45
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Kondisi lokasi penelitian
RSUD Sanjiwani merupakan rumah sakit umum yang terletak di Kabupaten Gianyar yang berdiri pada tahun 1955 di jalan Ngurah Rai, tepatnya pada lokasi Kantor Bupati Daerah Tingkat II Gianyar. Awalnya RSUD Sanjiwani hanya sebuah poliklinik dengan kondisi bangunan yang sangat sederhana, perawatan minim dan ketenagaan jauh dari memadai.
Pada tahun 2008 RSUD Sanjiwani berubah status menjadi Badan Layanan Umum Daerah berdasarkan Kaputusan Bupati Gianyar No. 56 Tahun 2008 tentang Penetapan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPKBLUD) pada RSUD Sanjiwani Gianyar .
Perkembangan RSUD Sanjiwani mengalami beberapa kali perubahan status.
Pada tahun 2016 Rumah Sakit Umum Daerah Gianyar adalah rumah sakit pemerintah daerah tipe B Pendidikan. Pada tahun 2017 RSUD Sanjiwani Gianyar memiliki kapasitas tidur sebanyak 280 tempat tidur. RSUD Sanjiwani telah lulus akreditasi versi Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) tingkat paripurna melalui sertifikat yang dikeluarkan oleh komisi akreditasi rumah sakit No. KARS-SERT/51/XI/2018 tanggal 7 November 2018.
46 2. Karakteristik subyek penelitian
Selama penelitian dilaksanakan berdasarkan umur sampel yaitu 31 tahun ke atas, dengan jumlah sampel yaitu 41 sampel yang memenuhi kriteria penelitian dengan karakteristik sebagai berikut:
Tabel 4 Sebaran Karakteristik Sampel
Berdasarkan tabel diatas dari 41 sampel pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Sanjiwani lebih banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 22 sampel (53,7%) dibandingkan dengan perempuan sebanyak 19 sampel (46,3%),
47
pada sebaran sampel berdasarkan agama dari 41 sampel lebih tinggi sampel beragama Hindu yaitu sebanyak 39 sampel (95,1%) dengan usia sampel lebih banyak pada usia diantara 56-80 tahun sebanyak 27 sampel (65,9%) dibandingkan pada usia 31-55 tahun 14 sampel (34,1%).
Dilihat dari jenis pekerjaan lebih banyak sampel bekerja sebagai wiraswasta atau pegawai swasta yaitu sebanyak 13 sampel (31,7%) sedangkan pekerjaan yang paling sedikit dilakukan oleh sampel yaitu sebagai PNS dan pedagang sebanyak 1 sampel (2,4%) sehingga penghasilan sampel diatas UMK sebanyak 16 sampel (39,0%), dibawah UMK sebanyak 4 sampel (9,8%) dan sampel yang tidak memiliki pengasilan sebanyak 21 sampel (51,2%), dilihat dari tingkat pendidikan mayoritas sampel memiliki pendidikan rendah (tidak sekolah, tamat SD, dan SMP) sebanyak 36 sampel (87,8%), dilihat dari riwayat penyakit keluarga yang mengalami hipertensi sebanyak 39 sampel (95,1%) dan sampel yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita hipertensi yaitu sebanyak 2 sampel (4,9%) dan dilihat dari riwayat penyakit pada sampel, sampel lebih banyak memiliki komplikasi penyakit ginjal yaitu 32 sampel (78,0%) dibandingkan kompliasi penyakit diabetes mellitus sebanyak 5 sampel (12,2%).
3. Hasil pengamatan terhadap subyek penelitian berdasarkan variabel penelitian.
a. Derajat hipertensi
Tekanan darah dikelompokkan menjadi 4, yaitu normal, hipertensi derajat I, hipertensi derajat II, dan hipertensi derajat III. Berdasarkan hasil pengumpulan data tekanan darah pada sampel, diperoleh hasil yaitu rata-rata tekanan darah sistolik seluruh sampel 154,88 mmHg (SD= 21,345) dan rata-rata tekanan darah
48
diastolik adalah 91,34 (SD= 9,939). Tekanan darah sistolik tertinggi 190 mmHg dan tekanan darah diastolik tertinggi adalah 110 mmHg sedangkan tekanan darah sistolik terendah adalah 110 mmHg dan tekanan diastolik terendah adalah 70 mmHg. Sebagian besar sampel menderita hipertensi derajat I yaitu sebanyak 14 sampel (34,1%).
Gambar 4. Sebaran Sampel Menurut Derajat Hipertensi
b. Tingkat konsumsi zat gizi makro
Berdasarkan hasil pengumpulan data tingkat konsumsi zat gizi makro (energi, protein, lemak, dan karbohidrat) pada sampel, diperoleh hasil yaitu rata-rata tingkat konsumsi energi seluruh sampel adalah 92,71% (SD= 16,71), rata-rata tingkat konsumsi protein yaitu 79,52% (SD= 17,67), rata-rata tingkat konsumsi lemak 83,20% (SD= 23,97), dan rata-rata tingkat konsumsi karbohidrat yaitu 81,90% (SD= 18,66) dengan tingkat konsumsi energi tertinggi yaitu 136,21%, tingkat konsumsi protein tertinggi yaitu 117,27%, tingkat konsumsi lemak tertinggi yaitu 124,61%, dan tingkat konsumsi karbohidrat tertinggi yaitu 147,41% sedangkan tingkat konsumsi energi terendah adalah 58,79%, protein 33,43%, lemak 25,38%, dan tingkat konsumsi karbohidrat terendah yaitu 42,37%.
Jika dibandingkan dengan angkan kecukupan konsumsi zat gizi makro, sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi energi baik yaitu sebanyak 29 sampel
7
14 13
7 17.1%
34.1% 31.7%
17.1%
0 10 20 30 40
optimal/normal hipertensi derajat I hipertensi derajat II hipertensi derajat III Frekuensi Persentase
49
(70,7%), tingkat konsumsi protein sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi kurang sebanyak 25 sampel (61,0%), pada tingkat konsumsi lemak sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi kurang sebanyak 23 sampel (56,1%), dan pada tingkat konsumsi karbohidrat sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi baik sebanyak 20 sampel (48,8%).
Tabel 5
Sebaran Sampel Menurut Tingkat Konsumsi Zat Gizi Makro
Karakteristik Tingkat Konsumsi Zat Gizi Makro
F %
Energi
Lebih 5 12,2
Baik 29 70,7
Kurang 7 17,1
Total 41 100,0
Protein
Lebih 6 14,6
Baik 10 24,4
Kurang 25 61,0
Total 41 100,0
Lemak
Lebih 11 26,8
Baik 7 17,1
Kurang 23 56,1
Total 41 100,0
Karbohidrat
Lebih 2 4,9
Baik 20 48,8
Kurang 19 46,3
Total 41 100,0
c. Status gizi
Berdasarkan hasil pengumpulan data status gizi pada sampel, diperoleh hasil yaitu rata-rata IMT seluruh sampel adalah 22,49 kg/m2 (SD= 5,16) dengan IMT tertinggi 35,76 kg/m2 dan terendah 14,69 kg/m2. Jika dibandingkan dengan IMT
50
normal, sebagian besar sampel memiliki IMT diatas angka normal sehingga memiliki status gizi berlebih.
Gambar 5. Sebaran Sampel Menurut Status Gizi
4. Hasil analisis data
a. Hubungan antara tingkat konsumsi zat gizi makro dengan derajat hipertensi
1) Tingkat konsumsi energi dengan derajat hipertensi
Bedasarkan hasil penelitian dari 41 sampel yang memiliki tingkat konsumsi energi tinggi ditemukan 3 sampel (21,4%) yang mengalami hipertensi derajat I dan sebanyak 11 sampel (78,6%) yang memiliki tingkat konsumsi energi baik yang mengalami hipertensi derajat I. tingkat konsumsi energi dengan derajat hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah.
15 14
12 53.7%
36.6%
9.7%
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Gizi Lebih Gizi Baik Gizi Kurang Frekuensi Persentase
51
Tabel 6 Sebaran Sampel Menurut Tingkat Konsumsi Energi
Dengan Derajat Hipertensi
Tingkat Konsumsi
Energi
Derajat Hipertensi Total P-
value R Normal Derajat I Derajat II Derajat
III
f % f % f % f % f %
Lebih 0 0,0 3 21,4 1 7,7 1 14,3 5 12,2 0,308 - 0,163 Baik 5 71,4 11 78,6 9 69,2 4 57,1 29 70,7
Kurang 2 28,6 0 0,0 3 23,1 2 28,6 7 17,1 Total 7 100,0 14 100,0 13 100,0 7 100,0 41 100,0
Berdasarkan hasil analisis dengan uji spearman diperoleh nilai p = 0,308 (p>0,05) dan r = - 0,163, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan derajat hipertensi dengan kekuatan korelasi sangat lemah dan arah hubungan negative yang artinya semakin berlebih tingkat konsumsi maka semakin menurun derajat hipertensi pada sampel begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat konsumsi energi maka semakin tinggi derajat hipertensinya.
2) Tingkat konsumsi protein dengan derajat hipertensi
Bedasarkan hasil penelitian dari 41 sampel yang memiliki tingkat konsumsi protein kurang ditemukan 11 sampel (78,6%) yang mengalami hipertensi derajat I dan sebanyak 3 sampel (21,4%) yang memiliki tingkat konsumsi protein baik yang mengalami hipertensi derajat I. tingkat konsumsi protein dengan derajat hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah.
52
Tabel 7 Sebaran Sampel Menurut Tingkat Konsumsi Protein
Dengan Derajat Hipertensi
Tingkat Konsumsi
Protein
Derajat Hipertensi Total P-
value R Normal Derajat I Derajat II Derajat
III
f % f % f % f % f %
Lebih 1 14,3 0 0,0 0 0,0 5 71,4 6 14,6 0,013 0,385 Baik 1 14,3 3 21,4 6 46,2 0 0,0 10 24,4
Kurang 5 71,4 11 78,6 7 53,8 2 28,6 25 61,0 Total 7 100,0 14 100,0 13 100,0 7 100,0 41 100,0
Berdasarkan hasil analisis dengan uji spearman diperoleh nilai p = 0,013 (p<0,05) dan r = 0,385, maka terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi protein dengan derajat hipertensi dengan kekuatan korelasi cukup dan arah hubungan positif yang artinya semakin berlebih tingkat konsumsi protein maka semakin tinggi derajat hipertensi pada sampel. Sebaliknya jika tingkat konsumsi protein rendah maka semakin rendah derajat hipertensinya.
3) Tingkat konsumsi lemak dengan derajat hipertensi
Bedasarkan hasil penelitian dari 41 sampel yang memiliki tingkat konsumsi lemak kurang ditemukan 9 sampel (64,3%) yang mengalami hipertensi derajat I dan sebanyak 5 sampel (35,7%) yang memiliki tingkat konsumsi lemak baik yang mengalami hipertensi derajat I. tingkat konsumsi lemak dengan derajat hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah.
53
Tabel 8 Sebaran Sampel Menurut Tingkat Konsumsi Lemak
Dengan Derajat Hipertensi
Tingkat Konsumsi
Lemak
Derajat Hipertensi Total P-
value R Normal Derajat I Derajat II Derajat
III
f % f % f % f % f %
Lebih 1 14,3 0 0,0 4 30,8 6 85,7 11 26,8 0,002 0,468 Baik 1 14,3 5 35,7 1 7,7 0 0,0 7 17,1
Kurang 5 71,4 9 64,3 8 61,5 1 14,3 23 56,1 Total 7 100,0 14 100,0 13 100,0 7 100,0 41 100,0
Berdasarkan hasil analisis dengan uji spearman diperoleh nilai p = 0,002 (p<0,05) dan r = 0,468, maka terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi lemak dengan derajat hipertensi dengan kekuatan korelasi cukup dan arah hubungan positif yang artinya semakin berlebih tingkat konsumsi lemak maka semakin tinggi derajat hipertensi pada sampel. Sebaliknya jika rendah tingkat konsumsi lemak maka semakin rendah derajat hipertensinya.
4) Tingkat konsumsi karbohidrat dengan derajat hipertensi
Bedasarkan hasil penelitian dari 41 sampel yang memiliki tingkat konsumsi karbohidrat kurang ditemukan 7 sampel (50,0%) yang mengalami hipertensi derajat I dan sebanyak 6 sampel (42,9%) yang memiliki tingkat konsumsi karbohidrat baik yang mengalami hipertensi derajat I. tingkat konsumsi karbohidrat dengan derajat hipertensi dapat dilihat pada tabel dibawah.
54 Tabel 9
Sebaran Sampel Menurut Tingkat Konsumsi Karbohidrat Dengan Derajat Hipertensi
Tingkat Konsumsi
KH
Derajat Hipertensi Total P-
value R Normal Derajat I Derajat II Derajat
III
f % f % f % F % f %
Lebih 1 14,3 1 7,1 0 0,0 0 0,0 2 4,9 0,063 - 0,293 Baik 5 71,4 6 42,9 5 38,5 4 57,1 20 48,8
Kurang 1 14,3 7 50,0 8 61,5 3 42,9 19 46,3 Total 7 100,0 14 100,0 13 100,0 7 100,0 41 100,0
Berdasarkan hasil analisis dengan uji spearman diperoleh nilai p = 0,063 (p>0,05) dan r = - 0,293, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi karbohidrat dengan derajat hipertensi dengan kekuatan korelasi cukup dan arah hubungan negative yang artinya semakin berlebih tingkat konsumsi karbohidrat maka semakin menurun derajat hipertensi pada sampel begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat konsumsi karbohidrat maka semakin tinggi derajat hipertensinya.
b. Hubungan antara status gizi dengan derajat hipertensi
Bedasarkan hasil penelitian dari 41 sampel yang memiliki status gizi lebih sebanyak 9 sampel (64,3%) mengalami derajat hipertensi I sedangkan sebanyak 1 sampel (7,1%) mengalami status gizi kurang dan mengalami hipertensi derajat I. Status gizi dengan derajat hipertensi lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah.
55
Tabel 10 Sebaran Sampel Menurut Status Gizi
Dengan Derajat Hipertensi Status
Gizi
Derajat Hipertensi Total P-
value R Normal Derajat I Derajat II Derajat
III
f % f % f % f % f %
Gizi lebih
2 28,6 9 64,3 3 23,1 1 14,3 15 36,6 0,042 0,319 Gizi
baik
4 57,1 4 28,6 2 15,4 4 57,1 14 34,1 Gizi
kurang
1 14,3 1 7,1 8 61,5 2 28,6 12 29,3 Total 7 100,0 14 100,0 13 100,0 7 100,0 41 100,0
Berdasarkan hasil analisis dengan uji spearman diperoleh nilai p = 0,042 (p<0,05) dan r = 0,319, maka terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan derajat hipertensi dengan kekuatan korelasi cukup dan arah hubungan positif yang artinya semakin tinggi status gizi maka semakin tinggi derajat hipertensi pada sampel begitu juga sebaliknya semakin kecil status gizi maka semakin rendah derajat hipertensinya.
B. Pembahasan
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.
Salah satu cara penanggunalan hipertensi adalah dengan cara membatasi konsumsi makanan yang mengandung zat gizi makro (protein, lemak, dan karbohidrat) dan status gizi. Hasil pengumpulan data tekanan darah sampel, menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik seluruh sampel 154,88 mmHg (SD= 21,345) dan rata-rata tekanan darah diastolik adalah 91,34 (SD= 9,939). Tekanan darah sistolik
56
tertinggi 190 mmHg dan tekanan darah diastolik tertinggi adalah 110 mmHg.
Sebanyak 14 sampel (34,1%) tergolong dalam hipertensi derajat I.
Hasil penelitian dari 41 sampel menunjukkan bahwa rata-rata umur sampel adalah 59 tahun (SD=12,13) dan umur tertua adalah 80 tahun dan sampel umur termuda yaitu 31 tahun. Sebanyak 27 sampel (65,9%) berada diantara 56-80 tahun dan sebanyak 14 sampel (34,1%) diantara usia 31-55 tahun. Insiden hipertensi makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia, Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain perubahan alami pada jantung, hormone, dan pembuluh darah manusia yang terjadi secara alami sebagai proses penuaan.
Berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar sampel berjenis kelamin laki-laki sebanyak 22 sampel (53,7%). Pada umumnya hipertensi pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, namun pada usia pertengahan wanita akan meningkat sehingga pada usia 65 tahun keatas wanita mengalami hipertensi lebih tinggi.
Namun Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 melaporkan prevalensi hipertensi pada wanita adalah 28,8 lebih tinggi daripada pria yang prevalensinya mencapai 22,8.
Penelitian ini sejalan dengan pendapat aristoteles (2018) yang mengatakan bahwa pria cenderung lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita.
Hal tersebut terjadi karena pria memiliki gaya hidup yang kurang sehat jika dibandingkan dengan wanita. Gaya hidup yang bebas akan mempengaruhi terjadinya hipertensi contohnya merokok, minum alkohol, mengkonsumsi kopi/kafein, mengkonsumsi garam berlebihan, kebiasaan kurang beraktifitas fisik dan stress.
57
Dilihat dari penghasilan sampel sebulan paling banyak memiliki penghasilan
> UMK sebanyak 16 sampel (39,0%), < UMK sebanyak 4 sampel (9,8%) dan sampel yang tidak memiliki pengasilan sebanyak 21 sampel (51,2%), dengan ketentuan UMK Gianyar 2023 yaitu Rp 2.837.680. dilihat dari tingkat pendidikan yang tertinggi yaitu pendidikan tingkat rendah antara lain tidak sekolah, tamat SD, dan SMP sebanyak 36 sampel (87,8%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Delfriana.,et al 2022 mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan hipertensi yaitu usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Selain itu, riwayat penyakit keluarga juga merupakan faktor risiko hipertensi pada lansia.
Pada penelitian ini sampel yang memiliki riwayat penyakit keluarga yang menderita hipertensi yaitu sebanyak 39 sampel (95,1%). Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang dapat menurun melalui gen maupun lingkungan keluarga yang sama.
Berdasarkan hasil pengumpulan data konsumsi energi pada sampel, diperoleh hasil rata-rata konsumsi energi seluruh sampel adalah 92,71% (SD=16,71) dengan konsumsi energi tertinggi 136,21% dan tingkat konsumsi energi terendah 58,79%.
Jika dibandingkan dengan angka kecukupan energi setiap individu, sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi energi baik yaitu 29 sampel (70,7%).
Berdasarkan hasil pengumpulan data konsumsi protein pada sampel, diperoleh hasil rata-rata tingkat konsumsi protein yaitu 79,52% (SD= 17,67) dengan tingkat tertinggi yaitu 117,27% dan tingkat konsumsi terendah adalah 33,34%. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan protein setiap individu, sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi protein kurang yaitu 25 sampel (61,0%).
Rendahnya konsumsi protein pada sampel disebabkan oleh sampel yang
58
membatasi konsumsi protein seperti kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tahu, tempe, kacang kedelai, dan kacang hijau dan makanan yang diawetkan contohnya sarden. Dikarenakan dilihat dari komplikasi yang terjadi pada sampel yaitu sebanyak 32 sampel (78,0%) mengalami gagal ginjal dengan hemodialisa sehingga sampel melakukan diet rendah protein. Konsumsi rendah protein dapat membantu ginjal supaya tidak bekerja keras karena protein yang masuk ke dalam tubuh juga sedikit, sehingga limbah yang masuk ke aliran darah dan membuat tidak nafsu makan dan selalu merasa lelah.
Berdasarkan hasil pengumpulan data konsumsi lemak pada sampel, diperoleh hasil rata-rata tingkat konsumsi lemak 83,20% (SD= 23,97) dengan tingkat konsumsi lemak tertinggi yaitu 124,61% dan tingkat konsumsi lemak terendah yaitu 25,38%. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan lemak setiap individu, sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi lemak kurang yaitu 23 sampel (56,1%). Rendahnya konsumsi lemak pada sampel dikarenakan sampel membatasi konsumsi lemak yang dapat memicu terjadinya penyakit diabetes mellitus.
Berdasarkan data yang dikumpulkan dari 41 sampel sebanyak 5 sampel (12,2%) menderita diabetes mellitus. Sumber lemak yang dibatasi untuk dikosumsi oleh sampel yaitu daging merah, jeroan, daging olahan, susu, makanan cepat saji contohnya ayam goreng dan kentang goreng, dan kue. Sedangkan Sumber lemak yang dikosumsi oleh sampel contohnya ikan, telur, dan ayam tanpa kulit dipanggang. Sehingga dapat dikatakan sampel mampu menerapkan diet yang telah diberikan oleh ahli gizi dirumah sakit.
Berdasarkan hasil pengumpulan data konsumsi karbohidrat pada sampel, diperoleh hasil rata-rata tingkat konsumsi karbohidrat 81,90% (SD= 18,66)
59
dengan tingkat konsumsi karbohidrat tertinggi yaitu 147,41% dan tingkat konsumsi karbohidrat terendah yaitu 42,37%. Jika dibandingkan dengan angka kecukupan karbohidrat setiap individu, sebagian besar sampel memiliki tingkat konsumsi karbohidrat baik yaitu 20 sampel (48,8%). Baiknya konsumsi karbohidrat pada sampel dikarenakan sampel sudah mampu menerapkan diet yang telah diberikan. Membatasi konsumsi karbohidrat dikarenakan pasien mengalami komplikasi DM dan gagal ginjal jika dikosumsi secara berlebih dapat memicu kerusakan ginjal. Konsumsi karbohidrat berlebih dapat meningkatkan kadar gula dalam darah yang menyebabkan diabetes mellitus.
Berdasarkan hasil pengumpulan data status gizi pada sampel, menunjukkan bahwa rata-rata perhitungan indeks massa tubuh (IMT) seluruh sampel adalah 22,49 kg/m2 (SD= 5,16) dengan IMT tertinggi 35,76 kg/m2 dan terendah 14,69 kg/m2. Jika dibandingkan dengan IMT normal, sebagian besar sampel memiliki IMT diatas angka normal sehingga memiliki status gizi berlebih yaitu sebanyak 15 sampel (53,7%). Status gizi yang berlebihan diakibatkan berat badan dan tinggi badan yang tidak seimbang, status gizi berlebih yang terjadi sebelum mengalami komplikasi penyakit saat ini, serta pola makan tidak sehat sehingga terjadi begitu lama sehingga dapat dapat dikatan sebagai salah satu pemicu gagal ginjal dan DM.
Hasil analisis dengan uji statistik rank spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan derajat hipertensi, hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Margerison et al (2020) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara asupan energi dengan derajat hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
60
oleh Melly et al (2022) mengatakan kecukupan energi tidak memiliki hubungan langsung dengan hipertensi. Meskipun demikian, kecukupan energi yang berlebih dapat berdampak pada status gizi (overweight), sehingga dapat berpengaruh pada hipertensi.
Hasil analisis dengan uji statistik rank spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan derajat hipertensi, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh mulyasari et.al (2020) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan hipertensi dengan nilai p value 0,000. Asupan tinggi protein dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Sehingga asupan protein yang berlebih dapat mengakibatkan risiko hipertensi dan akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar kolesterol yang berlebih akan melekat pada dinding pembuluh darah.
Penyumbatan pada pembuluh darah akan meningkatkan volume darah sehingga tekanan darah meningkat.
Hasil analisis dengan uji statistik rank spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat konsumsi lemak dengan derajat hipertensi, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahendra, I Made Estiana (2022) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi lemak dengan hipertensi yang ditandai nilai p value 0,003. Dimana Asupan lemak yang berlebihan akan menimbulkan peningkatan asam lemak bebas di dalam tubuh. Peningkatan asam lemak bebas tersebut dapat meningkatkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) darah, sehingga dapat memicu aterosklerosis yang dapat mengakibatkan sumbatan pada pembuluh darah dan menimbulkan hipertensi.
61
Hasil analisis dengan uji statistik rank spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat konsumsi karbohidrat dengan derajat hipertensi, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahendra, I Made Estiana (2022) mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan derajat hipertensi. Dimana karbohidrat tidak menjadi faktor langsung dengan peningkatan tekanan darah melainkan jika penyimpanan karbohidrat mencapai batal maksimalnya, maka kelebihan karbohidrat akan diubah menjadi lemak dan disimpan di jaringan adiposa.
Hasil analisis dengan uji statistik rank spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan antara status gizi dengan derajat hipertensi, hal ini sejalan dengan Ahsan et al (2022) menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan tingkat hipertensi pada lansia di puskesmas Klampis Ngasem. Orang yang memiliki kelebihan berat badan, kegemukan atau obesitas sangat berpotensi terkena hipertensi. Kegemukan sebagai salah satu faktor terjadinya hipertensi.