Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak berikut yang telah turut serta membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Kepada pihak-pihak kekuasaan daerah yang telah memberikan izin penelitian untuk memudahkan penelitian penulis, untuk itu.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Namun setelah menemui kendala dalam berkomunikasi, kami menyadari bahwa komunikasi antar budaya yang berbeda tidaklah mudah. Oleh karena itu, komunikasi antaretnis juga merupakan bagian dari komunikasi antarbudaya, seperti komunikasi antar ras, komunikasi antaragama, dan komunikasi antargender.
Rumusan Masalah
Penduduknya berbaur satu sama lain, bahkan bisa berbicara empat bahasa sekaligus: Bugis, Wtu, dan Toraja. Orang Gugis dan Toraja biasanya diangkat untuk menduduki jabatan tertentu seperti kepala desa atau pendeta dan pendeta di gereja-gereja di Wotu.
Manfaat Penelitian
Konsep Integrasi Sosial
- Integrasi Soaial
- Proses Integrasi
- Bentuk-bentuk integrasi sosial
- Faktor Integrasi
- Syarat Berhasilnya Integrasi Sosial
- Karakteristik Sosial Budaya Etnis Bugis dan Toraja
- Karakteristik Etnis Bugis
- Unsur Kebudayaan Etnis Bugis
- Karakteristik Etnis Toraja
- Unsur-unsur kebudayaan suku Toraja 1. Bahasa
Selain itu, orang Bugis juga terdapat di Malaysia dan Singapura yang berkembang biak dan keturunannya menjadi bagian dari negara tersebut. Karena semangat nomaden masyarakat Bugis, banyak orang Bugis yang merantau ke luar negeri. Maka tak heran jika ada masyarakat Bugis yang memperlihatkan KTP-nya yang bertuliskan Budha atau Hindu.
Sedangkan sistem kekerabatan Bugis disebut assiajingeng, yaitu menganut sistem bilateral atau sistem yang mengikuti kehidupan sosial ayah dan ibu. Tari Padduppa bosara: tarian yang menggambarkan ketika ada tamu yang datang, masyarakat Bugis selalu menghidangkan bosara, sebagai tanda syukur dan hormat. Penyebab terjadinya perpindahan penduduk Bugis ini karena adanya konflik antara Kerajaan Bugis dengan Makassar, serta konflik antar kerajaan Bugis pada abad ke-19.
Masyarakat Toraja percaya bahwa ritual kematian akan memusnahkan jenazah jika pelaksanaannya dipadukan dengan ritual kehidupan. Untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau "tulisan").
Kerangka Pikir
Proses integrasi sosial dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik apabila masyarakat benar-benar menyadari faktor-faktor sosial yang menyatukan kehidupan sosialnya dan menentukan arah kehidupan sosial menuju integrasi sosial. Faktor sosial tersebut meliputi tujuan yang ingin mereka capai bersama, sistem sosial yang mengatur tindakan mereka, dan sistem sanksi sebagai pengawas atas tindakan mereka. Proses integrasi sosial akan berjalan dengan baik apabila anggota masyarakat merasa telah berhasil memenuhi kebutuhan satu sama lain dan mencapai konsensus mengenai norma dan standar.
Integrasi sosial dapat terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi, baik internal maupun eksternal. Dalam hal ini norma merupakan hal-hal yang dianggap mempersatukan, keterpaduan fungsional terbentuk karena adanya fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat. Integrasi dapat terbentuk dengan mengedepankan fungsi masing-masing pihak dalam masyarakat, sedangkan integrasi paksa terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa.
Kecamatan Wotu Bugis Toraja
Masyarakat Wotu Karakteristik Sosial
Budaya
Bentuk Integrasi Sosial
Dampak Integrasi SosialIntegrasi Sosial
Jenis Penelitian
Dalam penelitian berjudul Integrasi Sosial Etnis Bugis dan Toraja Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Tumur. Studi kasus adalah penelitian yang bertujuan mengumpulkan data, mengekstraksi makna, memperoleh pemahaman dari kasus tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian sosial budaya dengan metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu jenis penelitian yang menggambarkan objek yang dibicarakan sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat khususnya pada masyarakat Desa Bawalipu Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur.
Metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis dan tepat fakta dan karakteristik penduduk di suatu daerah tertentu.
Lokus Penelitian
Informan Penelitian
Fokus Penelitian
Instrumen Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
- Observasi (pengamatan)
- Wawancara
- Dokumentasi
Data primer merupakan data yang diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara terhadap subjek dan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Data sekunder adalah data berupa dokumen atau arsip penting yang diperoleh melalui jasa tertentu seperti buku, majalah, surat kabar dan dokumen lain yang relevan dengan penelitian. Dalam kegiatan penelitian tentunya diperlukan suatu metode yang dapat digunakan untuk pengumpulan data yang biasa disebut dengan “Metode Pengumpulan Data”, yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh dan mengumpulkan sejumlah data yang diperlukan dalam kegiatan penelitian.
Observasi atau observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan terhadap situasi aktual yang wajar tanpa adanya persiapan, modifikasi atau bahkan diadakan. Wawancara merupakan suatu cara memperoleh data informasi dengan sistem yang meminta secara langsung kepada yang bersangkutan untuk menutupi data yang sebenarnya dan dapat diwawancarai dengan menggunakan pedoman wawancara. Wawancara Ali merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data.
Teknik Analisis Data
Keabsahan Data
- Triangulasi sumber
- Triangulasi teknik
- Triangulasi waktu
Teknik triangulasi untuk menguji kredibilitas dilakukan dengan cara mengecek data terhadap sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara pada pagi hari ketika sumbernya masih segar dan tidak banyak permasalahan akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel.
Deskripsi Umum Kabupaten Luwu Timur Sebagai daerah Penelitian
Gubernur Sulawesi Selatan menindaklanjuti usulan pembentukan Kabupaten Luwu Timur dan Mamuju Utara kepada Menteri Dalam Negeri melalui surat nomor 130/2172/Otoda tanggal 30 Mei 2002. Pada hari yang sama, dilakukan prosesi serah terima operasional pemerintahan dari Sulawesi Utara. Pemerintahan Kabupaten Luwu ke Pemerintahan Kabupaten Luwu Timur berlangsung pada pukul Hasil analisis lereng dan analisis peta topografi menunjukkan Kabupaten Luwu Timur terbagi menjadi 4 wilayah lereng dan sebuah danau.
Kabupaten Luwu Timur merupakan salah satu kabupaten dengan kawasan hutan terluas di Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah Kabupaten Luwu Timur adalah 6.944,88 km2 atau sekitar 10,82% luas Provinsi Sulawesi Selatan dan berada pada ketinggian 0-1.230 m di atas permukaan laut (dpl). Oleh karena itu, dari segi agroklimatologi, Kabupaten Luwu Timur mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan berbagai jenis komoditas pertanian.
Deskripsi Khusus Kecamatan Wotu Sebagai latar Penelitian 1. Kondisi Geografis
Kepadatan penduduk di Kecamatan Wotu tergolong tinggi yaitu sekitar 229 jiwa per kilometer persegi, jauh di atas rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Luwu Timur yang sebesar 39 jiwa per kilometer persegi. Pada tahun 2012, Distrik Wotu berpenduduk 29.952 jiwa yang tersebar di 6.811 KK, dengan rata-rata jumlah penduduk dalam satu KK adalah 4 jiwa. Masyarakat Wotu sebagian besar menggantungkan penghidupannya pada dua sektor, yakni pertanian dan perikanan. Sebagian penduduk Wotu terdiri dari petani. Wotu terkenal dengan perkebunan dan persawahannya karena penghasil kelapa sawit terbesar di Luwu Timur berada di Kecamatan Wotu dan Burau, lokasi pelabuhan Wotu Luwu Timur yang berada di pinggir pantai memang layak dijadikan santapan bagi sebagian besar penduduk Wotu. nelayan dan meski sebagian warga sudah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Nilai produksi tanaman palawija tertinggi di Kecamatan Wotu adalah jagung dengan total produksi 2.810,89 ton dari luas tanaman 645 hektar, disusul kedelai dengan produksi 227,85 ton dari luas tanaman 126 hektar. Sedangkan hewan ternak kecil yang paling banyak adalah babi yaitu sebanyak 2.043 ekor, kemudian kambing sebanyak 1.251 ekor.Kecamatan Wotu merupakan salah satu kecamatan yang berada di pesisir Teluk Been sehingga wilayah ini mempunyai potensi perikanan laut dan budidaya.
Integrasi sosial etnis Bugis dan Toraja di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur
Suku Bugis dan Toraja di Kecamatan Wotu merupakan suku mayoritas, mereka bergerak hampir di segala bidang dan menguasai sebagian besar sumber daya alam di Kecamatan Wotu. Ketika peneliti ditanya tentang integrasi identitas sosial mereka, jawaban mereka bulat yaitu diterima dengan baik di masyarakat, ternyata sikap baik masyarakat Bugis dan Toraja juga berdampak baik bagi mereka. Pernyataan diatas membuktikan bahwa Enis Bugis dan Toraja memang benar-benar diterima di masyarakat, perbedaan yang terjadi bukanlah suatu hal yang berlebihan.
Informan di atas bukan berasal dari suku Bugis dan Toraja, namun mereka mengenal baik masyarakat Bugis dan Toraja. Pertama, secara umum hubungan sosial (integrasi) antar komunitas lintas etnis di distrik Wotu berjalan dengan baik. Banyak hal yang terjadi, seperti di desa tetangga yang mayoritas suku Bugis dan Toraja.
Faktor yang Mempengaruhi Integrasi Sosial
Modal budaya ini sudah tumbuh di masyarakat sejak awal, namun terjadi secara sporadis sebagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.Ketika konflik sosial muncul, dilakukan upaya untuk memperkuat atau merevitalisasi modal budaya ini menjadi modal sosial untuk integrasi sosial ke dalam masyarakat. Mendefinisikan integrasi sosial sebagai pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, namun tidak mementingkan perubahan ras. Di sisi lain, integrasi sosial akan lebih sulit dicapai dalam kelompok besar yang keberagamannya relatif tinggi.
Namun semakin sering anggota masyarakat datang dan pergi, maka proses integrasi sosial akan semakin sulit. Sedangkan integrasi sosial dapat terjadi dengan cepat pada masyarakat dengan mobilitas rendah, seperti daerah atau suku yang terisolasi. Sebaliknya, semakin kurang efektifnya komunikasi antar anggota masyarakat, maka integrasi sosial akan semakin lambat dan sulit tercapai.
Penerimaan masyarakat wotu terhadap Etnis Bugis dan Toraja
Solihin (50) mengatakan: “Inilah yang unik di daerah kami, suku-suku yang berbeda yang menghuninya seolah-olah berasal dari suku yang sama. Dari pengamatan peneliti dapat disimpulkan bahwa pola hubungan yang muncul, simetris atau seimbang, tidak ada yang tersubordinasi, semua bebas berkembang, tidak ada suku yang mendominasi, padahal jumlahnya mungkin hanya mayoritas. Dalam pembahasan kali ini, peneliti mencoba menjelaskan kutipan informan yang mencakup berbagai suku.
Senada dengan pernyataan di atas, Elizabeth (46), berasal dari Toraja dan berprofesi saat ini adalah seorang pendeta, menurutnya hubungan antar masyarakat baik, meskipun termasuk kelompok minoritas, tidak ada rasa peduli untuk berinteraksi. dengan komunitas lain. “Kita tahu banyak suku yang masuk ke Wono, tapi itu bukan halangan untuk terus hidup bersama, latar belakang tidak menjadi masalah, asal baik masyarakat pasti akan diperlakukan sama.” Pola hubungan yang muncul antara etnis Bugis dan Toraja dengan etnis lain di Kecamatan Wotu. Lainnya di Distrik Wotu.
Pola Hubungan yang Terjadi Antara Etnis Bugis dan Toraja dengan Suku Lainnya di Kecamatan WotuLainnya di Kecamatan Wotu
Sama seperti di Kecamatan Wotu, yang terjadi di Bandung juga sama di kawasan Wotu. Karena manusia memang merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya, dan dalam hal ini tanpa disadari mereka telah menerapkan prinsip kerjasama dalam lingkungannya. Apabila menjalin kerja sama dengan negara lain, hal ini diatur dalam skala yang lebih besar, tentunya dengan tujuan yang berbeda-beda, misalnya pertukaran pendidikan, kerja sama dunia perdagangan, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini tentunya harus ada batasan-batasan yang jelas ketika suatu kerjasama dijalin, sehingga nantinya tidak ada kejelasan apa tujuan dan manfaat dari kerjasama tersebut. Terkait hubungan kerjasama, berikut pernyataan Arin (23) yang menjelaskan hubungan kerjasama yang terjadi di desanya yaitu desa Tarengge. Menurutnya, warga di sana seperti bagian dari komunitas satu suku. Faktor-faktor yang mempengaruhi jati diri masyarakat Jawa sangat terlihat dari kerjasama yang mereka lakukan, saling membaur dan menjadi alasan yang kuat bagi mereka untuk terus berintegrasi.