• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of HUKUMAN UNTUK PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN MAQASID SYARIAH

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of HUKUMAN UNTUK PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN MAQASID SYARIAH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUMAN UNTUK PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia

Physical punishment in education is considered effective in teaching discipline and responsibility to children. In addition to

corporal punishment is considered to provide learning about norms that should not be violated and must be obeyed in life. However, corporal punishment turns out to have an impact on children's physical and psychological, so th

limitations that must be adhered to in giving corporal punishment. Law Number 17 of 2016 concerning Child Protection states that corporal punishment can be categorized as violence against children. So the question arises how to apply corporal punishment to children in education by examining Islamic criminal law thinking. This research uses qualitative methods with juridical, normative and psychological approaches. The results of the study stated that psychologically corporal punishment in education

punishment can still be implemented in education by considering the child's age, physical and psychological conditions when receiving punishment, errors and punishments are interrelated, implemented as soon as possible, leaving scars, give the child an understanding of the mistakes made and that punishment is given as a last resort. According to Islamic criminal law, corporal punishment is included in the category of acts of persecution that can be charged with qisas punishme

Keywords : corporal punishment, education, Islamic criminal law, pshychology.

Hukuman fisik dalam pendidikan dinilai efektif dalam mengajarkan kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak. Selain memberikan efek jera, hukuman fisik dianggap memberikan pembelajaran tentang norma

dilanggar dan harus dipatuhi dalam kehidupan. Namun hukuman fisik ternyata HUKUMAN UNTUK PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

DAN MAQASID SYARIAH Agus Basuki

[email protected] Prodi Hukum Islam Program Doktor

Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia

Abstract

Physical punishment in education is considered effective in teaching discipline and responsibility to children. In addition to providing a deterrent effect, corporal punishment is considered to provide learning about norms that should not be violated and must be obeyed in life. However, corporal punishment turns out to have an impact on children's physical and psychological, so th

limitations that must be adhered to in giving corporal punishment. Law Number 17 of 2016 concerning Child Protection states that corporal punishment can be categorized as violence against children. So the question arises how to apply hment to children in education by examining Islamic criminal law thinking. This research uses qualitative methods with juridical, normative and psychological approaches. The results of the study stated that psychologically corporal punishment in education does not exist, but corporal punishment can still be implemented in education by considering the child's age, physical and psychological conditions when receiving punishment, errors and punishments are interrelated, implemented as soon as possible, leaving scars, give the child an understanding of the mistakes made and that punishment is given as a last resort. According to Islamic criminal law, corporal punishment is included in the category of acts of persecution that can be charged with qisas punishment.

corporal punishment, education, Islamic criminal law, pshychology.

Abstrak

Hukuman fisik dalam pendidikan dinilai efektif dalam mengajarkan kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak. Selain memberikan efek jera, hukuman fisik mberikan pembelajaran tentang norma-norma yang tidak boleh dilanggar dan harus dipatuhi dalam kehidupan. Namun hukuman fisik ternyata

297

HUKUMAN UNTUK PENDISIPLINAN PESERTA DIDIK DALAM DUNIA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

, Yogyakarta, Indonesia

Physical punishment in education is considered effective in teaching discipline providing a deterrent effect, corporal punishment is considered to provide learning about norms that should not be violated and must be obeyed in life. However, corporal punishment turns out to have an impact on children's physical and psychological, so there are limitations that must be adhered to in giving corporal punishment. Law Number 17 of 2016 concerning Child Protection states that corporal punishment can be categorized as violence against children. So the question arises how to apply hment to children in education by examining Islamic criminal law thinking. This research uses qualitative methods with juridical, normative and psychological approaches. The results of the study stated that does not exist, but corporal punishment can still be implemented in education by considering the child's age, physical and psychological conditions when receiving punishment, errors and punishments are interrelated, implemented as soon as possible, leaving no scars, give the child an understanding of the mistakes made and that punishment is given as a last resort. According to Islamic criminal law, corporal punishment is included in the category of acts of persecution that can

corporal punishment, education, Islamic criminal law, pshychology.

Hukuman fisik dalam pendidikan dinilai efektif dalam mengajarkan kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak. Selain memberikan efek jera, hukuman fisik norma yang tidak boleh dilanggar dan harus dipatuhi dalam kehidupan. Namun hukuman fisik ternyata

(2)

Agus Basuki

2 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

memiliki dampak pada fisik dan psikis anak, sehingga ada batasan yang harus ditaati dalam memberikan hukuman fisik

17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa hukuman fisik dapat dikategorikan sebagai kekerasan pada anak. Sehingga timbul pertanyaan bagaimana penerapan hukuman fisik terhadap anak dalam pendidikan dengan telaah pemikiran hukum pidana Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis, normatif dan psikologi. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara psikologi hukuman fisik dalam pendidikan tidak ada, akan tetapi hukuman fisik tetap dapat dilaksa

mempertimbangkan usia anak, kondisi fisik dan psikis saat menerima hukuman, kesalahan dan hukuman saling berkaitan, dilaksanakan sesegera mungkin, tidak meninggalkan bekas luka, berikan pemahaman pada anak kesalahan yang dilakukan dan bahwa hukuman diberikan sebagai pilihan terakhir. Menurut hukum pidana Islam, hukuman fisik termasuk dalam kategori tindak penganiayaan yang dapat dijerat dengan hukuman qisas.

Kata kunci : hukuman fisik, pendidikan, hukum pidana Islam, psikologi

A. PENDAHULUAN

Hukuman dalam pendidikan bertujuan untuk mengajarikan kedisiplinan dan tanggungjawab. Meski terdapat beberapa pilihan dalam hukuman, akan tetapi hukuman fisik masih dianggap efektif dan memberikan efek jera pada anak agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Skinner dalam Sri Rukmini melalui teori

bahwa hukuman fisik efektif dalam mengajarkan disiplin pada anak hanya untuk jangka waktu pendek.1 Hal ini disebabkan anak yang terus menerus mendapat hukuman fisik akan berakibat kehilangan rasa empati, sehingga kebal terhadap hukuman.

Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 angka 15 (a) menyatakan bahwa “kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan

penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum”. Kekerasan pada anak menurut hukum pasal tersebut mengandung 2 unsur yaitu perbuatan pada anak d

kesengsaraan.2

Islam mengajarkan membesarkan anak dengan lemah lembut dan kasih sayang, namun Islam juga mengajarkan untuk bersikap tegas saat menghadapi anak. Rasulullah memerintahkan orang tua untuk bersikap tegas pada anak yang telah beru

melaksanakan shalat dan memberikan hukuman pada anak berusia 10 tahun yang meninggalkan shalat.

َو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ِﻩﱢﺪَﺟ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ َةَﺮْـﺒَﺳ ِﻦْﺑ ِﻊﻴِﺑﱠﺮﻟا ِﻦْﺑ ِﻚِﻠَﻤْﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ﻟا اوُﺮُﻣ َﻢﱠﻠَﺳ

اَذِإ ِة َﻼﱠﺼﻟﺎِﺑ ﱠِﱯﱠﺼ

1 Sri Rukmini, dkk, Psikologi Pendidi

2 Pasal 15a Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

memiliki dampak pada fisik dan psikis anak, sehingga ada batasan

yang harus ditaati dalam memberikan hukuman fisik. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa hukuman fisik dapat dikategorikan sebagai kekerasan pada anak. Sehingga timbul pertanyaan bagaimana penerapan hukuman fisik terhadap anak dalam pendidikan dengan n hukum pidana Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis, normatif dan psikologi. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara psikologi hukuman fisik dalam pendidikan tidak ada, akan tetapi hukuman fisik tetap dapat dilaksanakan dalam pendidikan dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi fisik dan psikis saat menerima hukuman, kesalahan dan hukuman saling berkaitan, dilaksanakan sesegera mungkin, tidak meninggalkan bekas luka, berikan pemahaman pada anak kesalahan yang ukan dan bahwa hukuman diberikan sebagai pilihan terakhir. Menurut hukum pidana Islam, hukuman fisik termasuk dalam kategori tindak penganiayaan yang dapat dijerat dengan hukuman qisas.

hukuman fisik, pendidikan, hukum pidana Islam, psikologi

Hukuman dalam pendidikan bertujuan untuk mengajarikan kedisiplinan dan tanggungjawab. Meski terdapat beberapa pilihan dalam hukuman, akan tetapi hukuman fisik masih dianggap efektif dan memberikan efek jera pada anak agar tidak melakukan

alahan yang sama. Skinner dalam Sri Rukmini melalui teori behaviorisme

bahwa hukuman fisik efektif dalam mengajarkan disiplin pada anak hanya untuk jangka Hal ini disebabkan anak yang terus menerus mendapat hukuman fisik kibat kehilangan rasa empati, sehingga kebal terhadap hukuman.

undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 angka 15 (a) menyatakan bahwa “kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum”. Kekerasan pada anak menurut hukum pasal tersebut mengandung 2 unsur yaitu perbuatan pada anak dan menimbulkan Islam mengajarkan membesarkan anak dengan lemah lembut dan kasih sayang, namun Islam juga mengajarkan untuk bersikap tegas saat menghadapi anak. Rasulullah memerintahkan orang tua untuk bersikap tegas pada anak yang telah berusia 7 tahun untuk melaksanakan shalat dan memberikan hukuman pada anak berusia 10 tahun yang

َو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ِﻩﱢﺪَﺟ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ َةَﺮْـﺒَﺳ ِﻦْﺑ ِﻊﻴِﺑﱠﺮﻟا ِﻦْﺑ ِﻚِﻠَﻤْﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ ُﻩﻮُﺑِﺮْﺿﺎَﻓ َﲔِﻨِﺳ َﺮْﺸَﻋ َﻎَﻠَـﺑ اَذِإَو َﲔِﻨِﺳ َﻊْﺒَﺳ َﻎَﻠَـﺑ

Psikologi Pendidikan (Yogyakarta : UPP IKIP Yogyakarta, 1995), 75.

undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

memiliki dampak pada fisik dan psikis anak, sehingga ada batasan-batasan undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa hukuman fisik dapat dikategorikan sebagai kekerasan pada anak. Sehingga timbul pertanyaan bagaimana penerapan hukuman fisik terhadap anak dalam pendidikan dengan n hukum pidana Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis, normatif dan psikologi. Hasil penelitian menyatakan bahwa secara psikologi hukuman fisik dalam pendidikan tidak ada, nakan dalam pendidikan dengan mempertimbangkan usia anak, kondisi fisik dan psikis saat menerima hukuman, kesalahan dan hukuman saling berkaitan, dilaksanakan sesegera mungkin, tidak meninggalkan bekas luka, berikan pemahaman pada anak kesalahan yang ukan dan bahwa hukuman diberikan sebagai pilihan terakhir. Menurut hukum pidana Islam, hukuman fisik termasuk dalam kategori tindak

hukuman fisik, pendidikan, hukum pidana Islam, psikologi

Hukuman dalam pendidikan bertujuan untuk mengajarikan kedisiplinan dan tanggungjawab. Meski terdapat beberapa pilihan dalam hukuman, akan tetapi hukuman fisik masih dianggap efektif dan memberikan efek jera pada anak agar tidak melakukan behaviorisme menyatakan bahwa hukuman fisik efektif dalam mengajarkan disiplin pada anak hanya untuk jangka Hal ini disebabkan anak yang terus menerus mendapat hukuman fisik kibat kehilangan rasa empati, sehingga kebal terhadap hukuman.

undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 angka 15 (a) menyatakan bahwa “kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat

secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum”. Kekerasan pada anak menurut hukum an menimbulkan Islam mengajarkan membesarkan anak dengan lemah lembut dan kasih sayang, namun Islam juga mengajarkan untuk bersikap tegas saat menghadapi anak. Rasulullah sia 7 tahun untuk melaksanakan shalat dan memberikan hukuman pada anak berusia 10 tahun yang

َو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱡِﱯﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ِﻩﱢﺪَﺟ ْﻦَﻋ ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ َةَﺮْـﺒَﺳ ِﻦْﺑ ِﻊﻴِﺑﱠﺮﻟا ِﻦْﺑ ِﻚِﻠَﻤْﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ ُﻩﻮُﺑِﺮْﺿﺎَﻓ َﲔِﻨِﺳ َﺮْﺸَﻋ َﻎَﻠَـﺑ اَذِإَو َﲔِﻨِﺳ َﻊْﺒَﺳ َﻎَﻠَـﺑ

undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak

(3)

Artinya :“Ajarkan Shalat pada anak jika berusia tujuhtahun dan pukullah jika meninggalkan shalat bila berusia sepuluh tahun”.

Pada hadis tersebut dengan jelas disebutkan bahwa jika anak telah berusia 7 tahun maka ajarkan mereka tata cara shalat dan jika anak telah berusia 10 meninggalkan shalat berikan hukuman. Hukuman dalam hal ini diberikan dengan tujuan agar anak memiliki tanggung jawab atas kewajibanya sebagai seorang muslim dan harus disesuaikan dengan anak-anak. Hukuman tidak boleh menyakiti akan tetapi memberikan motivasi pada anak agar melaksanakan kewajiban dengan lebih giat.

Penegakan hukuman fisik pada anak dibutuhkan unt tanggung jawab, akan tetapi ada tahapan dan prinsip

menggunakan hukuman fisik. Selain itu anak juga dilindungi hak dan keberadaanya melalui undang-undang perlindungan anak dengan ancaman tind

maka mana yang lebih mengkhawatirkan mendidik menggunakan kekerasan atau hak anak untuk dilindungi. Berdasarkan fakta tersebut dibutuhkan telaah lebih dalam mengenai konsep dasar hukuman fisik dalam ketentuan mendisiplinkan anak menggunakan hukuman fisik dalam undang

dari hukum pidana Islam.

B. KAJIAN TEORI 1. Hukuman Fisik

Konsep dasar hukuman adalah menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan, karena setiap perbuatan akan mendapatkan balasan y

Swt. menuangkan konsep dasar hukuman ini dalam Alquran surat al

Artinya : Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahala) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzhalimi hamba

Hukuman fisik atau berasal dari kata corpus punishment dari bahasa Inggris corporal punishment mempunyai melakukan tindakan yang occurence of misbehavior

Identifikasi Johan Galtung terhadap hukuman fisik berupa memukul, melempar, menendang, menggigit, menampar, mencekik, meninju, mencubit dan segala bentuk

3 Muhammad Nasirudin Al-Albani, Daud), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), 342

4 Zaini Dahlan., Alquran Karim dan Terjemahan,

5 Edward L. Vockel, "Corporal Punishment: The Pros and Cons", April, 1991), 278.

Hukuman untuk pendisiplinan peserta didik d

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | :“Ajarkan Shalat pada anak jika berusia tujuhtahun dan pukullah jika meninggalkan shalat bila berusia sepuluh tahun”. (H.R. Abu Dawud : 417)

da hadis tersebut dengan jelas disebutkan bahwa jika anak telah berusia 7 tahun maka ajarkan mereka tata cara shalat dan jika anak telah berusia 10 meninggalkan shalat berikan hukuman. Hukuman dalam hal ini diberikan dengan tujuan agar anak memiliki ng jawab atas kewajibanya sebagai seorang muslim dan harus disesuaikan dengan anak. Hukuman tidak boleh menyakiti akan tetapi memberikan motivasi pada anak agar melaksanakan kewajiban dengan lebih giat.

Penegakan hukuman fisik pada anak dibutuhkan untuk melatih kesidiplinan dan tanggung jawab, akan tetapi ada tahapan dan prinsip-prinsip yang harus dipenuhi sebelum menggunakan hukuman fisik. Selain itu anak juga dilindungi hak dan keberadaanya undang perlindungan anak dengan ancaman tindak pidana dan denda, maka mana yang lebih mengkhawatirkan mendidik menggunakan kekerasan atau hak anak untuk dilindungi. Berdasarkan fakta tersebut dibutuhkan telaah lebih dalam mengenai konsep dasar hukuman fisik dalam ketentuan mendisiplinkan anak nakan hukuman fisik dalam undang-undang hukum perlindungan anak ditinjau dari hukum pidana Islam.

Konsep dasar hukuman adalah menerima konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan, karena setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Allah Swt. menuangkan konsep dasar hukuman ini dalam Alquran surat al-Fushilat ayat 46:

ِﺪﻴِﺒَﻌﻠﱢﻟ ٍم ﱠﻼَﻈِﺑ َﻚﱡﺑَر ﺎَﻣَو ﺎَﻬﻴَﻠَﻌَـﻓ َءﺎَﺳَا ﻦَﻣَو ﻪِﺴﻔَﻨِﻠَﻓ ﺎـًِﳊﺎَﺻ َﻞِﻤَﻋ ﻦَﻣ

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahala) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan

iri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzhalimi hamba Hukuman fisik atau corporal punishment terdiri dari dua istilah

corpus menurut bahasa Latin mempunyai arti badan, sedangkan bahasa Inggris yang mempunyai arti hukuman. Hukuman fisik atau

mempunyai arti pengenaan rasa sakit fisik yang

melakukan tindakan yang salah (as the infliction of physical pain contingent upon the occurence of misbehavior).5

ohan Galtung terhadap hukuman fisik berupa memukul, melempar, menendang, menggigit, menampar, mencekik, meninju, mencubit dan segala bentuk

Albani, Shahih Sunan Abu Daud (Seleksi Hadits Shahih Dari Kitab Sunan Abu : Pustaka Azzam, 2006), 342

Alquran Karim dan Terjemahan, (Yogyakarta : UII Pres, 2002),780.

"Corporal Punishment: The Pros and Cons", Journal The Clearing House, Vol.64 (Maret

uk pendisiplinan peserta didik dalam ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 3 :“Ajarkan Shalat pada anak jika berusia tujuhtahun dan pukullah jika

(H.R. Abu Dawud : 417)3

da hadis tersebut dengan jelas disebutkan bahwa jika anak telah berusia 7 tahun maka ajarkan mereka tata cara shalat dan jika anak telah berusia 10 meninggalkan shalat berikan hukuman. Hukuman dalam hal ini diberikan dengan tujuan agar anak memiliki ng jawab atas kewajibanya sebagai seorang muslim dan harus disesuaikan dengan anak. Hukuman tidak boleh menyakiti akan tetapi memberikan motivasi pada anak uk melatih kesidiplinan dan prinsip yang harus dipenuhi sebelum menggunakan hukuman fisik. Selain itu anak juga dilindungi hak dan keberadaanya ak pidana dan denda, maka mana yang lebih mengkhawatirkan mendidik menggunakan kekerasan atau hak anak untuk dilindungi. Berdasarkan fakta tersebut dibutuhkan telaah lebih dalam mengenai konsep dasar hukuman fisik dalam ketentuan mendisiplinkan anak undang hukum perlindungan anak ditinjau

Konsep dasar hukuman adalah menerima konsekuensi dari perbuatan yang ang setimpal. Allah

Fushilat ayat 46:

ﻪِﺴﻔَﻨِﻠَﻓ ﺎـًِﳊﺎَﺻ َﻞِﻤَﻋ ﻦَﻣ

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahala) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan iri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzhalimi hamba-hambaNYA. 4

istilah yaitu corporal badan, sedangkan arti hukuman. Hukuman fisik atau diberikan karena as the infliction of physical pain contingent upon the ohan Galtung terhadap hukuman fisik berupa memukul, melempar, menendang, menggigit, menampar, mencekik, meninju, mencubit dan segala bentuk

Shahih Sunan Abu Daud (Seleksi Hadits Shahih Dari Kitab Sunan Abu

Journal The Clearing House, Vol.64 (Maret-

(4)

Agus Basuki

4 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

hukuman yang meninggalkan bekas baik kecil maupun besar pada badan.

Suharto memaparkan bahwa hukuman fisi

penganiayaan terhadap anak dengan atau tanpa menggunakan benda yang menimbulkan luka fisik atau kematian.

Berdasarkan definisi

penelitian ini adalah hukuman yang diberikan pada anak berupa penyiksaan yang menimbulkan luka baik kecil maupun besar, bahkan dapat juga menimbulkan kematian. Sehingga terdapat luka terlihat maupun tidak, dengan atau tanpa alat yang mengenai badan anak.

2. Hukuman Fisik dalam

Gelfand dan Drew mengkategorikan hukuman fisik sebagai tindakan kekerasan fisik, karena hukuman fisik termasuk tindakan melukai mencangkup pemukulan dan mencederai badan anak yang dilakukan dengan sengaja.

bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh serangkaian penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).

Berbeda dengan de Keijser yang menentang konsep hukuman, ia menyatakan bahwa hukuman tidak etis diberikan dan bahkan merusak dalam pembelajaran.

ini diperkuat dengan pernyataan David Boonin dalam bukunya Problem of Punishment, yang menyatakan bahwa sebuah kesalahan tidak seharusnya diberi hukuman yang berupa perilaku yang sebenarnya berlabelkan negatif. .

Boonin juga meyakini bahwa kekerasan akan melahirkan keker

Bandura mengenai prinsip belajar sosial yakni manusia memiliki kapasitas untuk mengamati dan meniru suatu perilaku.

sering mendapat hukuman lama kelamaan akan merasa

kelamaan kehilangan rasa empati sehingga tidak tergerak hatinya saat melihat penderitaan orang lain.

3. Anak Dalam Perundang

Undang-undang perlindungan anak mengalami perubahan dari Undang Nomor 23 Tahun 2002 menjadi Undang

dilakukan dengan landasan bahwa perlu adanya peningkatkan perlindungan terhadap anak dengan melakukan penyesuaian beberapa ketentuan dari UU lama dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.

6 Johan Galtung, Kekuasaan dan Kekerasan

7 Abu Hurairah, Child Abuse, cetakan ke 2, (Bandung : Nuansa, 2007), hlm. 47.

8 Donna M. Gelfand dan Drew, C.J., Wadsworth/Thomson Learning, 2003), 88.

9 Calvin S Hall dan Lindzey Gardner, Inc, 1985), 112.

10 Lode Walgrave, Restorative Justice and Law,

11 David Boonin, The problem of Punishment

12 Albert Bandura, Social Learning Theory,

13 Theodore L. Dorpat, Crimes of Punishment : America’s Culture of Violence, 2007), 33.

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

hukuman yang meninggalkan bekas baik kecil maupun besar pada badan.

Suharto memaparkan bahwa hukuman fisik merupakan penyiksaan, pemukulan dan penganiayaan terhadap anak dengan atau tanpa menggunakan benda

yang menimbulkan luka fisik atau kematian.7

Berdasarkan definisi-definisi para ahli, hukuman fisik yang dimaksud dalam h hukuman yang diberikan pada anak berupa penyiksaan yang menimbulkan luka baik kecil maupun besar, bahkan dapat juga menimbulkan kematian. Sehingga terdapat luka terlihat maupun tidak, dengan atau tanpa alat yang mengenai badan anak.

Hukuman Fisik dalam Psikologi

Gelfand dan Drew mengkategorikan hukuman fisik sebagai tindakan kekerasan fisik, karena hukuman fisik termasuk tindakan melukai mencangkup pemukulan dan mencederai badan anak yang dilakukan dengan sengaja.8 Skinner mengungkapkan anusia dipengaruhi oleh serangkaian penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment).9

Berbeda dengan de Keijser yang menentang konsep hukuman, ia menyatakan bahwa hukuman tidak etis diberikan dan bahkan merusak dalam pembelajaran.

ngan pernyataan David Boonin dalam bukunya Problem of Punishment, yang menyatakan bahwa sebuah kesalahan tidak seharusnya diberi hukuman yang berupa perilaku yang sebenarnya berlabelkan negatif. .11

Boonin juga meyakini bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan, seperti teori Bandura mengenai prinsip belajar sosial yakni manusia memiliki kapasitas untuk mengamati dan meniru suatu perilaku.12 Dorpat menambahkan bahwa seseorang yang sering mendapat hukuman lama kelamaan akan merasa emotional numbness

kelamaan kehilangan rasa empati sehingga tidak tergerak hatinya saat melihat penderitaan orang lain.13

Anak Dalam Perundang-undangan Indonesia

undang perlindungan anak mengalami perubahan dari Undang

Nomor 23 Tahun 2002 menjadi Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014. Perubahan dilakukan dengan landasan bahwa perlu adanya peningkatkan perlindungan terhadap anak dengan melakukan penyesuaian beberapa ketentuan dari UU lama dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.

uasaan dan Kekerasan, (Yogyakarta : Kanisius, 1992), 62.

, cetakan ke 2, (Bandung : Nuansa, 2007), hlm. 47.

Donna M. Gelfand dan Drew, C.J., Understanding Children’s Behavior Disorder. 4th ed. (Belmont, CA : Learning, 2003), 88.

Calvin S Hall dan Lindzey Gardner, Introduction to Theories of Personality, (New York: John Wiley & Sons.

Restorative Justice and Law, (UK : Wilan Publishing, 2002), 57.

em of Punishment, (Colorado : Cambridge Universitu Press, 2002), 75.

Social Learning Theory, (New York : General Learning Press, 1977), 81.

Crimes of Punishment : America’s Culture of Violence, (New York : Algora P

hukuman yang meninggalkan bekas baik kecil maupun besar pada badan.6 Sementara k merupakan penyiksaan, pemukulan dan penganiayaan terhadap anak dengan atau tanpa menggunakan benda-benda tertentu definisi para ahli, hukuman fisik yang dimaksud dalam h hukuman yang diberikan pada anak berupa penyiksaan yang menimbulkan luka baik kecil maupun besar, bahkan dapat juga menimbulkan kematian. Sehingga terdapat luka terlihat maupun tidak, dengan atau tanpa alat yang

Gelfand dan Drew mengkategorikan hukuman fisik sebagai tindakan kekerasan fisik, karena hukuman fisik termasuk tindakan melukai mencangkup pemukulan dan Skinner mengungkapkan anusia dipengaruhi oleh serangkaian penguatan (reinforcement) dan Berbeda dengan de Keijser yang menentang konsep hukuman, ia menyatakan bahwa hukuman tidak etis diberikan dan bahkan merusak dalam pembelajaran.10 Hal ngan pernyataan David Boonin dalam bukunya Problem of Punishment, yang menyatakan bahwa sebuah kesalahan tidak seharusnya diberi

11

asan, seperti teori Bandura mengenai prinsip belajar sosial yakni manusia memiliki kapasitas untuk Dorpat menambahkan bahwa seseorang yang emotional numbness atau lama kelamaan kehilangan rasa empati sehingga tidak tergerak hatinya saat melihat

undang perlindungan anak mengalami perubahan dari Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014. Perubahan dilakukan dengan landasan bahwa perlu adanya peningkatkan perlindungan terhadap anak dengan melakukan penyesuaian beberapa ketentuan dari UU lama dengan realitas

. 4th ed. (Belmont, CA : , (New York: John Wiley & Sons.

, (Colorado : Cambridge Universitu Press, 2002), 75.

(New York : Algora Publishing,

(5)

Undang-Undang Nomor 35 tahun 20

berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 mengandung prinsip yang terdiri dari14:

a. Non diskriminasi.

b. Kepentingan yang terbaik bagi anak ( c. Hak untuk hidup, kelangsungan d. Penghargaan terhadap pendapat anak.

Tumbuh kembang anak mulai dari masa di dalam kandungan, prasekolah, sekolah, pubertas dan dewasa melalui permasalahan berbeda

tingkat kemampuan dan fungsi sosial. Maka harus

kewajiban sebagai anak yang masih membutuhkan pendampingan orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan keluarga. Karena setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh, kembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harka

kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sesuai dengan isi Pasal 4 Undang

Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengklasifikasi pasal mengenai penganiayaan menjadi penganiayaan ringan, penganiayaan berat dan peganiayaan berat dengan rencana. Pasal 352 KUHP mengatur mengenai penganiayaan ringan, yang berbunyi sebagai berikut: (1) Kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan Pasal 356, maka penganiayaan yang tid

menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

4. Hukuman Fisik dalam

Hukum pidana Islam juga disebut kesalahan atau kejahatan

yaitu larangan yang ditetapkan oleh allah. Adapun larangannya yaitu: apapun perbuatan yang terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang menunjukkan bahwa kejahatan yang melanggar syariat. Maka

yang dilarang oleh hukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.

Menurut Abdul Qadir Audah,

diharamkan syara’, baik perbuatan tersebut mengenai ji jiwa dan harta benda.18

Hukuman fisik dalam hukum pidana Islam dapat dikategorikan sebagai penganiayaan atau kekerasan jika tidak sesuai dengan prinsip penerapan hukuman, misalnya hukuman meninggalkan bekas luka dan tidak se

14 Darwan Prints, Hukum Anak Indonesia,

15 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

16 Sahid, Pengantar Hukum Pidana Islam

17 Abdul Qadir Audah, at-Tasyi al

18 Abdul Qadir Audah, at-Tasyi al

Hukuman untuk pendisiplinan peserta didik d

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 mengandung prinsip-prinsip perlindungan anak

Kepentingan yang terbaik bagi anak (The best interest of the Child).

Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan Penghargaan terhadap pendapat anak.

Tumbuh kembang anak mulai dari masa di dalam kandungan, prasekolah, sekolah, pubertas dan dewasa melalui permasalahan berbeda-beda yang mempengaruhi tingkat kemampuan dan fungsi sosial. Maka harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban sebagai anak yang masih membutuhkan pendampingan orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan keluarga. Karena setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh, kembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harka

kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sesuai dengan isi Pasal 4 Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.

undang Hukum Pidana (KUHP) mengklasifikasi pasal mengenai n menjadi penganiayaan ringan, penganiayaan berat dan peganiayaan berat dengan rencana. Pasal 352 KUHP mengatur mengenai penganiayaan ringan, yang berbunyi sebagai berikut: (1) Kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan Pasal 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Hukuman Fisik dalam Hukum Pidana Islam

Hukum pidana Islam juga disebut jarimah, secara etimologis berarti dosa, kesalahan atau kejahatan16. Menurut Abdul Qodir Audah jarimah dalam syariat Islam yaitu larangan yang ditetapkan oleh allah. Adapun larangannya yaitu: apapun atan yang terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang menunjukkan bahwa kejahatan yang melanggar syariat. Maka jarimah

ukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.

Menurut Abdul Qadir Audah, Jinayah adalah nama bagi suatu perbuatan yang diharamkan syara’, baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta benda, maupun selain

18

Hukuman fisik dalam hukum pidana Islam dapat dikategorikan sebagai penganiayaan atau kekerasan jika tidak sesuai dengan prinsip penerapan hukuman, misalnya hukuman meninggalkan bekas luka dan tidak sesuai dengan kesalahan yang

Hukum Anak Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), 143.

Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Pengantar Hukum Pidana Islam, (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2004), 6.

Tasyi al-Jinai bi al Islam Muqaranan bi Qanun al-Wadhi’, (Beirut: Dar al Kitab,tt), Tasyi al-..., 67.

uk pendisiplinan peserta didik dalam ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 5 14 tentang perlindungan anak dengan prinsip perlindungan anak

).

Tumbuh kembang anak mulai dari masa di dalam kandungan, prasekolah, beda yang mempengaruhi ada keseimbangan antara hak dan kewajiban sebagai anak yang masih membutuhkan pendampingan orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan keluarga. Karena setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh, kembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, sesuai

undang No. 23 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.15 undang Hukum Pidana (KUHP) mengklasifikasi pasal mengenai n menjadi penganiayaan ringan, penganiayaan berat dan peganiayaan berat dengan rencana. Pasal 352 KUHP mengatur mengenai penganiayaan ringan, yang berbunyi sebagai berikut: (1) Kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan Pasal 356, ak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak

, secara etimologis berarti dosa, dalam syariat Islam yaitu larangan yang ditetapkan oleh allah. Adapun larangannya yaitu: apapun atan yang terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang jarimah yaitu: tindakan ukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.17

adalah nama bagi suatu perbuatan yang wa, harta benda, maupun selain Hukuman fisik dalam hukum pidana Islam dapat dikategorikan sebagai penganiayaan atau kekerasan jika tidak sesuai dengan prinsip penerapan hukuman, suai dengan kesalahan yang

, (Beirut: Dar al Kitab,tt),55.

(6)

Agus Basuki

6 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

diperbuat anak. Karena penganiayaan atau kekerasan dalam Islam tidak sesuai dengan konsep pemeliharaan diri (

berupa kemaslahatan yang menjaga lima unsur kehidupan yaitu aka

dan keturunan. Abdul Qodir Audah menggarisbawahi bahwa ada beberapa keadaan yang membuat suatu larangan dibolehkan yaitu

a. Pembelaan syari b. Pengobatan

c. Hak dan kewajiban penguasa d. Mendidik

e. Permainan ksatria

f. Hak dan kewajiban penguasa

Hukum Islam memiliki tujuan mewujudkan kebaikan sekaligus menghidarkan keburukan karena penetapan hukum Islam tidak terlepas dari kebaikan untuk semua golongan. Maqasid syariah

sedangkan syariah yang bera maqasid syariah yaitu tujuan hukum.20

Dengan menegakkan hukum pidana Islam akan menekan angka tindak kejahatan di masyarakat. Implementasi hukum pidana Isl

ma’ruf wa an-nahyu ‘an al adanya al-amru bi al

akan rusak dan tidak aman. Rasulullah bersabda: Siapa yang meliha

maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itu adalah selemah lemahnya iman.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu s

digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.

anak di Indonesia dan hukum pidana Islam mengenai penerapan hukuman fi

pendidikan terhadap anak. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pendekatan yuridis, normatif dan psikologis.

D. PEMBAHASAN

1. Penerapan Hukuman Fisik Terhadap Anak Dalam Pendidikan.

a. Analisis Yuridis terhadap Hukuman Fisik Fungsi hukum p

agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. Setiap manusia memiliki hak akan tetapi setiap hak manusia memiliki hukum yang mengatur agar tidak keluar dari batasan. Agar tidak menimbulkan ker

kepentingan orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka

19 Abdul Qodir Audah, at-Tasyi al

20 Asafri Jaya, Konsep Maqashid Syariah Menurut al

21 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

diperbuat anak. Karena penganiayaan atau kekerasan dalam Islam tidak sesuai dengan konsep pemeliharaan diri (hifz an nafs) yang terdapat pada konsep

berupa kemaslahatan yang menjaga lima unsur kehidupan yaitu akal, agama, harta, diri dan keturunan. Abdul Qodir Audah menggarisbawahi bahwa ada beberapa keadaan yang membuat suatu larangan dibolehkan yaitu 19:

Hak dan kewajiban penguasa

Hak dan kewajiban penguasa

kum Islam memiliki tujuan mewujudkan kebaikan sekaligus menghidarkan keburukan karena penetapan hukum Islam tidak terlepas dari kebaikan untuk semua Maqasid syariah terdiri dari 2 kata yaitu maqasid yang berarti tujuan sedangkan syariah yang berarti hukum Allah. Maka dapat ditarik keseimpulan bahwa yaitu tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari suatu penetapan Dengan menegakkan hukum pidana Islam akan menekan angka tindak kejahatan di masyarakat. Implementasi hukum pidana Islam termasuk dalam bab

nahyu ‘an al-munkar yang wajib ditegakkan di masyarakat. Tanpa amru bi al-ma’ruf wa al-nahyu ‘an al-munkar, maka kondisi masyarakat akan rusak dan tidak aman. Rasulullah bersabda: Siapa yang meliha

maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itu adalah selemah

METODE PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.21 Objek utamanya adalah Undang-undang tentang perlindungan anak di Indonesia dan hukum pidana Islam mengenai penerapan hukuman fi

pendidikan terhadap anak. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pendekatan yuridis, normatif dan psikologis.

Penerapan Hukuman Fisik Terhadap Anak Dalam Pendidikan.

Analisis Yuridis terhadap Hukuman Fisik

Fungsi hukum pidana secara umum untuk mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. Setiap manusia memiliki hak akan tetapi setiap hak manusia memiliki hukum yang mengatur agar tidak keluar dari batasan. Agar tidak menimbulkan kerugian dan mengganggu kepentingan orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka

Tasyi al-..., 406.

Konsep Maqashid Syariah Menurut al-Syatibi, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), 5.

Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. ALFABETA, 2008), 1.

diperbuat anak. Karena penganiayaan atau kekerasan dalam Islam tidak sesuai dengan ) yang terdapat pada konsep maqasid syariah l, agama, harta, diri dan keturunan. Abdul Qodir Audah menggarisbawahi bahwa ada beberapa keadaan

kum Islam memiliki tujuan mewujudkan kebaikan sekaligus menghidarkan keburukan karena penetapan hukum Islam tidak terlepas dari kebaikan untuk semua yang berarti tujuan rti hukum Allah. Maka dapat ditarik keseimpulan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari suatu penetapan Dengan menegakkan hukum pidana Islam akan menekan angka tindak kejahatan am termasuk dalam bab al-amru bi al- yang wajib ditegakkan di masyarakat. Tanpa

, maka kondisi masyarakat akan rusak dan tidak aman. Rasulullah bersabda: Siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-

etode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah undang tentang perlindungan anak di Indonesia dan hukum pidana Islam mengenai penerapan hukuman fisik dalam pendidikan terhadap anak. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu

idana secara umum untuk mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. Setiap manusia memiliki hak akan tetapi setiap hak manusia memiliki hukum yang mengatur agar tidak ugian dan mengganggu kepentingan orang lain dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka

tibi, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996), 5.

(7)

hukum memberikan aturan

tidak bisa berbuat sekehendak hatinya.

Hukuman dalam pendidikan sudah ada sejak

mendisiplinkan anak didik (murid) dari perbuatan yang tidak baik. Akan tetapi tidak jarang terjadi kesalahpahaman komunikasi antara anak didik dengan guru tentang hukuman dan tujuanya. Padahal setiap aspek memiliki kriteria untuk dapat dikategorikan sebagai hukuman dan kekerasan.

Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 mengandung prinsip

anak yang terdiri dari 1) Non diskriminasi.

2) Kepentingan yang terb

3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan 4) Penghargaan terhadap pendapat anak.

Ketentuan Pidana terhadap bentuk khusus dalam Undang

pada Pasal 77 hingga Pasal 90. Sistem sanksi yang diterapkan secara kumulatif alternatif disertai sanksi pidana penjara dan denda yang lebih berat daripada Kitab Undang-undang Hukum Pidana merupakan upaya terwujudnya perlindun

anak sehingga anak dapat tumbuh kembang dengan baik, secara jasmani, rohani dan sosialnya.

Mempertegas hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 mengalami perubahan untuk kedua kalinya menjadi Undang-un

perubahan ini dituliskan lebih rinci mengenai hukuman terhadap pelaku kekerasan seksual pada anak pada Pasal 81 yang menyatakan bahwa ketentuan pidana bagi pelanggar pasal 76D diancam hukuman penjara

banyak 15 tahun, serta denda maksimal Rp. 5.000.000.000.00,. Selain itu jika pelaku merupakan orang tua kandung, atau wali, atau yang memiliki hubungan saudara maka hukuman ditambah 1/3.

Tindak pidana (

dipisahkan dan menjadi saling berkaitan satu sama lain sehingga tidak mungkin terputus yaitu aturan dan hukuman. Sebuah aturan tidak cukup untuk membuat seseorang patuh terhadap aturan yang diberlakukan dan mendorong seseorang meninggalkan perilaku yang tidak sesuai aturan maka diperlukan sanki hukuman bagi yang melanggar.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mencamtumkan hak

keluarga, masyarakat,

terhadap anak. Namun dalam pelaksanaanya dibutuhkan undang

22 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I

23 Darwan Prints, Hukum Anak Indonesia,

24 Pasal 81 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

25 Abdul Salam, Fiqih Jinayat (Hukum Pidana Islam)

Hukuman untuk pendisiplinan peserta didik d

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | hukum memberikan aturan–aturan yang membatasi perbuatan manusia, sehingga ia tidak bisa berbuat sekehendak hatinya.22

Hukuman dalam pendidikan sudah ada sejak dulu tujuanya rangka mendisiplinkan anak didik (murid) dari perbuatan yang tidak baik. Akan tetapi tidak jarang terjadi kesalahpahaman komunikasi antara anak didik dengan guru tentang hukuman dan tujuanya. Padahal setiap aspek memiliki kriteria untuk dapat dikategorikan sebagai hukuman dan kekerasan.

Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 mengandung prinsip-prinsip perlindungan anak yang terdiri dari23:

Non diskriminasi.

Kepentingan yang terbaik bagi anak (The best interest of the Child Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan Penghargaan terhadap pendapat anak.

Ketentuan Pidana terhadap bentuk-bentuk pelanggaran hak anak diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 77 hingga Pasal 90. Sistem sanksi yang diterapkan secara kumulatif alternatif disertai sanksi pidana penjara dan denda yang lebih berat daripada Kitab

undang Hukum Pidana merupakan upaya terwujudnya perlindun

anak sehingga anak dapat tumbuh kembang dengan baik, secara jasmani, rohani dan Mempertegas hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, undang Nomor 23 Tahun 2002 mengalami perubahan untuk kedua kalinya undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan Anak. Pada perubahan ini dituliskan lebih rinci mengenai hukuman terhadap pelaku kekerasan seksual pada anak pada Pasal 81 yang menyatakan bahwa ketentuan pidana bagi pelanggar pasal 76D diancam hukuman penjara paling sedikit 5 tahun dan paling banyak 15 tahun, serta denda maksimal Rp. 5.000.000.000.00,. Selain itu jika pelaku merupakan orang tua kandung, atau wali, atau yang memiliki hubungan saudara maka hukuman ditambah 1/3.24

Tindak pidana (criminal act) mengandung 2 hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi saling berkaitan satu sama lain sehingga tidak mungkin terputus yaitu aturan dan hukuman. Sebuah aturan tidak cukup untuk membuat seseorang patuh terhadap aturan yang diberlakukan dan mendorong seseorang meninggalkan perilaku yang tidak sesuai aturan maka diperlukan sanki hukuman bagi yang melanggar.25

Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mencamtumkan hak-hak yang anak dapatkan, tugas dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Namun dalam pelaksanaanya dibutuhkan undang

Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2002), 3.

Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), 143.

undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Fiqih Jinayat (Hukum Pidana Islam), (Yogyakarta : Ideal, 1987), 52.

uk pendisiplinan peserta didik dalam ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 7 aturan yang membatasi perbuatan manusia, sehingga ia dulu tujuanya rangka mendisiplinkan anak didik (murid) dari perbuatan yang tidak baik. Akan tetapi tidak jarang terjadi kesalahpahaman komunikasi antara anak didik dengan guru tentang hukuman dan tujuanya. Padahal setiap aspek memiliki kriteria untuk dapat Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan prinsip perlindungan

The best interest of the Child).

bentuk pelanggaran hak anak diatur secara 014 tentang Perlindungan Anak pada Pasal 77 hingga Pasal 90. Sistem sanksi yang diterapkan secara kumulatif alternatif disertai sanksi pidana penjara dan denda yang lebih berat daripada Kitab undang Hukum Pidana merupakan upaya terwujudnya perlindungan hak anak sehingga anak dapat tumbuh kembang dengan baik, secara jasmani, rohani dan Mempertegas hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, undang Nomor 23 Tahun 2002 mengalami perubahan untuk kedua kalinya dang Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan Anak. Pada perubahan ini dituliskan lebih rinci mengenai hukuman terhadap pelaku kekerasan seksual pada anak pada Pasal 81 yang menyatakan bahwa ketentuan pidana bagi paling sedikit 5 tahun dan paling banyak 15 tahun, serta denda maksimal Rp. 5.000.000.000.00,. Selain itu jika pelaku merupakan orang tua kandung, atau wali, atau yang memiliki hubungan andung 2 hal yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi saling berkaitan satu sama lain sehingga tidak mungkin terputus yaitu aturan dan hukuman. Sebuah aturan tidak cukup untuk membuat seseorang patuh terhadap aturan yang diberlakukan dan mendorong seseorang meninggalkan perilaku yang tidak sesuai aturan maka diperlukan sanki hukuman Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia hak yang anak dapatkan, tugas dan tanggung jawab orang tua, pemerintah dan Negara untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Namun dalam pelaksanaanya dibutuhkan undang-undang khusus

, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2002), 3.

(8)

Agus Basuki

8 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

yang mengatur tugas dan tanggungjawab orang tua agar pelaksanaanya dapat diawasi. Maka dalam pembentukan undang

berdasarkan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Upaya perlindungan terhadap anak dilaksanakan sejak anak masih berupa janin hingga anak telah berusia 18 tahun sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif menjadi dasar gagasan ini. Undang

atas perlindungan anak berdasa

hidup, hak untuk hidup, kepentingan yang tebaik bagi anak, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak. Pelaksanaan pembinaan, pengembangan, dan perlindungan anak diperlukan peran masyarakat baik

lembaga perlindungan anak, lembaga swadaya,masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan organisasi sosial.

b. Analisis Psikologi terhadap Hukuman Fisik

Albert Bandura pelopor teori belajar sosial mengungkapkan b

memiliki kapasitas untuk mengamati dan meniru suatu perilaku, maka jika hukuman dibalut dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan juga.

dalam psikologi belajar Skinner adalah proses modifikasi perilaku, dimana hukuman merupakan pelem

perilaku berisik di kelas seperti pada kasus di atas, pada teori modifikasi perilaku ada 2 pilihan untuk menghilangkan perilaku berisik di kelas. Pertama menggunakan hadiah (penguatan), contohnya anak yang ti

nilai tambah. Kedua menggunakan hukuman, anak yang berisik di kelas mendapat hukuman yang disesuaikan dengan usia anak, seperti hukuman tidak teguran, peringatan dan pengurangan nilai.

Penjelasan lain mengenai hukuman

hukuman fisik selain memberikan efek jera dan tidak melakukan kesalahan lagi, juga menimbulkan rasa ketakutan, cemas, rendah diri, malu dan tidak percaya diri.

Hal ini karena anak mendapat hukuman fisik yang menyaki depan teman-temanya.

Hukuman fisik dalam pendidikan menurut Boonin seharusnya tidak ada, karena esensi dari mendidik adalah mengajari maka kesalahan yang diperbuat anak harus diberi penjelasan melalui pemahaman dengan kata

dengan hukuman fisik. Akan tetapi Skinner menyatakan bahwa dalam mendidik terdapat penguatan dan pelemahan agar tujuan dari mendidik dapat tercapai. Anak akan mudah mengabaikan teguran jika tidak ada pelaksanaan hukuman dan tidak akan termotivasi jika tidak ada hadiah.

26 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak

27 Ahmad Kamil dan Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia Press, 2008), 8.

28 Albert Bandura, Social Learning Theory

29 Ibid, 55.

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

yang mengatur tugas dan tanggungjawab orang tua agar pelaksanaanya dapat diawasi. Maka dalam pembentukan undang-undang perlindunga

berdasarkan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.26

Upaya perlindungan terhadap anak dilaksanakan sejak anak masih berupa janin hingga anak telah berusia 18 tahun sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif menjadi dasar gagasan ini. Undang-Undang pelindungan mencangkup kewajiban atas perlindungan anak berdasarkan asas-asas nondiskriminatif, kelangsungan hidup, hak untuk hidup, kepentingan yang tebaik bagi anak, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak. Pelaksanaan pembinaan, pengembangan, dan perlindungan anak diperlukan peran masyarakat baik

lembaga perlindungan anak, lembaga swadaya,masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan organisasi sosial.

Analisis Psikologi terhadap Hukuman Fisik

Albert Bandura pelopor teori belajar sosial mengungkapkan b

memiliki kapasitas untuk mengamati dan meniru suatu perilaku, maka jika hukuman dibalut dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan juga.

dalam psikologi belajar Skinner adalah proses modifikasi perilaku, dimana hukuman merupakan pelemahan dan hadiah adalah penguatan. Misalnya pada perilaku berisik di kelas seperti pada kasus di atas, pada teori modifikasi perilaku ada 2 pilihan untuk menghilangkan perilaku berisik di kelas. Pertama menggunakan hadiah (penguatan), contohnya anak yang tidak berisik di kelas dapat hadiah atau nilai tambah. Kedua menggunakan hukuman, anak yang berisik di kelas mendapat hukuman yang disesuaikan dengan usia anak, seperti hukuman tidak teguran, peringatan dan pengurangan nilai.

Penjelasan lain mengenai hukuman fisik seperti diungkapkan Dorpat bahwa hukuman fisik selain memberikan efek jera dan tidak melakukan kesalahan lagi, juga menimbulkan rasa ketakutan, cemas, rendah diri, malu dan tidak percaya diri.

Hal ini karena anak mendapat hukuman fisik yang menyakitkan dan dilaksanakan di temanya.

Hukuman fisik dalam pendidikan menurut Boonin seharusnya tidak ada, karena esensi dari mendidik adalah mengajari maka kesalahan yang diperbuat anak harus diberi penjelasan melalui pemahaman dengan kata-kata ata

dengan hukuman fisik. Akan tetapi Skinner menyatakan bahwa dalam mendidik terdapat penguatan dan pelemahan agar tujuan dari mendidik dapat tercapai. Anak akan mudah mengabaikan teguran jika tidak ada pelaksanaan hukuman dan tidak

otivasi jika tidak ada hadiah.

Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Social Learning Theory, (New York : General Learning Press, 1977), 81

yang mengatur tugas dan tanggungjawab orang tua agar pelaksanaanya dapat undang perlindungan anak harus berdasarkan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan Upaya perlindungan terhadap anak dilaksanakan sejak anak masih berupa janin hingga anak telah berusia 18 tahun sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif Undang pelindungan mencangkup kewajiban asas nondiskriminatif, kelangsungan hidup, hak untuk hidup, kepentingan yang tebaik bagi anak, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak. Pelaksanaan pembinaan, pengembangan, dan perlindungan anak diperlukan peran masyarakat baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga swadaya,masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan organisasi sosial.27

Albert Bandura pelopor teori belajar sosial mengungkapkan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengamati dan meniru suatu perilaku, maka jika hukuman dibalut dengan kekerasan akan melahirkan kekerasan juga.28 Hukuman dalam psikologi belajar Skinner adalah proses modifikasi perilaku, dimana ahan dan hadiah adalah penguatan. Misalnya pada perilaku berisik di kelas seperti pada kasus di atas, pada teori modifikasi perilaku ada 2 pilihan untuk menghilangkan perilaku berisik di kelas. Pertama menggunakan dak berisik di kelas dapat hadiah atau nilai tambah. Kedua menggunakan hukuman, anak yang berisik di kelas mendapat hukuman yang disesuaikan dengan usia anak, seperti hukuman tidak teguran, fisik seperti diungkapkan Dorpat bahwa hukuman fisik selain memberikan efek jera dan tidak melakukan kesalahan lagi, juga menimbulkan rasa ketakutan, cemas, rendah diri, malu dan tidak percaya diri.29

tkan dan dilaksanakan di Hukuman fisik dalam pendidikan menurut Boonin seharusnya tidak ada, karena esensi dari mendidik adalah mengajari maka kesalahan yang diperbuat anak kata atau kalimat, tidak dengan hukuman fisik. Akan tetapi Skinner menyatakan bahwa dalam mendidik terdapat penguatan dan pelemahan agar tujuan dari mendidik dapat tercapai. Anak akan mudah mengabaikan teguran jika tidak ada pelaksanaan hukuman dan tidak

, (Jakarta : Rajawali

(9)

Henry mengamati perdebatan ini dengan mengambil kesimpulan bahwa hukuman tetap harus ada dalam pendidikan, akan tetapi harus ada batasan jelas penerapanya. Sehingga ia merancang pelaksanaan hukuman dengan syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Hukuman tidak mengandung kekerasan

Hukuman dapat diberikan dengan verbal maupun hukuman edukatif, seperti teguran dan hafalan.

2) Hukuman dipadukan dengan Reinforcement

berupa hafalan ditambah dengan hadiah pada pencapaian hafalan yang lebih dari yang diberikan, atau hukuman berupa teguran maka

pelukan atau tatapan hangat.

3) Hukuman harus segera diberlakukan saat seseorang melakukan kes

Pelaksanaan hukuman yang segera memberikan penegasan bahwa perilaku anak salah perlu dihukum, sehingga anak tidak merasa ambigu atau merasa tidak adil apa yang membuatnya dihukum.

Hukuman tidak seharusnya menyakiti namum memberikan perenungan bagi anak dalam menerima hukuman dan menimbulkan kesadaran anak. Sehingga anak tidak memerlukan paksaan atau ancaman dalam menghindari perilaku

yang salah. Hukuman fisik hanya akan menimbulkan trauma, perilaku kasar yang turun temurun dan kehilangan ra

2. Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Ketentuan Hukuman Fisik Bagi Anak Dalam Pendidikan.

a. Analisis Hukum Pidana Islam terhadap Hukuman Fisik Menurut Abdul Qodir Audah

yang ditetapkan oleh allah. Adapun

terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang menunjukkan bahwa kejahatan yang melanggar syariat. Maka

dilarang oleh hukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.

Hukuman dalam Islam digolongkan berdasarkan Alquran dan hadis, maksudnya adalah hukuman terdapat

hukuman memiliki 2 jenis yaitu:

1) Hukuman yang terdapat di dalam Alquran seperti,

diyat. Misalnya, hukuman bagi pencuri, perampok, pezina, pemakan harta bathil, pembunuh, dan lainy

2) Hukuman yang tidak terdapat di dalam Alquran, misalnya seperti hukuman takzir, misalnya

jarimah takzir itu sendiri).

Hukuman bagi pelaku penganiayaan dalam hal ini yaitu hukuman fisik dalam pendidikan, telah diatur dengan jelas di Alquran dan tidak abu

30 Abdul Qadir Audah, Tasyi’ al-

Hukuman untuk pendisiplinan peserta didik d

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Henry mengamati perdebatan ini dengan mengambil kesimpulan bahwa hukuman tetap harus ada dalam pendidikan, akan tetapi harus ada batasan jelas penerapanya. Sehingga ia merancang pelaksanaan hukuman dengan syarat

harus dipenuhi, yaitu:

Hukuman tidak mengandung kekerasan

Hukuman dapat diberikan dengan verbal maupun hukuman edukatif, seperti teguran dan hafalan.

Hukuman dipadukan dengan reinforcement positif

Reinforcement disini merupakan perilaku positif lainya mis

berupa hafalan ditambah dengan hadiah pada pencapaian hafalan yang lebih dari yang diberikan, atau hukuman berupa teguran maka reinforcement

pelukan atau tatapan hangat.

Hukuman harus segera diberlakukan saat seseorang melakukan kes

Pelaksanaan hukuman yang segera memberikan penegasan bahwa perilaku anak salah perlu dihukum, sehingga anak tidak merasa ambigu atau merasa tidak adil apa yang membuatnya dihukum.

Hukuman tidak seharusnya menyakiti namum memberikan perenungan bagi anak dalam menerima hukuman dan menimbulkan kesadaran anak. Sehingga anak tidak memerlukan paksaan atau ancaman dalam menghindari perilaku

yang salah. Hukuman fisik hanya akan menimbulkan trauma, perilaku kasar yang turun temurun dan kehilangan rasa empati.

Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Ketentuan Hukuman Fisik Bagi Anak Analisis Hukum Pidana Islam terhadap Hukuman Fisik

Menurut Abdul Qodir Audah jarimah dalam syariat Islam yaitu larangan yang ditetapkan oleh allah. Adapun larangannya yaitu: apapun perbuatan yang terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang menunjukkan bahwa kejahatan yang melanggar syariat. Maka jarimah yaitu: tindakan yang dilarang oleh hukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.

Hukuman dalam Islam digolongkan berdasarkan Alquran dan hadis, maksudnya adalah hukuman terdapat di dalam Alquran dan hadis. Pada penggolongan ini hukuman memiliki 2 jenis yaitu:

Hukuman yang terdapat di dalam Alquran seperti, qisas, kafarah, hududt . Misalnya, hukuman bagi pencuri, perampok, pezina, pemakan harta

, pembunuh, dan lainya.

Hukuman yang tidak terdapat di dalam Alquran, misalnya seperti hukuman , misalnya jarimah (hudud, qisash/diyat yang tidak selesai, dan

itu sendiri).

Hukuman bagi pelaku penganiayaan dalam hal ini yaitu hukuman fisik dalam pendidikan, telah diatur dengan jelas di Alquran dan tidak abu-abu. Penggolongan

- Jina’i Al-Islami..., 55.

uk pendisiplinan peserta didik dalam ...

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | 9 Henry mengamati perdebatan ini dengan mengambil kesimpulan bahwa hukuman tetap harus ada dalam pendidikan, akan tetapi harus ada batasan jelas penerapanya. Sehingga ia merancang pelaksanaan hukuman dengan syarat-syarat

Hukuman dapat diberikan dengan verbal maupun hukuman edukatif,

disini merupakan perilaku positif lainya misal hukuman berupa hafalan ditambah dengan hadiah pada pencapaian hafalan yang lebih dari reinforcement dapat berupa Hukuman harus segera diberlakukan saat seseorang melakukan kesalahan.

Pelaksanaan hukuman yang segera memberikan penegasan bahwa perilaku anak salah perlu dihukum, sehingga anak tidak merasa ambigu atau Hukuman tidak seharusnya menyakiti namum memberikan perenungan bagi anak dalam menerima hukuman dan menimbulkan kesadaran anak. Sehingga anak tidak memerlukan paksaan atau ancaman dalam menghindari perilaku-perilaku yang salah. Hukuman fisik hanya akan menimbulkan trauma, perilaku kasar yang

Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Ketentuan Hukuman Fisik Bagi Anak

dalam syariat Islam yaitu larangan larangannya yaitu: apapun perbuatan yang terlarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintahkan oleh allah, dan yang telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak sesuai syariat, yang menunjukkan : tindakan yang dilarang oleh hukum, meninggalkan perbuatan yang dilarang atas hukumannya, atau meninggalkan ketetapan hukum atas perbuatan yang dilakukannya.30

Hukuman dalam Islam digolongkan berdasarkan Alquran dan hadis, maksudnya di dalam Alquran dan hadis. Pada penggolongan ini qisas, kafarah, hududt dan . Misalnya, hukuman bagi pencuri, perampok, pezina, pemakan harta Hukuman yang tidak terdapat di dalam Alquran, misalnya seperti hukuman yang tidak selesai, dan jarimah- Hukuman bagi pelaku penganiayaan dalam hal ini yaitu hukuman fisik dalam

abu. Penggolongan

Referensi

Dokumen terkait