HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PENERAPAN UNIVERSAL PRECAUTION (UP) IGD RSUD
BADUNG MANGUSADA
1I Gusti Ngurah Juniartha
1 Staf Pengajar Keperawatan Gawat Darurat Program Studi Ilmu Keperawatan FK Universitas Udayana Alamat Korespondensi: ([email protected])
Abstrak
Keperawatan adalah salah satu profesi yang mempunyai peranan penting dalam pemberian pelayanan kesehatan. Dalam pelaksanaan tugasnya seorang perawat akan bertemu dengan pasien selama 24 jam, hal ini tentunya akan memiliki risiko, yakni penularan infeksi (Infeksi Nosokomial) Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan Universal Precautions (UP) di IGD RSUD Badung Mangusada. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan rancangan analitik korelasional yang menggunakan 25 orang sampel perawat dengan teknik Insidental Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner baku untuk menilai tingkat pengetahuan dan penerapan UP. Hasil penelitian menunjukkan perawat, dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak enam orang (24%) dan cukup sebanyak 19 orang (76%) dan tidak ada yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Sedangkan untuk penerapannya didapatkan bahwa tidak ada responden yang kurang, sebanyak 20 orang (80%) mampu menerapkan UP dengan kategori cukup, dan sebanyak 5 orang (20%) sudah mampu dengan baik menerapkan UP sesuai dengan kriteria. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Rank Spearman didapatkan nilai p value sebesar 0,000. Dalam penelitian ini, nilai 0,000 < 0,05 sehingga disimpulkan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara varabel tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan universal precaution di ruang IGD di IGD RSUD Badung Mangusada tahun 2015. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada perawat dan petugas kesehatan lainnya agar memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sehingga penerapannya juga akan baik dan dapat menurunkan tingkat penyebaran infeksi nosokomial.
Kata kunci: Pengetahuan, Perawat IGD, Universal Precaution
Abstract
Nursing is one of the most important profession especially delivering health services. Their duties as nurse will meet with patients for 24 hours, this will certainly have a risk for them, one of it is risk for infections (Nosocomial) The purpose of this study was to determine the relationship between level of knowledge with the application of Universal Precautions (UP) in ER at Badung Mangusada Hospital. This research is a quantitative non-experimental, correlational analytical design that uses 25 samples using incidental Sampling technique.
Data is collected using questionnaires. The results showed that a nurse with a good level of knowledge as many as six people (24%) and quite category is 19 people (76%) and no one has a low level of knowledge. As for the application showed that no respondents were low, 20 people (80%) were able to apply UP with enough categories, and five people (20%) has been able to properly implement the UP. Based on the statistic test with Spearman rank test p value of 0.000. In this study, the value 0.000 < 0.05 thus concluded Ha accepted, which means that there is a relationship between the level of knowledge of nurses with the implementation of universal precaution at ER Badung Mangusada Hospital 2015. The results of this study are expected to nurses and the other health workers must have a good level of knowledge, so the implementation will also be good and can reduce the incidence of nosocomial infections.
Keywords : Emergency Nurse, Knowledge, Universal Precaution
==================================================================
PENDAHULUAN
Keperawatan adalah salah satu profesi yang mempunyai peranan penting dalam
pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di rumah sakit karena
merupakan ujung tombak pelayanan yang senantiasa dua puluh empat jam berada di rumah sakit untuk memberikan pelayanan.
Perawat dalam menjalankan tugasnya dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang competen dibidangnya karena resiko pekerjaan perawat menyangkut kesehatan dan keselamatan pasien selaku penerima pelayanan kesehatan. Salah satu resiko serius yang dihadapi perawat dalam menjalankan tugasnya adalah tertular atau menularkan penyakit infeksi (Irmaniati, 2008) yang lebih sering disebut dengan infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lainnya. Infeksi nosokomial merupakan salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit dan pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit merupakan salah satu peningkatan mutu pelayanan rumah sakit kepada masyarakat dengan memakai angka kejadian infeksi nosokomial sebagai indikator (Hidayat, 2007). Kondisi ini dikenal sebagai masalah kesehatan masyarakat dengan angka prevalensi 3,0- 20,7% dan angka insidensi 5–10%. Ini menggambarkan dengan jelas bahwa infeksi yang diperoleh di rumah sakit meningkatkan angka kesakitan dan kematian (Samuel, 2010). Presentase infeksi nososkomial di rumah sakit di seluruh dunia mencapai 9% (variasi 3-21 %) atau lebih 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia mendapatkan infeksi nosokomial. Suatu penelitian yang dilakukan oleh WHO tahun 2006 menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara di Eropa, Timur tengah, dan Asia Tenggara dan Pasifik menunjukkan adanya infeksi nosokomial, khususnya di Asia Tenggara sebanyak l0%
(Ristiawandkk, 2013). Di Indonesia yaitu di 10 RSU pendidikan terjadi infeksi nosokomial cukup tinggi yaitu 6-16%
dengan rata-rata 9,8% pada tahun 2010.
Infeksi nosokomial paling umum terjadi
adalah infeksi luka operasi (ILO) dan angka kejadian ILO pada rumah sakit di Indonesia bervariasi antara 2-18% (Nugraheni dkk, 2012).
Perawat adalah petugas kesehatan yang paling sering berhubungan dengan pasien, sehingga dari semua petugas kesehatan perawatlah yang paling berisiko terpapar infeksi berbagai penyakit. Untuk melindungi perawat dan pasien dari resiko tertular penyakit infeksi tersebut maka dalam melaksanakan tindakan keperawatan, perawat harus selalu memperhatikan metode Universal precaution yang telah ditetapkan oleh Centers for Disease Control And Prevention (CDC) pada tahun 1988 di Amerika Serikat (Kirkland, 2011).
Universal precautions adalah suatu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dengan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan (Herpan, 2012).
Prinsip universal precaution adalah bahwa darah dan semua jenis cairan tubuh, skret, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir penderita dianggap sebagai sumber potensial untuk penularan infeksi. Sehingga, diharapkan setiap petugas pelayanan kesehatan mampu menerapkan prinsi puniversal precaution. Penerapan universal precaution ini bertujuan tidak hanya melindungi petugas dari resiko terpajan oleh infeksi namun juga melindungi pasien yang mempunyai kecenderungan rentan terhadap segala macam infeksi yang mungkin terbawa oleh petugas (Irmaniati, 2008). Penerapan Universal Precautions harus di perhatikan dan dilaksanakan oleh perawat yang ada diseluruh rumah sakit di Indonesia. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Depkes RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:
382/menkes/SK/III/2007 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dirumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya (Depkes RI, 2009).
Dalam menggunakan prinsip universal precautions, petugas kesehatan memberi
perlakukan yang sama pada semua pasien tanpa memandang penyakit atau diagnosanya, yaitu dengan asumsi bahwa setiap pasien memiliki risiko untuk menularkan penyakit yang berbahaya.
Petugas harus memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan transmisi infeksi, bersikap dan bertindak yang benar dalam melakukan setiap tindakan. Hal ini sangat perlu diperhatikan karena setiap individu yang bekerja di lingkungan rumah sakit maupun pusat pelayanan kesehatan lainnya merupakan kelompok orang yang sangat rawan untuk tertular atau menularkan infeksi (Mada, 2013).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti
“hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan Universal Precaution di IGD RSUD Badung”.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimental dengan menggunakan rancangan analitik korelasional untuk mengetahui hubungan antar variabel yang diteliti, yakni tingkat pengetahuan dengan penerapan Universal Precaution pada perawat IGD RSUD Badung Mangusada tahun 2015.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh perawat di IGD RSUD Badung Mangusada yang berjumlah 33 orang, dan jumlah sampel dengan penentuan jumlah sampel dengan teknik insidental sampling didapatkan sebanyak 25 orang sampel.
Instrumen Penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan kueisoner yang terstruktur dan telah diuji validitas dan reliabilitas. Kuesioner tingkat pengetahuan dan penerapan Universal Precaution masing-masing berisi 7 buah item kajian pernyataan terkait variabel teliti.
Prosedur Pengumpulan dan Analisis Data
Setelah mendapat izin penelitian, peneliti akan mengidentifikasi responden penelitian, menjelaskan pada calon responden tentang tujuan dan manfaat penelitian dan meminta kesediaannya untuk menjadi responden, kemudian responden menandatangani informed consent.
Data yang telah terkumpul kemudian ditabulasi ke dalam matriks pengumpulan data yang telah dibuat sebelumnya oleh peneliti dan kemudian dilakukan analisis data. Untuk menguji statistik kedua variabel digunakan uji statistik komputerisasi SPSS menggunakkan teknik uji Koefisien Korelasi Spearman Rank dengan tingkat kepercayaan 95%, p ≤ 0,05.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menunjukkan gambaran tingkat pengetahuan perawat terhadap universal precaution dikategorikan dalam tiga kategori yaitu, baik sebanyak enam orang (24%) perawat, tingkat pengetahuan cukup sebanyak 19 orang (76%) dan tidak ada yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Sedangkan untuk penerapan Universal Precaution didapatkan hasil yaitu tidak ada responden yang kurang dalam menerapkan UP, sebanyak 20 orang (80%) mampu menerapkan UP dengan kategori cukup, dan sebanyak 5 orang (20%) sudah mampu menerapkan UP sesuai dengan kriteria.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Rank Spearman didapatkan nilai p value sebesar 0,000. Dalam penelitian ini, nilai 0,000 < 0,05 sehingga disimpulkan Ha diterima, yang berarti ada hubungan antara varabel tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan universal precaution di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Badung Mangusada tahun 2015. Dalam analisis penelitian didapatkan juga nilai Correlation Coefficient +0,890 (α > 0,05) menunjukkan adanya hubungan positif antara variabel tingkat pengetahuan perawat dengan penerapan universal precaution, dimana perawat yang memiliki pengetahuan yang baik akan menerapkan universal precaution dengan baik. Nilai 0,890 menunjukkan adanya asosiasi sedang antara kedua variabel (Sugiyono, 2013).
PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian didapatkan 19 orang (76%), memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 6 orang (24%) memiliki tingkat pengetahuan baik. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, persepsi, motivasi serta pengalaman orang tersebut. Selain faktor yang datang dari dalam diri sendiri, terdapat pula faktor eksternal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya adalah lingkungan, sosial ekonomi, kebudayaan dan informasi.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Darmawati, Angkasa dan Isrofah (2015) yang berjudul ”Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Perawat Menggunakan Alat Pelindung Diri (Handscoon) di RSUD Bendan Pekalongan” didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu sebanyak 54 orang dari total 9 orang (55,1%). Menurut peneliti, baiknya tingkat pengetahuan responden disebabkan oleh mudahnya akses untuk mendapatkan informasi mengenai apapun. Disamping itu, peneliti juga menyatakan terdapat faktor lain yang mempengaruhi tingkat pengetahuan yaitu tingkat pengetahuan, paparan informasi, budaya, pengalaman dan sosial ekonomi, selain itu faktor lingkungan dalam hal ini sangat berpengaruh pada pengetahuan, informasi yang disebarkan teman sejawat akan menambah informasi yang dimiliki oleh perawat mengenai universal precauton. Selain lingkungan, pengalaman kerja yang lebih akan memberikan informasi yang lebih baik dalam melaksanakan asuhan maupun dalam pelaksanaan universal precaution).
Sedangkan untuk pelaksanaan UP menunjukkan bahwa sebanyak 20 orang
berada dalam ketegori cukup dalam melaksanakan tindakan universal precaution (80%), tidak ada yang dalam kategori kurang dan 5 orang melaksanakan tindakan universal precaution dalam kategori baik (20%). Dalam penelitian ini, sebagian besar responden melakukan tindakan universal precaution dalam kategori cukup dikarenakan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi sikap seseorang.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mahardini dan Maliya (2009) yang berjudul ”Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Perilaku Pencegahan Penularan dari Klien HIV/AIDS di ruang Melati I RSUD Dr.
Moewardi Surakarta didapatkan hasil 16 orang dari total 23 responden memiliki sikap dalam kategori baik dalam perlaku pencegahan penularah HIV/AIDS. Peneliti berpendapat, hal ini disebabkan salah satunya oleh ketakutan akan tertular jika tidak menerapkan perilaku pencegahan penularan. Peneliti berpendapat, baiknya tingkat perilaku perawat dalam menggunakan APD salahsatunya disebabkan oleh pengetahuan perawat.
Dengan mengetahui resiko dari tidak melaksanakan tindakan Universal precaution maka perawat akan termotivasi untuk melakukan kewaspadaan universal untuk melindungi dirinya sendiri. Selain itu, dukungan dari instansi untuk selalu menerapkan prinsip - prinsip universal precaution juga akan meningkatkan motivasi perawat dalam melaksanakan universal precaution.
Berdasarkan analisis data dengan uji Spearman Rank didapatkan p value 0,000 yang mana lebih kecil dari nilai signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,005. Hasil ini menunjukkan adanya hubugan yang signifikan antara tingkat pengetahuan perawat dengan pelaksanaan universal precaution. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,890 dapat diartikan variabel tingkat pengetahuan perawat dan pelaksanaan Universal Precaution memiliki derajat asosiasi sedang. Arah hubungan yang positif menunjukkan semakin baik tingkat pengetahuan perawat maka pelaksanaan Universal Precaution juga akan semakin
baik dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan oleh adanya pengalaman kerja serta pendidikan akan membentuk pengetahuan perawat mengenai pelaksanaan kewaspadaan umum. Pengetahuan sendiri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap seseorang. Dalam domain kognitif, pengetahuan mencakup enam tingkatan yaitu mengetahui, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (Bloom; Notoadmodjo, 2007).
Keenam tingkatan tersebut mempengaruhi secara langsung terbentuknya perilaku perawat dalam melakukan kewaspadaan standar atau yang biasa disebut sebagai Universal Precaution. Menurut Notoatmodjo (2003), salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah pengetahuan. Dengan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi pelaksanaan kewaspadaan umum maka kemauan perawat untuk melaksanakan tindakan- tindakan yang mengarah pada kewaspadaan umum akan semakin tinggi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan analisis data dengan uji statistik Spearman Rank diperoleh didapatkan p value 0,000 yang mana lebih kecil dari nilai signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,005. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan perawat dengan pelaksanaan universal precaution. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,553 dapat diartikan variabel tingkat pengetahuan perawat dan pelaksanaan Universal Precaution memiliki derajat asosiasi sedang.
Sesuai dengan hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan kepada perawat dan petugas kesehatan lainnya agar memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sehingga penerapannya juga akan baik dan dapat menurunkan tingkat penyebaran infeksi nosokomial, dan untuk peneliti selanjutnya yang tertarik melakukan penelitian serupa diharapkan dapat meminimalkan keterbatasan - keterbatasan penelitian dengan menambahkan karakteristik responden seperti jenis kelamin, pendidikan
terakhir, penentuan jumlah sampel dengan teknik sampling lain, dan lama perawat bekerja.
.
DAFTAR PUSTAKA
Budioro B. 2002. Pengantar Administrasi Kesehatan Masyarakat. FKM UNDIP, Semarang.
Departemen kesehatan, R.I. 2009. Pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Herpan. 2012. Analisis Kinerja Perawat dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta.
Kes Mas 6, no.3: h. 174-189.
Hidayat, A. 2007 pengantar konsep dasar Keperawatan, Surabaya, Salemba Medika
Irmaniati, IY. 2008.Hubungan pengetahuan perawat tentang universal precautions dengan penerapan universal precautions dalam tindakan pemsangan infus di RSPMC.
Pekanbaru: UNRI
Mada. 2013. Hubungan Pengetahuan Perawat tentang Infeksi Nosokomial dengan Penerapan Prinsip Steril pada Pemasangan Infus di RS Kristen Lenden Moripa Sumba Barat.Medika Respati 8, no.1: h. 1-12.
Mahardini, F., Maliya, A. 2009. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Perilaku Pencegahan Penularan dari KlineHIV/AIDS d Ruang Melati I RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Berita Ilmiah Keperawatan, 2(2): 75-80.
Nugraheni. 2012. Infeksi Nosokomial di RSUD Setjonegoro Kabupaten Wonosobo. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia 11, no.1: h. 94- 100.
Nursalam dan Ninuk Dian Kurniawati.
2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV AIDS. Jakarta:
SalembaMedika.
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
Ristiawan, D. (2013). Hubungan Antara Lama Perawatan dan Penyakit yang Menyertai dengan Terjadinya Infeksi Nosokomial di RSI Sultan Hadlirin Jepara. JIKK 4, no.1: h. 10-15.
Samuel, S.O. 2010. “Nosocomial Infections and the Challenges of Control in Developing Countries”.African Journal of Clinical and Experimental Microbiology 11, no.2: h. 102-109.
Saifudin, A. B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawiroharjo
Sari, RY., Suprapti, E., Solechan, A. 2014.
Pengaruh Sosialisasi APD dengan Perilaku Perawat dalam Penggunaan
APD (Handscoon, Masker,Gown) di RSUD Dr. H. Soewondo. Jurnal Keperawatan dan Kebidanan, 1(6): 1- 10.
Sugiyono. 2013. Statistika untuk Penelitian (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta