EDITORIAL TEAM Ketua Penyunting
Masykur Arif, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep Penyunting Pelaksana:
Syafiqurrahman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Penyunting:
Abd. Warits, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Mohammad Takdir, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Ach. Maimun, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Fathor Rachman, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep.
Moh. Wardi, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nahzatut Thullab, Sampang.
Moh. Dannur, Institut Agama Islam (IAI) ِ◌Al-Khairat, Pamekasan.
IT Support:
Faizy, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Sumenep, Indonesia Alamat Redaksi: REDAKSI JPIK
Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D)
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Jl. Bukit Lancaran PP.
Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep 69463 Email:
[email protected] Website:
http://jurnal.instika.ac.id/index.php/jpik
Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan, Publikasi dan Dokumentasi (LP2D) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur, Indonesia. Terbit 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman menerbitkan hasil penelitian, baik penelitian pustaka maupun lapangan, tentang filsafat dan pemikiran serta ilmu-ilmu keislaman meliputi bidang kajian pendidikan Islam, politik, ekonomi syariah, hukum Islam atau fikih, tafsir, dan ilmu dakwah
1-28 Studi Komparasi Hukum Pencatatan Perkawinan dalam Islam dan di Negara Kontemporer
Dainori
29-56 Pendidikan Islam Inklusif dalam Pemikiran Sayyed Hossein Nasr
Tatik Hidayati dan Ah Mutam Muchtar
57-74 Mengakrabkan Anak dengan Tuhan (Upaya Membangun Kesadaran Beragama Anak-Anak) Abdul Wahid dan Abdul Halim
75-103 Sikap dan Pandangan Tokoh Pesantren Terhadap Kondisi Santri Tahfidzul Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Putri Bakeong Guluk- Guluk Sumenep
Fairuzah dan Unsilah
104-121 Metode Istinbath Hukum dan Pengaruhnya terhadap Fiqih di Indonesia
Moh Jazuli, A Washil, dan Lisanatul Layyinah 122-144 Zakat Profesi Menurut Pandangan Yusuf Al
Qardhawi
Masyhuri dan Mutmainnah
Metode Istinbath Hukum dan Pengaruhnya terhadap Fiqih di Indonesia
(Kajian Komparatif PCNU dan PD Muhammadiyah Sumenep)
Moh. Jazuli
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep moh.jazuli71@gmail.com
A Washil
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep a.washil@gmail.com
Lisanatul Layyinah
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep [email protected]
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mendalami masalah metode istinbath hukum NU dan Muhammadiyah. Dilihat dari segi produk hukumnya, selama ini fatwa yang dikeluarkan dari kedua ormas tersebut kerap kali menunjukkan perbedaannya. Adanya perbedaan fatwa dari kedua ormas tersebut sangat dimaklumi, karena keduanya sama-sama memiliki metode dan mekanisme yang berbeda dalam menetapkan suatu hukum (beristinbath hukum). Nahdlatul Ulama di dalam memutuskan suatu hukum tentang suatu masalah, maka mendahulukan sikap bermadzhabnya secara qauli di dalam kitab mu’tabarah. Adapun metode istinbath hukumnya, meliputi metode Qauli, Ilhaqi dan Manhaji. Sedangkan Muhammadiyah langsung pada sumber utama ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Akan tetapi, jika tidak terdapat dalam al-Quran dan al-Hadits, Muhammadiyah juga menempuh jalan Ijtihad. Dengan menggunakan metode ijtihad Qiyasi, Ilahqi dan Istishlahi.
Selain itu pula, melalui metode Istinbath Hukum yang berbeda antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, ternyata memiliki pengaruh kuat terhadap pemikiran hukum Islam di Indonesia. Terlebih dalam Fiqih Munakahatnya, sebagaimana bunyi pasal 39 ayat (1), UU. No. 1 tahun 1974, dan pasal 14 dalam Kompilasi Hukum Islam. Yang kedua bunyi pasal tersebut memiliki keselarasan dengan hasil putusan istinbath hukum NU dan Muhammadiyah. Hal itu menunjukkan bahwa hasil istinbath hukum NU dan Muhammadiyah memiliki pengaruh terhadap fiqih di Indonesia. Kesimpulannya, bahwa metode istinbath hukum NU dan Muhammadiyah memiliki perbedaan. Dan dari perbedaan itulah keduanya dapat mengahasilkan produk hukum berbeda. Lain dari pada itu, hasil istinbath hukum NU dan Muhammadiyah memiliki pengaruh terhadap fiqih di Indonesia.
Kata Kunci: istinbath hukum, nahdlatul ulama, muhammadiyah, fikih.
Pendahuluan
Sebagai salah satu negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di Indonesia, menjadikan hukum Islam sebagai salah satu sistem hukum yang berlaku di masyarakat. Meskipun secara formal hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum positif yang didasarkan kepada undang-undang, namun dalam keseharian masyarakat tidak bisa dilepaskan dari hukum Islam.
Jika bicara pemikiran hukum Islam (Fiqih) maka tidak akan terlepas begitu saja dengan dalil-dalil al-Quran dan as-Sunah. Oleh karena itu, dalam fiqih kita mengenal beberapa istilah ijtihad, mujathid, bermadzhab, taqlid, bahkan juga ilmu fiqih dan ushul fiqih.
Imam al-Syaukani dalam kitabnya Irsyad al-Fuhuli telah memaparkan akan maksud dari istilah Ijtihad. Menurutnya, ijtihad adalah mengerahkan kemampuan dalam memperoleh hukum syar’i yang bersifat amali melalui cara Istinbath. Dalam pengertiannya, Istinbath adalah memungut atau mengeluarkan sesuatu dari dalam
106 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
kandungan lafadz. Maka dari itu, pengertian ijtihad lebih komplitnya, berarti ijtihad adalah suatu usaha memahami lafadz dan mengeluarkan hukum dari lafadz tersebut.
Sempat menjadi masalah ketika muncul isu tertutupnya pintu ijtihad. Pada putaran abad ke-3 H, muncul asumsi bahwa ijtihad hanya otoritas ulama-ulama terdahulu, utamanya para imam madzhab yang mempunyai otoritas dalam berjihad. Dalam artian, bahwa setelah itu tidak ada seorangpun bisa mengklaim dirinya memiliki kualifikasi untuk melaksanakan ijtihad. Sementara seluruh aktivitas di masa yang akan datang harus dibatasi pada penjelasan serta penafsiran doktrin yang telah dirumuskan sebelumnya. Sejak saat itu kreativitas-kreativitas ulama seolah telah beku.
Akan tetapi, berkenaan dengan hal tersebut ketika semakin berkembangnya keadaan, keilmuan serta ditemukannya alat yang serba canggih, sebagaimana sekarang maka persoalan masyarakat akan semakin beraneka ragam. Tentunya, ketetapan hukum para ahli fiqih klasik terdahulu tidak cukup untuk dijadikan landasan sebagai jawaban problematika masyarakat kekinian. Maka dari itu, madzhab Hanbali mengatakan bahwa tidak boleh dalam suatu masa kosong dari seorang mujtahid. Karena, ijtihad dirasa perlu adanya guna sebagai upaya penetapan hukum (Istinbath Hukum) yang baru bagi persoalan yang baru.
Pengaplikasian bentuk ijtihad, berupa upaya pembaharuan hukum klasik serta Istinbath hukum baru bagi permasalahan baru, salah satunya untuk saat ini mulai dikembangkan dan diaplikasikan oleh kedua Organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, lewat lembaga fatwanya masing- masing, yaitu:
Lembaga Bahtsul Masa‟il dan Majelis Tarjih Muhammadiyah.
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki cara tersendiri dalam penetapan suatu hukum. Karena, khittah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki keterbedaan jauh. Khittah Nahdlatul Ulama mendasarkan pemahaman keagamaannya pada al- Quran as-Sunah, Ijma‟ dan Qiyas. Yang mana dalam menafsiri dan memahaminya, ia menggunakan jalan pendekatan(al-Madzhab).Nahdlatul Ulama juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi berfikirnya yang berpola pada
pemikiran Fiqih baik kerangka teoritis(Ushul Fiqih) ataupun kaidah Fiqhiyah(al-Qawaidul Fiqhiyah), selain al-Qur’an dan Hadist yang juga menjadi landasan utamanya.
Sedangkan Muhammadiyah, justru secara langsung menjadikan ayat al-Quraan dan bunyi al-Hadits sebagai dalil atas jawaban suatu permasalahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa, Muhammadiyah mengoptimalkan kerangka berfikirnya untuk mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama dengan menggunakan logika berfikir Induktif. Dengan begitu, hal tersebut justru menunjukkan bahwa kedua ormas tersebut telah menyajikan dan menerapkan metode
Istinbathhukum yang sangat berbeda dalam menetapkan dan melahirkan suatu hukum.
Bentuk perbedaan metode
Istinbathhukum ataupun bentuk ijtihad dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, salah satunya telah terlihat dalam hasil penetapan hukum masalah ekonomi, yaitu penetapan hukum Bunga Bank. Dalam penetapan hukum Bunga Bank, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki perbedaan pendapat.
Dalam hasil keputusan yang telah tertuang dalam
Musyawarah Alim Ulama Nahdlatul Ulama tentang masalah
Bunga bank yang ditetapkan pada sidang yang telah digelar di
Bandar Lampung (1982), menyatakan bahwa mengenai hukum
Bunga Bank, para ulama Nahdlatul Ulama ada yang
menyamakannya, dan adapula yang tidak menyamakannya
dengan Riba. Sehingga Lajnah Bahtsul Masa’il NU pada
sidang yang digelar di Lampung tersebut
memutuskan, bahwa hukum Bunga Bank ada tiga macam ketetapan hukum, yaitu: Haram, Boleh dan Syubhat (tidak identik dengan haram).8 Sedangkan hasil keputusan Mejelis Tarjih Muhammadiyah, yang digelar pada tahun 1968, yang bertempat di Sidoarjo menyatakan bahwa Riba dan Bunga itu berbeda. Sehingga dari sidang tersebut telah melahirkan suatu hukum bahwa Riba hukumnya Haram, sedangkan Bunga Bank hukumnya Musytabihat.108 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
Perbedaan dalam metode istinbath dan produk fikih tersebut menjadikan alasan utama penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini. Sehingga dari penelitian ini dapat tergambarkan metode istinbath hukum yang digunakan oleh dua organisasi terbesar di Indonesia tersebut.
Pengertian Istinbath Hukum
Secara Bahasa, istinbath berarti mengeluarkan (istikhraj) air dari sumbernya. Namun menurut al-Bazdawi istilah Istinbath dan Istikhraj berbeda. Menurutnya, Istinbath dalam praktiknya lebih sulit dari Istikhraj. Secara rincinya, Istinbath adalah mengeluarkan hukum dan dalil. Artinya, jalan Istinbath ini memberikan kaidah yang bertalian dengan pengeluaran hukum dari dalil. Maka dari itulah, seorang ahli hukum harus mengetahui prosedur cara penggalian hukum (Thuruqul Istinbath) dari nash.
Adapun hukum berasal dari Bahasa Arab yang secara Bahasa bermakna putusan, ketetapan, dan kekuasaan.
SM Amin SH mengatakan bahwa hukum adalah kumpulan-kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi, yang tak lain hanya bertujuan untuk mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.
Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa apabila kata
“Istinbath” dan “Hukum” dihubungkan, maka sebagaimana yang
disampaikan Imam Syafi‟e, bahwa
IstinbathHukum adalah
mengemukakan kaidah dasar dengan menunjukkan bukti-bukti
dari nash, kemudian menganalisis secara cermat dan sempurna
dengan melihat adanya keterkaitan antara kaidah-kaidah dan
bukti-bukti yang telah dijadikan kaidah.Sedangkan menurut
Imam Al-Qarafi pengertian secara isthilah Istinbath Hukum
adalah mengeluarkan makna-makna dari
nashdengan
mengandalkan kekuatan intelektual (Fart al-Dhin) yang dimiliki
oleh seseorang.
Macam-Macam Metode Istinbath Hukum (Thuruqul Istinbath) Secara garis besarnya, terdapat tiga macam pembagian dari metode istinbath hukum, yaitu: a). Metode istinbath hukum bayani; b).
Metode istinbath hukum ta‟lili; dan c). Metode istinbath hukum istishlahi.
1. Metode Istinbath Hukum Bayani
Metode Istinbath Hukum Bayani adalah pola istinbath hukum yang bertumpu pada kaidah-kaidah kebahasaan atau makna lafadz.
Metode ini membicarakan pengertian lafadz, kaitannya dengan posisi lafadz-lafadz tersebut dalam kalimat. Kajian tentang lafadz ini kemudian berlanjut dengan pembahasan lafadz itu dari berbagai sisi.
Dari metode ini, terdapat beberapa aspek didalamnya yang perlu untuk dikaji lebih jauh, meliputi:
a) Lafadz yang terang dan tidak terang artinya. Adapun lafadz yang terang artinya meliputi: dzahir, nash, mufassar, dan muhkam. Sedangkan bentuk lafadz yang tidak terang artinya meliputi:
Khafi, Musykil, Mujmal, dan Mutasyabih.
b) Lafadz dari segi penggunaannya. Dalam hal ini meliputi hakikat dan majaz, sharih dan kinayah, serta ta‟wil.
c) Lafadz dari segi kandungan pengertiannnya. Lafadz yang dimaksud dalam hal ini terdiri dari: Lafadz Am, lafadz Khas, Takhsis, Muthlaq, dan Muqayyad.
d) Lafadz dari segi Dilalah atas hukum. ditinjau dari segi dalil yang digunakan dalam mengetahui sesuatu, dilalah itu ada dua macam, yaitu: Dilalah Lafdziyah dan Dilalah Ghairu Lafdziyah.
Dilalah lafdziyah adalah dilalah yang digunakan untuk memberi petunjuk kepada sesuatu dalam bentu lafadz, suara atau kata. Dilalah ghairi lafdziyah adalah dalil yang digunakan bukan dalam bentuk suara, bukan lafadz dan bukan pula dalam bentuk kata, seperti halnya dalam bentuk “ekspresi wajah”.
e) Lafadz dari segi sighat Taklif. Pembahasan mengenai lafadz dari segi taklif mengandung dua bagian pembahasan, yaitu tentang amar dan nahi.
110 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
2. Metode Istinbath Hukum Ta’lili
Metode Istinbath Hukum Ta‟lili adalah Metode Istinbath Hukum yang bertumpu pada „illat disyari’atkannya suatu ketentuan hukum. Menurut Muhammad Salam Madzkur, dalam perkembangan ushul fiqih terdapat dua corak metode ta’liliy, yaitu:
a. Qiyas
Qiyas adalah suatu usaha untuk mengkategorikan suatu makna (cabang) kepada makna lain (pokok), karena makna cabang itu ada kemiripannya dengan makna pokok, kemudian diproyeksikan, baik sifat (illah) hukum cabang tersebut lebih utama atau serupa. Contohnya mengqiyaskan perkataqn “uh” atau “buset” kepada kedua orang tua dengan memukul mereka. Artinya, dengan berkata”uh” saja tidak boleh apa lagi sampai memukul kedua orang tua. Karena memukul tentu lebih menyakitkan.
b. Istihsan
Istihsan adalah berpalingnya sang mujtahid dari tuntutan qiyas jaliy kepada tuntutan qiyas khafi,berlandaskan dasar pemikiran tertentu yang rasional atau berpalingnya sang mujtahid dari tuntutan hukum kulliy kepada tuntutan hukum jus‟iy berlandaskan dasar pemikiran tertentu yang rasional. Contohnya, dalam kasus pencurian.
Jika berdasarkan nash ayat al-Quran surat al-Maidah ayat, maka pencuri berhak dihukum potong tangan. Namun, jika semisal pencurian itu dilakukan pada masa paceklik atau kelaparan, maka hukum potong tangan ini tidak berlaku. Dalam kondisi tersebut berlaku hukum khusus. Dan beralihnya hukum umum kepada hukum khususnya itulah yang dikatakan istihsan.
3. Metode Istinbath hukum Istishlahi
Metode Istinbath hukum Istishlahiy adalah cara istinbath hukum mengenai suatu masalah yang bertumpu pada dalil-dalil umum,
karena tidak adanya dalil khusus mengenai masa;lah tersebut dengan berpijak pada kemaslahatan yang sesuai dengan Maqashid al- Syari‟ah (tujuan pokok syari‟at Islam) yang mencakup tiga kategori kebutuhan yaitu dharuriyat (pokok), hajjiyat (penting) dan tahsiniyat (penunjang). Dalam melaksanakan metode ijtihad istinbath Istishlahiy terdapat beberapa syarat, yaitu:
1. Maslahat harus bersifat pasti dan bukan streotype (klise).
2. Kemaslahatan harus menyangkut hajat orang banyak dan bukan pribadi atau golongan tertentu saja.
3. Tidak berujung pada terabaikannya prinsip-prinsip yang telah ditetapkan dalam al-Quran dan as-Sunah.
Istinbath Hukum di NU dan Muhammadiyah
Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai ormas terbesar di Indonesia tentunya juga mengambil sikap dalam memberikan jawaban atas berbagai masalah yang bermunculan itu, yaitu melalui lembaga Bahtsul Masa’il untuk NU, dan Majelis Tarjih untuk Muhammadiyah.
Penyelenggaraan Bahtsul Masa’il sendiri dilaksanakan ketika munculnya permasalahan-permasalahn di dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Bapak Zainal, kategori permasalahan yang dibahas dalam Bahtsul Masa’il ada 3 yaitu: waqi‟iyah yaitu permasalah yang terkait dengan kasus riil ditengah masyarakat. Kedua, maudhu‟iyah yaitu permasalahan yang rumusannya berupa konsep yang utuh dan komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspeknya, dan yang ketiga adalah Qanuniyah yaitu yang berkaitan dengan peraturan perundangan yang dijumpai beberapa ha-hal krusial yang perlu diperbaiki dan diluruskan menurut perspektif hukum Islam. Dan ia juga menyampaikan, bahwa permasalahan yang muncul di masyarakat akan dianalisa dalam forum Bahtsul Masa’il. Dimana permasalah yang
112 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
diangkat dalam forum Bahtsul Masa’il adalah permasalahan yang sempat dibahas dalam tingkat MWC, namun belum mendapatkan jawabaan. Atau bahkan yang belum dibahaspun juga. Selain itu pula, beberapa permasalah yang diajukan oleh kaum Nahdliyin secara umumnya.
Mengenai pelaksanaan Bahtsul Masa’il, tiap MWC NU memiliki jadwal masing-masing. Selanjutnya, beberapa masalah yang sudah mendapat putusan dari beberapa ranting tersebut, kemudian oleh PCNU Kabupaten Sumenep dikodifikasi dalam bentuk buku yang berjudul “al-Muaqarratu Nahdiyah”, serta ada pula dalam bentuk buletin yang diberi nama dengan “ Tsamratul Halaqah”. Hal itu merupakn salah satu media guna untuk menyebarkan hasil dari forum Bahtsul Masa’il.
Akan tetapi, jika masalah itu belum terselesaikan dalam forum Bahtsul Masa’il MWC NU, maka baru PCNU yang akan menanganinya.
Beda halnya di Majelis Tarjih Muhammadiyah, yang mana permasalahan yang dibahas dalam Majelis Tarjih Muhammadiyah tidak lain menyangkut Aqidah, Syari’at dan Muamalat. Dari ketiga aspek tersebut, Majelis Tarjih Muhammadiyah lebih condong mendahulukan masalah Aqidah dalam fokus pembahasn Majelis Tarjihnya. Dengan alasan, agar semua kaum orang dapat beribadah dengan baik, dan benar-benar beribadah semata hanya demi Allah SWT.
Pengambilan keputusan dalam Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk Pimpinan Ranting Muhammadiyah dilakukan dalam bentuk permusyawaratan. Permusyawaratan tertinggi adalah Musyawarah Ranting Muhammadiyah (MRM).
Tidak dapat dipungkiri bahwa Bahtsul Masa’il merupakan tradisi akademisi yang khas dimiliki oleh pesantren dan NU dimana pada satu
sisi ia mampu menggambarkan hadirnya dinamika intlektual dalam tubuh NU, namun pada sisi yang lain forum ini menjadi sasaran kritik tajam dari pihak dalam maupun luar NU tentang stagnasi pemikiran ahli fiqih NU. Salah satu kritik yang mengemukakan adalah penggunaan metodelogi dalam menetapkan suatu hukum. Bahtsul Masa’il NU lebih banyak terjebak kepada pendekatan tekstual, lebih khusus lagi kepada teks-teks kitab kuning. Dengan kata lain, pendekatan yang dominan adalah qauli, dimana pendekatan ini seringkali mengabaikan pertimbangan-pertimbangan yang ada di luar teks, seperti pertimbangan sosio- kultural atau bagaimana proses lahirnya keputusan tersebut.
Berdasarkan pengamatan Ahmad Munjin Nasih dalam akhir tesisnya5 ia menyatakan bahwa dalam proses Bahtsul Masa’il di kalangan NU perlu adanya pembenahan diantara terhadap tiga prosedur yang ditrapkan Bahtsul Masa’il NU, yaitu Bahtsul kutub, Ilhaq dan Istinbath Jama’i. Pertama adalah prosedur Bahtsul Kutub. Langkah ini seringkali didasari oleh suatu pandangan bahwa apa yang sudah diputuskan oleh ulama atau Qawul Faqih dipandang selalu memiliki relevansi dengan konteks kehidupan masa kini dan harus diapakai tanpa adanya kritik. Bahkan sudah yakin bahwa ibarat-ibarat dalam kitab kuning masih mencukupi dan relevan untuk dijadikan dasar mengatasi masalah-masalah kontemporer seperti saat ini.
Pembenahan kedua terhadap konsep Ilhaq dalam proses penetapan hukum. Penggunaan konsep Ilhaq justru menunjukkan adanya masalah dalam Bahtsul Masa’il. Pertama, dengan metode Ilhaq jelas menunjukkan ketidak beranian para ulama NU untuk melakukan kajian lansung kepada sumber-sumber syari’ah. Kedua, sebaik-baiknya
„ibaratul kutub yang dijadikan analog, sebagai bagian dari hasil ijtihad
114 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
oleh ulama’ kala itu pasti juga tidak akan terlepas dari sosio- kultural waktu itu. sehingga persoalan yang terjadi saat ini sangat sulit dicarikan kesepadanan dalam kitab kuning. Kalaupun ada, hal itu seringkali terkesan “dipaksakan” hanya untuk memenuhi target harus ada
„ibaratnya dalam kitab kuning. Semisal masalah bunga bank dan lain sebagainya.
Pembenahan terakhir pada penggunaan konsep Istinbath Jama‟i.
Dalam konsep ini, Bahtsul Masa’il NU mulai menampakkan kemiripan metode dengan metode yang digunakan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah. Dimana Bahtsul Masa’il NU juga menerapkan metode Bayani, Qiyasi, dan Istishlahi.
Lain dari pada itu, mengenai pendefinisian akan bahasa
“Istinbath”. Ulama NU telah mendefinisikan, bahwa Istinbath yang dimaksudkan dalam NU adalah bukan mengambil hukum secara langsung dari sumber asli al-Quran dan al-Hadits, akan tetapi memberlakukan secara dinamis nash-nash dalam kitab kuning yang telah dirumuskan fuqaha. Padahal ini justru bertentangan dengan pemaknaan Istinbath oleh PBNU sebagaimana yang tertuang dalam hasil Munas Alim Ulama di Lampung. Disana dinyatakan, Istinbath adalah mengeluarkan hukum syara’ dari dalil-dalilnya dengan
qawaid ushuliyah dan qawaid fiqhiyah.
Dari keriga prosedur tersebut menunjukkan bahwa pola berfikir Bahtsul Masa’il masih muncul cenderung pada pola berfiikir tradisional. Sementara pola berfikir modern masih terlihat ragu-ragu, sangat berhati-hati, merasa belum waktunya atau seakan-akan malah dihindari.
Sedangkan untuk Majelis Tarjih Muhammadiyah, secara umumnya memang Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum sejalan dengan prinsip dasar Muhammadiyah, yaitu kembali kepada kemurnian al-Quran dan al-Hadits. Sebagai contoh, putusan yang dikeluarkan Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Himpunan Putusan Tarjih, dapat dinyatakn secara umum hampir kesemuanya tidak ada yang merujuk kepada pendapat ulama terdahulu. Hal ini disebabkan karena dalam jiwa Muhammadiyah tidak ada kamus “taqlid”
kepada ulama, yanag ada hanya ijtihad dan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits.
Kelemahan mendasar dari pola pemikiran Muhammadiyah adalah pengabaiannya terhadap aspek kesinambungan mata rantai pemikiran manusia. Padahal secara tekstualnya, ayat-ayat al-Quran tidak dapat dipahami dengan baik tanpa pemahaman seperti yang ditemukan dalam kitab-kitab tafsir yang banyak melaporkan penafsiran para pendahulu ummat. Demikian juga buku Syarhul Hadits sebenranya dapat memberikan sumbangsih untuk membantu para pengkaji hukum akan informasi seputar masalah yang dikaji.
Meskipun tampak sekali bahwa pengakajian fiqih dalam Majelis Tarjih sangat kental dengan corak literasi, namun bukan berarti kelompok ini tidak menggunakan perangkat metodelogi yang dipakai ulama-ulama madzhab, seperti Qiyas, Maslahah mursalah, Istishan dan Saddud Dari‟ah. Akan tetapi, Muammamdiyah masih merasa enggan untuk mengakui bahwa pola pikir mereka sebenarnya juga ikut arus
“taqlid” kepada imam madzhab.
Namun secara menejamen organisasi, Lembaga Bahtsul Masa’il dan Majelis Tarjih Muhammadiyah memiliki kesamaan
116 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
mekanisme menetapkan suatu putusan hukum yang tidak terpecahkan dalam tingkat dasar atau bawah. Dimana dalam putusan suatu hukum keduanya sama-sama memegang erat kesamaan nalar fikiran antara ranting, cabang, daerah, wilayah bahkan pusat dari kedua organisasi tersebut.
Kendatipun begitu, peserta antara forum Bahtsul Masa’il dan Majelis Tarjih justru berbeda. Dalam forum Bahtsul Masa’il pesertanya hanya merupakan anggota Syuriyah, ulama’-ulama’ NU, serta pengasuh-pengasuh pesantren. Tapi kalau Majelis Tarjih Muhammadiyah justru tidak hanya melibatkan ulama’ anggota, ataupun pengurus Muhammadiyah saja, melainkan malah melibatkan ulama’- ulama’ dari ormas besar lainnya, seperti ulama’ Nahdlatul Ulama, Hisbah Persatuan Islam, dari Persus, dll.
Kedua organisasi Islam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan organisasi yang memang memiliki perbedaan artikulasi budaya, dan pemikiran kegamaannya. Dimana Nahdlatul Ulama lebih kokoh pada segi materi atau penguasaan khazanah klasiknya.
Sedangkan Muhammadiyah lebih kaya secara metodologisnya.
Klaim Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam, saat ini mulai diragukan. Karena tidak ada pikiran-pikiran pembaharuan, kecuali rutinitas mengurusi organisasi. Bahkan, Muhammadiyah tidak lagi akrab dengan ekspiremen-ekpiremen baru dalam pemikiran keislaman. Begitu pula NU, kendatipun sudah dianggap mengalami kemajuan di bidang pemikiran keagaman, tapi NU dikesankan menanggung beban berat warisan tradisi sehingga cukup berat dalam melakukan pembaharuan karena terdapat pertentangan antara generasi tua dengan generasi muda.
Simpulan
Sikap dan pandangan tokoh pesantren terhadap kondisi santri tahfîdz al- Qurân di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Putri, terdapat sikap dan pandangan tokoh pesantren sebagai berikut: (1) tidak memaksa santri untuk menjadi hâfidz/hâfidzah, (2) menghimbau santri sebelum menghafal untuk memahami ayat yang akan dihafal, (3) boleh menghafal dengan syarat mampu membaca al-Qurân dengan lancar (sesuai kaidah ilmu tajwid) dan menguasai ilmu penunjang dalam menghafal al-Qurân seperti kitab Nubdatul Bayan (memahami ilmu Bahasa Arab, Nahwu, dan Sharraf), (4) memperingati santri untuk selalu mengulang hafalannya agar tidak mudah lupa dengan memberikan amalan khusus dan memahami makna ayat yang dihafal sebagai pedoman hidup, (5) mengadakan kajian kitab Tafsir Jalalyn sebagai pembekalan tambahan terhadap pemahaman al-Qurân, (6) menghimbau santri untuk tidak bermalas-malasan dan bisa mengatur waktu dengan baik, (7) mengadakan sosialisasi kepada orangtua yang berkaitan dengan pentingnya menghafal al-Quran yang diiringi dengan memahami sehingga dapat mudah diamalkan. Serta memohon kerjasama pada orangtua untuk memberikan dukungan penuh kepada anak-anaknya dalam proses menghafal.
Simpulan
Dari pemaparan di atas, maka penulis dapat disimpulkan bahwa:
pertama, metode Istinbath hukum yang digunakan Nahdlatul Ulama dan
118 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121
Muhammadiyah berbeda. Dimana dalam beristinbath, metode yang digunakan NU tetap bersikukuh mempertahankan warisan pemikiran ulama’ klasik yang tertuang dalam literatur klasik. Sehingga tidak heran jika dalam proses penetapan suatu hukum, lembaga Bahtsul Masa’il NU lebih memprioritaskan metode Bahtsul Kutub, selanjutnya metode Ilhaqy dan yang terakhir metode Istinbath Jama’i. Tentunya dari ketiga metode tersebut tidak pernah terlepaskan dari kitab klasik (Kitab Turats) warisan ulama’ terdahulu dan kontemporer. Beda halnya dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah lebih mengembalikan pada prinsip dasar Muhammadiyah, yakni kembali pada ajaran al-Qur’an dan al-Hadits.
Kedua, pengaruh dari hasil Bahtusl Masa’il NU dan Majelis Tarjih Muhammadiyah memberikan sumbangsih besar terhadap pemikiran Hukum Islam (Fiqih) di Indonesia sangat. karena bentuk “Ijtihad” yang dilakukan dari kedua lembaga pemberi fatwa tersebut dapat membantu memberikan jawaban dan ketetapan hukum akan problematikan yang makin hari kian mengalami perkemabangan. Kendatipun pada hakikatnya, hasil putusan hukum Bahtsul Masa’il dan Majelis Tarjih Muhammadiyah sendiri tidak terlalu signifikan dalam hal undnag- undang atau formal dengan alasan keputusan Bahtsul Masa’il dan Majelis Tarjih Muhammadiyah bersifat tidak mengikat, hanya sekedar rekomendasi untuk diikuti atau tidak. Namun tentu saja bisa sangat besar apabila para Nahdliyin dan Muhammadiyah memiliki ikatan erat para ulama’nya, hingga dapat menjadikan putusan tersebut diikuti oleh mereka.
Daftar Pustaka
Arfan, Abbas, Geneologi Pluralitas Mazdhab, Malang: UIN- Malang Pers,
2008.
Ar-Rasyid, Muhammad Awwaluddin, Pdf. Skripsi. Istinbath Hukum Oleh Lajnah bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama’
(LBM NU) Dan Pengaruhnya Terhadap Hukum Islam Di Indonesia, Makassar: UIN Alauddin, 2017.
Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqih, Jakarta: Amzah, 2013.
Aziz, Ach. Taufiqil, Dinamika NU Sumenep, Sumenep: Zevea Press, tt. Azka, Darul, Ushul Fiqih Terjemah Kitab Waraqat, Lirboyo: Santri Salaf
Press, 2013.
Baso, Ahmad, Agama NU untuk NKRI ( Pengantar Dasar-Dasar ke-Nua-an di Era Kebebasan dan wahabisasi), Jakarta:
Pustaka Afid, 2015.
Baso, Ahmad, NU Studies: Pergolakan pemikiran antara Fundamintalisme
Islam & Fundamintalisme Neo-Liberal, Jakarta : Erlangga, 2006.
Bahri, Syamsul, Metodologi Hukum Islam, Yogyakarta:
TERAS, 2008.
Djamil, Fathurrahman, Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhammadiyah, Jakarta: Logos, 1995.
Haidar, M.Ali, Nahdlatul Ulama Dan Islam Di Indonesia, Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama,1994.
Hasbiyallah, Fiqih dan Ushul Fiqih, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2013.
Kaidah Lajnah Tarjih Muhammadiyah, Muhammadiyah:
Majelis Tarjih, 1971.
120 | JPIK Vol. 4 No.1, Maret 2021: 104-121