• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KEGIATAN MALAM BINA IMAN DAN TAKWA (MABIT) DENGAN PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA DI SMA IBNU HAJAR PASAREAN BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "HUBUNGAN KEGIATAN MALAM BINA IMAN DAN TAKWA (MABIT) DENGAN PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA DI SMA IBNU HAJAR PASAREAN BOGOR"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

TAKWA (MABIT) DENGAN PENGEMBANGAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA

DI SMA IBNU HAJAR PASAREAN BOGOR

Skripsi

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam ( S. Pd )

Oleh:

Tetia Sekar Andini NIM. 14311460

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

1439 H/ 2018 M

(2)

PERSPEKTIF AL-QUR`AN (Studi Komparatif Tafsir Al- Mishbâh dan Al-Huda)

Skripsi ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh : Umiarti Karimah

NIM. 14210621

Pembimbing:

Dr. H. M. Ulinnuha Husnan, Lc, MA

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR`AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

1439 H/2018 M

(3)

i

Skripsi dengan judul “Hubungan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa Dengan Pengembangan Kecerdasan Spiritual Siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor” yang di susun oleh Tetia Sekar Andini dengan Nomor Induk (NIM) 14311460 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai oleh dosen pembimbing telah memenuhi syarat ilmiah untuk diujikan ke sidang munaqosyah.

Pembimbing,

Ali Mursyid, MA Tanggal 20 Juli 2018

(4)

ii

Skripsi dengan judul “ Hubungan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa Dengan Pengembangan Kecerdasan Spiritual Siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor” yang di susun oleh Tetia Sekar Andini dengan Nomor Induk (NIM) 14311460 telah diajukan pada sidang munaqosyah Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta tanggal 27 Juli 2018.skripsi telah diterima sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam ( S. Pd )

Jakarta, 26 Juli 2018 Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta

Dr. Hj Umi Khusnul Khatimah, MA Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang, Sekertaris Sidang,

Dr. Hj Umi Khusnul Khatimah, M. Ag Wasmini

Penguji I, Penguji II,

Dr. Hj Umi Khusnul Khatimah, M. Ag Dr. Esi Hairani, M. Pd

(5)

iii Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Tetia Sekar Andini NIM : 14311460

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) Dengan Pengembangan Kecerdasan Spiritual Siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang telah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 20 Juli 2018

Tetia Sekar Andini

(6)

iv

MOTTO HIDUP























Dan (ingatlah, ketika Tuhan-mu Memaklumkan, “sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan Menambah (nikmat) kepadamu, tetapi

jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.".

-

Bersyukurlah! Niscaya kamu akan bahagia -

(7)

xviii

Tetia Sekar Andini (14311460), skripsi dengan judul Hubungan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) Dengan Pengembangan Kecerdasan Spiritual Siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor Tahun Ajaran 2018. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta.

Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) atau di lingkungan sekolah biasa dikenal dengan nama I’tikaf, merupakan kegiatan ekstrakulikuler yang mencerminkan bahwa SMA Ibnu Hajar merupakan Sekolah Swasta Strandar Islami (SUSI), yang tidak hanya mengharapkan siswa dan lulusannya pandai di bidang akademik (IQ), tetapi non akademik, baik itu dalam berprilaku maupun beribadah (ES dan SQ), dikatakan menurut Zohar dan Ian Marshall bahwa SQ merupakan kecerdasan tertinggi dan merupakan pelengkap dari IQ dan EQ. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan fitrah manusia, akan tetapi masih memerlukan cara atau faktor agar kecerdasan ini muncul dan menetap di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh data-data yang akan dijadikan hasil penelitian. Penulis juga menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti kuesioner atau angket, wawancara, observasi &

dokumentasi. Dengan menggunakan teknik analisis data, Editing, Coding dan Tabulating serta dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 22 for Windows. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa berjumlah 100 orang.

Dari hasil peneitian ini diperoleh adanya korelasi hubungan positif yang signifikan antara kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan spiritual siswa dimana nilai korelasinya adalah r

= 0.360. koefisien determinan r2 sebesar 0.1296, yang artinya bahwa 12.96 % kegiatan MABIT memberikan sumbangan kepada pengembangan kecerdasan spiritual dengan signifikan p = 0.000. sedangkan sisanya (87.04 %) dipengaruhi oleh variabel lain yang mempengaruhi kecerdasan spiritual.

(8)

x

HALAMAN JUDUL ...

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ... iii

MOTTO ... iv

KATA PENGANTAR ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR DIAGRAM ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

ABSTRAK ... xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Perumusan Masalah ... 6

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

F. Hipotesis Penelitian ... 7

G. Tinjauan Pustaka ... 8

H. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II KAJIAN TEORI A. Kegiatan Malam bina iman dan takwa (MABIT) ... 18

1. Pengertian Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) .... 18

2. Tujuan MABIT ... 24

(9)

B. Kecerdasan spiritual ... 27

1. Pengertian kecerdasan spiritual... 27

2. Ciri-ciri kecerdasan spiritual ... 30

3. Fungsi Kecerdasan Spiritual ... 35

4. Faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Spiritual ... 36

5. Perkembangan Spiritual Anak Didik ... 38

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian... 41

B. Jenis dan Metode Penelitian ... 41

C. Sumber Data ... 42

D. Populasi dan Sample... 43

E. Variabel, Reliabilitas dan Indikator Penelitian ... 45

F. Teknik Pengumpulan Data ... 47

G. Instrumen Penelitian ... 49

H. Teknik Analisis Data ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran umum SMA Ibnu Hajar ... 56

1. Deskripsi SMA Ibnu Hajar ... 56

2. Visi, Misi dan Tujuan SMA Ibnu Hajar ... 58

3. Perangkat SMA Ibnu Hajar ... 59

a. Data Guru ... 59

b. Data Siswa ... 60

c. Sarana dan Prasarana ... 75

d. Struktur Organisasi SMA Ibnu Hajar ... 78

B. Persiapan dan Proses Penelitian ... 78

C. Deskripsi Hasil Penelitian ... 79

1. Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa ... 79

(10)

2. Deskripsi Variabel (X) Kegiatan MABIT ... 81

3. Deskripsi Variabel (Y) Kecerdasan Spiritual ... 89

D. Penyajian Data ... 105

1. Validitas ... 105

2. Reliabilitas ... 108

E. Analisis data ... 108

1. Uji Normalitas ... 108

2. Uji Linieritas Hubungan ... 109

3. Korelasi variabel X- Y... 110

F. Pengujian Hipotesis ... 111

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 112

B. Saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 115

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 119

(11)

v

KATA PENGANTAR

Tiada kalimat yang patut terucap selain kalimat Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam.

Penulis panjatkan rasa syukur kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan segala nikmat-Nya kepada penulis berupa nikmat waktu, kesehatan, kemampuan, kekuatan dan kesabaran dalam mengerjakan tugas skripsi ini.

Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada bimbingan alam Nabi Muhammad saw., yang telah mewariskan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup manusia bagi seluruh alam.

Demikian pula keluarga dan para sahabat yang telah berjasa dalam menyebarkan kedua warisan tersebut.

Penulis menyadari betul bahwa dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis telah melibatkan banyak pihak, banyak sekali sumbangan yang penulis dapatkan dari mereka, baik berupa materi, pikiran, fasilitas, dan dukungan yang lainnya. Tanpa mengurangi rasa syukur dan terimakasih, kepada:

1. Rektor IIQ Jakarta, Ibu Prof. Dr. Hj Huzaemah T. Yanggo, MA.

2. Dekan Fakultas Tarbiyah IIQ Jakarta, Ibu Dr. Hj Umi Khusnul Khatimah, M. Ag.

3. Kaprodi Fakultas Tarbiyah IIQ Jakarta, Ibu Dr. Esi Hairani, M.Pd.

4. Dosen Pembimbing, Bapak Ali Mursyid, M. Ag yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, bimbingan dan saran positif kepada penulis dalam penyusunan skripsi.

5. Bapak/ Ibu Dosen, Istruktur Tahfidz dan juga seluruh staf Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta.

(12)

6. Kedua Orang Tua, Bapak Kusnadi dan Ibu Eneng Fardiatul Muslimah yang mensuport penuh cinta dan tulus, memberi motivasi dan do’a untuk penulis.

7. Kepada Adik ku tersayang Muhammad Sandi Al Farisi yang selalu mendoakan dan mensuport dengan kasih sayang.

8. Kepada Keluarga Besar Rukmini’s. khususnya Kakanda Shofhal Jamil, bibi Laelatussolihah, Mas Wondo, Om Sesep dan bi Ela yang sudah mendukung baik secara materi maupun nonmateri.

9. Kepada teman-teman seperjuangan, mahasiswi IIQ Angkatan 2014 yang telah memberikan dukungan. Khususnya kepada Mel Yasa, Opi, Dinda, Lia, dan shiva yang mendukung dengan penuh semangat juang bersama.

10.Kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Terucap syukur, terimakasih dan doa atas semua bantuan dan dukungannya. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

Jakarta, 20 Juli 2018 Penulis

Tetia Sekar Andini

(13)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

SMA Ibnu Hajar adalah lembaga pendidikan yang berada dalam naungan Yayasan Darul Hijrah. SMA Ibnu Hajar berlokasi di Jalan KH Abdul Hamid km 07 Desa Pasarean Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Status SMA Ibnu Hajar terakredreditasi A dan kurikulum yang digunakan adalah kombinasi antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013 (KURTILAS). Namun, untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sudah keseluruhan menggunakan kurikulum 2013 (KURTILAS).

Sekolah Ibnu Hajar Pasarean merupakan sekolah yang termasuk kategori Sekolah umum swasta Islami (SUSI), yang mana basic sekolah ini ialah Islami walaupun bukan Madrasah Aliyah namun aturan yang berlaku di sekolah ini yakni pemberlakuan aturan yang islami. Sekolah SMA Ibnu Hajar memiliki kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka, paskibra, malam bina iman dan takwa (MABIT) atau i’tikaf, rohis, englisclub, hadroh, komputer dan olah raga seperti vollyball, futsal, dan tenis meja. Dari sekian banyak kegiatan ekstrakulikuler di sekolah tersebut terdapat satu kegiatan yang jarang sekali ditemukan di sekolah-sekolah lain.

Sebagai sekolah umum swasta yang berbasis Islami dan pemberlakukan aturan normatif Islami, sekolah SMA Ibnu Hajar dalam naungan Yayasan Darul Hijrah bekerja sama dengan Pesantren Darul Hijrah untuk menciptakan sekolah yang bernuansa Islami dan menanamkan nilai- nilai Islami atau keagamaan dalam bentuk pengembangan kecerdasan spiritual bagi siswa-siswinya melalui aktivitas-aktivitas Islami dan pembiasaan dalam melakukan nilai-nilai Islami.

(14)

Menurut kamus bahasa Indonesia kegiatan ekstrakulikuler adalah kegiatan yang ada di luar yang tertentu dalam kurikulum.1 Seperti sudah di paparkan di atas terdapat banyak ekstrakulikuler di sekolah, salah satunya Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT), yang merupakan ektrakulikuler yang berbasis agama Islam.

Jika diamati lebih seksama bahwa sesungguhnya kegiatan ektrakulikuler tidak kalah penting dibandingkan dengan intrakulikuler.

Kegiatan ektrakulikuler sebagai pembinaan dan pengembangan kemampuan.

Minat dan bakat para siswa mengandung seperangkat nilai-nilai yang cukup urgen bagi proses pendewasaan dan kemajuan mereka di masa depan.2

Kegiatan ektrakulikuler ini terdapat program-program yang juga dapat menciptakan dan membangun sikap keberagaman peserta didik, diantaranya adalah mengikuti pengajian, pesantren kilat, seni baca Al-Qur’an, praktik pengamalan ibadah lainnya yang mendukung peningkatan potensi spiritual dan menanamkan nilai-nilai keagamaan serta dapat membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan menurut Muhaimin, diperlukan pula kerjasama yang harmonis dan interaktif antara para warga sekolah dan para tenaga kependidikan yang ada di dalamnya.3 Adanya kerjasama seluruh komponen di sekolah, diharapkan dapat melahirkan suatu budaya sekolah yang kuat dan bermutu dalam rangka pengembangan potensi peserta didik dari aspek keimanan (ruhaniyah) dan intelektual (jasadiyah) dengan memberikan pembinaan dan pengembangan keterampilan dan keilmuan.

1 Tim Penulis Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka).

Cet. Ke-7. h. 225

2 Tim Penulis Depag. RI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam, (Jakarta:

Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2001), h. 31

3 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2009). H. 59

(15)

Pada saat ini semua kecerdasan dapat dikaitkan dengan tiga kecerdasan. Ketiga kecerdasan itu adalah kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan-kecerdasan tersebut memiliki fungsi masing-masing yang dibutuhkan dalam hidup di dunia. Dalam rangka mencapai pendidikan, Islam mengupayakan pembinaan seluruh potensi manusia secara serasi dan seimbang. Dengan terbinanya seluruh potensi secara sempurna diharapkan ia dapat melaksanakan fungsinya.

Dalam hal ini, melihat dari tiga kecerdasan yang ada bahwa kecerdasan spiritual (SQ) merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi seseorang. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual biasanya memiliki dedikasi kerja yang tulus dan jauh dari kepentingan pribadi (egoisme), apalagi bertindak dzalim kepada orang lain.

Fenomena terbesar mengenai kehidupan spiritual manusia adalah kecenderungan manusia untuk menuju sifat-sifat Ilahiah Asmaul Husna. Ia akan bahagia atau terharu apabila titik spiritualnya tersentuh. Ini membuktikan bahwa kecerdasan spiritual seseorang sangat penting. Firman Allah:



























“Dan sungguh, mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, tidak akan berbalik ke belakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Ahzab [33]: 15).

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari proses belajar, hendaknya lembaga pendidikan sekolah dapat melaksanakan pembinaan spiritual pada siswa. Pembinaan spiritual dimaksudkan sebagai jalan atau cara untuk menyikapi spiritual manusia melalui latihan-latihan yang bersifat fisik dan

(16)

nonfisik. Latihan-latihan tersebut diantaranya dapat melalui puasa, mendirikan shalat dengan khusu dan baik, berdzikir serta bermujahadah dalam menekan hawa nafsu. Dari proses pembinaan spiritual ini, maka siswa bukan hanya memperoleh kecerdasan Intelektual (IQ) saja, melainkan juga mendapatkan kecerdasan Spiritual (SQ).

Pada sekarang ini modernisasi dan globalisasi terus berjalan dan telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa yang terdapat di setiap penjuru dunia.

Pada nyatanya dalam bergelut dengan gejala-gejala modernisasi dan globalisasi tidak jarang membuat manusia kehilangan arah atau bahkan kehilangan jati dirinya, sehingga menjadikannya berpegang pada yang tampak baik dari luar dan menyampingkan nilai-nilai mental spiritual yang sudah dianut secara turun menurun. Firman Allah:































“Kemudian Dia menyempurnakannya dan Meniupnya roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)mya dan Dia Menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. As Sajdah[32]: 9).

Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia globalisasi dan modernisasi pun berkembang dengan pesatnya.

Pembaharuan-pembaharuan dalam bidang pendidikan seperti pemberharuan kurikulum, buku-buku paket, sarana dan prasarana yang ada dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terus dilaksanakan. Akan tetapi yang sangat mengkhawatirkan adalah perbaikan media, sarana dan prasana dan segala aspek dalam pendidikan ini tidak diiringi dengan perubahan yang positif dari perilaku dan moralnya, sehingga dikhawatirkan timbulnya kemerosotan moral yang mampu membahayakan generasi penerus bangsa khususnya dikalangan peserta didik.

(17)

Pengamalan ajaran agama dalam hal ini dapat dilakukan dengan mensosialisasikan bertawasulan atau tadarus Al Qur’an sebelum pembelajaran, shalat dhuha, rohis, shalat tahajud dan tadarusan serta kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT). Dengan penerapan kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan Malam Bina Iman dan Takwa diharapkan dapat memberikan dorongan atau motivasi untuk mengembangkan kecerdasan siswa-siwsi di Indonesia yang tidak hanya IQ dan EQ tatapi juga SQ.

Mengenai pemilihan Lembaga Pendidikan SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor sebagai obyek penelitian, dikarenakan lembaga tersebut telah melaksanakan program Malam Bina Iman dan Takwa dalam lingkungan pendidikannya, sehingga hal ini menggugah hati untuk mengadakan penelitian dan membuat sebuah karya ilmiah skripsi dengan judul Hubungan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dalam Pengembangan Kecerdasan Spiritual Siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Apa dan Bagaimana pelaksanaan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor?

2. Bagaimana hubungan kegiatan Malam Bina Iman dan takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan spiritual siswa ? 3. Bagaimana meningkatakan motivasi siswa untuk mengikuti

kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT)?

(18)

4. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Malam Bina Iman dan Takwa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor?

5. Bagaimana keikutsertaan siswa dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) ?

6. Bagaimana kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dalam pengembangan kecerdasan spiritual spiritual siswa ?

7. Bagaimana pembinaan kecerdasan spiritual siswa di SMA Ibnu hajar ?

C. Pembatasan Masalah

Maka untuk memfokuskan permasalahan, penulis membatasai penelitian ini hanya untuk mengetahui “ Hubungan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan spiritual siswa SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor” .

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan yaitu:

1. Bagaimana pelaksanaan Malam Bina Iman dan Takwa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor?

2. Bagaimana hubungan kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dalam pengembangan kecerdasan spiritual siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Penelitian dilakuan bertujuan sebagai upaya menjawab rumusan masalah penelitian, yaitu:

(19)

a. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Malam Bina Iman dan Takwa yang di selenggarakan di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

b. Untuk mengetahui hubungan kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan spiritual siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritik

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan spiritual.

b. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi-informasi pada pihak-pihak yang berkepentingan, diantaranya dosen, mahasiswa, guru, dan khususnya peserta didik agar dapat memperhatikan pengembangan kecerdasan spiritual siswa melalui kegiatan ekstrakulikuler Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

F. Hipotesis

Hipotesis adalah proposisi (pernyataan tentang suatu konsep) yang masih bersifat sementara dan masih harus diuji kebenarannya.4 Dugaan sementara untuk jawaban permasalahan diatas adalah sebagai berikut:

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

4 Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 13

(20)

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

Secara umum hipotesis dibedakan atas, pertama hipotesis penelitian, yaitu hipotesis yang digunakan pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari populasi diketahui. Kedua, hipotesis statistik yaitu, hipotesis yang digunakan dalam penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel.

Sedangkan bentuk-bentuk hipotesis terdiri dari.5

Berdasarkan langkah apa yang telah penulis paparkan di atas, maka dalam penelitian ini penulis membangun asumsi dengan merumuskan hipotesis sebagai berikut:

Terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dengan pengembangan kecerdasan spiritual siswa di SMA Ibnu Hajar Pasarean Bogor.

G. Tinjauan Pustaka

1. Nurfaijah, NIM (11106059) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga Jurusan Tarbiyah Prodi Studi Pendidikan Agama Islam. 2010. Dengan judul skripsi Pengaruh Qiyam al-lail Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang tahun 2009/2010. Pendekatan dan rancangan dalam penelitian ini adalag menggunakan pendekatan kuantitatif. pengumpulan datanya adalah wawancara, dokumen berupa arsip pondok yang berkaitan, dan angket. Dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi.

5 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Akfabeta, 2013), h. 96

(21)

Hasil penelitian dari data responden sebanyak 64 responden santri, kemudian penulis menganalisa data, ternyata “hipotesis” yang penulis ajukan tentang adanya pengaruh antara qiyam al-lail terhadap kecerdasan spiritual santri adalah signifikan, yaitu ada pengaruh positif antara qiyam al-lail terhadap kecerdasan spiritual santri. Hal tersebut dibuktikan melalui analisis uji hipotesis dan analisa lanjutan dengan menggunakan rumus Korelasi Product Moment” diperoleh hasil lebih dari taraf signifikan 5% karena nilai Ro lebih besar dari nilai Rt. Adapun nilai R = 0,313 sedang nilai Rt = 0,244. Jadi

“Hipotesis” yang penulis ajukan, tentang adanya Pengaruh Qiyam Al-lail Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo Magelang Tahun 2009 / 2010 diterima (signifikan).

Persamaan dengan skripsi ini adalah sama-sama meneliti tentang kecerdasan spiritual pada peserta didik. Dengan sama-sama menggunakan penenlitian metode kuantitatif menganalisis hasil data dengan angka-angka, kemudian menunjukkan hipotesis penelitian.

Perbedaan pada skripsi ini ada penulis menganalisis data menggunakan bantuan Program SPSS versi 22 for window dengan tidak menggunakan rumus product moment untuk mencari kolerasi antara variabel bebas dan variabel terikatnya.

2. Khoirul Anwar, NIM (093111321). Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang Fakultas Tarbiyah. 2011. Skripsi yang berjudul Pengaruh Implementasi Shalat Dhuha Terhadap Kecerdasan Spiritual Siswa MA Sunan Gunung Jati Gesing Kismantoro Wonogiri. Penelitian dalam skripsi ini termasuk penelitian sosiatif berdasarkan tingkat eksplanasinya.

(22)

Jenis data penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Adapun skala pengukurannya menggunakan skala likert. Paradigma dalam penelitian ini adalah paradigma sederhana di mana penelitian ini terdiri dari satu variabel independent dan satu variabel dependen jadi dalam skripsi ini mencari besarnya hubungan X dengan Y digunakan teknik korelasi sederhana.

Dalam penelitian ini, subyek penelitiannya adalah seluruh siswa putra dan putri MA Sunan Gunung Jati tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 72 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan angket yang telah di tryout kan untuk di uji validitas dan realibilitas. Sedangkan teknis analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik product moment korelasi sederhana yang kemudian diuji hipotesis dengan menggunakan uji signifikan korelasi product moment yang dikonsultasikan dengan r tabel pada taraf signifikan 5% dan 1% untuk memberikan interprestasi bahwa hipotesis alternatif diterima atau ditolak. Dan analisis perbandingan pengaruh implementasi shalat dhuha terhadap kecerdasan spiritual siswa adalah dengan menggunakan uji regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengaruh implementasi shalat dhuha terhadap kecerdasan spiritual siswa MA Sunan Gunung Jati Gesing Kismantoro Wonogiri.

Persamaan dengan judul skripsi ini adalah sama-sama meneliti tentang implementasi suatu kegiatan di sekolah terhadap kecerdasan spiritual siswa. Sedangkan perbedaannya dengan penelitian ini adalah pada obyek kegiatan penelitian.

(23)

3. Nur azizah, NIM (09480012). Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2013. Dengan judul skirpsinya Upaya Madrasah Dalam Pembinaan Kecerdasan Spiritual Siswa (studi kasus MIN Jejeran Pleret bantul Yogyakarta).

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengambil lokasi di MIN Jejeran Pleret Bantul Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, diantaranya observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Analisis data dilakukan dengan lebih dahulu memfokuskan pada data yang penting kemudian disajikan dalam teks yang bersifat deskriptif-analitik, dan ditarik kesimpulan dengan memaparkan secara deskriptif.

Dari penelitian dalam skripsi ini menunjukkan bahwa upaya madrasah dalam pembinaan kecerdasan spiritual siswa di MIN Jejeran Pleret Bantul Yogyakarta dilaksanakan melalui beberapa program, diantaranya: shalat dhuha berjamaah, membaca bacaan- bacaan shalat, tadarus bersama sebelum proses pembelajaran dimulai, membaca asmaul husna, mujahadah dan simaan al Qur’an, guru mengucapkan salam ketika bertemu siswa, perawatan green house, kegiatan jum’at bersih, dan pesantren ramadhan. Maka program madrasah yang diadakan oleh MIN Jejeran Pleret Bantul sangat efektif untuk upaya madrasah dalam pembinaan kecerdasan spiritual siswa.

Perbedaannya adalah pada skripsi ini yang menjadi subjek ialah suatu lembaga formal dan makhluk sekolah yang ada didalamnya sedangkan peneliti ingin meneliti subjek berupa siswa atau peserta didik. Pada skirpsi ini terdapat program-program yang dilakukan dalam upaya pembinaan kecerdasan spiriual siswa,

(24)

sedangkan peneliti hanya menggunakan satu ektrakulikuler yang sekolah sudah laksanakan.

4. Ali Muklasin, NIM (11710064). Sekolah Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2013. Tesis yang berjudul Pengembangan Kecerdasan Spiritual Dalam Meningkatkan Sumberdaya Guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan multi kasus. Metode pengumpulan datanya adalah observasi, wawanvara dan dokumentasi . teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang mencakup empat komponen yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Pengeekan keabsahan data menggunakan empat kriteria yaitu derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan dan kepastian.

Dalam tesis ini program pengembangan spiritual guru dilaksananakan berjenjang dalam jangka panjang, diantaranya dengan memperhatikan sumberdaya guru yang lemah kecerdasan spiritualnya harus dicerdaska dengan cara pembimbigan kegiatan keagamaan.

Langkah pengembangan kecerdasan spiritual guru melalui latihan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam maupun diluar. Dampak pengembangan kecerdasan spiritual terhadap sumberdaya guru diantaranya menjadikan seorang guru mempunyai arah tujuan hdup yang jelas melalui visi dan misi, bersemangat dan bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya, disiplin dalam bekerja, mampu mengatasi persoalan yang dihadapi, keikhlasan dalam menjalankan profesinya, pengembangan diri yang Islami di sekolah, di rumah maupun di masyarakat.

Persamaan pada tesis ini adalah membahas tentang pengembangan kecerdasan spiritual. Sedangkan perbedaannya

(25)

adalah jika pada skripsi ini meneliti tentang guru da sumberdayanya sedangkan peneliti meneliti tentang siswa. Pada tesis ini membahas tentang program yang dilakukan dalam upaya pengembangan kecerdasan spiritual pada guru sedangkan peneliti akan meneliti tentang pengembangan kecerdasan spiritual siswa dalam kegiatan ektrakulikuler.

5. Idatul Farihah, NIM (102331101). Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto (STAIN Purwokerto). 2014. Skripsi yang berjudul Pengembangan Kecerdasan Spiritual Anak Usia Dini DI Taman Kanak-kanan Islam Terpadu Az-Zahra Majenang Cilalacap.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dengan jenis penelitiannya kualitatif.

Dalam skripsi ini pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisa data menggunakan metode analisa kualitatif dengan cara penyajian data, reduksi data dan mengambil kesimpulan.

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ruang lingkup kecerdasan spiritual yang dikembangkan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Az-Zahra meliputi pengembangan shiddiq, istiqomah, amanah dan tabligh. Pengembangan kecerdasan spiritual ini dilakukan dalam proses pembelajaran dengan memperhatikan segala aspek perkembangan anak usia dini. Pengembangan kecerdasan spiritual anak usia dini dikembangkan melalui pengembangan- pengembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, agama dan moral, dan sosio emosional. Metode yang digunakan dalam pengembangan kecerdasan spiritual ini yaitu doa dan ibadah, cinta dan ksaih sayang, keteladanan, cerita/ dongeng yang mengandung hikmah spiritual, membentuk kebiasaan bertindak dalam kebajikan, pola asuh yang

(26)

positif dan konstruktif, dan menciptakan iklim religius dan kebermaknaan spiritual.

Pada skripsi ini persamaan sama-sama mengenai kecerdasan spiritual peserta didik hanya berbeda pada subjek jenjang pendidikan peserta didiknya saja.

6. Haris Ilmawati, NIM (09410083). Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2014. Dengan judul skripsi Pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual Melalui Teknologi Quantum Ikhlas (Telaah Buku Quantum Ikhlas Karya Erbe Sentanu).

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan melakukan tela’ah pada buku Quantum Ikhlas karya erbe Sentanu. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, wawancara, dan observasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi dengan melakukan analisis dan interpretsi atau penafsiran terhadap data yang berhasil dikumpulkan.

Penelitian dalam skripsi ini menunjukkan bahwa pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual dalam penerapan teknologi quantum ikhlas menggunakan metode motivasi, metode cerita disertai perumpamaan yang mengandung pelajaran dan nasihat, metode pembiasaan, dan metode visualisasi. Pengembangan kesadaran diri, pengendalian emosi diri, pemberian motivasi, penanaman empati (memahami emosi orang lain), dan mengembangkan keterampilan sosial. Sedangkan pengembangan spiritual meliputi membiasakan diri untuk gemar berdoa,meningkatkan takwa, serta melatih sifat sabat, syukur, istiqomah, dan bertaubat kepada Allah. Urgensi pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual bagi guru dalah bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran.

(27)

Pada skripsi ini persamaannya adalah pada topik pengembangan kecerdasan spiritual akan tetapi pada skripsi ini selain membahas tentang kecerdasan spiritual juga membahas kecerdasan emosi. Dan skirpsi ini penelitian digunakan menggunakan penelitian pustaka atau studi literasi. Subjek yang diteliti pun ialah guru bukannya peserta didik.

7. Ahmad Sukandi, NIM (14770039). Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2016. Dengan judul tesisnya Pengembangan Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) El- Hayat Kedungkandang Kota Malang. Penelitian dalam tesisnya menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus dengan rancangan kasus tunggal. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisifatif, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara perpanjangan keikutsertaan peneliti, teknik triangulasi dengan menggunakan berbagai sumber, teori, dan metode;

dan ketentuan pengamatan. Informasi penelitian yaitu kepala sekolah, wakil kepala bidang kurikulum dan pendidik.

Dalam tesis ini hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pendekatan pengembangan kecerdasan spiritual yang dilakukan SMA el-Hayat kedungkandang Kota Malang adalah guru sebagi model dalam melaksanakan peraturan maupun kegiatan sekolah, strateg pengembangan kecerdasan spiritual yang dilakukan SMK el- Hayat Kedungkandang Kota Malang ada tiga yaitu penanaman nilai- nilai Islami meliputi sembilan nilai yaitu niali sabar, syukur, optimis, tawakkal, ikhlas, keberanian, keadilan, jujur, tawadhu, sedangkan

(28)

aktivitas-aktivitas Islami yaitu aktivitas harian, aktivitas mingguan, aktivitas bulanan dan aktivitas tahunan, dan simbol-simbol Islami meliputi mushalla, kerudung, peci, dekorasi, serta metode pengembangan kecerdasan spiritual yang dilakukan SMK el-Hayat Kedungkandang Kota Malang adalah pembiasaan dalam melakukan aktivitas-aktivitas Islami, pembiasaan dalam melakukan simbol- simbol Islami.

Perbedaan penelitian ini adalah pada tesis ini dilakukan pendekatan pada upaya pengembangan kecerdasan spiritual yang dilakukan juga terdapatnya simbol-simbol Islami. Sedangan peneliti hanya terfokus pada kegiatan ekstarakulikuler Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) tanpa adanya simbol-simbol Islami.

H. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing bab memiliki sub bab tersendiri. Walaupun terpisah melalui masing-masing bab, skripsi adalah kesatuan yang utuh.

BAB I PENDAHULUAN, memotret secara garis besar kearah mana skripsi ini menuju. Dalam bab ini terdapat Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjaun Pustaka, Metodologi Penenlitian dan Sistematika Penulisan.

BAB II KERANGKA TEORI, mencakup landasan teori atau konsep yang mendukung penulisan yaitu malam bina iman dan takwa (MABIT) dan pengembangan kecerdasan spiritual untuk menggambarkan bagaimana implementasi kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) dalam pengembangan kecerdasan spiritual.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN, meliputi pembahasan mengenai metodologi penenlitian, berupa tempat dan waktu penelitian,

(29)

metode penelitian, unit analisis, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, dan teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN, meliputi pembahasan mengenai hasil penelitian yang mencakup gambaran umum obyek penenlitian, deskriptif data dan analisa data serta interpretasi data hasil penelitian.

BAB V PENUTUP, yang berisi kesimpulan dan saran-saran.

(30)

18

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) 1. Pengertian Malam Bina Iman dan Takwa

Secara etimologi pembinaan berasal dari bahasa arab yang diserap menjadi bahasa Indonesia yaitu “bina”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bina adalah bangun, membina, membangun.1 Membina: membangun, mendirikan bersama-sama, mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna, dsb). Adapun pembinaan merupakan suatu proses, perbuatan, cara membina, atau usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.2

Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) adalah salah satu sarana tarbiyah (wasa‟ilut tarbiyyah). Secara bahasa MABIT berarti bermalam. Istilah yang sangat mahsyur didapati pada salah satu rangkaian ibadah haji yaitu mabit di Muzdalifah.

Secara bahasa Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) berarti bermalam. Dalam dunia dakwah dan pendidikan, Mabit biasanya dijadikan sarana untuk membina ruhaniyah, melembutkan hati, membersihkan jiwa, dan membiasakan fisik untuk selalu beribadah (khususnya mengengerjakan shalat, dzikir, tadabbur dan tafakkur).

Secara umum Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) adalah salah satu diantara sarana pendidikan Islam atau tarbiyah Islamiyah

1 Team Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix, 2008), h. 131

2 Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet- 10, h. 134

(31)

dalam rangka membina jiwa seorang muslim agar menjadi pribadi yang tidak hanya cerdasa secara intelektual (fikriyah), sehat secara jasmani (jasadiyah), akan tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual (ruhaniyah).

Adapun cara untuk mencapai pemahaman yang benar terhadap Islam ditengah realitas kehidupan ini adalah dengan tarbiyah ruhaniyah, yaitu dengan melakukan pembinaan jiwa, memperbaharui ruhani, dan memperkokoh prilaku serta kedewasaan yang tepat di hati setiap insan.3

Secara praktis, suasana pertama yang ditumbuhkan dalam tarbiyah seorang peserta didik adalah suasana ruhiyah. Artinya tarbiyah bertujuan agar memiliki hubungan yang erat dengan Allah swt. Yang terkait dengan dasar-dasar keimanan, rukun Islam dan syari‟ah. Yang dimaksud dengan dasar keimanan adalah semua peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar dengan pemahaman yang mendalam tentang hakikat keimanan.

Adapun dasar-dasar rukun Islam berimbas terhadap akhlak peserta didik yang menumbuhkan semangat yang membara untuk berjuang dan berdakwah. Selanjutnya dasar-dasar syari‟ah yang berhubugan dengan sistem atau aturan Allah swt, peserta didik diarahkan untuk mempelajari, memahami, meyakini, kemudian berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan aturan-aturan Allah swt dalam kehidupan sehari-hari.4

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia iman adalah kepercayaan yang berkenaan dengan agama; keyakinan dan

3 Hadi Munawar, Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi, (Surakarta:

Era Adicitra Intermedia, 2010), h. 33

4 Hadi Munawar, Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muassasi,..., h. 34

(32)

kepercayaan kepada Allah, Nabi, Kitab dan sebaginya.5 Iman adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tidak campur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku, dan perbuatan pemiliknya sehari- hari.6 Menurut bahasa iman adalah percaya. Ulama menyatakan bahwa iman secata etimologi adalah membenarkan “perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan”. Sedangkan rasa malu adalah perbuatan hati, yaitu perasaan hati yang tidak mati yang dialami seseorang pada saat menghadapi sesuatu yang membuatnya malu.”7

Iman bukanlah semata-mata mengerjakan alam dan syari‟at yang biasa dikerjakan oleh orang-orang beriman, karena banyak orang yang pada lahirnya mengerjakan peribadatan dan perbuatan baik, tetapi hatinya kosong dari rasa kebaikan dan keikhlasan kepada Allah. Firman Allah swt:















































“ Dan diantara mereka ada yang berkata, „kami beriman kepada Allah dan hari akhir‟ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sediri tanpa mereka sadari”. (Q.S Al Baqarah[2]: 8-9)

5 Team Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix, 2008), h. 347

6 Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Aqidah Islam, (Jakarta: Penerbit Zaman, 2015), h. 23

7 Syaikh Muhammad Bin Shalih al Utsaimin, Buku Induk Akidah Islam, (Jakarta: Darul Haq, 2014), Cet- VII, h. 782

(33)

Iman hendaklah berwujud pernyataan dengan lidah, dilandasi keyakinan dalam hati, dan disertai perbuatan dengan ikhlas dan jujur dalam menjalankan perintah dan putusan Allah swt dan Rasul-Nya.8

Keimanan ini membimbing manusia menuju hidup damai, para intelektual yang mengupayakan kedamaian dan keamanan masyarakat seharusnya menekannya.9 Keimanan yang murni, ibadah yang benar dan mujahadah adalah cahaya dan kelezatan yang Allah curahkan pada hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.10

Agustian menyatakan bahwa Al Qur‟an merupakan tuntutan alam pikiran atau iman. Al Qu‟an memuat sejumlah petunjuk serta contoh-contoh nyata pelaksanaannya dalam kehidupan manusa. Al Qur‟an mengandung beragam sumber nilai keimanan dan ketakwaan yang bila diterpkan akan membawa pada kecerdasan emosional dan spiritual seseorang, atau yang ia sebut dengan akhlakul karimah.11

Adapun beberapa ayat yang terkait tentang keimanan kepada Alah swt beberapa diantaranya yaitu:

a. QS Al Mu‟minun: 74



















Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar telah menyimpang jauh dari jalan (yang lurus). (QS Al Mu‟minun [23]: 74

8 Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Aqidah Islam, (Jakarta: Penerbit Zaman, 2015)h. 24

9 M. Fatullah Gulen, Menghidupkan Iman Dengan Mempelajari Tanda-Tanda Kebesarannya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 141

10 Muhammad Abdullah Al-Khattib, Syarah Risalah Taa‟lim, (Jakarta: Al I‟tishom, 2007), h. 84

11 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, (Jakarta: PT. Arga, 2008), h. 195

(34)

b. QS Ibrahim: 24-25



























































Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah Membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada Setiap waktu dengan seizin Tuhan-nya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.

(QS Ibrahim [14] : 24-15) c. QS Al Hujuuraat: 14

























































Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman".

Katakanlah (kepada mereka) "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk'(Islam) , karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalmu; Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."(QS Al Hujuraat [49]: 14)

Iman dan takwa adalah dua komponen yang bersatu padu. Jika peserta didik yang beriman akan senantiasa menjaga dirinya berada dalam ketakwaan. Keimanan yang berlandaskan tauhid uluhiyyah, rububiyyah, dapat memperkokoh diri untuk beramal shalih dan tetap dalam ketakwaan. Iman adalah esensi berupa ucapan dan perbuatan

(35)

yang boleh bertambah dan berkurang.12 Adapun bentuk keimanan peseta didik dalam melaksanakan Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa setelah membenarkan dan patuh pada petunjuk agama antara lain: perilaku menepati janji, sabar menghadapi momen-momen berat, tegar dalam menghadapi musuh, dan jujur dalam ucapan dan tindakan.13

Takwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.14 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Takwa adalah terpeliharaya sifat diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; keinsafan yang diikuti kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranan- Nya; kesalehan hidup.15 Takwa secara etimologi adalah pemeliharaan, sedangkan secara terminologi adalah iman yang sudah ada di dalam dairi setiap muslim terpelihara sehingga tercapai tujuan hidupnya yaitu mengabdi kepada Tuhan.

Takwa merupakan sifat penting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, sebab pendidik adalah contoh dan panutan sekaligus penanggung jawab pertama dalam tarbiyah anak, berdasarkan iman dan Islam. Jika pendidik tidak menghiasi diri dengan takwa maka dapat menjadi musibah dalam dunia pendidikan.16

12 Khairunnas Rajab, Psikologi Ibadah, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2011), Cet-I, h.

124-127

13 Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam dan Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2011) Cet- I., h. 228.

14 Muhammad Abdurrahman, Akhlak “Menjadi Seorang Muslim Berakhlak Mulia”, (Jakarta: RajaGrafindo, 2016), h. 68.

15 Team Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix, 2008), h. 848

16 Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al Atsari, Mencetak Generasi Rabbani, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi‟i, 2014), h. 49

(36)

Mengenai perilaku ketakwaan yang dimaksud. Allah swt memberikan janji kepada manusia (hamba-Nya) berdasarkan Firmannya dalam Surah Al- A‟raf ayat 96:







































“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” {QS Al A‟raf [7]: 96).

Al Qur‟an memberikan kedudukan yang sangat tinggi pada ketakwaan. Pada hakikatnya takwa merupakan bekal terpenting bagi kesempurnaan maknawi dan kebanggan tertinggi manusia. Jadi dalam melakukan kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) ini akan memberikan keterangan untuk menyingkap tabir dari hakikat takwa itu sendiri. Misalnya mengatakan bahwa tempat seseorang itu beriman dan bertakwa adalah hati nuraninya, yaitu seseorang yang Allah uji hati mereka dengan ketakwaan.17

2. Tujuan Malam Bina Iman dan Takwa

Sebagai suatu ilmu tentu saja Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) mempunyai tujuan yang sangat jelas. Secara singkat tujuan MABIT ini dapat meningkatan keimanan dan ketakwaan peserta didik yang kemudian dapat dirumuskan sebagai berikut:

17 Said Husain Husaini, Bertahan Dalam Pusaran Zaman 100 Pelajaran Penting Akhlak dan Moralitas, (Jakarta: Citra, 2013), h. 75

(37)

a. Tujuan umum

1. Membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat

2. Memberikan pertolongan kepada setiap individu agar sehat secara jasmani dan rohaniah

3. Meningkatkan kualitas keimanan, keIslaman dan ketauhidan dalam kehidupan sehari-hari

4. Mengantarkan individu mengenal, mencintai, dan berjumpa esensi diri dan citra diri serta Zat yang Maha Suci yaitu Allah swt.18

b. Tujuan khusus

1. Membantu individu agar terhindar dari masalah

2. Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya

3. Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baikatau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.19

Bagaimanapun tujuan kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) adalah untuk menuntun peserta didik dalam rangka memelihara dan meningkatkan sikap keberagamaya baik dalam ibadah mahdah maupun ghairu mahdah serta upaya pengembangan kecerdasan spiritual siswa. Dari sini dapat dikatakan bahwa tujuan kegiatan MABIT adalah untuk memperdalam dan memperluas

18 Hamdan Bajtan Adz-Dzaky, Konseling dan Psikologi Islam, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), h. 18

19 Ainur Rohim Faqih, Bimbingan dan Konseling dalam Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), h. 36

(38)

pengetahuan peseta didik, mengenal hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.20

Rohmat Mulyana mengemukakan bahwa inti dari pengembangan kegiatan Ekstrakulikuler Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) adalah pegembangan kepribadian peserta didik.

Karena itu profil kepribadian yang matang atau kaffah merupakan tujuan utama kegiatan Ekstrakulikuler ini.21

Tujuan dari pembinaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah:

a. Memberikan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman melaksanakan pembiasaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari- hari

b. Menigkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, serta berakhlak mulia

c. Menanamkan akhlak mulia kepada peserta didik melalui kegiatan pembiasaan positif

d. Mengemalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun di masyarakat.22

20 Tim penulis Departemen Agama RI, Kegiatan Ekstrakulikuler dan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum dan Madrasah: Panduan Untuk Guru dan Siswa, (Jakarta: Depag RI, 2004) h. 210

21 Rohmat Mulyana, Mengartikulasi Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2004), h.

214

22 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter “Konsep dan Implementasi, (Bandung:

Alfabeta, 2014), h. 216

(39)

B. Kecerdasan Spiritual

1. Pengertian kecerdasan spiritual

Kecerdasan spritual terdiri dari gabungan kecerdasan dan spirtual. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, cerdas adalah sempurna akal budinya, tajam pikirannya.23 Secara etimologi kecerdasan spiritual terdiri atas kata kecerdasan dan spiritual.

Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut dengan Intelligence dan dalam bahasa Arab adalah al-dzaka menurut arti bahasa adalah

„pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan sesuatu‟. Dalam arti kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna.24 Sedangkan spiritual berasal dari kata spirit yang berasal dari bahasa latin yaitu spiritus yang berarti nafas. Dalam istilah modern mengacu kepada energi batin yang non jasmani meliputi emosi dan karakter.25

Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak manusia untuk cerdas memilih salah satu agama, ia merupakan sebuah konsep yang berhubungan bagaimana seseorang mempunyai kecerdasan dalam megelola makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual ini meliputi (1) hasrat untuk hidup bermakna, (2) motivasi mencari makna hidup, (3) mendambakan hidup bermakna.26

Menurut Ary Ginanjar Agustian kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran, peilaku dan kegiatan serta mampu menyinergikan IQ, EQ dan SQ

23 Team Pustaka Phoenix, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru, (Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix, 2008), h. 161

24 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), cet- 10, h. 89

25 Toni Buzan, Kekuatan ESQ: 10 Langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Spiritual, Terj Ana Budi Kuswandani, (Jakarta: Pustaka Delapratohsa, 2003), Cet-I, h. 6

26 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), cet- 10, h. 95

(40)

secara komprehensif.27 Kemampuan untuk memberi makna terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, selanjutnya akan menuju hanif dan memiliki pemikiran tauhidi (interalistis), serta berprinsip hanya kepada Allah swt. Hal ini sesuai dengan Al Qur‟an surat Ar-Rum ayat 30:















































“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Rum [30]: 30).

Menurut Sinerta dalam buku Ir. Agus Nggermanto menurutnya kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang terinspirasi, theis-ness atau penghayatan ketuhanan yang di dalamnya kita semua menjadi bagian.28

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan orang berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran manusia.29

27 Ary Ginanjar Agustian, ESQ (Emotional Spiritual Quotient): Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritua,. (Jakarta: Arga, 2005), h. 47

28 Agus Nggermanto, Quantum Quotient (kecerdasan Quantum) Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ dan SQ yang Harmonis, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2001), h. 117

29 Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2013), cet- 10, h. 99

(41)

Menurut Khalil Khavari, kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi nonmaterial ruh manusia. Seperti intan yang belum terasah yang manusia, manusia harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya sehingga berkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk memperoleh kebahagiaan abadi.30

Menurut Toto Tasmara mendefinisikan kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk mendengarkan hati nuraninya baik buruk dan rasa moral dalam caranya menempatkan diri dalam pergaulan.31

Danar Zohar dan Ian Marsall dalam buku Ary Ginanjar Agustinus, ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan kuntuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.32

Danar Zohar dan Ian Marshall menegaskan bahwa SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ dapat dikatakan sebagai kecerdasan tertinggi manusia.33 Hal ini dikarenakan SQ bersumber dari fitrah manusia itu sendiri.

Dalam kecerdasan spiritual, manusia diinterpretasi dan dipandang

30 Agus Nggermanto, Quantum Quotient (kecerdasan Quantum) Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ dan SQ yang Harmonis,... h. 117

31 Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhiah (Transdental Intelegensi: Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional dan Berakhlak), (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 49

32 Ary Ginanjar Agustian, ESQ (Emotional Spiritual Quotient): Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual.... h. 46

33 Zohar dan Marshall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. (Bandung: Mizan Media Utama, 2001), h. 4

(42)

eksistensinya sampai pada dataran noumenal (fitriyah) dan universal.

Jadi orang-orang bisa berpikir dan memiliki kecerdasan spiritual (SQ) dan mengetahui sesuatu secara inspiratif, tidak hanya memahami dan memanfaatkan sebagaimana adanya, tetapi mengembalikannya pada asal ontologinya, yakni Allah swt.34

Dengan demikian, dari pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual adalah kemampuan yang sempurna dari pergembangan akal budi untuk memikirkan hal-hal di luar alam materi yang bersifat ketuhanan yang memancarkan energi batin untuk memotivasi lahirnya ibadah dan moral, sehingga memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memecahkan berbagai makna, control dirinya dan menggunakan hati nuraninya dalam kehidupan dan kemampuan untuk memberi makna nilai ibadah kehidupannya agar mampu menjadi manusia yang Insan Kamil agar tercapainya kehidupan yang selamat dunia dan akhirat.

2. Ciri-Ciri Kecerdasan Spiritual

Seseorang yang memiliki SQ tinggi menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan. Karunia Tuhan berupa kenikmatan atau ujian dari-Nya sama-sama memiliki makna spritual yang inggi. Karunia Tuhan adalah manifestasi kasih sayang-Nya kepada manusia. Ujian-Nya adalah wahana pendewasaan spiritual manusia.35 Manusia yang memiliki SQ tinggi adalah yang mempu melihat ketunggalan dalam keragaman. Ketunggalan dalam keragaman adalah prinsip utama yang harus dipegang teguh untuk

34 Suharsono, Akselerasi Inteligensi Optimalkan IQ, EQ, dan SQ Secara Islami, (Jakarta: Inisiasi Press, 2004), h. 5

35 Agus Nggermanto, Quantum Quotient (kecerdasan Quantum) Cara Praktis Melejitkan IQ, EQ dan SQ yang Harmonis, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2001), h. 134

Gambar

Tabel 4  NOMOR
Tabel 10  Hasil Uji Reliabilitas  No  Skala  Jumlah item
Tabel 11  Uji Normalitas Data

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait