Sebab, integrasi keilmuan mampu menjembatani kesenjangan dan ruang dikotomis antara ilmu agama dan ilmu umum. Perkembangan integrasi keilmuan di UIN Saizu Purwokerto juga akan menemukan arti penting jika dikaitkan dengan sejarah kelahirannya. Integrasi keilmuan yang dikembangkan di UIN Saizu Purwokerto mengacu pada aspek historis-teoretis-akademik yang melandasi lahirnya Perguruan Tinggi Islam.
9 Nurlena Rifai, dkk., Integrasi Sains dalam Pengembangan Kurikulum UIN Se-Indonesia, Jurnal Tarbiya, Vol. 21 Nurlena Rifai, dkk., Integrasi Sains dalam Pengembangan Kurikulum UIN Se-Indonesia, Jurnal Tarbiya, Vol.
PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN
REFLEKSI DAN STRUKTURISASI KONSEP
Paradigma Integrasi Keilmuan: Konseptualisasi Keilmuan
Oleh karena itu, pengembangan konsep paradigma integrasi keilmuan memberikan ruang lebih luas untuk mengelaborasi dinamika dan prinsip keilmuan yang ada. Hal ini disebabkan karena setiap perubahan yang terjadi, misalnya ilmu pengetahuan manusia, bersifat dinamis, tumbuh dan berkembang, namun masih terdapat permasalahan yang menyertainya.25 Terlebih lagi karena ilmu-ilmu agama mempunyai kompleksitas tersendiri dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya, karena mereka dalam Ilmu Agama memuat gagasan suci, sakral, suci, gagasan qat'iy (yang tidak boleh diubah, gagasan qat'iy yang tertanam dalam pemahaman subjektif sejarah manusia, analisis dan tafsir berupa mazhab hukum, kalam, taswuf, organisasi bahkan politik keagamaan tentang Tuhan (subjektivisme fideistik).26 UIN Saizu Purwokerto sebagai lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama mengembangkan konsep paradigma integrasi keilmuan yang bertujuan untuk menjembatani perbedaan paradigma yang ada, kemudian menjadi pokok perumusannya.Integrasi keilmuan sangat diperlukan karena akan memberikan pendidikan bagaimana memformulasikan pengetahuan yang ada menjadi landasan keilmuan yang kokoh.
Perkembangan paradigma integrasi keilmuan ini akan bertemu dengan Charles Sanders Pierce yang pemikiran dan penelitiannya mendobrak tabu-tabu yang selama ini mengelilinginya. Amin Abdullah bersama Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta) dan Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang) sering diminta Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjelaskan esensi dari paradigma integrasi keilmuan di PTKI-PTKIN.
Paradigma Integrasi Keilmuan: Solusi atau Masalah Baru?
Pendekatan sistem Jasser Auda mengajak kita membaca hukum Islam secara detail dan komprehensif, sekaligus dengan kejernihan hati dan pikiran. Dengan kata lain, “kemaslahatan” hukum Islam tidak hanya berlaku bagi umat Islam, namun bagi seluruh umat manusia dan alam semesta pada umumnya. Jasser Auda mengajak Anda untuk terus ikhlas memahami ajaran dan hukum Islam, serta menangkap pesan indah yang disampaikannya.
Melalui pendekatan sistem, Jasser Auda merumuskan kembali epistemologi hukum Islam yang lebih bersifat profetik. Hal ini juga menegaskan bahwa hukum Islam itu indah dan efektif bagi manusia dan kehidupan.
PARADIGMA SEBAGAI PIJAKAN INTEGRASI KEILMUAN
Paradigma Keilmuan IAIN Purwokerto 2015-2019 Secara substansial, paradigma merupakan cara
Konstruksi dasar paradigma seperti di atas juga menjadi landasan integrasi keilmuan di IAIN Purwokerto. Hal ini juga sebagai salah satu cara untuk memberikan edukasi kepada civitas akademika IAIN Purwokerto bagaimana mengaktualisasikan dan mengimplementasikan paradigma keilmuan IAIN Purwokerto, yang kemudian dapat terwujud dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian, serta dalam pengabdian. Untuk itulah IAIN Purwokerto mencoba hadir untuk mengisi “keterlambatan” ini. a) IAIN Purwokerto sebagai Arsy Ilmu Pengetahuan dan Agama (Arsy al-Ulum wa al-Din)54.
Kata Arasy dipilih untuk menggambarkan konstruksi paradigma keilmuan yang mengandung obsesi, semangat dan cita-cita luhur dan luhur untuk mengantarkan IAIN Purwokerto sebagai kawah candradimuka bagi seluruh mahasiswa agar menjadi pribadi yang unggul dan bermanfaat. Kata Arasy dipilih juga karena 'dimaknai' sebagai tempat tertinggi dan tersuci, tempat Allah memerintah dan menjaga alam, yang dimaknai menggambarkan cita-cita IAIN Purwokerto menjadi lembaga pendidikan yang mendidik peserta didik atau individu manusia yang menghasilkan. Renstra tersebut menjelaskan bagaimana paradigma keilmuan dapat diimplementasikan dan dibumikan dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian, serta dalam pelayanan IAIN Purwokerto.
Oleh karena itu, IAIN Purwokerto mengusung prinsip “arsy al-ulum wa al-din wa al-tsaqafah”, melalui “unifikasi atau penyatuan ilmu pengetahuan dengan agama melalui pendekatan budaya”, yaitu sebagai upaya serius dan berkesinambungan dalam memadukan atau menyatukan keilmuan. daya nalar – akademisi dengan penalaran moral-spiritual melalui pendekatan budaya. Berdasarkan kerangka ontologis di atas, maka paradigma keilmuan yang dikembangkan oleh IAIN Purwokerto adalah kesatuan ilmu pengetahuan, agama dan budaya atau integrasi ilmu pengetahuan, agama dan budaya, yang kemudian berimplikasi pada:. Upaya mengintegrasikan dan mengembangkan ilmu-ilmu agama atau keislaman dengan ilmu-ilmu umum di IAIN Purwokerto diwujudkan melalui dua cara: (1) penataan struktur kurikulum dengan memasukkan mata kuliah lintas dan multidisiplin; ilmu-ilmu umum diajarkan secara dialogis, begitu pula sebaliknya, dan (2) perbaikan bidang pengajaran dengan memperkenalkan metode berdasarkan pemikiran faktual dan kontekstual.
Dalam konteks ini, IAIN Purwokerto membangun paradigma keilmuan yang berkembang melalui model penyatuan ilmu dan agama. Berdasarkan kerangka ontologis dan epistemologis keilmuan sebagaimana dijelaskan di atas, maka tradisi keilmuan yang ingin dibangun civitas akademika IAIN Purwokerto adalah (1) kritis-rekonstruktif, (2) dialogis-integratif, dan (3) inklusif-inovatif. Arah pengembangan ilmu pengetahuan dan kelembagaan Mengenai arah pengembangan ilmu pengetahuan dan kelembagaan. Kelembagaan IAIN Purwokerto dapat dijalankan dalam tiga aspek, yaitu :.
Integrasi Keilmuan: Paradigma dan Transmisi Akademik
Hal serupa juga terjadi di UIN Saizu Purwokerto Setelah melihat, membaca, menganalisis dan melakukan kajian mendalam, paradigma keilmuan UIN Saizu Purwokerto berkembang menjadi paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah.60. Paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah mencakup pemikiran para tokoh, pemikir, dan intelektual nasional dan internasional. Kim Knot dan Charles Sanders Pierce termasuk di antara orang-orang yang memperkuat landasan dan landasan paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah.
Konstruksi dasar paradigma Jabalul Hikmah integrasi keilmuan didasarkan pada sublimasi makna gunung dan hikmah. Kebijaksanaan dalam paradigma Jabalul Hikmah untuk integrasi keilmuan juga mewakili karakter atau citra diri lulusan UIN Saizu Purwokerto. Dengan demikian, yang menjadi sorotan dari paradigma Jabalul Hikmah integrasi keilmuan adalah citra diri atau karakter lulusan UIN Saizu Purwokerto, yaitu masyarakat yang memiliki ciri-ciri IPM;
Merujuk pada makna gunung di atas, paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah sangat relevan dengan institusi UIN Saizu Purwokerto. Kelima faktor tersebut merupakan personifikasi manusia yang menjadi ruh utama paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah. Paradigma integrasi keilmuan UIN Saizu Purwokerto bertajuk Jabalul Hikmah merupakan hub bagi kerangka integratif berbagai ilmu yang menjadi fokusnya.
Harapannya melalui paradigma integrasi keilmuan (dengan semangat) Jebelul Hikma, permasalahan kontemporer dapat terurai dan ditemukan solusinya. Upaya pengembangan integrasi keilmuan di UIN Saizu Purwokerto i dengan paradigma keilmuan Jabalul Hikmah juga memerlukan aspek penguasaan metodologi pembelajaran. Rumusan terbaik dapat dengan mudah diwujudkan karena paradigma integrasi keilmuan Jebelul Hikma menawarkan ruang tersebut.
PIJAKAN AKADEMIK-INSTITUSIONAL
Jabalul Hikmah: Paradigma Integrasi Keilmuan dan Transformasi Akademik
Paradigma integrasi keilmuan UIN Walisongo Semarang dengan “semangat” Kesatuan Ilmu mencoba menghadirkan semua paradigma yang “sederhana” agar dapat dipahami oleh seluruh pendidik, mahasiswa dan masyarakat. Lebih lanjut menurutnya paradigma integrasi keilmuan di UIN Walisongo didasarkan pada konstruksi “semua ilmu pengetahuan berasal dari Allah dan harus dipergunakan sesuai dengan ajaran Allah”. Hal ini pula yang menjadi landasan paradigma integrasi keilmuan Persatuan Ilmu Pengetahuan UIN Walisongo Semarang.94.
Upaya tersebut dilakukan agar paradigma integrasi keilmuan tidak hanya sekedar wacana namun menjadi tindakan nyata dan dapat dirasakan manfaatnya. Evi Fatimatur Rusydiyyah merupakan salah satu perancang implementasi paradigma integrasi keilmuan menara kembar terintegrasi di UIN Sunan Ampel Surabaya. Paradigma Tree of Knowledge integrasi keilmuan berupaya menjelaskan segala ilmu pengetahuan selalu berlandaskan kejujuran dan keikhlasan.
Oleh karena itu, tekad yang diambil dalam penerapan paradigma keilmuan integratif ini adalah “jangan katakan ilmu agama dan ilmu umum”, karena sesungguhnya semua ilmu mempunyai sumber yang sama yaitu Allah.98. Azyumardi yang saat itu menjabat Rektor bahu-membahu merumuskan “paradigma integrasi keilmuan” bagi UIN Jakarta yang kemudian “menemukan dan memutuskan” bahwa paradigma yang dipilih adalah “Dialog antar Ilmu”. Ija Suntana, Ketua LPM UIN Bandung sekaligus staf yang berperan aktif dalam merumuskan paradigma integrasi keilmuan di UIN Bandung pada 2 Agustus 2021.
Perlu ditegaskan bahwa perbedaan karakteristik tersebut tidak berarti bahwa paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah merupakan paradigma keilmuan yang terbaik. Konflik di sini tercermin dalam perubahan dan perkembangan zaman; kemandirian tercermin dari kemandirian dan kemandirian UIN Saizu Purwokerto dalam mengembangkan paradigma integrasi keilmuan; Oleh karena itu, untuk menciptakan rumusan terbaik yang dapat dirasakan oleh semua pihak, maka desain operasional paradigma Jabalul Hikmah untuk integrasi keilmuan mempunyai konsep dasar integratif-transformatif, humanisasi, liberasi dan transendensi.
PENUTUP DAN TANTANGAN YANG TERUS MENYAPA
Selama ini IAIN Purwokerto memilih dan menggunakan paradigma arsy al-ulum wa al-din wa al-tsaqafah. Merujuk pada perkembangan dan dinamika zaman kekinian, mulai dari periode khususnya mulai tahun 2020, seiring dengan perubahan status di UIN Saizu Purwokerto, dikembangkan paradigma integrasi keilmuan Jabalul Hikmah. Pasalnya, pada hakikatnya bersifat akademis, paradigma keilmuan pada enam UIN di atas juga bertujuan untuk mendialogkan, menghubungkan dan menempatkan semua ilmu yang ada pada tempatnya, yang pada saat ini juga dilakukan oleh UIN Saizu Purwokerto.
Juga agar segala ilmu pengetahuan masa kini, seperti mikrobiologi-biokimia, supra metanarasi atau ilmu di luar ilmu pengetahuan, dapat membawa manfaat dan kebaikan bagi seluruh masyarakat Persada. Perubahan dan perkembangan merupakan tantangan yang selalu menunjukkan eksistensinya, dan menguji eksistensi segala sesuatu dan setiap orang, termasuk dalam hal ini institusi UIN Saizu Purwokerto.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Syukur, Pendahuluan, dalam Hasyim Muhammad, Kristologi Al-Qur'an, Kajian Kontekstual Doktrin Kristen dalam Al-Qur'an (Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa, 2005). Farid Essack, Al-Qur'an, Pembebasan dan Pluralisme: Sebuah Perspektif Islam tentang Solidaritas Antaragama Melawan Penindasan, (Inggris: One World, 1997). Hassan Hanafi, Min al- ‘Aqîdah ilâ ats-Tsaurah: Al- Muqaddimât an-Nazhariyyah, Volume I, (Beirut: Dâr at- Tanwîr li ath-Thibâ‘ah wa an-Nasyr, 1988).
Irene Oh, “Tentang Demokrasi, Kekerasan, dan Janji Islam”, Jurnal Gereja dan Negara, Vol. Jasser Auda, Maqasid Al-Shari‛ah sebagai Filsafat Hukum Islam: Suatu Pendekatan Sistem (London: The International Institute of Islamic Thought, 2008). Lutfi Hadi Aminuddin, Integrasi Sains dan Agama: Mengkaji Paradigma Integratif-Interkoneksi UIN Sunan Kalijaga, Kodifikasia: Jurnal Pendidikan Keagamaan dan Sosial Budaya, Vol.
Amin Abdullah, “Cakrawala Baru Kajian Islam Melalui Hermeneutika Sosial Budaya”, al-Jamiah, Vol. Roqib, Islam Sebagai Inspirasi Pengembangan Integrasi Keilmuan Menuju Kampus Merdeka dalam Wildani Hefni (ed.), Reposisi, redefinisi dan reaktualisasi model baru integrasi keilmuan dalam membangun kematangan beragama (Yogyakarta: LkiS, 2021). Dirâsah Tahlîliyyah Naqdiyyah li Nuzhum al-Ma’rifah fî ats- Tsaqâfah al-‘Arabiyyah, (Beirut: Markaz Dirâsah al-Wihdah al-‘Arabiyyah, 1990).
Altbach dalam Jamil Salmi (ur.), The Road to Academic Excellence: Pendirian Universitas Riset Kelas Dunia (Džakarta: Salemba Raya, 2012). Talal Asad, Geneanologies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam (Baltimore: . The John Hopkins University Press, 1993);. Martin (ur.), Rethinking Islamic Studies: From Orientalism to Cosmopolitanism (Južna Karolina: Univerza Južne Karoline, 2010).
Biografi Penulis
Beliau memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Anak dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 1993, gelar Magister Pendidikan Anak Usia Dini dari Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2008, dan gelar Doktor dari Program Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2015. Fandi Akhmad atau lebih dikenal dengan nama lengkapnya. Lahir di Pemalang pada 12 Oktober 1993, Andi menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN Purwokerto jurusan Pendidikan Agama Islam dan melanjutkan S2 dengan jurusan yang sama Pendidikan Agama Islam di UIN.