INTEGRASI KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME (KKN)
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah Kewarganegaraan
Dosen Pengampuh : Karlin Z Mamu, SH., M.Si
Oleh
NAMA : JULIA PARAMATA NIM : 911422024
UNIVERSITAS UNIVERSITAS GORONTALO FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas penyertaan-Nya lah makalah dengan judul “ Integrasi Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme” ini dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini saya mengaku banyak sekali kesuliatan.
Namun berkat usaha yang semaksimal mungkin saya lakukan, serta bantuan dari berbagai pihak, makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Politik karena telah membimbing saya didalam perkuliahan.
Saya mengakui dalam penyusunan makalah ini jauh dari pada sempurna.
Untuk itu diharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi penyempurnaan makalah ini.
Gorontalo, November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan ... 2
BAB II PEMBAHASAN... 3
2.1 Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) ... 3
2.2 Dampak dan Implementasi KKN di Indonesia ... 5
2.3 Strategi pemberantasan KKN ... 8
BAB III PENUTUP... 12
3.1 Kesimpulan ... 12
3.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu isu yang paling krusial untuk dipecahkan oleh bangsa dan pemerintah Indonesia adalah masalah korupsi. Hal ini disebabkan semakin lama tindak pidana korupsi di Indonesia semakin sulit untuk diatasi.
Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi disemua bidang dan sektor pembangunan. Apalagi setelah ditetapkannya pelaksanaan otonomi daerah, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, disinilah korupsi terjadi bukan hanya pada tingkat pusat tetapi juga pada tingkat daerah dan bahkan menembus ketingkat pemerintahan yang paling kecil di daerah.
Harapannya Pemerintah Indonesia tidak akan tinggal diam dalam mengatasi praktek-praktek korupsi. Kami berharap pemerintah dapat melaksanakan berbagai kebijakan berupa peraturan perundang-undangan dari yang tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar 1945 sampai dengan Undang- Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu, pemerintah juga membentuk komisi-komisi yang berhubungan langsung dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi seperti Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Karena Itulah Perlunya Pengkajian Lagi Yang Lebih Mendalam Terkait Kasus Pelanggaran Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme yang ada di Indonesia mengigat statusnya sebagai negara hukum yang demokratis dan seharusnya menjunjung tinggi integrasi yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ?
2. Bagaimanakah dampak KKN di Indonesia (terutama dalam hal jabatan) ? 3. Bagaimanakah strategi-strategi pemberantasan KKN ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Menambah wawasan akan pengertian Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
2. Untuk mengetahui dampak KKN di Indonesia (terutama dalam hal jabatan).
3. Mempelajari upaya-upaya pemberantasan KKN.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME 1. Korupsi
Korupsi diambil dari bahasa latin yaitu corruption dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak,menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Menurut Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politikus, politis maupun pegawai negri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang ada didekatnya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam arti luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk kepentingan pribadi. Semua bentuk pemerintahan rentan korupsi di dalamnya. Beratnya korupsi berbeda- beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan orang untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan dan sebagainya. 1
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walaupun korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas atau kejahatan.
Dari sudut pandang hukum, korupsi memenuhi hal-hal berikut ini;
a. Perbuatan melawan hukum,
b. Penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
1 Ismansyah and Purwantoro Agung Sulistyo, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Daerah Serta Strategi Penanggulangannya’, Jurnal Demokrasi, IX.1 (2010), 43–60.
c. Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan d. Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Di Indonesia, telah terjadi banyak sekali kasus korupsi. Di bawah ini adalah daftar beberapa di antara sekian kasus korupsi yang telah terjadi di Indonesia yaitu :
a. Kasus dugaan korupsi Soeharto : dakwaan atas tindak korupsi ditujuh yayasan,
b. Pertamina : dalam Technical Assistance Contract dengan PT.
Ustaindo Petro Gas,
c. Bapindo : pembobolan di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) oleh Eddy Tansil,
d. Abdullah Puteh : korupsi APBD.
e. Nunun Nurbaeti : Kasus dugaan suap Cek Pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI.
2. Kolusi
Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan atau perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar. Seringkali kolusi ini dimaksudkan untuk menjatuhkan atau setidaknya merugikan lawan pihak-pihak yang berkolusi.
Dalam bidang studi ekonomi, kolusi terjadi dalam satu bidang industri di saat beberapa perusahaan saingan bekerja sama untuk kepentingan mereka bersama. Kolusi paling sering terjadi dalam satu jenis pasar oligopoli, dimana keputusan beberapa perusahaan untuk bekerja sama dapat secara signifikan mempengaruhi pasar secara keseluruhan.
Kolusi merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi dalam melakukan kesepakatan
2perjanjian yang diwarnai dengan pemberian uang atau fasilitas tertentu sebagai pelicin agar segala urusannya menjadi lancar.
3. Nepotisme
Nepotisme (berasal dari kata Latin nepos, yang berarti keponakan atau cucu) berarti lebih memilih (mengedepankan) saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori.
Nepotisme biasanya dilakukan oleh para pejabat atau pemegang kekuasaan pemerintah lokal sampai nasional, pemimpin perusahaan negara, pemimpin militer maupun sipil, serta tokoh-tokoh politik. Mereka menempatkan para anggota atau kaum keluarganya tanpa mempertimbangkan kapasitas dan kualitasnya.
Walaupun praktek nepotisme ini sudah berlangsung sejak lama, istilah nepotisme mulai di gunakan secara luas di Indonesia sejak tahun 1998. Fakta yang terjadi sampai sekarang, praktek nepotisme masih kerap dilakukan di Indonesia, bahkan sudah menjadi rahasia umum dalam proses perekrutan pengawal baru, baik di instansi-instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan BUMN maupun swasta.
Masyarakat masih menganggap bahwa tindakan nepotisme tidak melanggar hukum seperti halnya korupsi. Padahal, pengesahan Undang- Undang No 28 tahun 1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, itu sudah merupakan dasar hukum sah yang melarang praktek nepotisme, bersama dengan korupsi dan kolusi.
2.2 Dampak Dan Implementasi KKN Di Indonesia ( Terutama Dalam Hal Jabatan )
2 Hariyanto, ‘Priayisme Dan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN): Studi Status Group Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta’, Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 3.2 (2012), 111–29 <http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/264>.
Dalam implementasinya, korupsi, kolusi, dan nepotisme menimbulkan banyak sekali dampak negatif baik pada pelaku maupun orang lain. Ada pula dampak positif bagi pelaku dan beberapa orang bersangkutan jika ditinjau secara duniawi. Namun dampak positif atau keuntungan itu didapat hanya jika kejahatan mereka tidak diketahui atau berhasil lolos dari mata hukum. Sedangkan jika ditinjau secara religius, setiap perbuatan buruk akan mendapat balasan setimpal. Tidak ada lagi kata “tidak ketahuan”
maupun “lolos dari mata hukum”.
Dibawah ini merupakan beberapa di antara sekian banyak implementasi dan dampak KKN :
1. Terjadi wrong person in the wrong place. Yaitu orang yang tidak seharusnya dan tidak cocok untuk mengisi suatu jabatan atau kedudukan ditempatkan pada kedudukan tersebut. Sedang orang yang memiliki kemampuan untuk mengisi suatu kedudukan malah tidak bisa mengisi jabatan tersebut karena tidak menyogok, tidak menggunakan uang pelicin, tidak memiliki koneks (hubungan persaudaraan, persahabatan, atau lainnya) dengan orang yang bersangkutan, tidak ahli membuat koneksi (bekerja sama atau membangun hubungan kolusi) dengan orang yang bersangkutan, maupun alasan lainnya yang biasanya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedudukan tersebut dan harusnya tidak diterapkan dalam profesionalitas.
2. Terjadi pembagian dana yang tidak semestinya. Misal dana yang harusnya diberikan semuanya pada penerima sebagian besar malah diterima pihak lain. Mekanismenya yaitu dana mengalir dari sumber pada pihak satu. Pihak satu mengkorupsi sebagian dana dan memberikan sisanya pada pihak dua. Pihak dua mengkorupsi sebagian dana dan memberikan sisanya pada pihak tiga. Dan terus begitu hingga akhirnya penerima menerima dana dalam jumlah yang tidak sesuai dengan
semakin gembung dompetnya. Apabila hal semacam ini terjadi, maka akan terjadi kekurangan dana pada penerima.
3. Terjadi kemacetan dalam proses tertentu sebab tidak ada uang pelicin.
Misal pada proses pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi). Mereka yang menggunakan uang pelicin dapat menyelesaikan tahap-tahap pembuatan SIM denga mudah dan cepat. Bahkan dapat pula mereka mengikuti tahap-tahap hanya sebagai formalitas. Sedang hasilnya sudah pasti mereka lulus. Sebaliknya bagi yang mengikuti tahap-tahap ujian dengan bersih, jujur, dan tanpa uang pelicin. Seleksi mereka akan terjadi secara ketat. Bahkan terkadang sengaja dibuat lebih sulit, berbelit-belit, panjang, dan lama. Dan nampaknya petugas pun merasa enggan untuk melayani.
4. Terjadi saling menjatuhkan antara pihak bersih-jujur dengan pihak tidak jujur. Tapi seringkali yang terjadi adalah pihak tidak jujur menjatuhkan yang bersih-jujur disebabkan oleh rasa khawatir dan kurang aman akan keberadaan si bersih-jujur atau hanya sekedar kecemburuan. Misalkan si A menjadi pegawai daerah tingkat II karena murni usaha dan kemampuannya. Sedang si B dan si C menghalalkan berbagai cara.
Karena merasa harus mengeluarkan banyak dana untuk mendapat posisinya sedang si A tidak perlu melakukan itu, si B dan C merasa cemburu. Mereka melakukan kolusi untuk menjebak si A dalam suatu insiden agar minimal nama baiknya tercoreng.
5. Mengutamakan memilih saudara, relatif, sahabat, atau lainnya untuk mengisi suatu
jabatan. Misal A adalah seseorang yang diberi amanat menyeleksi pegawai baru suatu koperasi. Dan di antara para pelamar pekerjaan adalah B, saudara si A, dan si C, bukan siapa-siapa si A. Setelah melalui beberapa tahap, ternyata si C lebih cocok mengisi jabatan kosong tersebut. Namun karena mempertimbangkan si B sebagai saudaranya, si A lebih memilih si B untuk mengisi jabatan.
Tindak korupsi sangatlah merugikan berbagai pihak, korupsi juga semakin menambah kesenjangan akibat memburuknya distribusi kekayaan.
Bila sekarang kesenjangan kaya dan miskin sudah sedemikian menganga, maka korupsi makin melebarkan kesenjangan itu karena uang terdistribusi secara tidak sehat (tidak mengikuti kaidah-kaidah ekonomi sebagaimana mestinya). Koruptor makin kaya, yang miskin makin miskin. Akibat lainnya, karena uang gampang diperoleh, sikap konsumtif jadi terangsang.
Tidak ada dorongan ke pola produktif, sehingga timbul inefisieansi dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi.
2.3 Startegi Pemberantasan KKN
Cara paling efektif dan efisien untuk menghapus KKN adalah dengan kesadaran masing-masing individu. Hanya saja sekiranya hal itu sulit diwujudkan dengan kondisi moral, mental, dan kesadaran bangsa Indonesia yang relatif buruk. Maka dari itu, untuk memberantas KKN perlu diupayakan banyak hal dan perlu pula kerja sama dari setiap stake holder dengan perannya masing-masing. Di bawah ini adalah stake holder dengan peranannya masing-masing :
1. Pemerintah dan Perangkat Kenegaraan
a. Membuat dan menegakkan peraturan perundangan yang melarang korupsi, kolusi, dan nepotisme.
b. Membuat maupun mendukung lembaga-lembaga pemberantasan KKN.
c. Mengadakan maupun mensponsori event-event yang mendukung pemberantasan KKN, misalnya penyuluhan, workshop, dan sebagainya.
d. Sebisa mungkin menjauhi praktik KKN sekalipun dalam porsi kecil.
2. Guru, Dosen, dan Keluarga, dan Lainnya
a. Mengajarkan pada generasi muda tentang seberapa negatif KKN.
b. Memberi pendidikan yang mengarah pada kesadaran diri agar sebisa mungkin selalu jujur dan adil di setiap tindakan.
c. Sebisa mungkin menjauhi praktik KKN sekalipun dalam porsi kecil.
d. Menumbuhkan jiwa anti-KKN dalam diri dan menularkan semangat itu baik pada sesama guru maupun pada lainnya.
3. Siswa dan Mahasiswa
a. Mempelajari KKN dan seluk-beluknya untuk mengetahui seberapa negatif KKN itu.
b. Sebisa mungkin menjauhi praktik KKN sekalipun dalam porsi kecil.
c. Membiasakan diri jujur dalam setiap tindakan.
d. Mempersiapkan masa depan Indonesia bersih dari KKN dimulai dari penerapan gerakan anti-KKN pada diri sendiri dan dilanjutkan dengan mengalirkan semangat anti-KKN pada orang di sekitar terutama teman, sesama generasi muda.
4. Pegawai pemerintah
a. Sebisa mungkin menjauhi praktik KKN sekalipun dalam porsi kecil.
b. Menumbuhkan jiwa anti-KKN dalam diri dan menularkan semangat itu pada masyarakat.
c. Mengadakan maupun mensponsori kegiatan-kegiatan yang mendukung anti-KKN seperti penyuluhan, workshop, dan sebagainya di tingkat masing-masing (desa, kecamatan, kabupaten, dan lain-lain).
Cara-cara yang telah disebutkan di atas dapat benar-benar menghapuskan KKN jika seluruh pihak dapat bekerja sama dengan baik dan pihak-pihak tersebut sudah memiliki kesadaran akan kenegatifan KKN sejak awal. Fakta menunjukkan bahwa budaya dan stigma akan KKN terlanjur mengakar kuat. Sedang semangat anti-KKN sulit sekali bahkan hampir tidak mungkin dimunculkan karena para generasi tua yang berpemikiran semi- tradisional bahkan tradisional. Mereka ingin mempertahankan nilai- nilai
yang sudah ada dan sangat sulit bahkan tidak mau menerima hal baru.
Sekalipun hal-hal yang mereka pertahankan itu belum tentu benarnya seperti stigma akan KKN.
Cara lain untuk memberantas KKN adalah melalui jalur hukum.
Yaitu dengan membuat dan mempertegas peraturan perundangan tentang pelarangan KKN. Serta mempraktikkan pemberian sanksi pada mereka yang melanggar sesuai peraturan tersebut seadil-adilnya. Hanya saja faktanya petugas peradilan dan perangkatnya pun sudah terjerat KKN dan sulit untuk melepaskan diri. Hanya ada beberapa di antara mereka yang masih jujur- bersih.
Banyak sekali kendala untuk mengubah generasi tua. Tidak sampai 25% kemungkinan keberhasilan memperbaharui generasi tua. Maka dari itu, ya sudah biar saja generasi tua begitu. Setelah semua pilihan seakan tidak mungkin, tinggal satu pilihan tersisa. Yaitu memperbaharui generasi muda agar nantinya dapat membawa Indonesia yang baru yang bersih dari KKN.
Permbaharuan tersebut adalah melalui revolusi pendidikan. Yaitu perubahan mekanisme pendidikan untuk menghasilkan siswa bermoral dan bermental baik dengan jiwa anti-KKN. Untuk membuat hal tersebut terwujud, diperlukan pula banyak tenaga pengajar yang profesional, dapat diandalkan, dan merupakan suri tauladan yang baik. Ironinya, tidak semua guru memenuhi persyaratan tersebut.
Sebagian besar dari mereka hanya mengajarkan pada siswanya mengenai ilmu pengetahuan tanpa mengajarkan moral dan mental yang baik.Untuk meningkatkan produktifitas tenaga pengajar agar memenuhi syarat, maka dapat diadakan workshop, pelatihan kerja, dan sebagainya.
Dan untuk melakukan itu diperlukan banyak dana, berhubung jumlah guru di Indonesia tidaklah sedikit. Itu pun belum tentu menghasilkan tenaga pengajar sesuai standar untuk pelaksanaan revolusi pendidikan.
menghapus KKN, bangsa Indonesia harus tetap optimis dalam memberantas KKN. Sekalipun tidak dapat menggunakan cara efektif dan efisien, setidaknya masih bisa merangkak sedikit demi sedikit menuju negara bebas KKN. Yaitu dengan memulai dari diri sendiri. Caranya :
1. Perbaiki moral dan mental diri.
2. Tumbuhkan semangat anti-KKN dalam diri.
3. Praktikkan anti-KKN dalam setiap perbuatan.
4. Pengaruhi orang lain agar semangat anti-KKN tumbuh dalam kepribadiannya.
5. Buat atau ikuti komunitas anti-KKN untuk mengumpulkan maupun berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ideologi serupa.
6. Bersama, adakan kegiatan seperti penyuluhan, workshop, pembelajaran, atau lainnya sebagai upaya mengurangi KKN di Indonesia.
7. Teruslah aktif dalam mengurangi KKN.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sebuah strategi pemberantasan memerlukan prinsip transparan dan bebas konflik kepentingan. Transparansi membuka akses publik terhadap sistem yang berlaku, sehingga terjadi mekanisme penyeimbang. Warga masyarakat mempunyai hak dasar untuk turut serta menjadi bagian dari strategi pemberantasan korupsi. Saat ini optimalisasi penggunaan teknologi informasi di sektor pemerintah dapat membantu untuk memfasilitasinya.
Strategi pemberantasan juga harus bebas kepentingan golongan maupun individu, sehingga pada prosesnya tidak ada keberpihakan yang tidak seimbang. Sehingga semua strategi berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan objektif.
3.2 Saran
1. Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap terpidana korupsi. Undang- undang yang ada pun dapat dipergunakan sebaik-baiknya agar korupsi tidak lagi menjadi budaya di negara ini.
2. Perlu kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan proyek penghapusan KKN di Indonesia. Karenanya, perlu dilakukan upaya untuk menarik minat masyarakat agar mau berpartisipasi.
DAFTAR PUSTAKA
3Hariyanto, ‘Priayisme Dan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN): Studi Status Group Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta’, Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 3.2 (2012), 111–29
<http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/264>
Ismansyah, and Purwantoro Agung Sulistyo, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Daerah Serta Strategi Penanggulangannya’, Jurnal Demokrasi, IX.1 (2010), 43–60
Sulistyo, Purwantoro Agung, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme’, Demokrasi, 9.1 (2010), 43–60
4Hariyanto, ‘Priayisme Dan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN): Studi Status Group Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta’, Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 3.2 (2012), 111–29
<http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/264>
Ismansyah, and Purwantoro Agung Sulistyo, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Daerah Serta Strategi Penanggulangannya’, Jurnal Demokrasi, IX.1 (2010), 43–60
Sulistyo, Purwantoro Agung, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme’, Demokrasi, 9.1 (2010), 43–60
5Hariyanto, ‘Priayisme Dan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN): Studi Status Group Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta’, Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 3.2 (2012), 111–29
<http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/264>
Ismansyah, and Purwantoro Agung Sulistyo, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme Di Daerah Serta Strategi Penanggulangannya’, Jurnal Demokrasi, IX.1 (2010), 43–60
Sulistyo, Purwantoro Agung, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme’, Demokrasi, 9.1 (2010), 43–60
3 Ismansyah and Sulistyo.
4 Purwantoro Agung Sulistyo, ‘Permasalahan Korupsi, Kolusi, Dan Nepotisme’, Demokrasi, 9.1 (2010), 43–60.
5 Hariyanto, ‘Priayisme Dan Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN): Studi Status Group Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta’, Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 3.2 (2012), 111–29 <http://jurnal.dpr.go.id/index.php/aspirasi/article/view/264>.