Interpretasi Tari Klasik Gaya Persembahan S. Pamardi di Forum Penghormatan untuk Maestro
Ujian Akhir Semester Mata Kuliah : Antropologi Seni
Nama : Esa Fitri Khusna Putri NIM : C0922014
Kelas : B
PROGRAM STUDI KRIYA SENI (DESAIN TEKSTIL) FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2023
Abstrak
Tulisan ini mencoba untuk menyampaikan pesan dari pentas seni yang dipersembahkan oleh Silverster Pamardi atau S. Pamardi. Tarian yang dipentaskan merupakan tarian Jawa klasik dengan gaya yang disesuaikan dengan cirikhas S.
pamardi. Seni tari Jawa klasik memiliki akar yang dalam dalam budaya Jawa, mencerminkan kekayaan sejarah, filosofi, dan tradisi masyarakat Jawa. Tulisan ini bertujuan untuk menggali dan menggambarkan keindahan, makna, serta peran seni tari Jawa klasik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Selain itu, tulisan ini sebagai interpretasi dari sebuah pertunjukam tari yang dipersembahkan oleh S.
Pamardi.
A. Pendahuluan
Selama perjalanan hidup seseorang pastilah terdapat pengalaman setidaknya sekali untuk menyaksikan atau merasakan sebuah tarian. Sebuah perpaduan yang dihasilkan dari beberapa gerakan dengan mimik wajah yang ekspresif menunjukkan suatu maksud atau perasaan yang mendalam, dan ritme yang dapat membuat terkesima orang-orang. Dalam sebuah tarian tubuh seorang penari diibarakan bagai kuas dan panggung merupakan kanvas yang dapat menghasilkan beragam kisah mengurai banyak emosi. Berkomunikasi dalam gerakan tanpa bercakap-cakap namun menghidupkan perasaan dalam jiwa.
Tarian dapat dikatakan salah satu kesenian yang merupakan bagian dari kebudayaan yang terdapat disetiap negara atau berbagai daerah. Seni tari yang tersebar di Indonesia sangatlah banyak serta tarian yang berda diberbagai daerah di Indonesia diciptakan oleh lingkungan masyarakat yang mana pada setiap gerakan, langkah, visual bahkan musik memiliki filosofinya masing- masing.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Alkaf (2012) di Boyolali, memahami tari bukan hanya semata ekspresi estetis, atau gerakan yang berusaha menciptakan cita rasa keindahan semata. Tari, dipahami sebagai bentuk pernyataan diri manusia. Corrie Hartong menuturkan bahwa seni tari adalah sebuah perasaan mendesak yang asa di dalam diri manusia, sehingga mendorong dirinya untuk menuangkan ungkapan yang bentuknya berupa gerakan yang ritmis.
Pada pertunjukan tari yang dipersembahkan oleh S. Pamardi yang dilaksanakan di Pendhopo Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah dalam balutan acara pernghormatan untuk empat maestro bidang kesenian tari yang mana masing-masing maestro menunjukkan kebisaannya untuk mengekspresikan jatidirinya dalam sebuah tarian.
B. Biografi
S. Pamardi dengan nama panjang Silverster Pamardi mempertunjukkan kelihaiannya ketika menari pada forum penghormatan untuk maestro. S. Pamardi memiliki dua kali penampilan diatas panggung pada acara tersebut. Penampilan pertamanya sebagai pembukaan bersama tiga rekan yang juga merupakan maestro pada seni tari.
Untuk mencapai penghargaan sebagai maestro bagi S. Pamardi tidaklah mudah banyak hal yang telah beliau dedikasikan dalam menekuni dunia seni tari. S.Pamardi tinggal di Solo kini berusia 65 tahun lahir pada tanggal 04 November 1958. Saat ini S. Pamardi adalah dosen pengajar Institut Seni Indonesia Surakarta namun telah purna tugas pada bulan November kemarin.
S. Pamardi memulai pentas tari sedari usianya masih belia. S.
Pamardi pertama kali menampilkan tari kelinci di Ramayana Prambanan, kemudian naik menjadi kera kecil setalah itu mulai memerankan tokoh- tokoh yang lebih besar. Sedari kecil S. Pamardi memang sudah sangat menyukai dunia pentas seni. Selain gemar mengisi pada gelaran tari, S.
Pamardi juga menyukai dan mulai mengikutu pentas seni teater ketika menduduki bangku SMA.
Pada tahun 1985 S. Pamardi telah menyelesaikan pendidikannya jenjang Strata satu (S1) yang merupaka lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta. Setelah 15 tahun memegang gelar S1, kemudian S. Pamardi dinyatakan lulus dan telah menyelesaikan pendidikannya di tingkat Magister, beliau mendapatkan gelar akademik M.Hum setelah lulus dari Universita Gajah Mada pada tahun 2000. Setelah melewati dua jenjang pendidikan di perguruan tinggi, S. Pamardi dengan kegigihannya dan tanggung jawab yang dirasanya perlu untuk terus mengajarkan dan membagi ilmunya kepada banyak orang, maka dari itu beliau melanjutkan pendidikannya pada untuk meraih gelar Doktor dan pada akhirnya S.
Pamardi dinyatakan lulus dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2015 dan meraih gelar akademik Doktor. Sehingga apabila beliau berada di
lingkungan kependidikan ISI Surakarta maka nama yang digunakannya Dr.
Silvester Parmadi, S.Kar., M.Hum.
Bagi S. Pamardi menjadi maestro hanyalah sebuah perjalan.
Menjadi maestro ataupun tidak baginya sudah seharusnya untuk menekuni kesenian tari karena dengan menekuninyalah S. Pamardi dapat memberikan contoh pelajaran dan pertunjukan gerakan-gerakan tarian kepada orang yang ingin memperlajari tariannya.
C. Interpretasi Tarian
Pertunjukan kesenian tari tak luput dari hasil pemikiran manusia.
Hakikatnya Seni tari merupakan hasil dari karya cipta manusia, disajikan melalui media gerak yang mana mengandalkan gerakan tubuh sehingga akan terlihat menyenangkan. Ketika menelurusuri lebih menjauh perihal seni tari, terdapat beragam jenis tarian yang tersebar luas di seluruh dunia.
Hal tersebut dikarenakan pertunjukan kesenian tari merupakan salah satu budaya yang mana bertujuan untuk merepresentasikan nilai-nilai, tradisi dan merupakan suatu identitas.
Secara etimologi budaya berasal dari bahasa Sansekerta dengan akar katanya yaitu budaya (Buddhi-tunggal-, jamaknya: buddhayah). Bentuk tunggalnya bermakna akal atau budi, dan bentuk jamaknya bermakna akal budi atau pikiran. Dari hal tersebut, Koentjaraningrat (1992) memberikan definisi mengenai budaya yang berarti daya budi yang berupa rasa, cipta, dan karsa. Setelah pemaparan deskripsi budaya tersebut dapat dipastikan bahwa seni tari yang memang adalah sebuah hasil dari pemikiran manusia merupakah sebuah bagian dari budaya.
Proses simbolik bersifat unik bagi setiap masyarakat dalam budaya, proses simbolik banyak dipengaruhi oleh pengalaman masyarkat di masa lampau dan lingkungan dimana masyarakat itu berada. Budaya tidak mungkin terus berjalan dan terlestari apabila beku dalam ruang dan waktu.
Selalu ada generasi baru yang tertarik untuk meneruskan kesenian dengan tetap memegang nilai-nilai simbolik dari sebuah karya tarian.
Seni tari termasuk kedalam salah satu kebudayaan Jawa, yang mana tari yang dimiliki oleh masyarat Jawa memiliki nilai yang terus diturunkan kepada generasi-generasi baru. Tari bukan hanya sekedar keselarasan antara bentuk gerakan tubuh yang ditata sesuai dengan irama musik gamelan saja, namun keseluruhan ekspresi dalam membawakan sebuah tarian harus memiliki ‘isi’ yang pertunjukan. Ketika menyaksikan seni tarian Jawa tidak hanya melihat sisi penampilannya saja, namun tergambarkan juga pesan dalam suatu makna dibalik pertunjukan tari.
Tari Jawa gaya Surakarta merupakan tarian yang diperkenalkan oleh S.
Pamardi kepada khalayak umum. Kajian yang dilakukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, (2014) tarian klasik Jawa Surakarta merupakan usaha untuk memahami persoalan terhadap nilai-nilai tari keraton yang eksistensinya berakar pada budaya Jawa. Tari keraton dari keraton Kasunanan Surakarta maupun kekraton Kasultanan Yogyakarta, berakar pada struktur budaya yang sama yaitu berpusat pada budaya keraton Mataram beserta adan dan aspek tradisinya.
Tari klasik Jawa berkembang dilingkungan keraton yang memiliki kompleksitas nilai-nilai dari beragam bentuk gejalan kehidupan seperti dalam bidang ekonomi, politik, agama.hukum, seni budaya dan lain sebagainya. Dalam segi spiritualitas, kesenian selalu menyertai untuk menjalankan prosesi upacara adat, aneka rupa pustaka dan lain sebagainya. Gamelan merupakan teman yang melantunkan irama sehingga memberikan perpaduan gerak tubuh serta alunan lagu menumbuhkan suasana khidmat dan menghanyutkan pikiran orang yang menyaksikan kedalam emosi yang dikeluarkan oleh penari yang dialuni musik gamelan.
Gambar 1. Potongan tarian S. Pamardi
Pertunjukan yang ingin disampaikan oleh S. Parmadi merujuk kepada pembahan diatas, pada malam penghormatan maestro, S. Pamardi menunjukkan kemampuan hasil jam terbangnya dalam menampilkan gerakan-gerakan indah yang dilakukan secara spontan dengan diselimuti suasana yang seolah-olah sedang sedih.
Pada proses pembuatan gerakan tarian yang ditampilkan oleh S. Pamardi menunjukan bahwa pada seni tari dapat dilakukan langsung ketika sudah berada di atas panggung dengan lihai dan menyusun beragam gerakan mempertontonkan ekspresi sedih hingga melampiaskan kekesalan.
Bagi saya menyaksikan pertunjukan tarian yang ditampilkan S. Pamardi merupakan pengalaman berharga, dengan tarian, ekspresi dan musik gamelan yang mengalun menambahkan nilai kesedihan yang memang ingin ditunjukkan oleh S. Pamardi. Tarian darinya dibuka dengan dentuman gamelan yang perlahan- lahan mencapai nada tinggi, S. Pamardi menari dengan terduduk di atas panggung mengekspresikan rasa frustasi dari sebuah kesedihan. Tarian yang ditampilkan merupakan tarian tradisional Jawa dengan penggayaan sesuai kepribadiaan S.
Pamardi sebagai pembeda dari tarian tradisi jawa lainnya.
S. Pamardi menyampaikan bahwa tema yang ingin disampaikan pada malam penghormatan untuk maestro bernuasa kesedihan yang meningkat menjadi rasa frustasi. Persembahan pada acara penghormatan untuk maestro merupakan pertunjukan yang menampilkan ciri khas dan jati diri dari beberapa maestro termasuk S. Parmadi yang menunjukkan ungkapan-ungkapan kesedihannya setelah belum lama ini ditinggalkan oleh mendiang istrinya, menjadikan acara persembahan tersebut sebagai caranya mengungkapkan, mengkomunikasikan sebuah kejadian yang menyedihkan kedalam balutan karya seni tari.
D. Penutup
Sang maestro Silvester Pamardi mempersebahkan sebuah pertunjukan khusus bagi penonton yang menghadiri forum penghormatan untuk maestro. Tarian bukanlah hanya sekedar gerakan-gerakan asal yang tidak bermakna, sebuah pertunjukan tarian memiliki nilai, perasaan dan ungkapan yang hendak disampaikan oleh penarinya kepada orang-orang yang menyaksikan tariannya.
Silvester Pamardi sendiri menampilkan kepribadiannya dalam sebuah karya yang menunjukkan rasa sedih hingga frustasi setelah kehilang sang istri. Pagelaran yang diadakan untuk penghormatan maestro tersebut menjadi pentas yang membuah Silvester Pamardi untuk mengungkapkan kegelisahannya melalui ritme gerakan yang dramatis dan nuansa dari musik gamelan yang mengalunkan kesedihan.
Daftar Pustaka
Alkaf, M. (2012). Tari Sebagai Gejala kebudayaan: Studi tentang Eksistensi Tari di Boyolali. KOMUNITA 4 (2) , 125-138.
Dewi, S. R. (2012). Keanekaragaman Seni Tari Nusantara. Balai Pustaka .
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. (2014). Spiritualitas Budaya Jawa dalam Seni Tari Klasik Gaya Surakarta. Panggung 24 (2), 198-210.
Kismini, E. (2013). Eksistensi Budaya Seni Tari Jawa di Tengah Perkembnagan Masyarakat di Semarang. FIS 40 (1), 113-122.
Koentjaraningrat. (1992). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan . Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Umum.