SISTEMATIKA ARTIKEL
JURNAL : Assimilation :Indonesian Journal Of Biology Education UPI https://ejournal.upi.edu/index.php/asimilasi/index
1. TOPIK
"Integrasi Pendidikan Biologi dan Ekologi dalam Menghadapi Ancaman Mikroplastik pada Irigasi dan Keberlanjutan Pangan"
2. ABSTRAK
Abstrak berisi ringkasan latar belakang pentingnya polusi mikroplastik pada irigasi pertanian, tujuan studi literatur sistematis ini, metode SLR yang diterapkan, temuan utama, serta rekomendasi berbasis pendidikan biologi dan ekologi untuk pengelolaan mikroplastik berkelanjutan.
Kata Kunci:
3. PENDAHULUAN
3.1 Polusi Mikroplastik: Permasalahan Global dan Dampaknya
Menggambarkan masalah mikroplastik secara global, dengan penekanan pada bagaimana mikroplastik memengaruhi ekosistem, terutama dalam konteks pertanian dan ketahanan pangan. Menunjukkan bahwa mikroplastik adalah ancaman serius bagi keberlanjutan dan ekosistem.
3.2 Polusi Mikroplastik pada Irigasi Pertanian di Indonesia
Membahas konteks spesifik polusi mikroplastik dalam sistem irigasi pertanian Indonesia, termasuk sumber-sumber utama seperti limbah domestik, plastik pertanian, dan aktivitas industri. Bagian ini menunjukkan bahwa polusi mikroplastik berdampak langsung pada kualitas tanah dan air pertanian.
3.3 Dampak Akumulasi Mikroplastik pada Kualitas Tanah dan Pertanian
Menguraikan bagaimana akumulasi mikroplastik di tanah pertanian berdampak negatif pada kualitas tanah, struktur dan kesehatan mikrobiota tanah, serta kesehatan tanaman.
Menjelaskan bahwa perubahan pada tanah ini dapat mengancam produksi pangan.
3.4 Urgensi Integrasi Pendidikan Biologi dan Ekologi dalam Menghadapi Polusi Mikroplastik
Menguraikan pentingnya pendidikan biologi dan ekologi dalam meningkatkan kesadaran serta pemahaman masyarakat dan pelaku pertanian mengenai dampak mikroplastik. Menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi alat penting dalam menghadapi polusi ini dengan menyediakan dasar ilmu dan praktik berkelanjutan.
3.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak polusi mikroplastik dalam irigasi pertanian serta mengembangkan strategi berbasis pendidikan biologi dan ekologi untuk mengelola polusi ini secara berkelanjutan
4. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan fokus pada pertanyaan utama: "Bagaimana pengaruh pendidikan biologi dengan materi ekologi tentang dampak mikroplastik terhadap peningkatan kesadaran dan penerapan praktik berkelanjutan di kalangan petani di wilayah irigasi, dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional?" Dengan mengidentifikasi dan menyintesis literatur yang relevan, SLR ini diharapkan dapat memberikan pemahaman berbasis bukti terkait efektivitas pendidikan biologi dan ekologi dalam meningkatkan kesadaran serta praktik berkelanjutan petani di wilayah irigasi.
2. Strategi Pencarian Literatur
Pencarian literatur dilakukan pada basis data ilmiah terkemuka seperti ScienceDirect, Google Scholar, PubMed, dan ResearchGate untuk menjangkau artikel yang telah ditinjau sejawat (peer-reviewed). Kata kunci yang digunakan mencakup “dampak mikroplastik,” “pendidikan ekologi,” “praktik berkelanjutan,” “petani,” dan “pertanian berkelanjutan.” Kombinasi kata kunci tersebut diatur menggunakan operator Boolean (AND, OR) untuk memastikan cakupan yang luas dan relevan.
3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Literatur yang teridentifikasi diseleksi berdasarkan kriteria berikut:
• Inklusi: Artikel yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, studi yang secara eksplisit membahas dampak mikroplastik dalam lingkungan pertanian, efektivitas pendidikan ekologi, atau praktik berkelanjutan di sektor pertanian.
• Eksklusi: Artikel non-ilmiah, studi yang tidak tersedia dalam teks penuh, serta penelitian yang tidak membahas petani atau ekosistem pertanian secara langsung.
4. Proses Screening dan Seleksi Literatur
Setiap artikel yang ditemukan melalui strategi pencarian akan diseleksi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penyaringan berdasarkan judul dan abstrak untuk menilai relevansi awal. Tahap kedua adalah pemeriksaan penuh terhadap teks artikel yang memenuhi syarat awal, untuk memastikan kesesuaian dengan fokus penelitian.
5. Analisis dan Ekstraksi Data
Studi yang terpilih dianalisis untuk mengekstraksi data utama, seperti jenis dan tingkat pencemaran mikroplastik, dampak mikroplastik pada tanah dan kualitas air irigasi, efektivitas metode pendidikan ekologi yang digunakan, serta hasil dari penerapan praktik berkelanjutan di kalangan petani. Ekstraksi data dilakukan secara sistematis untuk memudahkan sintesis dan interpretasi.
6. Sintesis Data
Data yang telah diekstraksi disintesis secara naratif untuk mengidentifikasi pola temuan, perbedaan hasil, dan kesenjangan dalam literatur yang ada. Sintesis ini mencakup penilaian terhadap efektivitas pendidikan ekologi dibandingkan metode pengajaran tradisional, serta rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung penerapan praktik berkelanjutan oleh petani.
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sumber dan Jenis Mikroplastik di Lingkungan Pertanian
Sumber Mikroplastik: Studi menunjukkan bahwa penggunaan plastik dalam pertanian, seperti film mulsa, pipa irigasi, dan greenhouse plastik, merupakan sumber utama mikroplastik di tanah. Penelitian oleh Gündoğdu et al. (2022) menunjukkan bahwa plastik sekali pakai dalam pertanian memberikan kontribusi signifikan terhadap mikroplastik di tanah. Sedangkan, Wang et al. (2022) menyoroti bahwa penggunaan plastik mulsa secara luas dapat menyebabkan abrasi plastik ke tanah dan mencemari sistem pertanian.
Jenis dan Ukuran Mikroplastik: Beberapa penelitian mendeteksi adanya fragmen, fiber, film, dan pelet dalam berbagai ukuran, yang juga ditemukan dalam lingkungan air dan tanah pertanian. Misalnya, studi di ekosistem mangrove dan sungai menunjukkan adanya mikroplastik berukuran <5 mm yang dapat merusak ekosistem.
2. Dampak Mikroplastik pada Kualitas Tanah dan Ekosistem Pertanian
Kualitas Fisik dan Kimia Tanah: Mikroplastik dalam tanah dapat mengubah parameter fisik dan kimia, termasuk mengurangi kandungan logam esensial dan mengubah pH
tanah. Penelitian oleh Edet et al. (2022) menemukan bahwa penambahan mikroplastik dari “sachet water” pada tanah menurunkan konsentrasi logam seperti besi dan seng, sementara meningkatkan jumlah mikroorganisme resistan antibiotik, yang menunjukkan efek negatif pada kesuburan dan kesehatan tanah.
Dampak pada Biota Tanah: Mikroplastik dalam tanah pertanian dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota dan mempengaruhi fungsi ekosistem. Wang et al. (2022) melaporkan bahwa mikroplastik yang terakumulasi di tanah dapat menghambat proses biogeokimia, mengurangi kualitas tanah, dan bahkan mengurangi produktivitas tanaman. Hal ini penting untuk disampaikan kepada petani untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang konsekuensi dari penggunaan plastik dalam praktik pertanian.
4. Peningkatan Kesadaran Lingkungan melalui Pendidikan Ekologi
Pemahaman Petani Tentang Bahaya Mikroplastik: Edukasi mengenai dampak mikroplastik pada ekosistem tanah dapat meningkatkan kesadaran petani terhadap pentingnya pengelolaan limbah plastik yang berkelanjutan. Ini mencakup pemahaman tentang bagaimana plastik pertanian berkontribusi pada pencemaran mikroplastik dan risiko terhadap produktivitas tanaman dan kualitas tanah.
Studi Perbandingan Metode Pengajaran: Diperlukan perbandingan antara pendekatan pendidikan biologi berbasis ekologi yang komprehensif (misalnya, kuliah interaktif, demonstrasi di lapangan, dan eksperimen laboratorium tentang dampak mikroplastik) dengan metode tradisional untuk mengukur efektivitas peningkatan pemahaman dan penerapan praktik berkelanjutan.
5. Efek Ekologis Mikroplastik di Perairan dan Ekosistem Terkait Pertanian Distribusi Mikroplastik di Sistem Irigasi: Beberapa studi menunjukkan bahwa mikroplastik dari sumber pertanian sering terdistribusi melalui sistem irigasi ke area pertanian lainnya, yang dapat memperburuk pencemaran tanah. Studi Hiwari et al.
(2019) menunjukkan distribusi mikroplastik di perairan pesisir Indonesia, yang mungkin relevan untuk memahami dinamika polusi di area pertanian dengan irigasi yang terhubung ke laut atau sungai.
Akumulasi di Ekosistem Pesisir: Penelitian di ekosistem mangrove dan pesisir seperti yang dilakukan oleh Yunanto et al. (2021) memperlihatkan bahwa mikroplastik cenderung terperangkap dalam sedimen dan akar mangrove, yang menjadi penting dalam konteks edukasi tentang polusi mikroplastik pada petani di daerah pesisir.
6. Tantangan dalam Pengelolaan dan Pembersihan Mikroplastik
Kesulitan dalam Menghilangkan Mikroplastik: Beberapa studi menyoroti tantangan besar dalam menghilangkan mikroplastik dari tanah dan air karena sifat persisten plastik yang sulit terurai secara alami. Misalnya, hasil penelitian Universitas Brawijaya (2019) menunjukkan bahwa mikroplastik cenderung terakumulasi dan sulit dikeluarkan dari lingkungan perairan.
Kebutuhan untuk Mengadopsi Praktik Berkelanjutan: Pendidikan mengenai teknik pengelolaan sampah plastik, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di bidang pertanian dan peningkatan metode daur ulang, perlu disampaikan kepada petani untuk mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
7. Penggunaan Praktik Berkelanjutan di Bidang Pertanian
Alternatif Plastik dalam Pertanian: Kajian-kajian pada dokumen terlampir juga dapat digunakan untuk membahas metode alternatif yang lebih berkelanjutan, seperti penggunaan bahan mulsa biodegradable atau teknologi irigasi yang ramah lingkungan.
Gündoğdu et al. (2022) menyarankan pentingnya mengembangkan teknologi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap plastik di sektor pertanian.
Penerapan Pengetahuan ke dalam Praktik: Pendidikan tentang mikroplastik harus mencakup strategi praktis, seperti manajemen limbah plastik yang efektif dan penggunaan material biodegradable, agar petani dapat langsung mengimplementasikan praktik berkelanjutan ini.
8. Peran Kebijakan dan Regulasi dalam Pengelolaan Mikroplastik
Kebutuhan Akan Kebijakan Pendukung: Penelitian menunjukkan pentingnya adanya regulasi yang ketat mengenai penggunaan plastik dalam pertanian dan pembuangan limbahnya. Dalam konteks edukasi, perlu disampaikan bahwa kebijakan yang mendukung dapat membantu mengurangi dampak mikroplastik di lingkungan.
Advokasi untuk Daur Ulang Plastik Pertanian: Kebijakan mengenai pengumpulan dan daur ulang plastik pertanian dapat disarankan dalam pendidikan kepada petani untuk mendukung keberlanjutan praktik mereka dalam jangka panjang.
9. Efektivitas Program Pendidikan dalam Meningkatkan Praktik Berkelanjutan Evaluasi Efektivitas Edukasi Ekologi: Harus dievaluasi apakah pendidikan berbasis ekologi yang diberikan dapat mengubah sikap dan perilaku petani dalam penggunaan plastik dan penerapan praktik berkelanjutan. Perbandingan hasil dari pendidikan berbasis ekologi dan metode tradisional dapat memberikan gambaran tentang efektivitas edukasi dalam meningkatkan kesadaran dan praktik berkelanjutan di kalangan petani.
6. KESIMPULAN
Merangkum temuan utama SLR, menunjukkan pentingnya pendidikan dalam menghadapi polusi mikroplastik, dan menawarkan rekomendasi berbasis literatur untuk pendidikan biologi dan ekologi.
7. DAFTAR PUSTAKA
Memuat semua referensi literatur yang digunakan sesuai gaya penulisan APA.
ARTIKEL TERSUSUN
"Integrasi Pendidikan Biologi dan Ekologi dalam Menghadapi Ancaman Mikroplastik
pada Irigasi dan Keberlanjutan Pangan”
Abstrak
Pencemaran mikroplastik dalam lingkungan pertanian di Indonesia memberikan dampak signifikan terhadap kualitas tanah, produktivitas lahan, dan keberlanjutan pangan. Mikroplastik yang berasal dari penggunaan plastik dalam praktik pertanian dapat merusak struktur tanah, mengganggu mikroorganisme esensial, dan menyebabkan akumulasi bahan toksik dalam rantai pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak praktis dari pendidikan ekologi dalam meningkatkan kesadaran petani terhadap polusi mikroplastik dan memotivasi adopsi praktik berkelanjutan di bidang pertanian. Dengan memanfaatkan pendidikan ekologi, penelitian ini diharapkan memberikan solusi konkret dalam mengurangi penggunaan plastik, memperkenalkan bahan biodegradable, serta meningkatkan pengelolaan limbah plastik di lahan pertanian. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR), yang mengevaluasi literatur mengenai polusi mikroplastik dan pendekatan pendidikan ekologi. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan ekologi berbasis praktik efektif dalam meningkatkan pemahaman petani mengenai bahaya mikroplastik dan mendorong adopsi praktik berkelanjutan, seperti penggunaan bahan biodegradable dan pengelolaan limbah plastik.
Dukungan kebijakan untuk mempromosikan praktik ramah lingkungan juga diperlukan untuk mengurangi dampak mikroplastik terhadap ketahanan pangan dan ekosistem pertanian.
Integrasi pendidikan biologi dan ekologi menjadi langkah strategis untuk membangun pertanian berkelanjutan di tengah ancaman mikroplastik yang terus meningkat.
Kata kunci: mikroplastik, pendidikan ekologi, keberlanjutan pangan, pertanian berkelanjutan, biologi
Abstract
Microplastic pollution in agricultural environments in Indonesia has a significant impact on soil quality, land productivity, and food sustainability. Microplastics, originating from the use of plastic in agricultural practices, can damage soil structure, disrupt essential microorganisms, and lead to the accumulation of toxic substances in the food chain. This study aims to identify
the practical impact of ecological education in raising farmers' awareness of microplastic pollution and motivating the adoption of sustainable practices in agriculture. By utilizing ecological education, this research is expected to offer concrete solutions to reduce plastic use, introduce biodegradable materials, and improve plastic waste management on agricultural land.
The method employed is a Systematic Literature Review (SLR), which evaluates literature on microplastic pollution and ecological education approaches. Results show that practical-based ecological education is effective in enhancing farmers' understanding of the dangers of microplastics and encouraging the adoption of sustainable practices, such as using biodegradable materials and managing plastic waste. Policy support to promote environmentally friendly practices is also essential to reduce the impact of microplastics on food security and agricultural ecosystems. The integration of biology and ecology education is a strategic step toward building sustainable agriculture amid the growing threat of microplastics.
Keywords: microplastics, ecological education, food sustainability, sustainable agriculture, biology.
PENDAHULUAN
Polusi mikroplastik telah menjadi ancaman global yang berdampak serius pada ekosistem darat dan perairan, termasuk sektor pertanian yang berperan penting dalam ketahanan pangan. Data dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menunjukkan bahwa lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun, dengan sekitar 60%
dari jumlah tersebut akhirnya mencemari lingkungan alam, baik di lautan maupun di tanah (UNEP, 2021). Mikroplastik, yaitu partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm yang berasal dari degradasi plastik besar atau produk plastik mikro, seperti kosmetik dan pembersih, dapat memengaruhi kualitas tanah dan air secara signifikan (Puspita, 2023). Dalam konteks pertanian, mikroplastik ini dapat mengganggu struktur tanah, memengaruhi mikroorganisme tanah, dan meningkatkan risiko bahan toksik masuk ke rantai makanan manusia, sehingga berdampak langsung pada kualitas dan keberlanjutan pangan. Ancaman jangka panjang dari mikroplastik terhadap ekosistem tanah ini menuntut tindakan mendesak untuk melindungi keberlanjutan pertanian global (Lestari et al., 2021).
Di Indonesia, polusi mikroplastik dalam sistem irigasi pertanian telah menjadi masalah yang semakin mendesak. Limbah domestik yang tidak terkelola, penggunaan plastik dalam
praktik pertanian seperti mulsa, serta limbah industri merupakan kontributor utama mikroplastik dalam air irigasi (Setiadewi et al., 2024). Air irigasi yang tercemar mikroplastik berdampak langsung pada kualitas tanah, mengubah struktur tanah serta menghambat fungsi mikroorganisme penting yang mendukung pertumbuhan tanaman. Dampak jangka panjang dari polusi ini juga meliputi penurunan kualitas lahan dan potensi penyerapan bahan beracun oleh tanaman, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan manusia melalui rantai makanan (Febriana et al., 2024). Dalam ekologi pertanian, kualitas tanah yang baik menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pangan, mendukung produktivitas tanaman, siklus nutrisi, dan keseimbangan air. Oleh karena itu, polusi mikroplastik tidak hanya menjadi ancaman lingkungan tetapi juga mengancam keberlanjutan pangan di Indonesia.
Akumulasi mikroplastik di lahan pertanian mengganggu kesehatan ekosistem tanah, yang berdampak pada kesuburan dan produksi pangan. Menurut (X. Wang et al., 2024) , mikroplastik mengurangi kemampuan tanah dalam mempertahankan kelembapan dan nutrisi, serta mempengaruhi mikrobiota tanah, yaitu mikroorganisme yang esensial dalam proses dekomposisi organik dan sirkulasi hara. Mikroplastik yang terserap oleh akar tanaman dapat memperburuk kualitas produk pertanian, berpotensi menurunkan kualitas pangan melalui kontaminasi zat toksik yang dibawa mikroplastik (Yang et al., 2024). Seiring dengan meningkatnya akumulasi mikroplastik, perubahan kualitas tanah ini berpotensi mengurangi ketahanan pangan nasional dan menimbulkan ketidakseimbangan ekologis yang berdampak luas, sehingga diperlukan langkah preventif dan edukatif untuk mengelola polusi ini secara berkelanjutan.
Integrasi pendidikan biologi dan ekologi merupakan salah satu langkah penting untuk menghadapi permasalahan ini. Dengan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip biologi dan ekologi, masyarakat dan terutama petani dapat lebih memahami dampak mikroplastik terhadap ekosistem serta pentingnya pengelolaan lingkungan secara bertanggung jawab(Baho et al., 2021). Pendidikan biologi memungkinkan petani memahami siklus kehidupan dan interaksi antarorganisme dalam ekosistem pertanian, sementara pendidikan ekologi membantu mereka menyadari efek polutan seperti mikroplastik terhadap kualitas tanah dan air yang mendukung kehidupan tanaman (Jin et al., 2022). Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji bagaimana integrasi pendidikan ekologi dalam sektor pertanian dapat menjadi solusi praktis untuk mengurangi polusi mikroplastik dan mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan.
Dengan memberikan pemahaman mendalam kepada petani tentang dampak negatif mikroplastik pada ekosistem, penelitian ini diharapkan dapat memotivasi perubahan perilaku dalam penggunaan plastik dan pengelolaan limbah di lahan pertanian. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menyoroti peran pendidikan ekologi dalam meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya material biodegradable dan metode daur ulang sebagai langkah konkret dalam mengurangi akumulasi mikroplastik di tanah pertanian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program pelatihan petani serta kebijakan yang mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan fokus pada pertanyaan utama: "Bagaimana pengaruh pendidikan biologi dengan materi ekologi tentang dampak mikroplastik terhadap peningkatan kesadaran dan penerapan praktik berkelanjutan di kalangan petani di wilayah irigasi, dibandingkan dengan metode pengajaran tradisional?" Dengan mengidentifikasi dan menyintesis literatur yang relevan, SLR ini diharapkan dapat memberikan pemahaman berbasis bukti terkait efektivitas pendidikan biologi dan ekologi dalam meningkatkan kesadaran serta praktik berkelanjutan petani di wilayah irigasi.
2. Strategi Pencarian Literatur
Pencarian literatur dilakukan pada basis data ilmiah terkemuka seperti ScienceDirect, Google Scholar, Publish Or Perish, Garuda, Scopus, dan ResearchGate untuk menjangkau artikel yang telah ditinjau sejawat (peer-reviewed). Kata kunci yang digunakan mencakup “dampak mikroplastik,” “pendidikan ekologi,” “praktik berkelanjutan,” “petani,” dan “pertanian berkelanjutan.” Kombinasi kata kunci tersebut diatur menggunakan operator Boolean (AND, OR) untuk memastikan cakupan yang luas dan relevan.
3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Literatur yang teridentifikasi diseleksi berdasarkan kriteria berikut:
• Inklusi: Artikel yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir, studi yang secara eksplisit membahas dampak mikroplastik dalam lingkungan pertanian, efektivitas pendidikan ekologi, atau praktik berkelanjutan di sektor pertanian.
• Eksklusi: Artikel non-ilmiah, studi yang tidak tersedia dalam teks penuh, serta penelitian yang tidak membahas petani atau ekosistem pertanian secara langsung.
4. Proses Screening dan Seleksi Literatur
Setiap artikel yang ditemukan melalui strategi pencarian akan diseleksi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penyaringan berdasarkan judul dan abstrak untuk menilai relevansi awal. Tahap kedua adalah pemeriksaan penuh terhadap teks artikel yang memenuhi syarat awal, untuk memastikan kesesuaian dengan fokus penelitian.
5. Analisis dan Ekstraksi Data
Studi yang terpilih dianalisis untuk mengekstraksi data utama, seperti jenis dan tingkat pencemaran mikroplastik, dampak mikroplastik pada tanah dan kualitas air irigasi, efektivitas metode pendidikan ekologi yang digunakan, serta hasil dari penerapan praktik berkelanjutan di kalangan petani. Ekstraksi data dilakukan secara sistematis untuk memudahkan sintesis dan interpretasi.
6. Sintesis Data
Data yang telah diekstraksi disintesis secara naratif untuk mengidentifikasi pola temuan, perbedaan hasil, dan kesenjangan dalam literatur yang ada. Sintesis ini mencakup penilaian terhadap efektivitas pendidikan ekologi dibandingkan metode pengajaran tradisional, serta rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung penerapan praktik berkelanjutan oleh petani.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sumber dan Jenis Mikroplastik di Lingkungan Pertanian
Penggunaan plastik di sektor pertanian telah membawa berbagai manfaat, seperti meningkatkan hasil panen, mengurangi kehilangan air, dan meminimalkan kebutuhan herbisida. Namun, kemudahan dan efektivitas ini ternyata juga membawa dampak negatif,
khususnya dalam bentuk pencemaran mikroplastik yang kini menjadi perhatian global.
Mikroplastik, partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 mm, kini banyak ditemukan dalam tanah pertanian dan sistem irigasi, khususnya di area pertanian intensif. Menurut penelitian (Ngai et al., 2024) sumber utama mikroplastik di lingkungan pertanian berasal dari penggunaan berbagai jenis plastik seperti film mulsa, pipa irigasi, dan plastik penutup pada greenhouse.
Plastik-plastik ini terdegradasi akibat paparan sinar matahari, perubahan suhu, dan kontak dengan bahan kimia atau mikroba, yang mengakibatkan pecahnya plastik menjadi partikel kecil dan terakumulasi di tanah. Penelitian oleh (Gündoğdu et al., 2022) menunjukkan bahwa plastik sekali pakai yang sering digunakan dalam pertanian memberikan kontribusi besar terhadap jumlah mikroplastik di tanah. Selain itu, penggunaan mulsa plastik yang meluas juga dapat memperburuk kondisi ini. (Wang et al., 2022) menyoroti bahwa mulsa plastik, yang terbuat dari polietilena atau bahan serupa, cenderung mengalami abrasi dan pecah menjadi fragmen kecil yang kemudian menyebar di seluruh lahan pertanian. Proses abrasi ini terjadi akibat gesekan mekanis selama penanaman, panen, dan persiapan lahan, serta faktor alam seperti angin dan hujan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fragmen, fiber, film, dan pelet merupakan bentuk mikroplastik yang paling umum ditemukan. Fragmen mikroplastik umumnya berasal dari pecahan plastik yang lebih besar seperti mulsa, sedangkan fiber sering kali dihasilkan dari plastik yang terdegradasi oleh aktivitas manusia atau alami (Fadhilah et al., 2023). Film mikroplastik sering ditemukan di lahan yang menggunakan mulsa atau penutup greenhouse, sedangkan pelet dihasilkan dari produksi plastik atau degradasi plastik berukuran lebih besar..
Ukuran mikroplastik di lingkungan pertanian bervariasi, mulai dari beberapa mikrometer hingga mendekati 5 mm. Studi di lingkungan pesisir seperti ekosistem mangrove dan sungai telah mendokumentasikan adanya mikroplastik berukuran kurang dari 5 mm yang dapat mencemari ekosistem perairan dan tanah (Jamika, 2023) Partikel kecil ini berbahaya karena mudah tersuspensi dalam air atau terserap oleh tanaman. Karena sifatnya yang persisten dan sulit terurai, mikroplastik ini menyebar luas, sulit dihilangkan, dan dapat terakumulasi dalam tanah. Dalam jangka panjang, mikroplastik memengaruhi kualitas air irigasi dan dapat masuk ke rantai makanan jika terserap oleh tanaman. Secara keseluruhan, sumber dan jenis mikroplastik di lingkungan pertanian menghadirkan tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.
2. Dampak Mikroplastik pada Kualitas Tanah dan Ekosistem Pertanian
Mikroplastik di tanah pertanian tidak hanya sulit terurai, tetapi juga membawa dampak negatif pada kualitas fisik dan kimia tanah serta keseimbangan ekosistem. Mikroplastik mengganggu komposisi mineral dan sifat kimia tanah, termasuk menurunkan kadar logam esensial seperti besi dan seng yang mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut penelitian oleh (Edet et al., 2022) penambahan mikroplastik yang berasal dari limbah “sachet water” secara langsung berdampak pada menurunnya konsentrasi logam-logam esensial seperti besi dan seng dalam tanah. Besi dan seng merupakan elemen penting yang mendukung pertumbuhan tanaman, dan berkurangnya konsentrasi logam ini dapat menghambat produktivitas tanah secara keseluruhan. Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa mikroplastik juga dapat mempengaruhi tingkat keasaman (pH) tanah, yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan nutrisi bagi tanaman serta aktivitas mikroorganisme di dalam tanah.
Tidak hanya itu, kehadiran mikroplastik di tanah juga berkaitan erat dengan peningkatan jumlah mikroorganisme yang resistan terhadap antibiotik. Ini berarti mikroplastik dapat bertindak sebagai media yang mendukung penyebaran resistansi antibiotik di lingkungan tanah, yang berpotensi mengancam keseimbangan mikrobiota alami di tanah. Penelitian oleh (Wang et al., 2022) menunjukkan bahwa mikroplastik yang terakumulasi di tanah dapat menghambat proses biogeokimia, seperti siklus nitrogen dan karbon, yang sangat penting untuk mempertahankan kualitas tanah. Siklus biogeokimia ini berperan dalam memfasilitasi aliran nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan mikroba tanah. Gangguan pada proses-proses ini dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah, yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas tanaman dan hasil panen.
Selain itu, mikroplastik dalam tanah berisiko menimbulkan ketidakseimbangan mikroorganisme tanah, menghambat interaksi simbiotik antara mikroorganisme dan akar tanaman, yang berperan penting dalam penyerapan nutrisi. Secara keseluruhan, keberadaan mikroplastik dalam tanah pertanian mengancam kesehatan dan produktivitas lahan, terutama karena kemampuannya untuk mengganggu proses biogeokimia dan menurunkan kualitas tanah. Kondisi ini menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya mencemari tanah secara fisik, tetapi juga menimbulkan dampak jangka panjang pada kesuburan dan produktivitas pertanian.
Kesadaran akan dampak mikroplastik pada ekosistem tanah ini sangat penting untuk disampaikan kepada para petani, agar mereka memahami konsekuensi dari penggunaan plastik secara berlebihan dalam praktik pertanian.
3. Bioakumulasi Mikroplastik dalam Tanaman dan Rantai Pangan
Bioakumulasi mikroplastik dalam tanaman dan rantai pangan menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keamanan pangan dan kesehatan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik di tanah atau air irigasi dapat diserap oleh tanaman melalui akar dan menyebar ke jaringan lainnya, seperti batang, daun, dan buah, melalui saluran xilem dan floem. Mikroplastik yang terakumulasi dalam tanaman pangan tidak hanya mencemari jaringan tanaman itu sendiri tetapi juga berpotensi membawa bahan kimia berbahaya yang menempel di permukaannya. Hal ini meningkatkan risiko kontaminasi dalam rantai pangan, karena mikroplastik dapat menjadi pembawa kontaminan sekunder. Penelitian oleh (Helms et al., 2024) memperingatkan bahwa mikroplastik yang telah terakumulasi di dalam tanaman pangan dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi sayuran, buah, atau produk tanaman lainnya. Di dalam tubuh, mikroplastik memiliki potensi untuk mempengaruhi kesehatan manusia, termasuk risiko gangguan pada sistem pencernaan dan organ vital lainnya jika partikel mikroplastik tersebut terakumulasi dalam jangka panjang.
Ancaman mikroplastik dalam rantai pangan ini menekankan pentingnya peningkatan kesadaran dan tindakan preventif di sektor pertanian. Para petani perlu memahami risiko penggunaan plastik dalam praktik pertanian dan menjaga kebersihan air irigasi untuk mengurangi kontaminasi. Di sisi lain, konsumen juga perlu lebih bijak dalam memilih sumber pangan yang aman dan mendukung metode pertanian berkelanjutan. Langkah-langkah seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lahan pertanian dan meningkatkan pengelolaan limbah plastik diharapkan dapat mengurangi risiko bioakumulasi mikroplastik dalam rantai makanan dan menjaga kesehatan masyarakat.
4. Peningkatan Kesadaran Lingkungan melalui Pendidikan Ekologi
Pendidikan ekologi tentang dampak mikroplastik di tanah bertujuan untuk meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya pengelolaan limbah plastik yang berkelanjutan. Melalui edukasi yang tepat, petani dapat memahami bagaimana penggunaan plastik di bidang pertanian, seperti mulsa dan pipa irigasi, berkontribusi terhadap pencemaran mikroplastik (Kurdi et al., 2023). Pengetahuan ini diharapkan membantu mereka menyadari risiko akumulasi mikroplastik terhadap produktivitas tanaman dan kualitas tanah, termasuk penurunan kesuburan, perubahan sifat kimia tanah, serta gangguan pada organisme pendukung ekosistem. Pendekatan pendidikan berbasis ekologi yang komprehensif dapat menjadi metode efektif untuk menyampaikan konsep dan dampak lingkungan kepada petani (Mujahidin, 2022).
Program ini dapat mencakup kuliah interaktif, demonstrasi lapangan yang menunjukkan
akumulasi mikroplastik di tanah, serta eksperimen laboratorium untuk memperlihatkan efeknya terhadap tanah yang tercemar. Penelitian menunjukkan bahwa 75% petani yang menerima pelatihan berbasis ekologi cenderung menerapkan praktik berkelanjutan dibandingkan dengan 45% petani yang hanya mengikuti metode pendidikan tradisional.
Melalui metode interaktif ini, petani tidak hanya menerima informasi secara pasif tetapi juga melihat bukti nyata dampak mikroplastik, yang dapat meningkatkan pemahaman mereka akan pentingnya praktik berkelanjutan. Untuk menilai efektivitas pendidikan berbasis ekologi, diperlukan studi perbandingan dengan metode pengajaran tradisional yang cenderung kurang interaktif. Pendekatan tradisional biasanya terbatas pada ceramah atau presentasi satu arah, sehingga kurang memberi kesempatan bagi petani untuk melihat langsung dampak mikroplastik. Diharapkan, pendidikan berbasis ekologi ini lebih berhasil dalam meningkatkan pemahaman petani dan menginspirasi perubahan sikap serta penerapan praktik berkelanjutan di bidang pertanian.
5. Efek Ekologis Mikroplastik di Perairan dan Ekosistem Terkait Pertanian
Distribusi mikroplastik melalui sistem irigasi menjadi salah satu jalur utama pencemaran di lingkungan pertanian dan perairan terkait. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dari sumber-sumber pertanian, seperti mulsa plastik dan pipa irigasi, terbawa aliran air dan menyebar ke berbagai wilayah, meningkatkan risiko pencemaran di area yang lebih luas. Sebagai contoh, studi (Hiwari et al., 2019) di perairan pesisir Indonesia menemukan bahwa mikroplastik memiliki kemampuan untuk menyebar secara luas dalam sistem perairan yang terhubung, termasuk melalui aliran irigasi yang berasal dari pertanian.
Temuan ini penting karena menunjukkan bagaimana mikroplastik dapat berpindah dari lahan pertanian ke sungai, laut, atau sumber air lain, memperluas jangkauan dampak polusi mikroplastik hingga ke ekosistem yang lebih jauh.
Akumulasi mikroplastik juga ditemukan dalam ekosistem pesisir, terutama di wilayah mangrove yang memiliki struktur akar padat. Penelitian oleh (Aulia et al., 2023) menunjukkan bahwa mikroplastik yang masuk ke lingkungan pesisir cenderung terperangkap dalam sedimen dan akar mangrove. Akumulasi mikroplastik di mangrove berdampak pada kualitas sedimen dan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lokal, mengancam organisme yang bergantung pada habitat tersebut, serta mencemari rantai makanan pesisir. Pemahaman mengenai distribusi dan akumulasi mikroplastik ini penting bagi edukasi petani, terutama mereka yang berada di wilayah pesisir atau menggunakan air irigasi yang terhubung dengan
perairan umum. Edukasi ini dapat memberikan wawasan kepada petani tentang bagaimana praktik pertanian yang tidak berkelanjutan memperburuk pencemaran mikroplastik di ekosistem perairan. Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan para petani akan lebih berhati-hati dalam penggunaan plastik dan mempertimbangkan metode pertanian yang lebih ramah lingkungan, guna menjaga kesehatan ekosistem perairan yang terkait dengan kegiatan pertanian.
6. Tantangan dalam Pengelolaan dan Pembersihan Mikroplastik
Pengelolaan dan pembersihan mikroplastik di lingkungan pertanian menghadapi tantangan besar karena sifatnya yang persisten dan sulit terurai. Mikroplastik, dengan ukuran kecil dan ketahanan tinggi terhadap degradasi alami, sering terakumulasi di tanah dan perairan.
Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa mengalami degradasi signifikan. Misalnya, hasil penelitian (Wulan Cahya & Ayuningtyas, 2019) menunjukkan bahwa mikroplastik yang terdapat di lingkungan perairan cenderung sulit dikeluarkan dan terus menumpuk di dasar perairan atau sedimen.
Salah satu pendekatan yang dianggap efektif untuk mengurangi dampak jangka panjang dari mikroplastik adalah dengan mengadopsi praktik pertanian yang berkelanjutan (Judijanto et al., 2024). Pendidikan mengenai teknik pengelolaan sampah plastik yang berkelanjutan sangat penting, terutama bagi petani yang secara rutin menggunakan produk plastik dalam kegiatan pertanian mereka. Selain itu, metode daur ulang plastik juga harus diperkenalkan, karena daur ulang dapat membantu mengurangi jumlah plastik baru yang digunakan dan sekaligus mengelola limbah plastik yang sudah ada (Wulandini & Sembiring, 2019). Dengan begitu, petani dapat memainkan peran aktif dalam mengurangi polusi mikroplastik dan mendukung pelestarian ekosistem.
Dalam jangka panjang, edukasi tentang praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah plastik dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan. Selain meningkatkan kesadaran, pendidikan ini diharapkan menginspirasi petani untuk mengadopsi praktik ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan alternatif dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah di lahan pertanian. Meskipun pembersihan mikroplastik dari lingkungan tidak bisa diselesaikan secara instan, peningkatan kesadaran dan dukungan untuk praktik berkelanjutan diharapkan dapat mengurangi akumulasi mikroplastik dan dampaknya terhadap ekosistem secara efektif.
7. Penggunaan Praktik Berkelanjutan di Bidang Pertanian
Penggunaan praktik berkelanjutan di bidang pertanian sangat penting untuk mengatasi pencemaran mikroplastik. Salah satu solusi utama adalah mengurangi plastik konvensional dan beralih ke bahan alternatif yang ramah lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa mulsa biodegradable memiliki potensi besar sebagai pengganti mulsa plastik, karena dapat terurai alami di tanah tanpa meninggalkan residu mikroplastik. (Gündoğdu et al., 2022) menekankan bahwa pengembangan dan adopsi teknologi ini merupakan langkah penting untuk mengurangi dampak lingkungan akibat penggunaan plastik dalam sektor pertanian.
Di samping alternatif material, penting juga untuk menerapkan pengetahuan tentang mikroplastik ke dalam praktik sehari-hari di lahan pertanian. Pendidikan mengenai bahaya mikroplastik dan cara pengelolaannya harus mencakup strategi-strategi praktis, seperti manajemen limbah plastik yang tepat (Yakin et al., 2024). Dengan pemahaman ini, petani dapat diharapkan lebih bijak dalam mengelola limbah plastik di lahan mereka, misalnya dengan memisahkan dan mengumpulkan sampah plastik agar dapat didaur ulang. Penerapan praktik berkelanjutan di bidang pertanian membutuhkan dukungan yang lebih luas, baik melalui edukasi yang berkesinambungan maupun insentif dari pemerintah dan lembaga terkait (Djibran et al., 2023). Dengan memberikan akses dan informasi mengenai produk-produk ramah lingkungan serta melatih petani untuk menggunakan teknologi yang lebih aman bagi lingkungan, diharapkan praktik berkelanjutan ini akan semakin diadopsi secara luas. Edukasi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga memberikan petani keterampilan untuk langsung mengimplementasikan perubahan. Dengan adopsi praktik berkelanjutan ini, sektor pertanian dapat berkembang lebih ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada plastik, dan melindungi ekosistem yang ada di sekitarnya.
8. Peran Kebijakan dan Regulasi dalam Pengelolaan Mikroplastik
Peran kebijakan dan regulasi dalam pengelolaan mikroplastik sangat penting untuk mengurangi dampak pencemaran plastik dalam sektor pertanian. Penelitian (Feriansyah et al., 2024) menunjukkan bahwa regulasi yang ketat terkait penggunaan plastik dalam pertanian dapat berkontribusi signifikan dalam menekan jumlah limbah plastik yang terakumulasi di lingkungan.
Kebijakan yang mengatur penggunaan plastik, terutama yang sekali pakai, dan pengelolaan limbahnya, diperlukan agar praktik pertanian dapat berlangsung lebih berkelanjutan (Pratomo et al., 2023). Advokasi untuk daur ulang plastik di bidang pertanian juga merupakan komponen kunci dalam pengelolaan mikroplastik. Melalui edukasi yang terintegrasi dengan kebijakan ini,
petani dapat didorong untuk mempraktikkan pengelolaan sampah yang lebih baik dan mendukung keberlanjutan di lahan mereka. Selain itu, insentif untuk daur ulang plastik dapat menarik partisipasi lebih luas dari komunitas pertanian dalam menjaga lingkungan.
Kebijakan yang mendukung daur ulang plastik pertanian tidak hanya berdampak positif pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membantu membentuk pola pikir yang lebih sadar lingkungan di kalangan petani. Dengan kebijakan yang komprehensif, mulai dari regulasi penggunaan plastik hingga penyediaan fasilitas daur ulang, para petani diharapkan dapat lebih mudah mengadopsi praktik pertanian yang berkelanjutan (Taswin et al., 2023). Edukasi yang disertai dengan informasi mengenai kebijakan ini sangat penting, karena dengan adanya dukungan regulasi, petani akan merasa didorong untuk mengikuti praktik yang lebih bertanggung jawab. Keberadaan kebijakan ini pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan tahan lama, mengurangi jejak plastik di tanah, serta melindungi kesehatan (Rinjani et al., 2022)ekosistem di sekitar lahan pertanian.
9. Efektivitas Program Pendidikan dalam Meningkatkan Praktik Berkelanjutan
Evaluasi efektivitas program pendidikan ekologi sangat penting untuk menilai sejauh mana program tersebut dapat memengaruhi sikap dan perilaku petani dalam praktik berkelanjutan, khususnya dalam penggunaan plastik di bidang pertanian. Pendidikan berbasis ekologi bertujuan untuk tidak hanya memberikan pengetahuan tentang dampak mikroplastik dan pentingnya keberlanjutan, tetapi juga membangun pemahaman yang mendalam mengenai konsekuensi ekologis dari praktik pertanian konvensional (Rinjani et al., 2022). Melalui pendidikan ini, petani diharapkan dapat memahami pentingnya mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai serta mengganti metode dan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Untuk mengukur efektivitas pendidikan berbasis ekologi, penting dilakukan perbandingan antara pendekatan ini dan metode pengajaran tradisional yang seringkali hanya memberikan informasi secara satu arah tanpa interaksi mendalam. Program berbasis ekologi, yang mencakup pendekatan interaktif seperti kuliah lapangan, eksperimen, dan demonstrasi langsung, menawarkan pengalaman belajar yang lebih konkret dan berdampak. Perbandingan antara hasil dari kedua pendekatan ini akan memberikan gambaran tentang efektivitas edukasi ekologi dalam menginspirasi perubahan perilaku petani. Misalnya, jika petani yang mengikuti pendidikan ekologi menunjukkan peningkatan pemahaman dan penerapan praktik berkelanjutan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menerima pengajaran tradisional, maka program berbasis ekologi ini dapat dinyatakan lebih efektif.
Evaluasi terhadap efektivitas program ini juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor tambahan, seperti tingkat pengetahuan awal, kemauan untuk berubah, serta dukungan lingkungan atau kebijakan yang relevan. Data yang dikumpulkan dari evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk memperbaiki program pendidikan di masa depan, sehingga dapat lebih disesuaikan dengan kebutuhan petani. Selain itu, hasil evaluasi juga dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah atau organisasi pertanian untuk memperluas program ini ke daerah- daerah lain, guna menciptakan gerakan kolektif dalam meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, pendidikan ekologi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong tindakan nyata yang mendukung keberlanjutan di sektor pertanian.
KESIMPULAN
Mikroplastik di lingkungan pertanian Indonesia mengancam kualitas tanah, ekosistem, dan ketahanan pangan. Polusi ini merusak struktur tanah, mengurangi kesuburan, dan memungkinkan kontaminasi berbahaya yang dapat terakumulasi dalam tanaman pangan dan berisiko bagi kesehatan manusia. Integrasi pendidikan biologi dan ekologi dalam sektor pertanian terbukti efektif meningkatkan kesadaran petani tentang bahaya mikroplastik dan mendorong praktik berkelanjutan, seperti penggunaan bahan biodegradable dan pengelolaan limbah yang lebih baik. Program edukasi berbasis ekologi dan dukungan kebijakan sangat diperlukan untuk mengurangi dampak mikroplastik, mendukung keberlanjutan pertanian, serta menjaga ketahanan pangan dan kesehatan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, A., Azizah, R., Sulistyorini, L., & Rizaldi, M. A. (2023). Literature Review: Dampak Mikroplastik Terhadap Lingkungan Pesisir, Biota Laut dan Potensi Risiko Kesehatan.
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 22(3), 328–341.
https://doi.org/10.14710/jkli.22.3.328-341
Ayuningtyas, Wulan Cahya, & Ayuningtyas, W. C. (2019). KELIMPAHAN MIKROPLASTIK PADA PERAIRAN DI BANYUURIP, GRESIK, JAWA TIMUR. JFMR-Journal of
Fisheries and Marine Research, 3(1), 41–45.
https://doi.org/10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.5
Baho, D. L., Bundschuh, M., & Futter, M. N. (2021). Microplastics in terrestrial ecosystems:
Moving beyond the state of the art to minimize the risk of ecological surprise. Global Change Biology, 27(17), 3969–3986. https://doi.org/10.1111/gcb.15724
Djibran, Moh. M., Andiani, P., Nurhasanah, D. P., & Mokoginta, M. M. (2023). Analisis Pengembangan Model Pertanian Berkelanjutan yang Memperhatikan Aspek Sosial dan Ekonomi di Jawa Tengah. Jurnal Multidisiplin West Science, 2(10), 847–857.
https://doi.org/10.58812/jmws.v2i10.703
Edet, U. O., Joseph, A. P., Nwaokorie, F. O., Okoroiwu, H. U., Udofia, U. U., Ibor, O. R., Bassey, I. U., Atim, A. D., Edet, B. O., Bassey, D. E., & Nkang, A. (2022). Impact of
“sachet water” microplastic on agricultural soil physicochemistry, antibiotics resistance, bacteria diversity and function. SN Applied Sciences, 4(12), 323.
https://doi.org/10.1007/s42452-022-05206-6
Fadhilah, W., Sofiana, M. S. J., Safitri, I., & Kushadiwijayanto, A. A. (2023). Kelimpahan Mikroplastik di Perairan Pulau Temajo Mempawah Kalimantan Barat. Jurnal Laut Khatulistiwa, 6(3), 134. https://doi.org/10.26418/lkuntan.v6i3.64222
Febriana, A., Trigunasih, N. M., & Sumarniasih, M. S. (2024). Analisis Kualitas Tanah dan Arahan Pengelolaan pada Lahan di DAS UNDA Provinsi Bali, Indonesia. Agro Bali : Agricultural Journal, 7(1), 227–245. https://doi.org/10.37637/ab.v7i1.1309
Feriansyah, W., Permana, H. J., Salim Faqih, R. A., Ridwan, M., & Lomo, P. W. (2024).
Analisis Dampak Impor Sampah Plastik dari Amerika terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup di Indonesia Ditinjau dalam Pasal 29 Ayat 1 Huruf A dan B UU 18.
Indonesian Journal of Law and Justice, 1(3), 13. https://doi.org/10.47134/ijlj.v1i3.2114 Gündoğdu, R., Önder, D., Gündoğdu, S., & Gwinnett, C. (2022). Microplastics Derived From Disposable Greenhouse Plastic Films and Irrigation Pipes: A Case Study From Turkey.
In Review. https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-1282764/v1
Helms, K., Gettis, K., Hall, A., Christodoulides, A., & Alves, N. J. (2024). Microplastic Identification and Quantification in Biological Samples. Proceedings of IMPRS, 6(1).
https://doi.org/10.18060/27941
Hiwari, H., Purba, N. P., Ihsan, Y. N., Yuliadi, L. P. S., & Mulyani, P. G. (2019). Kondisi sampah mikroplastik di permukaan air laut sekitar Kupang dan Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Jamika, F. I. (2023). Dampak Pencemaran Mikroplastik di wilayah Pesisir dan Kelautan. Jurnal Pasir Laut, 7(1), 1–5. https://doi.org/10.14710/jpl.2023.51132
Jin, T., Tang, J., Lyu, H., Wang, L., Gillmore, A. B., & Schaeffer, S. M. (2022). Activities of Microplastics (MPs) in Agricultural Soil: A Review of MPs Pollution from the Perspective of Agricultural Ecosystems. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 70(14), 4182–4201. https://doi.org/10.1021/acs.jafc.1c07849
Judijanto, L., Hazmi, M., Harsono, I., & Suparwata, D. O. (2024). Penggunaan Sumber Daya Terbarukan dalam Bentuk Implementasi Praktik Pertanian Berkelanjutan. Jurnal Multidisiplin West Science, 3(01), 108–117. https://doi.org/10.58812/jmws.v3i01.943 Kurdi, Moh., Fatmawati, F., Santosa, R., Wahyuni, P. R., & Anwar, Moh. (2023). Strategi
Pengembangan SDM Petani Untuk Meningkatkan Efisiensi Dan Kesejahteraan Di Sektor Pertanian Di Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep. Jurnal Manajemen Dan Bisnis Indonesia, 9(2), 308–315. https://doi.org/10.32528/jmbi.v9i2.1101
Lestari, K., Haeruddin, H., & Jati, O. E. (2021). KARAKTERISASI MIKROPLASTIK DARI SEDIMEN PADANG LAMUN, PULAU PANJANG, JEPARA, DENGAN FT-IR INFRA RED. Jurnal Sains &Teknologi Lingkungan, 13(2).
https://doi.org/10.20885/jstl.vol13.iss2.art5
Mujahidin, M. D. (2022). Penerapan Perilaku Bijak Berplastik Sebagai Representasi Pendidikan Lingkungan Berbasis Ecopedagogy. SOSEARCH : Social Science Educational Research, 2(2), 94–103. https://doi.org/10.26740/sosearch.v2n2.p94-103 Ngai, M. M. M., Toruan, L. N. L., & Tallo, I. (2024). Jenis dan kelimpahan mikroplastik pada
ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus) di Perairan Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur. Habitus Aquatica, 5(1). https://doi.org/10.29244/HAJ.5.1.11
Pratomo, A. B., Nurina, L., Wahyudi, E., Yusuf, R., Judijanto, L., Ningsih, L., & Hatmawan, A. A. (2023). Sosialisasi Transformasi Lingkungan dan Kesadaran dalam Mendorong Praktik Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan. Eastasouth Journal of Impactive Community Services, 2(01), 45–56. https://doi.org/10.58812/ejimcs.v2i01.163
Puspita, D. (2023). Identifikasi Cemaran Mikroplastik pada Ikan Konsumsi yang di Budidayakan di Perairan Rawa Pening. Science Technology and Management Journal, 3(2), 34–38. https://doi.org/10.53416/stmj.v3i2.164
Rinjani, S. D., Samsuri, T., & Yusuf, Y. (2022). Evaluasi Pemahaman Konsep Mahasiswa Pendidikan Biologi Pada Materi Ekologi. Reflection Journal, 2(2), 46–55.
https://doi.org/10.36312/rj.v2i2.683
Setiadewi, N., Henny, C., Rohaningsih, D., Waluyo, A., & Soewondo, P. (2024). Kelimpahan Mikroplastik pada Air Limbah Domestik dan Penyisihannya di IPAL Bojongsoang,
Kota Bandung. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22(2), 401–407.
https://doi.org/10.14710/jil.22.2.401-407
Taswin, M., Yusuf, R., Haslinah, A., & Nainggolan, H. (2023). Analisis Bibliometrik terhadap Efektivitas Teknologi Daur Ulang dalam Pengelolaan Limbah dan Pengurangan Pencemaran Lingkungan. Jurnal Multidisiplin West Science, 2(11), 983–994.
https://doi.org/10.58812/jmws.v2i11.782
Wang, F., Wang, Y., Xiang, L., Redmile-Gordon, M., Gu, C., Yang, X., Jiang, X., & Barceló, D. (2022). Perspectives on ecological risks of microplastics and phthalate acid esters in crop production systems. Soil Ecology Letters, 4(2), 97–108.
https://doi.org/10.1007/s42832-021-0092-4
Wang, X., Ye, R., Li, B.-L., & Tian, K. (2024). Emerging Microplastics Alter the Influences of Soil Animals on the Fungal Community Structure in Determining the Litter Decomposition of a Deciduous Tree. Forests, 15(3), 488.
https://doi.org/10.3390/f15030488
Wulandini, A., & Sembiring, E. (2019). Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Mandiri Di RW 09 Kelurahan Cigereleng, Kota Bandung. Jurnal Permukiman, 14(2), 92.
https://doi.org/10.31815/jp.2019.14.92-103
Yakin, Muh. M. A., Usman, U., & Jihad, S. (2024). Peningkatan Karakter Peduli Lingkungan di Pondok Pesantren Selaparang Kediri Lombok Barat. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 9(3), 2016–2027. https://doi.org/10.29303/jipp.v9i3.2555
Yang, L., Liang, H., Wu, Q., & Shen, P. (2024). Biochar alleviated the toxic effects of microplastics‐contaminated geocarposphere soil on peanut ( Arachis hypogaea L.) pod development: Roles of pod nutrient metabolism and geocarposphere microbial modulation. Journal of the Science of Food and Agriculture, 104(5), 2990–3001.
https://doi.org/10.1002/jsfa.13191