• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.-021-032-CES 42 ICCEESD OVERVIEW-INISIASI-PEMBENTUKAN-DESA-WISATA-KARANG-TENGAH Widodo cek-Eng.-vers.-di-sistem id

N/A
N/A
stephanie amanda

Academic year: 2025

Membagikan "3.-021-032-CES 42 ICCEESD OVERVIEW-INISIASI-PEMBENTUKAN-DESA-WISATA-KARANG-TENGAH Widodo cek-Eng.-vers.-di-sistem id"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN UMUM PEMBENTUKAN DESA WISATA KARANG TENGAH, IMOGIRI, BANTUL MELALUI PERAN TEKNOLOGI MANDIRI

DAN BERKELANJUTAN BERBASIS USAHA KECIL DAN MENENGAH BERKELANJUTAN BERBASIS USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM)

Widodo1, Suparna(2), Joni Tri Wibowo3, Isnani4

1,2,3,4 Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Gadjah Mada

1 [email protected]

ABSTRAK

Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu desa yang memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam serta Usaha Kecil Menengah (UKM) yang sangat penting untuk mendukung desa wisata. Namun demikian, beberapa permasalahan yang dihadapi untuk mewujudkan tujuan tersebut, antara lain: (1) belum kawasan wisata utama dan kawasan pendukung, (2) variasi dan potensi UKM yang ada belum didukung oleh kualitas produk yang memadai, dan (3) belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai.

(3) proses produksi dan pemasaran UKM masih dikelola dalam skala rumah tangga. Untuk mencapai tujuan tersebut, aspek inovasi memiliki peran penting. Beberapa inovasi dapat dilakukan melalui beberapa aspek, seperti (1) teknologi proses produksi, (2) pemasaran dan jaringan, dan (3) desain produk.

Prinsip technopreneurship melalui derajat usaha berkelanjutan yang dinamis merupakan pendekatan digunakan untuk menginisiasi pembentukan desa wisata Karang Tengah. Hal ini mengacu pada prinsip perusahaan yang memposisikan teknologi sebagai kekuatan pendorongnya. Dalam hal ini, teknologi berperan dalam mendorong efisiensi dan inovasi produk. Indikator yang dicapai berdasarkan derajatnya karena dapat memenuhi beberapa kondisi, seperti keberlanjutan dinamis dari (1) produk, (2) proses produksi, (3) sumber daya, dan (4) peran strategis.

Hasil luaran yang dicapai adalah (1) ditetapkannya Watu Wedok sebagai destinasi wisata utama yang akan dikembangkan sebagai taman wisata yang dilengkapi dengan bangunan pendukung; (2) tersusunnya peta ekowisata berbasis UKM di Desa Karang Tengah; serta (3) terselenggaranya pelatihan dan pendampingan pemanfaatan dan pemasaran teknologi adaptif.

Kata kunci: Desa Karang Tengah, UKM, desa wisata, technopreneurship, usaha berkelanjutan yang dinamis

PENDAHULUAN

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa (UU Desa, Bab I, Pasal 1:12). Amanat UU Desa tersebut secara jelas menegaskan bahwa desa sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa. Optimalisasi potensi desa dan masyarakatnya, khususnya UMKM, akan mampu mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Keberadaan dan perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia sangat penting dalam perekonomian nasional. Terlebih lagi, UKM telah berperan dalam penyerapan tenaga

Subscribe to DeepL Pro to translate larger documents.

Visit www.DeepL.com/pro for more information.

(2)

peran yang signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi melalui penyediaan lapangan kerja, peningkatan PDB, dan ekspor (Mead dan Liedholm, 1998; Tambunan, 2008).

Krisis ekonomi yang terjadi di masa lalu memberikan hikmah, yaitu munculnya kesadaran dan pengakuan akan pentingnya peran UKM dalam pembangunan nasional di Indonesia (Sulistyastuti, 2004). Karena berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja, sektor UKM memiliki kontribusi yang besar dalam menopang pendapatan rumah tangga, dan pada saat yang sama mengurangi kemiskinan (Mourougane, 2010). Selain itu, UKM juga mengembangkan ekonomi dan komunitas lokal, menciptakan pasar dan inovasi melalui fleksibilitas dan kepekaan mereka serta keterkaitan dinamis antar kegiatan bisnis, dan berkontribusi dalam meningkatkan ekspor non-migas (Urata, 2000).

Di Indonesia, UKM merupakan entitas bisnis yang paling dominan, mewakili 99% bisnis di Indonesia dan 97% lapangan kerja, namun hanya 57% yang memiliki nilai lebih (Berry et al., 2001;

Mourougane, 2012). Terdapat tiga sektor utama UKM di Indonesia, yaitu pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; dan industri manufaktur. Dalam industri manufaktur, kegiatannya terdiri dari manufaktur tradisional sederhana seperti produk kayu, furnitur, tekstil, garmen, alas kaki, makanan dan minuman. Hanya sebagian kecil yang terlibat dalam produksi mesin, peralatan produksi dan komponen otomotif (Tambunan, 2010).

Menurut Sulistyastuti (2004), dalam konteks pembangunan daerah, UKM telah terbukti memberikan banyak kontribusi. Paradigma baru dalam pembangunan ekonomi daerah yang dikenal dengan istilah Kebijakan Daerah Modern diyakini dapat memberikan manfaat yang lebih besar dan berkelanjutan. Argumen utama dalam perspektif ini adalah bahwa modal pembangunan yang ideal seharusnya berasal atau didorong dari dalam daerah yang bersangkutan. Ada dua hal utama yang berperan sebagai modal pembangunan asli, yaitu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan perkembangan teknologi (kemajuan teknologi). UKM berperan dalam pembangunan daerah dengan mengurangi ketimpangan karena memiliki akar dan keterkaitan yang kuat dengan struktur ekonomi lokal (Giaoutzi et al., 1988).

Untuk memberdayakan UKM dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan pasar bebas, perlu dilakukan upaya peningkatan kualitas produk, akses pasar, dan penggunaan teknologi tepat guna agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar dan dirasakan oleh masyarakat sekitar. Beberapa aspek inovasi yang diperlukan bagi UKM dalam mengembangkan inovasinya adalah (1) inovasi dalam teknologi proses produksi, (2) inovasi dalam pemasaran dan jaringan, dan (3) inovasi dalam desain produk. Dengan mengadopsi inovasi teknologi tersebut, diharapkan UKM dapat bersaing di pasar lokal maupun global. Untuk mengimplementasikan inovasi dan teknologi tersebut diperlukan dukungan dari berbagai aspek, antara lain aspek regulasi, kebijakan, keuangan, kapasitas sumber daya manusia, dan teknologi.

Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), diharapkan produk dan jasa baik dari dalam negeri maupun luar negeri dapat dengan mudah bersaing di pasar bebas. Untuk mempertahankan eksistensi produk UKM dan menjadikan era MEA sebagai peluang sekaligus ancaman, maka penguatan kapasitas UKM menjadi salah satu strategi untuk memperkuat UKM agar mampu menembus dan bersaing dengan produk dari luar negeri.

Berdasarkan uraian di atas, Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul sebagai salah satu desa di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi sumber daya alam khususnya perbukitan hijau yang belum dikelola secara optimal oleh masyarakat desa. Potensi lain yang dimiliki oleh desa ini adalah UMKM yang tersebar di wilayah desa Desa Karang Tengah dengan berbagai macam jenis usaha. Potensi yang belum terkelola ini menjadi permasalahan bagi desa bagaimana menjadikan desa ini menjadi desa yang mandiri dengan tema 'Desa Wisata'.

(3)

Tujuan dari kegiatan inisiasi ini berdasarkan permasalahan di atas adalah untuk (1) menentukan area yang akan menjadi zona utama kunjungan wisata dan sekaligus zona pendukung sehingga tercipta sebuah kawasan wisata, (2) memetakan ekowisata berbasis potensi UKM di Desa Karang Tengah, dan (3) membangun kesadaran warga, khususnya UKM, untuk dapat melakukan terobosan guna meningkatkan produktivitas usaha melalui teknologi adaptif dan pemasaran yang lebih luas.

METODE

Inisiasi pembentukan Desa Wisata Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul sesuai dengan tujuan (1) dan (2) di atas, dilakukan dengan metode survei, pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD), pendampingan dan pelatihan. Permasalahan yang muncul dilakukan identifikasi dan pengolahan dengan metode deskriptif analitis, yaitu membuat suatu pemecahan masalah dengan mempertimbangkan argumentasi dari stakeholder Desa Karang Tengah dan dirumuskan secara bersama-sama.

Sementara itu, untuk mencapai tujuan (3) dilakukan dengan pendekatan prinsip technopreneurship untuk mencapai derajat bisnis yang dinamis dan berkelanjutan. Derajat tersebut, menurut Budiarto, dkk. (2015), dinyatakan tercapai jika UKM mampu memenuhi berbagai syarat sebagai berikut:

1)Keberlanjutan Produk yang Dinamis

UKM mampu memasok produk secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang sangat dinamis. Dinamika pasar tidak hanya dari segi kuantitas produk, tetapi juga dari segi variasi, kualitas, dan layanan.

2)Pelestarian Dinamis Proses Produksi

Tuntutan keberlanjutan produk juga berarti tuntutan bagi UKM untuk dapat melakukan proses produksi yang berkelanjutan. Rantai produksi dijamin berkelanjutan mulai dari keterlibatan bahan baku hingga produk akhir. Penjaminan mutu diterapkan agar terjadi peningkatan mutu secara berkelanjutan (sustainable quality improvement).

3)Pelestarian Sumber Daya yang Dinamis

Proses produksi yang mengacu pada target bisnis dilakukan tanpa mengorbankan daya dukung berkelanjutan yang seharusnya disediakan oleh lingkungan. Di sini, aspek penanganan limbah, misalnya, menjadi kata kunci. Orientasi zero waste menjadi koridor pengendalian. Tujuan penanganan sampah menjadi produk sampingan yang memiliki nilai tambah tinggi menjadi salah satu tujuannya. Selain itu, eksploitasi sumber daya alam dilakukan tanpa berlebihan dan selalu dalam batas-batas daya dukung yang berkelanjutan. Selanjutnya, sumber daya manusia yang berperan sebagai penggerak seluruh kegiatan UKM dikembangkan secara optimal.

4)Pelestarian Dinamis Peran Strategis

Dalam batasan-batasan khas dimensi mikro, kecil dan menengah, UKM mampu secara berkelanjutan memainkan peran yang dinamis dalam memperkuat aspek lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat dan desa. Dengan demikian, UKM mampu menjadi salah satu kunci penting bagi ketahanan dan kedaulatan masyarakat, desa, bangsa dan negara.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Secara morfologi, wilayah di Desa Karang Teengah berupa perbukitan atau lebih dikenal dengan sebutan Boekit Hijau dengan pemanfaatannya berupa budidaya jambu metedan dengan budidaya sutera liar yang berada di atas bukit. Wilayah perbukitan yang dikembangkan sebagai kawasan Agrowisata. Kawasan wisata agro atau yang sering disebut dengan sutera agro liar ini

(4)

Desa Karang Tengah menunjukkan potensi alam dengan panorama yang indah di Bukit Hijau. Di atas bukit, wisatawan dapat melihat sungai Oyo di sisi selatan, pantai di sisi barat daya, dan pemandangan kota Yogyakarta di barat laut. Di sana terdapat pelitasan Ki Ambarsari Sekarsari, Pelitasan Watu Wedok, Watu Gedek, WAtu Ambn dan dibangun saung-saung rumah sutera, kandang ternak, tempat parkir, laboratorium. Rangkaian survei dan perumusan hasil ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tim Survey sedang melakukan survey di Bukit Hijau dan berkoordinasi untuk merumuskan hasil survey untuk menjadikan Taman Wisata Watu Wedok sebagai Kampung Karang Tengah.

Berdasarkan hasil perumusan bersama, Desa Karang Tengah mengukuhkan kawasan Bukit Hijau sebagai zona tujuan wisata utama dan diberi nama 'Taman Watu Wedok'. Kawasan tersebut seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 direncanakan meliputi: (1) Bukit hijau BNI merupakan salah satu destinasi dimana wisatawan dapat merasakan berada di kawasan puncak Bogor, (2) Gardu Pandang Watu Wedok akan dapat memanjakan wisatawan dengan pemandangan hijau dari persawahan, hutan, sungai, dan suasana pedesaan. Pemanfaatan gardu pandang ini akan dimaksimalkan dengan dibangunnya café yang bernuansa budaya, (3) Watu Wedok adalah sebuah batu besar yang memiliki belahan di tengahnya dan terdapat air yang airnya tidak akan pernah habis meskipun di musim kemarau panjang. Legenda Sultan Agung saat akan membangun kawasan Makan Raja-Raja di Imogiri sangat melekat di benak masyarakat adat di Desa Tengah Karang, dan akan menjadikan Watu Wedok sebagai zona tujuan wisata utama, (4) Makam Nyai Ambarsari, akan menjadi tempat ziarah spiritual pengikut Sultan Agung, (4) Watu Amben, Amben dalam bahasa Jawa adalah tempat tidur. Konon di sinilah tempat peristirahatan Sultan Agung selama mencari kiriman tanah dari Raja Arab Saudi, (5) Gumuk Brenggo adalah tempat sembahyang yang digunakan Sultan Agung dan para pengikutnya selama beristirahat di daerah tersebut. Hingga saat ini, ketika waktu sholat sering terdengar suara adzan yang berasal dari batu ini, (6) Bukit Garuda adalah sebuah bukit di dataran tinggi sehingga jika berada di tempat ini maka akan terbang layaknya burung garuda, (7) Pendopo Budaya akan menjadi tempat untuk menampilkan berbagai potensi kesenian yang ada di Desa Karangtengah. Pendopo sudah ada namun bisa dibilang kurang layak untuk digunakan sehingga harus diperbaiki lagi dan dibuat agar bisa digunakan sebagai daya tarik yang cocok untuk pariwisata.

Pendopo sudah memiliki fasilitas toilet dan mushola namun sudah tidak berfungsi lagi, (8) Taman herbal, saat ini lahan masih terdapat pohon jambu mete namun kedepannya akan diganti dengan tanaman herbal di sisi kanan dan kirim karena area tengah taman akan digunakan untuk tribun penonton dari acara yang diadakan di Balai Budaya. Selain itu, dari lokasi ini dapat disaksikan matahari terbit dan terbenam. (9) Taman Parkir, yang lokasinya terletak di seberang area outbond, akan dibangun rest area utama yang dilengkapi dengan workshop dan sentra oleh-oleh berbasis UKM, (10) Area outbond, di lokasi ini selain dapat digunakan sebagai tempat outbond juga dapat digunakan sebagai bumi perkemahan baik untuk anak sekolah maupun umum.

(5)

Gambar 2. Peta Lokal Desa Taman Watu Wedok Karang Tengah, dan Peta Jalur Bersepeda 1 dan 2.

Legenda: 1. Bukit Hijau BNI, 2. Bukit Hijau BNI, 2. Gardu Pandang, 3. Watu Wedok, 4. Makam Nyai Ambarsari, 5. Watu Amben, 6. Gumuk Brenggo, 7. Bukit Garuda, 8. Pendopo Budaya, 9.

Taman Herbal, 10. Taman Purbakala, 11. Taman Purbakala. Gardu Istirahat

Sedangkan hasil pemetaan potensi UKM menunjukkan sebaran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Jenis-jenis UKM yang ada di Desa Karang Tengah antara lain batik, makanan, minuman, kerajinan, dan perkebunan. Salah satu contoh UKM yang ada di Desa Karang Tengah adalah peyek dan kripik lekhan. Lekhan merupakan UKM yang memproduksi tempe dan kripik peyek. Proses produksi dan showroom berada dalam satu atap di Dusun Numpukan RT 02/12 Desa Karang Tengah.

Proses pemasaran Lekhan, menurutnya, tidak mengalami banyak kendala karena sudah ada langganan, bahkan ada yang mengambil langsung ke rumah produksinya.

Berdasarkan temuan di lapangan, perhitungan keuangan dilakukan dengan teknik yang sangat sederhana, seperti penentuan harga yang tidak disesuaikan dengan biaya produksi. Bahkan dapat dikatakan harga sejak tahun 2013 masih relatif sama karena adanya kekhawatiran para pemilik untuk kehilangan pasar akibat perubahan harga.

Gambar 3. Peta Ekonomi Karang Tengah berdasarkan Dsitribusi UKM.

Berdasarkan survey juga ditemukan beberapa permasalahan yang harus dikembangkan, antara

(6)

jumlah pekerja yang tidak mencukupi untuk produksi yang lebih besar, dan harga serta pengemasan yang harus disesuaikan dengan segmen pasar, bukan dengan 'harga biasa' atau harga bahan baku.

Gambar 4. Pelatihan Kemampuan Teknologi Adaptif, Pemasaran Online, dan branding produk UKM di Universitas Gadjah Mada.

Gambar 5. Pemasaran Produk UKM secara online melalui UGM Mall dan Promosi Produk melalui Program Desa Binaan dan Pameran Produk UKM di Universitas Gadjah Mada

Permasalahan yang diatasi oleh UKM tersebut dilakukan dengan pendekatan technopreneurship. Menurut Dendi (2009), technopreneur adalah wirausahawan yang mengembangkan dirinya berdasarkan teknologi, ilmu pengetahuan atau seni atau dengan kata lain technopreneurship adalah wirausahawan yang berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan. Bentuk dari technopreneurship, antara lain penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam proses produksi, pemasaran dan proses desain produk. Terkait dengan hal tersebut, melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM menyelenggarakan beberapa kegiatan pelatihan dan pendampingan penguasaan teknologi adaptif dan pengembangan pemasaran bagi para pelaku UKM di Desa Karang Tengah selama kurun waktu 2016 hingga 2017, yang meliputi (1) Pelatihan pemasaran produk UKM

(7)

ekstraktor, (4) Pelatihan UKM Digital dan pembayaran online (paypal), (5) Pelatihan pembuatan branding produk UKM. Pelaksanaan kegiatan pelatihan dan hasil pelatihan berupa contoh branding produk Lekhan dapat dilihat pada Gambar 4 dan pemasaran produk UKM melalui media online di mall UGM dan melalui kegiatan pameran dapat dilihat pada Gambar 5.

KESIMPULAN

Kesimpulan dalam inisiasi pembentukan dan penguatan Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul sebagai Desa Wisata Karang Tengah adalah sebagai berikut:

1. Telah ditetapkan bahwa tujuan utama kunjungan wisatawan ke Desa Karang Tengah adalah objek wisata Watu Wedok, yang akan dikembangkan menjadi sebuah taman wisata dengan berbagai bangunan pendukungnya.

2. Peta ekowisata Desa Karang Tengah berbasis UMKM telah disusun.

3. Pelatihan dan pendampingan telah dilakukan dengan menggunakan teknologi adaptif dan pemasaran.

Mengingat kegiatan ini masih merupakan inisiasi awal, maka perlu dilanjutkan dengan kegiatan yang sifatnya lebih teknis dan disarankan sebagai berikut:

1. Diperlukan pembuatan peta kawasan Taman Wisata Watu Wedok secara detail yang dilengkapi dengan grand design kawasan wisata dan terintegrasi dengan potensi UKM.

2. Diperlukan pendampingan yang lebih intensif untuk melakukan transformasi penguasaan dan penggunaan teknologi adaptif untuk mendukung produktivitas UKM di Desa Karang Tengah.

3. Hal ini diperlukan untuk memberikan kesadaran bagi seluruh elemen masyarakat tentang pelayanan prima bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah Desa Karang Tengah.

REFERENSI

Berry, E. Rodriguez dan H. Sandee, 2001. Dinamika Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia, Buletin Studi Ekonomi Indonesia, Vol. 37, No. 3, hal. 363-384.

Budiarto, R., Saptoadi, H., Ridwan, M., Susilo, D.B., 2015. Pengembangan UMKM antara Konseptual dan Pengalaman Praktis. Gadjah Mada University Press. Hal. 97 - 99.

Dendi, H., 2009, Pembentukan & Pembinaan TECHNOPRENEUR di Sekolah Menengah Kejuruan, Makalah disampaikan dalam Seminar: "Membangun Entrepreneurship Sukses", Kelompok Kerja Sekolah Kejuruan (K3SK-SMK) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS- SMA), Yogyakarta.

Giaoutzi, Maria, Peter Nijkamp dan David J. Storey, 1988. Usaha Kecil dan Menengah dan Pembangunan Daerah, Routledge, London.

Maskun, S, 1994. Pembangunan Masyarakat Desa. Asas, Kebijaksanaan dan Manajemen, Media Widya Mandala, Yogyakarta.

Mead dan Liedholm, 1998. Dinamika Usaha Mikro dan Kecil di Negara-negara Berkembang. World Development, Vol. 26, No. 1, hal. 61-74

Mourougane, A., 2012. Mendorong Pengembangan UKM di Indonesia, OECD Economics

(8)

http://dx.doi.org/10.1787/5k918xk464f7-en.

Sulistyastuti, D.R., 2004. Dinamika Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Analisis Konsentrasi

UKM Regional di Indonesia 1999-2001. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 9 No. 2, Desember 2004 Hal: 143 - 164

Tambunan, T., 2008. Pengembangan UKM di Indonesia dengan Mengacu pada Jaringan, Keinovatifan, Perluasan Pasar dan Kebijakan Pemerintah, dalam Lim, H. (ed.), UKM di Asia dan

Globalisasi, Laporan Proyek Penelitian ERIA 2007-5, hal. 99-131

Tambunan, T., 2010. Perkembangan dan Beberapa Kendala UKM di Indonesia, Lembaga Penelitian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, http://www.rieti.go.jp/jp/events/10100101/pdf/5- 5_tambunan_ paper_en.pdf (diakses pada tanggal 2 Oktober 2017).

Referensi

Dokumen terkait