https://jurnal.kpk.go.id/index.php/integritas
©Komisi Pemberantasan Korupsi
Integrasi psikoedukasi pendidikan anti-korupsi dan
pendidikan keluarga Kristen pada kaum bapak GMIT Laharoi
Friandry Windisany Thoomaszen a *, Sance Mariana Tameon b
Institut Agama Kristen Negeri Kupang. Jl. Tajoin Tuan, Naimata, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
a [email protected]; b [email protected]
* Corresponding Author
Abstrak: Kasus korupsi tidak pandang jenis kelamin, agama, dan suku. Berbagai usaha penanganan perlu dipikirkan, terlebih cara pencegahan yang dimulai dari keluarga sebagai fondasi pendidikan nilai religious, moral, dan nilai antikorupsi. Tulisan ini mengangkat topik pendidikan antikorupsi diterapkan dalam konteks agama, keluarga Kristen, dan lingkungan gereja di GMIT (Gereja Injili Masehi di Timor). Fokus penelitian untuk integrasi pendidikan anti-korupsi dan pendidikan keluarga Kristen dengan melibatkan peran para ayah dalam mengajarkan pendidikan antikorupsi pada anaknya. Tujuan penelitian yaitu menerapkan integrasi program psikoedukasi pendidikan keluarga Kristen sebagai upaya preventif kasus korupsi yang akan ditujukan pada Kaum Bapak GMIT Laharoi Kupang. Pendekatan utama dalam penelitian ini yaitu kuasi eksperimen dengan desain The Posttest Only Design with Nonequivalent Groups, dan sebagai pelengkap yaitu pendekatan kualitatif berupa deskriptif naratif. Analisis kuantitatif yang digunakan yaitu uji non-parametrik Mann-Whitney. Jumlah subjek penelitian dengan kuasi eksperimen yaitu 16 orang peserta yang terdiri atas 8 subjek kelompok eksperimen dan 8 subjek kelompok kontrol. Hasil uji Mann- Whitney diketahui bahwa nilai Asymp Sig. (2-tailed) sebesar 0.005 < 0.05, dengan arti ada perbedaan hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol. Jadi, integrasi program psikoedukasi pendidikan anti-korupsi dan pendidikan keluarga kristen dapat mempengaruhi pemahaman dan keterlibatan kaum bapak GMIT Lahairoi dalam mendidik anaknya.
Kata Kunci: Anti-korupsi; Kristen; Bapak; Keluarga, GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor)
How to Cite: Thoomaszen, F. W., & Tameon, S. M. . (2022). The integration of psychoeducation, anti-corruption education and christian family education for the fathers of GMIT Laharoi. Integritas : Jurnal Antikorupsi, 8(2), 237-246.
https://doi.org/10.32697/integritas.v8i2.913
Pendahuluan
Kasus korupsi terjadi pada setiap provinsi kota di seluruh Indonesia, tidak pandang profesi, gender, agama, dan suku. Data korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari tahun 2004 hingga tahun 2016 kasus penyuapan menempati urutan nomor 1 dengan presentase 52%
dari keseluruhan kasus yang ada. Pelaku kasus penyuapan berasal dari berbagai berbagai jabatan, dimana 22% pejabat eselon, 25%, pengusaha swasta, 20% anggota DPR/DPRD, gubenur, bupati, walikota dan komisioner dan pejabat lainnya (Prabowo & Suhernita, 2018). Data kasus korupsi dari KPK hingga Mei 2020 terdata 417 kasus yakni 274 orang dari kalangan DPR/DPRD, 21 Orang Gubernur, dan 122 orang Bupati, Walikota dan juga wakil bupati/walikota (Suyatmiko, 2021). Ini berarti, kasus korupsi terutama penyuapan dan gratifikasi, melibatkan para pemangku jabatan yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan serta pelaku bisnis yang memotong birokrasi dengan cara tidak legal (Mapuasari & Mahmudah, 2018).
Sebagai tambahan, di Indonesia pada tahun 2016, data menunjukkan bahwa pelaku fraud (termasuk koruptor) adalah laki-laki yakni sebanyak 97%. Sedangkan data Mahkamah Agama menyatakan 721 pelaku korupsi atau 92% adalah laki-laki, dan sisanya adalah perempuan sebe- sar 8% atau 150 orang. Dari data kerugian negara akibat fraud berdasarkan jenis kelamin mem- perlihatkan bahwa jumah terbesar dilakukan oleh pelaku fraud laki-laki dengan kerugian dari rentang Rp 100 juta sampai dengan < Rp 500 juta. Sedangkan pelaku fraud perempuan memberi- kan sumbangan angka kerugian yang lebih sedikit (ACFE Indonesia Chapter, 2017). Data dari Pusat kajian politik FISIP Universitas Indonesia (2014), ditemukan bahwa tren jumlah politisi
perempuan yang terlibat dalam kasus korupsi lebih rendah dari jumlah politisi laki-laki. Karena porsi politisi berjenis kelamin laki-laki lebih besar dari politisi perempuan.
Tahun 2015, Indonesia Corruption Watch (ICW) mempublikasikan hasil penelitian bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) selama semester pertama 2015 menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus tindak pidana korupsi terbesar di Indonesia (Aini, 2015). Pada tahun 2017, ICW mengeluarkan tren kasus korupsi dan Provinsi NTT berhasil keluar dari 9 peringkat teratas Provinsi yang paling banyak melakukan korupsi (Indonesia Corruption Watch, 2017). Namun pada tahun 2021 semester I, hasil laporan Indonesia Corruption Watch (2021) menunjukan Provinsi NTT mengalami kenaikan kasus korupsi yang tertangkap sebanyak 17 kasus hingga tergolong 2 besar provinsi dengan kasus korupsi tertinggi, dengan angka kerugian Rp. 1.361.000 triliun. Lebih lanjut dalam laporan Indonesia Corruption Watch (2021) ditemukan bahwa sektor dana desa paling rawan dikorupsi, sementara sektor pertanahan paling besar nilai kerugiannya pada negara. Kegiatan atau proyek fiktif merupakan modus yang paling dominan digunakan oleh pelaku kasus korupsi. Berdasarkan data dari ICW bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kupang didapati data bahwa pada 2018 tercatat 11 kasus korupsi, termasuk 24 tersangka yang mengakibatkan negara rugi sebesar Rp. 7.250.288.518. Sedangkan tahun 2019, ada delapan kasus dengan 21 tersangka dan kerugian negara sebesar Rp.12.118.091.388. Sementara tahun 2020 tercatat 18 kasus korupsi dengan 55 tersangka yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp1.378.575.559.054 (Petrus, 2021).
Salah satu urgensi dari penelitian ini karena mengamati dampak dari korupsi yang memberikan bermacam dampak destruksi yang besar (an enermous destruction effects) terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dan negara. Imbas dari korupsi terhadap tujuh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara (Kurniadi, 2011), yaitu dampak ekonomi; politik dan demokrasi, sosial dan kemiskinan masyarakat; runtuhnya otoritas pemerintah; penegakan hukum; pertahanan dan keamanan; serta kerusakan lingkungan. Penyebab yang paling mendasar dari kasus korupsi adalah keegoisan manusia. Level tindakan korupsi sangat bergantung pada budaya, mentalitas, dan tradisi dari kelompok tertentu (Bakonis et al., 2006). Karena itu, sangat penting untuk mengupayakan berbagai pencegahan korupsi dengan menghilangkan, menghapuskan atau meminimalkan kedua unsur penyebab korupsi.
Peran Pendidikan Keluarga dan Pendidikan Agama Kristen dalam Mengurangi Kasus Korupsi
Korupsi merupakan extraordinary crime dan suatu kejahatan yang sistematik jadi perlu dilaku- kan berbagai macam usaha penanganan terlebih khusus cara pencegahan dari dasar dan akar ma- salah korupsi yaitu keluarga yang merupakan fondasi pendidikan nilai antikorupsi dan religius.
Karena itu, pendekatan dari penelitian ini menggunakan perspektif dari ilmu psikologi dan teologi Kristen. Menurut Bakonis et al. (2006), dalam kelompok agama Kristen perilaku korupsi dianggap sebagai dosa tapi dalam kelompok politik korupsi bisa dianggap hal yang biasa (legal) karena korupsi dipersepsikan sebagai proses konsolidasi. Korupsi mudah berakar pada negara dengan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah dan kesadaran masyarakat akan pendidik- an antikorupsi yang rendah.
Berdasarkan hasil penelitian Thoomaszen dan Tameon (2020) menemukan bahwa subjek dari generasi X dan Y menganggap bahwa kasus korupsi di NTT (Kota Kupang) tergolong parah atau berat. Lebih detail pada 103 orangtua di Kota Kupang, Thoomaszen dan Tameon (2018) menda- pati data bahwa sebesar 67.96% orangtua tidak tahu tentang sembilan nilai antikorupsi yang telah disusun oleh KPK. Informasi mengenai pendidikan antikorupsi sangat sedikit dibahas oleh tokoh agama (0%) dan keluarga (2.91%). Masih ada sebesar 32.03% orangtua yang tidak tahu isi (ayat dan kitab) Alkitab yang ada kaitannya dengan pendidikan anti-korupsi. Sehingga pendidikan dalam keluarga dan tokoh agama perlu ditingkatkan dalam proses pendidikan antikorupsi pada anak.
Pendidikan keluarga merupakan bagian dari pendidikan non formal yang terhitung dalam system pendidikan nasional, dan yang diperoleh melalui pengalaman hidup setiap hari dalam keluarga maupun pergaulan sosialnya dari lahir hingga ajal menjemput baik secara sadar, atau- pun tidak sadar (Hatimah, 2016). Orangtua sebagai pihak yang bertanggungjawab dan memain-
kan peran yang sangat penting dalam perkembangan anak. Proses pengasuhan yang dilakukan orangtua dalam keluarga merupakn proses mentransfer nilai-nilai pendidikan dan kehidupan secara menyeluruh dan utuh (Tameon et al., 2020). Penelitian Yi et al. (dalam Lestari, 2016) menemukan bahwa nilai-nilai yang dimiliki oleh orang tua akan membentuk perilakunya dalam mengasuh anak dan selanjutnya nilai-nilai tersebut diturunkan arau diwarikan kepada generasi penerusnya yakni anak dan ini merupakan siklus yang terus menerus terjadi dalam kehidupan manusia. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti beranggapan semakin urgent untuk menerapkan program psikoedukasi pendidikan keluarga Kristen yang antikorupsi pada kaum bapak. Jika orangtua mendapatkan pemahaman yang tepat tentang nilai-nilai antikorupsi maka transfer nilai yang diwariskan pada anak akan tertanam baik dalam karakter anak.
Dalam penelitian ini, pendidikan keluarga yang dimaksud juga berkaitan erat dengan pendidik- an agama Kristen yang diberikan orang tua pada anaknya. Alasan peneliti mengaitkan pendidikan dalam keluarga dengan pendekatan ajaran Kristen Protestan berdasarkan hasil dari penelitian (Gallup & Norbeck, 1973; Seymour, 2016) yang menunjukan bahwa 87% populasi orang Amerika percaya bahwa agama itu penting, namun 67% percaya bahwa pengaruh agama telah mengalami kemunduran. Peneliti meyakini bahwa kondisi yang tidak berbeda jauh juga terjadi di Indonesia terlebih khusus Kota Kupang, NTT. Jika melihat data BPS Provinsi NTT (2016), maka persentase pemeluk agama tertinggi di Kota Kupang sebesar 63.26% merupakan agama Kristen Protestan, Jika dikaitkan dengan lokasi penelitian yaitu di GMIT Laharoi Klasis Kupang Tengah yang berada dekat garis perbatasan antara Kota dan Kabupaten Kupang, maka persentase pemeluk agama paling dominan sebesar 85.28% adalah agama Kristen protestan (Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, 2016).
Dengan melihat jumlah yang ada, kasus korupsi masih saja menyebar luas di daerah ini maka dapat dikatakan pengaruh agama dalam mengontrol perilaku individu (khususnya korupsi) mengalami kemunduran. Seymour (2016) menambahkan bahwa kebudayaan kita adalah budaya ketidakpercayaan yang di dalamnya Allah disingkirkan dari percakapan umum, situasi sehari-hari dalam keluarga dan pekerjaan, dan Allah menjadi bagian percakapan pribadi dalam hidup saja.
Dengan kondisi kesenjangan antara kepercayaan (pemikiran) dan tindakan seperti itu, perlu dipi- kirkan suatu tindakan nyata yang dapat menjembatani kedua hal tersebut dimulai dari institusi pendidikan yang terkecil yaitu keluarga. Alkitab mengajarkan banyak orang (keluarga Kristen) tentang makna hidup dan cara untuk menjalani hidup yang benar menurut ajaran Firman Tuhan.
Banyak keluarga Kristen belajar tentang iman ketika mereka menerapkannya. Hidup dan iman adalah sebuah integrasi (Seymour, 2016). Begitu juga dengan kaitan antara pendidikan keluarga Kristen dan perilaku anti-korupsi.
Sebagai tambahan, alasan peneliti fokus pada kaum bapak selain sebagai kepala keluarga yang punya peran penting, yaitu berdasarkan hasil penelitian Soge et al. (2016) di Kota Kupang dida- pati hasil kehadiran sosok ayah dalam bentuk meluangkan waktu untuk ada bersama anak masih sangat kurang bila dibandingkan dengan ibu. Kurangnya kerjasama serta minimnya pengetahuan tentang pengasuhan mengakibatkan kurangnya peran ayah dalam pengasuhan pendidikan anak.
Sailana et al. (2016), juga menambahkan bahwa kehadiran dan kesediaan dari para ayah kepada anaknya di Kota Kupang berada pada tingkatan sedang dari lima tingkatan. Artinya keterlibatan ayah dalam mengasuh dan mendidik anak di Kota Kupang masih belum tinggi perannya diban- dingkan oleh ibu.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menentukan tujuan utama penelitian ini yaitu menerapkan integrasi program psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendidikan keluarga kristen sebagai usaha preventif kasus korupsi yang akan ditujukan pada kaum bapak di GMIT Laharoi Kupang.
Metode
Dalam tulisan ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu kuasi-eksperimen, dan sebagai pelengkap pendekatan kualitatif berupa deskriptif naratif juga digunakan untuk meng- gambarkan proses penerapan modul. Desain kuasi eksperimen yang digunakan yaitu The Post- test Only Design with Nonequivalent Groups (Cook et al., 2002) dengan model sebagai berikut:
KE X O ---
KK O Keterangan:
KE : Kelompok eksperimen KK : Kelompok kontrol
O : Post-test, yaitu skala keterlibatan ayah menerapkan 9 nilai antikorupsi
X : Perlakuan yaitu integrasi psikoedukasi pendidikan anti-korupsi dan pendidikan keluarga kristen yang pada kaum bapak
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Subjek penelitian yaitu kelompok kaum bapak Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Laharoi Lasiana Klasis Kupang Tengah, Nusa Trnggara Timur, Indonesia. Dalam tulisan ini, peneli- ti memfokuskan subjek penelitian pada UPP (Unit Pembantu Pelayanan) kaum bapak. Karakteris- tik UPP kaum bapak yaitu ibadah kategorial dan kegiatan lainnya di luar ibadah. Kegiatan-kegiat- an ini bertujuan untuk mengaktifkan kehadiran kaum bapak dalam kegiatan yang lebih besar.
Kriteria dari subjek penelitian yaitu anggota kaum bapak, sudah memiliki anak, bersedia hadir mengikuti proses penelitian dan penerapan psikoedukasi. Penentuan kelompok penelitian dilaku- kan dengan acak. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang mendapatkan perlakuan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab. Sedangkan kelompok kontrol adalah kaum bapak yang tidak hadir atau bersedia mengikuti proses penerapan modul. Jumlah subjek awal dengan metode kuantitatif survey (deskriptif) yang dilakukan sebelum penerapan psikoedukasi untuk melihat kebutuhan akan materi dan modul yang disampaikan yaitu 42 orang bapak. Lalu jumlah subjek penelitian dengan kuasi eksperimen yaitu 16 subjek yang terdiri atas 8 subjek di kelompok ekspe- rimen dan 8 subjek di kelompok kontrol. Proses pemilihan 8 subjek pada kelompok eksperimen yaitu berdasarkan kriteria subjek dan kesediaan subjek untuk hadir serta terlibat menjadi peserta dalam program psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan keluarga kristen.
Instrumen dalam penelitian ini yaitu skala keterlibatan ayah menerapkan 9 nilai antikorupsi.
Skala ini disusun berdasarkan 9 nilai antikorupsi yang dikembangkan KPK dalam (Bura & Puspito, 2011; Listianingsih & Rosikah, 2016). Uji coba skala diberikan pada 36 orang bapak dan didapat- kan hasil reliabilitas skala setelah uji coba menunjukan koefisien Alpha sebesar 0,897.
Instrumen selanjutnya yaitu modul integrasi psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendi- dikan keluarga kristen pada kaum bapak. Modul disusun berdasarkan 9 nilai antikorupsi yang dikembangkan KPK, nilai religious dalam Alkitab, pandangan teologi, dan psikologi yang terkait peran keterlibatan ayah. Menurut HIMPSI (2010) psikoedukasi merupakan kegiatan untuk menambah pengetahuan, pengalaman, keterampilan sebagai bentuk antisipasi terhadap gejala gangguan psikologis di suatu komunitas, golongan atau masyarakat serta memperdalam pema- haman atau pengetahuan bagi lingkungan (khususnya keluarga) mengenai gangguan yang dialami seseorang setelah melewati proses psikoterapi. Psikoedukasi tanpa pelatihan dapat dilakukan
secara langsung dalam bentuk ceramah atau memberikan informasi secara lisan. Bentuk inter- vensi ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin memberikan pemahaman tentang pendidikan anti-korupsi dan pencegahan meluasnya perilaku korupsi sejak anak usia dini. Intrumen terakhir yaitu lembar observasi sebagai lembar pengamatan terhadap subjek dan interaksi subjek dalam penerapan modul.
Penerapan psikoedukasi pada rancangan awal direncanakan dalam dua hari, namun karena kendala kesibukan dari responden bapak maka kegiatan dipadatkan menjadi satu hari dengan durasi waktu 2 jam 30 menit. Tahapan penerapan psikoedukasi terdiri dari lima sesi yaitu sesi pemaparan hasil penelitian sebelumnya (fenomena di lapangan), peran ayah bagi karakter dan jiwa anak, sembilan nilai antikorupsi dan peran ayah dikaitkan dengan nilai kristiani, metode mengajarkan sembilan nilai antikorupsi pada anak, dan sesi diskusi serta tanya jawab. Setelah penerapan psikoedukasi, peserta diminta untuk membagikan materinya pada sesama kaum bapak lainnya yang berdekatan dengan tempat tinggal masing-masing peserta. Lalu satu bulan setelah itu, dilakukan follow-up kegiatan dengan mewawancarai peserta kegiatan tentang materi yang sudah mereka bagikan pada rekan kaum bapak lainnya.
Analisis kuantitatif yang digunakan yaitu statistik deskriptif pada survey awal dan uji non- parametrik Mann-Whitney dengan alat bantu SPSS 20 Version untuk melihat adanya perbedaan skor post-test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dari variable bebas terhadap variable terikat.
Hasil dan Pembahasan
Untuk mengatasi masalah korupsi dengan tepat, diperlukan pendekatan pencegahan dan penyelesaian masalah yang tepat juga. Menurut Widjojanto dan Puspito (dalam Lestari, 2016), ada empat pendekatan dalam menyampaikan pendidikan anti-korupsi, yaitu pendekatan bisnis, pendekatan pasar atau ekonomi, pendekatan pengacara, dan pendekatan budaya. Dari keempat pendekatan yang ada pendekatan budayalah yang paling efektif. Pendekatan ini dimulai dengan membentuk, membangun, dan memperkuat sikap anti-korupsi individu melalui pendidikan da- lam berbagai model, cara dan bentuk. Keberhasilan pendekatan ini memakan waktu yang cukup lama dan memiliki hasil yang berdampak untuk jangka panjang, serta rendah pengeluaran biaya (low costly). Dalam tulisan ini, peneliti memilih menggunakan pendekatan budaya yang diinte- grasikan dengan nilai religious, sembilan nilai anti-korupsi, dan pandangan psikologi dalam pendidikan keluarga.
Temuan penelitian dari data kuantitatif yaitu hipotesis penelitian (H1) diterima, yang berarti integrasi psikoedukasi pendidikan anti-korupsi dan pendidikan keluarga Kristen dapat mening- katkan pemahaman tentang pendidikan antikorupsi yang terkait dengan nilai agama, dan pan- dangan psikologi dalam mendidik anak bagi kaum bapak GMIT Lahairoi Kupang, secara khusus pada 8 orang subjek pada kelompok eksperimen. Temuan tersebut selaras dengan hasil penelitian Cahyani (2017) bahwa psikoedukasi berdampak positif bagi pembentukan sikap positif orang tua dalam memberikan pendidikan keluarga pada anak. Psikoedukasi tidak hanya dipakai sebagai sebuah treatment tetapi juga digunakan sebagai suatu tindakan rehabilitasi ataupun prevensi.
Pemberian psikoedukasi secara individu ataupun kelompok bertujuan untuk menolong seseorang pada tahap perkembangannya sehingga dapat terhindar dari masalah.
Pada tulisan ini, peneliti membahas hasil data kuantitatif dan kualitatif dari penerapan prog- ram psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendidikan keluarga Kristen pada kaum bapak.
Hasil Data Kuantitatif
Data kuantitatif terdiri atas perhitungan statistik deskriptif dari hasil survey awal (pra-ekspe- rimen) dan eksperimen kuasi. Angket pra eksperimen dilakukan untuk menganalisa apakah kaum bapak di GMIT Laharoi tepat untuk diberikan dan membutuhkan psikoedukasi ini. Hasil statistik deskriptif yang mengolah hasil sebaran angket pada 42 orang kaum bapak GMIT Laharoi Kupang yang dilakukan sebelum program psikoedukasi diterapkan diperoleh data pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa jawaban subjek dengan kategori baik sebesar 26,2%, kategori cukup 33,3%, kategori kurang 10% dan kategori tidak baik 16,7%. Artinya, subjek
(bapak) cukup terlibat dalam menerapkan 9 nilai anti korupsi pada anak. Karena itu, masih ada peluang cukup besar bagi peneliti untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan kaum bapak dalam mengajarkan anaknya tentang pendidikan anti-korupsi.
Tabel 1. Kategori jawaban subjek Kategori
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid
Baik 11 26.2 26.2 26.2
Cukup 14 33.3 33.3 59.5
Kurang 10 23.8 23.8 83.3
Tidak baik 7 16.7 16.7 100.0
Total 42 100.0 100.0
Setelah sebaran angket pra psikoedukasi dilakukan pada kaum bapak di GMIT Lahairoi Kupang, peneliti kemudian menerapkan program psikoedukasi pada 8 orang subjek kelompok eksprimen dan 8 orang subjek di kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan apapun, diperoleh data sesuai Tabel 3. Berdasarkan hasil uji Mann-Whitney diketahui bahwa nilai Asymp Sig. (2-tailed) sebesar 0.005 < 0.05. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian (H1) dite- rima. Dengan demikian dapat dikatakan ada perbedaan hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol. Dengan kata lain bahwa integrasi psikoedukasi pendidikan anti-korupsi dan pendidikan keluarga Kristen dapat meningkatkan pemahaman tentang pendidikan antikorupsi, nilai agama, dan pandangan psikologi dalam mendidik anak pada kaum bapak GMIT Lahairoi Kupang, secara khusus pada 8 orang subjek yang masuk dalam kelompok eksperimen.
Tabel 2. Uji hipotesis Test Statisticsa
post test
Mann-Whitney U 5.000
Wilcoxon W 41.000
Z -2.836
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .003b
a. Grouping Variable: kelompok b. Not corrected for ties.
Hasil Data Kualitatif
Sebagai pelengkap data kuantitatif, peneliti melakukan observasi dan wawancara pada 8 sub- jek dari kelompok eksperimen. Data kualitatif diperoleh dari proses awal sesi penerapan psiko- edukasi, proses tanya jawab, hingga sesi terakhir diskusi terlihat bahwa semua subjek sangat antusias, tertarik, dan memahami setiap materi yang disampaikan. Delapan orang subjek yang hadir ini merupakan anggota yang selalu aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan kaum bapak.
Berdasarkan data dari pelayan gereja, jumlah kaum bapak secara keseluruhan di GMIT Lahairoi sebanyak 381 orang. Dari keseluruhan jumlah yang ada, keaktifan kaum bapak dalam ibadah gabungan hanya berjumlah ± 30 orang. Kaum bapak GMIT jemaat Lahairoi dibagi dalam 3 wilayah dan dalam pertemuan ibadah pada masing-masing wilayah jumlah yang hadir sangat sedikit yakni tidak mencapai angka 20.
Dalam proses penjelasan materi, peserta antusias mencatat setiap ayat alkitab yang disampai- kan ketika bagian pengaitan antara pendidikan antikorupsi, nilai agama Kristen, dan pandangan psikologi. Bahkan ada satu subjek yang hadir dengan membawa alkitab, ketika tiap ayat dibahas ia langsung membuka dan membacanya. Hal ini berarti, ada pengetahuan baru yang para subjek peroleh dan pengetahuan tersebut dapat menggugah tingkat kesadaran para kaum bapak untuk lebih aktif menanamkan dan mengoptimalkan nilai-nilai antikorupsi pada anaknya.
Selain itu, didapati juga bahwa delapan subjek kelompok eksperimen cukup terlibat aktif da- lam proses pengasuhan anaknya sehari-hari seperti mengantar, menjemput anak di sekolah, mempersiapkan sarapan bagi anak, aktif berkomunikasi dengan setiap guru dan dosen dari anaknya. Setiap subjek mengakui bahwa tidak tahu tentang sembilan nilai antikorupsi yang
dikembangkan KPK tapi setelah dijelaskan mereka menyadari bahwa sembilan nilai tersebut sudah pernah dicoba penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bersama anak-anak. Hanya saja yang menjadi kelemahan dari para kaum bapak yaitu mereka masih kurang konsisten dalam penerapannya di rumah. Temuan ini konsisten dengan data statistik deskriptif yang menunjukan bahwa setiap tingkatan pendidikan para bapak punya porsi penerapan yang berbeda-beda.
Kelemahan kedua yang diakui oleh para subjek kelompok eksprimen adalah cara penyampaian dan penjelasan tentang nilai agama yang terkait 9 nilai antikorupsi masih banyak menggunakan metode konvensional seperti mendikte atau memberikan ceramah pada anak. Karena itu, dalam program psikoedukasi ini peneliti menjelaskan beberapa metode pendidikan antikorupsi yang lebih interaktif dan mudah dipahami anak khususnnya usia dini seperti bermain dadu (ular tangga), story telling, dan bermain peran. Para subjek mengakui bahwa ketiga metode tersebut belum banyak mereka gunakan ketika proses mendidik anak. Para subjek juga bersepakat bahwa gereja perlu ambil peran yang lebih banyak dalam proses pencegahan dan pemberikan pendidikan antikorupsi sejak dini pada jemaatnya.
Pada akhir sesi diskusi, seluruh subjek sepakat bahwa nilai agama kristen seperti rasa takut akan Tuhan perlu dikaitkan dan ditekankan sungguh dalam proses pendidikan antikorupsi pada anak dalam keluarga. Karena menurut subjek banyak pelaku korupsi yang berasal dari orang- orang yang berpendidikan, punya materi (harta) yang tergolong cukup bahkan berlebih tapi iman dan rasa takut pada Tuhan yang kurang sehingga akhirnya melakukan korupsi.
Tahapan paling akhir dari penelitian ini yaitu follow up yang dilakukan satu bulan setelah psi- koedukasi diterapkan pada kaum bapak. Setiap bapak yang menjadi peserta dalam psikoedukasi diminta untuk menjadi pemateri atau sharing pengetahuan yang sudah diperoleh kepada setiap bapak di tiga wilayah tugas masing-masing peserta pada pertemuan ibadah wilayah. Adapun dalam ibadah wilayah tersebut, pesertanya adalah anggota kaum bapak yang tidak bisa hadir ketika program psikoedukasi dilakukan di gereja. Setiap bapak menunjukan antusias ketika pro- ses sharing tersebut. Harapan peneliti yaitu ketika setiap bapak membagikan materi anti korupsi yang sudah diajarkan maka materi tersebut semakin melekat dalam ingatan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, tanpa sadar peserta yang hadir sudah menjadi agen penyebar- luasan info tentang pendidikan anti korupsi pada anggota kaum bapak lainnya yang tidak hadir ketika psikoedukasi dilaksanakan.
Diskusi
Gunarsa (2012) menjabarkan bahwa para bapak memiliki peran sebagai orang tua, guru, tela- dan, dan pengawas. Jika dikaitkan dengan data kualitatif terlihat bahwa delapan subjek kelompok eksperimen cukup terlibat aktif dalam proses pengasuhan anaknya sehari-hari seperti meng- antar, menjemput anak di sekolah, mempersiapkan sarapan bagi anak, aktif berkomunikasi dengan setiap guru dan dosen dari anaknya. Secara tidak sadar, subjek pernah mencoba meng- ajarkan sembilan nilai antikorupsi yang dikembangkan KPK, namun yang menjadi kelemahan yaitu kurang konsisten dalam penerapannya di rumah, dan cara penyampaian masih banyak menggunakan metode konvensional seperti mendikte atau memberikan ceramah pada anak.
Temuan ini dapat terkait dengan data statistik deskriptif yang menunjukan bahwa setiap tingkatan pendidikan para bapak yang berbeda-beda sehingga porsi dan cara penerapan dalam keluarga yang berbeda-beda intensitasnya. Selain itu, hasil penelitian Mustian (2015) menunjuk- kan bahwa cara penyampaian orangtua yang menyenangkan, melibatkan anak, dikemas dengan menarik seperti dengan menyelipkan permainan dan nyanyian ketika penyampaian materi dapat tersimpan dalam memori ingatan anak dengan baik.
Penelitian ini menunjukan bahwa keterlibatan bapak dalam proses pengasuhan merupakan bagian penting dalam pendidikan nilai anti-korupsi yang dikaitkan dengan nilai agama. Karena jika tanpa atau kurangnya keterlibatan bapak, hasil penelitian Flouri (2003) dapat mengakibatkan tingkat kepuasan hidup yang rendah ketika seorang anak laki-laki beranjak remaja. Culpin et al.
(2015) menemukan bahwa ketidakhadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak berpotensi 11% mengalami depresi pada anak perempuan ketika sudah beranjak remaja. Karena itu, peran pengasuhan, termasuk mengajarkan nilai-nilai anti-korupsi tidak saja menjadi peran utama se- orang ibu, tapi juga dibutuhkan kerjasama dari bapak untuk aktif terlibat.
Dengan peran aktif dari keluarga (bapak dan ibu) maka nilai-nilai anti-korupsi dapat tertanam dengan kuat di dalam diri setiap anak, terlebih khusus faktor internal korupsi yang seharusnya dapat dicegah sejak dini dari pendidikan dalam keluarga. Adapun dalam penelitian ini, nilai-nilai anti-korupsi yang diajarkan pada kaum bapak terdiri atas tiga aspek utama yaitu nilai inti (core values), nilai sikap (attitutes values), dan nilai etik (ethic values) serta sembilan indikator nilai.
Nilai inti dibagi lagi menjadi tiga indikator yaitu kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Nilai sikap terdiri atas tiga indikator yaitu keadilan, keberanian, dan kepedulian. Lalu nilai etik terdiri atas tiga indikator juga yaitu kerja keras, kemandirian, dan kesederhanaan (Listianingsih &
Rosikah, 2016).
Dalam mendidik nilai-nilai anti-korupsi pada anak, tantangan terbesar yang dihadapi oleh orangtua terkhususnya kaum bapak yaitu menginternalisasikan nilai-nilai pendidikan anti- korupsi dan mengaitkannya dengan nilai agama dalam mendidik anak. Menurut Kusnoto (2017) gerakan internalisasi nilai-nilai karakter bisa dilakukan dalam keluarga melalui praktik-praktik baik yang dlakukan oleh orangtua. Praktik baik yang terjadi di keluarga melalui proses pembia- saan adalah salah satu cara yang daapt dilakukan oleh orangtua bagi anak-anaknya apalagi anak pada tahap usia meniru. Selain itu, untuk mengajarkan nilai-nilai agama dan antikorupsi orangtua tidak saja menjelaskan tapi yang terpenting yaitu memberikan contoh dan teladan sehingga dapat ditiru oleh anak. Karena itu dalam penelitian ini, psikoedukasi yang dirancang diintegrasikan dengan berbagai nilai sehingga membantu proses internalisasi nilai-nilai anti-korupsi dengan mengaitkannya dengan pendidikan agama khususnya dalam penelitian ini pada keluarga Kristen.
Data kualitatif menunjukan bahwa setiap subjek penelitian sepakat bahwa memang nilai agama Kristen seperti, kejujuran, rasa takut pada Tuhan perlu dikaitkan dan ditekankan sungguh dalam proses pendidikan anti-korupsi dalam keluarga. Wijaya (2017) bahwa Alkitab menjadi fon- dasi bagi iman orang Kristen. Alkitab merupakan sumber utama standar etika Kristen, dasar peng- akuan, acuan dasar bagi ibadah Kristen, pelayanan pastoral, serta karya-karya misi gereja yang dilakukan pada sesama manusia baik dalam keluarga, pekerjaan, gereja, dan di semua tempat.
Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu jumlah subjek penelitian yang tergolong sedikit karena terkendala pada kesibukan para bapak sehingga jenis desain kuasi eksperimen yang dipilih adalah The Posttest Only Design with Nonequivalent Groups. Idealnya menurut Cook et al. (2002) kuasi eksperimen yang baik menggunakan pre-test dan post-test dengan desain the untreated control group design with pretest and posttest. Keterbatasan ini terjadi selaras dengan kebiasaan dan realita yang memang menunjukan keaktifan kaum bapak yang kurang dalam setiap aktivitas pelayanan. Ini berarti, kehadiran kaum bapak dalam kegiatan ibadah dan kegiatan lainnya di ge- reja sangat minim. Selain itu, waktu penerapan psikoedukasi yang idealnya dibuat dalam dua hari, kemudian dipadatkan menjadi satu hari saja dengan durasi waktu pertemuan 2 jam 30 menit yang berfokus pada psikoedukasi yang dapat membangun kesadaran kaum bapak dan memberikan pemahaman baru. Sehingga dalam proses eksperimen belum diterapkan hingga tahap roleplay dan praktek terhadap metode-metode sembilan nilai antikorupsi. Keterbatasan dalam penelitian ini juga menjadi catatan refleksi bahwa penelitian eksperimen dengan melibatkan subjek ayah (bapak) memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipersiapkan dan dirancang sebaik mungkin.
Simpulan
Berdasarkan hasil analisa kuantitatif, dengan uji Mann-Whitney diketahui bahwa nilai Asymp Sig. (2-tailed) sebesar 0.005 < 0.05. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol. Dengan kata lain bahwa integrasi psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendidikan keluarga kristen dapat meningkatkan pemahaman tentang keterkait- an antara pendidikan antikorupsi, nilai agama, dan pandangan psikologi dalam mendidik anak pada kaum bapak GMIT Lahairoi Kupang.
Dengan dilengkapi analisa kualitatif maka dapat diambil kesimpulan bahwa 8 subjek kelompok eksperimen menunjukan antusias dan keterlibatan penuh selama proses psikoedukasi sehingga dapat dikatakan bahwa ada manfaat positif yang dirasakan dari integrasi psikoedukasi pendidik- an antikorupsi dan pendidikan keluarga kristen pada kaum bapak GMIT Laharoi Kupang. Para subjek bersepakat bahwa penerapan nilai antikorupsi sangat perlu dikaitan dengan nilai agama Kristen, karena dengan memiliki rasa takut pada Tuhan dapat mencegah seseorang melakukan
perilaku korupsi. Rasa takut pada Tuhan ini perlu ditanamkan sejak dini mungkin pada anak dan diajarkan terus menerus secara konsisten dengan metode yang bervariasi dan menarik sesuai tingkat perkembangan usia anak.
Integrasi psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendidikan keluarga Kristen dapat dikem- bangkan oleh peneliti selanjutnya dengan menggunakan pendekatan kualitatif khususnya action research, pendekatan kuantitatif kuasi eksperimen dengan desain the untreated control group design with pretest and posttest, dan juga penelitian mix-method mengingat kompleksnya topik pendidikan anti-korupsi ini.
Program psikoedukasi ini juga dapat diterapkan lebih luas lagi dengan mengintegrasikan de- ngan kegiatan pengabdian pada masyarakat, terkhususnya berfokus pada kelompok ayah dan juga ibu dengan agama Kristen Protestan serta digunakan oleh pihak Gereja GMIT di Kota Kupang ketika sedang melakukan pertemuan dengan Unit Pembantu Pelayanan (UPP) GMIT seperti kaum Bapak, kaum perempuan, lansia, pemuda, remaja dan anak. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah untuk berfokus pada upaya preventif korupsi yang dapat dimulai dari keluarga.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak GMIT Laharoi Kupang, khususnya UPP kaum bapak GMIT Laharoi Kupang yang sudah bersedia terlibat menjadi subjek penelitian dan juga se- kaligus menjadi peserta kegiatan program psikoedukasi pendidikan antikorupsi dan pendidikan keluarga kristen.
Referensi
ACFE Indonesia Chapter. (2017). Survai fraud Indonesia tahun 2016. ACFE Indonesia Chapter.
ACFE Indonesia Chapter. (2017). Survai fraud Indonesia tahun 2016. ACFE Indonesia Chapter.
Aini, N. (2015). Ini daftar daerah terkorup versi ICW. Republika.
https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/01/17/nwd0xt382-ini-daftar- daerah-terkorup-versi-icw
Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. (2016). Provinsi NTT dalam angka.
Bakonis, E., Vaicekauskienė, V., & Penkauskienė, D. (2006). Anti corruption education at school:
Methodical material for general and higher education schools. Modern Didactics Centre.
https://www.stt.lt/data/public/uploads/2019/11/d1_anti- corruption_education_at_school.pdf
Bura, R. O., & Puspito, N. T. (2011). Nilai dan prinsip anti korupsi. In Pendidikan Antikorupsi untuk Perguruan Tinggi.
Cahyani, D. (2017). Psikoedukasi untuk pembentukan sikap positif orang tua dalam pemberian pendidikan seks pada anak usia 11-12 tahun. University of Muhammadiyah Malang.
https://eprints.umm.ac.id/43474/
Cook, T. D., Campbell, D. T., & Shadish, W. (2002). Experimental and quasi-experimental designs for generalized causal inference. Houghton Mifflin.
Culpin, I., Stapinski, L., Miles, Ö. B., Araya, R., & Joinson, C. (2015). Exposure to socioeconomic adversity in early life and risk of depression at 18 years: The mediating role of locus of control. Journal of Affective Disorders, 183, 269–278.
https://doi.org/10.1016/j.jad.2015.05.030
Flouri, E. (2003). The role of father involvement and mother involvement in adolescents’
psychological well-being. British Journal of Social Work, 33(3), 399–406.
https://doi.org/10.1093/bjsw/33.3.399
Gallup, G. A., & Norbeck, J. M. (1973). Population analyses of valence-bond wavefunctions and BeH2. Chemical Physics Letters, 21(3), 495–500. https://doi.org/10.1016/0009-
2614(73)80292-1
Gunarsa, Y. S. D. (2012). Asas-asas psikologi keluarga idaman. Gunung Mulia.
Hatimah, I. (2016). Keterlibatan keluarga dalam kegiatan di sekolah dalam perspektif kemitraan.
PEDAGOGIA, 14(2). https://doi.org/10.17509/pedagogia.v14i2.3878
HIMPSI. (2010). Kode etik psikologi Indonesia. HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia).
Indonesia Corruption Watch. (2017). Tren korupsi 2017. Indonesia Corruption Watch.
Indonesia Corruption Watch. (2021). Hasil pemantauan tren penindakan kasus korupsi semester I tahun 2021. Indonesia Corruption Watch.
Kurniadi, Y. (2011). Dampak masif korupsi: Pendidikan anti-korupsi untuk perguruan tinggi.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Kusnoto, Y. (2017). Internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter pada satuan pendidikan. SOSIAL HORIZON: Jurnal Pendidikan Sosial, 4(2), 247–256.
https://doi.org/10.31571/sosial.v4i2.675
Lestari, S. (2016). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanaman konflik dalam keluarga.
Prenada Media.
Listianingsih, D. M., & Rosikah, C. D. (2016). Pendidikan anti korupsi: Teori dan praktik. Sinar Grafika.
Mapuasari, S. A., & Mahmudah, H. (2018). Korupsi berjamaah: Konsensus sosial atas gratifikasi dan suap. INTEGRITAS: Jurnal Antikorupsi, 4(2), 18.
https://doi.org/10.32697/integritas.v4i2.279
Mustian, R. (2015). Komponen pembelajaran yang mempengaruhi daya ingat anak di kelas III-B di SD Negeri Tukangan Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.
Petrus, A. (2021). ICW dan AJI Kupang Temukan tren penindakan kasus korupsi di NTT minim.
Merdeka.Com. https://www.merdeka.com/peristiwa/icw-dan-aji-kupang-temukan-tren- penindakan-kasus-korupsi-di-ntt-minim.html
Prabowo, H. Y., & Suhernita, S. (2018). Be like water: developing a fluid corruption prevention strategy. Journal of Financial Crime, 25(4), 997–1023. https://doi.org/10.1108/JFC-04- 2017-0031
Sailana, R. M., Thoomaszen, F. W., Kiling-Bunga, B. N., & Kiling, I. Y. (2016). Aksesibilitas paternal pada ayah dari anak usia dini di Kota Kupang. Seminar Nasional “Improving Moral Integrity Based on Family”. Proceeding.
Seymour, J. L. (2016). Memetakan pendidikan Kristiani. BPK Gunung Mulia.
Soge, E. M. T., Kiling-Bunga, B. N., Thoomaszen, F. W., & Kiling, I. Y. (2016). Persepsi ibu terhadap keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 8(2), 85–92. https://doi.org/10.15294/intuisi.v8i2.8617
Suyatmiko, W. H. (2021). Memaknai turunnya skor indeks persepsi korupsi Indonesia tahun 2020. Integritas: Jurnal Antikorupsi, 7(1). https://doi.org/10.32697/integritas.v7i1.717 Tameon, S. M., Saudale, J., & Oematan, T. O. (2020). Parental participation in increasing children’s
multiple intelligence. Proceedings of the 1 St International Conference on Information Technology and Education (ICITE 2020), 508(Icite), 156–161.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.201214.229
Thoomaszen, F. W., & Tameon, S. M. (2018). Parental participation in providing anti-corruption education to children as an effort to prevent corruption in the City of Kupang. Asia Pacific Fraud Journal, 3(2), 201–212. https://doi.org/10.21532/apfjournal.v3i2.76
Thoomaszen, F. W., & Tameon, S. M. (2020). The way the local government works to fight against corruption in kupang city in the perspectives of generations X and Y. Asia Pacific Fraud Journal, 5(1), 87. https://doi.org/10.21532/apfjournal.v5i1.139
Wijaya, H. (2017). Misi dan pelayanan sosial: Manakah yang lebih penting? Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.