• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam dan Problem Penyesatan: Telaah atas Miskonsepsi Terma Keagamaan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Islam dan Problem Penyesatan: Telaah atas Miskonsepsi Terma Keagamaan"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

Pandangan Abu Zaid sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tesis kaum Mu'tazilah yang berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah muhdats (makhluk ciptaan) karena firman Allah merupakan produk dari sifat Allah "Yang Berbicara" ( al-Qa'il )—salah satu sifat fi'liyyah-Nya. Sedangkan kelompok Hanbaliyyah dan Asy'ariyyah mengklaim bahwa Al-Qur'an adalah qadim (bukan permulaan) dan berdampingan dengan Allah.

Bid’ah

Adapun bid’ah kabiha terbahagi kepada bid’ah makruh (yang dimurkai Allah Ta’ala) dan bid’ah. Dalam bahasa Inggeris, istilah bidat biasanya diterjemahkan sebagai inovasi, atau penciptaan sesuatu yang baru.

Kufr dan Riddah

Istilah kufur dalam erti kata yang kedua pertama kali digunakan dalam al-Quran untuk merujuk kepada orang-orang kafir Mekah (Q.S. al-Mudatstsir: 10) malah dalam al-Quran terdapat Surah al-Kafirun yang ditujukan khusus kepada mereka. Kaum Mu'tazilah berbeza pendapat, kufur adalah istilah yang paling buruk digunakan bagi orang yang tidak beriman kepada Allah.

Tarik-Ulur Definisi Sesat antara Ambang

Syekh 'Uthaimin adalah salah satu ulama dari Arab Saudi yang menjadi pusat gerakan Salafi di berbagai belahan dunia Islam. Kelompok salafi saat ini merupakan salah satu gerakan Islam modern dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, antara lain karena dukungan uang minyak dari Arab Saudi, baik dari lembaga resmi negara maupun dari donatur di sana.

Ajaran-Ajaran Intoleran sebagai Instrumen

Umat ​​Islam mungkin kaget ketika dikatakan bahwa dalam Islam juga ada ajaran tentang intoleransi. Mayoritas kelompok dalam Islam menggunakan hadits ini untuk mengklaim bahwa mereka adalah kelompok yang aman (al-firqah al-najiyah) sebagaimana dimaksud oleh hadits tersebut.

MENINJAU ULANG TERMA BID’AH

Istilah Bid’ah Hasanah di Ruang Publik

Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil pencarian di Google dan Ask sama-sama didominasi oleh informasi yang menunjukkan ketidaksetujuan dengan maraknya istilah Bid'ah Hasanah dalam ibadah Islam (masing-masing mencapai 70%). Persentase sentimen negatif terbesar terhadap istilah ini (Bid'ah Hasanah) dapat ditemukan di Facebook dan Instagram (83,33%), menunjukkan bahwa pengguna Facebook dan Instagram cenderung memanfaatkan stereotipe negatif Bid'ah sebagai alat untuk mendiskreditkan pemahaman. kelompok yang setuju dengan adanya Bid'ah Hasanah. Di sisi lain, pembelaan terhadap keberadaan Bid'ah Hasanah terkesan ala kadarnya dan hampir tidak memiliki pola sebaran yang seragam seperti kubu lawan.

Misalnya, jika kita melihat pola penyebaran informasi atau postingan di Instagram, terlihat bahwa yang bertentangan dengan wacana Bid'ah Hasanah terlihat cukup terstruktur. Gambar 4 menunjukkan bagaimana istilah Bid'ah Hasanah diperkenalkan oleh berbagai kalangan yang meyakini bahwa istilah ini hadir sebagai antitesis dari makna negatif Bid'ah (Bid'ah Dalalah) yang relatif dominan. Oleh karena itu dapat dicatat bahwa pernyataan ini digunakan untuk melawan dominasi atau pemaknaan negatif yang terbangun dalam wacana Bid'ah pada umumnya.

Jika dilihat dari segi sebarannya, pos-pos yang mendukung keberadaan Bid'ah Hasanah cenderung tidak terstruktur.

Gambar 3: Tangkapan layar pola penyebaran postingan yang  kontradiktif dengan keberadaan Bid
Gambar 3: Tangkapan layar pola penyebaran postingan yang kontradiktif dengan keberadaan Bid'ah Hasanah di Instagram

Istilah Bid’ah Hasanah di Ruang Akademik

Selanjutnya untuk mengetahui pandangan para akademisi tentang istilah Bid'ah Hasanah, khususnya dari sudut pandang mahasiswa, kami juga melakukan survei kecil-kecilan yang salah satu pertanyaannya berkaitan dengan pendapat mereka tentang adanya Bid''ah Hasanah dan yang harus dipahami sebagai pedoman. Ibadah semacam ini tidak secara spesifik didefinisikan bentuk dan jenisnya dalam hukum Islam, yang erat kaitannya dengan praktik keagamaan yang dianggap sesat Hasanah. Seperti diketahui, perdebatan yang berlangsung di media sosial cenderung masif dan tidak terkendali, karena pembahasan yang berlangsung tidak lagi bersifat ilmiah, melainkan sudah sampai pada tahap saling klaim dan saling menyalahkan (Mustofa, 2019).

Istilah Bid'ah Hasanah dan berbagai aktivitas keagamaan yang terkait dengan konsep ini mendapat tanggapan positif, baik yang terwakili oleh penjelasan dalam berbagai literatur akademik Islam (seperti yang disajikan pada Tabel 1) dan persepsi yang baik (66,4%) dari responden (mahasiswa), yang setuju. Kemungkinan pertama mungkin karena tidak adanya komunikasi dua arah yang ideal (saling mengkritik), padahal ruang diskusi yang dibuka relatif bebas, karena bisa jadi ada kontrol otoritatif, yang membuat mereka (mahasiswa) enggan untuk mengeluarkan pendapatnya. jujur ​​dan terbuka (Hartono dkk, 1994). Kemungkinan lain, mereka sudah lebih mapan secara akademis dan intelektual, sehingga lebih mudah menerima perbedaan pendapat dan tidak mudah menghukum orang yang tidak sependapat dengan mereka (orang lain) sebagai pihak yang sesat (bid'ah).

Tidak dapat dipungkiri bahwa data yang terkumpul dalam penelitian ini relatif terbatas, terutama berkaitan dengan data wacana dari ruang akademik yang hanya berasal dari lingkungan kampus yang dinilai relatif sedang, dan relatif tidak menjangkau perguruan tinggi.

Gambar 5: Persentase persetujuan mahasiswa terhadap  keberadaan Bid
Gambar 5: Persentase persetujuan mahasiswa terhadap keberadaan Bid'ah Hasanah

Renungan

Kriteria inklusi adalah mahasiswa S1, beragama Islam, dan pernah mendengar tiga istilah yaitu jihad, khilafah dan bid'ah. Masing-masing menanyakan kepada mahasiswa tentang persepsi dan kelaziman perasaan mereka terhadap istilah jihad, khilafah, dan bid'ah. Nah kalau mendengar istilah jihad, khilafah dan bid'ah, apa yang terlintas dibenak atau masih ingat?

Bagaimana jika teman, kerabat, kerabat, anggota keluarga Anda memiliki pemahaman tentang istilah jihad, khilafah dan bid’ah yang berbeda dengan Anda. Analisis korelasi pearson rank untuk memahami hubungan antara respon mahasiswa terhadap jihad, khilafah dan bid'ah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang perspektif dan kelaziman perasaan santri terhadap istilah jihad, khalifah dan bid'ah.

Hasil penelitian ini dapat mencerminkan lanskap informasi perspektif dan perasaan mahasiswa tentang istilah jihad, khilafah, dan bid'at saat ini di Indonesia.

PREVALENSI SENTIMEN PADA TERMA

Konteks Kajian

Namun tugas melaksanakan reformasi di lingkungan kampus akan sangat sulit mengingat interpretasi istilah Islam yang berasal dari bahasa Arab telah disalahpahami oleh mahasiswa (Phares 2005; Gerges 2009; Bostom 2005; Moniruzzaman 2008). Apalagi mereka menganggap istilah ini sebagai upaya menolak praktik sesat dan sistem demokrasi Pancasila di Indonesia. Di sisi lain, kelompok moderat yang mencoba menafsirkan kembali dan mengkontras wacana konsep jihad malah dipojokkan sebagai kelompok sesat dan kafir oleh kelompok Takfiri.

Lebih jauh lagi, penyalahgunaan istilah tersebut telah menimbulkan banyak persaingan identitas dalam komunitas mahasiswa muslim. Mengenai pemahaman dan cara pandang siswa terhadap istilah-istilah agama Islam, tentu saja tidak dapat disalahkan, karena pada dasarnya istilah-istilah tersebut mengandung banyak makna, baik dari segi makna leksikal maupun kontekstual. Dalam posisi ini, pendidik agama Islam dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang makna konsep jihad, khilafah dan bid’ah secara komprehensif.

Untuk mencapai titik ini, kampus jelas membutuhkan pendidik agama Islam yang lebih memahami prevalensi sentimen mahasiswa terhadap istilah tersebut sehingga mereka dapat mengajarkan Islam secara jujur ​​dan akurat (Pipes 2003; Steyn 2008).

Metode Kajian

Dengan tujuan untuk memberikan kontribusi terhadap upaya radikalisasi dan memberikan pengetahuan kepada para pendidik agama Islam di universitas, penulis mengkaji tiga istilah Islam yang sangat sensitif - jihad, khilafah dan bid'ah - yang memicu perdebatan di kalangan banyak mahasiswa. Langkah penting ini diambil untuk memahami posisi kelompok mahasiswa radikal dan kelompok anti radikalisme (moderat versus radikal). Kuesioner dirancang dan dilakukan menggunakan formulir Google dan tautan yang dihasilkan dibagikan kepada siswa yang menunjukkan kesediaan mereka untuk berpartisipasi.

Tidak ada konsekuensi bagi mahasiswa yang tidak berpartisipasi, dan mahasiswa yang berpartisipasi tidak menerima kredit tambahan dari profesornya. Akhirnya, analisis TIF menunjukkan bahwa kuesioner yang diberikan siswa menghasilkan tingkat informasi yang sangat tinggi ketika diberikan kepada siswa dengan kemampuan sedang. Apakah perlu ada semacam upaya dari lembaga keagamaan maupun akademisi untuk mengkaji dan mempelajari kembali makna istilah jihad, khalifah dan bid'ah serta menyebarluaskannya ke masyarakat.

Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui distribusi masing-masing variabel independen dan statistik inferensial untuk menguji hubungan antara variabel independen (karakteristik demografis) dengan variabel dependen.

Hasil

Siswa bereaksi sangat ragu-ragu terhadap pernyataan bahwa konsep bid'ah adalah solusi baru yang diperkenalkan ke dalam kehidupan mereka oleh umat Islam (45,1%). Saat ini umat Islam saling bermusuhan dan saling mencurigai dengan menggunakan isu bid'ah. Bid'ah tidak dibenarkan karena ia memerintahkan manusia untuk melakukan suatu amalan sebagai penerapan syariat baru.

Penerapan bid'ah sebagai proses kreatif dimulai sejak kebangkitan Islam dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam benak para santri ketika mendengar istilah bid'ah, mayoritas mengartikannya sebagai perbuatan yang tidak berdasar dan tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW (57,4%). Bid'ah ada dua hasanah dan sayyiah, jika hasanah maka harus diamalkan dan jika sayyiah maka harus ditinggalkan;

Analisis korelasi menunjukkan bahwa tanggapan mahasiswa terhadap istilah jihad berkorelasi positif dan signifikan dengan istilah khilafah dan bid'ah, dan istilah khilafah memiliki korelasi positif dan signifikan dengan istilah bid'ah (lihat Tabel 5).

Gambar 1. Profil sumber informasi terkait dengan terma jihad
Gambar 1. Profil sumber informasi terkait dengan terma jihad

Pembahasan dan Simpulan

Mahasiswa Indonesia yang berafiliasi dengan NU memiliki cara pandang yang lebih positif dan sentimen yang lebih luas terhadap khilafat dan bid'ah daripada mahasiswa yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan HTI dan mereka yang tidak berafiliasi dengan organisasi manapun, namun tidak menemukan perbedaan istilah jihad. . Jika dikaitkan dengan afiliasi atau organisasi keagamaan, maka sangat mungkin pandangan mahasiswa tentang Jihad, Khilafat dan Bid'at lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang dipropagandakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Berikut ini akan diulas bagaimana perspektif NU, Muhammadiyah, dan HTI telah membentuk perspektif dan sentimen yang berbeda, khususnya terkait konsep khilafah dan bid'ah.

Terakhir, kita akan membahas bentuk jihad terakhir yang dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim, yaitu jihad melawan bid'ah (Meijer 2009). Kondisi ini meniadakan keyakinan NU yang menerima amalan-amalan keagamaan, terlepas dari tidak berdasarnya, asalkan mencerminkan kebaikan (Bid'ah Khasanah). Menurut interpretasi yang berbeda ini, sebagian besar siswa setuju bahwa pemahaman yang tidak lengkap tentang istilah bid'ah dapat menyebabkan penyalahgunaan istilah tersebut.

Meski sebagian besar mahasiswa memiliki cara pandang yang dipengaruhi oleh HTI, mahasiswa yang berafiliasi dengan NU umumnya masih memiliki sentimen yang jauh lebih positif terkait dengan istilah khilafah dan bid'ah. Sejarah Wacana Bid'ah: Kajian Silsilah Kata Bid'ah dan Penyertaan Konteks Sosial di dalamnya. Menciptakan Masyarakat Muslim yang Kreatif dan Inovatif: Bid'ah sebagai Pendekatan, dalam Asian Social Science Vol.9 No.11 2013.

PENUTUP

Gambar

Gambar 3: Tangkapan layar pola penyebaran postingan yang  kontradiktif dengan keberadaan Bid'ah Hasanah di Instagram
Gambar 4: Tangkapan layar dari salah satu bentuk pembelaan  terkait eksistensi Bid'ah Hasanah
Gambar 5: Persentase persetujuan mahasiswa terhadap  keberadaan Bid'ah Hasanah
Gambar 2. Profil sumber informasi terkait dengan terma khilafah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dilakukan di lingkungan Fakultas Farmasi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) pada tanggal 13 April 2020 sampai dengan 19 April