• Tidak ada hasil yang ditemukan

identifikasi telur cacing nematoda usus pada sayur kol

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "identifikasi telur cacing nematoda usus pada sayur kol"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu infeksi cacing yang paling umum adalah infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah (STH). Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% penduduk dunia terinfeksi cacing nematoda usus. Menurut WHO, cara penularan telur cacing STH ke manusia antara lain: (1) mengonsumsi sayuran mentah yang mengandung telur cacing dan tidak mencucinya hingga bersih, (2) meminum air yang terkontaminasi telur cacing, dan (3)) mengonsumsi telur cacing telur oleh anak-anak setelah penghentian. bermain di tanah yang kotor.

Salah satu jenis sayuran yang sering terkontaminasi cacing yang ditularkan melalui tanah (STH) adalah kubis. Sayuran cruciferous ini memiliki permukaan beralur yang memungkinkan telur cacing masuk dan menetap di dalamnya (Wardhana dkk, 2014). Terkontaminasinya telur cacing nematoda usus yang ditularkan melalui tanah pada sayuran silangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor alam.

Proses penanaman petani yang menggunakan kotoran feses merupakan salah satu faktor penularan telur cacing nematoda usus. Telur tersebut dapat menempel pada sayuran dan tertelan jika sayuran tidak dicuci atau dimasak dengan hati-hati, sehingga kemungkinan besar sayuran tersebut terkontaminasi telur cacing nematoda usus. Berdasarkan hasil penelitian Nugroho dkk pada tahun 2010 terhadap sayuran kubis/kubis (Brassica oleracea) yang dijadikan lalapan di warung makan kaki lima di Kota Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, ditemukan cemaran STH sebesar 38,89%.

Penelitian ini lebih rendah dibandingkan penelitian yang dilakukan Asihka pada tahun 2013 terhadap selada yang dijual oleh pedagang di pasar tradisional dan pasar modern yang masing-masing ditemukan sebesar 40% dan 70%, namun lebih tinggi dibandingkan beberapa penelitian Wardhana dkk pada tahun 2014 yang menemukan sayuran kubis. tidak kurang dari 26,19%. Masih tingginya prevalensi cacingan dan kontaminasi telur cacing yang ditularkan melalui tanah (telur STH) pada sayuran kubis yang dijual di pasar tradisional. Jika hal ini diikuti dengan pengolahan dan pencucian sayuran mentah yang buruk, kemungkinan kontaminasi telur cacing cacing yang ditularkan melalui tanah dapat terjadi. Oleh karena itu penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengidentifikasi telur cacing tular tanah pada kubis (Brassica oleracea), salah satu jenis sayuran yang biasa dikonsumsi masyarakat sebagai lalapan mentah/segar.

Rumusan Masalah

Diagnosis ini ditegakkan jika ditemukan telur cacing pada tinja, ditemukan larva pada dahak, dan cacing dewasa muncul dari mulut, anus, atau hidung. Telur cacing ini berbentuk guci dengan semacam tutup transparan yang menonjol di kedua kutubnya. Telur cacing lebih banyak ditemukan pada infeksi ringan, sedangkan pada infeksi berat kadang hanya ditemukan larva rhabditiform dan filariform (Onggowaluyo, 2002).

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan laboratorium untuk mengetahui hasil pemeriksaan telur cacing nematoda usus pada sayuran kubis di pasar tradisional Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Metode yang digunakan untuk memeriksa telur cacing adalah metode tidak langsung dengan menggunakan teknik sedimentasi. Pada Tabel 4.1.1 di atas, hasil pemeriksaan telur nematoda usus pada 6 sampel kubis (Brassica oleracea) dari 2 daerah asal kubis yang masing-masing dibeli dari pedagang berbeda menunjukkan bahwa seluruh sampel kubis negatif atau tidak ada kontaminasi telur. ditemukan, nematoda usus.

Gambar 2 di atas menunjukkan bahwa tidak ditemukan satupun spesies telur nematoda usus pada seluruh sampel kubis (Brassica oleracea). Penelitian yang dilakukan oleh Dyah Suryani (2012) mengambil sampel kubis di warung makan pecel lele kecamatan Warungbroto kota Yogyakarta diperoleh hasil positif (23,1%) mengandung telur cacing nematoda usus berupa Ascaris lumbricoides dan telur cacing tambang. Jumlah sayuran yang terkontaminasi mencapai (58,3%) dan mengandung telur cacing nematoda usus berupa telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura.

Pencucian sayuran yang buruk memungkinkan telur cacing tambang tetap menempel pada sayuran dan tertelan saat dikonsumsi (CDC, 2013). Metode ini mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi dibandingkan dengan metode sedimentasi sehingga tidak ditemukan telur cacing pada penelitian ini. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan tidak adanya kontaminasi telur cacing tanah (STH) pada sayuran kubis (Brassica oleracea) yang diperjualbelikan di pasar tradisional Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman.

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

  • Manfaat Teoritis
  • Manfaat Praktis

TINJAUAN PUSTAKA

  • Pengertian Nematoda Usus
  • Ascaris lumbricoides
    • Klasifikasi
    • Hospes dan Penyakit
    • Morfologi
    • Siklus Hidup
    • Epidemiologi
    • Patologi dan Gejala Klinis
    • Diagnosis
    • Pencegahan
  • Trichuris trichiura
    • Klasifikasi
    • Hospes dan Penyakit
    • Morfologi
    • Siklus Hidup
    • Epidemiologi
    • Patologi dan Gejala Klinis
    • Diagnosis
    • Pencegahan
  • Hookworm
    • Klasifikasi
    • Hospes dan Penyakit
    • Morfologi
    • Siklus Hidup
    • Epidemiologi
    • Patologi dan Gejala Klinis
    • Diagnosis
    • Pencegahan
  • Strongyloides stercoralis
    • Klasifikasi
    • Hospes dan Penyakit
    • Morfologi
    • Siklus Hidup
    • Epidemiologi
    • Patologi dan Gejala Klinis
    • Diagnosis
    • Pencegahan
  • Sayur Kol
    • Taksonomi Sayur Kol
    • Definisi dan Morfologi Sayur Kol
    • Kol Sabagai Lalapan

Ciri-ciri umum telur yang telah dibuahi adalah: Bentuk lonjong, ukuran: panjang 45-75 μm dan diameter 35-50 μm, mempunyai dinding 3 lapis yaitu lapisan albuminoid (tebal dan kedap air), lapisan hialin (telur -berbentuk, kedap air). b) Telur yang mengandung larva (infektif). Ciri-ciri umum telur yang mengandung larva (infektif) adalah: Telur berembrio dengan larva stadium II, telur matang dan embrio infektif, bentuknya dipertahankan kurang lebih 2-3 minggu. c) Telur yang tidak dibuahi (infertil). Ciri-ciri umum : Bentuk lonjong memanjang, panjang 88-94 μm, diameter 40-45 μm, dinding tertipis, hanya terdapat 2 lapisan pada dinding, yaitu : Lapisan Albumin (tebal dan kedap), Lapisan Hyaline (membentuk telur, kedap air), telur. mengandung butiran bias atau tidak beraturan. d) Telur yang dihias.

Pasien batuk karena iritasi ini dan larva tertelan ke kerongkongan, kemudian ke usus kecil. Pada infeksi berat terutama pada anak dapat terjadi malabsorpsi sehingga memperparah malnutrisi akibat kurangnya makanan untuk cacing dewasa. Cacing dewasa hidup di kolon asendens dan sekum, dan bagian depannya menggigit mukosa usus seperti cambuk (Rosdiana Safar, 2010).

Data penelitian (Setyawan, 2003) menunjukkan bahwa 80% infeksi cacing terjadi karena kontak tanah melalui kuku yang kotor, makan dengan tangan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, hal ini berpotensi tertelannya telur cacing melalui jalur oral. Cacing dewasa hidup dan bertelur di ⅓ bagian atas usus halus, kemudian telur dikeluarkan melalui feses dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari, telur berkembang menjadi larva di tanah yang sesuai suhu dan kelembaban, bentuk pertama larva disebut rhabditiform muncul. Kemudian larva filariform akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit (telapak kaki khususnya Necator americanus) hingga masuk ke aliran darah, kemudian larva akan berpindah ke paru-paru, naik ke trakea, berlanjut ke faring, lalu larva tertelan di saluran pencernaan di usus kecil.

Morfologi cacing dewasa yang hidup bebas terdiri dari cacing betina berukuran 1 mm x 50 mm, dengan esofagus berbentuk lonjong, bulbus esofagus di bagian belakang, ekor lurus meruncing, vulva terletak di dekat bagian tengah tubuh yang merupakan bukaan saluran pencernaan. rahim posterior adalah . Menurut Soedarto, telur Strongyloides stercoralis mirip dengan telur cacing tambang, dinding telurnya tipis dan tembus cahaya. Daur hidup larva rhabditiform muncul melalui feses dan berkembang menjadi larva filariform (perkembangan langsung) atau berkembang menjadi cacing dewasa yang hidup bebas.

Ini kemudian berkembang menjadi cacing dewasa yang hidup bebas atau menjadi larva infektif filariform yang menembus kulit manusia untuk memulai siklus parasit. Siklus parasit filariform ini menembus kulit manusia, menuju paru-paru lalu ke alveoli, naik ke trakea hingga faring, tertelan lalu mencapai usus halus.

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Populasi dan Sampel
    • Populasi
    • Sampel
    • Teknik Pengambilan Sampel
  • Persiapan Penelitian
    • Persiapan Alat
    • Persiapan Bahan
  • Prosedur Penelitian
    • Metode
    • Prosedur Kerja
  • Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Kubis direndam dalam larutan NaOH 0,2% selama 1 jam, kemudian larutan rendaman tersebut disentrifugasi hingga diperoleh endapan atau sedimen. Kubis yang dipotong kecil-kecil direndam dalam gelas kimia yang berisi NaOH 0,2%. Teknik analisis data diperoleh dari hasil pemeriksaan telur cacing gelang yang disajikan dalam bentuk tabel, diolah dengan bantuan uji statistik yaitu uji frekuensi dan hasilnya dibahas dalam bentuk narasi.

Hampir semua jenis vitamin dan zat gizi mikro (terutama mineral) yang penting bagi tubuh terdapat pada sayuran, salah satunya kubis. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan telur nematoda usus pada sampel kubis maupun kangkung. Jika air sungai digunakan untuk mencuci atau mengairi sayuran kubis setelah dipanen, dikhawatirkan telur nematoda usus dapat menempel pada sayuran tersebut.

Peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel yang lebih banyak, menggunakan metode yang berbeda, dan juga mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi kontaminasi telur cacing. Perlu adanya edukasi kepada pedagang dan konsumen sayuran mengenai adanya kontaminasi STH (Soil Transmited Helmints), khususnya pada kubis. Identifikasi penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah pada sayuran kubis dan rujak di pasar tradisional di Bandar Lampung.

Frekuensi sebaran cacing yang ditularkan melalui tanah pada tanaman selada (Lactuca sativa) yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern di Padang J Health Andalas. Hubungan perilaku mencuci dengan kontaminasi telur nematoda pada sayuran silangan (Brassica oleracea) pedagang pecel lele di kampung Warung Boto kota Yogyakarta. Identifikasi Kontaminasi Telur Nematoda Usus Pada Kubis (Brassica oleracea) Warung Makan Lesehan Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta 2010. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (Online), Vol.4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2008) yang menyatakan bahwa sampel kubis dari daerah Simpang Lima menunjukkan hasil positif terhadap Ascaris lumbricoides (13.3. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Indriani (2011) pada sampel kubis. dan selada yang dikumpulkan, dijual di Pasar Modern Kota Bandar Lampung. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi terjadinya kontaminasi telur Soil Transmissible Helminths adalah perilaku mencuci sayuran.

Menggunakan air mengalir lebih baik dibandingkan dengan air yang tergenang, seperti air dalam wadah/bak yang digunakan untuk mencuci sayuran berulang kali. Dalam penelitian yang dilakukan Dyah Suryani (2012) disebutkan bahwa masih banyak masyarakat sekitar perkebunan yang buang air besar di jamban di kolam dekat perkebunan kubis atau sayur kubis. Kolam yang digunakan sebagai wadah penampung feses masyarakat sekitar ini memiliki saluran air yang bermuara ke sungai sehingga dapat mencemari air sungai.

Hasil penelitian ini, penulis tidak menemukan hasil positif pada sampel sayuran kubis yang diperjualbelikan di pasar tradisional Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Faktor lain yang mungkin tidak ditemukannya telur cacing adalah penelitian ini tidak menyelidiki faktor risiko dikalangan pedagang, apakah air yang digunakan untuk mencuci sayur adalah air mengalir atau tidak, penulis juga tidak mengetahui kondisi perkebunan, mengkaji cara petani sayur tumbuh. tanaman, penggunaan pupuk feses pada saat menanam sayuran. Seperti pada penelitian Astuti dan Siti (2008), perilaku mencuci sayur dengan air mengalir sebanyak 3 orang, sedangkan yang tidak menggunakan air mengalir sebanyak 10 orang.

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bahan perendam yang efektif untuk mendeteksi cemaran STH pada sayuran dan perlu diketahui sifat larutan NaOH 0,2% terhadap STH secara lebih mendalam. Investigasi Escherichia coli dan larva cacing pada sayuran segar seperti kemangi (Ocimum basilicum), kubis (Brassica oleracea L. var. capitata.. L.), selada (Lactuca sativa L.), terong (Solanum melongena) yang dijual di pasar tradisional , supermarket dan restoran. Identifikasi telur cacing yang ditularkan melalui tanah pada kubis segar (Brassica oleracea) di warung makan Universitas Lampung.

Tabel  4.1.2  Hasil  Identifikasi  Telur  Cacing  Nematoda  Usus  Pada  Sayur  Kol (Brassica oleracea) Berdasarkan Jenis Spesies cacing  No  Kode
Tabel 4.1.2 Hasil Identifikasi Telur Cacing Nematoda Usus Pada Sayur Kol (Brassica oleracea) Berdasarkan Jenis Spesies cacing No Kode

Pembahsan

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Gambar

Tabel  4.1.1  Hasil  Identifikasi  Telur  Cacing  Nematoda  Usus  Pada  Sayur  Kol (Brassica oleracea) berdasarkan daerah asal sayur kol  Daerah asal
Tabel  4.1.2  Hasil  Identifikasi  Telur  Cacing  Nematoda  Usus  Pada  Sayur  Kol (Brassica oleracea) Berdasarkan Jenis Spesies cacing  No  Kode
Gambar proses sentrifugasi sampel
Gambar pemeriksaan telur cacing pada mikroskop
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hasil identifikasi telur cacing yang ditemukan dalam sampel tinja menunjukkan bahwa kerbau di Kabupaten Sumba Timur terinfeksi oleh dua jenis Trematoda, yaitu Fasciola