JDESS
02.01.2023Elisa Robiatul Ulfah, Nurul Badriyah
Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Indonesia.
Abstract: According to the BPS, female part-time workers became massive during the Covid- 19 pandemic as a result of the pandemic. The home industry has a good role in absorbing female workers, especially during the Covid-19 pandemic. The objective of this research is to identify the effect of time spent for working, wages and level of education on the performance of female part-timers in the home industry post the Covid-19 in Kediri Regency.
The data of this quantitative research was harvested from questionnaires distributed to 154 respondents. The data analysis used is multiple linear regression analysis. The results of this research show that the data is free from classical assumption problems, besides that the variables of working time, wages and level of education have a significant positive effect on female’s part-time performance. The implication of this research is that it is necessary to improve the wage system, and it is necessary to increase the ability of human resources so that performance is better.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA PARUH WAKTU WANITA PADA HOME INDUSTRY PASCA
COVID-19
Keywords: Time spent for working; wages; level of education; performance of female part-timers;
home industry; after the Covid-19 pandemic
Abstrak: Menurut BPS, pekerja paruh waktu wanita menjadi masif saat pandemi Covid-19 sebagai akibat dari adanya pandemi. Industri rumah tangga memiliki peran yang baik dalam penyerapan tenaga kerja wanita khususnya pada saat pandemi Covid-19. Pada Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh curahan waktu bekerja, upah dan tingkat Pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita pada industri rumah tangga di Kabupaten Kediri pasca Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan melalui penyebaran kuisioner kepada 154 sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data bebas dari masalah asumsi klasik, selain itu variabel curahan waktu bekerja, upah dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh signifikan positif terhadap kinerja paruh waktu wanita. Implikasi dari adanya penelitian ini adalah, perlu adanya perbaikan pada sistem pengupahan, serta perlu adanya peningkatan kemampuan sumber daya manusia agar kinerja semakin baik.
Kata kunci: Curahan waktu bekerja; upah; tingkat pendidikan; kinerja paruh waktu wanita;
industri rumah tangga; pasca pandemi Covid-19 DITERIMA
Januari 2023
DIREVISI Januari 2023
DISETUJUI Januari 2023
INDEKSASI Google Scholar
PENULIS
KORESPONDENSI Elisa Robiatul Ulfah
Email:
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, Indonesia
Cite this as:
Ulfah, E. R. & Badriyah, N. 2023.Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Paruh Waktu Wanita Pada Home Industry Pasca Covid-19. Journal of Development Economic and Social Studies. Volume 02, Number 1, Pages 112-123. Universitas Brawijaya. http://dx.doi.org/10.21776/jdess.2023.02.1.10
PENDAHULUAN
Pada awal 2020 terjadi wabah Covid-19 yang menyerang secara global tak terkecuali di Indonesia. Pada 2019, wabah ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Hubei (Hui, 2020).
Pandemi Covid-19 memberikan dampak secara siginifikan pada aspek ekonomi, khususnya pada bidang ketenagakerjaan.
Dampak lain yang diakibatkan oleh Covid-19 yaitu tenaga kerja dikurangi hingga mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), biaya ekspor dan impor naik serta biaya pariwisata turun (Maliszewska et al., 2020) Kondisi tersebut memukul perekonomian Indonesia yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mengalami penuruan selama 2 kuartal berturut- turut dan berakhir jatuh pada jurang resesi.
Sejalan dengan penelitian (Mayninda &
Melati, 2021) yang menyebutkan bahwa terjadi pengurangan karyawan, penururnan omset serta biaya operasional tidak berkurang.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada masa di tengah Covid-19, pekerja paruh waktu mengalami peningkatan, hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Tingkat Pekerja Paruh Waktu Wanita di Indonesia (2019-2020)
No Periode Jenis
Kelamin
Persentase (%) 1. Februari 2019 Laki-Laki 16,25
Perempuan 32,23
2 Agustus 2019 Laki-Laki 16,5
Perempuan 32,25
3 Februari 2020 Laki-Laki 17,31
Perempuan 33,81
4 Agustus 2020 Laki-laki 19,39
Perempuan 36,2
5 Februari 2021 Laki-laki 20,4
Perempuan 37,1
Sumber: BPS, diolah katadata.com, 2021
Berdasarkan tabel di atas, pekerja paruh waktu dari bulan Februari 2019 hingga bulan Februari 2021 mengalami peningkatan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya tenaga kerja yang di-PHK. Sehingga mereka berusaha mencari pekerjaan di sektor lain sebagai upaya untuk tetap bertahan hidup di tengah kondisi krisis.
Subjek dari penelitian ini adalah pekerja paruh waktu wanita yang terserap dalam industri rumah tangga yang tergabung dalam paguyuban kelud mandiri Kabupaten Kediri.
Beberapa industri rumah tangga yang ada di Kabupaten Kediri memasarkan hasil industri dengan bekerjasama dan bergabung dalam Paguyuban Kelud Mandiri. Usaha kecil seperti industri rumah tangga memegang peran penting dalam sektor perekonomian khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Martayadi & Indraswati, 2020).
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan bertujuan dalam memberikan sumbangsih pemikiran pada ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan curahan waktu bekerja, upah dan tingkat pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya. Adanya penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan pemerintah Kabupaten Kediri dalam pengambilan keputusan serta strategi yang dapat membantu para masyarakat dalam melakukan upaya-upaya yang telah direncanakan dalam meningkatkan kinerja paruh waktu wanita pada industri rumah tangga di Kabupaten Kediri pasca Covid-19.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh curahan waktu bekerja, upah dan tingkat pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita pada industri rumah tangga di Kabupaten Kediri pasca Covid-19.
KAJIAN PUSTAKA
Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja Penawaran tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja merupakan dua kekuatan utama yang membentuk pasar tenaga kerja.
Permintaan tenaga kerja dilakukan oleh pihak perusahaan. Pada penelitian ini, permintaan tenaga kerja dilakukan oleh pelaku usaha industri rumah tangga. Sedangkan, penawaran tenaga kerja dilakukan oleh pihak tenaga kerja (Mankiw, 2007).
Perusahaan berupaya meningkatkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang ketika terjadi peningkatan permintaan barang produksi karena permintaan suatu produk berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja (Borjas, 2015).
Istilah penawaran tenaga kerja mengacu pada jumlah tenaga kerja yang disediakan oleh pemilik dengan imbalan upah selama periode waktu yang telah ditentukan. Dalam suatu sektor ekonomi yang merupakan wadah sebagai penyedia tenaga kerja didukung oleh beberapa komponen seperti jumlah penduduk, persentase jumlah orang yang masuk dalam angkatan kerja, dan jumlah jam yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Ketiga komponen tergantung pada ukuran upah pasar (Bellante & Jackson, 1990).
Konjungtur Ekonomi
Kondisi perekonomian tidak selalu stabil, akan ada masanya mengalami pertumbuhan, perlambatan bahkan pertumbuhan negatif. Kondisi tersebut dikenal dengan siklus ekonomi atau konjungtur ekonomi (Rahardja & Manurung, 2008). Teori konjungtur ekonomi ini sebagai akibat dari adanya dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 hingga pada akhirnya menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami penurunan dan pada akhirnya mengalami resesi.
Labor Leisure Choice
Berkaitan dengan pekerja paruh waktu, waktu bekerja dan upah dapat dihubungkakan melalui teori labor leisure choice. Teori ini memiliki asumsi dasar bahwa tenaga kerja memiliki pilihan untuk memaksimalkan tingkat kepuasan mereka, baik untuk memaksimalkan tingkat kepuasan maupun memaksimalkan konsumsi barang atau waktu senggang (leisure) jika dikaitkan dengan upah (Borjas, 2015).
Wage Rigidity Theory
Upah yang diberikan kepada tenaga kerja tidak selalu mengalami kondisi stabil, namun kadang kala mengalami kondisi yang kaku. Hal ini sesuai dengan teori rigiditas upah atau Wage Rigidity. Keynes mengajukan alasan rigiditas upah ini terjadi karena penyesuaian tingkat upah berjalan secara lamban atau kaku.
Keynesianist mengarahkan argumen mereka pada pendekatan real rigidities dimana upah riil tidak dapat disesuaikan untuk menyeimbangkan pasar tenaga kerja (Mankiw, 2007).
Equity Theory
Equity Theory dikembangkan oleh John Stacey Adams, ia menyatakan bahwa seseorang akan puas dengan pekerjaannya selama mereka diperlakukan secara adil (equity), dengan membandingkan dirinya dengan orang lain di satu tempat kerja dan tempat kerja lainnya, ia mengembangkan rasa kesetaraan dan ketidaksetaraan ini (Susetyo et al., 2014).
Human Capital Theory
Teori human capital berangkat dari asumsi dasar bahwa peningkatan pendidikan seseorang memberikan pengaruh terhadap peningkatan pendapatan. Pendidikan berperan penting dalam perekonomian serta membangun pertumbuhan yang berkelanjutan, dengan demikian faktor terpenting dalam pertumbuhan sebagai input bagi pendapatan adalah pendidikan (Todaro & C, 2011).
Kerangka Pikir Penelitian
Gambar 1. Kerangka Konseptual Sumber: Ilustrasi Penulis (2022)
Peningkatan Pendapatan Keluarga
Industri Rumah Tangga
Pandemi Covid-19
Tingkat Pendidikan (X3)
Teori Konjungtur Ekonomi (Resesi Ekonomi) (Manurung, 2008)
Kinerja Paruh Waktu Wanita (Y)
“Terjadi resesi ekonomi yang ditandai dengan penurunan aktivitas ekonomi
secara signifikan selama dua kuartal berturut-turut akibat pandemi Covid-19”
Didasari oleh
Upah (X2)
Curahan Waktu Bekerja (X1)
Pekerja Paruh Waktu Wanita
Teori Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja
(Borjas, 2015)
“Ketenagakerjaan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi pada suatu negara” Didasari oleh
Hipotesis
Sesuai pemaparan dari tinjauan teori serta acuan dari penelitian sebelumnya, didapatkan hipotesis pada penelitian ini, diantaranya.
H1:Variabel curahan waktu bekerja berpengaruh positif terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
H2: Variabel upah berpengaruh positif terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
H3:Variabel Tingkat Pendidikan berpengaruh positif terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan model data cross section. Kemudian, untuk mengetahui besaran pengaruh dalam tujuan penelitian digunakan analisis regresi linier berganda. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kediri selama 1 bulan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah industri rumah tangga yang tergabung dalam paguyuban Kelud Mandiri Kabupaten Kediri sebanyak 250 industri. Berdasarkan populasi tersebut, diambil sampel penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling, merupakan proses penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2015).
Berdasarkan metode tersebut, diambil sampel penelitian sebanyak 154 orang, dengan menggunakan rumus penghitungam sampel Slovin.
Tujuan dari adanya analisis regresi linier berganda ialah dapat digunakan untuk menaksir variabel bebas dengan mempergunakan informasi dari suatu analisis variabel (Morissan, 2012). Transformasi ke dalam logaritma natural (Ln) bertujuan untuk menghitung nilai elastisitas dari variabel independen terhadap variabel dependen, sehingga persamaan tersebut dapat dituliskan ke dalam model sebagai berikut.
LnY = Lnβ0+ β1LnX1+ β2LnX2+ β3LnX3+ μ Berdasarkan persamaan di atas, dapat diketahui bahwa Y adalah variabel dependen, X adalah variabel independen, β adalah koefisien regresi, dan µ adalah error term.
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia adalah ukuran seberapa produktif seseorang di tempat kerja. Berikut ini disajikan diagram mengenai karakteristik responden menurut usia:
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase
<30 21 14%
31-40 48 31%
41-50
>50
60 25
39%
16%
Sumber: Pengolahan Data Primer (2022)
Tabel di atas memperlihatkan bahwa berdasarkan usia, dari 154 responden, 14 persen atau 21 responden berusia <30 tahun, 31 persen atau 48 orang berusia 31-40 tahun, 39 persen atau 60 orang berusia 40-49 tahun dan 16 persen atau 25 responden berusia >50 tahun.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dalam penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Persentase
SD 30 12%
SMP 9 6%
SMA S1
113 2
73%
1%
Sumber: Pengolahan Data Primer (2022)
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 154 responden, 12 persen mempunyai latar belakang pendidikan SD, sebesar 6 persen responden memiliki latar belakang pendidikan SMP, dan berlatar belakang pendidikan SMA sebesar 12 persen responden, dan hanya 1 persen responden yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi Sarjana/Diploma.
Karakteristik Responden Berdasarkan Upah per Bulan
Karakteristik responden menurut upah per bulan dalam penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Upah per Bulan
Upah Jumlah Persentase
<1.000.000 59 38%
1.000.000-2.000.000 88 57%
>2.000.000 7 5%
Sumber: Pengolahan Data Primer (2022)
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 154 responden, 38 persen mempunyai upah senilai <1.000.000, 57 persen mempunyai upah senilai 1.000.000-2.000.000, hanya sebesar 5 persen responden yang mempunyai upah senilai >2.000.000.
Karakteristik Responden Berdasarkan Produk yang Dihasilkan
Karakteristik responden menurut produk yang dihasilkan dalam penelitian ini disajikan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Produk yang Dihasilkan
Produk Jumlah Persentase
Makanan 70 45%
Batik 43 28%
Kerajinan Tangan Minuman
20 21
13%
14%
Sumber: Pengolahan Data Primer (2022)
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 154 responden, 45 persen menghasilkan produk makanan, 28 persen menghasilkan produk batik, 13 persen menghasilkan produk kerajinan tangan dan 14 persen menghasilkan produk minuman.
Analisis Data Deskriptif
Analisis Data Deskriptif Variabel Curahan Waktu Bekerja (X1)
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh jika variabel curahan waktu bekerja yang di lihat dari pekerja paruh waktu Wanita di industry rumah tangga Kabupaten Kediri memiliki jumlah minimum sebesar 5 jam dan jumlah maksimumnya sebesar 7 jam.
Sementara itu, rata-rata lama curahan waktu
bekerja sebesar 6 jam, dengan nilai standar deviasi sebesar 0,9600.
Analisis Data Deskriptif Variabel Upah(X2) Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa upah yang didapatkan pekerja paruh waktu wanita di industri rumah tangga Kabupaten Kediri memiliki jumlah minimum sebesar Rp 400.000 dan upah paling tinggi sebesar Rp 2.500.000. Sementara itu, nilai rata- rata sebesar Rp 1.239.675, dengan nilai standar deviasi sebesar 506835.
Analisis Data Deskriptif Variabel Tingkat Pendidikan(X3)
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa Pendidikan terakhir pekerja paruh waktu wanita di industri rumah tangga Kabupaten Kediri memiliki pendidikan terendah adalah SD 6 tahun, tingkat pendidikan tertinggi yang ditempuh pekerja paruh waktu ialah Perguruan Tinggi 16 tahun, rata-rata memiliki Pendidikan terakhir SMP, dengan nilai standar deviasi sebesar 0,8159.
Analisis Data Deskriptif Variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita(Y)
Berdasarkan hasil analisis, terkait kinerja paruh waktu wanita di industri rumah tangga Kabupaten Kediri. Kinerja paruh waktu wanita yang diukur dengan banyaknya produk yang dihasilkan dalam curahan waktu bekerja menggunakan perbandingan dengan harga produk dalam hal tersebut, pekerja mampu menghasilkan pekerjaannya paling tinggi mencapai Rp 1.320.000, dan paling sedikit sebanyak Rp 120.000. Sementara itu, rata-rata sebanyak Rp 566.081, dengan nilai standar deviasi sebesar 293506.
Hasil Analisis Data
Regresi linier berganda digunakan sebagai teknik analisis dalam penelitian ini. Uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas merupakan langkah yang pertama dalam melakukan analisis regresi linier berganda.
Data penelitian tersebut sebelum dilakukan uji analisis, terlebih dahulu harus diubah bentuk menjadi logaritma natural (Ln) lewat transformasi data sehingga, dapat diketahui elastisitas variabel Y dari koefisien regresi.
Setelah itu, data-data yang telah ditransformasi
dalam bentuk Ln harus melalui uji asumsi klasik.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan uji yang bertujuan untuk memastikan bahwa residual pada model regresi linier berganda terdistribusi secara normal. Uji normalitas dalam penelitian ini disajikan pada gambar sebagai berikut.
Gambar 2. Hasil Uji Normalitas Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022)
Berdasarkan gambar di atas, dapat di lihat bahwa titik-titik P-P Plot hasil uji normalitas mendekati garis lurus, sehingga dapat dikatakan bahwa data dalam penelitian ini sudah terdistribusi secara normal.
2. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat perbedaan varian residual dari satu penelitian ke penelitian yang lain. apabila pada grafik scatter plot terlihat titik – titik yang membentuk pola menyebar, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Gambar 3. Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022)
Gambar di atas menunjukkan bahwa, sebaran residunya bersifat acak dan tidak menunjukkan adanya pola tertentu, sehingga variabel gangguan (error) dalam penelitian memiliki varians yang konstan. Oleh karena itu, model regresi dalam penelitian ini dapat disebut sebagai model yang baik.
3. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas menurut (Ghozali, 2011) digunakan untuk menguji apakah model regrasi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen (bebas). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.
Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas Variabel
Collinearity Statistic Tolerance VIF Curahan
Waktu Bekerja
0,961 1,041
Upah 0,987 1,014
Tingkat
Pendidikan 0,971 1,030 Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022)
Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa nilai tolerance dari variabel Curahan Waktu Bekerja sebesar 0,961 > 1, variabel Upah sebesar 0,987 > 1, dan variabel Tingkat Pendidikan sebesar 0,971 > 1 dan nilai VIF variabel Curahan waktu bekerja sebesar 1,041
< 10, Variabel Upah sebesar 1,014 < 10, dan variabel Tingkat Pendidikan sebesar 1,030 <
10. Sehingga dapat dikatakan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi gejala multikolinieritas.
Berdasarkan hasil uji analisis regresi linier berganda, maka diperoleh hasil penelitian pada tabel sebagai berikut.
Tabel 6. Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Variabel Koefisien
C -0,160
LnX1 0,490
LnX2 0,836
LnX3 0,316
Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022) Berdasarkan tabel di atas, dapat diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut.
Ln Y = -0,160 + 0,490 LnX1 + 0,836 LnX2
+ 0,316 LnX3 + µ
Persamaan regresi di atas, dapat diinterpretasikan lebih lanjut sebagai berikut.
1. Konstanta pada model persamaan di atas sebesar -0,160. apabila curahan waktu bekerja, upah, dan tingkat pendidikan bernilai konstan (nol), maka rata-rata kinerja paruh waktu wanita sebesar -0,160.
2. Variabel Curahan Waktu Bekerja (X1) memiliki nilai koefisien positif sebesar 0,490. Artinya, apabila terjadi kenaikan sebesar 1% pada curahan waktu bekerja, maka menyebabkan kenaikan rata-rata kinerja paruh waktu wanita sebesar 49%, cateris paribus.
3. Variabel Upah (X2) mempunyai nilai koefisien positif sebesar 0,836. Artinya, apabila terjadi kenaikan sebesar 1% pada upah, maka menyebabkab kenaikan rata- rata kinerja paruh waktu wanita sebesar 83,6%, cateris paribus.
4. Variabel Tingkat Pendidikan (X3) mempunyai nilai koefisien positif sebesar 0,316. Artinya, apabila terjadi kenaikan sebesar 1% pada upah, maka menyebabkab kenaikan rata-rata kinerja paruh waktu wanita sebesar 31,6%, cateris paribus.
Pengujian Hipotesis Uji t-statistic
Uji t dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah persamaan model regresi yang terbentuk secara parsial variabel Curahan
Waktu Bekerja (X1), Upah (X2), dan Tingkat Pendidikan (X3) berpengaruh signifikan terhadap variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita (Y). Pengujian dilakukan dengan tingkat keyakinan sebesar 95% atau tingkat signifikansi sebesar 5% dan jumlah data sebanyak 154 (N=154), maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1,97549. Berikut disajikan tabel dari hasil Uji t-statistic:
Tabel 7. Hasil Uji t-statistic Variabel t-hitung Sig-hitung
LnX1 2,617 0,010
LnX2 13,425 0,000
LnX3 3,068 0,003
Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022) Berdasarkan tabel hasil uji-t di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Variabel Curahan Waktu Bekerja berpengaruh signifikan terhadap variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung sebesar 2,617 > dari ttabel dan nilai signifikansi sebesar 0,010 < 0,05. Variabel Upah berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita. Hal ini dikarenakan nilai thitung sebesar 13,425 > dari ttabel dan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.
Variabel Tingkat Pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita. Hal ini dikarenakan nilai thitung sebesar 3,068 > dari ttabel dan nilai signifikansi sebesar 0,003 < 0,05.
Uji F (Simultan)
Uji F dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel Curahan Waktu Bekerja (X1), Upah (X2), dan Tingkat Pendidikan (X3) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel Kinerja Paruh Waktu Wanita (Y). Pengujian dilakukan dengan melihat nilai Fhitung apakah lebih besar dari Ftabel. Tingkat signifikansi sebesar 5% dan nilai Ftabel diperoleh sebesar 3,90. Berikut merupakan tabel hasil dari uji F.
Tabel 8. Hasil Uji F Fhitung Ftabel Sig.
Hitung
Tingkat Sig.
69,289 3,90 0,000 0,05 Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022)
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai Fhitung sebesar 69,289 > 3,90 dan nilai signifikan diperoleh sebesar 0,000 < 0,05.
Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja paruh waktu perempuan adalah waktu kerja, upah, dan tingkat pendidikan secara bersamaan. Selain itu, diperoleh juga hasil koefisien determinasi (R2) yang dapat di lihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 9. Hasil R2 Variabel Dependen R-squared Kinerja Paruh Waktu
Wanita
0,579
Sumber: Hasil Output Regresi SPSS 26.0 (2022) Berdasarkan pada tabel di atas menunjukkan bahwa hasil regresi pengaruh curahan waktu bekerja, upah, tingkat pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita sebesar 0,579. Hal ini menunjukkan bahwa variabel jam kerja, upah, dan tingkat pendidikan berpengaruh sebesar 57,9%
terhadap kinerja paruh waktu perempuan, sedangkan faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini memberikan kontribusi sebesar 42,1%.
Pengaruh Curahan Waktu Bekerja Terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
Curahan Waktu Bekerja memiliki dampak yang signifikan positif terhadap kinerja paruh waktu wanita, sebagaimana dihasilkan oleh temuan penelitian yang telah dilakukan. Menurut temuan (Suharto, 2020) pekerja paruh waktu kurang produktif dibandingkan pekerja penuh waktu karena mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk dicurahkan untuk pekerjaannya. Hal tersebut dipandang menjadi beban perekonomian sehingga perlu untuk mengurangi faktor-faktor menjadi pekerja paruh waktu. Namun fakta yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun pekerja paruh waktu yang bekerja pada industri rumah tangga di Kabupaten Kediri sebagian besar memiliki curahan waktu bekerja tidak lebih dari 7 jam per hari mereka tetap mampu memproduksi dan menghasilkan barang sesuai dengan permintaan pasar. Sehingga dengan keterbatasan waktu tersebut pekerja paruh
waktu tetap mampu mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya khususnya pada saat kondisi Covid-19.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja paruh waktu wanita yang terserap dalam industri rumah tangga di Kabupaten Kediri memiliki peran ganda sekaligus, selain bekerja mereka juga mengurus pekerjaan rumah, hal tersebut sejalan dengan penelitian (Yuliati, 2019) yang menghasilkan temuan bahwa dengan curahan waktu bekerja tidak lebih dari 7 jam perhari, selain sebagai pekerja paruh waktu juga mampu mengelola waktu dengan baik yaitu bekerja dan memiliki waktu untuk menjaga suasana rumah tangga.
Pengaruh Upah Terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
Upah memiliki dampak yang signifikan positif terhadap kinerja paruh waktu wanita, menurut analisis regresi linier berganda.
Berdasarkan temuan tersebut, industri rumah tangga di Kabupaten Kediri akan kualitas kinerja pekerja paruh waktu yang lebih baik jika upah naik. Tingkat upah yang lebih tinggi juga akan memudahkan orang untuk mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan.
Dengan upah tersebut diharapkan mampu memenuhi tuntutan kehidupan sehari-hari.
UMK Kabupaten Kediri pada tahun 2022 sebesar Rp 2.118.116 dan upah yang didapatkan oleh pekerja paruh waktu tersebut berada di bawah UMK Kabupaten Kediri. Pada prinsipnya pengupahan yang berada di bawah upah minimum sangat dilarang oleh pemerintah, namun terdapat pengecualian pada sistem pengupahan di sektor industri rumah tangga. Jika dilihat dari jawaban responden, meskipun upah yang didapatkan berada di bawah UMK Kabupaten Kediri, mereka mengaku bahwa upah tersebut masih mencukupi kebutuhan sehari-hari, terlebih pada saat pandemi Covid-19 sangat sulit mencari pekerjaan dan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup. Responden yang mendapatkan upah sebesar >Rp 2.100.000 mengaku bahwa dengan upah tersebut mereka lebih bersemangat dalam bekerja dan lebih bahagia. Sesuai dengan teori rigiditas upah bahwa Keynes (Mankiw, 2007) mengajukan alasan rigiditas upah ini terjadi karena penyesuaian tingkat upah berjalan secara
lamban dan kaku, yang terjadi ketika adanya perbedaan upah antara upah minimum Kabupaten Kediri dengan upah yang diberikan oleh pemilik usaha industri rumah tangga.
Pada hasil penelitian ini responden menyebutkan bahwa upah yang mereka dapatkan sesuai dengan usaha yang dikeluarkan untuk bekerja dan mereka juga merasa baik-baik saja dengan upah yang didapatkan. Hal ini sesuai dengan Equity Theory yang dikembangkan oleh John Stacey Adams, ia menyebutkan bahwa individu akan memiliki kepuasan dalam melakukan pekerjaan selama mereka merasa mendapatkan keadilan (equity) dalam hal ini adalah keadilan akan upah (Susetyo et al., 2014).
Pada penelitian ini didukung oleh penelitian (Hidayat, 2021) yang menunjukkan bahwa pekerja dengan upah yang tinggi, motivasi dan semangat mereka dalam bekerja akan cenderung lebih tinggi hal tersebut akan berpengaruh pada kinerja yang semakin baik.
Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Kinerja Paruh Waktu Wanita
Pekerja paruh waktu wanita yang terserap dalam industri rumah tangga di Kabupaten Kediri sebagian besar adalah lulusan SMA/MA, hal tersebut menunjukkan bahwa pekerja paruh waktu wanita yang terserap dalam industri rumah tangga di Kabupaten Kediri memiliki tingkat pendidikan yang baik, dengan demikian ketika pemilik usaha ingin mengembangkan bisnis melalui platform digital maupun peningkatan kemampuan strategi bisnis, pekerja paruh waktu wanita tersebut dapat dengan mudah dilatih serta mengikuti perkembangan jaman.
Di samping itu, pekerja paruh waktu wanita dengan tingkat pendidikan terakhir SMP/MTs Sederajat mempunyai persentase sebesar yaitu 6% atau berjumlah 9 orang, dan pekerja paruh waktu yang memiliki tingkat pendidikan terakhir SD sebanyak 30 orang atau 19%. Hal tersebut menunjukkan bahwa pekerja paruh waktu yang memiliki pendidikan rendah hanya mampu diserap oleh pasar kerja pada sektor informal dan memiliki kecenderungan untuk bekerja sebagai pekerja paruh waktu dengan hal ini maka perlu adanya peningkatan pendidikan serta keterampilan agar menghasilkan tenaga kerja yang terdidik dan berkualitas.
Wanita yang berpendidikan tinggi umumnya tidak hanya tinggal di rumah mengurus rumah tangga akan tetapi masuk pasar kerja. wanita bekerja karena berbagai alasan, termasuk memiliki keahlian, meningkatkan pendapatan, dan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka (Simanjutak, 1998). Pendidikan memainkan peran besar dalam perekonomian dan menciptakan pertumbuhan jangka panjang.
Sesuai dengan teori human capital, tingkat pendidikan yang tinggi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya kualitas sumber daya pasar tenaga kerja. Tingkat pendidikan mampu meningkatkan kinerja melalui kualitas dan keahlian yang dimiliki oleh seorang pekerja.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian, diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Jika dilihat dari variabel Curahan Waktu Bekerja (X1) berpengaruh terhadap kinerja paruh waktu wanita. Apabila curahan waktu bekerja pekerja paruh waktu wanita bertambah, maka lebih berpeluang untuk meningkatkan kinerja paruh waktu wanita tersebut. Hal ini dikarenakan jam kerja yang lebih lama akan memberikan kesempatan bagi pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan sesuai dengan target, terlebih ketika permintaan pasar sedang mengalami peningkatan.
2. Upah (X2) memiliki pengaruh terhadap kinerja paruh waktu wanita. Hal tersebut dikarenakan upah yang tinggi hakikatnya dapat memberikan dampak pada peningkatan motivasi dan semangat kerja serta meningkatkan kesejahteraan pekerja.
3. Dilihat dari aspek Tingkat Pendidikan (X3), berpengaruh terhadap kinerja paruh waktu wanita. Semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja paruh waktu wanita, maka kinerja mereka juga akan meningkat pula. Hal tersebut dikarenakan pekerja paruh waktu wanita yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, dapat dikatakan memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas, sehingga
mampu berkontribusi dalam memberikan inovasi pada bidang pekerjaannya.
Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, akan menciptakan kinerja yang bagus pula.
Saran
Saran yang diberikan berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut
1. Memaksimalkan Langkah strategi peningkatan kualitas para pekerja paruh waktu Wanita dengan berbagai pihak, terutama dari pihak paguyuban Kelud Mandiri Kabupaten Kediri. Agar tidak hanya berfokus pada kegiatan sosialisasi dan pembinaan dalam satu kali waktu namun, dilakukan secara berkala dan melakukan kegiatan controlling agar tujuan dari kegiatan sosialisasi terlaksana secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
2. Pada hasil penelitian ini terlihat bahwa pekerja paruh waktu Sebagian besar adalah lulusan SMA, sehingga perlu adanya “Pelatihan Digital Marketing”
kepada pekerja agar mereka lebih peka terhadap teknologi, memiliki kemampuan dalam menjangkau pasar lebih luas, meningkatkan kemampuan pekerja dalam dunia digital, dengan demikian akan meningkatkan kinerja pekerja paruh waktu wanita pasca Covid-19.
IMPLIKASI
Implikasi dari adanya temuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Upah yang didapatkan oleh pekerja paruh waktu wanita pada industri rumah tangga di Kabupaten Kediri terbilang cukup rendah. Pemilik usaha memberikan upah kepada pekerja yaitu dengan skema per bulan, namun ada sebuah industri rumah tangga yang menghasilkan komoditas batik tenun yang memberikan upah kepada pekerjanya dengan skema per minggu.
Meskipun pada prinsipnya terdapat pengecualian dalam pengupahan untuk pekerja yang bekerja pada sebuah UMKM atau industri rumah tangga, dan sebagian besar pekerja paruh waktu wanita yang bekerja di industri rumah tangga Kabupaten Kediri mengaku merasa sudah
mencukupi kebutuhan hidup dengan upah yang didapatkan, namun apabila hal tersebut terus terjadi dan tidak terdapat tindakan atau perbaikan dalam sistem pengupahan, maka akan berdampak pada kesejahteraan pekerja, semangat dan motivasi pekerja pun akan menurun dan apabila hal tersebut terjadi, maka akan menyebabkan kinerja pekerja paruh waktu wanita juga akan turun.
2. Kurangnya pengetahuan akan teknologi terutama pada bidang penjualan secara online. Para pekerja paruh waktu ini mengaku masih belum dapat mengoperasikan social media atau e- commerce dengan baik. Hal tersebut juga menjadi kendala bagi sebagian besar pemilik usaha, mereka menyebutkan bahwa pekerjanya belum mampu mengoperasikan e-commerce seperti Shopee ataupun platform sejenisnya, terlebih di saat pandemi Covid-19 masyarakat lebih memilih untuk membeli barang melalui online. Dengan demikian, perlu adanya terobosan dan solusi untuk mengatasi kendala tersebut dengan baik yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada agar industri rumah tangga dapat bersaing dengan baik dengan pesaing yang lain. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas akan menciptakan kinerja yang bagus pula.
KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh curahan waktu bekerja, upah dan tingkat pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal indikator pengukuran kinerja paruh waktu wanita, yang mana aspek kinerja hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan dengan harga produk tanpa mengukur dari aspek efektifitas dan efisiensi kinerja. Sementara itu, tingkat pendidikan hanya diukur dengan menggunakan indikator lama pekerja paruh waktu menempuh pendidikan tanpa mengukur dari indikator pelatihan, penyuluhan, dan pengalaman pekerja. Begitupula dengan upah hanya diukur dengan jumlah upah pekerja paruh waktu per bulan tanpa mengukur dengan menggunakan indicator kesejahteraan pekerja atas upah yang didapatkan.
Oleh karena itu, curahan waktu bekerja, upah dan tingkat pendidikan terhadap kinerja paruh waktu wanita hanya dijelaskan secara terbatas melalui produk yang dihasilkan yang dibandingkan dengan harga produk pada pekerja paruh waktu yang tergabung dalam paguyuban kelud mandiri Kabupaten Kediri pasca Pandemi Covid-19.
DAFTAR PUSTAKA
Bellante, D., & Jackson, M. (1990). Ekonomi ketenagakerjaan = Labor economics, choice in labor markets (Second edi).
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Borjas, G. (2015). Labor Economics (Seventh Ed). McGraw-Hill International.
Hidayat, M. H. (2021). Pengaruh Upah Terhadap Kinerja Buruh Pengrajin Batik Tulis Di Kelurahan Kowel Kabupaten Pamekasan. Masyrif: Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Manajemen, 1(1), 61.
Hui, D. S. (2020). The continuing 2019-nCoV epidemic threat of novel coronaviruses to global health — The latest 2019 novel coronavirus outbreak in Wuhan, China.
ELSEVIER (International Journal of Infection Diseases), 14(4), 264–266.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.i jid.2020.01.009
Maliszewska, M., Mattoo, A., &
Mensbrugghe, V. Der. (2020). The Potential Impact of COVID-19 on GDP and Trade: A Preliminary Assessment.
Policy Research Working Paper, April, 1–24. https://doi.org/10.1596/1813- 9450-9211
Mankiw, N. G. (2007). Makroeekonomi (Keenam). Erlangga.
Martayadi, U., & Indraswati, D. (2020).
Pengaruh Modal Kerja, Nilai Upah, Dan Teknologi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kerajinan Serat Agel Di Desa Salamrejo. Jurnal Ilmiah Hospitality, 9, 287–300.
https://doi.org/10.47492/jih.v9i2.347
Mayninda, Y. P., & Melati, F. C. (2021). The Relationship of the Covid-19 Pandemic to the Small and Medium Micro Business Sectors in Indonesia.
International Journal of Innovative Science and Research Technology (IJSRT), 6(3), 742–745.
Morissan. (2012). Metode Penelitian Survei.
Prenada Media Group.
Rahardja, P., & Manurung, M. (2008). Teori ekonomi makro : suatu pengantar (Fourth edi). Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Simanjutak, P. J. (1998). Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia (Second Edi).
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
ALFABETA.
Susetyo, W. E., Kusumaningtyas, A., &
Tjahjono, H. (2014). Pengaruh Budaya Organisasi Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Dan Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Muamalat Indonesia Divisi Konsumer Area Cabang Surabaya. Jmm17, 1(01).
https://doi.org/10.30996/jmm17.v1i01.3 14
Todaro, M. P., & C, S. S. (2011).
Pembangunan Ekonomi (Edisi 11,).
Erlangga.
Yuliati, U. (2019). ANALISIS PERAN
GANDA WANITA SEBAGAI
PEKERJA PARUH WAKTU PADA
MASYARAKAT PEDESAAN DI
KECAMATAN JUNREJO KOTA
BATU. Jurnal Perempuan Dan Anak,
2(2), 23–34.
https://doi.org/10.22219/jpa.v2i2.9663