanaan dan perancangan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum, Wr Wb.

Jakarta, 21 April 2022

Tiara Amelia

(10)

10 DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... 4

HALAMAN PENGESAHAN ... 5

ABSTRAK ... 7

KATA PENGANTAR ... 8

DAFTAR ISI ... 10

DAFTAR GAMBAR ... 12

DAFTAR TABEL ... 14

BAB I ... 15

PENDAHULUAN ... 15

1.1. Latar Belakang ... 15

1.2. Rumusan Masalah ... 16

1.3. Tujuan ... 17

1.4. Manfaat ... 17

1.5. Lingkup Pembahasan ... 17

1.6. Metode ... 17

1.7. Urutan Pembahasan ... 18

1.8. Alur Pola Berfikir ... 18

BAB II ... 20

TINJAUAN UMUM ... 20

2.1. Kajian Hotel ... 20

2.1.1 Klasifikasi Hotel ... 20

2.2. Tinjauan Hotel Wisata ... 23

2.2.1. Karakteristik Hotel Resort ... 23

2.2.2. Fasilitas Hotel Resort ... 25

2.3. Kajian Arsitektur Rustic... 30

2.3.1 Sejarah Rustic... 30

2.3.2 Pengertian Rustic ... 31

2.3.3 Karakteristik Arsitektur Rustic ... 32

2.4. Studi Preseden... 34

2.4.1 Gfell Hotel ... 34

2.4.2 The Ahwahnee Hotel ... 39

(11)

11

2.4.3 Six Senses Botanique Hotel ... 44

BAB III ... 54

TINJAUAN KHUSUS ... 54

3.1. Tinjauan Umum Proyek ... 60

3.2. Tinjauan Terhadap Kabupaten Bogor ... 61

3.3. Tinjauan Lokasi Proyek ... 62

3.4. Perbandingan Tapak ... 63

BAB IV ... 65

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 65

4.1. Analisis Perkotaan ... 65

4.2. Analisis Tapak ... 70

4.3. Analisis Bangunan ... 80

4.4. Analisis Ruang ... 88

BAB V ... 103

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN... 103

5.1. Dasar Perancangan dan Perancangan ... 103

5.2. Konsep Perancangan dan Perancangan... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 107

(12)

12

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Alur Pola Berfikir ... 19

Gambar 2. 1 Old Faithful to Yellowstone ... 30

Gambar 2. 2 Bangunan Rustic pada Hutan ... 31

Gambar 2. 3 Interior Dalam yang Memiliki Sedikit Dekorasi ... 32

Gambar 2. 4 Material dan Tekstur Rustic ... 33

Gambar 2. 5 Contoh Bagian yang Tidak Di Finishing ... 33

Gambar 2. 6 Gfell Hotel dan Peta Lokasi ... 34

Gambar 2. 7 Potongan Hotel Gfell ... 35

Gambar 2. 8 Tampak Depan Hotel Gfell ... 35

Gambar 2. 9 Penggunaan Material pada Ruang Dalam Hotel ... 36

Gambar 2. 10 Penggunaan Material Alam ... 36

Gambar 2. 11 Penggunaan Material Alam Pada Interior ... 37

Gambar 2. 12 a, b, c,d Analisis Prinsip Rustic Unfinished ... 37

Gambar 2. 13 Material yang Terkesan Tua Pada Fasad... 38

Gambar 2. 14 Penggunaan Warna Natural Pada Interior dan Furniture ... 38

Gambar 2. 15 The Ahwahnee Hotel dan Peta Lokasi ... 39

Gambar 2. 16 Site Plan Hotel Ahwahnee... 40

Gambar 2. 17 Fasad depan Ahwahnee Hotel ... 40

Gambar 2. 18 Material Ahwahee Hotel ... 41

Gambar 2. 19 Material Alam pada Ahwahne... 41

Gambar 2. 20 Unfinised pada Tampak Hotel Ahwahnee ... 42

Gambar 2. 21 Pengunaan Material Yang Terkesan Tua Ahwahee Hotel ... 43

Gambar 2. 22 Warna Pada Konsep Rustic Hotel Ahwahnee ... 44

Gambar 2. 23 Six Senses Botanique Hotel dan Peta Lokasi ... 44

Gambar 2. 24 Denah Lantai Ground Floor hotel Botanique ... 45

Gambar 2. 25 Fasad Depan Hotel Botanique ... 45

Gambar 2. 26 Material yang digunakan hotel ... 46

Gambar 2. 27 Penggunaan Material Alam Pada Fasad Six Senses Botanique .... 47

Gambar 2. 28 Gambar Interior Dalam Menggunakan Material Alam ... 47

(13)

13

Gambar 2. 29 Penggunaan Material yang Unfinidhed Pada Potongan ... 48

Gambar 2. 30 Ruang Dalam Pada Hotel penggunaan material unfinised ... 48

Gambar 2. 31Penggunaan Material Tua pada bangunan ... 49

Gambar 2. 32 Fasad Bangunan Penggunaan Warna Natural ... 49

Gambar 3. 1 Peta Pesebaran Wilayah Kabupaten Bogor ... 55

Gambar 3. 2 Gambar Lokasi Kecamatan Babakan Madang ... 60

Gambar 3. 3 Area Sekitar Tapak Kec.Babakan Madang ... 61

Gambar 3. 4 Gambar Lokasi Kecamatan Ciawi... 62

Gambar 3. 5 Area Sekitar Tapak Kec.Ciawi ... 63

Gambar 4. 1 Gambar Analisis Pencapaian ... 65

Gambar 4. 2 Analisis Jalan... 68

Gambar 4. 3 Analisis Utilitas Jaringan Listrik ... 69

Gambar 4. 4 Analisis Jaringan Drainase ... 69

Gambar 4. 5 Analisis Aksesbilitas ... 70

Gambar 4. 6 Sirkulasi Akses Bangunan ... 73

Gambar 4. 7 Analisis Kebisingan ... 75

Gambar 4. 8 Analisis Zonasi ... 79

Gambar 4. 9 Hasil Akhir Zoning ... 79

(14)

14

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Tabel Kesimpulan Tipologi ... 51

Tabel 2. 2 Tabel Kesimpulan Konsep ... 52

Tabel 3. 1 Rata-rata Temperatur Bogor ...56

Tabel 3. 2 Jumlah Wisatawan 2017-2019 ...59

Tabel 3. 3 Perbandingan Tapak...64

Tabel 4. 1 Analisis Pemilihan Tapak ... 67

Tabel 4. 2 Analisis Aksesbilitas ... 71

Tabel 4. 3 Analisis Pemilihan Sirkulasi ... 72

Tabel 4. 4 Analisis View Luar ke Dalam ... 74

Tabel 4. 5 Analisis View Dalam ke Luar ... 75

Tabel 4. 6 Solusi dari Analisis Kebisingan ... 76

Tabel 4. 7 Analisis Aklimatisasi ... 77

Tabel 4. 8 Analisis Sirkulasi Angin ... 78

Tabel 4. 9 Analisis Bentuk Masa Bangnan ... 81

Tabel 4. 9 Analisis Bentuk Masa Bangnan Konsep ... 81

Tabel 4. 11 Kegiatan Pengguna Bangunan ... 92

Tabel 4. 12 Jumlah Wisatawan ... 94

Tabel 4. 13 Besaran Ruang ... 101

Tabel 5. 1 Tabel Konsep Perencanaan dan Perancangan ... 106

(15)

15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan penghasil sumber daya alam terbaik, sekaligus dengan kekayaan alamnya yang terkenal hingga mancanegara. Selain sumber daya alamnya yang terkenal Indonesia terkenal dengan wisata alam yang terkenal karena memiliki pemandangan yang indah dan selalu memiliki cuaca yang pasti atau bisa dikatakan selalu hangat, sehingga banyaknya wisatawan asing atau dalam negeri yang sangat tertarik untuk wisata alam. Pariwisata Indonesia yang makin dikenal karena banyaknya pantai-pantai indah, pulau-pulau kecil yang banyak, pedalaman budaya dan sejarah yang menarik sehingga menjadikan suatu liburan yang menarik banyak penggunjung. Dengan bertambah terkenalnya pariwisata Indonesia maka semakin banyak wisatawan yang berkunjung, dan semakin banyak pula permintaan untuk penginapan.

Hotel saat ini menjadi salah satu sarana fasilitas yang menunjang pariwisata dan menjadi salah satu tempat wisata. Karena pada saat ini banyak orang yang menjadikan hotel sebagai tempat wisata dikala liburan akhir pekan atau banyak yang menyebutnya adalah “staycation” yang bertujuan untuk sekedar menghilangkan penat selama seminggu kerja. Arti staycation berarti liburan yang dilakukan hanya menetap di suatu tempat tanpa melakukan berpergian ketempat lainnya. Maka fungsi hotel saat ini dapat dijadikan salah satu wisata baru yang menawarkan beberapa fasilitas, dan menjadikan suatu ikon baru pada daerah tersebut untuk menjadi tujuan utama.

Banyaknya desain hotel yang tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya, sehingga menjadikan hotel itu terlihat sangat kontras dari lingkungannya.

Terutama pada hotel-hotel yang terletak pada lingkungan alam terbuka. Maka menggunakan konsep Rustic pada bangunan hotel dengan tujuan memberikan kenyamanan yang seakan di pedesaan dengan material alami. Karena Rustic sendiri merupakan konsep dengan gaya pedesaan dengan material alami, dan

(16)

16 menjadikan sebuah bangunan dapat menyatu dengan alam maka konsep ini sangat cocok jika di gunakan pada bangunan hotel.

Rustic sendiri adalah konsep yang sudah ada sejak berabad-abad lalu dari amerika serikat, namun masih dapat dilihat hingga saat ini karena selalu dilestarikan pada bangunan-bangunan perumhan di amerika. Konsep ini juga sering di bandingkan dengan konsep vernacular, padahal pada sisi prinsip terdapat perbedaan singnifikan. Sehingga konsep Rustic pada Indonesia belum dikenal baik, ini menjadi salah satu mengapa konsep Rustic harus dikembangkan dan dikenalkan oleh banyak orang agar tidak terjadinya kesalahan dalam membedakan konsep vernacular dan Rustic. Prinsip-prinsip Rustic yaitu penggunaan material yang terkesan tua atau berkarat, menggunakan material alam seperti batu, kayu, dan baesi, tidaknya di finishing, mempertahankan tekstur awal material alam, menggunakan warna yang natural, dan terakhir membuat bangunan menyerupai lingkungan sekitar. Rustic sendiri merupakan konsep yang bisa digabungkan dengan konsep lainnya dan terkesan lebih modern dan tidak adanya pengaruh dari lingkungan sekitar atau kata lain konsep ini sudah ada pakemnya tersebut dan harus diterapkan untuk menjadi suatu konsep Rustic. Sedangkan vernacular yang telah dipahami adalah suatu konsep yang terjadi karena kebiasaan dari budaya sektar, seperti bangunan traditional Indonesia yang pada setiap daerahnya memiliki bentuk yang berbeda karena adanya pengaruh budaya, material sekitar,dan iklim.

Bogor yang tepatnya berada di Jawa Barat ini, merupakan dataran tinggi dan terdapat banyak perkebunan. Pada Kawasan ini memiliki pemandangan yang masih asri dan penghawaan yang sejuk. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota sehingga Bogor menjadi salah satu tempat wisata paling sering dikunjungi warga kota saat akhir pekan. Dengan demikian pembangunan hotel pada lokasi Bogor menjadi salah satu tempat wisata baru.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan di angkat dalam laporan perencanaan dan perancangan ini adalah:

(17)

17

• Bagaimana konsep perencanaan dan perancangan hotel wisata dengan penerapan arsitektur Rustic?

• Bagaimana sinergi alam dalam tapak dengan konsep arsitektur Rustic pada bangunan hotel di Bogor?

1.3. Tujuan

Dalam laporan ini terdapat tujuan dari konsep perencanaan dan perancangan hotel wisata dengan konsep arsitektur Rustic, yang diantaranya:

• Menyusun konsep perencanaan dan perancangan hotel wisata dengan penerapan arsitektur Rustic.

• Melakukan analisis dan menerapkan konsep Rustic pada bangunan dan tapak.

1.4. Manfaat

Dari pembahasan perencanaan dan perancangan Hotel Wisata dengan konsep Rustic ini terdapat beberapa manfaat, yaitu sebagai berikurt:

a. Untuk penulis, mendapatkan wawasan dan pengetahuan tentang Arsitektur Rustic dalam proses perencanaan dan perancangan.

b. Untuk Pengunjung, agar merasakan atau mendapatkan kepuasan dalam fasilitas dan desain dari bangunan Hotel tersebut.

c. Pemerintah dan Masyarakat sekitar, meningkatnya pelestarian sekitar lingkungan karena akan banyak wisatawan berkunjung maka semakin banyak penilaian terhadap lingkungan sekitar Hotel.

1.5. Lingkup Pembahasan

Lingkup pembahasan akan dibatasi pada permasalahan arsitektural.

Pembahasan aritektural akan dititik beratkan pada konsep perencanaan, analisis site, pengelolaan sirkulasi, dan ruang.

1.6. Metode

(18)

18 Metode yang akan digunakan yaitu dengan mengumpulkan data dari studi observasi dan literatur yang kemudian akan di analisis dan dikaji sehingga menghasilkan sebuah konsep perencanaan dan perancangan.

1.7. Urutan Pembahasan BAB I PENDAHULUAN

Merupakan kerangka dalam alur proses penyusunan tulisan ini yang terdiri atas latar belakang, maksud dan tujuan, perumusan masalah, lingkup pembahasan, metode penyusunan, urutan pembahasan, dan diagram alur berfikir.

BAB II TINJAUAN UMUM

Pada bab ini akan membahas mengenai teori-teori tentang arsitektur Rustic, teori hotel, dan memasukkan hasil dari studi literatur yaitu berupa studi preseden.

BAB III TINJAUAN KHUSUS

Membahas tentang tinjauan-tinjauan khusus seperti lokasi beserta potensinya, dan tinjauan tentang Hotel Wisata.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Merupakan hasil dan pembahasan yang telah dikaji pada bab sebelumnya.

Berisi program-program ruang berdasarkan kegiatan didalamnya, analisis site, dan analisis bangunan.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Berisikan konsep akhir dari perancangan dan perencanaan Hotel Wisata dengan Konsep Rustic.

1.8. Alur Pola Berfikir

(19)

19 Gambar 1. 1 Alur Pola Berfikir

Sumber: Dokumen Pribadi, 2022.

(20)

20

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Kajian Hotel

Hotel merupakan salah satu bangunan kormesial yang memiliki tujuan untuk memberikan tempat tinggal sementara dan untuk menarik pengunjung sebanyak- banyaknya. Hal tersebut menjadikan hotel sebagai tempat penginapan yang memberikan beberapa fasilitas lainya dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya dengan mematuhi beberapa syarat yang telah ada standarnya seperti kenyamanan, Kesehatan, dan bertujuan kormesial. Fasilitas yang umum diberikan di hotel untuk tamu adalah kamar penginapan, makanan, minuman, dan beberapa fasilitas penunjang lainnya yang telah dikelola secara professional untuk mendapatkan keuntungan (Rumekos, 2020).

“Mansione” merupakan nama untuk penginapan pada masa Romawi dan biasanya terdapat pada sepanjang jalan utama kota (Subakti, 2016). Penggunaan kata hotel dimulai di London, Inggris pada abad ke-18. Penggunaan bahasa hotel mulai diterapkan pada tahun 1797 kepada masyarakat sekitar, yang berasal dari perkembangan bahasa Prancis yaitu hostel dan juga berawal dari bahasa Latin hospes (Perwani, 1999).

2.1.1 Klasifikasi Hotel

Hotel memiliki beberpa jenis yang menjadikan suatu hotel memiliki standar atau kelas pada setiap penempatan hotel memiliki jenis dan nama yang berbeda. Maka berikut beberapa jenis pembagian hotel menurut (Tedja, 2002):

a. Hotel berdasarkan sistem pelayanannya

• Hotel Internasional, hotel yang memenuhi standar internasional.

• Hotel Wisma, berdasarkan standar hotel ini untuk menampung wisatawan dengan tarif yang lebih terjangkau.

• Hotel biasa atau losmen, dengan fasilitas yang sederhana namun lebih mengutamakan akomodasi makan dan minum.

b. Hotel berdasarkan paket pelayanannya

Residential Hotel, menyediakan akomodasi untuk pengunjung dengan waktu yang lama.

(21)

21

• Transit Hotel, merupakan hotel yang mengakomodasikan pengunjung dalam waktu singkat, biasanya seperti di bandar.

• Resort Hotel, merupakan hotel yang menampung wisatawan yang sedang mengadakan liburan di suatu daerah wisata.

c. Hotel berdasarkan lokasi

• Resort Hotel, hotel yang terletak di daerah wisata seperti pantai atau pegunungan.

• City Hotel, hotel yang terletak di perkotaan biasanya digunakan untuk kegiatan bisnis.

d. Hotel berdasarkan sistem operasional

Franchised operation system

Reveral operation system

Chain Hotel operation system e. Hotel berdasarkan kelas

• Hotel Ekonomi, hotel dengan pelayanan dan tarif kelas ekonomi

• Hotel Medium, hotel dengan pelayanan dan tarif kelas menengah

• Hotel Deluxe, hotel dengan pelayanan dan tarif kelas mewah f. Hotel berdasarkan Star sistem

• Hotel Bintang Satu

• Hotel Bintang Dua

• Hotel Bintang Tiga

• Hotel Bintang Empat

• Hotel Bintang Lima

Klasifikasi lain dari hotel yaitu ditentukan oleh peraturan pemerintah yang dibuat oleh Dirjen Pariwisata dengan SK: Kep-22/U/VI78, sebagai berikut:

a. Hotel bintang satu

• Jumlah kamar standar minimum 15 kamar.

• Kamar mandi dalam kamar.

• Luas kamar standar minimum 20m2. b. Hotel bintang dua

(22)

22

• Jumlah kamar standar minimum 20 kamar.

• Jumlah kamar suite minimum 1 kamar.

• Kamar mandi dalam kamar.

• Luas kamar standar minimum 22m2.

• Luas kamar suite minimum 44m2. c. Hotel bintang tiga

• Jumlah kamar standar minimum 30 kamar.

• Jumlah kamar suite minimum 2 kamar.

• Kamar mandi dalam kamar.

• Luas kamar standar minimum 24m2.

• Luas kamar suite minimum 48m2. d. Hotel bintang empat

• Jumlah kamar standar minimum 50 kamar.

• Jumlah kamar suite minimum 3 kamar.

• Kamar mandi dalam kamar.

• Luas kamar standar minimum 24m2.

• Luas kamar suite minimum 48m2. e. Hotel bintang dua

• Jumlah kamar standar minimum 100 kamar.

• Jumlah kamar suite minimum 4 kamar.

• Kamar mandi dalam kamar.

• Luas kamar standar minimum 26m2.

• Luas kamar suite minimum 52m2.

Dari pengelomkan dan macam-macam hotel diatas, maka hotel wisata memiliki kesamaan fungsi dengan resort yang dimana pada hotel tersebut memberikan fasilitas rekreasi didalam hotel. Selain itu resort juga berada di kawaasan wisata, dan berfungsi sebagai penunjang wisata tersebut. Jika disimpulkan maka hotel wisata merupakan nama lain dari resort.

(23)

23 2.2. Tinjauan Hotel Wisata

Hotel wisata merupakan jenis hotel yang memberikan fasilitas wisata atau rekreasi. Pada umumnya, hotel ini sering ditemukan dekat-dekat dengan Kawasan wisata. Biasanya juga hotel ini disebut dengan Resort keduanya memiliki arti yang sama yaitu sebuah penginapan yang memberikan fasilitas wisata juga.

Resort adalah sebuah penginapan yang di peruntukan perorangan atau keluarga selain bertujuan wisata di tempat yang berupa kamar-kamar, resort juga menyediakan fasilitas penunjang lain seperti restaurant dan laundry.

2.2.1. Karakteristik Hotel Resort

Berikut merupakan beberapa karakteristik dari sebuah resort sehingga dapat dibedakan menurut jenisnya, yaitu: (Lawson, 1995)

1. Sasaran Tamu Resort

Target dari pengunjung resort adalah wisatawan yang bertujuan berlibur, berwisata (baik alam, budaya, maupun sejarah) dan beberapa ingin mempelajari hal yang baru, seperti kehidupan lokal. Oleh karena itu hotel harus nyaman, memberikan kesan wisata, dan dekat dengan lingkungan sehat.

2. Lokasi Resort

Resort hotel berlokasi di tempat yang mempunyai potensi wisata, baik alam, budaya, seni maupun kerajinan. Potensi alam misalnya tempat- tempat dengan pemandangan alam yang indah. Kedekatan dengan atraksi alam dan kehidupan lokal yang merupakan wisata, dalah tuntutan utama sebuah resort hotel.

3. Fasilitas Resort

Motivasi pengunjung/wisatawan resort hotel adalah berwisata dan mencari kesan baru. Selain fasilitas hotel umumnya, juga ditambahkan fasilitas wisata, bisa berupa sanggar untuk belajar tari dan tenun serta tur desa untuk mempelajari kehidupan lokal.

4. Arsitektur dan Suasana Resort

Wisatawan yang berkunjung ke resort cenderung mencari akomodasi dengan ciri khas, arsitektur, dan suasana khusus, yang berbeda dengan

(24)

24 jenis hotel lainnya, misalnya arsitektur dan suasana alami. Pengunjung hotel lebih memilih penampilan bangunan yang berkesan alami atau tradisional dengan motif dekorasi interior maupun eksterior dengan sentuhan etnik.

5. Privasi tamu Resort

Merupakan ciri khas dan menjadi syarat minimal sebuah sarana akomodasi. Privasi ini diciptakan melalui desain yang tertutup tetapi terkesan nyaman dan dapat berbaur dengan lingkungan.

6. Rekreasi Tamu Resort

Banyak resort hotel yang menawarkan kegiatan rekreasi berupa tur desa, kerajinan, budaya lokal, dan sebagainya untuk menarik wisatawan, dengan meminimalkan potensi yang ada pada kawasan tersebut.

7. Citra Bangunan Resort

Merupakan tampilan dan pantulan dari karakter bangunan. Citra ini dapat dibentuk melalui:

• Memanfaatkan sumber daya alam dan kekhasan suatu tempat sebaik mungkin

• Menyesuaikan fisik bangunan terhadap karakter lingkungan setempat.

• Pengolahan terhadap fasilitas yang sesuai dengan tapak dan iklim setempat.

8. Pengalaman Khusus

Terkait dengan pengalaman pengunjung yang ditimbulkan oleh suasana ruang-ruang yang ada serta atraksi yang ditawarkan.

• Ketenangan, perubahan gaya hidup, dan kesempatan untuk relaksasi.

• Kedekatan dengan alam, hutan, gunung dan sebagainya.

• Memiliki skala manusiawi.

• Pengenalan terhadap budaya dan cara hidup yang berbeda.

9. Integrasi Terhadap Alam

Merupakan interaksi dengan alam sekitar baik berupa elemen alam seperti vegetasi, lansekap sebagai pendukung penempatan hunian,

(25)

25 maupun budaya setempat, berupa arsitektur tradisioanal, kesenian, kerajinan penduduk lokal

10. Kegiatan Pada Resort

Kegiatan yang berlangsung pada resort hotel antara lain:

• Kegiatan hunian, seperti tidur, mandi, istirahat, menonton televisi, menikmati pemandangan dan sebagainya.

• Kegiatan rekreasi dan relaksasi, seperti pijat, makan dan minum di restoran, menikmati pertunjukkan tari tradisional, renang dan lain sebagainya.

• Kegiatan wisata, seperti keliling desa setempat untuk menikmati pemandangan alam, belajar membuat kerajinan lokal, tari tradisional, dan kebudayaan setempat lainnya.

• Kegiatan pengelola meliputi kegiatan melayani, mendata tamu, dan kegiatan administrasi lainnya.

• Kegiatan servis merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tamu, berupa penyediaan makanan, pengaturan sistem mekanikal dan elektrikal, pengaturan pencahayaan, pencucian barang dan lain-lain.

2.2.2. Fasilitas Hotel Resort

Persyaratan khusus mengacu pada persyaratan umum, tetapi ada spesifikasi yang lebih rinci. Persyaratan khusus untuk lokasi dan medan, kondisi di sekitar gedung, sebagai berikut: (Sri, 2009)

1. Umum

• Lokasi mudah dicapai kendaraan umum/pribadi roda empat langsung ke zona hotel dan dekat dengan tempat wisata.

• Menghindari pencemaran yang diakibatkan gangguan luar yang berasal dari suara bising, bau tidak enak, debu, asap, serangga dan binatang mengerat.

• Memiliki taman baik di dalam maupun di luar bangunan.

• Memiliki tempat parkir kendaraan tamu hotel.

(26)

26

• Unsur dekorasi Indonesia harus tercermin dalam ruang lobi, restoran, kamar tidur, dan function room.

• Ruang hotel memperhatikan arus tamu, arus karyawan, arus barang atau produksi hotel.

• Bangunan terawat rapi dan bersih.

• Sirkulasi di dalam bangunan mudah.

2. Kamar Tidur

• Luas minimal:

o Kamar standar 18 m² o Kamar suite 26 m²

• Tinggi kamar minimal 2.6 m tiap lantai.

• Semua kamar dilengkapi dengan kamar mandi dalam.

• Kamar tidur kedap suara (noise 40 dB).

• Pintu dilengkapi dengan alat pengaman berupa kunci double lock.

• Untuk hotel pantai :

o Lantai dari teraso/ ubin/ marmer/ kayu.

o Lantai tidak licin, kualitas tinggi.

• Untuk hotel bukit :

o Seluruh lantai dilapisi karpet.

o Komposisi vinyl 20% wool atau jenis bahan lain yang tidak mudah terbakar 80%.

• Jendela dengan tirai yang tidak tertembus sinar dari luar.

• Tersedia alat pengatur suhu kamar tidur dan ventilasi/ exhaust di kamar mandi.

• Interior kamar mencerminkan suasana Indonesia.

• Dinding kamar mandi harus dengan bahan kedap air.

• Tersedia instalasi air panas dan air dingin.

• Perlengkapan kamar tidur, tersedia tempat tidur dengan perlengkapan untuk 1 (satu) orang atau untuk 2 (dua) orang sesuai dengan ukuran kamar standar:

o Ukuran tempat tidur 1 (satu) orang 2,00m × 1,00m.

o Ukuran tempat tidur 2 (dua) orang 2,00m × 1,60m.

(27)

27 3. Dinning Room, mempunyai minimum 1 buah dinning room.

4. Bar, hotel harus menyediakan satu bar yang terpisah dari restoran.

• Lebar ruang meja kerja bartender minimal 1 m.

• Jumlah tempat duduk sebanding dengan luas bar dengan ketentuan 1,1 m2 per tempat duduk.

• Bar dilengkapi dengan tempat untuk mencuci peralatan dan perlengkapan yang terdiri atas :

o Wastafel dengan dua buah keran air panas dan air dingin o Mesin pencuci gelas.

o Saluran pembuangan air 76.

5. Ruang Fungsional, adalah ruang untuk acara-acara tertentu, fungsinya hampir sama seperti ruang serba guna.

• Minimum terdapat 1 buah pintu masuk yang terpisah dari lobi.

• Dilengkapi dengan toilet apabila tidak satu lantai dengan lobi.

• Terdapat prefunction room.

6. Lobby

• Mempunyai luas minimum 40 m².

• Menyediakan toilet umum

o Toilet Pria : urinoir 4 (empat) buah, wc 2 (dua) buah, wastafel.

o Toilet wanita : wc 3 (tiga) buah, wastafel, ruang rias dengan kaca rias.

• Tersedia lounge.

• Terdapat telepon umum.

7. Drug Store

• Tersedia poliklinik dan paramedic.

• Minimum terdapat drugstore, money changer, biro perjalanan, souvenir shop dan butik.

8. Sarana Rekreasi dan Olahraga

• Minimum 1 buah pilihan : tenis, bowling, golf, fitnes, biliard, joging, sauna, diskotik, taman bermain anak.

(28)

28

• Terdapat kolam renang dewasa yang terpisah dengan kolam renang anak.

• Tersedianya arena permainan anak.

• Hotel pantai menyediakan fasilitas untuk olahraga air.

• Hotel gunung menyediakan fasilitas untuk olahraga gunung seperti mendaki gunung, menunggang kuda atau berburu.

9. Utilitas Penunjang

• Ketersediaan air bersih minimum 700 liter/ orang/ hari.

• Dilengkapi dengan instalasi air panas dan dingin.

• Dilengkapi dengan CCTV, musik, teleks, radio, internet 77.

10. Restoran

• Main dining room atau ruang makan utama.

• Coffee shop, restoran yang menyediakan dan menyajikan makan pagi dengan menu dan jenis pelayanannya lebih sederhana atau biasa disebut ready on plate.

o Jumlah tempat duduk sebanding dengan luas restoran dengan ketentuan 1,5 m² per tempat duduk.

o Tinggi restoran tidak boleh rendah dari tinggi ruang tamu (2,60 m).

• Room service: restoran yang melayani dan menyediakan hidangan makanan dan minuman kepada tamu hotel yang enggan keluar kamar. Atas dasar pesanan tamu, makanan dan minuman diantar langsung ke kamar tamu.

11. Dapur, luas sekurang-kurangnya 40% dari luas restoran

• Ruang dapur terdiri dari : o Ruang persiapan.

o Ruang pengolahan.

o Ruang penyimpanan bahan makanan.

o Ruang administrasi (chef).

o Ruang pencucian dan penyimpanan peralatan/

perlengkapan.

o Ruang penyimpanan bahan bakar gas/elpiji untuk dapur.

(29)

29

• Lantai dapur tidak licin.

• Dinding dapur dilapisi dengan tegel kedap air setinggi langit- langit.

• Penerangan dapur minimal 200 lux.

12. Zona Tata Graha

• Ruang Seragam (Uniform Room).

• Ruang Istirahat (pantry) dengan luas minimal 50 m² beserta rak.

• Ruang jahit menjahit.

• Room boy, tersedia ruang pelayanan kamar tamu minimal 1 (satu buah untuk setiap 40 kamar.

13. Zona dan Ruang Operator

• Tersedia gudang yang terdiri dari :

o Gudang bahan makanan dan minuman.

o Gudang peralatan dan perlengkapan.

o Gudang untuk engineering.

o Gudang botol kosong.

o Gudang barang-barang bekas

• Ruang penerimaan barang/bahan yang dapat menampung minimal 1 (satu) truk.

• Ruang karyawan.

o Ruang loker dan kamar mandi/ WC yang terpisah untuk pria dan wanita.

o Ruang makan karyawan.

o Dapur karyawan.

o Ruang ibadah karyawan.

Dari persyaratan berikut harus diterapkan dalam bangunan hotel dengan tujuan agar memiliki standar dan kualitas yang baik. Ruang-ruang tersebut merupakan standar dan kebutuhan sesuai dengan syarat ruang-ruang yang ada.

Persyaratan tersebut harus diterapkan pada perancangan dengan bik dan benar.

(30)

30 2.3. Kajian Arsitektur Rustic

Rustic atau dalam bahasa latin Raticus, atau sering didengar juga dengan Rustika pada saat ini, memiliki arti yang berarti pedesaan dan kasar (Shadily, 1983). Banyak yang mengkaitkan arsitektur Rustic dengan vernacular karena keberadaannya yang hampir sama. Namun arsitektur Rustic merupakan gaya pedesaan di Amerika sedangkan vernacular merupakan gaya yang terjadi karena budaya, adat, dan lingkungan sekitar.

2.3.1 Sejarah Rustic

Gaya Rustic pertama kali ditemukan di Amerika serikat dan sekitarannya, pada abad ke-19, gaya ini tercipta karena karya seni dan kerajinan yang pada masa itu merupakan bentuk sebuah respon alami terhadap industrialisasi yang cepat, gaya ini dibawa oleh pengerajin desa ke kota (Ewald, 2015). Dari perpindahan tersebut gaya Rustic menyebar keseluruh negara Amerika dan Kanada, hingga saat ini gaya Rustic sudah menyebar ke semua negara.

Pada abad ke-19 Amerika Rustic menemukan ekspresi tertingginya pada 3 bulan terakhir di abad itu, dalam hutan dibangunlah sebuah perkemahan besar Adirondacks dan dalam “parkitektur” yang telihat dengan pembangunan hotel- hotel besar seperti Old Faithful Inn Yellowstone dan Ahwahnee di Yosemite (Ewald, 2015).

Gambar 2. 1 Old Faithful to Yellowstone Sumber:

https://cdn.yellowstoneparknet.com/images/content/2981_5142_Old_Faithful_Inn_lg.jpg

(31)

31 2.3.2 Pengertian Rustic

Konsep Arsitektu Rustic adalah sebuah konsep yang memanfaatkan sumber daya alam seperti batu dan kayu daur ulang atau diklamasi, dirancang untuk berbaur dengan lingkungan terdekat (Anwar & Budiwiyanto, 2018). Oleh karena itu banguna ini lebih dominan berada pada lingkungan yang asri seperti perdesaan yang berada di pegunungan, atau pedesaan dalam hutan, hal tersebut bertujuan bangunan tersebut dapat berbaur dengan alam dan tidak mejadi kontras.

Menurut Kabinani dan Santosa (2014) mengatakan jika gaya Rustic atau yang dikenal juga sebagai gaya ‘pedesaan’ adalah gaya yang menghadirkan elemen-elemen natural dari alam yang mengandung unsur budaya daerah, sehingga pengguna secara tidak langsung juga dapat mengenal budaya yang akan ditampilkan.

Gambar 2. 2 Bangunan Rustic pada Hutan Sumber: Kylloe, 2010

Konsep Rustic sering digunakan juga pada bagian interior. Rustic itu sendiri memiliki nilai kesan alami bagi pengguna ruangan, dan memberikan kesan pedesaan yang disebabkan dari material yang digunakan dalam penyusunan ruang yang menggunakan material alami, berkarat, memiliki dimensi yang besar, bahkan tidak di finishing sehingga memunculkan sisi vernacular (Engelhart, 2019).

Arsitektur Rustic adalah gaya arsitketur dari Amerika Serikat yang digunakan untuk bangunan di desa, arsitektur Rustic sendiri dapat diartikan sebagai gaya arsitektur yang memiliki tekstur yang kasar dan tidak di selesaikan

(32)

32 dengan baik, yang dimaksud adalah penataan desain rumah dan interior yang lebih menitik-beratkan pada kesan alamiah (Astuti, 2012).

2.3.3 Karakteristik Arsitektur Rustic

Rustic adalah sebuah gaya yang dipakai dalam arsitektur, biasanya gaya ini sering digunakan oleh bangunan-bangunan seperti vila berburu atau kamar kayu yang berada dikawasan hutan timur laut Amerika Serikat. Karakteristiknya meliputi: konstruksi dinding dari kayu gelondong, sambungan sudut takik pelana, dan kayu potong kasar, cerobong batu, atap memiliki kemiringan sedang hingga curam yang ditutupi oleh sirap kayu yang dibelah dengan tangan, atap yang menggantung dengan kasau terbuka, satu atau lebih balkon atau berada dengan langkan datar yang memiliki guntingan dekoratif atau tempelan. Terkadang disebut gaya Rustic Adirondack atau gaya Rustic Teddy Roosevelt (Cyril,2013).

Dalam San Diego Magzine edisi 2012, tren Rustic berkembang lagi di tahun 2011 dan 2012 pada California Selatan, yang diterapkan pada perusahaan komersial seperti bar dan restaurant. Amerika Society of Interior Designers memberikan penghargaan keunggulan dalam desain, yang memanfaatkan sebuah desain pedesaan, setelahnya tren tersebut mulai menyebar luas ke seluruh negri.

Arsitektur Rustic memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dari konsep lainnya yaitu karakternya yang solid, sederhana, minim dekorasi dan menggunakan material alam serta tidak dilakukan finishing sebagai penerapannya pada massa bangunan yang akan dibangun (Hedy C. Indrani, 2004).

Gambar 2. 3 Interior Dalam yang Memiliki Sedikit Dekorasi Sumber: Kylloe, 2010

(33)

33 Finishing Rustic dapat mencerminkan kesan tua, alami, dan kaya akan material alam (Jayanti et al., 2014). Karakteristik dari Konsep Arsitektu Rustic yaitu terkesan tua dan hangat dan biasanya menggunakan material yang memiliki kesan teksturenya kuat miasalnya adalah lapisan dinding dengan batuan,kayu atau hanya bata ekspos (Ditasari, 2012). Maka dari 2 pernyataan tersebut Rustic memiliki material alami yang seperti usang atau busuk, dan memiliki tekstur yang kuat seperti batu, kayu, dan bata ekspos.

Gambar 2. 4 Material dan Tekstur Rustic Sumber: pxhere.com

Penerapan konsep aristektur Rustic pada ekterior bangunan atau selubung bangunan menerapkan dengan cara menggunakan dinding – dinding bangunan oleh material kayu atau menggunakan batu – batu Ekspos yang tidak di finishing sehingga menghasilkan kesan natural atau alami, pembangunan sebuah bangunan menggunakan tema arsitektur Rustic membutuhkan waktu yang lumayan lama karena harus mendetail satu demi satu oleh karena itu pembangunan menggunakan konsep arsitektur Rustic harus membangun dengan niat “Building With Intention” (Ewald, 2015).

Gambar 2. 5 Contoh Bagian yang Tidak Di Finishing Sumber: Ewald, 2015

(34)

34 Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa arsitektur Rustic memiliki beberapa prinsip-prinsip dalam penerapannya, yaitu:

• Prinsip-prinsip:

1. Penggunaan material alam seperti kayu, batu, logam, dan bata ekspos

2. Menggunakan material lama yang terkesan tua.

3. Tidak dilakukan finising

4. Menggunakan warna yang natural.

2.4. Studi Preseden 2.4.1 Gfell Hotel

Gfell Hotel berada di negara Italia, tepatnya Gfellweg, 22, 39050 Völs am Schlern, Autonome Provinz Bozen – Südtirol. Gfell hotel merupakan sebuah bangunan hotel yang baru diresmikan pada tahun 2020. Hotel ini berada pada lereng yang dekat dengan desa Fiè allo Sciliar, dan dikelilingi oleh pemandangan yang indah yaitu hutan dan padang rumput yang masih alami. Bangunan hotel ini diadaptasi dari bangunan bekas gudang yang dibangun kembali tanpa menghilangkan kesan alami.

Gambar 2. 6 Gfell Hotel dan Peta Lokasi Sumber: Dokumen Pribadi, 2022.

Pada bangunan hotel Gfell memiliki ke unikan dimana pada bangunan ini menggunakan teknik cut and fill sehingga bangunan ini jika dari jalan terlihat hanya memiliki satu lantai namun pada bangunan ini memiliki tiga lantai sisa

(35)

35 lantainya ke bawah. Maka pada denah bangunan ini memiliki bagian denah yang dimualai dari ground floor, underground floor 1, dan underground floor 2.

Gambar 2. 7 Potongan Hotel Gfell

Sumber: https://oss.gooood.cn/uploads/2021/03/041-gfell-hotel-by-noa-960x366.jpg

Pada hotel Gfell Italy memiliki konsep natural dan alami, dan bangunannya pun di ambil dari bekas gudang yang terbuat dari material kayu dan berkesan alami. Pada fasad bangunan banyak menggunakan material kayu sebagai dinding dan atap, kayu yang digunakan menggunakan kayu bekas dan terlihat lupuk.

Gambar 2. 8 Tampak Depan Hotel Gfell

Sumber: https://a3w3j4i7.stackpathcdn.com/wp-content/uploads/2021/03/1-4-15.jpg

Penggunaan material pada Gfell Hotel dibagi kedalam beberapa bagian pembentuk ruang diantaranya lantai, dinding, dan langit-langit. Pada hotel ini penggunaan material kayu lebih dominan pada langit-langit, lantai, dan dinding, namun Sebagian dinding menggunakan material beton dengan di cat warna yang natural.

(36)

36 Gambar 2. 9 Penggunaan Material pada Ruang Dalam Hotel

Sumber: https://a3w3j4i7.stackpathcdn.com/wp-content/uploads/2021/03/1-16-6.jpg

a. Penggunaan Material Alam

Penerapan material alam menggunakan material kayu tua yang gelap, dan Sebagian sisinya menggunakan tumpukan batu susun untuk bagian dindingnya.

Namun bagian atapnya juga menggunakan penggunaan kayu yang sama.

Fasadnya juga didukung oleh penggunaan jendela dengan list yang gelap dan pagar berwarna abu-abu yang berasal dari logam. Dengan penggunaan material- material tersebut membuat fasad bangunan menjadi menarik dan menyatu dengan alam.

Gambar 2. 10 Penggunaan Material Alam Sumber: Dokumen Pribadi, 2021

Kemudian pada gambar dibawah penggunaan kayu tua pada balok dan kolom praktis menggunakan yang berwarna coklat tua dan memiliki serat yang jelas. Interior ini di dukung juga dengan furniture yang menggunakan material kayu seperti meja, buffet, dan kursi-kursi agar menyesuaikan dengan sisi atap yang sanggat alami.

(37)

37 Gambar 2. 11 Penggunaan Material Alam Pada Interior

Sumber: Dokumen Pribadi, 2021

b. Unfinished (tidak di selesaikan/finishing)

Pada gambar, beberapa bagian sengaja tidak di lakukan finising depan tujuan memberikan kesan alami dan natural pada bangunan. Hal ini menjadikan bangunan ini terlihat sangat Rustic. Bagian yang tidak di finishing yang terlihat pada gambar a, b, dan c, yaitu Sebagian dinding yang tidak di aci dan dibiarkan menggunakan material alam.

Gambar 2. 12 a, b, c,d Analisis Prinsip Rustic Unfinished Sumber: Dokumen Pribadi, 2021

c. Menggunakan Material lama yang Terkesan Tua

Pada dasarnya bangunan ini merupakan bangunan yang diadaptasi ulang dari sebuah gudang, dan gudang tersebut menggunakan material kayu, kayu tersebu

(38)

38 terlihat tua dan terkesan busuk material tersebut tidak dihilangkan dengan tujuan agar memberikan kesan alami dan Rustic. Yang ditujukan pada gambar, yaitu penggunaan material kayu yang terlihat lapuk dan berserat.

Gambar 2. 13 Material yang Terkesan Tua Pada Fasad Sumber: Dokumen Pribadi, 2021.

Pada gambar menunjukkan material atap jika dilihat dari dalam ruangan, tidak menggunakan tambahan plafon dan dibiarkan terbuka. Sehingga terlihat bagian struktur kayunya yang memiliki serat-serat kayu.

d. Menggunakan Warna yang Natural

Penggunaan warna natural dapat terlihat dari penggunaan warna dinding yang tidak terlalu mencolok dan bagian atap juga menggunakan material kayu yang masih menggunakan warna asli kayu. Perpaduan warna pada bangunan ini membuat bangunan terlihat menyatu dengan alam dan natural.

Gambar 2. 14 Penggunaan Warna Natural Pada Interior dan Furniture Sumber: Dokumen Pribadi, 2021.

Bagian interior warna natural yang ditampilkan terlihat di bagian furniture yang memiliki keserasian warna terhadap bagian dari ruangan itu. Warna-warna tersebut memberikan kesan hangat dan Rustic.

Dari penggunaan warna pada sisi fasad dan interior, jika bangunan akan terlihat natural dengan menggunakan warna-warna yang hampir mendekati

(39)

39 dengan lingkungan alam sekitar. Seperti warna coklat yang merupakan warna kayu-kayu.

2.4.1 The Ahwahnee Hotel

The Ahwahnee Hotel merupakan salah satu bangunan bersejarah dari Amerika Serikat bangunan ini kini menjadi salah satu landmark di Kawasan National Park. Hotel ini berada pada bagian Ntional Park, atau tepatnya 1 Ahwahnee Drive, Yosemite Valle, Amerika Serikat. Bangunan ini merupakan bangunan Rustic yang material batunya lebih mendominasi fasad. Maka dibangunlah sebuah hotel sebagai solusinya. Sebuah hotel kelas satu di Taman Nasional ini menggunakan arsitek yang terkenal yaitu Gilbert Stanly Underwood. The Ahwahnee Hotel memiliki menara utama dan 3 sayap lainya sehingga berbentuk seperti huruf “Y”.

Ahwahnee Hotel dibuka pertama kali untuk bisnis pada tanggal 16 Juli 1927 kemudian dilakukan beberapa pembangunan dan renovasi hingga 1950-an dan terjadi moderenisasi selama 3 dekade berikutnya. Pada tahun 1987, hotel ini dinyatakan sebagai landmark bersejarah nasional.

Gambar 2. 15 The Ahwahnee Hotel dan Peta Lokasi Sumber: https://lh5.googleusercontent.com

Bangunan ini memiliki bentuk seperti huruf “Y” dan memiliki menara pada bagian tengahnya dengan luas 14.000m2. Bangunan ini memiliki 6 lantai yang pada ground floor terdapat ruangan yang bersifat publik. Kemudian bangunan ini juga memiliki 100 kamar dan ruangan penunjang lainnya. Berikut merupakan denah lantai dasar dari bangunan. Desain bangunan ini di ubah

(40)

40 beberapa kali dan di satu titik bagian hotel tidak boleh lebih dari 3 lantai, sehingga bangunan ini dibuat melebar dan luas untuk menampung 100 kamar.

Gambar 2. 16 Site Plan Hotel Ahwahnee

Sumber: https://marydonahue.org/wp-content/uploads/2019/12/map-of- Ahwahnee-hotel.jpg

Fasad bangunan depan hotel terlihat megah dan menarik yang dibuat menyatu dengan lingkungan sekitar. Batu-batu dinding memiliki kecocokan dengan tebing sekitar dengan begitu bangunan ini semakin terlihat menyatu dengan alam. Hotel ini merupakan bangunan dengan style Rustic dimana tampilanya terlihat non-simetris yang membuatnya membaur dengan lingkungan.

Gambar 2. 17 Fasad depan Ahwahnee Hotel Sumber: https://lh3.googleusercontent.com

(41)

41 Ahwahnee hotel merupakan bangunan dengan style Rustic amerika, material yang digunakan diusahakan menggunakan material alam agar memberikan kesan alami. Pada beberapa sisi bangunan yang rendah mengunakan kolom kayu, kayu tersebut merupakan batang kayu pinus. Batu-batu terdapat pada sisi-sisi jendela disusun sehingga menjadi kolom-kolom besar. Bangunan ini menggunakan 1.000ton baja dan 30.000kaki kayu.

Gambar 2. 18 Material Ahwahee Hotel Sumber: https://lh4.googleusercontent.com

a. Penggunaan Material Alam

Penggunaan material pada fasad terlihat dari kolom yang besar-besar yang sudah dijelaskan sebelumnya yang menggunakan material batu kali yang besar- besar penggunaan lain terdapat pada bagian kusen jendela dan batas balkon yang menggunakan material kayu asli. Pada bagian lampu taman di bagian dinding menggunakan material logam karena bentuknya unik dan merupakan barang yang tua, sehingga hal tersebut membuat terlihat kesan Rustic-nya semakin kental.

Gambar 2. 19 Material Alam pada Ahwahne

(42)

42 Sumber: Dokumen Pribadi, 2021.

b. Prinsip Rustic Unfinished (tidak di selesaikan/finishing)

Pada gambar merupakan tampak samping yang neampilkan sisi depan dari restoran. Pada bagian ini material yang tidak diselesaikan atau unfinished yautu bagian kolom bangunan yang besar, kolom kayu yang berada pada dinding- dinding restoran, jendela yang ada pada restoran, dan pembatas balkon yang berada antara kolom batu.

Gambar 2. 20 Unfinised pada Tampak Hotel Ahwahnee Sumber: Dokumen Pribadi, 2021.

Penggunaan material yang tidak di finishing yaitu terlihat dari penggunaan material pada jendela, kolom dan pembatas dari balon yang sengaja tidak di selesaikan. Pada bagian itu menggunakan material kayu utuh yang memiliki bentuk dan serat yang sempurna dan masih berbentuk bulat sepeti persis saat di pohon.

c. Menggunakan Material lama yang Terkesan Tua

Penggunaan material yang terkesan tua terlihat diatas yaitu bagian kayu atas pintu yang memang sebagiannya seperti terkelupas dan memang dibiarkan seperti itu karena bangunan ini menjadi lebih menarik dengan adanya material tersebut.

(43)

43 Gambar 2. 21 Pengunaan Material Yang Terkesan Tua Ahwahee Hotel

Sumber: https://lh4.googleusercontent.com

Penggunaan material yang terkesan tua pada bagian dalam terlihat dai bagian dinding mengarah keluar yang di kotakkan pada garis merah pada gambar.

Terkesan tua karena di dalam ruangan dengan perpaduan kayu yang gelap dan batu tersebut sudah berumur ratusan tahun dan di dalam ruangan sehingga terlihat gelap dan tua. Kemudian pada struktur atap menggunakan material kayu yang seperti utuh dan disambungkan sangat berserat dan memiliki warna yang gelap sehingga menambahkan kesan tua pada kayu tersebut.

d. Menggunakan Warna yang Natural

Penggunaan warna natural yang digunakan pada bangunan ini yaitu dominan warna coklat, karena bangunan ini berada di tengah hutan yang pada bagian belakangnya merupakan tebing. Sehingga bagian atap menggunakan warna hitam agar menyelesaikan dari warna kayu dan warna tebing. Maka bangunan ini memang seperti rumah pohon karena bentuknya menyerupai bentuk sekitarnya.

(44)

44 Gambar 2. 22 Warna Pada Konsep Rustic Hotel Ahwahnee

Sumber: Dokumen pribadi, 2021.

2.4.1 Six Senses Botanique Hotel

Six Senses Botanique Hotel merupakan hotel yang berada di tengah-tengah antara bukit dan pegunungan yang berada di Rua Elídio Gonçalves dan Silva, Campos do Jordão, Brasil. Bangunan ini memiliki fasad dan interior dengan style Rustic modern. Hotel ini dibangun di luas lahan 700 hektar. Bangunan ini mengambil kesan yang menyerupai dengan alam sekitar. Arsitek dari hotel ini adalah Candida Tabet Arquitetura.

Gambar 2. 23 Six Senses Botanique Hotel dan Peta Lokasi Sumber: https://www.booking.com/

Hotel ini hanya terdapat 3 lantai yang masing-masing terdiri lantai ground floor, first floor, dan second floor. Bangunan ini cenderung kecil utuk ukuran hotel dan hanya terdapat 7 kamar yang berukuran besar dan standar.

(45)

45 Lantai dasar merupakan sarana dari penunjang hotel dan merupakan zona publik karena hamper setiap ruangannya dapat dikunjungi. Lantai dasar ini terdiri dari lobby yang memiliki ukuran besar, living room yang berukuran sangat luas, perpustakaan, day user, mini pantry, elevator, kitchen, restoran, dan beberapa ruang servis.

Gambar 2. 24 Denah Lantai Ground Floor hotel Botanique

https://images.adsttc.com/media/images/55e4/9f64/e58e/ceb7/f100/0114/medium_jpg/Pla n2.jpg

Tampak bangunan didominasi dengan bebatuan dan kayu yang memiliki tekstur alami. Kemudian terdapat bagian yang menggunakan kaca-kaca besar dengan tujuan agar cahaya dapat masuk ke dalam bangunan dengan baik. Hal ini memadupadankan kesan alami dan modern.

Gambar 2. 25 Fasad Depan Hotel Botanique Sumber:

https://images.adsttc.com/media/images/55e4/98e3/e58e/ce03/1300/0102/medium_jpg/_E d_IMG_6913_Tuca_Reines_R_archdaily_copy.jpg?1441044700

(46)

46 Material yang digunakan sangat jelas pada bagian fasad yaitu menggunakan batu, kemudian jika pada dalam ruangan kolom-kolom praktis dan balok-baloknya menggunakan kayu. Pada atapnya pun juga tidak menggunakan plafon sehingga terlihat jelas struktur atap yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan terlihat tua dan seperti busuk dan sengaja tidak di finishing.

Gambar 2. 26 Material yang digunakan hotel

Sumber: https://www.archdaily.com/772783/botanique-hotel-and-spa-candida-tabet- arquitetura

a. Penggunaan Material Alam.

Penggunaan material alam pada area fasad terlihat dari penggunaan dinding baru kali yang disusun. Kemudian bagiannya yang lainya yaitu di sampingnya menggunakan kayu yang berbentuk Panjang-panjang. Bangunan ini penggunaan material alamnya terlihat jika di dalam ruangan karena banyak menggunakan kayu.

(47)

47 Gambar 2. 27 Penggunaan Material Alam Pada Fasad Six Senses Botanique

Sumber: Dokumen pribadi, 2021

Pada material pembentuk ruang penggunaan material alam pada ruangan ini sangat terlihat hampir keseluruhan yaitu dari penggunaan plafon kayu, kolom praktis dan balok yang dari kayu, kemudian ada kolom besar yang terbuat dari batu kali yang besar-besar. Penggunaan furniture juga campuran dari penggunaan kayu.

Gambar 2. 28 Gambar Interior Dalam Menggunakan Material Alam Sumber:

https://images.adsttc.com/media/images/55e4/999e/e58e/ceb7/f100/010b/medium_jpg/L_I MG_6348_Tuca_Reines_R_archdaily_copy.jpg?1441044886

b. Unfinished (tidak di selesaikan/finishing)

Penggunaan material yang tidak di finishing yaitu pada bagian dinding yang menggunakan batu alam dan pada struktur atap yang menggunakan kayu tua. Pada

(48)

48 bagian dalam banyak material yang tidak di finishing dikarenakan bangunan ini ingin memberikan kesan natural yang ada.

Gambar 2. 29 Penggunaan Material yang Unfinidhed Pada Potongan Sumber: Dokumen pribadi, 2021

Pada gambar merupakan gambar ruang yang berada pada bagian sisi hotel pada area ini sangat terlihat bagian ruangan ini tidak ada yang di finishing. Dari bagian dinding batu hingga kolom kayu tua.

Gambar 2. 30 Ruang Dalam Pada Hotel penggunaan material unfinised Sumber:

https://images.adsttc.com/media/images/55e4/996e/e58e/ce03/1300/0108/medium_jpg/B_

IMG_4786_Tuca_Reines_R_archdaily_copy.jpg?1441044839

(49)

49 c. Menggunakan Material lama yang Terkesan Tua

Pada bagian struktur atap teratas menggunakan kayu yang terkesan tua dan lapuk. Namun nyatanya kayu tersebut masih bagus dan hanya diberikan warna yang gelap agar terlihat motif dari serat kayu. Dengan begitu bangunan ini terlihat Rusticnya

Gambar 2. 31Penggunaan Material Tua pada bangunan Sumber: Dokumen pribadi, 2021

d. Menggunakan Warna yang Natural

Bangunan ini memiliki penggunaan warna yang alami dan seakan menyatu dengan sekitar. Menggunakan warna kayu pada dinding, dan putih untuk

membuat tampak menonjol pada bagian detai dari hotel ini. Warna batu uga membuat bangunan ini menarik.

Gambar 2. 32 Fasad Bangunan Penggunaan Warna Natural Sumber: Dokumen pribadi, 2021

(50)

50 Berdasarkan dari hasil 3 studi preseden tersebut dapat ditarik kesimpulannya, berikut kesimpulan yang berbentuk tabel:

Prinsip

Rusic Gfell The Ahwahnee Six Senses

Botanique Kesimpulan Luas

Bangunan 2.000 m2 14.000 m2 7.000 m2 7.500 m2

Fasilitas bangunan

Resepsionis atau area informasi

Louge

R. Sarapan

Restauran

Kitchen

R. Santai

Akses lift

R. Sauna

R. Kesehatan

K. Regular

K. Campuran / cabin

K. Suite room

Resepsionis atau area informasi

Suites rooms

Classic room

Lounge/ Bar

Dining Room

Fireplace

Kitchen

Business center

Children programs

Complimentary Transportation

Concierge Services

Gift Shop

Hot Tub

Laundry Facilities

Meeting Facilities

Multilingual Staff

Outdoor

Swimming Pool

Room Service

Sweet Shop

Lobby

Living room

Library

Coffee room

Toilet

Elevator

Stairs

Kitchen

Restaurant

Suite

Working place

Restaurant

Kitchen

R. Spa

• Resepsionis atau area informasi

Suites rooms

Classic room

Lounge/ Bar

Dining Room

Fireplace

Kitchen

Business center

Children programs

Complimenta ry

Transportatio n

Concierge Services

Gift Shop

Hot Tub

Laundry Facilities

Meeting Facilities

Multilingual Staff

(51)

51

WiFi Access Is Mountain WiFi

& Is Limited - Available In Guest Rooms &

Public Spaces

Outdoor Swimming Pool

Room Service

Sweet Shop WiFi Access Is Mountain WiFi

& Is Limited - Available In Guest Rooms

& Public Spaces Tabel 2. 1 Tabel Kesimpulan Tipologi

Sumber: Pribadi, 2022.

Kesimpulan dari 3 studi presedan bagian konsep adan teman:

Prinsip Rusic Gfell The Ahwahnee Six Senses

Botanique Kesimpulan Penggunaan

Material Alam

Penggunaan material alam terdapat pada fasad dan interior. Yaitu bagian dinding, atap, plafon, dan pada anak kolom.

Menggunakan material batu besar pada kolom- kolomnya, kayu pada struktur dinding dan anak kolom.

Penggunaan material alam terdapat pada dinding luar dan dalam serta stuktur dalam, seperti kolom yang Sebagian dari bebatuan dan kayu.

Penggunaan material alam dapat

diterapkan pada bagian dinding, kolom bahkan

struktur atap bagi kayu, dan bebatuan bisa untuk kolom dan dinding.

Unfinished (tidak diselesaikan/

Tidak di Finishing terdapat pada

Seluruh bangunan in pada bagian

Unfinishing dilakukan pada bagian yang

Prinsip tidak di unfinishing dapat di

Referensi

Dokumen terkait