• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUMISLAM DAN HAKASASIMANUSIA:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "HUKUMISLAM DAN HAKASASIMANUSIA:"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

Hukum Islam mengatur bahwa perbuatan zina adalah haram dan merupakan dosa besar bagi yang melakukannya. Perkawinan yang diatur dalam UU RI.No.1 Tahun 1974 adalah penyatuan jasmani dan rohani antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan untuk mewujudkan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. UURI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 memuat nilai-nilai moral normatif yaitu penguatan norma dan amalan ibadah pada agama yang dianutnya. Dengan demikian, penafsiran “perempuan bebas memilih” adalah hak untuk memilih laki-laki sebagai pasangan hidup. dengan UU No. 1 Republik Indonesia Tahun 1974.

Pernikahan sesama jenis semata-mata untuk menyalurkan pemuasan nafsu binatang. LGBT dalam hukum Islam baik homoseksual maupun lesbian merupakan perbuatan tercela dan pelanggaran berat yang merugikan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang paling mulia. Di Masanabi Luth, kaum homoseksual langsung dihukum di tanah dan dihujani batu panas dari langit. 8. Dari segi normatif ketentuan UU.RI.No.1 Tahun 1974 jelas bahwa perkawinan dengan prinsip yang dikonstruksikan bersifat monogami, terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan, dengan tujuan terciptanya suatu keluarga dalam rumah tangga untuk membangun dan melahirkan. untuk melegitimasi keturunan Pernikahan yang dilakukan oleh kaum gay dan lesbian pada hakikatnya adalah nyata. Banyak isu-isu kontemporer yang menarik mengenai fenomena LGBT di Indonesia, masing-masing dalam konteks kontroversial, yang keberadaannya masih diperdebatkan dalam Rancangan KUHP di DPR dan pasca putusan Mahkamah Konstitusi tentang uji materi penolakan pernikahan sesama jenis. .

Persepsi terhadap meluasnya makna kejahatan asusila dalam Rancangan KUHP berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap kriminalisasi terhadap perempuan, korban perkosaan, anak, pasangan perkawinan adat, pasangan suami istri, pasangan poligami dan masyarakat pada umumnya. Kekhawatiran tersebut diungkapkan melalui permohonan: “Perluasan makna zina dapat dilihat pada Pasal 284 ayat (1) huruf bacaan”, pidana perzinahan dengan pidana penjara paling lama 5 tahun, laki-laki dan perempuan, masing-masing adalah tidak terikat melalui perkawinan yang sah. Hanya saja, peninjauan kembali gugatan tersebut menunjukkan masyarakat meragukan kinerja DPR. Sebab materi persidangannya masuk dalam rancangan undang-undang baru KUHP, namun hingga kini DPR belum mengesahkannya, meski fenomena LGBT ditolak masyarakat. Berdasarkan fakta tersebut, penting untuk dikaji. dalam penelitian 'Transformasi Sosial Pernikahan Sesama Jenis dalam Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia.

TI NJAUANPUSTAKA

Pada tataran teoritis, pentingnya hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan konflik sosial dalam keberadaan komunitas LGBT, menjadi khazanah dan pengetahuan yang baik dalam menemukan legalitas pelaksanaan perbuatan asusila LGBT pasca putusan tersebut. . untuk uji materiil RUU-KHUP di Mahkamah Konstitusi, konstruksi hukum pernikahan sesama jenis “LGBT” setelah adanya putusan uji materiil RUU-KHUP di Mahkamah Konstitusi. Kesetaraan Pernikahan Australia adalah organisasi nasional yang mewujudkan aspirasi dan suara LGBT Australia. AME didirikan dengan tujuan untuk menjadi kelompok kepentingan sekaligus tekanan terhadap perubahan kebijakan untuk melegalkan pernikahan sesama jenis di Australia. AME sebagai sebuah organisasi telah mampu menjadi wadah untuk mengumpulkan ide-ide dan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara untuk berkumpul menjadi satu, berjuang bersama untuk kesetaraan pernikahan. Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengadopsi resolusi tentang persamaan hak pada tanggal 17 Juni 2011 yang menyatakan bahwa setiap manusia dilahirkan merdeka dan setara serta setiap orang berhak memperoleh hak dan kebebasannya. Unsur tindak pidana dalam Islam ada tiga, yaitu: unsur formil (ar-rukhasy-syar'i), unsur materiil (arrukhal-madi), dan unsur moral (ar-rukhal-adabi). zir. Melihat kenyataan tersebut, LGBT dalam perspektif hukum Islam tidak boleh bertentangan dengan persoalan HAM karena LGBT cenderung menyimpang (penyakit seksual) dan bukan merupakan suatu hal yang melekat. Oleh karena itu, LGBT bisa diobati. Dalam konteks ini, pelanggarnya tentu harus dihukum dengan empat alternatif di atas, namun persoalan kontemporer yang menjadi benang merah dalam penelitian yang akan dikaji tidak menggunakan pendekatan hak asasi manusia dalam konstruksi hukum penolakan nikah.

Nyoman Trisna Aryanata. 2017, Melegalkan Pernikahan Sesama Jenis di Indonesia. Isu pernikahan sesama jenis selalu memunculkan pertanyaan mengenai pandangan agama mengenai hubungan sesama jenis. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa semua perdebatan mengenai keberadaan kaum homoseksual bermula dari pandangan agama mengenai hal tersebut, yang diyakini masyarakat di daerah tersebut berkaitan dengan penafsiran keyakinan agama mengenai homoseksualitas. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, meskipun terdapat keterputusan antara ketentuan yang tertulis dalam UU Perkawinan dengan penegasan status keberadaan kaum homoseksual di Indonesia dalam hukum Indonesia. Segala tindakan yang timbul sebagai reaksi terhadap kaum homoseksual di Indonesia selalu bersumber dari “hukum”, yang diajarkan ajaran agama. Dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Indonesia tentunya akan berdampak pada sistem kekeluargaan yang diterapkan di Indonesia.Keberadaan pasangan gay yang sudah menikah akan berdampak pada dinamika pola asuh dan pemenuhan kebutuhan afektif dalam keluarga secara keseluruhan. terutama untuk anak-anak. kehadiran keluarga dari pasangan sesama jenis. Ini hanya sebagian saja yang perlu diperhatikan mengingat luasnya dimensi yang akan terkena dampak dari penerimaan total tersebut. Melihat seluruh dinamika tersebut, maka persoalan penerimaan pernikahan sesama jenis di Indonesia akan sangat ditentukan oleh dinamika masyarakat Indonesia itu sendiri. Ini bukan sekedar soal menerima atau tidak menerima, tapi bagaimana mereka menyikapi keseluruhan perubahan yang akan terjadi dengan hadirnya kaum homoseksual di masyarakat Indonesia. untuk melegalkan. Lebih lanjut Barnett (1992) menyatakan bahwa teori kontrak merupakan suatu kumpulan hukum yang mengkaji permasalahan konseptual dan normatif dalam hukum kontrak.Pendekatan kontrak yang pertama adalah pendekatan utilitarian, yaitu a.

Kedua, pendekatan teori moral deontologis, pendekatan ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Charles Fried (1992) tentang teori janji kontrak dalam bukunya ContractsPromises. Pada pendekatan kedua ini, teori kontrak lebih banyak membahas apa yang tertulis dalam perjanjian.14 . Lebih lanjut, fenomena perilaku pernikahan sesama jenis penting dilakukan untuk menetapkan aturan yang jelas di masyarakat. Teori yurisprudensi sosiologi seperti yang dikemukakan oleh Roscoe Pound (1874-1864) menitikberatkan pada hukum dan pandangan masyarakat dalam kaitannya dengan hukum. Menurut teori ini, hukum yang baik harus sesuai dengan hukum yang ada dalam masyarakat. Teori hukum sosiologi dengan jelas membedakan hukum positif dengan hukum yang hidup 15.

METODOLOGIPENELI TI AN

1. Pengumpulan bahan pustaka yaitu pengumpulan data dan informasi Data sekunder dikumpulkan dengan cara melakukan studi kepustakaan yaitu dengan mencari dan mengumpulkan sumber hukum Islam, hasil penelitian, jurnal ilmiah, artikel ilmiah dan makalah seminar yang berkaitan dengan pelayanan terpadu. Sesuai dengan sifat penelitian yang menggunakan metode penelitian deskriptif analitis kritis, maka analisis data yang dilakukan peneliti adalah data yang terkumpul diseleksi dan diorganisasikan kemudian direduksi dengan klasifikasi.

HASI LPENELI TI ANDANPEMBAHASAN

Berdasarkan wawancara di Kantor DPRD Kabupaten Soppeng, ditemukan banyak anggota DPRD yang tidak bersedia menjadi informan dalam kajian “Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia: Transformasi Sosial Pernikahan Sesama Jenis”. DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Gerinra, Syahruddin M. Adam merupakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Kelompok Karya, dan Andi Mapparemma merupakan anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi PDI Perjuangan. Ditambah informan lainnya, Hamdan Taufan, dari Kepala Bagian Sumber Daya Manusia. /Subbagian Peralatan TUK DPRD Kabupaten Soppeng. Dalam setahun terakhir, yakni tahun 2017, komunitas LGBT berencana mengadakan kegiatan bersama komunitas LGBT lainnya di Provinsi Sulawesi Selatan, yang rencananya akan bertempat di Kabupaten Soppeng. Namun DPRD Kabupaten Soppeng menolak mengesahkan acara tersebut sehingga menimbulkan keributan baik di kalangan komunitas LGBT maupun di kalangan ulama yang mewakili suara umat Islam di kantor DPRD Kabupaten Soppeng. Terakhir, kelompok masyarakat LGBT datang ke kantor DPRD Kabupaten Soppeng untuk melakukan aksi unjuk rasa menuntut hak-haknya, termasuk menuntut hak kebebasan dalam beraktivitas. Pada saat yang sama, para ulama juga mendatangi kantor DPRD Kabupaten Soppeng dan meminta anggota DPRD tidak memberikan izin penyelenggaraan acara tersebut. Melalui perdebatan yang sangat sengit dan panjang, seluruh aspirasi dikumandangkan di berbagai tempat, sehingga para pembentuk undang-undang mengambil sikap untuk tidak menyelenggarakan acara tersebut. memberikan izin untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Muslim Kabupaten-Soppeng menolak keberadaan kelompok LGBT dalam segala perilakunya.

“Kalau dilihat dari segi moral, sudah masuk dalam taraf perilaku yang paling serius, meski tidak bisa dibuktikan secara faktual dan sah bahwa kaum LGBT berhubungan seks dengan sesama jenis. Tapi kalau ditelusuri, perilaku menyimpang tersebut dengan menyelidikinya, kamu akan mengetahui keberadaannya, dan sekarang pun ada orang serumah, ada laki-laki serumah, dan ada yang mengaku sebagai suami istri.” 21. “Ketika seseorang menikah, harus ada pendahulunya, ada saksinya, ada yang mau menikah, dan sebagainya. Jadi keberadaan UURI.No.1 Tahun 1974 tidak menjadi masalah dan masih sangat relevan dengan keadaan saat ini. .” Tindakan ini dianggap hanya siasat orang-orang yang menganggap dirinya modern agar bisa melakukan pernikahan sesama jenis atas nama hak asasi manusia.” 23.

Dengan demikian, Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga yang melaksanakan kekuasaan kehakiman dengan menguji bahan hukum yang diserahkan kepada UUD 1945, artinya keberadaannya berdasarkan UUD 1945 diakui dan lebih dikuatkan melalui UURI.No.24 Tahun 2003. Konstitusi Mahkamah telah mengakui sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, tidak serta merta harus berkoordinasi dengan Mahkamah Agung. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga hukum yang mandiri, berdiri sejajar dengan Mahkamah Agung, sehingga segala putusannya bersifat konstitusional. Pengadilan bukanlah lembaga yang berjenjang seperti halnya pengadilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. Dengan demikian, meskipun Mahkamah Konstitusi menolak atau membatalkan uji materiil rancangan undang-undang pidana, bukan berarti dalam penafsiran putusan Mahkamah Konstitusi melegalkan tindak pidana kesusilaan, perzinahan, pemerkosaan, pencabulan, dan sejenisnya. perkawinan seks yang dibingkai oleh perilaku seksual menyimpang yaitu homoseksualitas, lesbianisme, atau membolehkan kaum trans, namun Mahkamah Konstitusi menjunjung tinggi dan melindungi etika kewenangannya sendiri dengan tidak menguji rancangan undang-undang melainkan undang-undang. Nomor 1 Tahun 1974 yang secara tegas menyatakan bahwa perkawinan hanya boleh dilakukan antara laki-laki dan perempuan, Indonesia masih dianggap sebagai negara konservatif dengan secara langsung tidak menyetujui keberadaan transgender, apalagi mengakui adanya gender ketiga.

Undang-undang Indonesia tidak memiliki aturan khusus bagi komunitas LGBT, Indonesia sebagai negara hukum memberikan klasifikasi yang menghubungkan beberapa penafsiran bahwa LGBT adalah perbuatan asusila, seperti aktivitas seksual menyimpang. Namun jika perilaku LGBT dikaitkan dengan UU RI No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, kegiatan tersebut terdiri dari melakukan aktivitas seksual dengan mayat, binatang, oral seks, anal sex, lesbian, dan homoseksual. Indonesia sedang menuju proses yang panjang. untuk mengakui keberadaan kelompok LGBT setelah Amerika Serikat mengesahkan aturan tersebut. Komisi Hak Asasi Manusia PBB menyimpulkan bahwa ICCPR tidak menghalangi pengakuan pernikahan sesama jenis. Reformasi ini merupakan langkah penting menuju kesetaraan bagi orang-orang dalam hubungan sesama jenis. Pencabutan larangan pernikahan sipil bagi pasangan sesama jenis merupakan langkah selanjutnya menuju kesetaraan legislatif dengan pasangan lawan jenis. 47 Tahun 1945 yang harus diganti dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia Alasannya, perkawinan sesama jenis jelas bertentangan dengan aturan dan norma hukum dalam Pancasila dan UUD 1945.

Adapun kasus lainnya, sebagaimana diungkapkan Syahruddin M. Adam, yang merupakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Kelompok Karya dan Andi Mapparemma merupakan Anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi PDI Perjuangan, sebagai berikut; Pada saat yang sama, para ulama juga mendatangi kantor DPRD Kabupaten Soppeng meminta agar pembentuk undang-undang tidak memberikan izin penyelenggaraan acara tersebut. Melalui perdebatan yang sangat alot dan panjang, seluruh aspirasi didengar di tempat terpisah, sehingga pembentuk undang-undang mengambil sikap. tidak memberikan izin penyelenggaraan kegiatan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Islam di Kabupaten Soppeng menolak keberadaan LGBT dan segala perilaku menyimpang.” 52. Konsep hukum yang meyakini bahwa hukum harus sesuai dengan norma moral Allah SWT sendiri. Hambatan legalisasi pernikahan sesama jenis dalam hukum Indonesia adalah perbuatan yang tidak memenuhi komponen norma ketuhanan.58.

Tindakan ini dianggap hanya siasat orang-orang yang menganggap dirinya modern agar bisa melakukan pernikahan sesama jenis atas nama hak asasi manusia.” 60. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 merupakan ketentuan hukum berdasarkan Pancasila dan diberlakukan dengan mengacu pada ke undang-undang yang lebih tinggi, UUD 1945. Di Indonesia, perkawinan sesama jenis sama sekali bertentangan dengan Pancasila, hukum tertinggi. 61. Nomor 1 Tahun 1974, bahwa perkawinan yang dikehendaki dilakukan oleh laki-laki dan perempuan lawan jenis. seks, sehingga tujuan perkawinan bukan hanya untuk kebutuhan biologis saja melainkan merupakan ikatan suci dan sakral untuk membangun keluarga yang kekal dan bahagia, terciptanya sakinah, mawaddah warahmah.

Sementara implementasi undang-undang baru tersebut masih menunggu proses legal drafting hingga rancangan undang-undang KUHP diundangkan. Di sisi lain, masyarakat Indonesia tidak boleh gusar dengan persoalan hak asasi manusia terkait penerapan hukum pidana LGBT. yang dapat disebut sebagai tindak pidana kesusilaan, anggota yang berjenis kelamin sama dapat dipidana berdasarkan hukum pidana.

BABV

KESI MPULANDANSARAN

Diketahui, penolakan kelima hakim Mahkamah Konstitusi untuk mencabut permohonan pemohon bukan merupakan wilayah substantif rancangan undang-undang KUHP, melainkan merupakan penolakan terhadap status konstitusional rancangan undang-undang tersebut. pada KUHP. Artinya, permohonan yang diajukan masih berupa RUU, sehingga merupakan penyalahgunaan wewenang jika hakim konstitusi menilai materi RUU tersebut karena keliru dan bertentangan dengan penilaiannya sendiri. materil, sementara undang-undang tersebut masih dalam rancangan.Ketidakmampuan hakim konstitusi untuk menguji materi rancangan undang-undang – KUHP bukan berarti menyalahgunakan kekuasaan terhadap kekuasaan sendiri. Segala tindak pidana kesusilaan tetap dapat dipidana atau dikenai sanksi pidana sesuai dengan syarat hukum sebelumnya yang diturunkan dari KUHP, karena dapat dipastikan kenyataannya akan berbeda dengan apa yang diputuskan Mahkamah Konstitusi dalam uji materiil yaitu RUU tersebut. tentang KUHP menjadi undang-undang, kemudian diajukan permohonan peninjauan kembali terhadap undang-undang tersebut. Hubungan perkawinan sesama jenis merupakan hubungan yang tidak mendapat tempat dan tempat di mata masyarakat dan dapat dianggap sebagai tindakan kriminal, sehingga pelaku homoseksual telah berusaha selama puluhan tahun untuk keluar dari kerangka norma yang bersumber dari moralitas. atau agama. Hanya penggunaan hukum pidana Islam dalam sistem hukum Indonesia yang menjadi batu sandungan terhadap hukum bagi pelaku homoseksual dan lesbian. Sebab, aspek legislasi dari undang-undang ini belum dirancang menjadi undang-undang.

Meskipun hukum pidana Islam menetapkan bahwa homoseksual dan lesbian dapat dikenai hukuman mati, namun hukum pidana Islam tidak berdaya untuk menegakkannya. 3. Konstruksi hukum perkawinan sesama jenis yaitu LGBT dapat dikenakan sanksi pidana, sesuai dengan situasi hukum yang ada.Implementasi UU tentang Perilaku Menyimpang Seksual LGBT antara lain: Risdiarto, Danang 2017. Perlindungan Kelompok Minoritas di Indonesia dalam perwujudan keadilan dan persamaan di hadapan hukum, Jurnal RechtVinding: Media Pembangunan Hukum Nasional, Vol.6 No.2.

Risdiarto, Yam., dan Saroh dan Mei Relawati. 2017. Perspektif Pemuda Indonesia Terhadap LGBT, Humanus: Jurnal IlmiahIlmu-ilmuHumaniora, Volume XVINo.1. Tutuko, Pindo 2004. Teori Kontrak Sosial pada Fenomena Pendidikan Arsitektur, Profesionalisme dan Legalitas, Seminar Nasional Arsitektur: Profesionalisme dan Legalitas, Teknik Arsitektur UPN “Veteran” Jawa Timur, Surabaya.

Referensi

Dokumen terkait