PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Batasan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
P
- Teori-Teori Perilaku Konsumen
- Faktor-Faktor Perilaku Konsumen
- Proses Pengambilan Keputusan
Berikut beberapa definisi perilaku konsumen dari berbagai ahli dalam buku Etta Mamang dan Sopiah (2013). Perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dikutip dalam buku Etta Mamang dan Sopiah (2013) yaitu sebagai berikut:
Korean Wave
- Perkembangan Korean Wave 1.0 sampai 4-0
- Korean Wave di Indonesia
Drama Korea di Indonesia mulai populer saat Winter Sonata dan Endless Love ditayangkan pada tahun 2002 oleh Surya Citra Media. Dampak dari drama Korea Selatan tidak hanya banyaknya drama Korea yang tayang di Indonesia, tetapi juga sinetron Indonesia yang terinspirasi dari drama Korea yang menuai kritik pedas dari K-Lovers.
Perilaku Konsumen dan Korean Wave
- Motivasi
Selain itu, media sosial menjadi sumber informasi bagi perempuan di Jabodetabek tentang makeup korea yang diwakili oleh 59,21 persen responden yang memiliki makeup korea. Korean Wave tidak hanya memperkenalkan musik, tetapi juga memperkenalkan budaya melalui gaya rambut, pakaian, dan kostum (Nopiyanti, 2012). Sarah Leung (2012) berpendapat bahwa Korean Wave telah berhasil melahirkan konstruksi citra baru, seksualitas, feminitas, maskulinitas dan moralitas dalam masyarakat.
Dengan kata lain, masyarakat cenderung mengenal dan mengidentifikasi nilai-nilai budaya Korean wave (Hallyu) melalui produk-produk yang beredar. Sun Jung (2011) mengklaim bahwa pada awal munculnya gelombang Korea di Asia, gaya hidup menjadi dasar munculnya budaya Asia, yang dibangun dalam fase perkembangan ekonomi dan teknologi sebagai. Fenomena Korean wave membawa K-Pop masuk ke Indonesia dan mempengaruhi kehidupan sebagian besar remaja di Indonesia khususnya para pelajar yang menyukai K-Pop karena pengaruh media seperti TV dan internet seperti Youtube yang memudahkan segala informasi tentang Korea harus diterima di kalangan masyarakat, khususnya pelajar.
Ekspresi dan gaya hidup penggemar K-Pop, beberapa perilaku atau aktivitas khas mereka tercermin melalui tingginya intensitas mendengarkan musik dan menonton video Boyband atau Girlband mereka.
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
- Penelitian Lapangan
Metode kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan data dilakukan dengan membaca berbagai buku literatur yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang memiliki karakteristik tertentu jika dibandingkan dengan teknik lainnya. Wawancara mendalam merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh pernyataan lisan melalui percakapan tatap muka dengan orang-orang yang dapat memberikan informasi kepada peneliti.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara terstruktur yaitu wawancara yang sebagian besar jenis pertanyaannya telah ditentukan sebelumnya, termasuk urutan pertanyaannya dan materi pertanyaannya.
Jenis Data dan Sumber Data
- Sumber Data
Metode Analisis
Meneliti semua data yang terkumpul, baik data yang diperoleh melalui pedoman observasi, dokumentasi maupun hasil wawancara. Selain itu, seleksi juga dilakukan untuk menentukan data mana yang diperlukan dan data mana yang tidak diperlukan. Hasil interpretasi makna dari data yang disajikan akan diverifikasi untuk mendapatkan kesimpulan akhir yang dapat dipercaya.
Dalam penelitian kualitatif, data yang telah berhasil digali, dikumpulkan, dan dicatat dalam kegiatan penelitian harus diverifikasi kebenarannya. Oleh karena itu, penelitian harus memilih dan menentukan cara yang tepat untuk mengembangkan keabsahan data yang diperolehnya. Metode pengumpulan data dengan teknik yang berbeda harus tepat dan sesuai untuk menggali data yang benar-benar dibutuhkan peneliti.
Bahan acuan yang dimaksud disini adalah bahan pendukung untuk membuktikan data yang kita temukan.
Gambaran Umum STIE Nobel Indonesia Makassar
- Sejarah Singkat STIE Nobel Indonesia Makassar
- Misi STIE Nobel Indonesia Makassar
- Tujuan STIE Nobel Indonesia Makassar
Lokasi syuting drama Korea paling terkenal ini menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Kesimpulan yang dapat peneliti tarik adalah informan pertama kali menyukai K-Pop saat masih duduk di bangku SMP, dan kecintaan tersebut berawal dari kegemaran mereka terhadap drama Korea yang pertama kali ditayangkan di stasiun TV nasional. Menurut informan, drama Korea memiliki cerita dan permasalahan yang berbeda-beda, sehingga berapapun drama yang telah mereka tonton memiliki perbedaan yang sangat besar, sehingga informan benar-benar merasa bahwa drama Korea ditangani oleh orang-orang yang kreatif.
Keempat responden tersebut menyatakan bahwa dengan menonton drama Korea, mereka lebih mengenal budaya Korea, seperti makanan seperti Kimchi, Teoboki, Bulgogi dan masih banyak lainnya. Efek lain dari drama Korea adalah keinginan informan untuk berkunjung ke Korea. Salah satu efek dari menonton drama Korea adalah mengenal musik asal Korea yang dikenal dengan K-Pop.
Alasan menggunakan produk kecantikan asal Korea Selatan adalah untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, salah satu faktor yang mempengaruhi pemilihan produk asal Korea adalah pengaruh informasi dari para idol atau informasi yang dilihat melalui berbagai tayangan drama Korea.
Deskrifsi Singkat Tentang Informan
- Informan 1
- Informan 2
- Informan 3
- Informan 4
- Informan 5
Hasil Penelitian
- K-Drama
- K-Pop
- K-Beauty
- Perilaku Konsumen
Kenapa saya suka drama korea karena plotnya berubah dengan masalah yang berbeda agar penonton tidak bosan. Cerita drama korea memang tidak ada tandingannya, ceritanya tidak bisa ditebak, ceritanya tidak terduga, walaupun saya sering menonton drama, cerita yang disajikan tetap berbeda, walaupun latar ceritanya mirip, konflik yang disajikan tetap berbeda. Selain imajinatif, drama Korea juga bercerita dengan latar belakang sejarah yang mewakili sejarah negara.
Menurut Velda Ardia, dalam penelitiannya yang berjudul 'Drama Korea dan Budaya Populer', popularitas yang diraih budaya Korea terutama karena adanya unsur apolitis di dalamnya. Kesimpulan yang dapat penulis tarik adalah pengenalan drama Korea terjadi antara tahun 2009-2010 saat mereka masih kelas 6 SD dan beberapa informan masih duduk di bangku SMP melalui program drama Full House dan Boys Over Flowers yang ditayangkan. oleh stasiun televisi swasta di Indonesia. . Dari kesuksesan penayangan drama Korea tersebut, citra Korea Selatan terbangun sebagai negara maju, dan terkesan sangat atraktif, fashionable dan dinamis.
Drama Korea telah berhasil memberikan banyak informasi tentang budaya negara tersebut, seperti makanan, pakaian adat, sejarah dan bahasa. Menurut Vania Rosalin Irmanto dalam penelitiannya berjudul Motivasi dan Perilaku Penggemar K-Pop di Daerah Istimewa Yogyakarta, jika kita ikuti secara kronologis, sebenarnya drama Korea adalah awal dari hallyu di Indonesia. Beberapa drama Korea yang sukses tayang di stasiun televisi di Indonesia antara lain Endless Love, Winter Sonata, Full House, Princess Hours, Boys Before Flowers dan Baker King Kim Tak Goo (Bread, Dreams and Love).
Pembahasan
- K-Drama
- K-Pop
- K-Beauty
- Perilaku Konsumen
- Perilaku Konsumen dan Korean Wave
Selain belajar lebih banyak tentang budaya Korea, pengaruh lain yang disebutkan informan adalah keinginan untuk mengunjungi Korea, hal ini didasari oleh pengetahuannya tentang tempat-tempat menarik yang dijadikan lokasi syuting dalam drama yang pernah ada. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulan Puspitasaria dan Yosafat Hermawan berjudul Gaya Hidup Penggemar K-Pop (Budaya Korea) dalam Mengekspresikan Kehidupannya. Studi kasus K-Pop Lovers di Surakarta mengatakan bahwa penggemar memilih K-Pop karena memiliki tampilan yang dianggap unik dan menarik. Hal ini dilakukan oleh para penggemar K-pop berdasarkan pemenuhan kebutuhan kasih sayang dan emosional mereka.
Hal ini juga didukung dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh informan yang mengatakan bahwa mereka pertama kali mengenal produk kecantikan Korea dari beberapa adegan dalam sebuah drama dan dari beberapa idol K-pop yang menjadi brand ambassador. Hal ini sejalan dengan teori Kotler dan Armstrong yang menyatakan bahwa proses yang digunakan konsumen untuk mengambil keputusan pembelian produk terdiri dari lima tahap yaitu: (Etta Mamang dan Sopiah, 2013). Hal ini sejalan dengan teori ERG yang menyatakan bahwa pembelian produk terkadang tidak perlu memenuhi kebutuhan terlebih dahulu sebelum memenuhi keinginan.
Dalam hal ini peneliti hanya mengambil tiga variabel sebagai objek dalam penelitian yaitu K-Drama, K-pop dan K-Beauty.
PENUTUP
Kesimpulan
Menonton serial drama Korea Selatan melalui televisi atau hasil download dari berbagai website merupakan solusi baru untuk menjenuhkan pemirsa dengan tayangan drama yang ditayangkan di stasiun TV yang menonton drama Indonesia maupun drama luar negeri, dimana drama Korea memberikan penonton pendatang baru dari angin. menawarkan suguhan dramatis yang dikemas menarik mulai dari cerita imajinatif dan kreatif serta produksi yang tidak bercanda karena industri perfilman di Korea berlomba-lomba mengejar rating yang tinggi. Secara umum pengenalan informan terhadap serial drama asal Korea adalah melalui drama saluran SBS yaitu Boys Before Flowers yang sudah beberapa kali ditayangkan di televisi swasta Indonesia sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Kecintaan terhadap drama ini tentunya banyak mempengaruhi informan yaitu pengetahuan tentang berbagai jenis budaya dari Korea Selatan, mulai dari bahasa, makanan hingga musik yang dikenal dengan K-Pop.
Awalnya para informan mengenal K-Pop dari soundtrack sebuah drama yang mereka tonton dan peran-perannya. Pengaruh K-Pop adalah munculnya keinginan untuk membeli produk yang berhubungan dengan Idol seperti album, light stick atau menonton konser. Dalam konsumsi barang, peneliti menemukan hanya sedikit barang yang dibeli terkait dengan kecintaan mereka terhadap idol, seperti membeli makanan Korea dengan alasan para idol menikmati makanan tersebut dalam acara real product.
Informan mengaku ada ketertarikan untuk membeli produk seperti album boy band atau girl group favoritnya, dan ada keinginan untuk menonton konser agar bisa melihat idolanya secara langsung dan ada keinginan untuk berkunjung ke Korea, namun finansial masalah merupakan masalah utama yang menghalangi terpenuhinya kebutuhan tersebut, yang pada dasarnya disebut keinginan karena berkaitan dengan produk yang bersifat emosional.
Saran
Perilaku Konsumen - 2000 “Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran diterjemahkan oleh Damos Sihombing dan Peter Remy Yosi Pasla. Puspitasari, Wulan, Hermawan Yosafat Gaya hidup penggemar K-pop (budaya Korea) dalam mengekspresikan kehidupannya Studi kasus penggemar K-pop di Surakarta. Syam.M Hamdani, “Globalisasi Media dan Penyerapan Budaya Asing, Analisis Pengaruh Budaya Populer Korea di Kalangan Muda Kota Banda Aceh”, Avantgarda, Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3 No.1 Juli 2015.
Pengaruh Karakteristik Bintang dan Receiver Korean Wave (Hallyu) terhadap Kenikmatan Drama TV dan Niat Menonton Ulang. Puspitasari Wulan, Hermawan Yosafat, Gaya Hidup Penggemar K-Pop (Budaya Korea) dalam Mengekspresikan Kehidupannya Studi Kasus Pecinta K-Pop di Surakarta.
Perkembangan Halyyu
Drama Korea yang pernah tayang di TV Nasional
Konser K-POP di Indonesia
Penelitian Terdahulu