IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KETELADANAN DAN PEMBIASAAN
(STUDI KASUS DI SD NEGERI PURWAMEKAR II KARAWANG)
Firda Aulia Rohmah1, Astuti Darmiyanti2, Ferianto3 Universitas Singaperbangsa Karawang
Email: [email protected]1,
[email protected]2, [email protected]3
ABSTRAK
Penelitian ini ditunjukan untuk mengetahui Implementasi pendidikan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II Karawang. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, analisis data dokumentasi serta wawancara. Sedangkan sumber penelitian adalah Kepala sekolah serta guru. Hasil penelitian yaitu Implementasi yang sudah dilakukan dalam proses pendidikan karakter di SD Negeri Purwamekar II Karawang ini seperti : Pembiasaan membaca Yasin dan Ratib yang dialkukan disetiap hari Jum’at. Dan untuk keteladanan yang dilakukan yaitu seperti melaksanakan upacara, datang ke sekolah dengan tepat waktu, bertanggung jawab terhadap pekerjaan piket di setiap kelas masing-masing dan kegiatan spotan yang diwujudkan melalui menjenguk teman sakit, takziah dan lain-lain
Kata kunci: Pendidikan Karakter, Keteladanan, Pembiasaan.
ABSTRACT
This research is intended to determine the implementation of character education through exemplary and habituation in SD Negeri Purwamekar II Karawang. The research approach uses a qualitative approach. Methods of data collection using observation, analysis of data documentation and interviews. While the sources of research are school principals and teachers.
The results of the research are the implementation that has been carried out in the character education process at SD Negeri Purwamekar II Karawang such as: The habit of reading Yasin and Ratib which is done every Friday. And for exemplary conduct, namely carrying out ceremonies, coming to school on time, being responsible for picket work in each class and spot activities which are manifested through visiting sick friends, takziah and so on.
Keywords: character education, exemplary,habituation.
A. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan tema yang sering kita dengar di setiap momentum; dilakukan tiap saat dan dinilai efektif merubah kondisi. Oleh karenanya; variable yang “membersamai”
pendidikan sejatinya bermuara pada perubahan kondisi ke arah yang lebih baik (Muzaki, 2019).
Pendidikan yang sukses disebut sebagai pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan dapat dicapai jika proses pengajaran secara efektif, berlangsung secara terarah dan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Amirudin & Muzaki, 2019). Pendidikan karakter ialah sebuah sistem yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai karakter ke para individu yang berada di lingkungan sekolah, penanaman nilai-nilai tersebut mencakup elemen pengetahuan, kemauan atau kesadaran serta perbuatan guna menjalankan sejumlah poin-poin tersebut, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), sesama lingkungan, diri pribadi, ataupun kebangsaan sehingga kemudian dapat menjadi manusia insan kamil.
Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan Pendidikan Nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Karakter juga dapat disbut kumpulan nilai yang melandasi pemikiran, sikap dalam perilaku yang dilakukan. Individu yang berkarakter adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. (Sari, 2017) .
Pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif. Pendidikan karakter merupakan suatu proses dan upaya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik sehingga mereka dapat melaksanakan nilai-nilai tersebut terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama serta bangsa dan negara. Melalui pendidikan karakter diharapkan dapat peserta didik menerapkan
nilai karakter tentang pemahaman akan tertapi tertanam nilai-nilai keperdulian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan kodratnya. (Muhammad Fadlillah dan Lilif Mualifatu Khorida, 2014). Gagasan Pendidikan karakter semakin mengemuka dengan munculnya Gerakan Nasional Revolusi Mental yang merupakan bagian dari Nawacita Pak Jokowi dengan menempatkan pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar dan menengah karena merupakan elemen yang penting dalam pembentukan karakter siswa di masa depan dengan mendasarkan pada empat dimensi pengolahan karakter yakni Olah hati (Etik), Olah rasa (Estetis), Olah pikir (Literasi), Olah raga (Kinestetik) (I. Amirudin, 2020).
Pendidikan karakter menjadi hal penting bagi sistem pendidikan di Negara Indonesi, pendidikan karakter akan dijadikan sebagai landasan dalam upaya pembentukan kualitas karakter bangsa Indonesia. Kemampuan kognitif tanpa karakter yang kuat akan menghasilkan pribadi yang mudah dihasut sehingga akan menghambat kemajuan bangsa Indonesia. Pentingnya pendidikan karakter bermanfaat untuk menghasilkan pribadi yang tidak mengabaikan nilai sosial, seperti toleransi, tanggung jawab, dan yang lainnya, sehingga menciptakan kepribadian yang baik. Mulyasa (2012:9) menjelaskan tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu dan hasil pendidikan secara kompleks, terpadu, dan sesuai dengan standart kompetensi lulusan yang mengarah pada kualitas pembentukan karakter dan akhlak mulia anak. Agar tujuan pendidikan karakter di sekolah tercapai, maka dibutuhkan kerjasama dari semua pihak terutama keluarga dan masyarakat. Peran keluarga dan masyarakat sangatlah penting untuk memantau perkembangan karakter anak. Jadi, dapat dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan karakter adalah membentuk, menanamkan, dan mengembangkan nilai-nilai positif pada anak sehingga menjadi pribadi yang unggul.
Permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan karakter di SD Negeri Purwamekar II yaitu tentang implementasi pendidikan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan yang merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku peserta didik yang akan menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang-ulang. Dalam pelaksanakan pendidikan karakter di sekolah, pembiasaan peserta didik untuk mempunyai kepribadian baik perlu ditunjang oleh keteladanan guru dan kepala sekolah. Oleh karena itu, guru dan kepala sekolah harus menjadi teladan yang baik supaya peserta didik memiliki karakter yang baik. Implementasi pendidikan karakter di sekolah akan berjalan dengan efektif apabila penerapan pendidikan
karakter di lembaga pendidikan dimulai sejak sekolah dasar. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam proses peningkatan pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu dengan mengupayakan peserta didik memahami dan mengakui nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas hasil keputusan yang diambilnya dengan tahap mengenal pilihan hingga menentukan pendirian, kemudian mewujudkan suatu nilai sesuai dengan keyakinan pada diri siswa.(Evananda et al., 2018)
Adapun fokus dalam penelitian ini yaitu membahasa tentang Implementasi pendidikan karakter melalui keteladan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang pendidikan karakter melalui pembiasaan, dan utnuk mengatahui implementasi dari pendidikan karakter melalui keteladan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, Menurut Sugiyono (2017:18) metode penelitian kualitatif adalah metode digunakan untuk meneliti pada obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci dan menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan metode seperti wawancara, observasi dan dokumentasi.
Jenis penelitian ini yaitu studi kasus. Peneltiian ini dilaksanakan di Sekolah SD Negeri Purwamekar II Karawang. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Menurut Effi Aswita Lubis (2012:46) Observasi ialah suatu cara yang dapat dilakukan dalam menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan percatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan objek pengamatan.
Observasi digunakan untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter melalui pendidikan karakter keteladanan dan pembinaan.
Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah dan guru PAI. Menurut Sugiyono (2016:
329) Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumEntasi, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang mendukung penelitian.
C. PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter ialah upaya sengaja (sadar) guna membantu individu memahami, peduli akan, serta menjalankan sejumlah nilai etika inti. Sedangkan Creasy mengungkapkan definisi pendidikan karakter ialah usaha memacu para siswa untuk bertumbuh serta berkembang dengan kompetensi berpikir serta memegang dengan kuat prinsip hidupnya sehingga mempunyai keberanian dalam menjalankan hal-hal yang benar walau diterpa oleh sejumlah rintangan.
(Nuraeni et al., 2021)
Berdasarkan definisi diatas, pendidikan karakter sebagai upaya yang dijalankan peserta didik. Pendidikan karakter, terkandung tiga unsur, yakni mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), serta melaukan kebaikan (doing the good). Maka dari itu pendidikan karakter harus menjadi gerakan yang menghasilkan instansi pendidikan selaku agen dalam membentuk karakteristik peserta didik. Di lain sisi, pendidikan juga haruslah menjauhkan peserta didik atas sikap tercela serta dilarang. Pendidikan karakter pada prinsipnya adalah upaya untuk menumbuhkan kepekaan dan tanggung jawab sosial, membangun kecerdasan emosional, dan mewujudkan siswa yang memiliki etika tinggi.
Pendidikan karakter sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.(Putri & Hudah, 2019).
Sementara itu, karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya, misalnya keluarga, masyarakat, atau bisa pula merupakan bawaan yang dibawa sejak lahir itu sebagaimana yang dikatakan koesuma. Selanjutnya pendidikan karakter merupakan suatu pengaturan penanaman nilai-nilai karakter kepada individu sekolah yang menambahkan kepercayaan, kewaspadaan, dan kesiapan serta kegiatan untuk melakukan sifat-sifat terbaik kepada Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri dan lingkungan sekitar, sehingga manjedi manusia yang insanul kamil.(Siswanto et al., 2021).
Menurut Dharma Kusuma (2011) Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikanya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada
lingkunganya. Thomas Lickona mengatakan pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu: tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Heri Gunawan (2012). Selanjutnya pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah dan biografi pra bijak dan pemikir besar), serta praktik emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang dipelajari). Pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di negara ini merupakan pendidikan nilai dimana pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi selanjunya.(Siswanto et al., 2021)
Pendidikan karakter merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh berbagai personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab (Daryanto, 2013). Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulankan bahwa pendidikan karakter adalah proses pengubahan sifat, kejiwaan, akhlak, budi pekerti seseorang atau kelompok orang agar menjadi dewasa (manusia seutuhnya/insan kamil)
Tujuan Pendidikan Karakter
Menurut Dharma Kusuma (2011) Tujuan pendidikan karakter adalah menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian atau kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan, mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah, membangun koneksi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.
Pendidikan karakter bertujuan memberikan pembelajaran mengenai sejumlah nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang dengan mudah diterima oleh khalayak luas selaku landasan perilaku yang baik serta bertanggungjawab. Inti pendidikan karakter memiliki tujuan guna menciptakan bangsa yang teguh, kompetitif, bermoral, berakhlak mulia, bergotong royong, bertoleran, berkembang dinamis, berjiwa patriotik, berorientasi ilmu pengetahuan serta teknologi, yang kesemuanya dijiwai oleh iman serta takwa pada Tuhan Yang Maha Esa menurut pancasila. Pendidikan karakter berguna memberi dasar serta acuan untuk siswa berprilaku baik,
pendidikan karakter menjadi dasar berprilaku menurut usia serta tingkat perkembangan kepribadian. Sehingga, pendidikan karakter tak hanya sifatnya teoritis namun bersifat aplikatif, karenanya pendidikan karakter tak hanya wacana namun mampu serta mudah dijalankan.
Menurut Zubaidi (2011) ada lima tujuan karakter yaitu:
1) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai karakter bangsa;
2) Mengembangkan kebiasaan dan prilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai- nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,kreatif, dan berwawasan kebangsaan;
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi serta penuh kekuatan.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Esa berdasarkan Pancasila.
Manfaat Pendidikan Karakter dan Prinsip Pendidikan Karakter
Menjadikan manusia agar kembali kepada fitrahnya, yaitu selalu menghiasi kehidupannya dengan nilai-nilai kebajikan yang telah digariskan oleh-Nya, salah satu wujud nyata dalam mempersiapkan generasi yang berkarakter yang akan membawa kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik.
Menurut Sri Judian (2011) prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter diantaranya: Berkelanjutan, yaitu proses pengembangan nilai-nilai karakter merupkan proses yang tiada henti, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan bahkan sampai terjun ke masyarakat, melalui semua mata pelajaran yaitu pengembangan diri dan budaya sekolah serta muatan lokal, nilai-nilai dikembangkan dan dilaksanakan tidak diajarkan, hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan kemampuan,baik ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; proses pendidikan dilakukan peserta didik dengan aktif
dan menyenangkan,yaitu guru harus merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan,mencari sumber informasi, mengumpulkan informasi dari sumber, mengelola informasi yang sudah dimiliki, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri mereka.
Faktor Pendukung Implementasi Pendidikan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II
Adapun beberapa faktor yang menjadi pendukung dalam implementasi pendidikan karakter melalui keteldanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II diantra lain :
1) Peran Kepala Sekolah
Dalam proses pendidikan karakter kepala sekolah SD Negeri Purwamekar II sangat berperan. Hal ini dikarenakan kepala sekolah merupakan penghubung antar wali murid, masyarakat sekitar serta kepada peserta didik. Kepala sekolah juga merupakan perencana dan pembuat program untuk terciptanya implementasi dari pembiasaan yang dilakukan disekolah tersebut.
2) Peran Guru
Peran guru dalam keberhasilan pendidikan karakter yang melalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II sangat penting. Hal ini dikarekanakan seorang guru itu menjadi gambaran baik dari perkataan maupun sikap. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan karakter guru harus berperan penting untuk mencapai tujuan dari implementasi pendidikan karakter yang melalui keteladanan dan pembiasaan yang dilakukan disekolah tersebut.
3) Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah sebagai kualitas kehidupan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan semangat dan nilai yang dianut oleh sekolah tersebut, yakni dalam bentuk bagaimana masyarakat sekitar, komite, guru dan peserta didik. Hal ini membuktikan dengan perilaku dan sikap masyarakat yang ada disekitar sekolah saling mendukung dalam proses pendidikan karakter dengan melalui keteladanan serta pembiasaan yang dilakukan di SD Negeri Purwamekar II.
4) Kegiatan dan Program Sekolah
Program dan kegiatan di sekolah sangat mengedepankan keteladanan dan pembiasaan yang berkaitan dengan pendidikan karakter. Kegiatan yang dilakukan secara rutin adalah melaksanakan upacara bendera, dan pembiasaan membaca yasin dan Ratib setiap hari Jum’at.
Implementasi Pendidikan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II
Adapun Beberapa faktor penghambat dalam implementasi pendidikan karakter malalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II diantara lain sebagai berikut :
1. Sarana Prasarana
Sarana dan Prasarana di SD Negeri Purwamekar II kurang memadai, ruang kelas yang kurang memadai, jumlah ruang kelas di SD Negeri Purwamekar II berjumlah 6 ruang. Tetapi hanya 5 yang terpakai sedangkan jumlah peserta didik melebihi kapasitas, kemudian tidak ada ruang khusus untuk perpustakaan, ruang konseling dll. Hal ini menyebabkan terhambatnya proses keteladanan dan pembiasaan terhadap pendidikan karakter.
2. Media Pembelajaran
Media pembelajaran juga sangat berpengaruh dalam proses pendidikan karakter yang melalui keteladanan dan pembiasaan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kompetensi guru dalam pemanfaatan media pembelajaran terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter.
Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan dan Pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II Karawang
Adapun beberapa hal yang penting dalam Implementasi pendidikan karakter diantaranya : 1. Bentuk Pelaksanaan Pendidikan Karakter
Bentuk pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri Purwamekar II diwujudkan melalui integrasi dalam program pengembangan diri, serta nilai karakter yang dikembangkan sekolah. Berikut deskripsi tentang integrasi dalam program pengembangan
diri dan nilai karakter yang dikembangkan sekolah. Intergrasi pada pendidikan karakter pada penelitian ini adalah melalui pengembangan diri dan pembelajaran. Pada pengembangan diri meliput :
a. Kegiatan Rutin
Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang secara rutin dilakukan oleh sekolah untuk menanamkan karakter kepada siswa. Berdasarkan hasil wawancara terkait kegiatan rutin yang dilakukan sekolah, kepala sekolah menyatakan “Upacara yang dilakukan di setiap hari senin, kemudian pembiasaan yang lainnya yaitu setiap hari Jum’at siswa berkumpul di depan kelas masing2 kemudian membaca Yasin atau Ratub yang dipimpin oleh guru”. Hal tersebut didukung dengan pernyataan guru terkait kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh sekolah dalam rangka menanamkan karakter kepada siswa yaitu upacara hari senin dan hari besar lainnya, kemudian membiasakan untuk membaca Yasin atau Ratib di hari Jum’at dengan dipimpin oleh guru.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru, dapat disimpulkan bahwa kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh sekolah dalam rangka menanamkan karakter kepada siswa antara lain pada keigiatan upacara yang dilakukan setiap hari senin. Kegiatan upacara dilaksanakan wajib bagi siswa. Selanjutnya kegiatan di hari Jum’at dengan membiasaan membaca Yasin dan Ratib yang dipimpin oleh guru.
Kemudian kehiatan piket, kegiatan piket yang dilakukan secara terjadwal pada setiap kelas. Pendidikan karakter juga dilakukan pada kegiatan spotan yang diwujudkan melalui menjenguk teman sakit, takziah dan lain-lain. Selain itu, kegiatan pengkondisian dilaksanakan melalui penertiban di kelas, pemberian motivasi belajar dan lain-lain.
b. Keteladanan
Maksud kegiatan keteladanan disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, dan guru yang dapat dijadikan sebagai model bagi siswa.
Dalam hal ini guru beperan langsung sebagai contoh bagi siswa. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan kepala sekolah terkait kegiatan keteladanan, kepala sekolah menyatakan “Berpakaian rapi, bertutur kata yang sopan, datang tidak
terlambat, dan lain sebagainya”. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan guru, bahwa keteladanan yang diberikan kepada siswa berupa berbicara sopan, berpakaian rapi, disiplin serta bertegur sapa. Dapat disimpulkan beberapa teladan yang diberikan guru dan kepala sekolah kepada siswa diantaranya berpakaian rapi, berbicara sopan, datang tepat waktu, disiplin dan saling mengucap salam.
Berdasarkan hasil observasi peneliti, semua guru sudah berusaha memberikan teladan yang baik kepada peserta didik. Selama pengamatan, peneliti selalu menemui bahwa kepala sekolah dan guru selalu berpakaian rapi dan sopan, guru dan kepala sekolah selalu menggunakan pakaian yang sesuai seragam hari tersebut serta kepala sekolah dan guru selalu menggunakan bahasa yang sopan ketika berbicara kepada sesama guru.
2. Nilai-nilai Karakter yang dikembangkan
Pada dasarnya ada 18 nilai karakter yang perlu dikembangkan bagi peserta didik di sekolah, akan tetapi setiap sekolah memiliki beberapa karakter yang dipilih untuk dikembangkan di dalam sekolah masing-masing. Berikut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah terkait nilai karakter yang dikembangkan di SD Negeri Purwamekar II Karawang, kepala sekolah menyatakan “Untuk nilai karakter yang secara khusus dikembangkan di SD Purwamekar II ada nilai ketaqwaan atau kerohanian yaitu melalui kegiatan pembiasaan membaca Yasin atau Ratib dan berdoa disetiap memulai kegiatan pembelajaran, kejujuran melalui koperasi kejujuran, kedisiplinan melalui upacara dan tanggung jawab melalui kegiatan piket, dan toleransi melalui menjenguk dan melayat. Semua karakter juga dikembangkan disini tapi untuk yang paling ditekankan adalah nilai- nilai itu.”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut peneliti dapat menyimpulkan beberapa karakter yang secara khusus diutamakan untuk dikembangkan di SD Negeri Purwamekar II Karawang. Penanaman nilai religius tampak diwujudkan dalam kegiatan rutin yaitu pembiasaan membaca Yasin dan Ratib di harri Jum’at. Dan diwujudkan pada kegiatan berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran. Penanaman nilai kejujuran diwujudkan dalam pengadaan ulangan di sekolah. Penanaman nilai kedisiplinan diwujudkan pada kegiatan upacara. Penanaman nilai bersahabat/komunikatif diwujudkan dengan kebiasaan siswa untuk bersalaman dengan guru ketika datang dan pulang sekolah.
Penanaman nilai tanggung jawab diwujudkan dalam kegiatan piket, baik itu piket siswa maupun piket guru yang dilaksanakan setiap hari sesuai dengan jadwal yang telah dibentuk.
D. KESIMPULAN
Pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.
Pendidikan karakter merupakan suatu proses dan upaya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter pada diri peserta didik sehingga mereka dapat melaksanakan nilai-nilai tersebut terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama serta bangsa dan negara.
Melalui pendidikan karakter diharapkan dapat peserta didik menerapkan nilai karakter tentang pemahaman akan tertapi tertanam nilai-nilai keperdulian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan kodratnya.
Dalam impelemntasi pendidikan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan di SD Negeri Purwamekar II Karawang terdapat 2 faktor diantaranya Faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung : Peran kepala sekolah, peran guru, lingkungan sekolah dan kegiatan dan program di sekolah. Adapun faktor penghambat diantaranya sarana dan prasarana serta media pembelajaran.
Implementasi yang sudah dialkukan dalam proses pendidikan karakter di SD Negeri Purwamekar II Karawang ini seperti : Pembiasaan membaca Yasin dan Ratib yang dialkukan disetiap hari Jum’at. Dan untuk keteladanan yang dilakukan yaitu seperti melaksanakan upacara, datang ke sekolah dengan tepat waktu, bertanggung jawab terhadap pekerjaan piket di setiap kelas masing-masing dan kegiatan spotan yang diwujudkan melalui menjenguk teman sakit, takziah dan lain-lain. Selain itu, kegiatan pengkondisian dilaksanakan melalui penertiban di kelas, pemberian motivasi belajar dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Amirudin, A., & Muzaki, I. (2019a). Rendering Learning Approach With Islamic Religious Education Subjects and Students Accounting XI Relationship with Management and Business.
https://doi.org/10.4108/eai.17-10-2019.2289728
Amirudin, A., & Muzaki, I. A. (2019b). Life Skill Education and It’S Implementation in Study Programs Islamic Religious Education. Jurnal Tarbiyah, 26(2), 278–293.
https://doi.org/10.30829/tar.v26i2.485
Amirudin, I. (2020). Analysis Of Policy Development Models For Strengthening Character Education Based On Islamic Education Values In The First Middle Education Unit In Karawang District.
Multicultural Education, 6(5), 15–19. https://doi.org/10.5281/zenodo.4393076
Daryanto, d. (2013). Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Gava Media.
Dharma, K., dkk. (2011). Pendidikan Karakter : Kajian Teori dan Praktik disekolah. Bandung :Rosda Karya.
Evananda, F., Bafadal, I., & Sobri, A. Y. (2018). Studi Kasus Implementasi Pendidikan Karakter Pada Sekolah Dolan. Jurnal Administrasi Dan Manajemen Pendidikan, 1(3), 252–262.
https://doi.org/10.17977/um027v1i32018p252
Gunawan, H. 2012. Pendidikan Karakter:Konsep dan Implementasi. Bandung:Alfabeta Mulyasa .(2012). Manajemen PAUD .Bandung : Remaja Rosdakarya Sutrisno.
Nuraeni, N. F., Amirudin, A., & Muzaki, I. A. (2021). Pembentukan Karakter di Masa Pandemi Melalui Pendidikan Agama Islam. Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal, 6(2), 146–
160. https://doi.org/10.15575/ath.v6i2.13496
Putri, O. N., & Hudah, M. (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Role Playing Materi Bola Basket Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Ketanggungan. Jendela Olahraga, 4(2), 57. https://doi.org/10.26877/jo.v4i2.4005
Sari, A. (2017). 1952-37-4947-1-10-20190731 (1). 3(02), 249–258.
Siswanto, S., Nurmal, I., & Budin, S. (2021). Penanaman Karakter Religius Melalui Metode Pembiasaan.
AR-RIAYAH : Jurnal Pendidikan Dasar, 5(1), 1. https://doi.org/10.29240/jpd.v5i1.2627 Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta.
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.