• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Layanan Inklusi Anak Berkebutuhan Khu

N/A
N/A
Rizky Utomo

Academic year: 2025

Membagikan "Implementasi Layanan Inklusi Anak Berkebutuhan Khu"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

124

Implementasi Layanan Inklusi Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu

1Asep Supena, 2Rossi Iskandar

1 Universitas Negeri Jakarta, 2 Universitas Trilogi Jakarta Email: [email protected]

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana layanan pendidikan inklusi anak berkebutuhan khsuus tunarungu di Sekolah Luar Biasa Negeri Ciamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan Anak tunarungu memiliki hambatan dalam pendengaran akibatnya tunarungu kesulitan dalam berbicara. Anak tunarungu memaksimalkan indera penglihatannya sebagai jalan penyempurna dari kurangnya indera pendengaran.

Mereka memiliki gerakan mata yang cepat, agak beringas. Sisa pendengaran anak tuna rungu dapat dilatih dengan latihan Bina Persepsi Bunyi dan Irama, anak tuna rungu juga dapat melat ih otot-otot berbicaranya sehingga dapat berkomunikasi seperti anak normal lainnya. Pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama merupakan program khusus yang dilakukan sekolah SLBN Ciamis untuk melatih kemampuan anak tunarungu di sekolah. Namun pada saat pandemic covid-19 orang tua menjadi pendamping khusus sekaligus sebagai guru selama dirumah untuk melatih berbicara anaknya menggunakan bahasa sehari hari selain dibantu melalui alat bantu mendengar yang dipandu oleh guru nya.

Kata kunci : Inklusi, anak berkebutuhan khusus, tunarungu

Implementation of Inclusion Services for Children with Deaf Special Needs

1Asep Supena, 2Rossi Iskandar,

1 State University of Jakarta

2 Trilogy University Jakarta [email protected]

Abstact

The purpose of this study is to find out how the inclusion education services of children with disabilities in the Ciamis State School of Foreign Affairs. The method used in this research is qualitative research with descriptive analysis approach. The results showed that deaf children have hearing impairments as a result of deafness difficulty in speaking. Deaf children maximize their sense of vision as a path of perfecting the lack of senses of hearing. They have rapid eye movements, rather resess. The rest of the hearing of deaf children can be trained with the practice of Sound and Rhythm Perception, deaf children can also train their talking muscles so that they can communicate like other normal children. The development of sound and rhythm perception communication is a special program carried out by SLBN Ciamis school to train the abilities of deaf children in school. But during the covid-19 pandemic, parents become special companions as well as teachers at home to train their children to speak the language daily in addition to being assisted through hearing aids guided by their teachers.

Keywords: inclusion, children with special needs, deaf

(2)

125 PENDAHULUAN

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah individu yang kehilangan atau mengalami penurunan fungsi indera yang berdampak terhadap masalah belajar atau masalah tingkah laku, dan yang mempunyai keistimewaan intelektual sehingga membutuhkan layanan pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi yang masih dan sudah dimiliki. Berdasarkan Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus pasal 32 Ayat (1)

“Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa’’.

ABK dengan kelainan fisik yang membutuhkan layanan pendidikan khusus salah satunya adalah anak tunarungu (Handayani et al., 2017). Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pada organ pendengarannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuan mendengar, mulai dari tingkatan yang ringan sampai yang berat sekali yang diklasifikasikan kedalam tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing) (Hernawati, 2007). Senada dengan itu (Heward, 2009;

Zulmiyetri, 2017), menjelaskan bahwa tunarungu (hearing impairment) merupakan salah satu istilah umum yang menunjukkan ketidakmampuan mendengar dari yang

ringan (hard of hearing) sampai yang berat (deaf). Orang yang tuli (a deaf person) adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar sehingga mengalami hambatan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Sedangkan orang yang kurang dengar (a hard of hearing person) adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu dengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan untuk keberhasilan memproses informasi bahasa melalui pendengarannya, artinya apabila orang yang kurang dengar tersebut menggunakan hearing aid, ia masih dapat menangkap pembicaraan melalui pendengarannya.

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang peneliti lakukan di SLB Negeri Ciamis siswa tunarungu di sekolah tersebut sangat bervariatif dan berprestasi baik dalam akademik maupun non akademik. Namun fasilitas layanan perlu diperbaharui dan diganti walaupun kondisi masih bisa digunakan. Selanjutnya, World Health Organization (WHO) yang dikutip melalui (pusdatin.kemkes.go.id) pada tahun 2019 diperkirakan terdapat 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dimana 34 juta diantaranya merupakan anak anak. Sebanyak 360 juta atau sekitar 5,3%

penduduk dunia mengalami ketulian, mayoritasnya orang dalam gangguan pendengaran berada di negara dengan

(3)

126 tingkat pendapatan menengah kebawah.

Sekitar 180 juta penyandang disabilitas tunarungu berasal dari asia tenggara.

Diperkirakan pada tahun 2050 terdapat lebih dari 900 juta orang atau satu dari sepuluh orang di dunia memiliki gangguan pendengaran. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan oleh badan penelitian dan pengembangan kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Tahun 2018, proporsi tuna rungu sejak lahir pada anak umur 24-59 bulan di Indonesia yaitu 0,11%, menurut data sistem informasi manajemen penyandang disabilitas (SIMPD) dari kementrian sosial yang diunduh pada tanggal 8 oktober 2019 di antaranya penyandang disabilitas di Indonesia sebanyak 7,03% merupakan penyandang disabilitas tunarungu.

Keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anaknya sebagai tempat pertama mulai dari anak-anak, remaja hingga menjadi dewasa (Kargin, 2004). Dalam keluarga, orang tua mempunyai peran untuk mengasuh, membimbing, dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Keluarga juga menjadi tempat pertama kali individu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan bagaimana terbentuknya kepribadian pada diri individu (Rahmatika & Apsari, 2020). Pernyataan tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh (Elisabet, 2010) yaitu pembentukan

kepribadian terletak pada bagaimana peran orang tua beserta anggota keluarga yang lain dalam memberikan pengasuhan dan berinteraksi dengan anak anaknya. Setiap orang tua tentunya mengharapkan memiliki anak dengan kondisi fisik dan psikis yang sempurna. Penelitian terdahulu menunjukan bahwa lingkungan keluarga utamanya keterlibatan orang tua sangat penting, dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai partner komunikasi yang baik, bersikap interaktif, responsif, represif, dan apresiatif sesuai dengan tahap perkembangan komunikasi anak. Anak hendaknya diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berinteraksi dan menggunakan bahasa terutama dengan anggota keluarga dan orang-orang terdekat sejak dini. (Alasim, 2019; Bamu et al., 2017; Putri et al., 2019;

Rachmawati, 2018; Rahmah, 2018; Setywan et al., 2017; WIdiana et al., 2019;

Zulmiyetri, 2017).

Anak tunarungu memiliki hambatan dalam pendengaran akibatnya tunarungu kesulitan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi seseorang yang menyandang tuna rungu dengan individu lain yaitu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda- beda di setiap Negara (Rahmah, 2018).

Bahasa Isyarat dipergunakan dalam kehidupan berkomunikasi sehari-hari sesama penderita tuna rungu dan tuna wicara. Salah

(4)

127 satu kesulitannya adalah bagaimana kaum

tunarungu dapat menginformasikan bahasa isyarat yang digunakan dan dapat dipahami oleh orang yang bisa mendengar sehingga penderita tuna rungu dapat berkomunikasi, berinteraksi, bergaul, berteman, dan terjadi dialog dalam pergaulan sehari-hari (Setywan et al., 2017). Hal tersebut sependapat dengan (Hogan & Phillips, 2015; Millar, 2016), bahasa sangat berperan dalam pembentukan identitas dan posisi sosial di masyarakat.

Masalah yang terjadi adalah dalam bahasa isyarat terdapat kosakata yang mendetail dan masih menggunakan buku yang relatif besar dan tebal yang sulit dibawa kemana-mana (Wulandari & Rakhmadi, 2014).

Mencermati hal tersebut, ketidak mampuan seorang tuna rungu berbicara secara normal, bukan karena kerusakan mekanisme bicara tetapi karena tidak dapat mendengar dengan baik, sehingga menyebabkan anak tunarungu mempunyai problem yang menyeluruh dalam berbicara. Anak dengan kelainan pendengaran akan mengalami masalah kerusakan dalam penyesuaian volume suara, kualitas suara yang kurang menyenangkan, artikulasi bicara yang miskin, dan miskin dalam kalimat, ritme bicara (“Model Bimbingan Pengembangan Karir Untuk Siswa Tunarungu,” 2012).

Anak Tunarungu

Anak tuna rungu atau disebut Children With Hearing Impairments dalam kondisinya yang khusus atau luar biasa dengan berbagai kesulitannya mempuyai

dua permasalahan yaitu pada pendengarannya dan hambatan dalam berkomunikasi. Sisa pendengaran anak tuna rungu dapat dilatih dengan latihan Bina Persepsi Bunyi dan Irama, anak tuna rungu juga dapat melatih otot-otot berbicaranya sehingga dapat berkomunikasi seperti anak normal lainnya. Anak tuna rungu adalah anak yang memiliki hambatan pendengaran yang mengakibatkan gangguan komunikasi dan berbahasa. Tuna rungu dapat dibedakan berdasarkan tingkat kerusakan dan terjadinya kerusakan. Ketajaman pendengaran seseorang diukur dan dinyatakan dalam satuan bunyi deci-bell.

Penggunaan satuan bunyi deci-bell adalah untuk membantu dalam interpretasi hasil tes pendengaran dan mengelompokkan dalam jenjangnya. (Wehmeyer et al., 2020) Two terms, deaf and hard of hearing, describe hearing loss. The current regulations implementing Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) define deafness as a hearing impairment that is so severe that the student is impaired in processing linguistic information through hearing (with or without amplifi cation) and the student’s educational performance is adversely affected. Dua istilah, tuli dan kesulitan mendengar, menggambarkan gangguan pendengaran. Peraturan saat ini yang diterapkan IDEA deafness sebagai gangguan pendengaran yang sangat parah sehingga siswa mengalami gangguan dalam memproses informasi linguistik melalui

(5)

128 pendengaran (dengan atau tanpa amplifikasi)

dan kinerja pendidikan siswa sangat terpengaruh. Tunarungu adalah individu yang kehilangan seluruh atau sebagian kemampuan pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal dan walaupun telah diberikan pertolongan dengan alat bantu dengar masih tetap memerlukan pelayanan pendidikan khusus (Putri et al., 2019). Menurut mores dalam (winarsih, 2009) bahwa seseorang dikatakan tuli jika kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 70 deci-bell ISO atau lebih, sehingga ia tidak dapat mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya sendiri, tanpa atau menggunakan alat bantu dengar. Seseorang dikatakan kurang dengar apabila kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 35 deci bell sampai 69 deci bell ISO, sehingga ia mengalami kesulitan untuk mengerti pembicaraan orang lain melalui pendengarannya sendiri, tanpa atau dengan alat bantu dengar.

Pengelompokkan tunarungu ditinjau dari berbagai aspek berdasarkan tingkat keberfungsian pendengaran dalam mendengar bunyi. Sally dalam (Wehmeyer et al., 2020) bahwa To be considered deaf , a person must have a hearing loss of 70 to 90 decibels or greater and be unable to use hearing, even with amplifi cation, as the primary means for developing language.

Lebih lanjut oleh (American Speech Language Hearing association (ASHA)

dalam Educating Exceptional Children (Kirk et al., 2009). A loss of between 15 and 20 dB is considered slight; increasing degrees of loss range from mild (20–40 dBs) to moderate (40–60 dBs) to severe (60–80 dBs) to profound (more than 80 dBs) hearing loss, or, to use a more common term, deafness.

Selanjutnya (Heward, 2009; William L.Heward, Sheila R. Alber-Morgan, 2017), berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, terdapat tiga jenis ketunarunguan atas faktor penyebabnya, yaitu (1) Conductive loss, ketunarunguan tipe konduktif yaitu ketunarunguan yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah yang berfungsi sebagai alat konduksi /menghantar getaran suara menuju telinga bagian dalam.

(2) Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada telinga bagian dalam serta syaraf pendengaran (Nerveus Chochlearis) yang dapat mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (3) Central auditory processing disorder yaitu gangguan pada ocial syaraf pusat proses pendengaran yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinga itu sendiri. Anak yang mengalami gangguan pusat pemprosesan pendengaran ini mungkin memiliki pendengaran yang normal bila diukur dengan audiometer, tetapi mereka sering

(6)

129 mengalami kesulitan memahami apa yang

didengarnya.

Senada dengan itu (Heward, 2009), saat terjadinya ketunarunguan dapat diklasifikasikan yaitu, (1) Pra-Natal karena factor genetik, yaitu anak mengalami gangguan pendengaran (tunarungu) karena faktor keturunan, anak yang mengalami gangguan pendengaran (tunarungu) sejak dalam kandungan karena infeksi/penyakit.

(2). Natal, yaitu anak yang mengalami gangguan pendengaran (tunarungu) akibat proses kelahiran dengan resiko tinggi. (3) Post-natal, yaitu anak yang mengalami gangguan pendengaran (tunarungu) setelah dilahirkan. Klasifikasi tunarungu dilihat dari pandangan umum terbagi menjadi 2 bagian yaitu: (1) Orang tuli adalah seorang yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar sehingga mengalami hambatan dalam bahasa dan komunikasi, baik memakai atau tidak memakai alat bantu dengar. (2) Orang kurang dengar adalah seorang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, akan tetapi masih memiliki sisa pendengaran baik memakai atau tidak memakai alat bantu dengar.

Selanjutnya, penyebab ketunarunguan dapat terjadi sebelum lahir (prenatal), ketika lahir (natal) dan sesudah lahir (post natal).

Banyak para ahli yang mengungkap tentang penyebab ketulian dan ketunarunguan, tentu saja dengan sudut pandang yang berbeda dalam penjabarannya.

Berdasarkan hal itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Bagaimana karakteristik serta layanan pendidikan anak tunarungu. (2) bagaimana pembelajaran anak tunarungu dan iplementasi layanan pendidikan dan pembelajaran anak tunarungu di SLBN 1 Ciamis.

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitan kepustakaan (library research), yaitu serangkaian penelitian yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, atau penelitian yang obyek penelitiannya digali melalui beragam informasi kepustakaan (buku, ensiklopedi, jurnal ilmiah, koran, majalah, dan dokumen). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan filosofis dan pedagogis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh bukan dari pengamatan langsung. Akan tetapi data tersebut diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data interaktif dengan menggunakan model Milles dan Huberman, melalui model analisis data 3 langkah.

(7)

130 Gambar 1. Analisis Milles dan Huberman

Reduksi Data. Peneliti menelaah, menulis dan merangkum ulang data yang telah didapatkan melalui kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi. Reduksi data ini, dilakukan selama penelitian hingga penulisan laporan selesai yang bertujuan untuk menentukam tema serta data yang dibutuhkan oleh peneliti.

Penyajian Data. Setelah melakukan reduksi data, peneliti melakukan penyajian data.

Data yang diperoleh dalam penelitian disajikan dalam bentuk uraian singkat yang bersifat naratif teks. Dengan melakukan penyajian data yang sudah didapatkan, peneliti akan lebih mudah untuk memahami apa yang harus di dalami dan dianalis, memutuskan dan merencanakan langkah selanjutnya. Di dalamnya termasuk tahapan perancangan desain, yang bertujuan merancang dan mengaktualisasikan tahapan sebelumnya dalam wujud desain pengembangan, sehingga lebih bisa dipahami.

Penarikan Kesimpulan. Dalam tahap ini peneliti membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah didapat melalui observasi, diskusi terfokus dan dokumentasi. Berupaya menggambarkan data objek yang belum jelas, menjadi lebih jelas. Dimana

signifikansi peran orang tua dalam melatih bicara anak tunarungu di SLBN Ciamis dirumuskan dengan memberikan tinjauan analisis deskriptif secara mendalam (kualitatif), sehingga menghasilkan berbagai alternatif desain penyelenggaraan pendidikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karaktersitik Anak Tunarungu

Karakteristik anak tunarungu dalam aspek akademik berkenaan dengan keterbatasan dalam kemampuan berbicara dan berbahasa mengakibatkan anak tunarungu cenderung memiliki prestasi yang rendah dalam mata pelajaran yang bersifat verbal dan cenderung sama dalam mata pelajaran non verbal dengan anak seusianya (Suhartini, 2011). Pertumbuhan fisik yang normal ini menyebabkan ketunaan para anak tunarungu tidak dapat terlihat secara langsung. Penampilan anak tunarungu tidak akan jauh berbeda dengan anak normal pada umumnya. Kekurangan mereka baru bisa diketahui setelah mereka diajak berkomunikasi. Apabila dicermati, ternyata terdapat beberapa ciri atau karakteristik yang dimiliki anak tunarungu. Berikut adalah beberapa karakteristik yang dimiliki anak tunarungu.

Pertama, karakteristik dalam aspek bahasa-bicara. Kemampuan berbahasa memerlukan ketajaman pendengaran. Hal ini dikarenakan melalui pendengaran anak dapat meniru berbagai suara di sekitarnya

(8)

131 dan mulai belajar bahasa. Bagi anak

tunarungu, mereka memiliki hambatan pendengaran yang berdampak pada kemampuan berbahasa dan bicara.

Akibatnya, perkembangan bahasa dan bicaranya menjadi berbeda dengan perkembangan bahasa dan bicara anak normal atau pada anak yang mendengar.

Menurut (Wehmeyer et al., 2020). These delays are a direct result of their inability to process auditory information or their lack of exposure to a visually encoded language, penundaan dalam berbahasa karena ketidakmampuan memproses informasi dari pendengarannya. Anak tunarungu memiliki keterbatasan kata dan bahasa sehingga mengalami kesulitan dalam menafsirkan kata-kata yang baginya adalah asing. Anak tunarungu biasanya sulit menafsirkan kata kata yang bersifat abstrak, misalnya: ikhlas, tenggang rasa, dan tanggung jawab. Mereka biasanya akan lebih mudah menafsirkan kata- kata yang dapat diwujudkan dengan benda konkret atau ditangkap langsung oleh alat indera lain.

Kedua, karakteristik aspek emosi- sosial anak tunarungu pada dasarnya juga memiliki keinginan untuk mengetahui dunia di sekitarnya. Namun karena kemampuan mendengarnya terhambat, segala hal yang terjadi di sekelilingnya seperti terkesan tiba- tiba. Hal ini tentu mempengaruhi perkembangan emosi dan sosialnya.

Perasaan bingung dan tidak mengerti mewarnai perkembangan emosinya pada

tahap awal ketika anak tidak/belum menyadari keberadaannya pada dunia yang berbeda dengannya. Penyesuaian emosi- sosial pada anak tunarungu cukup mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan oleh gangguan pendengaran yang dideritanya, sehingga ia merasa sulit dalam mengadakan kontak sosial dengan orang lain. Anak tunarungu mampu melihat semua kejadian, tetapi ia tidak mampu mengikuti dan memahami kejadian itu secara menyeluruh sehingga menimbulkan perkembangan emosi yang tidak stabil, perasaan curiga, dan kurang percaya pada diri sendiri. Keterbatasan dalam mendengar/menggunakan bahasa-bicara dalam mengadakan kontak sosial tadi berdampak pula padanya untuk menarik diri dari lingkungan (terisolir), ditambah orang sekelilingnya kurang kepedulian terhadap keberadaannya. Oleh karena itu ada baiknya bagi anak tunarungu sedari kecil sudah dikenalkan oleh dunia luas yang sarat akan perbedaan. Pada (Wehmeyer et al., 2020).

Four factors affect deaf students’ social and emotional development. First, parent-child interaction plays a fundamental role in every child’s development, Second, peers and teachers play a signifi cant role in a student’s social development, Third, developing a social presence involves awareness of social cues, dari factor tersebut adalah pada Akhirnya, anak-anak dengan gangguan pendengaran mampu merasakan meningkatnya rasa isolasi dan kesepian

(9)

132 ketika mereka menyadari bahwa orang lain

mungkin tidak nyaman berinteraksi dengan mereka (Cole, Cutler, Thobro, & Hass, 2009; Jacobs, 2010; Scheetz, 2004; Wauters

& Knoors, 2007). Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan karakteristik dalam aspek emosi-sosial anak tunarungu antara lain: emosinya tidak stabil, sulit mengekspresikan emosinya, mempunyai perasaan waspada dan curiga, kurang percaya diri, tertarik lebih dahulu kepada benda-benda daripada kepada orang lain, bingung dan susah dalam situasi sosial, bereaksi terhadap pujian dan perhatian, serta cenderung menarik diri dari lingkungan.

Ketiga, karakteristik dalam Aspek Motorik Anak gangguan pendengaran tidak ketinggalan oleh anak normal dalam perkembangan bidang motoric, bahkan tidak jarang anak tunarungu baru dapat dikenali ketika mereka diajak berkomunikasi.

Perkembangan motorik kasar anak tunarungu tidak banyak mengalami hambatan, terlihat otot-otot tubuh mereka cukup kekar, mereka memperlihatkan gerak motorik yang kuat dan lincah (Ministry of Education, 2018). Anak tunarungu memaksimalkan indera penglihatannya sebagai jalan penyempurna dari kurangnya indera pendengaran. Mereka memiliki gerakan mata yang cepat, agak beringas. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia ingin menangkap keadaan yang ada di sekitarnya.

Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan karakteristik dalam aspek

motorik anak tunarungu yaitu: mirip dengan anak normal (tidak tertinggal dari anak normal), tidak tertinggal dalam bidang keterampilan, memiliki gerakan mata yang cepat dan agak beringas, kurang dalam mempertahankan keseimbangan dan kecepatan yang kompleks, serta kurang dalam gerak jenis simultan movement.

Keempat, karakteristik dalam aspek kepribadian anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam merangsang emosi. Ini yang meyebabkan anak tunarungu memiliki pola khusus dalam kepribadiannya. Mereka memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, agresif, mementingkan diri sendiri dan kurang mampu dalam mengontrol diri sendiri (impulsif), kurang kreatif, kurang mempunyai empati, emosinya kurang stabil bahkan memiliki kecemasan yang tinggi (anxiety).

Layanan Pendidikan Siswa Tunarungu The academic achievement of students with hearing loss depends on their individual characteristics as well as the characteristics of their parents, teachers, and school programs. Most of these children have specifi c educational challenges in the areas of reading and writing (Blackorby &

Knokey, 2006; Karchmer & Mitchell, 2003).

Hal ini jelas dikatakan bahwa Prestasi akademik siswa dengan gangguan pendengaran tergantung pada karakteristik individu serta karakteristik orang tua, guru, dan program sekolah mereka. Sebagian

(10)

133 besar anak-anak ini memiliki tantangan

pendidikan, khususnya di bidang membaca dan menulis. Dalam Exceptional Lives (Wehmeyer et al., 2020), disampaikan bahwa, Much research has shown that students with hearing impairments who are in general education classrooms demonstrate higher academic achievement than do comparable students who are in self-contained classrooms or segregated settings (Shaver, Newman, Huang, Yu, &

Knokey, 2011), maknanya adalah Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa siswa dengan gangguan pendengaran yang berada di sekolah kelas umum (dicampur dengan anak normal) menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dari pada siswa yang sebanding yang berada di ruang kelas mandiri atau dikelaskan sesuai kebutuhan khusus.

Ditinjau dari segi pendidikan, menurut (D. Winarsih, 2013; S. Winarsih et al., 2013) secara rinci dapat dikelompokkan pada penjelasan berikut ini: 1) Tuna rungu (slight losses) Ciri anak tuna rungu pada rentangan tersebut adalah kemampuan mendengar lebih baik karena berada pada garis batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran taraf ringan, anak tuna rungu slight losses tidak mengalami kesulitan dalam memahami pembicaraan dan dapat mengikuti pendidikan di sekolah biasa/regular dengan syarat posisi tempat duduknya perlu diperhatikan, terutama harus dekat dengan guru. Kaitannya dengan

kepentingan pendidikan, kelompok ini hanya memerlukan latihan membaca bibir untuk pemahaman percakapan. 2) Tuna rungu (mild losses) Ciri anak tuna rungu pada rentangan tersebut adalah dapat mengerti percakapan biasa pada jarak yang sangat dekat, tidak mengalami kesulitan untuk mengekspresikan isi hatinya, tidak dapat mengucapkan suatu percakapan lemah, kesulitan menangkap isi pembicaraan dari lawan bicaranya, jika berada pada posisi tidak searah dengan pendengarannya (berhadapan), untuk menghindari kesulitan bicara perlu mendapatkan bimbingan yang baik dan intensif, ada kemungkinan dapat mengikuti sekolah biasa, namun untuk kelas-kelas permulaan sebaiknya dimasukkan dalam kelas khusus, disarankan menggunakan alat bantu dengan (hearing aid) untuk menambah ketajaman day ape ndengarannya Kebutuhan layanan pendidikan untuk anak tuna rungu kelompok ini yaitu bibir, latihan pendengaran, latihan bicara, artikulasi serta latihan kosakata. 3) Tuna rungu (moderate losses) Ciri anak kehilangan pendengaran pada rentangan tersebut antara lain dapat mengerti percakapan keras pada jarak dekat, kira-kira dari jarak satu meter, sebab ia kesulitan menangkap percakapan pada jarak normal, sering terjadi salah paham terhadap apa yang dibicarakan lawan bicaranya, mengalami kelainan berbicara, terutama pada huruf konsonan misalnya huruf K atau G sering diucapkan menjadi huruf T dan D, kesulitan

(11)

134 menggunakan Bahasa dengan benar dalam

percakapan, sehingga apa yang diucapkan sulit dipahami lawan bicaranya, perbendaharaan kosakata yang dimiliki sangat terbatas Kebutuhan layanan oendidikan anak tuna rungu kelompok ini meliputi latihan artikulasi, latihan membaca bibir, latihan kosakata, serta perlu menggunakan alat bantu dengar untuk membantu ketajaman pendengarannya. 4) Tuna rungu (severe losses) Ciri anak kehilangan pendengaran pada rentangan tersebut adalah kesulitan membedakan suara, tdak memiliki kesadaran bahwa benda-benda yang ada disekitar kita memiliki getaran suara Kebutuhan layanan pendidikannya, perlu layanan khusus dalam belajar berbicara maupun Bahasa, dengan menggunakan alat bantu dengar, sebab anak yang tergolong pada kategori ini tidak mau berbicara spontan. Oleh karena itu, tunarungu ini disebut juga tuna rungu pendidikan, artinya bahwa mereka benar- benar dididik sesuai dengan kondisi tuna rungu. Pada intensitas suara tertentu mereka terkadang dapat mendengar suara keras dari jarak dekat, seperti gemuruh pesawat terbang, gonggongan anjing teter mobil, dan sejenisnya. Kebutuhan pendidikan anak tuna rungu ini perlu latihan pendengaran intensif, membaca bibir, latihan pembentukan kosakata. 5) Tuna rungu (profoundly losses) ciri-cirinya anak kehilangan pendengaran pada rentangan tersebut adalah hanya dapat mendengar suara keras sekali pada jarak

kira-kira 1 inchi atau sama sekali tidak mendengar. Biasanya tidak mendengar bunyi keras, mungkin juga ada reaksi jika dekat telinga, tuna rungu kelompok ini meskipun menggunakan pengeras suara, tetapi tetap tidak dapat memahami atau menangkap suara jadi mereka menggunakan alat bantu dengar atau tidak dalam belajar bicara atau bahasanya sama saja. Kebutuhan layanan pendidikan untuk anak tuna rungu dalam kelompok ini meliputi membaca bibir, latihan mendengar untuk kesadaran bunyi, latihan membentuk dan membaca ujaran dengan menggunakan metode-metode pengajaran yang khusus, seperti visualisasi yang dibantu dengan segenap kemampuan indranya yang tersisa.

Pembelajaran untuk siswa Tunarungu Anak tuna rungu dapat belajar dilingkungan sekitarnya sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tumbuh menjadi sosok yang mandiri, partisipatif, serta penuh kontribusi didalam masyarakat inklusif. Pendekatan auditori verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah mengajarkan prinsip auditori verbal kepada orang tua dan kepada bayi tuna rungu. Selanjutnya, pendengaran auditori oral merupakan hal mendasar untuk memperoleh kompetensi dalam Bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif merupakan tujuan realistis bagi anak tuna

(12)

135 rungu. Kemampuan ini akan berkembang

dengan optimal dalam lingkungan dimana Bahasa lisan dipergunakan secara ekslusif.

Ligkungan tersebut mencakup rumah (keluarga) dan sekolah.

Anak yang diajari keterampilan mendengarkan terdiri dari tingkat deteksi, diskriminasi, identifikasi dan pemahaman bunyi. Tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan bagi tuna rungu adalah mengembangkan kompetensi Bahasa lisan, bunyi ujaran merupakan stimulus yang utama yang digunakan. Pendapat lain dijelaskan (Wehmeyer et al., 2020) bahwa ada dua teknik pembelajaran yang utama bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran yaitu mendorong identifikasi dini dan selanjutnya amplifikasi atau implan koklea. Pendekatan oral ini menekankan penggunaan suara yang diperkuat untuk mengembangkan bahasa lisan.

Pembelajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi yaitu tahapan fonetik yaitu mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah, tahapan phonologic yaitu mengembangkan keterampilan mamahami kata-kata, frasa, dan kalimat. Pembelajaran Bahasa dilaksanakan secara natural dalam kegiatan- kegiatan yang berpusat pada diri anak. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual.

Adapun memasuki masa sekolah, pengajaran dilaksanakan dalam bentuk kelas inklusif atau khusus bagi tuna rungu di sekolah

regular. Model pembelajaran ini bergantung pada keterampilan social, komunikasi, dan belajar anak. Senada dengan itu cara lain dalam pembelajaran untuk anak tunarungu yaitu 1) bahasa isyarat menggunakan kombinasi gerakan tangan, tubuh, dan wajah untuk menyampaikan kata dan konsep dari pada huruf. 2). Fingerspelling menggunakan representasi tangan untuk masing-masing dua puluh enam huruf alphabet.

Iplementasi layanan pendidikan dan Pembelajaran Siswa Tunarungu di SLBN Ciamis

SLB Negeri Ciamis merupakan sekolah yang berlokasi di Jl. Jendral Sudirman No.191 Kabupaten Ciamis.

Sekolah ini merupakan sekolah rujukan dengan status Negeri dan telah terakreditasi A. Luas lahan sekolah SLB Negeri Ciamis mempunyai luas lahan 2782,64 m2, jumlah rombel dalam belajar yaitu 52 terdiri dari ruang kelas SDLB 12, SMPLB 5, SMALB 5, jumlah ruang keterampilan 2, jumlah ruang 22 dan jumlah toilet 8. Siswa SLB Negeri Ciamis yang mengalami gangguan pendengaran atau disebut tunarungu berjumlah 26 siswa yaitu 9 SDLB, 5 SDLB dan 12 SDLB. Selanjutnya, fasilitas khusus siswa tunarungu di SLB Negeri Ciamis saat ini masih dalam proses pembuatan ruangan kedap suara sedangkan kelengkapan alat-alat untuk menunjang pembelajaran BKPBI yang ada di SLB Negeri Ciamis terdiri dari cermin, alat-alat music, audiometer, Speech

(13)

136 terapi, ABM, Spatel, Garpu tala. Namun

tidak membuat patah semangat siswa tunarungu di SLB Negeri Ciamis untuk terus belajar dan mengasah keterampilannya.

Layanan pendidikan yang dilakukan di SLB Negeri Ciamis pada anak tunarungu adalah menggunakan layanan khusus program PKPBI (Pengembangan Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama).

PKPBI merupakan latihan memahami bunyi agar sisa-sisa pendengaran anak tunarungu dapat dimaksimalkan perkembangan bahasa dan bicara. Tujuan pelaksanaan program pembelajaran BKPBI pada tahap identifikasi bunyi adalah agar peserta didik mampu menemu kenali bahawa bunyi atau suara yang peserta didik dengar mempunyai makna dalam kehidupan. Makna kehidupan yang dimaksud yaitu agar anak tunarungu terhindar dari cara hidup yang semata-mata tergantung pada daya penglihatan saja, sehingga cara hidupnya lebih mendekati anak normal (Winarsih, 2018).

Purbaningrum dalam (Setyaningsih &

Rahmawati, 2019) Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama adalah

“pembinaan dalam menghayati bunyi yang dilakukan secara sistematis dengan sengaja atau tidak sengaja sehingga sisa pendengaran dan perasaan vibrasi anak tunarungu dapat digunakan sebaik-baiknya untuk berinteraksi dengan lingkungan”.

PKPBI yang dilakukan di SLB Negeri Ciamis ini dilakukan selama 1 minggu sekali. Tahap pertama yang dilakukan

adalah siswa tunarungu yaitu mengidentifikasi bunyi, sebelum pembelajaran PKPBI dimulai guru merencanakan persiapan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya dari hasil perencanaan yang dilakukan oleh guru dalam perencanaan identifikasi guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswanya dengan cara melihat hasil PKPBI dari setiap jenjang kelas dan melihat dari penilaian kemampuan mendengar siswa. Kemudian pada tahap pelaksanaan program PKPBI di SLB Negeri Ciamis siswa tunarungu diajarkan pada tahap deteksi bunyi, tahap diskriminasi bunyi, tahap identifikasi bunyi, dan komperhensi. Metode yang digunakan dalam program PKPBI di SLB Negeri Ciamis adalah metode sosial activity, bermain, demonstrasi, percakapan dan bentuk evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formatif.

Selama pandemic covid-19, layanan sistem pembelajaran dilakukan secara daring, orang tua lebih banyak berperan mendampingi anaknya dirumah untuk melatih berbicara menggunakan bahasa sehari hari selain dibantu melalui alat bantu mendengar (ABM) yang dipandu oleh guru nya. orang tua juga bekerja sama dengan guru SLB Negeri Ciamis untuk melatih anaknya belajar berbicara melalui cermin.

Dalam melatih bicara anak tunarungu orang tua berusaha mengajak anaknya bicara agar melihat ke arah bibir mereka dan selalu

(14)

137 bersikap sabar dan penuh kasih sayang

dalam melatih bicara serta selalu memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara sesuai dengan kemampuannya.

Kasih sayang orang tua selama belajar di rumah akan memberikan minat belajar bagi anak tunarungu untuk terus berlatih berbicara. Dorongan motivasi dari orang tua dan memberi kesempatan kepada anak selama dirumah untuk berlatih berbicara akan memberikan dampak yang baik untuk melatih kemampuannya. Serta orang tua selalu siap untuk mendengarkan anak walaupun bahasa yang diucapkan tidak jelas.

Selain itu orang tua mengajarkan anak tunarungu melatih kemampuan berbicaranya melalui alat alat music yang tak lain untuk mampu mengenali dan memahami bunyi agar sisa sisa pendengaran nya bisa dimaksimalkan. Disini dilatih bagaimana anak tunarungu menanggapi bunyi melalui gerak tubuh, dengan kata lain anak tunarungu meragakan bunyi yang orang tua kenalkan.

SIMPULAN DAN SARAN

Karakteristik anak tunarungu dalam aspek akademik berkenaan dengan keterbatasan dalam kemampuan berbicara dan berbahasa mengakibatkan anak tunarungu cenderung memiliki prestasi yang rendah dalam mata pelajaran yang bersifat verbal dan cenderung sama dalam mata pelajaran non verbal dengan anak seusianya.

Layanan pendidikan yang dilakukan di SLB Negeri Ciamis pada anak tunarungu adalah menggunakan layanan khusus program PKPBI (Pengembangan Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama). PKPBI merupakan latihan memahami bunyi agar sisa-sisa pendengaran anak tunarungu dapat dimaksimalkan perkembangan bahasa dan bicara. Tujuan pelaksanaan program pembelajaran PKPBI pada tahap identifikasi bunyi adalah agar peserta didik mampu menemu kenali bahwa bunyi atau suara yang peserta didik dengar mempunyai makna dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Alasim, K. (2019). Inclusion Programmes for Students Who are Deaf and Hard of Hearing in Saudi Arabia: Issues and Recommendations. International Journal of Disability, Development and

Education, 00(00), 1–21.

https://doi.org/10.1080/1034912X.2019.1 628184

Bamu, B. N., De Schauwer, E., Verstraete, S., &

Van Hove, G. (2017). Inclusive Education for Students with Hearing Impairment in the Regular Secondary Schools in the North-West Region of Cameroon:

Initiatives and Challenges. International Journal of Disability, Development

and Education, 64(6),

612–623.

https://doi.org/10.1080/1034912X.2017.1 313395

Elisabet, H. (2010). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. In Erlangga.

Handayani, E. S., -, P., & Anwar, M. (2017).

PENINGKATAN PEMAHAMAN

DONGENG ANAK TUNARUNGU

MELALUI SIMULATION BASED

LEARNING. PEDAGOGIA.

https://doi.org/10.17509/pedagogia.v15i2.

8093

Heward, W. L. (2009). Exceptional Children:

An Introduction to Special Educat. In Prentice Hall.

Kirk, S., Gallagher, J. J., Coleman, M. R., &

Anastasiow, N. (2009). Children Who Are

(15)

138 Deaf or Hard of Hearing. In Educating

Exeptional Children.

Ministry of Education. (2018). Special Education for Exceptional Lives: An Information Guide to Special Education

Schools in Singapore.

https://www.moe.gov.sg/docs/default- source/document/education/special- education/files/special-education-for- exceptional-lives.pdf

Putri, S. S., Supena, A., & Yatimah, D. (2019).

Dukungan sosial orangtua anak tunarungu usia 11 tahun di SDN Perwira Kota Bogor. Jurnal EDUCATIO: Jurnal

Pendidikan Indonesia.

https://doi.org/10.29210/120192318 Wehmeyer, M. L., Turnbull, H. R., Turnbull,

A., & Shogren, K. A. (2020). Exceptional Lives: Practice, Progress, & Dignity in Today’s Schools, 9th edition (9th editio).

Published by Pearson.

https://www.pearson.com/store/p/exceptio nal-lives-practice-progress-dignity-in- today-s-schools/P100001096414

William L.Heward, Sheila R. Alber-Morgan, M.

K. (2017). Exceptional Childern An Introduction to Special Education. In Prentice Hall.

Hernawati, T. (2007). Pengembangan Kemampuan Berbahasa Dan Berbicara Anak Tunarungu. Juni.

Heward, W. L. (2009). Exceptional Children:

An Introduction to Special Educat. In Prentice Hall.

Hogan, A., & Phillips, R. (2015). Hearing impairment and hearing disability:

Towards a paradigm change in hearing services. Hearing Impairment and Hearing Disability: Towards a Paradigm Change in Hearing Services,

October, 1–145.

https://doi.org/10.1080/1034912x.2017.13 90883

Kargin, T. (2004). Effectiveness of a family- focused early intervention program in the education of children with hearing impairments living in rural areas.

International Journal of Disability, Development and Education, 51(4), 401–

418.

https://doi.org/10.1080/103491204200029 5044

Kirk, Gallagher, Coleman, Anastasiow (2009).

Introduction to exceptional children.

New York: Houghton Miffl in Harcourt Publishing Company

Millar, B. (2016). Hearing impairment and hearing disability: towards a paradigm change in hearing services: Hearing impairment and hearing disability:

towards a paradigm change in hearing services , edited by Anthony Hogan and Rebecca Phillips, Farnham, Ashgate, 2015, 168 . Disability & Society, 31(9), 1309–1311.

https://doi.org/10.1080/09687599.2016.12 19513

Putri, S. S., Supena, A., & Yatimah, D. (2019).

Dukungan sosial orangtua anak tunarungu usia 11 tahun di SDN Perwira Kota Bogor. Jurnal EDUCATIO: Jurnal

Pendidikan Indonesia.

https://doi.org/10.29210/120192318 Rachmawati, E. (2018). PENGARUH

PROGRAM BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA ANAK TUNARUNGU KELAS TINGGI PADA TINGKAT SEKOLAH DASAR LUAR BIASA.

Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan

Sekolah Dasar (JP2SD).

https://doi.org/10.22219/jp2sd.v6i1.5903 Rahmah, F. N. (2018). PROBLEMATIKA

ANAK TUNARUNGU DAN CARA

MENGATASINYA. QUALITY.

https://doi.org/10.21043/quality.v6i1.5744 Handayani, E. S., -, P., & Anwar, M.

(2017). PENINGKATAN

PEMAHAMAN DONGENG ANAK

TUNARUNGU MELALUI

SIMULATION BASED LEARNING.

PEDAGOGIA.

https://doi.org/10.17509/pedagogia.v15i2.

8093

Heward, W. L. (2009). Exceptional Children:

An Introduction to Special Educat. In Prentice Hall.

Kirk, S., Gallagher, J. J., Coleman, M. R., &

Anastasiow, N. (2009). Children Who Are Deaf or Hard of Hearing. In Educating Exeptional Children.

Ministry of Education. (2018). Special Education for Exceptional Lives: An Information Guide to Special Education

Schools in Singapore.

https://www.moe.gov.sg/docs/default- source/document/education/special- education/files/special-education-for- exceptional-lives.pdf

Wehmeyer, M. L., Turnbull, H. R., Turnbull, A., & Shogren, K. A. (2020). Exceptional Lives: Practice, Progress, & Dignity in Today’s Schools, 9th edition (9th editio).

Published by Pearson.

(16)

139 https://www.pearson.com/store/p/exceptio

nal-lives-practice-progress-dignity-in- today-s-schools/P100001096414

William L.Heward, Sheila R. Alber-Morgan, M.

K. (2017). Exceptional Childern An Introduction to Special Education. In Prentice Hall.

Rahmatika, S. N., & Apsari, N. C. (2020).

POSITIVE PARENTING: PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGUN

KEMANDIRIAN ANAK

TUNAGRAHITA. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

https://doi.org/10.24198/jppm.v7i2.28380 Setyaningsih, M. A., & Rahmawati, R. (2019).

Pelaksanaan program pembelajaran pengembangan komunikasi persepsi bunyi dan irama tahap identifikasi siswa tunarungu kelas. JPK (Jurnal Pendidikan Khusus).

https://doi.org/10.21831/jpk.v14i1.25163 Setiawan, D. I., Tolle, H., & Kharisma, A. P.

(2017). Perancangan Aplikasi Communication Board Berbasis Android Tablet Sebagai Media Pembelajaran dan Komunikasi Bagi Anak Tuna Rungu.

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer.

Suhartini, B. (2011). Merangsang Motorik Kasar Anak Tunarungu Kelas Dasar Sekolah Luar Biasa Melalui Permainan.

Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia.

https://doi.org/10.1016/j.emospa.2012.05.

003

Widiana, I. W., Nurjana, I. G., & Vidiawati, N.

K. R. (2019). ANALISIS INTERAKSI

SOSIAL SISWA KOLOK

(TUNARUNGU) DI SEKOLAH

INKLUSIF. Journal for Lesson and Learning Studies.

Wulandari, N. D., & Rakhmadi, A. (2014).

Pembuatan aplikasi kamus bahasa isyarat untuk tuna rungu dan tuna wicara berbasis android. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Zulmiyetri, Z. (2017). Metode Maternal Reflektif (MMR) untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Lisan Anak Tunarungu. Jurnal Konseling Dan Pendidikan.

https://doi.org/10.29210/117500

Winarsih, M. (2018). Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunarungu Usia Dini.

JIV-Jurnal Ilmiah Visi.

https://doi.org/10.21009/jiv.1302.2

Referensi

Dokumen terkait