1 A. Latar Belakang
Negara Indonesia adalah Negara hukum, ide gagasan ini tercantum secara tegas dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 amandemen ke-IV (empat) (UUD 1945), disebutkan bahwa: “Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Konsep negara hukum menurut Aristoteles, sebagaimana dikutip oleh Moh.
Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, adalah :
Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagian hidup untuk warga negaranya, dan sebagai dasar dari pada keadilan itu perlu diajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia menjadi warga negara yang baik. Bagi Aristoteles yang memerintah dalam negara bukanlah manusia sebenarnya, melainkan fikiran yang adil, sedangkan penguasa sebenarnya hanya pemegang hukum dan keseimbangan saja.1
Negara hukum (recht staat) memiliki keterkaitan yang erat dengan Hak Asasi Manusia. Dengan kata lain, suatu negara yang berdasarkan hukum harus mengakui eksistensi dari Hak Asasi Manusia, hal ini bisa dilihat dari ciri-ciri suatu negara hukum yang mencerminkan esensi dari negara hukum itu sendiri, sebagaimana dikemukakan oleh Bambang Sunggono sebagai berikut :
1. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
1Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar Bakti, Jakarta, 2008, h. 113.
2. Peradilan yang bebas dari suatu pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain yang tidak memihak.
3. Legalitas dalam arti hukum dalam semua bentuknya. 2
Negara Indonesia sebagai negara hukum berarti menempatkan hukum sebagai panglima, yaitu setiap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat dan juga individu haruslah berdasarkan pada hukum. Perbuatan ataupun tindakan harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, masyarakat harus menjadikan peraturan perundang-undangan sebagai pedoman dalam mengatur setiap perbuatan atau tingkah laku manusia.3
Hukum sebagai alat kontrol sosial memberikan arti bahwa hukum merupakan sesuatu yangdapat menetapkan tingkah laku manusia, dimana tingkah laku tersebut didefenisikan sebagai sesuatu yang menyimpang terhadap aturan hukum dan sebagai akibatnya, hukum dapat memberikan sanksi atau tindakan terhadap pelanggar. Hal ini berarti hukum mengarahkan agar masyarakat berbuat secara benar berdasarkan apa yang ditetapkan oleh hukum itu sendiri.4
Di bidang penegakan hukum pidana, terlihat suatu fenomena sosial dimana hukum tidak lagi dipedomani oleh masyarakat. Di tengah masyarakat sering terlihat terjadinya fenomena tindakan main hakim
2Bambang Sunggono dan Aries Harianto, Bantuan Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Mandar Maju, Bandung, 2009, h. 4.
3Chandro Panjaitan dan Firman Wijaya, Penyebab Terjadinya Tindakan Main Hakim Sendiri Atau Eigenrichting Yang Mengakibatkan Kematian (Contoh Kasus Pembakaran Pelaku Pencurian Motor Dengan Kekerasan Di Pondok Aren Tanggerang), (Jurnal Hukum Adigama Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara, Vol.1 No.1, 2018), h.17
4Ashadi L. Diab, Peranan Hukum Sebagai Social Control, Social EngineeringDanSocial Welfare, (Jurnal Al-Adl Institut Agama Islam Negeri Kendari, Vol. 7 No. 2, 2014) h.58,
sendiri (eigen richting) atau peradilan jalanan (street justice) atau pun istilah lainnya yang saat ini lebih akrab terdengar, yaitu tindakan persekusi.
Tindakan main hakim sendiri menurut Sudikno Mertokusumo adalah tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendaknya sendiri yang bersifat sewenang-wenang, tanpa persetujuan dari pihak lain yang berkepetingan, sehingga akan menimbulkan kerugian.5 Munculnya fenomena main hakim sendiri di tengah masyarakat, didorong terjadinya peningkatan kejahatan yang terjadi dimasyarakat, baik itu dilihat dari kualitas maupun kuantitasnyayang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat.6
Di pihak lain, penegakan hukum oleh aparat penegak hukum terlihat kurang mewakili aspirasi atau rasa keadilan masyarakat. Seringkali pelaku kejahatan divonis dengan hukuman yang ringan, belum lagi terjadinya transaksional hukum antara pelaku kejahatan dengan penegak hukum, yang secara tidak langsung menurunkan bahkan menghilangkan rasa kepercayaan (trust) masyarakat terhadap penegak hukum, yang pada akhirnya berujung pada hilangnya wibawa hukum.
Wajah peradilan di Indonesia yang masih sarat dengan berbagai praktik mafia peradilan, sehingga banyak pelaku kejahatan yang dengan mudahnya lolos dari jerat hukum. Sebagai akibatnya, tindakan main hakim
5Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Pidana Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2010, h.3
6Soejono, Kejahatan dan Penegakan Hukum di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 2016, h. 1.
sendiri dipandang masyarakat sebagai cara yang dianggap efektif dan benar dalam mengatasi lemah penegakan hukum.
Dihadapkan pada kondisi yang demikian, maka masyarakat yang merasa telah diresahkan, atau sebagian darinya adalah korban dari kejahatan mencari alternatif lain atau jalan lain yang dianggap lebih mampu untuk melindungi kepentingan dan hak-hak hukumnya yang telah dirampas oleh pelaku kejahatan. Donald Black dalam “The Behavior of Law”, mengatakan bahwatindakan main hakim sendiri (Eigenrichting) terjadi ketika pengendalian sosial oleh pemerintah yang dinamakan hukum tidak berjalan, maka bentuk lain dari pengandalian sosial secara otomatis akan muncul. Dengan demikian, “suka atau tidak suka”, pada hakekatnya tindakan main hakim sendiri merupakan wujud pengendalian sosial yang dilakukan oleh rakyat.7
Merujuk pada pendapat yang dikemukakan oleh Donal Black di atas, dapat dikatakan bahwa kekerasan untuk membela diri atau main hakim sendiri (vigilante) merupakan sesuatu tindakan masyarakat untuk mendapatkan keadilan disaat aparat atau negara tidak efektif menegakan hukum. Main hakim sendiri adalah perbuatan melampaui hukum yang menerabas batas baik dan buruk, benar dan salah. Bersamaan dengan maraknya main hakim sendiri berubah pula pandangan masyarakat terhadap batas-batas moralitas.8
7Soedikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yokyakarta, 2012, h. 23-24
8Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, h. 15.
Meskipun tindakan perbuatan main hakim sendiri oleh sebagian besar masyarakat dipandang sebagai suatu upaya dalam melakukan pembelaan diri atas kejahatan yang menimpa dirinya. Namun, perbuatan main hakim sendiri (eigen richting) tidaklah dapat dibenarkan. Sebab tindakan tersebut merupakan perbuatan sewenang-wenang terhadap orang-orang yang dianggap bersalah karena melakukan suatu kejahatan.
Tindakan tersebut tidak memiliki legalitas dalam hukum positif. Bahkan, menurut ketentuan KUHP tindakan atau perbuatan main hakim sendiri merupakan perbuatan pidana atau tindak pidana yang diancam dengan pidana. Namun kenyataannya, aksi-aksi perbuatan main hakim sendiri masih kerap terjadi di tengah masyarakat.
Para pelaku eigen richting dapat terjerat ketentuan Pasal 170Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), hal ini dapat kitalihat pada ketentuan Ayat (1) nya yang menegaskan bahwa barangsiapa yang di muka umum bersama-sama melakukan kekerasanterhadap orang atau barang dihukum penjara selama-lamanya limatahun enam bulan.
Selanjutnya, pada Pasal 170 Ayat (2), menyebutkan, yang bersalah diancam:
Ke 1. dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun, jikadengan sengaja menghancurkan barang atau jika kekerasan yangdigunakan mengakibatkan luka-luka;
Ke 2. dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun, jikakekerasan mengakibatkan luka berat.
Ke 3. dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun, jikakekerasan mengakibatkan matinya orang.9
9Adhi Wibowo, Perlindungan Korban Amuk Massa, Thafa Media, Yogyakarta, 2013, h. 137
Perbuatan main hakim sendiri bukanlah cara yang tepat untuk menegakkan hukum, melainkan merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan telah memberikan kontribusi negatif terhadap penegakan hukum di Indonesia. Masyarakat atau massa lupa bahwa pelaku kejahatan juga seorang manusia yang memiliki hak asasi. Para pelaku kejahatan memiliki hak untuk mendapat perlindungan hukum di muka pengadilan dan tidak boleh mengalami penderitaan yang dilakukan masyarakat atau massa. Karena bagaimanapun, mereka juga merupakan manusia yang memiliki hak yang sama di mata hukum.
Pasal 4 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menyatakan bahwa :“hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikirandan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untukdiakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak-hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun”.
Lebih lanjut, dalam rumusan Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang HAM, ditegaskan bahwa: “setiap orang berhak bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawai, merendahkan derajat dan martabat kemanusiannya”.
Memperhatikan ketentuan Pasal 4 dan Pasal 33 Ayat (1) Undang- Undang HAM, dapat disimpulkan bahwa perbuatan main hakim sendiri merupakan suatu tindakan yang bersifat melawan hukum dan juga perbuatan yang melanggar hak asasi manusia.
Tindakan main hakim sendiri merupakan respon masyarakat yang malah menciptakan suasana tidak tertib. Masyarakat yang seharusnya menaati hukum yang berlaku yang telah ditetapkan oleh penguasa bertindak sebaliknya, mereka melakukan suatu respon terhadap adanya kejahatan dengan menghakimi sendiri pelaku tindak pidana.
Apabila dilihat dari pengertian tindakan main hakim sendiri yang telah diuraikan diatas, maka akan tampak jelas bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pelaku tindak pidana yang tertangkap oleh masyarakat dengan dipukuli sampai babak belur bahkan sampai dengan membakarnya hidup-hidup merupakan suatu bentuk lain dari kejahatan.
Main hakim sendiri sama halnya dengan kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (lawless c’rowds).
Menurut Soerjono Soekanto kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum (lawless c’rowds) terbagi dua, yaitu:
1. Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), kerumunana semacam ini bertujuan untuk mencapai suatu tjuan dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma-norma hukum yang berlaku dalam masyarakat. Pada umumnya, kumpulan orang-orang tersebut bergerak karena meresahkan bahwa hak-hak mereka diinjak-injak atau tidak adanya keadilan.
2. Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), contohnya adalah seperti orang-orang yang mabuk.10
Tindakan main hakim sendiri, selain tidak memiliki legitimasi secara hukum, juga berdampak pada pelanggaran Hak Asasi Manusia. Di mana hak-hak seseorang yang diduga telah melakukan kejahatan untuk diadili
10Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grapindo Persada, Jakarta, 2017, h. 161
dan diproses melalui proses hukum yang adil, dalam hal ini telah diabaikan. Andi Hamzah mengatakan bahwa “perbuatan main hakim sendiri selalu berjalan sejajar dengan pelanggaran hak-hak orang lain dan oleh karena itu tidak diperbolehkan perbuatan ini menunjukkan bahwa ada indikasi rendahnya terhadap kesadaran hukum”.11
Bahkan tidak jarang tindakan main hakim sendirimenyebabkan kematian. Sebagai contoh, peristiwa yang terjadi di Bekasi pada tahun 2017 yang lalu, di mana seseorang pria yang bernama Muhammad Al- Zahra telah menjadi korban tindakan main hakim sendiri dan dibakar hidup-hidup, karena diduga telah mencuri pengeras suara (amplifier)milikmushallah Al-Hidayah, sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Penegakan hukum kasus main hakim sendiri perlu diupayakan secara serius dan dengan penanganan yang sungguh-sungguh. Bila suatu Negara dalam kehidupan masyarakatnya lebih dominan berlaku hukum rimba ketimbang menerapkan hukum normatif yang legal formal, maka dapat dipastikan bahwa masyarakat akan cenderung tunduk kepada kelompok-kelompok atau perorangan yang memiliki kekuatan secara fisik.
Pemberian sanksi merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri di masyarakat. Sanksi tindakan merupakan salah satu dari jenis sanksi yang diatur dalam undang-undang sistem pidana. Sanksi atau hukuman yang diberikan terhadap pelaku
11Andi Hamzah, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2016, h. 167
tindakan main hakim sendiri diharapkan dapat mewujudkan tujuan hukum itu sendiri yaitu memperbaiki sifat si pelaku tindakan main hakim sendiri sebagai manusia yang dianggap dapat berubah dan untuk mencapai keadilan yang setinggi-tingginya.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitiantentang pertanggungjawaban pidana bagi pelaku perbuatan main hakim sendiri, melalui penelitiantesis dengan judul:
“Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Eigenrichting (Main Hakim Sendiri) Yang Mengakibatkan Korban Mengalami Luka (Studi Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam tesis ini, maka ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan delik pidana berupa tindakan main hakim sendiri menurut KUHP ?
2. Bagaimana kualifikasi delik tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa dalam hukum pidana ? 3. Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan
terhadap pelaku tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) dalam Putusan Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Suatu penelitian tentunya memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai, demikian pula halnya dengan penelitian ini. Sesuai tujuan perumusan masalah tersebut di atas, dalam penelitian ini memiliki beberapa tujuan yang hendak dicapai, yaitu:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan delik pidana berupa tindakan main hakim sendiri menurut KUHP.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis kualifikasi delik tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa dalam hukum pidana.
3. Untuk mengetahui dan menganalis dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) dalam Putusan Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp.
Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian lebih lanjut tentang formulasi kebijakan hukum pidana terkait dengan tindakan main hakim sendiri. Sebab, pada tindakan main hakim sendiri pada dasarnya belumlah diatur secara tegas dan jelas dalam KUHP.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah, khususnya bagi pembuat undang-undang dalam merumuskan
perbuatan tindakan main hakim sendiri dalam RUU KUHP.
Selanjutnya, bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi masyarakat, bahwa tindakan main hakim sendiri bukanlah suatu cara yang tepat untuk menegakkan hukum. Tindakan tersebut justeru dipandang sebagai tindakan yang melanggar hukum dan Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, untuk tidak lagi melakukan tindakan main hakim sendiri.
D. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Menurut Neuman dalam Otje Salman, bahwa teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan tentang dunia. Sedangkan Sarantoks, mengemukakan teori adalah gabungan proporsi yang secara logis terkait satu sama lain yang diuji dan disajikan secara sistematis.12
Peter Mahmud Marzuki, mengatakan bahwa “di dalam pelaksanaan suatu penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori ataupun konsep baru sebagai preskrepsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.”13 Kerangka teori dalam penelitian hukum sangat
12Otje Salman dan Anthon F. Susanto, 2009, Teori Hukum, mengingat, mengumpulkan dan membuka kembali, Refika Aditama, Bandung, 2009, h. 22.
13Peter Mahmud Marzuki, Metode Penelitian Hukum, Prenada Kencana Media Gorup, Jakarta,2015, h. 35.
diperlukan untuk membuat jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi.14 Teori hukum sendiri dapat pula disebut sebagai kelanjutan dalam mempelajari hukum positif, setidak-tidaknya dalam urutan demikian itulah, kehadiran teori hukum dalam ilmu hukum dikonstruksikan secara jelas.15
Kedudukan teori hukum begitu penting dalam penelitian tesis, karena teori hukum merupakan landasan berpijak untuk menganalisis dan mengungkapkan fenomena-fenomena hukum yang ada, baik dalam tataran normatif maupun empiris. Beberapa teori hukum yang dianggap relevan dalam menganalisis permasalahan penelitian yang dikemukakan pada penelitian ini, yaitu teori pertanggungjawaban pidana dan teori perlindungan hukum dan teori keadilan.
a. Teori Keadilan
Keadilan dalam hukum adalah hal yang penting, karena keadilan merupakan tumpuan dari hukum. Begitu pentingnya keadilan sebagai tumpuan dari hukum, maka para ahli hukum memberikan pandangannya mengenai keadilan. Pandangan ahli hukum tersebut kemudian melahirkan berbagai teori keadilan yang didasari pada pandangan masing-masing ahli hukum, diantaranya teori keadilan Aristoteles, teori keadilan sosial Jhon Rawls, teori keadilan Hans Kelsen.
Pandangan Aristoteles tentang keadilan dapat dilihat dalam karyanya nichomachean ethics, politics, dan rethoric. Menurut Aristoteles,
14Satjipto Rahardjo, llmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, h. 254.
15Ibid., h. 253.
hukum hanya bisa ditetapkan dalam kaitannya dengan keadilan. Keadilan dalam pandangan Aristoteles, sebagai suatu pemberian persamaan, tetapi bukan persamarataan. Keadilan dalam pandangan Aristoteles didistribusikan melalui pemberian hak secara proporsional. Hal ini kemudian dipahami bahwa semua orang atau setiap warga negara bersamaan kedudukannya dihadapan hukum.16
Keadilan menurut pandangan Aritoteles dibagi dalam dua macam keadilan, yaitu keadilan distributif dan keadilan communicatif. Keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap orang porsi menurut prestasinya. Adapun keadilan communicatif adalah memberikan sama banyaknya kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan prestasinya.17
Berbeda dengan keadilan dalam pandangan Aristoteles, keadilan menurut pandangan Jhon Rawls dasari pada perspektif “liberal egalitarian of social justice”, Rawls berpendapat bahwa keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial. Rawls memposisikan keadilan sebagai adanya situasi yang sama dan sederajat antara tiap-tiap individu dalam masyarakat yang menjadi suatu posisi asli yang bertumpu pada pengertian ekulibrium reflektif dengan didasari oleh ciri rasionalitas (rasionality) kebebasan (freedom), dan persamaan (equality), guna mengatur struktur dasar dalam masyarakat (basic structure of society).18
16Marwan Effendi. Teori Hukum dari Perspektif Kebijakan, Perbandingan dan Harmonisasi Hukum Pidana. Referensi Media Group, Jakarta, 2014, h. 75.
17Ibid., h. 76.
18Ibid., h. 78.
Mengenai keadilan dapat pula dilihat pandangan Hans Kelsen, dalam hasil karyanya “General Theory of Law and State”, dimana Hans Kelsen berpandangan bahwa hukum sebagai tatanan sosial yang dapat dinyatakan adil apabila dapat mengatur perbuatan manusia dengan cara yang memuaskan sehingga didalamnya ditemukan kebahagiaan.19
Konsep keadilan yang dikemukakan Kelsen dibedakan dalam dua macam, pertama keadilan yang bersumber dari cita-cita rasional. Keadilan dirasionalkan melalui pengetahuan yang berwujud suatu kepentingan yang akhirnya menimbulkan suatu konflik kepentingan. Penyelesaian atas konflik kepentingan tersebut dapat dicapai melalui suatu tatanan yang memuaskan salah satu kepentingan dengan mengorbankan kepentingan yang lain atau dengan berusaha mencapai suatu kompromi menuju suatu perdamaian bagi semua kepentingan.20
Konsep keadilan yang kedua menurut Kelsen adalah konsep keadilan dan legalitas. Dalam konsep ini, menekankan bahwa untuk menegakkan keadilan maka harus didasari adanya peraturan. Suatu peraturan umum adalah “adil” jika benar-benar dapat diterapkan, sementara itu peraturan umum adalah “tidak adil”, jika aturan itu tidak dapat diterapkan atau jika diterapkan pada suatu kasus dan tidak diterapkan pada kasus lain yang serupa. Konsep keadilan dan legalitas inilah yang diterapkan dalam hukum nasional bangsa Indonesia, yang memaknai bahwa peraturan hukum nasional dapat dijadikan sebagai payung hukum (umbrella law) bagi peraturan-peraturan hukum nasional
19Hans Kelsen, General Theory of Law and State. Russell and Russell, New York, 2003, h. 7.
20Ibid., h. 16
lainnya sesuai tingkat dan derajatnya dan peraturan hukum itu memiliki daya ikat terhadap materi-materi yang dimuat (materi muatan) dalam peraturan hukum tersebut.21
b. Teori kepastian hukum.
Kepastian hukum berkaitan erat dengan paham positivismeyang muncul pada abad ke 19 akhir dan awal abad ke 20. Paham positivisme dikembangkan oleh Jhon Austin dan Hans Kelsen.
Jhon Austin berpandangan bahwa hukum itu nyata dan berlaku, bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial, bukan pula karena hukum itu bersumber pada jiwa bangsa, bukan karena cermin keadilan, tetapi karena hukum itu mendapat bentuk positifnya dari institusi yang berwenang.22
Menurut Kelsen bahwa sumber pedoman-pedoman objektif diatur dalam norma dasar (grundnorm). Norma dasar (grundnorm) merupakan syarat transendental logis bagi berlakunya seluruh tata hukum. Seluruh tata hukum harus berpedoman secara hierarki pada grundnorm, setiap orang harus menyesuaikan diri dengan apa yang telah ditentukan oleh grundnorm. Pandangan Kelsen ini lebih menitikberatkan pada yuridis normatif yang sejalan dengan teori positivisme.23
Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus
21Marwan Effendi, Op.cit., h. 79.
22Ibid, h. 21.
23Ibid.
dilakukan. Norma-norma adalah produk dan aksi manusia yang deliberative. Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun dalam hubungan dengan masyarakat. Aturan-aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu.24
Kepastian hukum dalam pandangan Utrecht mengandung dua pengertian, yaitu : Pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan.
Kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahu apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.25
Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Kepastian hukum sangat identik dengan pemahaman positivisme hukum yang berpendapat bahwa satu-satunya sumber hukum adalah undang-undang, sedangkan peradilan berarti semata-mata penerapan undang-undang pada peristiwa yang konkrit.26
24Peter Mahmud Marzuki. Op.Cit, h. 58.
25Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya, Bandung, 2009, h. 23.
26Lili Rasdjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011, h. 42-43.
Pandangan positivisme hukum mengidentikan hukum sebagai undang-undang.27 Hal ini berarti bahwa setiap peristiwa hukum yang terjadi di tengah masyarakat haruslah memiliki sarana atau undang- undang yang mengaturnya, sehingga peristiwa tersebut dapat memiliki kekuatan hukum dan memperoleh perlindungan hukum.
Jan M. Otto sebagaimana dikutip oleh Sidharta, yaitu bahwa kepastian hukum dalam situasi tertentu mensyaratkan sebagai berikut:
1) Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas atau jernih, konsisten dan mudah diperoleh (accesible), yang diterbitkan oleh kekuasaan negara;
2) Bahwa instansi-instansi penguasa (pemerintahan) menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya;
3) Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan- aturan tersebut;
4) Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum; dan
5) Bahwa keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.28
Kelima syarat yang dikemukakan Jan M. Otto tersebut menunjukkan bahwa kepastian hukum dapat dicapai jika substansi hukumnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Aturan hukum yang mampu menciptakan kepastian hukum adalah hukum yang lahir dari dan mencerminkan budaya masyarakat. Kepastian hukum yang seperti inilah yang disebut dengan kepastian hukum yang sebenarnya (realistic legal certainly), yaitu mensyaratkan adanya keharmonisan antara negara dengan rakyat dalam berorientasi dan memahami sistem hukum.
27Pontang Moerad, Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam Perkara Pidana, Alumni, Bandung, 2005, h.120.
28Darji Damodiharjo dan Shidarta. Op.Cit, h. 160.
Sudikno Mertokusumo, mengemukakan bahwa adanya kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, di maka yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan..29
Kepastian hukum merupakan pelaksanaan hukum sesuai dengan bunyinya sehingga masyarakat dapat memastikan bahwa hukum dilaksanakan. Dalam memahami nilai kepastian hukum yang harus diperhatikan adalah bahwa nilai itu mempunyai relasi yang erat dengan instrumen hukum yang positif dan peranan negara dalam mengaktualisasikannya pada hukum positif.30
Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa, sehingga aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.
Kepastian dapat mengandung beberapa arti, yakni adanya kejelasan dan ketegasan dalam hukum (undang-undang), tidak menimbulkan multitafsir, tidak menimbulkan kontradiktif, dan dapat dilaksanakan. Hukum harus berlaku tegas dalam masyarakat, mengandung keterbukaan sehingga siapapun dapat memahami makna atas suatu ketentuan hukum. Hukum yang satu dengan yang lain tidak boleh kontradiktif sehingga tidak menjadi sumber keraguan.
29Sudikno Mertokusumo. Op.Cit, h. 160.
30Fernando M, Manullang. Menggapai Hukum Berkeadilan: Tinjauan Hukum Kodrat dan Antinomi Nilai, Buku Kompas, Jakarta, 2009, h. 95.
c. Teori Kemanfaat Hukum
Selain mewujudkan keadilan dan kepastian hukum, masyarakat juga mengharapkan adanya manfaat dari hukum. Adanya harapan masyarakat terhadap kemanfaatan dari hukum, maka berkembanglah suatu teori hukum utilitarian, yang merupakan suatu teori yang berpandangan bahwa hukum dibuat untuk kepentingan manusia.
Salah satu pencetus teori ini adalah Jhon Locke. Menurutnya, hukum harus menyesuaikan pada kepentingan manusia. Locke berpandangan bahwa manusia mematuhi sebuah hukum bukan karena ketakutan atau pasrah, tetapi merupakan cerminan sikap tertib dan menghargai kebebasan, hak hidup, dan kepemilikan harta sebagai hak bawaan manusia.31
Utilitarian theory berpandangan bahwa kemanfaatan merupakan tujuan utama hukum. Kemanfaatan di sini diartikan sebagai kebahagiaan (happiness). Jadi tolok ukur baik buruknya atau adil tidaknya suatu hukum, bergantung pada sejauhmana hukum itu memberikan kebahagiaan kepada manusia atau tidak.32
Kebahagian dalam pandangan teori kemanfaatan hukum selayaknya dirasakan oleh setiap individu. Tetapi, jika tidak mungkin tercapai (dan pasti tidak mungkin tercapai), maka diupayakan agar kebahagiaan itu dinikmati oleh sebanyak mungkin individu dalam
31 Marwan Effendi, Op.Cit., h. 23.
32 Darji Darmodiharjo dan Shidarta. Op.Cit., h. 117.
masyarakat (bangsa) tersebut (the greatest happiness for the greastest number of people).33
Jeremy Bentham merupakan salah seorang yang genjar mendukung teori kemanfaatan (utilitarianisme). Dalam pandangan Bentham, manusia selalu berusaha untuk memperbanyak kebahagiaan dan mengurangi kesusahaannya. Di mana kebaikan itu dianggap sebagai kebahagiaan, yang dapat dicapai dengan mengurangi kesusahan.
Menurutnya, terdapat keterkaitan yang erat antara kebaikan dan kejahatan serta antara kebahagiaan dengan kesusahan.34Disinilah peran dan tugas hukum dalam memelihara kebaikan, dengan mencegah terjadinya kejahatan, sehingga memberikan kebahagiaan dan meminimalisir kesusahan.
2. Kerangka Konseptual
Konsep dalam suatu penelitian adalah bagian atau abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok, atau individu tertentu”.35 Konsepsi dalam penelitian ini antara lain:
a. Pertanggungjawaban pidana adalah mekanisme pernyataan atas kesalahan terdakwa berdasarkan sistem hukum yang mengandung syarat-syarat faktual (conditioning facts) yang diwujudkan dalam penuntutan atas kesalahan terdakwa melalui persidangan pengadilan
33Ibid.
34Ibid, h. 118.
35Burhan Ashshofa, Metodologi Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 2016, h.19.
(rightfully accused), dan akibat-akibat hukum (legal consequences) atas terbuktinya kesalahan yang diwujudkan dalam bentuk putusan hukum tentang keabsahan penjatuhan pidana terhadap terdakwa (rightfully sentenced).36
b. Pelaku adalah seseorang yang melakukan perbuatan atau tindakan.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan pelaku adalah orang yang melakukan suatu perbuatan pidana, yaitu perbuatan yang melanggar ketentuan hukum pidana.37
c. Eigenrichting (main hakim sendiri) adalah suatu Istilah yang sangat identik dengan istilah “pengadilan jalanan” yang maksudnya yaitu tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh beberapa orang atau sekelompok orang (massa) terhadap orang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana.38
d. Korban adalah orang yang telah mendapat penderitaan fisik atau penderitaan mental, kerugian harta benda atau mengakibatkan mati atas perbuatan atau usaha pelanggaran ringan dilakukan oleh pelaku tindak pidana.39
e. KUHP adalah singkatan dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang merupakan ketentuan atau aturan hukum pidana umum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
36Ainul Syamsu, Op.Cit, h.62.
37Moeljatno, Op.cit, h. 34.
38Fathul Achmadi Abby, Pengadilan Jalanan Dalam Dimensi Kebijakan Kriminal.
Jala Permata Aksaa, Jakarta, 2016, h. 19
39Bambang Waluyo, Viktimologi dan Perlindungan Saksi Korban, Sinar Grafika, Jakarata, 2016, h. 36
E. Asumsi
Asumsi adalah anggapan yang belum terbukti kebenarannya dan memerlukan pembuktian secara langsung. Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pengaturan delik pidana berupa tindakan main hakim sendiri menurut KUHP diatur dalam Pasal 170, Pasal 351,Pasal 406, Pasal 338.
Pelaku tindakan main hakim sendiri didakwa dengan Pasal 170 ayat (1) dan (2) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
2. Kualifikasi delik tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa dalam hukum pidana adalah perbuatan terdakwa telah memenuhi semua unsur dakwaan dalam Pasal 170 KUHP sehingga majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun.
3. Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) adalah selama proses persidangan tidak ditemukan adanya alasan pemaaf maupun alasan pembenar yang dapat menghapus sifat pertanggungjawaban pidana dan melawan hukum pada diri terdakwa, maka terdakwa harus dipertanggung jawabkan atas tindak pidana yang telah dilakukannya serta patut dijatuhi pidana yang setimpal dengan perbuatannya tersebut
F. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan di kepustakaan Fakultas Hukum Unversitas Islam Sumatera Utara, serta melalui browsing di internet, belum ada judul penelitian yang sama dengan penelitian yang membahas tentang: “Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Eigenrichting (Main Hakim Sendiri) Yang Mengakibatkan Korban Mengalami Luka (Analisis Putusan Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp)”, belum ada judul penelitian yang sama, baik itu topik judul maupun substansi masalah yang sama. Namun demikian, terdapat beberapa penelitian yang relevan terkait dengan judul penelitian, yang antara lain:
1. Tesis oleh Triyono Susanto, NPM : 201810380211021, mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. 2020.40 Penelitian yang dilakukan oleh Triyono Susanto mengangkat judul tesis tentang: Strategi Penanggulangan Eigenrichting Dengan Pendekatan Teori Kriminologi (Studi Wilayah Hukum Polresta Malang Kota). Adapun rumusan masalah yang menjadi objek kajian penelitian Muhammad Herowandi, yaitu:
a. Bagaimana konstruksi hukum eigenrichting dalam perspektif hukum pidana di wilayah hukum Polresta Malang Kota?
b. Apakah faktor kriminogen yang mempengaruhi terjadinya eigenrichting di wilayah hukum Polresta Malang Kota?
40Triyono Susanto, Strategi Penanggulangan Eigenrichting Dengan Pendekatan Teori Kriminologi (Studi Wilayah Hukum Polresta Malang Kota), Tesis mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. 2020.
c. Bagaimana strategi penanggulangan eigenrichting yang ideal dengan pendekatan teori kriminologi di wilayah hukum Polresta Malang Kota?
2. Tesis oleh Fenty Aprita, mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, 2007.41 Penelitian Fenty Aprita mengangkat judul penelitian tesis tentang: Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pengadilan kepada pelaku “Main Hakim Sendiri” (Eigenrichting) : Studi di Pengadilan Negeri Malang.Dalam penelitian ini ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaturan perbuatan atau tindakan main hakim sendiri (Eigenrichting) dalam hukum pidana?
b. Bagaimanadasar pertimbangan hakim di dalam menjatuhkan putusan pengadilan kepada pelaku “Main Hakim Sendiri”
(Eigenrichting)?
3. Tesis oleh Subhan, mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Batanghari, 2014.42 Penelitian yang dilakukan oleh Subhan mengangkat judul penelitian tesis tentang:
Kajian Yuridis Tentang Perbuatan Main Hakim Sendiri Terhadap Pelaku Kejahatan Begal Motor Menurut Hukum Pidana Indonesia.
41Fenty Aprita, Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pengadilan kepada pelaku “Main Hakim Sendiri” (Eigenrichting) : Studi di Pengadilan Negeri Malang, Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, 2007.
42Subhan, Kajian Yuridis Tentang Perbuatan Main Hakim Sendiri Terhadap Pelaku Kejahatan Begal Motor Menurut Hukum Pidana Indonesia, Tesis Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Batanghari, 2014.
Penelitian yang dilakukan oleh Subhan menentukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana pengaturan mengenai perbuatan main hakim sendiri terhadap pelaku kejahatan begal motor menurut hukum pidana indonesia?
b. Bagaimana upaya penanggulangan perbuatan main hakimsendiri terhadap pelaku kejahatan begal motor?
Berdasarkan penelitian di atas, terlihat adanya persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini. Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya ialah sama-sama membahas dan menganalisistentang masalah tindakan main hakim sendiri (Eigenrichting). Hanya saja dalam penelitian ini, fokus pembahasan ditujukan pada pertanggungjawaban atas tindakan main hakim sendiri yang menyebabkan kematian, dengan menganalisis Putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp.
Berdasarkan fokus pembahasan penelitian ini terlihat jelas bahwa antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Dengan adanya perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa penelitian ini murni hasil pemikiran penulis, sehingga hasil penelitian ini nantinya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
G. Metode Penelitian 1. Sifat Penelitian
Ditinjau dari sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan objek atau gejala-
gejala yang bersifat umum.43 Penelitian preskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran atau merumuskan masalah sesuai dengan keadaan atau fakta yang ada.44
Dilihat dari jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang diakukan dengan cara meneliti bahan pustaka (data sekunder) atau penelitian hukum perpustakaan.45 Penelitian yuridis normatif, meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika hukum, inventarisasi hukum positif, dasar falsafah (dogma atau dotrin) hukum positif.46Fokus kajian penelitian adalah tentang pengaturan, pertanggungjawaban pidana dan dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindakan atau perbuatan main hakim sendiri yang mengakibatkan kematian.Sesuai dengan fokus penelitian ini, maka objek kajian penelitian ini meliputi asas-asas hukum dan inventarisasi hukum positif.
2. Metode Pendekatan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a. Pendekatan kasus (case approach),47 dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yaitu putusan Pengadilan Nomor 929/Pid.B/2021/PN Lbp.
43Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit, h. 22.
44Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2013, h. 9.
45Ediwarman, Metodologi Penelitian Hukum, Sofmedia, Medan, 2015, h. 25.
46Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, h. 44.
47 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2016, h. 94
b. Pendekatan konseptual (copceptual approach),48 dilakukan dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu hukum, yang akan menemukan ide-ide yang dapat melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran bagi peneliti dalam membangun suatu argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.
3. Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan dalam proses penelitian yang sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan sumber yang akan diteliti. Pengumpulan data difokuskan pada pokok permasalahan yang ada, sehingga dalam penelitian tidak terjadi penyimpangan dan kekaburan dalam pembahasannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini mempergunakan data primer dan data sekunder.
Mendapatkan hasil yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, maka data dalam penelitian ini diperoleh dengan alat pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan cara yaitu studi kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara pengumpulan data dengan melakukan penelaahan kepada bahan pustaka atau data
48 Ibid, h. 95
sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
4. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan dalam proses penelitian yang sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan sumber yang akan diteliti. Pengumpulan data difokuskan pada pokok permasalahan yang ada, sehingga dalam penelitian tidak terjadi penyimpangan dan kekaburan dalam pembahasannya. Pengumpulan data dalam penelitian ini mempergunakan data primer dan data sekunder.
Sumber data dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan, berupa bahan- bahan hukum, yang terdiri atas:
a. Bahan hukum primer, yaitu:
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2) Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
3) Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
b. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya ilmiah, buku-buku dan lain sebagainya.
c. Bahan hukum tertier, yakni bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus, ensiklopedia, dan seterusnya.49
5. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Metode analisis data menggunakan metode interpretasi gramatikal, interpretasi sistematis. Interpretasi gramatikaldilakukan dengan cara menguraikan makna kata atau istilah menurut bahasa, susunan kata atau bunyinya. Interpretasi sistematisdilakukan dengan menafsirkan peraturan perundang-undangan dihubungkan dengan peraturan hukum atau undang-undang lain atau dengan keseluruhan sistem hukum, dan Interprestasi historisdilakukan dengan menafsirkan undang-undang dengan cara meninjau latar belakang sejarah dari pembentukan undang-undang yang bersangkutan.50
49Soerjono Soekanto dan Sri Madmuji, Metode Penelitian Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2013,h. 13.
50Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit, h. 28.
30 A. Tindak Pidana Main Hakim Sendiri
Bambang Waluyo menyebutkan bahwa perbuatan pidana itu dapat diberi arti perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut .51 R. Tresna dalam M.
Hamdan, bahwa peristiwa pidana adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.52
Moeljatno menyebutkan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh satu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asal saja diingat bahwa larang ditujukan kepada perbuatan yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang, sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. 53
Mahrus Ali menyebutkan strafbaarfeit adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, bersifat melawan hukum, dan berhubung dengan
51 Bambang Poernomo. Asas-Asas Hukum Pidana. Ghalia Indonesia, Jakarta, 2016, h.123
52 M. Hamdan, Tindak Pidana Suap dan Money Politics, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2005, h. 9
53 Moeljatno. Op.Cit, h.54
kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggungjawab.54 Utrech menyebutkan bahwa peristiwa pidana adalah suatu pelanggaran kaidah (pelanggaran tata hukum/normovertreding) yang diadakan karena kesalahan pelanggar dan yang harus diberi hukuman untuk dapat mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum.55 Andi Hamzah menyebutkan bahwa pidana adalah kelakukan yang diancan dengan pidana, yang bersifat melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan dan dilakukan oleh orang yang mampu bertanggungjawab. Perbuatan itu harus memenuhi beberapa syarat yaitu : 1. Diancam dengan pidana oleh hukum.
2. Bertentangan dengan hukum.
3. Dilakuan oleh orang yang bersalah.
4. Orang itu dipandang bertanggungjawab atas perbuatannya.56
R. Soesilo dalam M. Hamdan menyebutkan bahwa tindak pidana adalah sesuatu perbuatan yang dilarang atau diwajibkan oleh undang- undang yang apabila dilakukan atau diabaikan, maka orang yang melakukan atau mengabaikan itu diancam dengan hukuman.57 Dalam hal ini tindak pidana itu juga terdiri dari dua unsur yaitu :
1. Unsur yang bersifat objektif yang meliputi:
a. Perbuatan manusia yaitu perbuatan yang positif atau suatu perbuatan yang negatif yang menyebabkan pidana.
54Mahrus Ali. Dasar-Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, h.98.
55 E. Utrecht. Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana I,. Penerbitan Universitas, Jakarta, 1995, h. 253
56 Andi Hamzah. Asas-Asas Hukum Pidana. Rineka Cipta, Jakarta, 2010, h. 88
57 M. Hamdan. Op.Cit, h. 9-10
b. Akibat perbuatan manusia yaitu akibat yang terdiri atas merusakkan atau membahayakan kepentingan-kepentingan hukum yang menurut norma hukum itu perlu ada supaya dapat dihukum.
c. Keadaan-keadaan sekitar perbuatan itu, keadaan-keadaan ini bisa jadi terdapat pada waktu melakukan perbuatan.
d. Sifat melawan hukum dan sifat dapat dipidanakan perbuatan itu melawan hukum, jika bertentangan dengan undang-undang.
2. Unsur yang bersifat subjektif yaitu unsur yang ada dalam diri si pelaku itu sendiri yaitu kesalahan dari orang yang melanggar aturan-aturan pidana, artinya pelanggaran itu harus dapat dipertanggung jawabkan kepada pelanggar. 58
Perbuatan akan menjadi suatu tindak pidana apabila perbuatan tersebut memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
1. Melawan hukum
2. Merugikan masyarakat 3. Dilarang oleh aturan pidana
4. Pelakunya diancam dengan hukuman pidana.59
Menurut Jung dalam Dictionary of law, main hakim sendiri ini istilahnya eigenrichting yang artinya tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri tidak lain merupakan tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri yang bersifat sewenang- wenang tanpa persetujuan pihak lain yang berkepentingan, hal ini merupakan pelaksanaan sanksi oleh perorangan.60 Pelaku digambarkan sebagai seorang yang melaksanakan suatu perbuatan tersebut, dimana orang tersebut melaksanakan kehendaknya sendiri dengan melawan hukum hanya untuk melampiaskan kekesalan dan amarahnya.
58 Ibid, h.10.
59 Ibid, h.11.
60 Mahrus Ali. Op.Cit, h.99.
Menurut KBBI pengertian main hakim sendiri adalah menghakimi orang lain tanpa memperdulikan hukum yg ada, biasanya dilakukan dengan pemukulan, penyiksaan, pembakaran, dan sebagainya. Perbuatan tersebut merupakan tindakan yang dilakukan tanpa hak dan tanpa kewenangan.61 Tindakan menghakimi sendiri seperti ini merupakan sebuah tindakan untuk melaksanakan hak menurut kehendak sendiri dengan sewenang- wenang tanpa persetujuan pihak lain yang berkepentingan. Sebagai sebuah Negara dengan doktrin Negara hukum seperti yang termaksud dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 bahwa
“Indonesia adalah sebuah negara hukum”. 62Tentu tindakan main hakim sendiri tidak memiliki satupun alasan pembenar dari sisi normatif.
Main hakim sendiri merupakan terjemahan istilah dari bahasa Belanda “eigenrichting” yang berarti tindakan main hakim sendiri, mengambil hak tanpa mengindahkan hukum, tanpa sepengetahuan pemerintah dan tanpa penggunaan alat kekuasaan pemerintah. Selain itu main hakim sendiri berarti menghakimi orang lain tanpa mempedulikan hukum yang ada (biasanya dilakukan dengan pemukulan, penyiksaan, pembakaran, dan sebagainya).63
Istilah tindakan main hakim sendiri di Indonesia sangat identik dengan istilah “pengadilan jalanan” yang maksudnya yaitu tindakan main
61 WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, 2007, h.415.
62 Suharsono, UUD 1945 Beserta Amandemen I,II,III, dan IV, Grasindo, Jakarta, 2017, h.56
63 Fathul Achmadi Abby, OpCit, h.19
hakim sendiri yang dilakukan oleh beberapa orang atau sekelompok orang (massa) terhadap orang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana.8Perbuatan main hakim sendiri selalu sejajar dengan hak-hak orang lain dan oleh karena itu tidak diperbolehkan perbuatan ini menunjukkan bahwa ada indikasi rendahnya terhadap kesadaran hukum.64
Tindakan main hakim sendiri merupakan respon masyarakat yang malah menciptakan suasana yang tidak tertib. Masyarakat yang seharusnya menaati hukum yang berlaku yang ditetapkan oleh pemerintah malah bertindak sebaliknya, mereka melakukan respon yang salah dengan menghakimi sendiri pelaku tindak pidana atau yang diduga melakukan tindak pidana. Akan tetapi bagaimanapun, tindakan yang dilakukan masyarakat terhadap pelaku tindak pidana yang terangkap oleh masyarakat dengan memukulinya sampai babak belur bahkan sampai membakarnya hidup-hidup hingga meregang nyawa jelas merupakan bentuk lain dari kejahatan.
Seseorang tidak diperkenankan melaksanakan sanksi kepada sesorang untuk menegakkan hukum karena pelaksanaan sanksi adalah monopoli penguasa. Seperti yang ditegaskan Blackstone “Law is a rule of action prescribed or dictated by some superior which some interior is bound to obey”. “Hukum adalah suatu aturan tindakan-tindakan yang ditentukan oleh orang-orang yang berkuasa bagi orang-orang yang
64 Ibid, h.20.
dikuasai untuk ditaati”. Dari proposisi yang ditegaskan oleh Blackstone tersebut mengindikasikan bahwa semua bentuk tindakan hukum terhadap pelanggaran maupun kejahatan adalah otoritas pemerintah. Masyarakat di luar dari pemerintah sebagai pemiliki otoritas tidak memiliki hak sama sekali untuk melakukan sebuah tindakan karena secara normative tidak memiliki dasar legitimasi.65
Eigenrichting (main hakim sendiri) dari konteks sosiologi masih marak terjadi. Kecenderungan massa ketika menemukan pelaku kejahatan dalam keadaan tertangkap basah langsung melakukan pemukulan. Jelas tindakan ini tidak punya alasan pembenar dari sisi hukum apalagi ketika kita kembali pada kesimpulan bahwa hukum adalah otoritas penguasa dalam hal ini diwakilkan melalui lembaga-lembaga hukum. Kecenderungan ini akan banyak ditemui dengan maraknya kasus pemukulan yang dilakukan secara beramai-ramai oleh massa. Massa tidak bisa mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan situasi seperti ini.66
Tindakan menghakimi sendiri itu dilarang pada umumnya tetapi tidak selalu demikian. Ada juga tindakan yang sebenarnya dikategorikan main hakim sendiri atau eigenrichting tetapi memiliki alasan pembenar ataupun alasan pemaaf. Alasan pembenar dan pemaaf kemudian sehingga suatu perbuatan sekalipun dikategorikan sebagai tindakan main hakim sendiri tetapi tidak bisa dikategorikan sebagai tindak pidana. Sebab
65 Achmad Ali, Menguak Takbir Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor; 2018, h.25
66 Ibid, h.26
adanya alasan pembenar ataupun pemaaf menjadikan suatu unsure pidananya menjadi gugur. Setiap pelanggaran kaedah hukum pada dasarnya harus dikenakan sanksi, setiap pembunuhan, setiap pencurian harus ditindak, pelakunya harus dihukum. Tetapi ada perbuatan- perbuatan tertentu yang pada hakekatnya merupakan pelanggaran kaedah hukum tetapi pelanggarnya tidak dikenakan sanksi.
Tindakan main hakim sendiri ini lebih sering dilakukan secara massal untuk menghindari tanggung jawab pribadi serta menghindari pembalasan dari teman atau keluarga korban. Tindak kekerasan yang diambil masyarakat dianggap sebagai langkah tepat untuk menyelesaikan suatu masalah yang dianggap sebagai perbuatan melawan hukum. Main hakim sendiri merupakan perbuatan sewenang-wenang terhadap orang yang dianggap bersalah. Perilaku main hakim sendiri terhadap pelaku asusila merupakan fakta yang terjadi dalam masyarakat. Pelaku main hakim sendiri secara tegas akan diproses secara hukum.
Menurut Soerjono Soekanto, main hakim sendiri samka halnya dengan kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum.
Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), kerumunan semacam ini bertujuan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan kekuatan fisik yang berlawanan dengan norma- norma hukum yang berlaku dalam masyarakat.
2. Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowd) contohnya adalah seperti orang-orang mabuk.67
67 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Op.Cit, h..161
Melihat definisi tersebut, perbuatan pidana yang dilakukan oleh massa juga dapat dikatakan dilakukan secara kolektif, karena dalam melakukan perbuatan pidana para pelaku dalam hal ini dengan jumlah yang banyak/lebih dari satu orang dimana secara langsung atau tidak langsung baik direncanakan ataupun tidak direncanakan telah terjalin kerja sama baik hal tersebut dilakukan secara bersama sama maupun sendiri sendiri dalam hal satu rangkaian peristiwa kejadian yang menimbulkan perbuatan pidana atau lebih spesifik menimbulkan atau mengakibatkan terjadinya kerusakan baik fisik ataupun non fisik.
Tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh kerumunan orang terhadap pelaku tindak pidana atau orang yang diduga sebagai pelaku tindak pidana pada umumnya boleh dibilang sadis dan tidak kenal belas kasihan atau bias dibilang tidak mansiawi. Dikatakan tidak manusiawi, karena tindakan main hakim sendiri ini telah melibatkan banyak orang yang melakukan kekerasan atau penganiayaan secara beramai-ramai terhadap seseorang atau beberapa orang pelaku tindak pidana atau yang diduga sebagai pelaku tindak pidana. Kekerasan atau penganiayaan ini seringkali disertai dengan penggunaan benda-benda keras, tumpul dan tajam sebagai medianya. Selain mengalami luka-luka, dalam beberapa kasus main hakim sendiri bahkan ada sekelompok orang yang kemudian membakar orang yang diduga pelaku tindak pidana tersebut hingga tewas. Seringnya kejadian tersebut sangat disayangkan mengingat korban
tindakan main hakim sendiri bisa saja menimpa orang yang sebenarnya bukanlah pelaku tindak pidana sebagaimana dugaan mereka sebelumnya.
B. Aturan Hukum yang Dapat Dikenakan Pada Pelaku Main Hakim Sendiri (Eigenrichting).
KUHP di Indonesia sendiri belum mengatur secara khusus mengenai tindakan main hakim sendiri, akan tetapi bukan berarti dalam KUHP tidak ada pengaturan tentang perbuatan main hakim sendiri.
Walaupun tidak secara langsung dinyatakan bahwa suatu tindakan yang diatur dinamakan tindakan main hakim sendiri. Sebagai contoh, pengaturan mengenai tindakan penganiayaan dalam Pasal 351 KUHP tidak disebutkan bahwa penganiayaan merupakan tindakan main hakim sendiri. Namun jika mencermati unsur-unsur pasal tersebut, dapat disimpulkan situasi tertentu (contohnya, ketika ada pelaku pencurian sepeda motor yang dipukuli beramai-ramai oleh warga), tindakan penganiayaan oleh warga tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan main hakim sendiri.
Secara khusus peraturan tindakan main hakim sendiri tidaklah ada, namun unsur-unsurnya telah terpenuhi di dalam beberapa pasal di dalam KUHP. Diantaranya adalah Pasal 351, 170, dan 406. Beberapa isi dari pasal KUHP yang ada adalah:
1. Pasal 351 :
(1) Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama- lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak- banyaknya Rp. 4.500,
(2) Jika perbuatan itu menjadikan luka berat, sitersalah dihukum penjara selama-lamanya lima tahun.
(3) Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya, dia dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja.
(5) Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum.
2. Pasal 170 :
(1) Barangsiapa yang dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan.
(2) Tersalah dihukum:
1e. Dengan penjara selama-lamanya tujuh tahun, jika ia dengan sengaja merusakkan barang atau jika kekerasan yang dilakukannya itu menyebabkan suatu luka.
2e. Dengan penjara selama-lamanya sembilan tahun, jika kekerasan menyebabkan luka berat pada tubuh.
3e. Dengan penjara selama-lamanya dua belas tahun, jika kekerasan itu menyebabkan matinya orang.
3. Pasal 406 :
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan suatu barang yang sama sekali atau bagiannya kepunyaan orang lain, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500.
(2) Hukuman serupa itu dikenakan juga kepada orang yang dengan sengaja dan dengan melawan hak membunuh, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan binatang, yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain.
Main hakim sendiri dalam KUHP lebih sering disebut dengan kekerasan. Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan sebuah perilaku, baik yang terbuka atau yang tertutup, baik yang bersifat menyerang ataupun bertahan, yang disertai penggunaan kekuatan oleh orang lain.
Membicarakan masalah kekerasan bukanlah suatu hal mudah, sebab kekerasan pada dasarnya adalah merupakan tindakan agresif yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Misalnya tindakan memukul, menusuk, menendang, menampar, meninju, menggigit, kesemuanya itu adalah bentuk-bentuk kekerasan. Selain itu juga, kadang-kadang kekerasan merupakan tindakan yang normal, namun tindakan yang sama pada suatu situasi yang berbeda akan disebut penyimpangan.
Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan sebuah perilaku, baik yang terbuka (overt) atau tertutup (covert) dan baik yang bersifat menyerang (offensive) atau yang bersifat bertahan (deffense) yang disertai penggunaan kekuatan kepada orang lain.68 Kekerasan (violence) menurut sebagian para ahli disebut sedemikian rupa sebagai tindakan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan baik fisik ataupun psikis adalah kekerasan yang bertentangan dengan hukum. Oleh karena itu kekerasan adalah sebagai suatu bentuk kejahatan.
Tindak kekerasan (violence) dalam pandangan klasik menunjukan kepada tingkah laku yang pertama-tama harus bertentangan dengan undang-undang, baik berupa ancaman saja maupun sudah merupakan tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik atau dapat mengakibatkan kematian pada seseorang,69 defenisi sangat luas sekali karena menyangkut pula perbuatan “mengancam” di
68 Ismu Gunadi,, Hukum Pidana, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta, 2014, h.11.
69 Romli Atmasasmitha, Teori & Kapita Selekta Kriminologi, Eresco, Bandung, 2012, h. 55.
samping suatu tindakan nyata. Namun demikian kekerasan dilihat dari persfektif kriminologi, kekerasan ini menunjukan kepada tingkah laku yang berbeda-beda baik motif maupun mengenai tindakannya seperti perkosaan dan pembunuhan.
Istilah kekerasaan digunakan oleh John Conrad dengan istilah
“Criminally Violence”, sedangkan Clinard & Quenney menggunakan istilah
”Criminal violence”, di Columbia istilah kekerasan dikenal dengan “La Violencia”.70 Kejahatan kekerasan oleh Yesmil Anwar diartikan sebagai penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.71
Istilah kekerasan atau la violencia di Kolombia, the vandetta barbaricina di Sardinia, Italia, atau la vida vale nada (life is worth nothing) di El Savador yang ditempatkan dibelakang kata kejahatan sering menyesatkan khalayak. Karena sering ditafsirkan seolah-olah sesuatu yang dilakukan dengan kekerasan dengan sendirinya merupakan kejahatan. Menurut para ahli, kekerasan yang digunakan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan, baik fisik maupun psikis adalah kekerasan yang bertentangan dengan hukum, sehingga merupakan kejahatan.72
70 Ibid, h.57
71Yesmil Anwar, Saat Menuai Kejahatan: Sebuah Pendekatan Sosiokultural Kriminologi, Hukum, UNPAD Press, Bandung, 2014, h.54.
72 Ibid, h.55.