• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS DAKWAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS DAKWAH"

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

Sumberjambe Kab. Jember)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Sosial (S. Sos) Fakultas Dakwah

Jurusan Pemberdayaan Masyarakat Prodi Pengembangan Masyarakat Islam

Oleh:

SITI HUMAIROH NIM. 082 134 007

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER FAKULTAS DAKWAH

JANUARI 2018

(2)
(3)
(4)















































Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk.

[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.1

1Departemen Agama RI, Al-Jumanatul Ali Al-Qur’an dan Terjemahnya, 16:125 (Bandung: CV.

Penerbit J-ART, 2014), 281.

(5)

senantiasa membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada:

1. Bapakku Mistoro dan Ibuku Halimatus Sa’diah. Yang senantiasa mencurahkan untaian do’a, tenaga, waktu,, dan biaya dan kasih sayangnya yang tulus demi keberhasilan dan mewujudkan cita-cita penulis.

2. Adik saya tercinta, yang selalu mendukung dan menyemaangatiku dalam menyelesaikan skripsi.

3. Keluarga besar Pondok Pesantren Al-Firdaus Suci- Panti- Jember.

4. Wildan Zulza Mufti sekeluarga, yang telah menerima penulis menjadi bagian dari keluarganya.

5. Bapak Muhammad Ali Makki, M.Si sekeluarga, selaku pembimbing dalam menyelesaikan skripsi ini dan telah membimbing dengan penuh kesabaran.

6. Teman-teman PMI senasib seperjuangan yang menjadi tempat sharing keluh kesah dan dalam keadaan suka maupun duka.

7. Almamater IAIN Jember yang saya banggakan.

8. Serta Nusa, Bangsa, dan Agama.

(6)









Segenap puji syukur penulis sampaikan kepada Allah karena atas rahmat dan karunia-Nya, perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar.

Shalawat serta salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga serta para sahabatnya. Yang telah mempertemukan penulis kepada jalan kejayaan Dinul Islam.

Perjuangan akan menentukan keberhasilan dan dalam perjuangan ini penulis sangat menyadari bahwa kekuatan individu sangat terbatas sehingga dalam mencapai keberhasilan ini penulis mendapatkan banyak sokongan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis sangat berterimakasih yang sedalam- dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan segala fasilitas yang membantu kelancaran atas terselesainya skripsi ini.

2. Bapak Dr. Ahidul Asror, M.Ag selaku Dekan Fakultas Dakwah IAIN Jember.

3. Bapak Muhammad Ali Makki, M.Si selaku Ketua Jurusan Pemberdayaan Masyarakat IAIN Jember dan sekaligus sebagai pembimbing dalam menyelesaikan skripsi ini dan telah membimbing dengan penuh kesabaran.

(7)

5. KH. Nisful Laila, S.Pd, selaku Pengasuh Pondok Pesantren As-Syifa’

Jember yang telah memberikan izin dalam penulisan skripsi ini.

6. Ustadz Nurhasan selaku Badal Pengasuh Pondok Pesantren As-Syifa’

Jember yang telah membantu dan memberikan sumbangsih pemikiran terkait skripsi ini.

7. Civitas akademika IAIN Jember yang telah memberikan bekal berupa ilmu maupun pengalaman.

8. Semua pihak yang membantu dalam penulisan skripsi ini baik secara moril maupun materiil.

Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi para pembaca yang budiman.

Akhirnya, semoga segala amal baik yang telah Bapak/Ibu berikan kepada penulis mendapat balasan yang baik dari Allah SWT.

Jember, 13 Desember 2017

Penulis

vvii

(8)

Upaya Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Pondok Pesantren As-Syifa’

Desa Cumedak Kec. Sumberjambe Kab. Jember)

Peran pesantren yang selama ini dikenal terbatas pada lembaga pendidikan tradisional berbasis Pesantren saat ini telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang, tidak hanya lembaga pendidikan tradisional tetapi juga sebagai cikal bakal perubahan pada masyarakat. Seperti halnya adanya pengembangan kelembagaan dalam sebuah pesantren, baik itu dari sisi keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi. Secara legal formal, dalam Undang-undang No.6 Tahun 2014 menyatakan tentang masyarakat difasilitasi untuk belajar agar mampu mengelola kegiatan pembangunan secara sendiri. Oleh karena itu, Pesantren merupakan lembaga keagamaan dan kemasyarakatan maka pesantren mempunyai tugas mengajarkan ilmu-ilmu agama secara mendalam, dan sebagai lembaga kemasyarakatan, yaitu membekali santri tentang metode (cara) melakukannya, memberikan gambaran kondisi masyarakat, problem-problemnya, taktik dan strategi menghadapi dan jalan keluar (solusi) yang ditempuhnya.

Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah :1). Bagaimana Pengembangan Kelembagaan Pesantren sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat di Pondok Pesantren As-Syifa’ Desa Cumedak Kabupaten Jember 2).

Kendala apa yang dihadapi oleh Pondok Pesantren As-Syifa’ dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

3). Apa saja yang menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

Tujuan penelitian ini adalah Mendeskripsikan pengembangan, apa saja yang dilakukan oleh lembaga pondok pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat. Serta mendeskripsikan kendala, faktor pendukung yang dihadapi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan metodelogi kualitatif, fenomenologi, dan jenis penelitian Studi kasus (Case Studies) atau Field Researd.

Lokasi penelitian di Pondok Pesantren As-Syifa’ Desa Cumedak Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, 1) Pengembangan kelembagaan Pesantren dalam memberdayakan masyarakat dapat ditinjau dari beberapa program yaitu antara lain: a. Kelembagaan Keagamaan, b. Kelembagaan Pendidikan, c. Kelembagaan Sosial/ Kemanusiaan. 2) Kendala- kendala antara lain dalam hal pembiayaan, tenaga pengajar, perkembangan zaman, kondisi alam.

3) Faktor pendukung dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di pondok pesantren As-Syifa’ Jember; adanya lembaga-lembaga kursus diluar pondok pesantren As-Syifa’, letak geografis Pondok Pesantren As-Syifa’ yang berada di tengah-tengah masyarakat desa, adanya kemitraan dengan lembaga lainnya baik dengan Pemerintah, Swasta/BUMN, lembaga sepadan akademisi, kemampuan pegasuh, pemimpin yang kuat dan bermisi, sarana dan prasarana.

(9)

TABEL TRANSLITERASI

Vokal Tunggal Vokal Panjang

ا A ط ا Â/â

ب B ظ Zh و Û/û

ت T عي Î/î

ث Ts غ Gh

ج J ف F Vokal Pendek

حق Q - a

خ kh ك K - i

د D ل L - u

ذ Dz م M Vokal Ganda

ر R ن N ّي yy

ز Z و W ّو Ww

س S ه H

ش Sy ء ‘ Diftong

ص Sh ي/ Y ْو Aw

ض Dl ْى Ay

(10)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... .... iii

MOTTO ... ... iv

PERSEMBAHAN ... .. v

KATA PENGANTAR ... .. vii

ABSTRAK ... .. viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... .. ix

DAFTAR ISI ... .. x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... .... 1

B. Fokus Masalah ... .... 8

C. Tujuan Penelitian ... .... 8

D. Manfaat Penelitian ... .... 9

E. Definisi Istilah ... .... 11

F. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 16

B. Kajian Teori ... 23

1. Tinjauan tentang Cakupan Pengembangan Masyarakat. ... 23

2. Tinjauan tentang Pemberdayaan ... 27

3. Tinjauan tentang Kelompok Sosial... 31

(11)

6. Tinjauan tentang Dakwah ... 49

7. Tinjauan tentang Perubahan Sosial... 55

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian ... 57

B. Jenis Penelitian ... 58

C. Lokasi Penelitian ... 60

D. Kehadiran Peneliti ... 61

E. Subyek Peneliti ... 61

F. Sumber Data ... 62

G. Teknik Pengumpulandata ... 63

H. Analisis Data ... 66

I. Keabsahan Data ... 68

J. Tahap- Tahap Penelitian ... 68

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 71

1. Profil Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 71

2. Visi, Misi dan Tujuan Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 72

3. Letak Geografis Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 73

4. Sejarah Singkat Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 74

5. Majelis Keluarga, Pengurus dan Tugas Pokok Pondok Pesantren As- Syifa’ ... 76

xi

(12)

8. Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 92

9. Prestasi dan Penghargaan Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 95

10. Jejaring Pondok Pesantren As-Syifa’ ... 96

B. Penyajian dan Analisis Data ... 97

C. Pembahasan Temuan... 118

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 137

B. Saran ... 139

DAFTAR PUSTAKA ... 141 LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Matrik Penelitian 2. Pedoman Penelitian 3. Dokumentasi

4. Denah Lokasi Penelitian 5. Peta Lokasi Penelitian 6. Surat Izin Penelitian

7. Surat Keterangan Selesai Penelitian 8. Surat Pernyataan Keaslian

9. Jurnal Kegiatan Penelitian

10. Pengurus Harian Pondok Pesantren As-Syifa’

11. Biodata Penulis

(13)

No. Uraian Hal

Tabel 2.1 Perbedaan dan Persamaan Penelitian... 22

Tabel 4.1 Daftar Pengurus dan Tugas Pokoknya... 77

Tabel 4.2 Daftar Pengurus Lembaga Pondok Pesantren As-Syifa’... 80

Tabel 4.3 Daftar Fasilitator/Guru/Tutor Pondok Pesantren As-Syifa’... 81

Tabel 4.4 Daftar Santri Pondok Pesantren As-Syifa’... 83

Tabel 4.5 Jadwal Kegiatan Santri Pondok Pesantren As-Syifa’... 88

Tabel 4.6 Jadwal Waktu Ibadah Pondok Pesantren As-Syifa’... 90

Tabel 4.7 Daftar Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren As-Syifa’... 92

Tabel 4.8 Daftar Prestasi dan Penghargaan Pondok Pesantren As-Syifa’.... 95

(14)

No. Uraian Hal Gambar 1 Struktur Pengurus Yayasan As-Syifa’... 80 Gambar 2 Kegiatan Keagamaan (Semaan Al-qur’an Tombo

Ati)... 101 Gambar 3 Gedung TBM dan Gedung Paket C ( Lantai Bawah) 110 Gambar 4 Kegiatan Sosial/ Kemanusiaan Pondok Pesantren

As-Syifa’... 111 Gambar 5 Kegiatan UEP Peternakan Sapi... 115 Gambar 6 Kegiatan Santri dalam hal Pertanian... 116

xiv

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengembangan masyarakat merupakan suatu upaya mengembangkan sebuah kondisi masyarakat secara berkelanjutan dan aktif berlandaskan prinsip-prinsip keadilan sosial dan saling menghargai. Para pekerja kemasyarakatan berupaya memfasilitasi warga dalam proses terciptanya keadilan sosial dan saling menghargai melalui program-program pembangunan secara luas yang menghubungkan seluruh komponen masyarakat. Pengembangan masyarakat menerjemahkan nilai-nilai keterbukaan, persamaan, pertanggungjawaban, kesempatan, pilihan, partisipasi, saling menguntungkan, saling timbal balik, dan pembelajran secara terus- menerus. Maka dari itu inti dari pengembangan masyarakat adalah mendidik, membuat anggota masyarakat mampu, mengerjakan sesuatu dengan memberikan kekuatan atau sarana yang diperlukan dan memberdayakan mereka.1

Pemberdayaan masyarakat Desa sebagaimana yang tertulis dalam Undang-undang No. 6 Tahun 2014 BAB I, Pasal 1 penjelasan 12 tentang Desa, adalah upaya mengembangkan keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat. Secara legal formal, dalam Undang-undang

1 Dr. Zubaedi,M.Ag.,M.Pd., Pengembangan Masyarakat (Wacana dan Praktik), Edisi pertama, (Jakarta: Kencana, 2013), 4.

(16)

No.6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 112 ayat 4 diamanatkan bahwa pemberdayaan masyarakat Desa dilaksanakan dengan pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan Desa dan kawasan perdesaan. Dalam hal ini masyarakat difasilitasi untuk belajar agar mampu mengelola kegiatan pembangunan secara sendiri. berbagai pelatihan dan beragam pengembangan kapasitas diberikan oleh pendamping kepada masyarakat Desa. Pengembangan kapasitas di Desa dikelola langsung oleh masyarakat sebagai bagian proses belajar sosial.2

Pengembangan masyarakat didasari sebuah cita-cita bahwa masyarakat bisa dan harus mengambil tanggung jawab dalam merumuskan kebutuhan, mengusahakan kesejahteraan, menangani sumber daya, dan mewujudkan tujuan hidup mereka sendiri. Pengembangan masyarakat diarahkan untuk membangun supportive communities, yaitu sebuah struktur masyarakat yang kehidupannya didasarkan pada pengembangan dan pembagian sumber daya secara adil serta adanya interaksi sosial, partisipasi, dan upaya saling mendorong antara satu dengan yang lain.

Kerja pengembangan masyarakat pada hakikatnya menjadi proses aktualisasi komitmen pada aktivis sosial dalam memecahkan masalah kesenjangan atau ketidakseimbangan antar kelompok dalam masyarakat, termasuk mengatasi masalah kelangkaan sumber daya, kesempatan serta menjauhkan masyarakat dari penderitaan sosial. Setiap program pengembangan masyarakat dirancang untuk mendorong pengembangan

2 Ahmad Misno, “ Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD)”, diakses dari http://www.BangMisno.web.id/ program –pembangunan- dan-pemberdayaan.html, (23 April 2017).

(17)

sumber daya, keterampilan dan peluang untuk hidup secara lebih baik bagi rakyat kecil. Setiap upaya mengatasi kesenjangan dalam aliensi sosial dilaksanakan oleh para aktivis sosial dengan menggunakan outreach methods (kegiatan keorganisasian yang sifatnya melakukan kontak, memberikan pelayanan dan pendampingan kepada anggota masyarakat).3 Dimana dalam hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’[4]: ayat 5 yang berbunyi;



































Artinya :“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”. (QS. An-Nisa’ [4]:5).4

Garis besar dari surat diatas adalah bahwasanya prinsip dalam pengembangan masyarakat itu salah satunya adalah Qoulan Ma’ruffan (kata- kata yang baik) konteks dalam perkataan ini yakni perkataan yang dikenal/dipahami. Perkataan mudah disini dipersempit lagi dengan lingkup lokal/cultur. Maka dari itu, seorang pengembang masyarakat selaknya dapat mengetahui pola komunikasi lokal daerah yang ingin diintervensi bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat serta menghasilkan perubahan-perubahan yang nyata.

Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang semakin merebak di seluruh penjuru dunia, dapat merubah manusia baik

3 Ibid, Dr. Zubaedi,M.Ag.,M.Pd., Pengembangan Masyarakat (Wacana dan Praktik), 2-3.

4 Imam Ghazali Masykur, Lc., dkk, Al-Mumayyaz Al-Qur’an Tajwid Warna Transliterasi Per Kata dan Terjemahan Per Kata, 4:5, (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2014), 77.

(18)

itu dari aspek pola pikir dan aspek pemanfaatan teknologi yang ada. Di era globalisasi dengan persaingan yang terlalu ketat dewasa ini, pesantren harus membangun sumber daya manusia, tidak cukup dengan membangun satu aspek jiwa spiritual saja melainkan diperlukan pula berbagai pengetahuan dan ketrampilan (skill). Selain persoalan keagamaan, pesantren mesti dikontekstualisasikan ke dalam penanggulangan masalah sosial yang terdapat didalam masyarakat. Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa pesantren tidak hanya sebagai lembaga yang kaku dan melulu mengkaji kitab- kitab klasik. Pesantren saat ini turut serta membangun kehidupan masyarakat sekitar, tidak hanya dalam bidang keagamaan tapi juga hal lain misalnya ekonomi, sosial, pendidikan maupun politik.

Ditinjau dari sejarahnya pondok pesantren adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pondok pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya. Sebagaimana tujuan daripada pesantren adalah membina generasi agar memiliki keimanan yang kokoh, ketaqwaan yang tinggi pada Allah SWT.

Dan dapat memberi manfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat. Maka untuk dapat mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun butuh metode yang jitu dan memadai serta butuh proses yang panjang.

Pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan.

Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan,

(19)

pengembangan masyarakat dan sekaligus menjadi simpul budaya, maka itulah pondok pesantren. Biasanya, peran-peran itu tidak langsung terbentuk, melainkan melewati tahap demi tahap. Setelah sukses sebagai lembaga pendidikan pesantren bisa pula menjadi lembaga keilmuan, kepelatihan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberhasilannya membangun integrasi dengan masyarakat barulah memberinya mandat sebagai lembaga bimbingan keagamaan dan simpul budaya.5

Pada saat ini peran pesantren tidak lagi sebagai lembaga pendidikan yang mengkaji agama secara klasik tetapi juga menaruh perhatian kepada masalah sosial khususnya masyarakat sekitar pesantren. Pada saat ini banyak pesantren yang telah maju dalam bidang ekonomi, mereka memiliki lembaga.

Lembaga ini telah dikelola dengan baik sehingga dapat mendorong kemajuan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. Pesantren juga sangat berperan dalam pembangunan sumber daya manusia dalam membangun kualitas kehidupan keagamaan sehingga mencetak lulusan yang berkualitas dan siap berkompetisi dengan lulusan yang menuntut ilmu pada lembaga pendidikan formal.

Pondok Pesantren As-Syifa’ Desa Cumedak Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember, merupakan lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Yayasan Islam Asy Syifa Jember. Yayasan ini dirintis dengan nama awal Yayasan Dakwah Sosial dan Pendidikan Islam Asy Syifa yang terlahir pada tanggal 28 Oktober 1997 ditengah tengan krisis moneter pertama.

5 Thamrin, “Pola Pembinaan Santri pada Pesantren Hidayatullah”, (Skripsi, Universitas Halu Oleo, Kendari, 2016),22.

(20)

Diawali dengan diselanggarakannya pendidikan diniyyah dengan hanya beberapa santri yang berasal dari desa Cumedak sendiri. Seiring dengan bertambahnya jumlah santri yang belajar dan bermukim serta antusias warga, maka secara bertahap pembangunan secara fisik gedung diniyah mulai dilakukan. Di era globalisasi informasi dengan segala dampak positif dan negatifnya maka Yayasan Islam/ Pondok Pesantren mempunyai potensi peran strategis dan signifikan dalam menata dan mempersiapkan alternatif yang mampu meneruskan risalah Nabi dan juga mampu menjadi generasi pelurus terhadap hal- hal yang mengurangi indahnya Al- Islam. Disamping itu Pondok Pesantren difahami sebagai sentral kaderisasi intelektual islam, institusi yang menyiapkan sumber daya berkualitas dan pemberdayaan masyarakat serta berkelanjutan pada keterlibatannya dalam proses perubahan sosial di masyarakat.

Yayasan Pondok Pesantren As-Syifa’ memposisikan diri sebagai institusi yang memenuhi niat luhur dan mulia di atas dengan memproyeksikan menjadi pesantren yang berdimensi ganda. Di satu sisi pendidikan keagamaan tetap menggunakan sistem Salafiyah dan disisi lain pesantren berperan sebagai pusat kajian keagamaan pengembangan keterampilan santri dan masyarakat.

Salah satu contoh kegiatan yang telah dilakukan oleh Pondok Pesantren As-Syifa’ yang telah banyak menghasilkan produk-produk yang bernilai seni tinggi, contoh dalam pembuatan Handy Craft Gedebok (pelepah pisang) yang merupakan salah salah satu kegiatan dari serangkaian kegiatan melalui PKBM. Sejauh pandangan mata keberadaan gedebok selama ini

(21)

dianggap sebagai sampah dan tidak ada kegunaannya, namun melalui sentuhan PP As-Syifa’ gedebok ini malah banyak dicari dan dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan masyarakat pedesaan. Seperti halnya gedebok yang disulap menjadi suatu kerajinan tangan seperti tempat tisu kubus, tempat tisu balok, tempat tisu lipat, tempat perhiasan, tempat aqua kotak, tempat kain batik, hantaran kemanten, pendil boneka, tempat botol minuman, dompet, tempat map, dan masih banyak lagi kerajinan yang dihasilkannya. Ternyata kegiatan pembuatan handy craft gedebok ini tidak hanya memberdayakan para santrinya, akan tetapi juga melibatkan masyarakat disekitar untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual, selain itu masih banyak lagi unit-unit kegiatan yang berbasis pemberdayaan.6

Perkembangan pesantren yang begitu pesat dan mempunyai pengaruh sangat besar terhadap masyarakat. Nampaknya, mendapatkan perhatian yang cukup serius dari pemerintah untuk dijadikan sebagai agen perubahan masyarakat (agent of social change). Di samping itu juga diarahkan untuk fungsionalisasi pesantren sebagai salah satu pusat penting bagi pembangunan masyarakat secara keseluruhan, baik pembangunan jasmani maupun rohani.

Melihat berbagai fungsi dan peran pesantren yang semakin beragam dalam pengembangan masyarakat di Pondok Pesantren As-Syifa’, oleh karena itulah dalam penelitian ini ingin meneliti lebih jauh terkait “Pengembangan Kelembagaan Pesantren sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat (Studi

6 http://jemberkab.go.id/handy-craft-gedebok/ diakses pada tanggal 23 April 2017, pada pukul 08.40 AM.

(22)

Kasus di Pondok Pesantren As-Syifa’ Desa Cumedak Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas penulis dapat merumuskan masalah yaitu:

1. Bagaimana pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di Pondok Pesantren As-Syifa’ Desa Cumedak Kabupaten Jember?

2. Kendala apa yang dihadapi oleh Pondok Pesantren As-Syifa’ dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat?

3. Apa saja yang menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya7, berikut merupakan tujuan dari penelitian ini yaitu antara lain:

1. Untuk mendeskripsikan pengembangan apa saja yang dilakukan oleh lembaga pondok pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

7 Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, (Jember: IAIN Jember Press, 2017) ,45.

(23)

2. Untuk mendeskripsikan kendala apa yang dihadapi oleh Pondok Pesantren As-Syifa’ dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

3. Untuk mendeskripsikan apa saja yang menjadi faktor pendukung dalam pelaksanaan pengembangan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitan ini diharpkan dapat memberikan kontribusi apa yang akan diberikan setelah melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis. Seperti kegunaan peneitian begi peneliti, instansi dan masyarakat secara keseluruhan.

Keguanaan peniliti harus realistis. Dari penjabaran tersebut maka tersusunlah manfaat peneliti sebagai berikut.8

1. Manfaat Teoritis

Manfaat hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi salah satu literatur dan sumbangan bagi disipliin ilmu serta memberikan kontribusi yang cukup segnifikan terkait pengembangan masyarakat yang lebih baik.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Lembaga

Penelitian ini diharapakan dapat memberikan kontribusi positif dalam meningktkan pengembangan masyarakat.

8 Ibid, Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 45.

(24)

b. Bagi peneliti

1) Mendewasakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak serta meningkatkan daya penalaran peneliti dalam melakukan pengkajian, perumusan dan pemecahan masalah secara paktis dan terpadu.

2) Melatih dan membiasakan peneliti menghadapi dan menyelesaikan permasalahan melalui kerjasama antara bidang keahlian.

3) Mempersiapkan diri menjadi fasilitator dan katalisator bagi problema masyarakat.

4) Membekali peneliti dengan pengalaman sebagai penerus pembangunan yang bertanggungjawab terhadap dirinya sebagai seorang professional.

5) Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh oleh peneliti.

c. Bagi IAIN

1) Penelitian ini diharapakan dapat menjadi referensi dan informasi intelektual masyarakat kampus.

2) Meningkatkan partisipasi dan peranan IAIN Jember dalam melaksanakan pembangunan dalam segala bidang.

3) Meningkatkan kerjasama IAIN Jember dengan pemerintah daerah dan instansi yang terkait.

4) Mendapatkan masukan balik (feedback) integritas IAIN Jember dari masyarakat sehingga menjadi masukan untuk memantapkan

(25)

fungsi pusat penelitian dan pengabdian masyarakat berikut pengembangannya berkenaan dengan ilmu pengetahuan agama Islam.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berarti tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti dalam judul penelitiannya. Tujuannya agar tidak ada kesalah pahaman makna istilah yang dikemukakan oleh peneliti.9 Serta untuk mempermudah pembaca untuk bisa memahami maksud pembahasan yang akan dituju.

1. Pengembangan

Pengembangan dalam arti yang sangat sederhana adalah suatu proses, cara pembuatan. Sedangkan menurut Drs. Iskandar Wiryokusumo M.sc. pengembangan adalah upaya pendidikan baik formal maupun non formal yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggungjawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing, dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan bakat, keinginan serta kemampuan-kemampuannya, sebagai bekal untuk selanjutnya atas prakarsa sendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesama, maupun lingkungannya ke arah

9 Ibid, Tim Penyusun IAIN Jember. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, hlm. 45

(26)

tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusiawi yang optimal dan prbadi yang mandiri.10

Jadi, pengembangan yang dimaksud penulis adalah suatu bentuk usaha yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan baik secara teknis, teoritis, konseptual, dan moral seseorang, yang sesuai dengan kebutuhannya melalui pendidikan dan latihan.

2. Kelembagaan

Kelembagaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu.11

Kelembagaan yang dimaksud penulis adalah suatu wadah yang didalamnya terdapat hubungan dan tatanan antara anggota masyarakat atau organisasi dengan ditentukan oleh faktor- faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik atau aturan formal dan non-formal untuk bekerjasama demi mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Pesantren

(Pengantar Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan) pesantren adalah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang keberadaannya sudah dikenal sejak abad 19 dan telah mengakar kuat di kalangan masyarakat muslim Indonesia. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dipimpin dan dikelola langsung oleh kiyai yang memiliki visi dan penentu arah

10 Zaenal Arifin, “Strategi Pengembangan Kelembagaan Pesantren Dalam Pembinaan Akhlaq

Santri (Studi Kasus Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kab. Pati)”, (Skripsi, STAI Matholi’ul Falah, Pati, Jawa Tengah, 2013), 14.

11 http://kbbi.co.id/arti -kata/kelembagaan, diakses pada tanggal 23 April 2017, pukul 07.38 AM.

(27)

kebijakan dalam melaksanakan proses pembelajaran dan pencapaian yang hendak dihasilkan oleh santri-santri sebagai peserta didiknya.12 Pesantren paling tidak memiliki tiga peran utama, yaitu sebagai lembaga pendidikan Islam, lembaga dakwah dan sebagai lembaga pengembangan masyarakat.13

Pesantren yang dimaksud penulis adalah suatu lembaga yang didalamnya terdiri dari Kyai, Ustadz/Ustadzah, santri, serta pengurus yang hidup bersama dalam satu lingkungan dan memiliki tujuan untuk membina warga negara agar berkepribadian Muslim sesuai dengan ajaran- ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan negara.

4. Pemberdayaan

Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat, dengan mendorong, memotivasi, membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkan potensi itu menjadi tindakan nyata.14

Pemberdayaan yang dimaksud penulis adalah adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mempengaruhi sekelompok orang lain guna meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka sehingga

12 Drs. HE. Badri, M.Pd, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyah, Cet. I, (Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, 2007), v.

13 Ibid, 3.

14 Ibid, Dr. Zubaedi,M.Ag.,M.Pd., Pengembangan Masyarakat (Wacana dan Praktik), 24.

(28)

dapat turut berpartisipasi sesuai dengan potensi atau daya yang mereka miliki.

5. Masyarakat

Orang Inggris menyebut masyarakat dengan society. Masyarakat atau society adalah a relatifity independent or self sufficient population characterized by internal organization territoriality, culture distinctiveness, and sexual recruitment (David I Shill, International Encyclopedia of The Social Sciences,1972: 578). Society is a group of people who are united by social relationshis.15

Masyarakat yang dimaksud penulis adalah sejumlah manusia yang tinggal dalam satu wilayah dan merupakan satu kesatuan golongan yang didalamnya terdapat sebuah interaksi/ hubungan antara satu dengan yang lainnya, serta memiliki kepentingan yang sama.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab bahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga penutup. Format penulisan sistematika pembahasan ditulis dalam bentuk deskriptif naratif, bukan seperti daftar isi.16 Berikut merupakan sistematika pembahasan dalam penelitian ini:

15 Dra. Nanih Machendrawaty, M.Ag.,dkk, Pengembangan Masyarakat Islam (dari Ideologi, Strategi, sampai Tradisi), Cet. I, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), 5.

16 Ibid, Tim Penyusun IAIN Jember. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah,48.

(29)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bagian ini terdiri dari sub-sub bab yaitu latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah serta sistematika pembahasan.

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN

Berisi tentang kajian kepustakaan yang mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini membahasa tentang metode penelitian yang meliputi pendekatan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data dan keabsahan data.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

Pada bagian ini menjelaskan tentang hasil penelitian seputar latar belakang, obyek penelitian, penyajian data, analisis dan pembahasan.

BAB V PENUTUP

Bagian yang merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan terkait jawaban dari rumusan masalah yang telah ditentukan pada bab pertama. Sedangkan saran diberikan sebagai masukan bagi penelitian selanjutnya. Bab ini berfungsi untuk menyampaikan hasil yang ditemukan.

(30)

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru untuk penelitian selanjutnya.

Disamping itu penelitian terdahulu membantu penelitian selanjutnya, dengan melakukan langkah ini maka akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.17 Kajian yang mempunyai relasi atau keterkaitan dengan kajian ini antara lain:

1. Karya Zainal Arifin tahun 2013. Dengan judul, Strategi Pengembangan Kelembagaan Pesantren Dalam Pembinaan Akhlaq Santri (Studi Kasus Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kab.

Pati Jawa Tengah).

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis. Subjek penelitian ini yaitu terdiri dari: (a).

Pimpinan Pondok Pesantren, (b). Ustadz dan Ustadzah, (c). Santri Pondok Pesantren Nurul Huda. Objek penelitian ini yaitu kegiatan-kegiatan yang merupakan bentuk pengembangan kelembagaan pesantren dalam pembinaan akhlak santri. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui: (a). Observasi, (b). Wawancara, (c). Dokumentasi. Teknis analisis

17Ibid, Tim Penyusun IAIN Jember. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, 45-46.

(31)

data yang dilakukan yaitu : (a). Reduksi data, (b). Sajian data, (c).

Pengambilan kesimpulan.

Hasil penelitian ini yaitu yang Pertama, Strategi pengembangan kelembagaan Pondok Pesantren Nurul Huda dalam pembinaan akhlak para santri. Dalam strategi pengembangan pesantren dalam pembinaan ini, lebih efektifnya pesantren menggunakan kajian pembelajaran keagamaan atau pengajian kitab kuning agar para santri sadar dan terbentuk jiwa-jiwa positif dan berakhlawul karimah sesuai impian orang tua masing-masing dan pesantren. Kedua, Problem Akhlaq Santri Di Pondok Pesantren Nurul Huda yaitu terjadinya faktor problem akhlaq yang dilakukan para santri adalah kurangnya perhatian orang tua, faktor lingkungan, lemahnya ekonomi keluarga dan lemahnya pengetahuan keagamaan. Dan apabila santri yang melakukan pelanggaran biasanya di berikan takzir dari pengurus maupun langsung dari pengasuh. Ketiga, Faktor pendukung dan penghambat tentang strategi pengembangan pesantren terhadap akhlaq santri. Dalam faktor pendukung ini progam pesantren akan berjalan lancar jika pengurusnya aktif, kesadaran para santri dan adanya koordinasi antara pengurus dengan asatidz maupun pengasuh. Dan faktor penghambatnya adalah kurangnya tenaga asatidz dan kuranya tanggung jawab dari pengurus serta kurang sadarnya santri aakan peraturan yang berlaku. Jadi faktor ini akan menghambat proses pengembangan dan pembinaan aklaqul karimah.

(32)

2. Karya Ahmad Shoin Akromuddin Tahun 2014. Dengan judul Strategi Pondok Pesantren Dalam Pembinaan Life Skill (Kecakapan Hidup) Santri Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Dip P Panggung Tulungagung.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.

Dalam pengumpulan datanya menggunakan metode observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi, dengan menggunakan analisis reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Penelitian ini juga melakukan pengecekan keabsahan data dengan menggunakan teknik credibility, confirmability, transferability, dan dependenbility. Fokus penelitian yang akan diuji dalam penelitian adalah:1) Bagaimana upaya pembinaan life skill (kecakapan hidup) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung, 2) Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan pembinaan life skill (kecakapan hidup) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung, 3) Apa saja yang menjadi faktor pendukung dan penghambat pembinaan life skill (kecakapan hidup) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa:1) Upaya pembinaan ketrampilan hidup (life skill) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung, yaitu: dengan menggunakan sistem keterpaduan antara ilmu umum dan ilmu agama, supaya bisa meningkatkan pengetahuan dan wawasan santri sebelum terjun ke masyarakat. Selanjutnya sebagai Upaya- upaya dalam mencetak santri yang profesional sholihin sholihat, Yaitu: a) Mengoptimalkan pendidikan agama melalui penkajian kitab-kitab kuning

(33)

yang dikarang oleh para ulama'. b) Mengajarkan pendidikan dakwah (mubaligh atau muhadhoroh). c) Memberikan pendidikan formal, hal ini bertujuan agar santri yang lulus dari pondok pesantren Panggung Tulungagung akan memiliki bekal pengetahuan Agama serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat dimasa depan. d) Pendidikan ketrampilan melalui kegiatan ekstrakurikuler, pendidikan ini bertujuan agar santri setelah lulus nanti akan memiliki kemampuan untuk berwirausaha. 2) Bentuk-bentuk kegiatan pembinaan ketrampilan hidup (life skill) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung, yaitu: a) Pencak Silat Pagar Nusa, kegiatan ekstrakurikuler ini merupakan wadah bagi santri yang ingin melatih fisik dan mental mereka melalui sistem pendidikan yang disiplin tegas seperti halnya pendidikan kemiliteran. b) Hadrah, santri Pondok Pesantren Panggung yang mempunyai hobi dalam seni bermain musik juga mempunyai media menyalurkan bakat santri yakni melalaui seni sholawat hadrah. Hal ini dapat mengarahkan santri ke arah yang lebih positif dalam bermain musik. c) Qiro’at sebagai kegiatan yang melatih santri dalam meningkatkan kualitas cara membaca Al- Qura’an dan juga melatih kesabaran, sekaligus dapat melatih santri dalam dunia tarik suara. d) Pidato, kegiatan ini melatih santri untuk menjadi pendakwah serta menata mental santri agar siap berbicara didepan umum.

e) Membawa Acara (pranoto adicoro), kegiatan tersebut bertujuan agar santri yang telah lulus dari Pondok Pesantren Panggung siap tampil dalam kegiatan kemasyarakatan dengan baik. f) Koperasi Santri, memberikan

(34)

pengalaman terhadap santri khususnya dalam hal berwirausaha. Karena koperasi santri di Pondok Pesantren Panggung langsung dikelola oleh santri. 3) Faktor pendukung dan penghambat pembinaan ketrampilan hidup (life skill) santri di pondok pesantren Panggung Tulungagung, yaitu:

letak Pondok Pesantren Panggung yang bearada di lingkungan perkotaan menjadi salah satu faktor pendukung pembinaan life skill (ketrampilan hidup) santri, selain ada 16 lembaga pendidikan lainnya di lingkungan Pondok Pesantren Panggung yang secara tidak langsung menjadi pendukung keefektifan pembinaan life skill (ketrampilan hidup) santri.

Sedangkan dalam pengembangan pembinaan life skill (ketrampilan hidup) santri yang berbasis tekhnologi terhambat oleh biaya dan tenaga pengajar.

3. Karya Rizqi Respati Suci Megarani Tahun 2010. Dengan judul Strategi Pemberdayaan Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Donoharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta.

Penelitian bertujuan untuk ini mendiskripsikan tentang strategi pemberdayaan santri dalam rangka meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh santrinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil lokasi di Pondok Pesantren Hidayatullah Donoharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam yang terdiri dari wawancara berencana (standardized interview) dan wawancara tak berencana (unstandarized interview), pengamatan (observasi), catatan

(35)

lapangan dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pola pikir induktif.

Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan salah satu pondok pesantren yang menggunakan model pendidikan pesantren modern. Program pendidikan yang diberikan meliputi kurikulum pendidikan formal (sistem sekolah), informal (pendidikan keagamaan/ sistem pengasramaan) dan non formal (keterampilan-keterampilan hidup). Perpaduan tiga kurikulum pendidikan ini bertujuan agar generasi muda bangsa (para santri) mampu menghadapi tantangan arus globalisasi. Mereka dibekali bermacam disiplin ilmu keagamaan, pengetahuan umum dan keterampilan hidup (life skill) agar mempunyai kemampuan untuk mandiri, bertahan hidup dan mensejahterakan diri mereka sendiri. Hasil yang dicapai dalam strategi pemberdayaan ini adalah adanya peningkatan potensi yang dimiliki oleh para santri sesuai dengan minat dan kemauan mereka. Tidak hanya kualitas pendidikan keagamaan dan pendidikan umum lainnya yang mengalami peningkatan, akan tetapi dengan bekal pemberdayaan maka mereka memiliki keterampilan (life skill) dan kemampuan untuk bertahan hidup.

(36)

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian No. Nama Peneliti, Judul dan

Tahun Penelitian,

Persamaan Perbedaan Orisinilitas Penelitian 1. Zainal Arifin, Strategi

Pengembangan Kelembagaan Pesantren Dalam Pembinaan Akhlaq Santri (Studi Kasus Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kab. Pati Jawa Tengah), tahun 2013.

a. Mengkaji tentang

pengembangan kelembagaan pesantren.

b. Jenis penelitian ini yaitu

deskriptif kualitatif.

c. Pendekatan yang digunakan yaitu

fenomenologis.

a. Penelitian ini mengkaji tentang pengembagan kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

b. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang;

pengembang an apa yang dilakukan oleh Pondok Pesantren.

Fokus penelitian ini pada “ Pengembangan Kelembagaan Pesantren sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat di Pondok Pesantren As- Syifa’ Desa Cumedak Kab.

Jember”.

2. Ahmad Shoin Akromuddin Strategi Pondok Pesantren Dalam Pembinaan Life Skill (Kecakapan Hidup) Santri

Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Dip P

Panggung Tulungagung, tahun 2014.

a. Lokasi penelitian

dilaksanakan di pondok

pesantren.

b. Tekhnik pengumpulan datanya melalui;

Observasi,

wawancara dan dokumentasi.

a. Peneliti mengkaji tentang pengembaga n

kelembagaan pondok pesantren sebagai upaya pemberdaya an

masyarakat.

Fokus penelitian ini pada “ Pengembangan Kelembagaan Pesantren sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat di Pondok Pesantren As- Syifa’ Desa Cumedak Kab.

Jember”.

3. Rizqi Respati Suci Megarani Strategi Pemberdayaan Santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Donoharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta,

a. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan sebuah

a. Peneliti ikut berpartisipas i dalam setiap kegiatan

Fokus penelitian ini pada “ Pengembangan Kelembagaan Pesantren

(37)

tahun 2010. pemberdayaan.

b. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif.

c. Analisis datanya menggunakan metode deskriptif- kualitatif.

yang

dilakukan di lokasi.

b. Obyek pada penelitian ini adalah pengembang an

kelembagaan pesantren sebagai upaya pemberdaya an

masyarakat.

sebagai upaya Pemberdayaan Masyarakat di Pondok Pesantren As- Syifa’ Desa Cumedak Kab.

Jember”.

B. Kajian Teori

1. Tinjauan tentang Cakupan Pengembangan Masyarakat a. Definisi Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat adalah komitmen dalam memberdayakan masyarakat lapis bawah sehingga mereka memiliki berbagai pilihan nyata menyangkut masa depannya. Masyarakat lapis bawah umumnya terdiri atas orang-orang lemah, tidak berdaya dan miskin karena tidak memiliki sumber daya atau tidak memiliki keterampilan dan kemampuan untuk mengontrol sarana produksi.

Mereka umumnya terdiri dari atas buruh, petani penggarap, petani berlahan kecil, para nelayan, masyarakat hutan, kalangan pengangguran, orang cacat. Kegiatan pengembangan masyarakat difokuskan pada upaya menolong orang-orang lemah yang memiliki minat untuk bekerja sama dalam kelompok, melakukan identifikasi

(38)

terhadap kebutuhan dan melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan mereka. Agama Islam memiliki konsep pengembangan masyarakat yang bagus, seperti dalam firman Allah yaitu Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30.



























































Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:

"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."18

Pengembangan masyarakat sering kali diimplementasikan dalam beberapa bentuk kegiatan. Pertama, program- program pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh daya dukung dan kekuatan dalam memenuhi kebutuhannya. Kedua, kampanye dan aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan- kebutuhan warga kurang mampu dapat di penuhi oleh pihak- pihak lain yang bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan masyarakat dapat didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan individu- individu dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu

18 Al-Qur’an, 2:30.

(39)

memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannnya. Menurut Twelvetrees, pengembangan masyarakat adalah “the process of assisting ordinary people to improve their own communities by undertaking collective action.

Secara khusus pengembangan masyarakat berhubungan dengan upaya pemenuhan kebutuhan orang-orang yang tidak beruntung atau tertindas, baik yang disebabkan oleh kemiskinan maupun oleh diskriminasi berdasarkan kelas sosial, suku, gender, jenis kelamin, usia dan kecacatan.

Semua kegiatan pengembangan masyarakat di arahkan untuk membentuk sebuah struktur masyarakat yang mencerminkan tumbuhnya semangat swadaya dan partisipasi. Pengembangan masyarakat meliputi usaha memperkukuh interaksi sosial dalam masyarakat, menciptakan semangat kebersamaan, solidaritas diantara masyarakat dan membantu mereka untuk berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara berdialog secara alamiah atau tanpa intervensi, didasari penuh pemahaman dan ditindak lanjuti dengan aksi sosial nyata.19

b. Model- Model Pengembangan Masyarakat

Dalam sejarahnya, pendapat yang digunakan dalam kegiatan masyarakat yang dilaksanakan oleh organisasi kemasyarakatan seperti LSM dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis :

19 Ibid, Dr. Zubaedi,M.Ag.,M.Pd.,Pengembangan Masyarakat (Wacana dan Praktik),4-5.

(40)

1) The welfare approach, yang dilakukan dengan memberi bantuan kepada kelompok- kelompok tertentu misalnya mereka yang terkena musibah. Pendekatan ini banyak dilaukan kelompok- kelompok keagamaan berupa penyediaan makanan, pelayanan kesehatan, penyelenggaraan pendidikan bagi mereka yang membutuhkan. Pendekatan kemanusiaan walaupun tidak memberdayakan masyarakat sebagai kelompok sasarannya tetapi dapat memberdayakan LSM sendiri.

2) The development approach, yang dilakukan terutama dengan memusatkan kegiatannya pada pengembangan proyek pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan, kemandirian, dan keswadayaan masyarakat. Pendekatan pengembangan masyarakat dijalankan dengan berbagai program pendidikan dan latihan bagi tenaga-tenaga NGOs dan pemerintah yang berkecimpung dibidang pengembangan masyarakat.

3) The empowerment approach, yang dilakukan dengan melihat kemiskinan sebagai akibat proses politik dan berusaha memberdayakan atau melatih rakyat untuk mengatasi ketidak berdayaannya. Clark berpendapat bahwa telah terjadi pergeseran pendekatan dari sisi penawaran (suuply side) yang berkosentrasi pada pelayanan atau pengadaan proyek pengembangan ke arah sisi permintaan (demand side) dengan memberdayakan rakyat,agar

(41)

rakyat mempunyai posisi tawar menawar agar menjadi pelaku aktif dalam proses pembangunan..20

Pengembangan masyarakat sejatinya merupakan proses. Proses yang baik akan mendorong masyarakat, untuk menentukan tujuan mereka sendiri, dan tetap menguasai perjalanan selain tujuan akhir.

Pengembangan masyarakat perlu mengupayakan pembentukan cara berfikir yang menghargai saling interaksi diantara masyarakat, menghargai kualitas pengalaman kolektif, dan memaksimalkan potensi mereka serta mencapai perikemanusiaan mereka secara utuh melalui pengalaman proses masyarakat.21

2. Tinjauan tentang Pemberdayaan

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat golongan masyarakat yang sedang kondisi miskin, sehingga mereka dapat melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong, memotifasi, membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkan potensi itu menjadi tindakan nyata. Agenda pemberdayaan masyarakat juga sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 110 yaitu;

20 Ibid, 120-121.

21Jim Ife,dkk, Community Development : Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi, Cet.3,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016),365.

(42)

















































Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”22

Menurut Chambers, pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai- nilai sosial.

Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat

poople-centered”, participatory, empowering, and sustainable. Konsep pemberdayaan lebih luas dari sekedar upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau sekedar mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net).

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu didasari pemahaman bahwa munculnya ketidakberdayaan masyarakat akibat masyarakat tidak memiliki kekuatan (powerless). Jim Ife, mengindentifikasi beberapa jenis kekuatan yang dimiliki masyarakat dan dapat di gunakan untuk memberdayakan mereka :

a. Kekuatan atas pilihan pribadi. Upaya pemberdayaan yang dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan pribadi atau kesempatan untuk hidup lebih baik.

22 Ibid., 3: 110.

(43)

b. Kekuatan dalam menentukan kebutuhan sendiri. Pemberdayaan dilakukan dengan mendampingi mereka untuk merumuskan kebutuhannya sendiri.

c. Kekuatan kebebasan berekspresi. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mengembangkan kapasitas mereka untuk bebas berekspresi dalam bentuk budaya politik.

d. Kekuatan kelembagaan. Pemberdayaan dilakukan dengan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap kelembagaan pendidikan, kesehatan, keluarga, keagamaan, sistem kesejahteraan sosial, struktur pemerintahan, media dan sebagainya.

e. Kekuatan sumber daya ekonomi. Pemberdayaan dilakukan dengan meningkatkan aksesibilitas dan control terhadap aktivitas ekonomi.

f. Kekuatan dalam kebebasan reproduksi. Pemberdayaan dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada masyarakat dalam menentukan proses reproduksi.

Faktor lain yang menyebabkan ketidakberdayaan masyarakat diluar faktor ketiadaan daya (powerless) adalah faktor ketimpangan.

Ketimpangan yang seringkali tejadi di masyarakat meliputi:

1) Ketimpangan struktural yang terjadi diantara kelompok primer, seperti perbedaan kelas seperti orang kaya (the have) dengan orang miskin (the have not) dan antara buruh dengan majikan; ketidaksetaraan gender; perbedaan ras maupun perbedaan etnis yang tercermin pada

(44)

pebedaan antara masyarakat local dengan pendatang dan antara kaum minoritas dengan mayoritas.

2) Ketimpangan kelompok akibat perbedaan usia, kalangan tua dengan muda, keterbatasan fisik, mental dan intelektual, masalah gay-lesbi, isolasi geografis dan sosial (ketertinggalan dan keterbelakangan).

3) Ketimpangan personal akibat faktor kematian, kehilangan orang- orang yang dicintai, persoalan pribadi, dan keluarga.23

Secara konseptual pemberdayaan (empowerment) berasal dari kata

power” (kekuasaan atau keberdayaan). Menurut Ife (1995) mendefinisikan konsep pemberdayaan masyarakat sebagai proses menyiapkan masyarakat dengan berbagai sumber daya, kesempatan, pengetahuan, dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat didalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri.

Model pemberdayaan dapat dibedakan melalui tiga tingkat, yaitu;

mikro, meso, dan makro yaitu sebagai berikut:

1) Pada tingkat mikro, pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individual melalui bimbingan, konseling, stress management, serta crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach).

23 Ibid, Dr. Zubaedi,M.Ag.,M.Pd.,Pengembangan Masyarakat (Wacana dan Praktik),24,25,27,28.

(45)

2) Pada tingkat meso pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

3) Pada tingkat makro, pemberdayaan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, dan manajemen konflik merupakan beberapa strategi dalam pendekatan ini.24

3. Tinjauan tentang Kelompok Sosial a. Situasi Kelompok Sosial

Situasi kelompok sosial artinya, suatu situasi ketika terdapat dua individu atau lebih mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain. Situasi kelompok sosial tersebut menyebabkan terbentuknya kelompok sosial, artinya suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma- norma tertentu. Secara umum, kelompok sosial tersebut diikat oleh beberapa faktor berikut;

24 Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial : Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Poskolonial, Edisi Revisi, Cet. 3, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014) , 374- 376.

(46)

1) Bagi anggota kelompok suatu tujuan yang realistis, sederhana, dan memiliki nilai keuntungan pribadi

2) Masalah kepemimpinan dalam kelompok cukup berperan dalam menentukan kekuatan antaranggota.

3) Interaksi dalam kelompok secara seimbang merupakan alat perekat yang baik dalam membina kesatuan dan persatuan anggota.

Dari situasi kelompok sosial dapat menimbulkan bermacam- macam kelompok sosial.

1) Charles H. Cooley membagi kelompok menjadi:

a) Kelompok primer (primary group), artinya suatu kelompok yang anggota- anggotanya mempunyai hubungan atau interaksi yang lebih intensif dan lebih erat antar anggotanya.

b) Kelompok sekunder (secondary group), artinya suatu kelompok yang anggota- anggotanya saling mengadakan hubungan yang tidak langsung, berjauhan dan formal, dan kurang bersifat kekeluargaan.

2) Crech dan Curtchfield, membagi kelompok menjadi:

a) Kelompok stabil adalah kelompok yang strukturnya terus tetap, tidak berubah dalam jangka waktu yang cukup lama.

b) Kelompok tidak stabil adalah kelompok yang mengalami perubahan progresif meskipun tanpa terdapat variasi variasi yang cukup penting dari situasi eksternal.

(47)

3) French membagi kelompok menjadi:

a) Kelompok terorganisir adalah kelompok yang menunjukkan secara tegas lenih memiliki kebebasan sosial, perasaan kita, salinh ketergantungan, kesamaan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, motifasi, frustasi dan agresi terhadap anggota kelompok lain.

b) Kelompok tidak terorganisir adalah kelompok ang sedikit sekali kemungkinan bahwa individu akan dipengaruhi oleh apa yang dikerjakan orang lain.

b. Definisi dan Ciri- Ciri Kelompok Sosial

Kelompok sosial antara lain dikemukakan oleh Muzafer Sherif, Newcomb, Turner dan converse.

1) Muzafer Sherif

Kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif danteratur sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma – norma tertentu.

2) Newcomb, Turner dan Converse

Sejumlah orang- orang dilihat sebagai kesatuan tunggal merupakan satu kesatuan sosial, tetapi kita terutama mempunyai perhatian terhadap interaksi kelompok terhadap ciri- cirinya yang relatif stabil.

(48)

Adapun ciri-ciri kelompok sosial yaitu sebagai berikut, menurut Muzafer Sherif, ciri-ciri kelompok sosial adalah sebagai berikut:

1) Adanya dorongan/ motif yang sama pada setiap individu sehingga terjadi interaksi sosial sesamanya dan tertuju dalam tujuan bersama.

2) Adanya reaksi dan kecakapan yang berbeda diantara individu satu dengan yang lain akibat terjadinya interaksi sosial.

3) Adanya pembentukan dan penegasan struktur kelompok yang jelas, terdiri dari peranan dan kedudukan yang berkembang dengan sendirinya dalam rangka mencapai tujuan bersama.

4) Adanya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasi tujuan kelompok.25

4. Tinjauan tentang Pembangunan Desa

Peraturan Menteri Dalam Negeri No.114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa, disebutkan bahwa perencanaan pembangunan Desa adalah proses tahapan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa dan unsur masyarakat secara partisipatif, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya desa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan desa. Dalam hal ini pembangunan partisipatif adalah suatu

25 Drs. Slamet Santoso, M.Pd, Dinamika Kelompok, Ed. Revisi, Cet. 3, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009) , 35-37.

(49)

sistem pengelolaan pembangunan di desa dan kawasan perdesaan yang dikoordinasikan oleh kepala Desa dengan mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan. Guna mewujudkan pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial. Kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat Desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas masalah kebutuhan masyarakat Desa.

Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa, pemerintah Desa didampingi oleh pemerintah daerah kabupaten/ kota yang secara teknis dilaksanakan oleh satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota. Untuk mengoordinasikan pembangunan Desa, kepala desa dapat didampingi oleh tenaga pendamping professional, kader pemberdayaan masyarakat Desa, dan atau pihak ketiga. Pembangunan Desa mencakup bidang penyelenggaraan pemerintah Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa.

Perencanaan pembangunan Desa disusun secara berjangka yaitu meliputi:

a. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) untuk jangka waktu tahun.

(50)

b. Rencana Pembangunan Tahunan Desa atau yang disebut Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa), merupakan penjabaran dari RPJM Desa untuk jangka waktu satu tahun.26

Tujuan pembangunan pada umumnya dan pembangunan masyarakat desa pada khususnya adalah peningkatan kesejahteraan atau peningkatan taraf hidup masyarakat. Oleh sebab itu, persoalan utama dalam proses pembangunan termasuk pembangunan masyarakat adalah bagaimana mengupayakan terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat secara cepat, sehingga masyarakat akan lebih berpeluang untuk memenuhi semakin banyak kebutuhan-kebutuhannya.27

Adapun pokok-pokok kebijaksanaan pelaksanaan dalam pembangunan Desa dirumuskan menjadi sebagai berikut:

1) Prinsip-prinsip pembangunan Desa, meliputi:

(a) Imbangan kewajiban yang serasi antara pemerintah dengan masyarakat.

(b) Dinamis dan berkelanjutan.

(c) Menyeluruh, terpadu dan terkoordinasikan.

2) Pokok-pokok kebijaksanaan pembangunan Desa, meliputi:

(a) Pemanfaatan sumber daya manusia dan potensi alam.

(b) Pemenuhan kebutuhan esensial masyarakat.

(c) Peningkatan prakarsa dan swadaya gotong-royong masyarakat.

26 Wahyudi Kessa, Buku 6 Perencanaan Pembangunan Desa, Cet.I, (Jakarta : Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, 2015),18-20.

27 Soetomo, Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 164.

(51)

(d) Pengembangan tata Desa yang teratur dan serasi.

(e) Peningkatan kehidupan ekonomi yang kooperatif.

3) Sasaran pembangunan Desa

Menjadikan semua desa-desa di seluruh wilayah Indonesia memiliki tingkat klasifikasi desa swasembada, yaitu desa yang berkembang dimana taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya menunjukkan kenyataan yang makin meningkat.

4) Obyek dan subyek pembagunan

Obyek pembangunan adalah desa secara keseluruhan yang meliputi segala potensi manusia, alam, dan teknologinya, serta yang mencakup pula segala aspek kehidupan dan penghidupan yang ada di Desa. Usaha pembangunan Desa juga diarahkan kepada menjadikan desa itu bukan saja sebagai obyek akan tetapi juga sebagai subyek pembangunan yang mantap.

5) Mekanisme pelaksanaan

Mekanisme pelaksanaan pembangunan Desa dilakukan dengan sistem perencanaan dari bawah (bottom up planning) melalui Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa ditingkat Desa dan sistem UDKP pada tingkat kecamatan.28

28 Sajogyo,dkk, Sosiologi Pedasaan, Jilid II, Cet. X, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), 136-137.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait