PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana status hukum pembagian harta warisan kepada anak berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI). Bagaimana analisis Kompilasi Hukum Islam (KHI) dari penerapan hukum waris bagi keluarga berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Untuk menjelaskan dalil-dalil penerapan hukum waris bagi keluarga beda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun menurut Ringkasan Hukum Islam (KHI). Secara teoritis, penelitian ini hendaknya memberikan kontribusi terhadap pengetahuan bidang hukum keluarga Islam mengenai praktik pembagian warisan antar agama. Pelajari tentang praktik pembagian warisan bagi ahli waris yang berbeda agama menurut syariah dan hukum normatif di Indonesia.
Praktisi pewarisan dan lembaga hukum Islam seperti Biro Agama dan Pengadilan Agama dapat berperan di masyarakat dengan memberikan solusi bagi masyarakat yang belum mengetahui cara pembagian warisan.
Telaah Pustaka
Sedangkan penelitian yang dikaji peneliti berkaitan dengan kasus pembagian harta waris antar agama yang berbeda yang banyak terjadi di masyarakat ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam (KHI). 12 Novi Helwida, Hukum Waris Beda Agama (Studi Banding Ibnu Taimiyah> dan Wahbah Al-Zuhaili>), Skripsi (Banda Aceh: UIN Ar-Raniry, 2017), 77. Sedangkan penelitian yang diteliti peneliti menggunakan hukum Islam Analisis Kompilasi (KHI) dalam mempelajari pembagian warisan antar agama yang berbeda, yang terbagi rata.
Penelitian Alvi Laila Choyr berjudul “Studi Perbandingan Hak Waris Anak Beda Agama Menurut Hukum Islam dan Hukum Perdata”.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi penelitian untuk menulis disertasi di wilayah Desa Sukorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data mengenai praktek pembagian warisan antar keluarga yang berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Dalam penelitian ini yang menjadi narasumber primer adalah perangkat desa dan keluarga beda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun sebagai objek penelitian pelaksanaan pembagian warisan bagi keluarga beda agama.
Subyek wawancara ini adalah perangkat desa dan keluarga yang berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.
Pengecekan Keabsahan Data
Sistematika Pembahasan
Bab ini berisi tentang analisis Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang status hukum pemberian warisan kepada anak yang berbeda agama dan pelaksanaan hukum waris bagi keluarga berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.
KONSEP HUKUM WARIS BEDA AGAMA DALAM
Kewarisan Beda Agama menurut Para Ulama
Alasan mendasar yang diberikannya adalah yang diberikan oleh Syafi’i yang menolak arti kata “kafir” dengan “kafir harbi” karena menurut Syafi’i keduanya kafir dari ahli kitab dan kafir musyrik, baik kafir harbi maupun kafir musyrik. dhimmi kafir, mereka tetap tidak boleh saling mewarisi antara seorang muslim dan non muslim karena keduanya kafir. Alasan selanjutnya adalah karena tidak ada nash khusus yang menyatakan bahwa seorang muslim dan non muslim dapat saling mewarisi. Sedangkan ulama masa kini yang melarang umat Islam mewarisi non-Muslim antara lain Musthof as-Salabi yang mengatakan bahwa nashnya jelas dan qath'i dengan pendapat awal yaitu Muslim dan non-Muslim tidak saling mewarisi, dan dan sebaliknya.
Larangan lain muncul dari fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang berpandangan bahwa hukum waris Islam tidak memberikan hak waris bersama antara orang yang berbeda agama. Pendapat kedua yang membolehkan pewarisan antara muslim dan non muslim adalah Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Muadz bin Jabal Muawiyah dan orang-orang yang membolehkan kaum muslimin mewarisi orang-orang kafir berkata: “Kami mewarisi mereka dan mereka tidak mewarisi kami sebagaimana kami mengawini wanita mereka dan mereka tidak boleh menikah dengan wanita kami.” Menurut ulama besar ini, hadits “Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi umat Islam” dapat dimaknai dengan tafsir para ahli fiqih madzhab Hanafi mengenai hadits “Seorang muslim tidak boleh dibunuh karena membunuh orang kafir” yaitu dimaksud dengan orang-orang kafir. Dalam hadis ini yang dimaksud adalah orang-orang kafir Harbi, karena orang-orang kafir Harbi berperang melawan umat Islam maka putuslah hubungan keduanya. 13.
Hal ini juga sependapat dengan murid Ibnu Taymi>yah iaitu Ibnu Qayyim yang berpendapat bahawa kesetiaan hati bukanlah syarat atau illat untuk saling mewarisi. Seorang Muslim boleh menolong seorang dhimmi yang kafir, maka tidak salah jika mereka yang mempunyai hubungan kekeluargaan boleh mewarisi harta sesama sendiri.14 Pendapat ulama kontemporari yang membenarkan proses pewarisan antara orang Islam dan bukan Islam ialah Yu>suf Al. -Qard}awi> . Menurut Yu>suf Al-Qard}awi> adalah untuk memberikan bantuan dalam masalah harta pusaka.
Sedangkan perbedaan agama tidak memperbolehkan adanya 'illat' dalam hal ini.15 Dalam hal ini nampaknya fatwa Yusuf Al-Qard'awi lah yang berlaku. Ketika semangat gotong royong secara bebas dimaknai sebagai landasan agar umat Islam dan non-Muslim dapat saling mewarisi.
Wasiat Wajibah
Lubis menyatakan, wasiat wajib adalah wasiat yang dianggap telah dilaksanakan oleh seseorang yang akan meninggal dunia, padahal sebenarnya ia tidak meninggalkan wasiat. Kemudian menurut Eman Suparman, wasiat wajib adalah wasiat yang pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau bergantung pada keinginan atau kemauan orang yang meninggal. Konsep wasiat wajib pertama kali diperkenalkan (dipelopori) oleh pendapat Ulama Mazhab Az-Zahiri yaitu Ibnu Hazm yang berpendapat bahwa penguasa wajib melepaskan sebagian harta warisan seseorang yang meninggal dunia, sebagai warisan dari seseorang yang telah meninggal dunia, walaupun ia tidak mempunyai wasiat terdahulu, atas dasar bahwa penguasa mempunyai kewajiban untuk menjamin hak-hak rakyatnya yang belum terealisasi, termasuk hak seseorang atas warisan yang ditinggalkan. oleh seseorang yang telah meninggal.
Dalam hukum Indonesia, aturan mengenai wasiat wajib hanya tercantum dan dijelaskan dalam KHI. Dalam KHI, wasiat wajib disebutkan hanya dalam satu pasal, yaitu pada pasal 209 alinea pertama dan kedua, yang berbunyi: 21. Harta warisan anak angkat itu dibagi berdasarkan pasal 176 sampai dengan 193 di atas. orang tua angkat yang tidak menerima wasiat, tetapi harus diwariskan sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkat.
Anak angkat yang tidak mendapat wasiat diberikan wasiat wajib sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Secara hukum, wasiat wajib sebagaimana diatur dalam KHI adalah pemberian yang diputuskan oleh penguasa (hakim) kepada seseorang. Dalam KHI, pemberian hak waris berdasarkan wasiat hanya diperuntukkan bagi anak angkat dan orang tua angkat yang tidak menerima hak waris dari orang tua angkatnya atau dari anak angkatnya.
Karena orang tua angkat dan anak angkat sudah lama hidup bersama, maka penguasa yang berwenang memberikan kepada mereka hak waris berdasarkan wasiat wajib. Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan jelas menyebutkan bahwa aturan hukum mengenai penerbitan wasiat wajib di Indonesia hanya diperuntukkan bagi orang tua angkat atau anak angkat dan tidak disamakan dengan orang (saudara) yang tidak berhak menerima warisan karena mereka cacat (beragama lain) atau karena berhijab.
Yurisprudensi Kewarisan Beda Agama
Kasus ini melibatkan perbedaan pendapat. Oleh karena itu, hakim MA mengacu pada UU Perkara MA 172K/Sip/1974 yang pada intinya menyatakan bahwa dalam sengketa waris hukum waris yang digunakan adalah sesuai dengan hukum pewaris. Karena ahli waris dalam hal ini adalah seorang non-Muslim, maka ia tidak mewarisi menurut hukum Islam. Pertimbangan hakim dalam menentukan ahli waris adalah memperoleh wasiat wajib dengan cara menyamakan kedudukan anak non muslim dengan anak putri muslim.
Hakim juga memberikan penafsiran hukum terhadap Pasal 209 IHK yang menyatakan: “Penerapan wasiat wajib 1/3 hanya berlaku bagi orang tua angkat dan anak angkat, tidak berlaku bagi ahli waris yang sah.” Terkait pasal tersebut, hakim sudah menafsirkannya. Artinya, anak kandung non-Muslim tidak termasuk dalam kategori ahli waris yang sah karena perbedaan agama. Namun dalam putusan tersebut, hakim Mahkamah Agung tidak menggunakan sumber hukum yang baku seperti Ringkasan Hukum Islam (KHI) atau peraturan lainnya.
24 Ira Putri Wahyuni, Ahli Waris Beda Agama dalam Putusan Mahkamah Agung Republik, Tesis (Jakarta: Syarif Hidayatullah, 2019), 64. Keadilan di sini adalah keadilan substantif (materiil), dikatakan demikian karena hakim dalam perkara ini memutus untuk mendahulukan hak-hak sosial, Hakim memberikan bagian ahli waris dari harta warisan kepada ahli waris non muslim karena menjamin kelangsungan hidup ahli waris setelah ahli waris meninggal dunia, sehingga ahli waris tidak kekurangan 25. 368/K/AG/1995 yang menyatakan bahwa “hak anak kandung orang murtad sama dengan hak anak kandung yang beragama Islam”, Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung No.
51/K/AG/1999 yang menyatakan bahwa “ahli waris non muslim tetap dapat mewarisi harta warisan dari ahli waris muslim”, dan hukum perkara putusan No. Hakim hanya memperhitungkan faktor sosial karena ahli waris semasa hidupnya telah memberikan manfaat bagi ahli waris.26.
Teori-Teori Pemberlakuan Hukum Islam di Indonesia
Apabila pembagian warisan dalam keluarga yang berbeda agama, hal ini terjadi secara merata tanpa memandang agama ahli warisnya. Sesungguhnya ahli waris tersebut mengetahui bahwa hendaknya mereka membagi harta warisan sesuai dengan syariat Islam. Padahal kedua ahli waris ini sebenarnya mengetahui bahwa pembagian warisan harus menggunakan hukum Islam.
Kasus yang terjadi di Desa Sukorejo, berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 173, seseorang dilarang mewaris karena ahli warisnya non-Muslim atau murtad, hal ini tidak disebutkan dalam pasal tersebut. 3 Maka dalam hal ini tidak menutup kemungkinan ahli waris non-Muslim menerima warisan dari ahli waris Muslim. Dalam hal ini dapat dipahami dari pasal ini bahwa ahli waris adalah seorang muslim dan tidak dihalangi oleh hukum.
Dalam hal ini Kumpulan Hukum Islam (KHI) sebagai pemaparan hukum Islam sebenarnya cocok untuk ahli waris agama. Sebab, perbedaan agama atau kemurtadan ahli waris S non-Muslim menghambat hak warisnya. Hal ini sesuai dengan Pasal 171 c yang menjelaskan bahwa ahli waris adalah umat Islam dan tidak terhalang oleh hukum.
Pembagian secara damai ini diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada Pasal 183 yang berbunyi: “Para ahli waris boleh. (KHI) tidak menjelaskan secara jelas mengenai kewajiban wasiat bagi ahli waris non-Muslim.
Penerapan hukum waris bagi keluarga berbeda agama di Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun merata, terlebih lagi bagi ahli waris non muslim karena alasan.