• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI ISLAMIC BOARDING SCHOOL POLA MA’HAD DALAM MENINGKATKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA MAN 2 PAMEKASAN

N/A
N/A
Aliza Binti Erwinsyah

Academic year: 2023

Membagikan "IMPLEMENTASI ISLAMIC BOARDING SCHOOL POLA MA’HAD DALAM MENINGKATKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA MAN 2 PAMEKASAN"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

Judul usulan dalam penelitian ini adalah: Penerapan model Pondok Pesantren Ma'had dalam meningkatkan karakter religius siswa MAN 2 Pamekasan. Bagaimana penerapan model Pesantren Ma'had dalam meningkatkan karakter religius siswa MAN 2 Pamekasan. Untuk mengetahui bagaimana penerapan model Pondok Pesantren Ma'had dalam meningkatkan karakter religius siswa MAN 2 Pamekasan.

Karakter Religius a. Pengertian Kerakter

Oleh karena itu, banyak pesantren yang mengadopsi pola pendidikan militer untuk menjaga keselamatan para santrinya. Aturannya sangat lengkap dengan sanksi bagi pelanggarnya. Jaminan keamanan yang diberikan oleh pesantren mulai dari jaminan kesehatan, perlindungan terhadap narkoba, pergaulan bebas, dan jaminan keamanan baik fisik maupun jaminan terhadap pengaruh kejahatan dunia maya.

Implementasi Program Boarding School 5. Faktor Pendukung dan Penghambat

Problematika Boarding School I. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran penelitian lapangan menjadi kunci untuk memperoleh data yang valid dan dapat diandalkan. Kehadiran peneliti di tempat penelitian sangat diperlukan untuk memperoleh data valid yang dapat diperhitungkan kebenarannya. Dalam proses pengumpulan data ini peneliti menggunakan sumber data yang terbagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah seluruh data yang diperoleh dari tempat penelitian berupa observasi, wawancara dan dokumentasi dengan subjek penelitian secara langsung. Metode pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. a) Metode observasi;. Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses pencarian dan penyusunan secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar mudah dipahami dan hasilnya dapat dikomunikasikan kepada orang lain.20.

Dengan demikian data yang direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan tentunya memudahkan peneliti dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya. 22 b) Penyajian data (Penyajian data). Apabila peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan triangulasi, maka peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji keabsahan data. Dalam proses pengujian keabsahan data melalui triangulasi data, peneliti menggunakan penyelidikan melalui hasil observasi (triangulasi metode) dan sumber lain (triangulasi sumber) untuk membandingkan data yang diperoleh.

Jadi tahap analisis data ini terdiri dari pengorganisasian data dan kategori data serta menceritakan atau mendeskripsikan data yang diperoleh dalam bentuk laporan tertulis.

Profil MA Tahfid Al-Amien Prenduan

Pada masa awal, santri yang belajar di TMI Al-Amien Prenduan hanya berasal dari masyarakat sekitar. Setelah sukses berdiri dan berkembangnya Tarbiyatul Muallimin al-Islami dan Tarbiyatul Muallimat al-Islamiyah, pada pertengahan tahun 1991 Al-Amien kembali mendirikan lembaga baru yang bergerak di bidang Tahfiz al-Qur'an yaitu Ma'had Tahfidh AlQur'an. ' seorang (MTA ) Putra. Berbeda dengan Pondok Pesantren Tahfiz al-Qur'an lain yang sangat berkembang pada masanya, Ma'had Tahfidh Al-Qur'an Al-Amien dipadukan dengan pendidikan formal berupa sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan sekolah agama. gelar Master . .

Dalam perkembangannya, Ma'had Tahfidh Al-Qur'an (MTA) juga mendapat respon positif dan antusiasme yang besar dari masyarakat. Maka pada awal tahun 2005, Al-Amien pun mendirikan Ma'had Tahfidh Al-Qur'an (MTA) khusus wanita, yang juga dipadukan dengan sistem pendidikan formal berupa SMP, SMA, dan MA agama. Namun program pembelajaran tahfiz al-Qur'an ini sangat penting karena selain sebagai upaya melestarikan keotentikan Al-Qur'an, saat ini sangat dibutuhkan para penghafal Al-Qur'an baik untuk membantu masyarakat dalam pembuatan masjid. sejahtera dan membantu pemerintah mensukseskan program-program di bidang keagamaan.

Untuk itu Asrama Islam Al-Amien menghadirkan kepada masyarakat Ma'had Tahfidh Al-Qur'an. Sehingga pada akhirnya para huffaẓ Al-Qur'an tidak hanya menjadi masjid yang sejahtera, namun juga berpeluang menjadi ilmuwan besar.

Bentuk Perilaku Penyimpangan yang dilakukan Peserta Didik di Kelas 12 MA Tahfidz Al-Amien Prenduan

Harapannya, lembaga ini dapat melahirkan dan menghasilkan santri atau santriwati yang tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, namun juga menguasai bidang keilmuan formal. Penyimpangan yang dilakukan siswa di MA masih tergolong kecil pak, biasanya di kelas VII masih mengolok-olok teman sebayanya atau mengolok-oloknya, di kelas 12 kenakalannya seperti tidak memakai baju, sepatu tidak sesuai aturan tidak menurut, terkadang ada beberapa anak yang sengaja meminta uang. sampai kelas tujuh dan biasanya meremehkan juniornya sehingga berujung pada perundungan.” 32. Peneliti juga mewawancarai beberapa siswa bernama Muhammad Bima Abdi Maulana dan Berlian Iqbal Habibi dari kelas dua belas.

“Biasanya perilaku menyimpang siswa yang sering terlihat jelas biasanya adalah kurang perhatian di kelas, tidur di kelas, penistaan/bullying terhadap teman sekelas.”33. Perilaku menyimpang yang sering terjadi adalah bullying, menyontek, membolos, pergi ke kantin saat jam pelajaran, membicarakan hal-hal yang kotor. Peran Guru Mata Pelajaran Akhlak Dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Siswa Kelas 12 MA Tahfidz Putra Al-.

MA Tahfidz Putra Al-Amien Prenduan 12 dalam empat bentuk yaitu pelaksanaan program induksi di kelas 12 MA Tahfidz Putra Al-Amien Prenduan, konseling siswa, kegiatan pelatihan siswa dan pemberian hukuman kepada siswa yang nakal.

Penerapan Program Pembiasaan

Pemberian Nasehat

Dengan anjuran untuk menanamkan kedisiplinan pada diri siswa, sehingga pada akhirnya mereka akan melakukan segala sesuatunya dengan disiplin, yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian yang baik. Nasehat atau wawasan positif yang diberikan kepada siswa akan menumbuhkan sikap siswa yang patut diteladani dan dapat mengurangi timbulnya perilaku menyimpang siswa. Larangan pengembangan karakter yang diterapkan di sekolah ini masih terdapat siswa yang tidak mau menerima larangan tersebut.

Kegiatan Latihan

“Di sekolah ini juga terdapat tahfizh Alquran, sehingga siswa yang merasa mempunyai kemampuan dan juga keinginan akan dibimbing oleh guru yang sudah menguasai tahfizh Alquran.”

Tindakan Hukuman

Berkaitan dengan hal tersebut, sanksi diterapkan apabila peserta didik tidak menyikapi nasehat atau peringatan yang diberikan pendidik mengenai perkembangan moralnya. Peran guru Aqidah Akhlak sebagai fasilitator dalam menangani perilaku siswa di kelas 12 MA Tahfidz Al-Amien Prenduan. Sebagai fasilitator, guru hendaknya berusaha mendorong siswa untuk aktif bertanya, menjawab, dan memberikan argumentasi.

Meskipun guru merupakan pelaku utama dalam pembelajaran, namun guru sebagai fasilitator harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif. Upaya pengalihan peran dari fasilitator kepada siswa dapat dilakukan sedikit demi sedikit oleh guru aqidah akhlak. Sikap guru juga tercermin saat wawancara dengan Ustad Busoiri dengan pertanyaan: “Bagaimana tanggapan guru terhadap saran dan pertanyaan siswa di kelas selama ini?”

Guru berusaha mendengarkan dan tidak mendominasi

Karena menurut saya, guru yang baik memulainya dengan mendengarkan siswanya terlebih dahulu. Di sini guru harus bersabar, mendengarkan kebutuhan siswa dan tidak mendominasi proses belajar mengajar di kelas.”38 2) Sabar. Aspek utama dalam pembelajaran keyakinan moral adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa itu sendiri. .

Jika penyampaiannya kurang maksimal karena perilaku guru yang tidak menyenangkan, maka siswa mungkin tidak menerima materi sesuai harapan. Dengan kondisi seperti ini, kita bisa menularkan ilmu yang kita miliki dan mengajak siswa untuk berdiskusi dan memecahkan permasalahan siswa. “Maka dengan cara ini dia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu, sehingga kewibawaan guru terhadap muridnya tetap terjaga.” 39.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita menjumpai guru yang menyukai siswanya yang cakap dan baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan ustad Busoiri dengan pertanyaan apa peran ustad dalam membimbing santri pada saat peperangan.

Bersikap terbuka

Peran Guru Aqidah Akhlak Sebagai Role Model Mengatasi Perilaku Menyimpang Siswa Kelas 12 MA Tahfidz Al-Amien Prenduan. Melihat bentuk-bentuk perilaku menyimpang di atas, peneliti melihat bahwa perilaku menyimpang yang terjadi masih dalam taraf ringan dalam arti masih dapat ditoleransi. Peran Guru Aqidah Akhlak Sebagai Motivator Dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Pada Siswa Kelas 12 MA Tahfidz Al-Amien Prenduan.

Peran Guru Aqidah Akhlak Sebagai Fasilitator Dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Siswa Kelas 12 MA Tahfidz Al-Amien Prenduan.

PEMBAHASAN

Peran Guru Akidah Akhlak sebagai Teladan dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Peserta didik di kelas

Pilar nilai karakter yang digunakan adalah: (1) disiplin (2) sportivitas (3) daya tahan (4) ketekunan (5) kerja keras dan (6) daya saing.

Peran Guru Akidah Akhlak sebagai Motivator dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Peserta didik di kelas 12

Nasehat yang digunakan seperti yang disampaikan oleh Ustad Rizqi selaku guru aqidah akhlak bahwa setelah selesai pembelajaran beliau selalu berusaha memberikan nasehat selama lima atau sepuluh menit dan dengan teguran langsung apabila beliau berbicara dengan bahasa yang kasar atau kotor, pakaian yang diucapkannya kurang baik, atau tidak penuh perhatian selama pelajaran. Peran guru sebagai motivator dalam memberikan kegiatan pelatihan yang baik seperti pelaksanaan ibadah Yaumiyah kepada siswa. Penerapan sanksi ini hanya akan terjadi apabila larangan yang diberikan ternyata masih dilakukan oleh siswa.

Hukuman ini diberikan oleh guru khususnya guru Aqidah Akhlak untuk memberikan motivasi kepada siswa lainnya agar tidak melakukan penyimpangan yang sama seperti yang dilakukan oleh siswa yang melanggar. Hukuman yang diberikan berupa tindakan, peringatan dan perintah yang menghalangi perbuatannya.

Peran Guru Akidah Akhlak sebagai Fasilitator dalam Mengatasi Perilaku Menyimpang Peserta didik di kelas 12

Hal ini juga dirasakan oleh siswa, guru pada saat mengajar mempunyai cara yang efektif untuk mengkondisikan siswa agar pembelajaran berlangsung dengan santai, tidak tegang sebagaimana mestinya. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan senang hati dan tanpa ketegangan, tanpa ada rasa takut atau kewajiban dalam dirinya, sehingga merasa nyaman saat belajar. Sebagai fasilitator, guru juga menjadi mediator dalam hubungan antar siswa, bukan menganggap siswa sebagai botol kosong untuk diisi materi perkuliahan.

Peran guru yang terbuka terlihat pada pengamatan penulis dimana guru berusaha membangun rasa percaya diri siswa dengan mengajak siswa terbuka terhadap kekurangan guru dalam mengajar. Oleh karena itu, sebagai guru keyakinan moral, berusahalah untuk jujur ​​ketika merasa tidak mengetahui sesuatu, agar siswa memahami bahwa setiap orang masih perlu belajar. Di sini siswa diajak belajar dari proses dan interaksi antara guru dengan siswa dan antar siswa.

Upaya guru PAI mengatasi perilaku menyimpang siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Madiun. Hakim, Upaya guru PAI mengatasi perilaku menyimpang siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Madiun, 12.

Referensi

Dokumen terkait