• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of IMPLEMENTASI PSIKOTERAPI TERHADAP WARGA BINAAN SOSIAL DI PSBL HARAPAN SENTOSA 1 CENGKARENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of IMPLEMENTASI PSIKOTERAPI TERHADAP WARGA BINAAN SOSIAL DI PSBL HARAPAN SENTOSA 1 CENGKARENG"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

48

IMPLEMENTASI PSIKOTERAPI TERHADAP WARGA BINAAN SOSIAL DI PSBL HARAPAN SENTOSA 1 CENGKARENG

IMPLEMENTATION OF PSYCHOTHERAPY ON SOCIAL DEVELOPMENT IN PSBL HARAPAN SENTOSA 1 CENGKARENG

Chamiyatus Sidqiyah1, Nunung Khoiriyah2, M. Naufal Aqilla Hajid3, Salwa Nadila Putri4, Syifa Tuqo Jauza5, Tita Chandra Kusumastuti6

1UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

e-mail : [email protected] 1 [email protected] 2 [email protected] 3 [email protected] 4

[email protected] 5 [email protected] 6

ABSTRAK

Orang Dengan Masalah Kejiwaan bila tidak mendapat penanganan khusus serta tepat guna dan dibiarkan berkeliaran begitu saja akan menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Hal iniah yang menjadikan munculnya stigma negatif masyarakat terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Pada tahap awal, setelah penjaringan yang dilakukan oleh P3S (Satuan Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial), khususnya yang berada di daerah Jakarta, para ODMK tersebut dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 ataupun 2, yang selanjutnya. Selanjutnya, setelah dilakukan asesmen kondisinya, mereka kemudian dipindahkan ke Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1, 2, ataupun 3.

Para ODMK yang terkena penjaringan tersebut dinamakan Warga Binaan Sosial. Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 yang terletak di Jalan Kemuning Raya, Cengkareng Barat, Jakarta Barat merupakan panti yang menampung Para WBS tersebut untuk dirawat. Warga binaan ini perlu mendapatkan penanganan melalui prikoterapi untuk mengurangi masalah gangguan kejiwaan yang dialaminya. Psikoterapi merupakan metode yang berfungsi untuk membantu klien/WBS untuk mengembalikan keberfungsian sosialnya. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan berdasarkan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk melihat bagaimana implementasi program-program yang ada di PSBL Harapan Sentosa 1 dalam kaitannya dengan psikoterapi bagi warga binaan Sosial dalam meraih kembali keberfungsian sosial mereka.

Kata Kunci : ODMK, Panti Sosial, Warga Binaan Sosial, Psikoterapi ABSTRACT

When people with psychiatric problems do not receive special and appropriate treatment, then they are left roaming around, they will have a negative impact on the other’s lives. This is the reason why there is a negative stigma in society towards people with mental problems (ODMK). In the early stages, after screening carried out by P3S (Social Service, Supervision and Control Unit), especially those in the Jakarta, the ODMKs were brought to Social Institutions called Bina Insan Bangun Daya 1 or 2. Furthermore, after an assessment of their condition, they were then transferred to the Social Institutions which specifically handles people with mental problem called Bina Laras Harapan Sentosa 1, 2, or 3. The ODMKs who were subject to the screening were called Social Assisted Residents. Bina Laras Harapan Sentosa 1, located on Jalan Kemuning Raya, Cengkareng Barat, West Jakarta. It is

(2)

49

an Social Institutions that accommodates the Social Assisted Residents (Warga Binaan Sosial) to be treated. These inmates need to get treatment through psychotherapy to reduce the psychiatric problems they experience. Psychotherapy is a method that functions to help clients/WBS to restore their social functioning. This study uses a descriptive research type based on a qualitative approach. This research was made with the aim of seeing how the implementation of programs in PSBL Harapan Sentosa 1 in relation to psychotherapy for social assisted members in regaining their social functioning.

Keywords: ODMK, Social Institutions, Social Assisted Residents, Psychotherapy

A. PENDAHULUAN

Orang dengan masalah kesehatan mental atau gangguan mental, adalah mereka yang tindakannya berdampak negatif pada pikiran, perasaan, dan tindakan mereka sendiri. Masalah kejiwaan dapat berupa depresi, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia, dan masih banyak lagi.

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, ODGJ adalah seseorang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi sebagaii manusia.

Dalam Undang-undang ini membahas terkait pemberian kerangka kerja hukum untuk melindungi hak-hak dan kepentingan orang dengan masalah kejiwaan. Hal ini meliputi akses yang adil terhadap pelayanan keshatan jiwa, pemulihan, perlindungan terhadap diskriminasi, dan upaya pencegahan gangguan kejiwaan.

Gangguan Jiwa berpotensi berdampak signifikan terhadap kualitas hidup seseorang dan memerlukan pertimbangan dan tindakan yang tepat.

Gangguan jiwa adalah suatu keadaan yang menghalangi seseorang untuk hidup sehat yang diinginkannya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kesehatan jiwa atau dikenal juga dengan sehat mental adalah suatu

kondisi yang memungkinkan seseorang untuk memiliki kesejahteraan fisik, mental, dan emosional yang sebaik mungkin dan berfungsi secara mandiri dari orang lain (Semiun, 2006).

Definisi serupa juga menyebutkan bahwa gangguan jiwa adalah keadaan tidak normal, bisa dikarenakan faktor rohani maupun faktor jasmani (penyakit, cacat bawaan, disfungsi organ atau akibat kecelakaan) yang membuat seseorang tidak percaya diri, minder, gelisah-gelisah, panik, frustasi maupun dpresi (Sa’adi, 2010). Jadi, ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan pikiran, perilaku, dan emosi serta menunjukkan gejala perubahan perilaku yang dapat menyebabkan disfungsi sosial.

Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Sumber Daya Manusia Penyelenggara Kesejahteraan Sosial, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disingkat PMKS adalah perseorangan, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan, tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar. ODMK memenuhi kriteria sebagai PMKS karena seseorang yang memiliki masalah kejiwaan akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2019,

(3)

50 sekitar 7,6 juta orang di Indonesia menderita gangguan kesehatan jiwa (World Health Organization, 2019). Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyoroti permasalahan mental (mental illness) yang dialami masyarakat selama pandemi COVID-19. Dinkes DKI mencatat sekitar 17 ribu warga di Jakarta terindikasi orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Dilansir dari portal berita detik.com, 0,16 persen penduduk DKI Jakarta yang memiliki gangguan jiwa berat.

Jumlah penduduk berdasarkan proyeksi jumlah penduduk sasaran program pembangunan kesehatan tahun 2022 (KMK No HK.01.07/Menkes/5675/2021 tentang Data Penduduk Sasaran Program Kesehatan), jumlah penduduk tahun 2022 sejumlah 3.482.891 jiwa, dengan prevalensi penyandang gangguan jiwa sebesar 0.55%, maka jumlah penyandang gangguan jiwa sebanyak 19.156 jiwa, target sasaran tahun 2022 sebanyak 30 % yaitu 5.747 jiwa. Sementara itu, presentase Penyandang Gangguan Jiwa Yang Memperoleh Layanan Di Fasyankes Berdasarkan Provinsi Tahun 2022 di Indonesia dengan rata-rata sebesar 26,97%, dan di DKI Jakarta Khususnya, sebesar 24.29% (Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, 2022).

Warga binaan sosial adalah seseorang atau kelompok masyarakat yang mendapat perhatian, pengawasan atau bantuan dari pemerintah atau lembaga sejenis. Mereka biasanya berada dalam situasi atau keadaan khusus yang membutuhkan perhatian dan dukungan sosial. Warga binaan sosial dapat mencakup berbagai kelompok, seperti Narapidana, Anak Jalanan, Tunawisma, Pengungsi atau pencari suaka, Orang dengan masalah kesehatan mental, dan Orang dengan disabilitas.

Warga binaan sosial biasanya diberikan perlindungan, layanan kesehatan, rehabilitasi, pendidikan dan bantuan hidup lainnya sesuai kebutuhan dan keadaan.

Tujuan utama dukungan pendapatan adalah untuk membantu mereka mengatasi kesulitan mereka dan meningkatkan kesejahteraan dan integrasi mereka ke dalam masyarakat baru.

Penting untuk dicatat bahwa konsep dan definisi warga negara yang didukung secara sosial dapat bervariasi di berbagai negara dan konteks sosial. Oleh karena itu, interpretasi dan penerapan konsep-konsep ini dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan kebijakan yang berlaku di lokasi tertentu.

Dari hal-hal yang telah dipaparkan, secara objektif akan sangat menarik untuk membahas terkait kegiatan yang dilaksanakan oleh PSBL Harapan Sentosa 1 Dalam proses resosialisasi warga binaan Sosial yang memiliki masalah kejiwaan untuk bisa mengembalikan keberfungsian sosial mereka.

Selain itu, pengimplementasian program resosialisasi ini sangat menarik untuk dibahas, sebagaimana ada banyak tantangan yang perlu dilalui dalam merawat ODMK sendiri. Oleh karena itu, Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana implementasi program- program yang ada di PSBL Harapan Sentosa 1 dalam kaitannya dengan resosialisasi warga binaan Sosial dalam meraih kembali keberfungsian sosial mereka.

B. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif.

Sugiyono berpendapat, metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci (Sugiyono, 2016). Menurut Nazir (2014) penelitian deskriptif meneliti status kelompok manusia, objek, kondisi, sistem pemikiran ataupun peristiwa masa sekarang dengan tujuan untuk membuat deskriptif

(4)

51 secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta yang diteliti.

Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena yang ada, baik alam maupun buatan manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,wawancara dan tinjauan literatur.

Menurut Sugiyono, wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan yang lebih mendalam (Sugiyono, 2016). Metode ini digunakan terutama karena informan adalah mereka yang terkena gangguan kejiwaan, dimana terkadang sulit untuk dialakukan wawancara. Oleh karena itu, observasi menjadi penting digunakan sebagai trianggulasi data.

C. HASIL & PEMBAHASAN

Warga Binaan Sosial Yang Berada di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 merupakan Warga Binaan Khusus Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Di PSBL Harapan Sentosa 1, Warga Binaan Sosial yang memiliki masalah kejiwaan dibimbing dan dirawat sebagaimana motto dari PSBL HS 1 ini, yakni “Memanusiakan Manusia”. Oleh karena itu, PSBL HS 1 membuat program (kegiatan) yang ditujukan untuk meraih kembali keberfungsian sosial warga binaan sosial yang mereka bina.

Secara umum warga binaan sosial yang berada di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 ini memiliki klasifikasi warga binaan sosial jangkauan dari odmk (orang dengan masalah kejiwaan) maupun odgj psikotik terlantar yang berada di domisili DKI Jakarta. Alasan para warga binaan sosial bisa sampai ke PSBL Harapan Sentosa 1, terbagi atas dua jalur. Yang pertama adalah hasil penjaringan oleh P3S dan hasil penyerahan dari pihak keluarga.

Ya, di sini mah range ODMK yang ditampung itu tujuh puluh persen dari jalanan, nah yang tiga puluh persen itu titipan keluarga”. (Informan R, 2023).

Biasanya mereka merupakan kiriman dari jalanan. Misalnya, mereka yang dititipkan melalui P3S maupun satpol pp. Pada umumnya juga odmk tersebut dikirim ke PSBI 1 ataupun PSBI 2. Jadi dapat disimpulkan jika klasifikasi nya memang benar dari jalanan terlantar dan memang sebagian ada yg benar-benar titipan dari keluarga ataupun serahan dari keluarga.

Menurut salah seorang narasumber, adapun alur yang perlu dilalui untuk melakukan penyerahan ke panti sosial,

“Contoh, di kelurahan Cengkareng misalnya. Ada laporan dari warga ke RT/RW kalau ada ODGJ di lingkungan masyarakat. Mengganggu lah misalnya.

Dimulai dari ketua RT datang ke rumah warga yang dilaporkan untuk dimintai data. Setelah itu keluarga mengisi surat pernyataan dari RT dan RW. Surat ini sebagai bukti bahwa keluarga sudah tidak sanggup untuk mengurus anggota keluarga lainnya karena mengalami gangguan ODGJ. Jika sudah, di tanda tangani, memakai saksi, barulah di minta tembusan ke kelurahan. Nantinya, di kelurahan akan di satpelnya, yang berada di bagian surat-surat. Nanti satpel akan mengirim surat tembusan ke kecamatan. Dari kecamatan akan mensurvey, untuk memastikan kalau di daerah itu ada ODGJ. Nantinya petugas P3S akan datang, home visit, dan akan dirujuk ke PSBI satu atau tidak dua”. (Informan R, 2023)

Guntur Setiawan berpendapat, implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif (Setiawan, 2004).

(5)

52 Implementasi adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci.

Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap sempurna.

Menurut Nurdin Usman, implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi,tindakan atau adanya mekanisme suatu sistem, implementasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan (Usman, 2002).

1. Psikoterapi

Psikoterapi dapat diartikan sebagai pengobatan alam pikiran, lebih tepatnya sebagai pengobatan dan perawatan dalam hal gangguan psikis dengan menggunakan metode psikologis. Definisi ini dikemukakan oleh Rita L. Atkinson. David A. Statt juga mengemukakan bahwa psikoterapi adalah penggunaan teknik psikologis untuk mengobati gangguan psikologis. Empat bentuk utama dari psikoterapi itu sendiri berdasarkan empat pendekatan teoritis utama untuk psikologi adalah kognitif, perilaku, humanistik, dan psikoanalisis.

Istilah psikoterapi juga terkadang disebut sebagai terapi bicara hal tersebut didasarkan pada percakapan yang dilakukan dengan psikiater, psikoterapis, ataupun konselor terlatih. Dalam pembahasan suasana rahasia, pasien dan terapis akan membahas dan mendiskusikan bagian-bagian hidup pasien yang ingin ditingkatkan. Bergantung pada terapis, jenis terapi, dan kebutuhan pasien itu sendiri.

Pada sesi psikoterapi seseorang dapat membicarakan: 1. Riwayat dan pengalaman hidup pribadi, 2. Perasaan dan emosi yang dirasakan, 3. Hubungan pasien dengan orang lain, 4. Pola pikir, 5. Perilaku dan kebiasaan, 6. Tujuan yang ingin dicapai pasien dan hambatan yang dirasakan.

Berikut merupakan masalah kejiwaan yang perlu ditangani dengan psikoterapi: (1)

Memiliki kebiasaan yang sulit untuk dihentikan, sebagai contoh terlalu sering merapikan dan membersihkan rumah berulang kali; (2) Putus asa/sedih yang luar biasa selama beberapa bulan seperti perasaan takut, cemas atau khawatir yang berlebihan dan menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari; (3) Perubahan mood yang berubah-ubah/

ekstrim; (4) Berperilaku negatif, seperti mudah marah, penyalahgunaan zat atau narkoba, kecanduan minuman beralkohol, ataupun makan berlebihan; (5) Memiliki keinginan untuk bunuh diri atau menyakiti orang lain; (6) Mengalami halusinasi; (7) Mengalami penyimpangan seksual, termasuk masokisme, sehingga mengganggu hubungan dengan pasangan;

(8) Kesulitan dalam mengungkapkan perasaan/ merasa tidak ada orang lain yang bisa memahami perasaan atau masalah yang sedang dihadapi.

2. Cara Melakukan Psikoterapi

Psikoterapi memiliki proses dua arah sehingga sikap saling mempercayai sangat diperlukan dalam hubungan antara pasien dan terapis agar hubungan antar keduanya tercipta dengan baik. Mungkin saja ada beberapa pasien yang mengalami perubahan yang tidak sesuai dengan harapan, karena Psikoterapi dapat menghidupkan kembali kejadian yang kurang menyenangkan di masa lalu. Tetapi, tidak semua teknik psikoterapi memakai cara ini.

Ketika seseorang merasakan adanya permasalahan serius tentang kesehatan mentalnya, pasti untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan serangkaian psikoterapi. Dengan tujuan permasalahan tersebut dapat diatasi ketika menjalankan proses atau dalam sesi Psikoterapi.

Pada sesi yang pertama psikoterapi dominan berpusat pada menjalin hubungan, kepercayaan, dengan pasien. Sama halnya dengan proses assesment yang dilakukan dengan pasien yakni pendekatan individu

(6)

53 maupun kelompok antara peksos dengan pasien/klien yang disalurkan melalui pendekatan konseling.

Tahap selanjutnya yaitu menyelidiki permasalah klien melalui percakapan.

Dalam hal ini Peksos membimbing dan menentukan apa yang menjadi penyebab permasalahan tersebut dan mengemukakan alasannya.

Langkah berikutnya yakni masuk ke tahap penyelesaian masalah. Di tahap ini peksos bekerja secara beriringan untuk mencari pikiran, perilaku, dan perasaan lain yang bisa membantu pasien dalam berpandangan positif. Sebagai contoh, melakukan permainan peran, dan pengembangan keterampilan yang di sukai oleh klien.

Penting sekali bagi seseorang yang mengalami permasalahan gangguan kesehatan mental yang ditangani dengan cara psikoterapi. Beberapa orang akan merasakan adanya perubahan dan kemajuan setelah melakukan 6-7 sesi.

Setelah menyelesaikan psikoterapi, pasien akan menjadi lebih mudah untuk kembali ke kebiasaan yang stabil dan cara berpikir yang positif dan sehat. Meskipun demikian jika sudah menyelesaikan psikoterapi, pasien penting unyuk melanjutkan apa yang telah dipelajari selama sesi psikoterapi ke dalam kehidupan yang nyata agar permasalahan gangguan jiwa tidak terulang kembali.

3. Tujuan Psikoterapi

Dubois dan Miley (dalam Huda, 2009, h. 27-28) mengatakan bahwa ada tiga jenis keberfungsian sosial, antara lain: (1) Keberfungsian sosial efektif; (2) Keberfungsian sosial beresiko; (3) Kesulitan dalam berfungsi sosial. Indikator keberfungsian sosial orang yang menderita psikotik yaitu adanya perubahan perilaku yang positif yang mampu memenuhi perannya sebagai anggota keluarga. Untuk mengembangkan perilaku positif dari hal- hal sederhana seperti membantu keluarga,

meminum obat dengan baik, membantu bantuan di rumah sudah dapat tergolong sangat baik.

Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa keberfungsian sosial yang dialami oleh Warga Binaan Sosial yang ada di PSBL Harapan Sentosa 1 sebelum mendapatkan rehabilitasi sosial khususnya pada resosialisasi di PSBL Harapan Sentosa 1 dikategorikan pada jenis kesulitan dalam keberfungsian sosialnya, dikarenakan kondisi seperti ini tidak mampu beradaptasi dan berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhannya sebagai manusia, karena masalah kejiwaan yang dialami cukup parah.

Namun, setelah warga binaan sosial mendapatkan rehabilitasi sosial khususnya pada resosialisasi di PSBL Harapan Sentosa 1 dikategorikan pada jenis keberfungsian sosial yang cukup beresiko, yaitu keberfungsian sosial yang resiko untuk tidak dapat memenuhi keberfungsian sosial secara efektif dan masih terdapat resiko gagal untuk dapat berfungsi sosial secara efektif. Meskipun keberfungsian sosial belum dapat dikategorikan ke dalam keberfungsian sosial efektif, setidaknya warga binaan sosial mengalami peningkatan dalam keberfungsian sosial dari kondisi sebelumnya.

Oleh karena itu, jika semua aspek yang mendukung keberfungsian sosial bisa terpenuhi dengan baik, maka warga binaan sosial yang ada di PSBL Harapan Sentosa 1 bisa meningkatkan keberfungsian sosialnya menjadi lebih efektif (Elfirda & Astanto, 2017).

4. Program Psikoterapi Di PSBL Harapan Sentosa 1 Bagi Warga Binaan

a. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang merupakan upaya untuk memfasilitasi perawat atau psikoterapis terhadap sejumlah pasien pada

(7)

54 waktu yang sama. Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah pasien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami (Keliat Budi Anna, 2014).

Tujuan dari terapi aktivitas adalah untuk memantau dan meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota (Purwanto, 2015). Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah (Anna, 2014).

Terapi aktivitas kelompok sering digunakan dalam praktik kesehatan jiwa, bahkan saat ini terapi aktivitas kelompok merupakan hal yang penting dari keterampilan terapeutik dalam keperawatan (Anna, 2005). Kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi bisa kendalikan dengan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi. Terapi ini menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dalam kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok (Handayani et al., 2013).

Di PSBL Harapan Sentosa 1, para wbs dikumpulkan sebanyak 8 orang perkelompok, dan mendudukkan mereka dengan membentuk lingkaran kecil.

Mereka diajak untuk memperkenalkan diri mereka dan juga berkenalan dengan teman sesama wbs mereka. Setelah semua mendapat gilirannya, mereka diberikan tugas untuk menyebutkan nama-nama teman mereka ataupun petugas. Jika mereka menjawab dengan benar, maka mereka akan diberikan hadiah berupa biskuit. Namun, apabila mereka tidak bisa menjawab, maka mereka tidak mendapatkannya. Hal ini berlaku demikian, agar para Warga Binaan Sosial tersebut merasa termotivasi untuk bisa menyelesaikan tugas mereka dengan baik di kemudian hari.

b. Art Therapy

Melukis adalah seni menghargai pengalaman artistiknya sendiri seorang

seniman melalui bidang dua dimensi.

Menggambar pada media, bahan dan teknik artistik sebuah lukisan dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti lukisan cat minyak, lukisan warna air (cat air), pastel lukis (pastel minyak), lukisan arang (conte), lukisan alfresco, lukisan tempera, lukisan azalea dan mozaik.

Art therapy adalah salah satu solusi dari gerakan kesadaran kesehatan mental masyarakat Indonesia. Metode art therapy ini menggabungkan pendekatan seni, desain, psikologi dan ilmu terkait lainnya.

Art therapy banyak digunakan untuk menyelesaikan konflik emosional, ungkapkan perasaan dan emosi secara non- verbal (Kartika, 2017), seperti dalam pengolahan stres, kecemasan, trauma, paranoid, skizofrenia, serta kasus psikologis lainnya (Pertiwi, 2017).

Memberikan terapi seni bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental atau psikotik di PSBL Harapan Sentosa 1 mampu menjadi katarsis atau untuk menyalurkan energi negatif untuk mengatasi tekanan kehidupan. Melukis adalah terapi yang efektif bermanfaat bagi kesehatan sebagai pembebas tekanan dan dapat membantu seseorang untuk menyeimbangkan hidupnya karena dia bisa bergerak hatinya sejenak dari hal-hal yang dilakukan.

Selain itu, terapi melukis dapat membuat seseorang melepaskan perasaan mereka, emosi dan perasaan tersembunyi ke kanvas. Setelah mulai melukis, biasanya seseorang mengalir dan berkonsentrasi penuh pada tujuan lukisan secara tidak sadar, kondisi ini ada membuat seseorang melupakan stresnya yang dia hadapi.

Dengan diadakannya kegiatan melukis dapat membantu membaca dan mengetahui keadaan psikologis pasien melalui gangguan psikotik atau kejiwaan.

Menganalisis lukisan ekspresif setiap pasien psikotik.

Sebuah lukisan yang jelas merupakan salah satu terapi seni media bagi mereka

(8)

55 yang menderita gangguan kejiwaan atau psikotik. Dalam art therapy ini objeknya bebas pilih dan campur warna dan pilih kertas. Akan ada campuran warna mempengaruhi rangsangan rangsangan menghasilkan reaksi warna berdasarkan perasaan.

c. Terapi Kerajinan atau Hasta Karya Hasta karya merupakan hasil atau produk dari karya kreatif, baik yang sifatnya sudah ada maupun belum ada sebelumnya (Bahasa, 2007). Karakteristik dari hasta karya yaitu produk diciptakan sendiri berdasarkan ide dan kreativitasnya.

Kreativitas merupakan suatu aktivitas yang ditandai dengan penciptaan ide-ide baru yang dapat diimplementasikan dalam memecahkan masalah(Aprita et al., 2018).

Pelatihan hasta karya pada masyarakat dapat mendorong peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesejahteraan masyarakat (Iriani et al., 2020).

Dalam Kaitannya dengan kegiatan hasta karya ini, Para Warga Binaan Sosial di PSBL Harapan Sentosa 1 diajarkan untuk membuat keset dan juga kerajinan manik- manik. Alat dan Bahan disediakan oleh panti, kemudian petugas membimbing para wbs untuk membuat keset dengan menggunakan alat pembuat keset yang bentuknya mirip dengan sisir. Alat tersebut terbuat dari kayu dan paku dengan jarak kurang lebih satu centimeter.

Kemudian, untuk kerajinan manik- manik, para wbs dipersilahkan untuk berkreasi sesuka hati mereka dalam membentuk kalung, gelang, ataupun cincin.

Kedua kerajinan tersebut akan dijual dengan harga dua ribu rupiah hingga dua puluh ribu rupiah, dan uang hasil penjualan akan digunakan sebagai modal untuk membeli bahan baku dan upah bagi WBS yang berpartisipasi.

d. Terapi STANZA

Kegiatan Stanza merupakan kegiatan rutin harian bagi warga PSBL Harapan Sentosa 1. Kegiatan aktivitas fisik yang

dimulai sejak pukul delapan pagi ini berupa kegiatan yang mirip dengan upacara bendera, namun tidak ada bendera yang digunakan. Alur kegiatan dari Stanza adalah sebagai berikut: (1) Berdoa sebelum memulai kegiatan; (2) Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Lagu Wajib Nasional;

(3) Menyanyikan Lagu Mars Panti Sosial Bina Laras “Senandung Cinta”; (4) Senam Irama; (5) Percakapan interaktif antara pembawa acara (petugas) dan WBS; dan (6) Bermain games.

Kegiatan Stanza dibawakan oleh perwakilan dari petugas masing-masing wisma yang sedang bertugas di hari itu.

Dengan dipandu oleh seorang pembawa acara, para Warga Binaan Sosial diajak untuk bergerak mengikuti arahan. Para WBS juga diberikan kesempatan untuk menunjukkan keberanian mereka untuk bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, seperti kuis yang berupa pertanyaan- pertanyaan sederhana ataupun yang melatih wawasan dan edukatif, ataupun permainan- permainan yang perlu dimainkan secara perorangan maupun berkelompok.

e. Kegiatan Keagamaan

Selain kegiatan yang bersifat fisik dan juga mental, perlu juga dorongan dari aspek spiritual. Oleh karena itu, sebagai salah satu cara dalam mengembalikan keberfungsian sosial para Warga Binaan Sosial, diperlukan kegiatan keagamaan sebagai penyeimbang.

Telah ditegaskan dalam Pasal 28E ayat (1) UUD 1945, yang menegaskan bahwa

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”

Hal ini juga berlaku bagi warga binaan sosial. Bila ada sesuatu yang dirampas dari warga binaan sosial, hal itu hanyalah kebebasan. Selain kebebasan, mereka bisa

(9)

56 mendapatkan hak mereka yang lain. Oleh karena itu, menjadi warga binaan sosial tidak serta merta menghalangi mereka untuk bisa beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di PSBL Harapan Sentosa 1, bagi warga binaan sosial serta petugas yang beragama Islam tersedia mushola yang menjadi tempat beribadah yang memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari mukena, sarung, sajadah, bahkan Al-Qur’an, Juz’ama, dan Iqro untuk mengaji.

Selain itu, kegiatan keagamaan lain ialah kebaktian. Kegiatan kebaktian dilaksanakan setiap hari minggu di aula PSBL Harapan Sentosa 1 oleh para wbs yang beragama kristen, dan dipandu oleh pemandu.

5. Analisa Kekurangan dan Kelebihan Program

a. Kelebihan

Secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan di PSBL Harapan Sentosa 1 merupakan bagian dari silabi yang dirancang sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan harian di panti. Dalam kaitannya dengan kegiatan atau program yang berlaku di PSBL Harapan Sentosa 1, keseluruhan program dibuat dengan tujuan mengembalikan keberfungsian sosial dari warga binaan sosial.

Disamping itu, menurut penuturan salah seorang narasumber, kegiatan (program) tersebut dilaksanakan sebagai ajang untuk menyeleksi talenta warga binaan sosial. Hal ini diperhatikan dari bakat bawaan yang dimiliki oleh warga binaan sosial tersebut serta ketersediaannya dalam berpartisipasi pada sebuah kegiatan.

Dengan didasarkan pada hal tersebut, para warga binaan sosial diajak untuk mengeksplorasi dan menemukan bakat mereka, baik dari kesadaran diri sendiri maupun dengan bantuan dan dorongan dari petugas. Selain itu, program-prgram yang dijalankan PSBL Harapan Sentosa 1 dalam

kaitannya dengan proses resosialisasi warga binaan sosial, program-program tersebut membantu para warga binaan sosial untuk memancing kembali ingatan- ingatan lama mereka secara lebih akurat dan detail, serta membantu mereka dalam berinteraksi dengan orang lain, yakni petugas dan temannya sesama warga binaan sosial.

b. Kekurangan dan Hambatan

Sekalipun begitu, untuk penerapannya sendiri masih agak sulit untuk mencapai tujuan sepenuhnya. Sebagaimana warga binaan sosial dari PSBL Harapan Sentosa 1 yang merupakan kategori Orang Dengan Masalah Kejiwaan, masih banyak dijumpai warga binaan sosial yang masih pasif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada, masih tidak fokus dalam memahami dirinya sendiri, ataupun ekspresif dalam mengekspresikan dirinya. Selain itu, jumlah yang tidak sebanding antara petugas, instruktur, dan warga binaan sosial, menjadikan alasan mengapa program- program di PSBL Harapan Sentosa 1 ini bisa dikatakan belum sepenuhnya efektif.

6. Rencana Program Kedepannya Di PSBL Harapan Sentosa 1 ini sedang dalam masa perencanaan program lanjutan dari hasta karya. Dalam hal ini, para Pekerja Sosial di PSBL Harapan Sentosa 1 memiliki gagasan untuk bisa memperluas pasar sasaran dari penjualan hasil-hasil karya para warga binaan sosial, yang tadinya hanya terbatas pada lingkungan sekitar panti dan juga memanfaatkan adanya event-event khusus, seperti kunjungan dari donatur, pejabat-pejabat pemerintahan, maupun event bazaar atau pameran.

Jumlah pengguna media sosial di Indonesia hampir mencapai angka 100 juta orang. Menurut data penelitian dari we are social, jumlah penduduk Indonesia yang memanfaatkan media sosial Facebook adalah sebanyak 80 juta, Twitter sebanyak 38 juta dan Instagram sebanyak 52 juta.

(10)

57 Jika media sosial dimanfaatkan secara optimal, maka hal ini dapat membantu bisnis UMKM dalam memiliki pelanggan baru (Pratiwi et al., 2015).

Dengan adanya fitur dan layanan masing-masing yang berbeda tentunya dibutuhkan strategi-strategi untuk memasarkan produk yang kita jual dan memenangkan kompetisi market di sana (Permana & Cendana, 2019). Oleh karena itu, dengan merambah pasar sasaran dengan media elektronik diharapkan mampu memperluas pasar dari hasil karya para Warga Binaan Sosial di PSBL Harapan Sentosa 1 ini.

Selain itu, ada cukup banyak warga binaan sosial yang memiliki bakat terpendam, khususnya di bidang seni, yang rasanya akan sayang bila tidak di explore lebih jauh. Oleh karena itu, selain melebarkan sayap ke dunia elektronik dalam dunia marketing, melebarkan sayap di dunia seni dirasa akan memberikan efek positif bagi para Warga Binaan Sosial.

Selain melatih skill dengan lebih profesional, menjadikan media elektronik sebagai sarana dalam membagikan karya- karya warga binaan sosial juga bisa menjadi alternatif untuk bisa mengubah stigma masyarakat secara perlahan dalam memandang Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

D. KESIMPULAN & SARAN

Dalam hal mengatasi permasalahan gangguan jiwa salah satu caranya, yakni dengan melakukan psikoterapi. Dengan dilakukannya Psikoterapi kepada pasien yang mengalami gangguan jiwa bertujuan untuk mengubah pikiran, perasaan dan tingkah laku yang secara keseluruhan berpusat pada kinerja otak pasien. PSBL Harapan Sentosa 1 sebagai salah satu dari sekian banyak Panti sosial ataupun panti rehabilitasi bagi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) di Indonesia, menjadi tempat bernaung bagi para Warga Binaan Sosial dengan masalah kejiwaan. Para

WBS diajarkan untuk bisa kembali berperilaku, bersikap, dan berinteraksi layaknya orang pada umumnya.

Pengimplementasian Psikoterapi di PSBL Harapan Sentosa 1 dalam proses mengembalikan keberfungsian sosial para WBS dilakukan melalui beberapa kegiatan, antara lain Terapi Aktivitas Kelompok (TAK), Hasta Karya, Art Therapy, serta Stanza. Sekalipun kegiatan masih tidak seratus persen bisa diikuti dengan baik oleh para warga binaan sosial, setidaknya hampir seluruh warga binaan sosial merasa antusias dalam menjalani kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PSBL Harapan Sentosa 1.

Jika dilihat, kegiatan-kegiatan yang ada di PSBL Harapan Sentosa 1 bisa dikatakan sudah berjalan dengan cukup baik. Sebagai panti cluster 1 yang merupakan tempat dimana para PMKS dengan gangguan kejiwaan dikirimkan dari PSBI Bangun Daya 1 ataupun 2, PSBL Harapan Sentosa 1 bisa dikatakan cukup kondusif dalam melaksanakan pelayanannya.

Hanya saja ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian lebih bagi PSBL Harapan Sentosa 1, yakni memberikan pengarahan lebih lanjut terkait partisipan (WBS) yang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diadakan. Sampai saat ini, masih banyak warga binaan sosial yang sama kedapatan menjadi partisipan dalam berbagai kegiatan.

Hal ini berimbas kepada keefektifan dalam proses pembelajaran dari proses resosialisasi yang dihadapi oleh wbs sendiri.

Apabila ada jadwal yang berbenturan dengan jadwal kegiatan lain, rasanya kurang pas apabila partisipan di salah satu kegiatan menjadi berkurang dikarenakan harus memilih antara dua kegiatan berbeda yang dilaksanakan di waktu yang sama.

E. DAFTAR PUSTAKA

Anna, K. B. (2005). Proses Keperawatan Jiwa. EGC.

(11)

58 Anna, K. B. (2014). Keperawatan Jiwa

Terapi Aktivitas Kelompok. EGC.

Aprita, N., Aparahayuningsih, S., &

Wembrayarli. (2018). Meningkatkan kreativitas Seni Rupa Melalui Kegiatan Prakarya Dengan Media Bahan Limbah Anorganik Pada Anak Kelompok B1 PAUD Islam Intan Insani Kota Bengkulu. Jurnal Ilmiah POTENSIA, 3(1), 38–42.

Bahasa, P. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia: Vol. III. Balai Pustaka.

Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan. (2022).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2022 Direktorat Kesehatan Jiwa.

Elfirda, Nadia., & Astanto, Sugeng. (2017).

Resosialisasi Sebagai Upaya Mencapai Keberfungsian Sosial Bagi Penyandang Gangguan Jiwa Psikotik.

Jurnal Isip.

Handayani, D., Sriati, A., & Widianti, E.

(2013). Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 1(1), 56–

62.

Iriani, D., Wulansari, A. D., Safira, M. E.,

& Budiono, A. (. (2020). Kreativitas Dan Ekonomi Melalui Pelatihan Hasta Karya. ADIMAS, 4(2), 83–91.

Permana, S. D. H., & Cendana, M. (2019).

Pemanfaatan media sosial sebagai strategi promosi bagi kelangsungan UMKM. Journal Community Development and Society, 1(1).

Pratiwi, T. A., Bungin, B., & Soenarjanto, B. (2015). Soenarjanto, B. (2015).

Kebebasan Berpendapat Melalui Facebook Dan Twitter: Studi Kasus

Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik. 1(1).

Sa’adi. (2010). Nilai Kesehatan Mental Islam Dalam Kebatinan Kawrah Jiwa Suryamentaram. Puslitbang.

Semiun, Y. (2006). Kesehatan Mental.

Kanisius.

Setiawan, G. (2004). Implementasi dalam Birokrasi Pembangunan. Balai Pustaka.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Usman, N. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Grasindo.

World Health Organization. (2019). Mental Health Atlas 2017. World Health Organization.

UU

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Pelayanan Kesehatan Jiwa.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Jiwa di Fasilitas Kesehatan.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor

266/Menkes/SK/IV/2008 tentang Penyelenggaraan Perawatan.

Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional

Sumber Daya Manusia

(12)

59 Penyelenggara Kesejahteraan Sosial.

Internet

https://news.detik.com/berita/d-

5681070/ada-17-ribu-odgj-di-dki- dinkes-antisipasi-penambahan- akibat-pandemi/amp, diakses pada 11 Juni 2023

https://ashefagriyapusaka.co.id/berita- rehabilitasi-narkoba/cara-kerja- psikoterapi/, diakses pada 11 Juni 2023.

Referensi

Dokumen terkait