• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi TQM pada CBE dalam Filosofi Teori OBE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Implementasi TQM pada CBE dalam Filosofi Teori OBE"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi TQM pada CBE dalam Filosofi Teori OBE

Oleh

Sri Makmuri TKM : 942015014

Abstrak

Competency-Based Education (CBE) atau Pendidikan Berbasis Kompetensi menjadi trend dalam kurikulum yang digunakan oleh lembaga pendidikan saat ini, terlepas dari masalah perubahan kurikulum yang sampai saat ini belum ada titik temu, kompetensi menjadi parameter untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa terutama dalam pendidikan Kejuruan. Berbeda dengan kompetensi pada sekolah menengah umum, Kompetensi pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai nilai kepentingan yang sebanding dengan kompetensi pada pendidikan tinggi karena lulusan SMK dipersiapkan untuk memasuki pasar kerja, sama halnya dengan lulusan Pendidikan Tinggi. Implementasi Total Quality Management (TQM) dalam managemen pendidikan khususnya pendidikan kejuruan menghadapi beberapa persoalan mendasar. salah satu yang krusial adalah perbedaan prinsip dalam penetapan standar kualitas. Pendidikan Berbasis Kompetensi mengacu pada UU Sistim Pendidikan Nasional menetapkan patok minimal dalam Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh lulusan sebagai ukuran kualitas, sedangkan ukuran kualitas dalam TQM ditentukan berdasarkan Kepuasan Pelanggan. Ukuran kepuasan pelanggan bervariasi dari waktu ke waktu, sedangkan standar kualitas kompetensi hanya berubah jika otoritas yang berwenang melakukan perubahan/penyesuaian. Dalam era kompetisi dewasa ini, ukuran jarak dan waktu semakin sempit, Keterlambatan dalam merespon perubahan berakhir pada kegagalan. Menarik untuk mencermati kondisi dimana standar minimal kompetensi yang ditetapkan tidak memberi kepuasan kepada pelanggan, dengan kata lain ukuran kepuasan pelanggan jauh melampaui standart kompetensi minimal yang ditetapkan pada Institusi Pendidikan. Competency-Based Education hanya efektif pada titik dimana standar minimal kompetensi merupakan ukuran tertinggi dari kepuasan pelanggan. Diperlukan pendekatan baru yang mampu merespon dengan cepat perubahan tingkat kepuasan pelanggan sehingga kualitas lulusan mampu memberi kepuasan maksimal kepada pelanggan sesuai dengan prinsip TQM. Outcomes-Based Educational (OBE) atau Pendidikan Berbasil Hasil diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut.

Kata Kunci : CBE, OBE, SMK, Standar Kepuasan, Standar Kompetensi, TQM.

(2)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 1

Pendahuluan

Pendidikan kejuruan bertujuan mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja bidang keahlian tertentu dan dunia kerja mendapatkan tenaga kerja yang terampil sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri (DUDI). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006, disebutkan bahwa pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Konsekuensinya sekolah harus membekali peserta didik dengan kompetensi dan kemampuan sesuai kebutuhan dunia kerja.

SMKN 1 Salatiga sebagai Sekolah Menengah Kejuruan memberi penekanan pada pentingnya penguasaan kompetensi bagi setiap lulusannya, sesuai standart minimal kompetensi yang harus dikuasai. Namun dalam perkembangannya dirasakan bahwa daya saing lulusan SMKN 1 Salatiga semakin hari semakin menurun walaupun memilki kompetensi memadai.

Disadari bahwa kebutuhan pasar kerja akan standar kualitas lulusan sangat dinamis, selalu meningkat dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Jika kompetensi siswa tidak ditingkatkan mengikuti permintaan pasar, bisa dipastikan pada waktu mendatang lulusan SMKN 1 Salatiga akan kalah bersaing dalam pasar kerja. Kondisi ini tidak hanya menimpa SMKN 1 Salatiga secara khusus, dalam skala yang lebih luas merupakan kendala yang dihadapi SMK di Indonesia pada umumnya. Era pasar bebas akan membuka peluang bagi masuknya tenaga kerja asing yang membuat tenaga kerja Indonesia menjadi tamu di negeri sendiri.

Menurut Pasal 1 Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Standar nasional adalah adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 35 ayat 2 mengatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan dan pembiayaan.

Perubahan yang cepat dalam dunia industri, informasi dan teknologi membutuhkan kecepatan dan akselerasi yang tinggi dalam merespon dan menyediakan sumber daya manusia berkualitas dengan kompetensi yang semakin hari semakin tinggi. Kecepatan dalam merespon perubahan ini menentukan sukses tidaknya lulusan SMK di pasar kerja.

Standar minimal yang ditetapkan bagi kompetensi tertentu membatasi ruang kreatifitas guru dan mengurangi motivasi siswa untuk meraih hasil belajar yang optimal, karena tidak memberi ruang bagi siswa untuk menetapkan target dan tujuan pembelajarannya sendiri yang dapat dicapai dengan sumber daya yang dimiliki, kreatifitas guru terbatas pada alokasi waktu pembelajaran dan target yang harus direalisasikan. Kondisi siswa

(3)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 2 yang bervariasi dalam hal kemampuan dan sumber daya tidak memungkinkan untuk mencapai hasil tertentu dalam waktu yang sama.

Implementasi Total Quality Managemen(TQM) dalam Competency-Based Education diharapkan dapat meningkatkan standar kompetensi lulusan, karena TQM memberi penekanan yang kuat pada kepuasan pelanggan, dengan menyediakan pelayanan dan hasil yang berkualitas.

Hal ini membawa konsekuensi perubahan mendasar dalam strategi pembelajaran. Competency-Based Education yang diterapkan saat ini tidak fleksibel dalam standar kualitas maupun standar waktu pembelajaran.

Competency-Based Education diharapkan dapat memberikan hasil lebih baik bagi kualitas hasil dan kompetensi lulusan jika diimplementasikan dalam kerangka filosofi Teori Outcome-Based Education. Hal ini dikarenakan teori Outcome-Based Education, mempunyai prinsip pendekatan yang senada dengan Total Quality Management sehingga mampu melahirkan efek sinergi yang mendorong peningkatan kualitas hasil dan kompetensi lulusan.

Sejarah Perkembangan TQM.

Pada akhir 1970an dan awal 1980an Negara-negara maju seperti Amerika Utara dan Eropa Barat menghadapi krisis persaingan ketat dengan Jepang dalam menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif. Produk Jepang menguasai perdagangan dunia, konsep made in Japan telah berubah dari suatu nada penghinaan menjadi kata-kata pujian.

Perusahaan-perusahaan Amerika mulai mengevaluasi kembali sistim dan Quality Control yang telah digunakan selama lebih dari 50 tahun, dengan pertanyaan mendasar Sistim Apa Yang Yang Membuat Jepang Sangat Berhasil”. Ditengah gejolak persaingan ekonomi itulah TQM berakar. Meskipun tidak ada kesepakatan tentang metode pendekatan TQM, namun sistim ini memberi penekanan pada pengembangan dan diversifikasi produk secara terus menerus dengan quality control yang sangat ketat (Martínez Lorente,1998)

Asal mula istilah TQM tidak pasti, namun hampir dapat dipastikan jika istilah ini terinspirasi oleh buku Armand V. Feigenbaum “Total Quality Control” dan Kaoru Ishikawa “What Is Total Quality Control? The Japanese Way”. Pertama kali dicetuskan oleh Departemen Perdagangan dan Industri Inggris pada tahun 1983 dalam

"National Quality Campaign", di Amerika dicetuskan oleh Naval Air Systems Command pada tahun 1985.

(Martínez Lorente,1998)

(4)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 3 TQM tidak memiliki bentuk yang pasti, review dari upaya Angkatan Laut AS yang dilakukan oleh beberapa peneliti sipil pada tahun 1984, mengajukan pentingnya kontrol secara statistik atas proses dan kualitas produk.

Upaya tersebut memberi rekomendasi untuk mengadopsi teori W. Edwards Deming yang oleh Angkatan Laut AS dinamakan Total Quality Management (TQM). Model TQM ini selanjutnya digunakan oleh seluruh Pemerintah Federal AS. Dan diikuti oleh sektor swasta, tujuannya bukan saja untuk merebut kembali pangsa pasar dari Jepang, tetapi juga agar tetap kompetitif dalam negosiasi kontrak dengan Pemerintah Federal AS.

Pengertian TQM

Meskipun tidak ada defenisi umum tentang TQM, beberapa organisasi terkemuka berusaha mendefenisikannya.

United States Department of Defense (1988)

"Total Quality Management (TQM) in the Department of Defense is a strategy for continuously improving performance at every level, and in all areas of responsibility. It combines fundamental management techniques, existing improvement efforts, and specialized technical tools under a disciplined structure focused on continuously improving all processes. Improved performance is directed at satisfying such broad goals as cost, quality, schedule, and mission need and suitability. Increasing user satisfaction is the overriding objective. The TQM effort builds on the pioneering work of Dr. W. E.

Deming, Dr. J. M. Juran, and others, and benefits from both private and public sector experience with continuous process improvement."( Department of Defense, 1988)

British Standards Institution (Standard BS 7850-1:1992)

"A management philosophy and company practices that aim to harness the human and material resources of an organization in the most effective way to achieve the objectives of the organization."

(Hoyle, David (2007)

International Organization for Standardization (Standard ISO 8402:1994)

"A management approach of an organisation centred on quality, based on the participation of all its members and aiming at long term success through customer satisfaction and benefits to all members of the organisation and society."(Pfeifer, Tilo (2002)

The American Society for Quality

"A term first used to describe a management approach to quality improvement. Since then, TQM has taken on many meanings. Simply put, it is a management approach to long-term success through customer satisfaction. TQM is based on all members of an organization participating in improving processes, products, services and the culture in which they work. The methods for implementing this

(5)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 4 approach are found in the teachings of such quality leaders as Philip B. Crosby, W. Edwards Deming, Armand V. Feigenbaum, Kaoru Ishikawa and Joseph M. Juran."( IOS, Quality Glossary)

The Chartered Quality Institute

" Total quality management is a management approach centred on quality, based on the participation of an organisation's people and aiming at long term success (ISO 8402:1994). This is achieved through customer satisfaction and benefits all members of the organisation and society. In other words, TQM is a philosophy for managing an organisation in a way which enables it to meet stakeholder needs and expectations efficiently and effectively, without compromising ethical values."(Chartered Quality Institute)

 Menurut (Ishikawa dalam Pawitra, 1993: 135). Total Quality Management dapat diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari organisasi ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitass, dan pengertian serta kepuasan pelanggan Menurut Juran dan Ishikawa, TQM adalah upaya organisasi menilai kembali cara-cara, kebiasaan, praktik, dan aktivitas yang ada dan kemudian secara inovatif memfungsikan seluruh sumber dayanya kedalam proses lintas fungsi yang mengabdi pada kepentingan klien, sehingga organisasi mampu mencapai visi dan misinya.

 Pendapat lain dikemukakan oleh Sugeng Pinando (2001) yang menyatakan bahwa TQM merupakan aktivitas yang berusaha untuk mengoptimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan yang terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.

 Disamping itu, Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana juga mengatakan bahwa TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.

Dari berbagai defenisi yang ada dapat disimpulkan bahwa TQM adalah suatu Filosofi manajemen yang merangkum berbagai usaha perbaikan terhadap cacat kinerja dan cacat produk dalam berbagai aspek dan tingkatan demi kepuasan pelanggan dengan mengoptimalkan semua potensi yang ada dalam siklus tanpa akhir yang terstruktur, tercatat, dan terkontrol.

TQM dikatakan sebagai sebuah filosofi manajemen dikarenakan hanya memuat petunjuk yang bersifat umum, penerapan sehari-hari dalam operasional perusahaan membutuhkan interpretasi dari seorang Pemimpin/Manager berbakat, disinilah intuisi, insiatif, kreavitas seorang pemimpin dipertaruhkan.

Persaingan, Kuantitas dan kualitas sumber daya selalu berubah, tingkat kepuasan pelanggan bervariasi dan cenderung meningkat, menyebabkan cacat kinerja dan cacat produk selalu ada, yang membutuhkan perbaikan

(6)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 5 terus-menerus. Dalam metafora sederhana, Total Quality Management diibaratkan sebagai rangkaian mesin yang hidup, terus bergerak maju, menyediakan bahan bakar sendiri, mempunyai kemampuan untuk memperbaiki, meningkatkan kapasitas sendiri lewat koordinasi, komunikasi, serta kemampuan membaca situasi internal maupun eksternal.

Sejak tahun 1990 Lembaga Standar Kualitas di berbagai Negara seperti Belgia, Perancis, Jerman dan Inggris berusaha untuk membakukan TQM, puncaknya terjadi pada tahun 1993, namun resesi ekonomi memaksa pemerintah beberapa Negara menutup Lembaga Standar Kualitas karena alasan perampingan, The Federal Quality Institute ditutup pada September 1995 oleh pemerintahan Presiden Clinton, The European Centre for Total Quality Management ditutup pada agustus 2009, perlahan secara eksplisit berbagai standar TQM formal digantikan oleh ISO 9000. Defenisi dan standar TQM semakin samar setelah Jack Welch, mengalihkan perhatian dunia pada Six Sigma, dan Toyota memperkenalkan Lean Manufacturing.

Total Quality Management adalah sistem manajemen komprehensif yang :

 Fokus pada kepuasan pemasok dan pelanggan dengan menyediakan produk dan layanan berkualitas sesuai dengan harapan pemasok maupun pelanggan

 Didorong untuk melakukan perbaikan yang terus menerus dalam setiap aspek pada semua tingkatan

 Mengakui bahwa semua orang dalam organisasi adalah pemasok dan pelanggan baik internal maupun eksternal

 Organisasi dipandang sebagai suatu sistim internal yang memiliki tujuan, departemen dan individu memberikan kinerja maksimal sesuai dengan sumber daya masing-masing dan terus memperbaiki kenerja dari waktu ke waktu.

 Tidak hanya fokus pada hasil tapi juga pada cara melaksanakan tugas (proses)

 Menekankan kerja sama sebagai team work dengan partisipasi penuh dari seluruh karyawan Sistim TQM meyakini bahwa :

 Kualitas diukur dari tingkat kepuasan pemasok/pelanggan

 Setiap orang adalah pemasok sekaligus pelanggan

 Perbaikan kinerja dan peningkatan kualitas harus dilakukan terus menerus

 Analisis terhadap proses adalah kunci dalam meningkatkan kualitas

 Pengukuran, keterampilan menggunakan instrument analisis dan keterlibatan karyawan adalah sumber penting bagi ide perbaikan dan inovasi

(7)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 6

 Jika organisasi kita tidak meningkatkan kualitas produk dan layanan, organisasi lain akan melakukannya, dengan demikian produk dan layanan kita menjadi tidak memuaskan dan tidak berkualitas (Soumya Pillai,1996)

Elemen Fungsional TQM I. Foundation II. Building Bricks III. Building Mortar IV. Roof

Ibarat bangunan, agar dapat berfungsi dengan baik TQM memilki empat elemen penting yaitu, fondasi/dasar, struktur bangunan, komposisi bangunan dan atap. Dari empat elemen fungsional di kembangkan delapan elemen kunci agar Total Quality Management dapat diimplementasikan dengan baik : Etika, Integritas, Kepercayaan, Training, Teamwork, Leadership, Recognition dan Communication

I. Foundation

TQM dibangun atas dasar etika, integritas dan kepercayaan. Menjadi media untuk menumbuhkan keterbukaan, keadilan dan ketulusan, sedapat mungkin melibatkan semua orang. Ini adalah kunci untuk membuka potensi utama dari TQM. Unsur Etika, Integritas, Kepercayaan bergerak bersama-sama, namun, setiap elemen menawarkan sesuatu yang berbeda pada konsep TQM.

1. Etika - Etika adalah disiplin berkaitan dengan hal baik dan buruk dalam berbagai situasi. Terdapat dua subyek utama yaitu Etika Organisasi dan Etika Individu. Etika organisasi membangun kode etik bisnis yang menguraikan pedoman yang harus dipatuhi bagi semua karyawan untuk meningkatkan kinerja. Etika individu meliputi baik buruknya kepribadian karyawan

2. Integritas - Integritas berarti kejujuran, nilai moral, keadilan, kesetiaan dan ketulusan. Merupakan Karakteristik yang sangat diharapkan dan layak diterima oleh pelanggan baik (internal atau eksternal). Lawan dari integritas adalah duplicity (bermuka dua) dimana prinsip TQM tidak dapat bekerja.

3. Kepercayaan – kepercayaan adalah hasil dari integritas dan perilaku etis. TQM tidak dapat dibangun tanpa kepercayaan. Kepercayaan mendorong partisipasi total, komitmen dari seluruh karyawan sehingga dapat

(8)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 7 diberdayakan. . Dengan kepercayaan, evaluasi dan proses perbaikan tidak berkembang menjadi persaingan.

Kepercayaan juga memudahkan pengambilan keputusan dalam tingkat organisasi dan membuat karyawan merasa tertantang untuk terus melakukan perbaikan

II. Building Bricks

Diatas dasar fondasi yang kuat (Etika, Integritas dan Kepercayaan) kontruksi bangunan organisasi ditata.

4. Pelatihan – Pelatihan sangat penting bagi karyawan agar semakin produktif. Para pemimpin departemen/divisi bertanggung jawab melaksanakan TQM dalam departemen mereka dan mengajarkan filsafat TQM kepada semua karyawan, sehingga karyawan memahami pentingnya keterampilan Interpersonal, kemampuan bekerja dalam tim, teknik pemecahan masalah, teknik pengambilan keputusan, mampu menganalisis kinerja dan pada akhirnya mampu melakukan perbaikan

5. Teamwork - kerja sama tim juga merupakan elemen kunci dari TQM. Didalam tim, bisnis akan mendapat solusi lebih cepat dan lebih baik, perbaikan yang dilakukan bersama tim biasanya bersifat permanen. Bekerja dalam tim membuat karyawan merasa nyaman, mampu mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi, dan dapat saling membantu dalam mencari solusi. TQM mengadopsi 3 jenis kerjasama tim :

1) Quality Improvement Teams atau Excellence Teams (QITs) tim ini bersifat sementara dengan tujuan menangani masalah tertentu yang sering timbul. Tim ini dibentuk untuk jangka waktu 3-12 bulan 2) Problem Solving Teams (PSTs) - adalah tim sementara untuk memecahkan masalah tertentu dan juga

untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab masalah. Biasanya berlangsung satu minggu sampai tiga bulan.

3) Natural work teams (NWTs) - Tim ini terdiri dari kelompok-kelompok kecil pekerja terampil yang berbagi tugas dan tanggung jawab. Menggunakan konsep-konsep seperti tim keterlibatan karyawan, tim self-managing dan lingkaran kualitas. Tim-tim ini umumnya bekerja selama satu sampai dua jam seminggu.

6. Kepemimpinan –merupakan elemen yang paling penting dalam TQM. Kepemimpinan dalam TQM membutuhkan manajer yang dapat memberikan visi yang menginspirasi, membuat arah strategis yang dipahami oleh semua dan menanamkan nilai-nilai yang memandu bawahan. Seorang pemimpin harus memahami TQM, percaya, dan menunjukan kepercayaan itu lewat komitmen dalam praktek setiap hari.

Pemimpin harus bisa memastikan filosofi, strategi, arah dan fokus telah dipahami oleh seluruh karyawan

(9)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 8 III. Building Mortar

7. Komunikasi – elemen ini merupakan senyawa yang mampu menyatukan bangunan dari fondasi sampai atap, terikat dengan kuat oleh mortar komunikasi. Komunikasi adalah elemen penghubung antar berbagai elemen dalam TQM. Keberhasilan TQM menuntut komunikasi yang baik antara semua anggota organisasi, antara pemasok dan pelanggan. Pemimpin harus menjamin saluran komunikasi tetap terbuka sehingga karyawan dapat mengirim dan menerima informasi terkait TQM. Komunikasi yang lancer, informasi yang akurat, dan kemampuan menafsir pesan sangatlah penting.

Ada berbagai cara komunikasi seperti:

Downward communication –adalah bentuk dominan dari komunikasi dalam suatu organisasi.

Presentasi dan ceramah pada dasarnya melakukan ini. Dengan ini pemahaman karyawan tentang TQM menjadi jelas

Upward communication – jenis komunikasi ini digunakan karyawan untuk memberikan saran dan masukan kepada atasan demi perbaikan. Seorang pemimpin harus peka terhadap semua masukan, dan mampu mengolah menjadi sebuah keputusan yang mendorong perbaikan.

Sideways communication – komunikasi ini penting untuk menghilangkan friksi antar divisi/departemen, termasuk dalam berkomunikasi dengan pelanggan dan pemasok secara lebih professional.

IV. Roof

8. Pengakuan - Pengakuan adalah elemen terakhir dan akhir dalam seluruh sistem. Saran dan prestasi karyawan baik itu individu maupun kelompok perlu mendapat apresiasi. Pengakuan penting bagi karyawan dan tim mereka, karena dengan demikian mereka merasa memberikan kontribusi bagi perusahaan, merasa dihargai dan dibutuhkan

Foundation Building Bricks Building Mortar Roof

Etika Integritas Kepercayaan Training Team work Leadership Communication Recognition

(10)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 9 Sumber

Padhi Nayantara, The Eight elements of TQM

Pendidikan Berbasis Kompetensi

Competency-Based Education (CBE)

Pendidikan Nasional merupakan sebuah sistem yang terdiri atas berbagai sub sistem yang saling bertautan dalam mencapai tujuan. Di tingkat operasional yaitu proses pembelajaran juga merupakan sistem yang di dalamnya terdapat berbagai sub sistem yang saling berpengaruh, seperti instrumental input berupa siswa, enviromental input (dukungan stakeholders), quality control, dan lain-lain. Satu hal yang sangat krusial dalam sistem ini adalah adanya quality assurance atau jaminan mutu output yang dihasilkan. Semua itu harus dipertanggungjawabkan kepada publik (public accountibility).(Yuli Kwartolo, 2002).

Istilah Competency-Based Education(CBE) dan Outcome-Based Education(OBE) menggambarkan model pendidikan yang berbeda secara detail, tetapi mempunyai asumsi yang sama bahwa pendidikan harus dipandu oleh hasil yang harus ditentukan lebih duhulu. Competency adalah atrribut profesional yang direkatkan pada CBE untuk mengganti kompleksitas pengertian Outcomes dalam OBE (Anne Mette Morcke , Tim Dornan, Berit Eika, 2012)

Dari namanya diketahui bahwa sistim ini memberi penekanan yang dominan pada berbagi kompetensi yang harus dikuasai oleh anak didik dalam setiap bidang studi pada setiap jenjang sekolah. Implikasinya, akan terjadi

(11)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 10 pergeseran dari penguasaan pengetahuan (kognitif) atau dominasi kognitif menuju kepada penguasaan kompetensi tertentu.

Kompetensi utama dibagi atas tiga macam, yaitu:

1) Kompetensi tamatan/lulusan; kompetensi minimal yang harus dicapai siswa yang tamat dari suatu jenjang pendidikan tertentu (SD – SLTA);

2) Kompetensi Umum Mata Pelajaran/Standar; kompetensi/baku kinerja minimal yang harus dicapai pada saat siswa menyelesaikan suatu rumpun atau mata pelajaran tertentu; serta

3) Kompetensi dasar; kemampuan minimal yang harus dicapai siswa dalam penguasaan konsep/materi yang dibelajarkan (ukuran minimal yang telah ditetapkan tentang pengetahuan, kemampuan, keterampilan, sikap dan perilaku dasar dalam menguasai materi pokok dan indikator pencapaian hasil belajar).

Dengan Competency-Based Education nantinya diharapkan dapat menjawab visi pendidikan dasar yang telah dirumuskan oleh Balitbang Depdiknas yaitu menghasilkan lulusan yang mempunyai dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan, dan pengetahuan yang kuat. Juga mampu menjawab visi pendidikan menengah, yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang kuat untuk digunakan dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Crunkilton (1979 : 222) dalam Mulyasa, (2004 : 77) mengemukakan bahwa

“kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan”. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dalam kerja.

Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dinyatakan sedemikian rupa agar dapat dinilai, sebagai wujud hasil belajar peserta didik yang mengacu pada kreativitas belajarnya. Peserta didik perlu mengetahui tujuan belajar dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan, sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit.

Dikembangkan berdasarkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan memiliki kontribusi terhadap kompetensi yang sedang dipelajari.

(12)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 11 Menurut Gordon, (1998 : 109) dalam Mulyasa, (2004 : 77-78) beberapa aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut:

 Pengetahuan (Knowledge) yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,

 Pemahaman (Understanding) yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki oleh individu.

 Kemampuan (Skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

 Sikap (Attitude) yaitu (senang atau tidak senang, suka tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan terhadap yang datang dari luar.

 Minat (Interest) adalah kecendrungan seseorang untuk melakukan sesuatau perbuatan.

Berdasarkan gambaran kompetensi di atas. Maka kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan kompetensi tugas-tugas dengan standar performasi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tersebut.

Kurikulum berbasis kompetensi berorientasi pada kreativitas individu untuk melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran dan efek (dampak) yang diharapkan yang muncul dari peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan kompeten dalam kurikulum berbasis kompetensi ini merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan.

Kurikulum berbasis kompetensi menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun demikian, konsep ini tentu saja tidak dapat digunakan sebagai resep untuk memecahkan semua masalah pendidikan, namun dapat memberi sumbangan yang cukup signifikan, terhadap perbaikan pendidikan (Mulyasa, 2002 : 40).

Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi

Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi antara lain mencakup seleksi kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran (Mulyasa, 2006 : 42). Di samping itu Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta didik. Pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan individual personal untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan dapat dinilai kompetensinya.

(13)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 12 Dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasikan enam karakteristik kurikulum berbasis kompetensi, yaitu:

 Sistem belajar dengan modul

Modul adalah “suatu proses pembelajaran mengenai satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Modul merupakan pembelajaran individual, diupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik.

 Menggunakan keseluruhan sumber belajar

guru tidak menjadi sentral dalam proses pembelajaran karena pembelajaran dapat menggunakan aneka ragam sumber belajar seperti: manusia, bahan belajar (buku) dan lingkungan.

 Pengalaman lapangan

Kurikulum Berbasis Kompetensi lebih menekankan pada pengalaman lapangan untuk mengakrabkan hubungan antara guru dengan peserta didik yang yang akan meningkatkan pengetahuan, pemahaman yang lebih leluasa bagi guru dan peserta didik.

 Strategi belajar individual personal

Belajar individual adalah belajar berdasarkan tempo belajar peserta didik sedangkan belajar personal adalah interaksi edukatif dalam rangka mengembangkan strategi individual personal mengembangkan program Kurikulum Berbasis Kompetensi melibatkan ahli terutama ahli psikologi.

 Kemudahan belajar

Kemudahan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi diberikan melalui kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman dan pembelajaran secara tim.

 Belajar tuntas

Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan dalam kelas dengan asumsi, bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta dapat memperoleh hasil belajar maksimal (Mulyasa,2006:43).

Implikasi

Berbagai implikasi terjadi berkaitan dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu:

1) Jumlah jam berkurang. Ini logis karena Kurikulum Berbasis Kompetensi memilki substansi pelajaran yang sedikit namun mendalam. Ada pengurangan dan perampingan materi yang didasarkan pada asas manfaat dan tentu saja menunjang pencapaian kompetensi yang diharapkan.

2) Tema sajian terpadu. Terpadu karena bersifat komprehensif dan berkesinambungan. Antara materi satu dengan yang lain ada keterpaduan yang bermakna.

(14)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 13 3) Penilaian berbasis kelas.

4) Penilaian berbasis kompetensi. Penilaian didasarkan pada kompetensi yang dikuasai siswa sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikannya.

5) Guru berbasis kompetensi. Dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya

Substansi bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi lebih ramping dan lebih mendalam wacana yang dimunculkan tahun 80 – 90an yang dimunculkan oleh Willi Toisuta – mantan rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan salah satu pakar dalam bidang perencanaan pendidikan di Indonesia. Saat itu sudah dirasakan bahwa kurikulum sekolah terlalu sarat beban, tidak relevan dengan realitas hidup atau jauh dari kenyataan yang ada di lapangan kerja. Ada ungkapan, “siswa kita itu tahu sedikit tentang banyak”. Artinya materi, keterampilan/kompetensi yang dikuasai siswa tidak signifikan atau tidak mendalam, karena terlalu banyaknya materi yang harus diterima.

Prinsip Kurikulum Berbasis Kompetensi

Sesuai dengan prinsip diversifikasi dan desentralisasi pendidikan maka pengembangan kurikulum ini menggunakan prinsip dasar “kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan” prinsip kesatuan dalam kebijakan yaitu dalam mencapai tujuan pendidikan perlu ditetapkan standar kompetensi yang harus dicapai secara nasional, pada setiap jenjang pendidikan. Sedangkan prinsip keberagaman dalam pelaksanaan yaitu dalam menyelenggarakan pendidikan yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran penilaian dan pengelolaannya mengakomodasikan perbedaan yang berkaitan dengan kesiapan dan potensi akademik, minat lingkungan, budaya, dan sumber daya sekolah sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan masing-masing.

Kritik terhadap pendidikan berbasis kompetensi

 Kompetensi dalam rumusan tujuan berupa perilaku final yang terukur, tidak sepenuhnya dapat diukur, diamati. Dalam perkembangannya kompetensi tersebut masih perlu direvisi/rekonstruksi menjadi sesuatu yang lebih baik

 Skill dan Competency bukanlah merupakan perilaku individual yang bebas dari tata nilai, tetapi merupakan sebuah konstruksi sosial dan praktek budaya yang aktif dan kreatif.

 Teknik checklist yang dipakai untuk memperoleh kompetensi dianggap terlalu menyederhanakan persoalan kualitas yang sesungguhnya sangat kompleks. Pemenuhan kompetensi minimum tidak merangsang siswa

(15)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 14 untuk mencapai yang terbaik dari dirinya. Tingkat kompetensi minimum adalah suatu batasan kualitas yang dapat diterima/ditolerir, dan bukan mewakili standar kompetensi yang sesungguhnya

 Kurikulum berbasis kompetensi dianggap terlalu mahal.

 Kurikulum berbasis kompetensi terikat dengan waktu pembelajaran, disisi lain ada kesadaran ril bahwa semua siswa tidak memiliki kemampuan yang sama. Riskan jika seorang siswa yang tidak mencapai tingkat kompetensi yang ditetapkan, diberikan sertifikat kompetensi karena telah melewati sejumlah jam belajar tertentu.

 Bukti empiris yang lemah

Outcomes-Based Education (OBE)

Fakta menunjukan bahwa lingkungan membawa perubahan dan mempengaruhi apa yang ingin dicapai oleh peserta didik, untuk menjadi lebih cerdas, lebih terampil, juga mempengaruhi nilai-nilai dalam pembelajaran dan strategi belajar. Ketidakpastian hasil pembelajaran dan kegagalan untuk menilai hasil pembelajaran bisa berakhir pada situasi dimana siswa hanya memperoleh pengetahuan semu, dinyatakan sebagai Pseudo- Knowledge, Pseudo-Skills, Pseudo-Attitudes dan Pseudo-Values, (Malan SPT, 2000)

Setelah menyelesaikan pendidikan, peserta didik diberikan sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah mencapai kompetensi tertentu, tetapi pada prakteknya tidak mampu membuktikan kompetensi yang tertera dalam sertifikat. Kekecewaan seperti ini bukan fenomena baru dalam dunia pendidikan, banyak usaha telah dilakukan untuk memecahkan masalah ini namun tidak semua memberi hasil yang diharapkan.

Outcomes-Based Education (OBE) dapat ditinjau dari 3 cara berbeda :

1. OBE sebagai Teori Pendidikan (Filsafat)

2. OBE sebagai Struktur Sistemik dalam pendidikan 3. OBE sebagai Strategi Belajar di kelas.

Untuk mendapat Sistem OBE yang ril kita perlu menyelaraskan antara OBE sebagai struktur sistem dan strategi belajar dengan OBE sebagai Teori.

Pendidikan berbasis hasil berpusat pada peserta didik, berorientasi pada pendidikan berbasis hasil didasarkan pada harapan bahwa semua peserta didik dapat belajar dan berhasil. Ini menyiratkan bahwa lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk mengoptimalkan kondisi pada semua aspek untuk sukses.

Outcomes-Based Education fokus pada penguasaan proses terkait dengan hasil dimaksud, serta pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hasil. Pengetahuan, keterampilan dan sikap

(16)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 15 dapat diambil dari sumber manapun dan peran guru disesuaikan untuk memberi bimbingan bagi peserta didik untuk mencapai hasil melalui prosedur pembelajaran tertentu.

Berikut perbandingan antara sistem pendidikan konvensional berbasis konten dan sistem Outcomes-Based Education

Outcomes-Based Education menarik karena menganjurkan pembaruan pendidikan, dan telah diterapkan pada banyak Negara seperti Amerika, Selandia Baru dan Kanada. Namun Outcomes-Based Education mengundang berbagai kritik dan gerakan perlawanan. Afrika Selatan merevisi Outcomes-Based Education dalam versi yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Pujian dari pendukung dan kecaman dari kritikus adalah suatu yang umum dari setiap pendekatan baru yang diperkenalkan

William Spady dianggap sebagai pendukung terkemuka Outcomes-Based Education , mengemukakan beberapa point yang menjelaskan Outcomes-Based Education sebagai pendekatan yang komprehensif dalam mengatur operasional sistem pendidikan dengan penekanan pada kemampuan siswa mengimplementasikan keterampilan yang didapat dari proses pembelajaran. Hasil belajar yang diinginkan siswa adalah yang bisa praktekan ketika lulus sekolah sebagai pembuktian kompetensi mereka.

Menyangkut paradigma, Spady (1994) mengatakan bahwa penting bagi siswa untuk memilih apa yang harus dipelajari dibandingkan dengan kapan dan bagaimana mempelajarinya. Spady mendasarinya pada komponen kunci yang disebut sebagai paradigma pendidikan baru.

(17)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 16 Filosofi Outcomes-Based Education berakar pada 4 pernyataan Tyler yang dikemukakan pada tahun 1949, memberi orientasi dan penekanan pada tujuan dalam mendesain kurikulum dan strategi pembelajaran :

1. Apa tujuan pendidikan yang seharunya menjadi tujuan pembelajaran di sekolah?

2. Bagaimana seseorang memilih pola pembelajaran yang sekiranya berguna bagi pencapaian tujuan tersebut?

3. Bagamana seharusnya pembelajaran disusun dalam suatu strategi pembelajaran yang efektif?

4. Bagaimana mengevaluasi pembelajaran dengan efektif?

Fitur utama yang mencirikan model OBE

Needs-driven : kurikulum dirancang berdasarkan keinginan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan dan karakter tertentu

OutComes-Driven : Setingan program pembelajaran disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, dan mengevaluasi pencapaian berdasarkan standar tujuan

Design-down Approach : Konten pembelajaran dipilih setelah menetapkan hasil yang diinginkan telah, dan ditujukan untuk menanamkan dasar pembelajaran seumur hidup

 Perolehan hasil dan tingkat keberhasilan yang terperinci

 Pergeseran fokus dari mengajar menjadi belajar

 Kerangka kerja yang terintegrasi dengan hasil, kerangka kerja pada tingkat dasar selalu diarahkan pada pencapaian hasil pada tingkat yang lebih tinggi dari proses pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dalam Outcomes-Based Education bukanlah tujuan itu sendiri dalam arti empiris. Tetapi menyiapkan struktur untuk mencapai struktur berikutnya yang lebih tinggi. Peserta didik diberikan banyak kesempatan untuk menunjukan apakah hasil yang diharapkan telah tercapai, prestasi pelajar tidak diukur dengan membandingkan pencapaian pelajar satu dengan dengan pelajar yang lainnya, tetapi semata-mata hanyalah untuk mengetahui apakah seorang siswa telah mencapai hasil yang diharapkan atau tidak. Peserta didik mempunyai akuntabilitas yang lebih besar untuk mencapai standar hasil yang diharapkan, dan memotivasi diri untuk terus merkembang, terdapat kebebasan dan fleksibilitas untuk memperluas kemampuan mereka yang terlibat.

Sebagai model pembelajaran Outcomes-Based Education fokus menata proses pembelajaran dalam semua aspek yang dianggap penting bagi keberhasilan siswa pada akhir proses belajar, dimulai dengan mencari gambaran yang jelas tentang apa yang penting bagi siswa dan mampu dilakukan dengan baik.

(18)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 17 Keunggulan Outcomes-Based Education

Clarity ; Fokus pada hasil menciptakan harapan yang jelas tentang apa yang harus dicapai pada akhir

pembelajaran. Siswa akan memahami apa yang diharapkan dari mereka dan guru akan tahu apa yang mereka butuhkan untuk mengajar.

Flexibility ; Dengan kejelasan tentang apa yang perlu dilakukan, pengajar dapat menyusun strategi

pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Outcomes-Based Education tidak menentukan metode strategi pembelajaran yang spesifik, namun memberikan kebebasan kepada guru untuk menggunakan strategi pembelajaran apa saja.

Comparison ; Outcomes-Based Education memberikan kemungkinan perbandingan antar lembaga dan institusi.

Pada tingkat individu, lembaga pendidikan dapat mengukur apakah hasil pencapaian siswanya telah mencukupi jika ditempatkan atau berada pada lembaga pendidikan atau institusi lain. Pada tingkat lembaga, setiap lembaga/institusi dapat saling memeriksa dan menemukan persamaan serta celah yang perlu diperbaiki.

Involvement ; Outcomes-Based Education membutuhkan keterlibatan siswa di kelas. Siswa juga diharapkan untuk belajar dan memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka secara mandiri sehingga memperoleh pemahaman yang utuh. Peningkatan keterlibatan siswa memungkinkan siswa untuk merasa bertanggung jawab terhadap masa depan mereka, termasuk dengan melibatkan orang tua dan masyarakat.

Outcome/Hasil

Outcome adalah keberhasilan siswa untuk mendemontrasikan kemampuan mereka pada akhir proses pembelajaran secara signifikan. Outcomes bukan hanya berupa nilai, sikap, atau keyakinan psikologis dalam pikiran semata. Sebaliknya merupakan hasil yang benar-benar dapat mereka lakukan dengan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari, merupakan aplikasi nyata dari apa yang telah dipelajari. Ini berarti bahwa outcomes mencerminkan kompetensi peseta didik dalam menggunakan konten, ide, informasi dan alat secara tepat dan efektif.

(19)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 18 Perbedaan utama OBE dengan sistim konvensional

1. Segala aspek dalam kerangka pembalajaran, Outcomes-Based Education dibangun untuk pencapaian hasil.

Umumnya Kurikulum, strategi pembelajaran, penilaian, dan standar kinerja dikembangkan untuk untuk memfasilitasi pencapaian hasil tetapi dalam Outcomes-Based Education, kurikulum, strategi pembelajaran, penilaian dipandang sebagai sarana yang fleksibel dan dapat berubah untuk tujuan akhir pada kualitas hasil belajar.

2. Dalam sistem Outcomes-Based Education waktu dipandang sebagai sumber daya yang dapat diubah, tergantung kepada kebutuhan guru dan siswa dalam batasan yang wajar. Rekonstruksi waktu dapat diterima demi hasil terbaik bagi semua siswa. Beberapa siswa dapat belajar dengan cepat sementara siswa lain tidak.

Sistem konvensional sebaliknya, semua fitur sistem disesuaikan dengan waktu, guru dan siswa menjadi tidak fleksibel.

3. Dalam Outcomes-Based Education defenisi standar sangat jelas, dikenal dan berlaku bagi semua siswa.

Semua siswa memenuhi syarat dan berpotensi untuk mencapai nilai maksimal dalam sistem, tidak ada kuota tertentu untuk yang mengukur kesuksesan, atau standar yang perlu dikejar. Sebaliknya sistim konvensional beroperasi dalam wilayah komparatif/kompetitif dengan standar/kurva yang telah ditentukan atau kuota kemungkinan. Hanya siswa tertentu yang dapat melakukannya dengan baik dan memperoleh akses terbaik dalam wilayah kurikulum, proses pemilahan dimulai sejak awal tahun pembelajaran, sekolah berkembang menjadi sistem yang tidak fleksibel dalam membuka akses ke pendidikan tinggi.

4. Sistem Outcomes-Based Education fokus pada hasil belajar dan kinerja tertinggi yang mungkin dimiliki oleh siswa, sebelum mereka meninggalkan sekolah. Dengan kata lain, sekolah dengan sistim Outcomes-Based Education memandang proses dan prestasi siswa secara makro. Kesalahan dipandang sebagai bagian tak terpisahkan sepanjang perjalanan siswa mengembangkan dan menunjukan kemampuan terbaiknya.

Total Quality Management dalam Pendidikan

Konsep Total Quality Management (TQM) dikembangkan oleh Amerika, W. Edwards Deming, setelah Perang Dunia II untuk meningkatkan kualitas produksi barang dan jasa. Konsep ini tidak dianggap serius oleh Amerika, sampai Jepang, mengadopsi konsep tersebut pada tahun 1950 untuk menghidupkan kembali bisnis dan industri pascaperang, hingga mendominasi pasar dunia pada tahun 1980an. Sejak itu sebagian besar produsen AS

(20)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 19 akhirnya menerima bahwa model pabrik perakitan abad kesembilan belas yang selama ini mereka pakai ketinggalan jaman pada era ekonomi global dengan pasar modern.

Deming menekankan pentingnya budaya mengubah dalam rangka mencapai pergeseran focus dan peningkatan kualitas. Fokusnya adalah melakukan hal yang benar secara benar. Penting untuk menyadari bahwa pendidikan bukan tentang menemukan kebenaran atau suatu hal yang benar, tapi mengembangkan ide dan kemampuan melalui proses refleksi, selanjutnya masing-masing lembaga harus menjadi organisasi belajar yang fokus pada pengembangan individu peserta didik serta pemberdayaan staf pengajar.

Penerapan 14 prinsi Deming dalam pendidikan

1. Create constancy of purpose for improvement of product and service.

Menetapkan tujuan bagi perbaikan produk dan pelayanan. Dalam pendidikan, tujuan system harus jelas dan dipahami oleh semua pemangku kepentingan, staf pengajar, kepala sekolah, siswa, orang tua dan masyarakat. Kebutuhan pelanggan harus menjadi focus utama dalam membangun tujuan pendidikan.

Tujuan system adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi semua siswa.

2. Adopt the new philosophy.

Mengadopsi filosofi baru. Penerapan Prinsip kedua Deming memerlukan pemikiran ulang misi dan prioritas sekolah, metode yang ada, bahan, dan lingkungan dapat diganti dengan strategi pengajaran dan pembelajaran baru di mana keberhasilan setiap siswa menjadi tujuan. perbedaan individual antara siswa ditangani.

3. Cease dependence on inspection to achieve quality.

Hentikan ketergantungan pada inspeksi untuk mencapai kualitas. Inspection di bidang pendidikan sama artinya dengan product inspection pada bidang industri manufaktur, yang berarti verifikasi kualitas produk untuk pra identifikasi, spesifikasi kualitas, sebelum, selama dan sesudah proses produksi. Menurut Deming, biaya untuk memperbaiki selalu lebih mahal daripada mencegah. Ketergantungan pada perbaikan bisa dihindari jika tindakan intervensi dilakukan secara tepat dengan pendekatan preventif. Strategi intervensi dapat membantu siswa menghindari masalah dalam pembelajaran.

4. End the practice of awarding business on the basis of price alone.

Mengakhiri praktek pemberian bisnis atas dasar harga saja. harga yang murah bukan bukan berarti hemat.

Upah karyawan yang murah bukan berarti efesiensi. Biaya pendidikan yang tinggi bukan berarti produktif dan berkualitas. Sekolah mempertimbangkan pemasok tunggal untuk satu periode tertentu dan mengembangkan loyalitas dan kepercayaan dalam menjalin hubungan.

5. Improve constantly and forever every activity in the organization, to improve quality and productivity.

(21)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 20 Terus-menerus memperbaiki setiap kegiatan dalam organisasi, untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas. upaya perbaikan di bidang pendidikan, di bawah pendekatan Deming, adalah pada proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian terbaru, strategi terbaik harus bisa, dievaluasi, dan disempurnakan sesuai kebutuhan. Konsisten sebagai bagian dari strategi pembelajaran, mendesaian ulang proses pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa, menyediakan fasilitas bagi siswa dengan kebutuhan khusus, siswa beresiko dan menemukan cara agar mereka semua bisa sukses dalam menempuh pendidikan.

Hal ini membutuhkan standar prestasi yang universal bagi semua siswa sebelum menapak jenjang pendidikan berikutnya. Ketentuan tersebut diatur dalam No Child Left Behind Act of 2001

6. Institute training on the job.

Mengadakan job training. Pelatihan bagi pendidik yang dibutuhkan dalam tiga wilayah. Pertama, harus ada pelatihan dalam pengajaran dan pembelajaran proses baru yang dikembangkan. Kedua, pelatihan harus disediakan dalam penggunaan strategi penilaian baru. Ketiga, harus ada pelatihan dalam prinsip-prinsip sistem manajemen baru. Untuk sekolah, ini berarti memberikan kegiatan pengembangan profesional berkelanjutan untuk semua administrator sekolah, guru, dan staf pendukung. (Popham, 2010a, b) dalam ().

7. Institute leadership.

Membentuk pola kepemimpinan. Prinsip ketujuh Deming menyerupai pemikiran sistem Peter Senge(2006).

Menurut Senge dan Deming, perbaikan sistem yang stabil berasal dari mengubah sistem itu sendiri, terutama pekerjaan, bukan mereka yang bekerja di dalam sistem. Deming menegaskan bahwa tugas utama dari kepemimpinan adalah untuk mempersempit jumlah variasi dalam sistem, membawa orang menuju tujuan kesempurnaan. Di sekolah ini berarti membawa orang menuju tujuan pembelajaran bagi semua.

artinya menghilangkan kesenjangan prestasi untuk semua kelompok populasi - gerakan menuju keunggulan dan ekuitas.

8. Drive out fear.

Membuang rasa takut. Sebuah asumsi dasar dari TQM adalah bahwa orang ingin melakukan yang terbaik.

upaya perbaikan harus fokus pada proses dan hasil, bukan pada mencoba untuk menyalahkan individu lain atas kegagalan. Jika kualitas buruk, kesalahan ada pada sistem, kata Deming. Ini adalah tugas manajemen memungkinkan orang untuk melakukan yang terbaik dengan terus meningkatkan sistem di mana mereka bekerja. Takut menjadi penghalang untuk memperbaiki sistim. Di sekolah, guru dan staf sering takut untuk menunjukkan masalah, karena mereka takut disalahkan. pemimpin sekolah di semua tingkat perlu mengkomunikasikan bahwa saran dari staf dan guru bernilai dan dihargai.

9. Break down barriers among staff areas.

(22)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 21 Menghilangkan sekat antar divisi/program. Prinsip kesembilan Deming agak terkait dengan prinsip pertama: keteguhan tujuan untuk perbaikan produk dan layanan. Di dalam kelas, prinsip ini berlaku untuk instruksi interdisipliner, tim pengajar, pengetahuan lintas kurikulum, dan transfer belajar. Kolaborasi perlu ada di antara anggota organisasi pembelajaran sehingga kualitas total dapat dimaksimalkan. Di sekolah, kualitas total berarti mempromosikan pembelajaran untuk semua. Ini adalah inti dari memulai dan mempertahankan komunitas belajar profesional

10. Eliminate slogans, exhortations, and targets that demand zero defects and new levels of productivity.

Menghilangkan slogan, dorongan, dan target yang menuntut kesempurnaan dan tingkat produktivitas.

Tersirat dalam kebanyakan slogan, dorongan, dan target anggapan bahwa staf bisa berbuat lebih baik jika mereka mencoba lebih keras. Hal ini lebih banyak menyinggung daripada menginspirasi, menciptakan hubungan permusuhan karena kualitas dan produktifitas yang rendah disebabkan oleh banyak hal termasuk sistem, bukan individu (sistem yang perlu dirubah). Sedikit koreksi bahwa prinsip ini mungkin tepat dalam industri manufaktur, tetapi dalam dunia pendidikan penggunaan slogan dan dorongan adalah wajar untuk kepentingan motivasi.

11. Eliminate numerical quotas for the staff and goals for management. .

Menghilangkan kuota numerik untuk staf dan tujuan untuk manajemen. Ada banyak praktik dalam pendidikan yang membatasi kemampuan kita untuk memanfaatkan motivasi intrinsik dan salah satu asumsi adalah manfaat imbalan ekstrinsik. termasuk sistem evaluasi guru yang ketat dan sistematis, membayar jasa, manajemen berdasarkan sasaran, nilai, dan tujuan kuantitatif dan kuota. Menurut Deming hal ini memicu kehancuran. Pendekatan tersebut kontraproduktif karena beberapa alasan: menetapkan tujuan mengarah pada kinerja marginal; membayar berdasarkan jasa menghancurkan kerja sama tim; dan penilaian kinerja individu memelihara rasa takut dan peningkatan variabilitas dalam kinerja yang diinginkan.

12. Remove barriers that rob people of pride in their work. Remove the barriers that rob people in leadership of their right to pride in their work.

Menghilangkan hambatan yang mengikis kebanggaan atas pekerjaan mereka. Menghilangkan hambatan yang mengikis hak Guru, murid dan staf untuk merasa bangga dengan pekerjaan mereka. Kebanyakan orang ingin melakukan pekerjaan yang baik. komunikasi yang efektif dan penghapusan "de-motivator" - seperti kurangnya keterlibatan, minim informasi, ketidak pedulian pimpinan.

13. Institute a vigorous program of education and retraining for everyone.

Mengadakan program pelatihan ulang yang ketat bagi semua Kepala sekolah dan staf harus dilatih dalam metode baru, manajemen berbasis sekolah, termasuk dinamika kelompok, membangun konsensus, dan

(23)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 22 gaya kolaboratif pengambilan keputusan. Semua pemangku kepentingan sekolah harus menyadari bahwa perbaikan dalam prestasi siswa akan meningkatkan tanggung jawab, bukannya mengurangi tanggung jawab.

14. Put everyone in the organization to work to accomplish the transformation.

Menempatkan setiap orang dalam organisasi agar bekerja untuk mencapai transformasi.

Dewan sekolah dan pengawas harus memiliki rencana aksi yang jelas untuk melaksanakan misi kualitas. Misi mutu harus dihayati oleh seluruh anggota organisasi sekolah (anggota dewan sekolah, administrator, guru, staf pendukung, siswa, orang tua, masyarakat). Transformasi adalah tugas semua orang (Deming, 1988, hlm.

23-24).

TQM mencakup prinsip bahwa organisasi harus mendengar pelanggan mereka, secara bersama-sama dan kontinyu mengevaluasi kebutuhan dan memulai perubahan untuk memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

Alam TQM adalah proaktif, tujuannya adalah untuk membangun kualitas dalam produk , layanan dan desain proses untuk seterusnya ditingkatkan.

Meskipun TQM dikembangkan dalam lingkungan manufaktur, manfaat yang sama berlaku dalam entitas layanan seperti lembaga pendidikan. Model pragmatis TQM fokus pada pelayanan kepada orang lain. Fitur kunci TQM yang bisa diimplementasikan pada lembaga pendidikan adalah kepemimpinan, metode ilmiah dan instrument pemecah masalah dalam kerja sama tim. Ketiga fitur terkait membentuk sebuah sistem terintegrasi yang memberikan kontribusi pada iklim organisasi pendidikan, pelatihan dan penyediaan data layanan (setara dengan layanan pelanggan). Pendidikan adalah layanan pelanggan dan para pelanggan mengungkapkan kepuasan tentang layanan lembaga pendidikan dan strategi pembelajaran yang ditawarkan.

Dalam dunia pendidikan, banyak pendidik percaya bahwa Konsep TQM Deming memberikan prinsip-prinsip yang dibutuhkan untuk reformasi pendidikan. Dalam artikelnya “The Quality Revolution in Education,” John Jay Bonstingl menguraikan prinsip-prinsip TQM yang Ia percaya paling relevan untuk reformasi pendidikan.

Disebut "Empat Pilar Total Quality Management." (Mehrotra, 2006)

Pilar 1: Synergistic Relationships

Menurut prinsip ini, suatu organisasi harus fokus, terutama pemasok dan pelanggan. Dalam organisasi TQM, semua orang adalah pelanggan sekaligus pemasok; konsep yang nampaknya membingungkan ini menekankan

"sifat sistematis dari pekerjaan yang melibatkan semua orang". Dengan kata lain, kolaborasi dan kerja sama tim sangat penting.

Secara tradisional, pendidikan rentan mengisolasi individu dan organisasi, namun hal tersebut sudah ketinggalan jaman. Ketika sebagian besar orang di dunia membutuhkan kolaborasi dan kerja sama untuk pencapain terbaik

(24)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 23 dalam kualitas, praktek isolasi kreativitas baik terhadap individu maupun organisasi adalah gagasan sempit dan kerdil

Aplikasi yang ditekankan pada pilar pertama adalah hubungan yang sinergis antara pemasok/penyedia produk dan layanan dengan pelanggan. Konsep sinergi menunjukan bahwa penggabungan bakat dan pengalaman individu dapat meningkatkan kinerja dan produksi.

Secara konsep, kolaborasi guru-murid sebagai tim dalam kelas setara dengan pekerja pada garis depan produksi dalam industri manufaktur. Hasil yang diperoleh dari kolaborasi guru-murid sebagai tim adalah perkembangan minat, karakter dan kemampuan siswa.

Disatu sisi siswa adalah pelanggan yang menerima pelayanan. dari sisi ini, guru dan sekolah adalah pemasok alat pembelajaran, sistem dan lingkungan yang efektif. Sekolah bertanggung jawab untuk memberikan jaminan pelayanan kesejahteraan siswa dalam jangka panjang dengan memberikan pelajaran tentang cara belajar, berkomunikasi, berinvestasi dalam diri sendiri dengan meningkatkan kemampuan sepanjang hayat, mengakses kualitas dalam lingkungan kerja dan masyarakat, memaksimalkan peluang dan pertumbuhan dalam tiap aspek kehidupan. Di sisi yang lain siswa adalah seorang pemasok yang bekerja dan menghasilkan produk untuk masa depan, perkembangan dan kemandirian

Pilar 2: Continuous Improvement and Self Evaluation

Pilar kedua penerapan TQM dalam pendidikan adalah dedikasi total untuk perbaikan terus-menerus, secara pribadi dan kolektif. Dalam sekolah dengan mutu terpadu, pemasok dan pelanggan bekerja sama secara total, tidak ada lagi ruang bagi pengekangan, pembatasan kreativitas. Proses kolaborasi jauh dari intimidasi,rasa takut, instruksi, dan rasa permusuhan. Dalam TQM terdapat kesempatan yang baik untuk mendorong potensi semua anggota tim, dan mendedikasikannya untuk perbaikan berkesinambungan pada kemampuan diri sendiri dan kemampuan orang sekitar. Pada dasarnya TQM adalah pendekatan win-win solution bagi keuntungan semua anggota. Menurut Deming, tidak pernah ada keharusan seorang manusia harus mengevaluasi manusia lain, TQM menekankan evaluasi diri sebagai bagian dari proses perbaikan terus menerus. TQM juga melekat dengan pengembangan berbagai jenis kecerdasan, gaya belajar dan fokus pada kekuatan masing masing siswa.

Pilar : A System of Ongoing Process

Pilar ketiga TQM yang diterapkan dalam pendidikan adalah pengakuan dari organisasi pendidikan bahwa sistem dan kerja yang dilakukan dalam organisasi kependidikan harus dilihat sebagai proses yang berkelanjutan.

Kualitas dihasilkan dari kerja sama dalam tim, termasuk kerjasama dalam memeriksa dan mengidentifikasi cacat yang bisa menyebabkan kegagalan. Karena sistem TQM terdiri dari proses, perbaikan terhadap kualitas proses

(25)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 24 sangat menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Paradigma baru dalam pembelajaran adalah mengganti model pembalajaran yang mengedepankan “instruksi dan test” dengan metode perbaikan berkesinambungan dari proses pembelajaran berdasarkan hasil

Pilar 4: Leadership

Prinsip keempat TQM dalam pendidikan adalah bahwa keberhasilan TQM adalah tanggung jawab manajemen puncak. Para guru sekolah harus membangun konteks yang memungkinkan siswa terbaik dapat mencapai potensi mereka melalui perbaikan terus-menerus yang dihasilkan kerja sama guru dan siswa.

Guru memberikan wilayah konten keilmuan dan pengajaran yang berpusat pada prinsip memberikan kepemimpinan, kerangka, dan alat yang diperlukan untuk perbaikan terus-menerus dalam proses pembelajaran.

Praktek yang dilakukan memberikan bukti bahwa prinsip-prinsip TQM membantu sekolah dalam arahan:

 Mendefinisikan peran, tujuan dan tanggung jawab sekolah.

 Merekonstruksi sekolah sebagai sarana dalam menentukan "jalan hidup."

 Rencana pelatihan kepemimpinan komprehensif untuk guru di semua tingkatan.

 Merancang pengembangan staf yang membentuk sikap dan keyakinan.

 Menggunakan hasil penelitian dan informasi berbasis praktek untuk menetukan arah kebijakan dan praktek.

 Desain pengembangan insiatif anak secara komprehensif melalui berbagai lembaga dan instansi, dalam menciptakan peluang bagi strategi belajar, selain membutuhkan kesabaran, agar implemetsi TQM berhasil, manajemen partisipatif membutuhkan mitra yang terlatih dan professional yang percaya dan memahami prinsip TQM sebagai fasilitator. Visi dan keterampilan dalam kepemimpinan, manajemen, komunikasi interpersonal, pemecahan masalah dan kerjasama kreatif adalah kualitas penting untuk keberhasilan pelaksanaan TQM.

Kaitan antara TQM dan OBE

Pengembangan standar kinerja dan identifikasi hasil dalam lembaga pendidikan sangat relevan dengan manajemen mutu pada organisasi/perusahaan. Olivier (1998) dalam DE JAGER ( 2005) mengatakan bahwa Re- engineering dari sstem pembelajaran menuju pendekatan berbasis hasil adalah upaya besar untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan industri.

(26)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 25 Berdasarkan hasil belajar tercermin gagasan bahwa cara terbaik untuk mengetahui akan jadi apa anda kelak adalah dengan dengan menetukan saat ini apa yang ingin anda capai, setelah menentukan tujuan akhir (produk, hasil) dilanjutkan menyusun strategi pengajaran dengan memaksimalkan semua sumber daya yang ada, dan terus memantau prosesnya

Prinsip inti TQM adalah kejelasan identifikasi dan menemukan apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, jika dikaitkan dengan OBE hal ini berarti bahwa pencapaian peserta didik lebih dari sekedar mengingat atau menguasai keterampilan, ini juga berarti bahwa peserta didik tidak hanya sekedar menerima hasil tetapi mereka terlibat dalam mengelola prosesnya dengan langkah persiapan dan penilain interim.

TQM adalah sarana untuk mempertahankan keunggulan pendidikan, OBE merangsang siswa untuk mencapai standar yang tinggi (bukan standar minimal) dan semua siswa harus memperoleh hasil yang berkualitas

TQM membutuhkan perubahan, menempatkan kualitas layanan/output sebagai tujuan utama, OBE juga memerlukan perubahan dalam proses belajar mengajar, dan memberdayakan peserta didik.

TQM identik dengan perbaikan terus menerus yang melibatkan semua aspek dan tingkatan dalam organisasi, membutuhkan perubahan internal pada budaya dan organisasi, fokus pada perubahan sikap, terampil merumuskan target dan mengantisipasi kegagalan dan perbaikan terus menerus, disisi lain OBE adalah komitmen jangka panjang yang didasarkan pada gagasan perbaikan trus menerus

Dalam prinsip TQM, organisasi harus mendengar orang yang mereka layani, terus mengevaluasi dan menanggapi pelanggan, memulai perubahan untuk memenuhi atau melebihi harapan pelangan, dalam OBE, proses dan hasil harus terus dikaji dalam hubungannya dengan kebutuhan Dunia usaha dan dunia industri.

Fokus eksternal TQM pada pemenuhan kebutuhan pelanggan, OBE fokus pada hasil yang harus dicapai dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan eksternal (DUDI)

Peran manager/pemimpin dalam TQM setara dengan peran Kepala Sekolah dan Staf Pengajar dalam OBE

Prinsip utama TQM dalam pendidikan adalah bahwa lembaga pendidikan harus menjadi organisasi belajar yang fokus pada pengembangan peserta didik, identik dengan prinsip OBE. OBE dalam lembaga pendidikan membawa siswa dan staf pengajar bersama-sama melangkah kearah yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Salah satu manfaat TQM dalam pendidikan yang tak kalah penting adalah pemberdayaan masyarakat dalam memperkuat kemampuan lembaga pendidikan untuk bertanggung jawab dalam pelayanan pendidikan, OBE fleksibilitas dalam pendekatan pemberdayaan yang berorietasi pada kebutuhan untuk sukses

(27)

Pasca Sarjana Magister Manajemen Pendidikan UKSW 2016 Page 26

Kesimpulan

Hubungan antara TQM dan OBE menunjukan terdapat prinsip-prinsip umum yang saling terkait. dalam OBE, Guru dan siswa adalah sumber daya paling penting, yang mempunyai keinginan untuk menantang dan mengembangkan kemampuan mereka sendiri. Tantangan untuk menyelaraskan prinsip OBE dan TQM harus dilakukan untuk menjamin kualitas bidang pendidikan, sehingga kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kompetensi yang dibutuhkan DUDI dapat diminimalisir.

Tujuan utama dari penilain dalam OBE adalah validasi hasil pembelajaran, bukan suatu bentuk pengakuan atas kompetensi yang telah dicapai. Penilaian harus mencakup pengetahuan yang terintegrasi sampai ke unit terkecil.

Fleksibilitas Outcome-based Education dalam standar kualitas dan waktu pembelajaran bisa menjadi pelengkap dalam penerapan Compentency-Based Education, sehingga implementasi prinsip-prinsip TQM dapat dapat berjalan baik dan meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan di Indonesia khususnya SMKN 1 Salatiga

Referensi

Dokumen terkait