ANJIR
Oleh : Adhika Bayu Pratyaksa
-arsitek, pemerhati budaya, penggiat sekolahalam
Istilah ini sempat ramai dibicarakan beberapa waktu lalu. Sebuah ucapan yang dinilai kurang sopan, menurut dialek pergaulan kaum muda Jakarta. Tak heran kemudian banyak orang yang mempersoalkan penggunaan kata ini di ranah publik.
Juni 2022, kami dalam perjalanan dari Palangkaraya menuju Balikpapan. Berangkat melalui jalur utara melewati Buntok, pulangnya kami lewat jalur Banjarmasin sambil menyisir mampir ke sekolah alam yang tersebar di Kalimantan Selatan.
Lepas dari jalur lurus di Pulangpisau, tibalah kami di Kualakapuas, penanda bahwa sebentar lagi masuk ke Kalimantan Selatan. Masuk perbatasan Kalsel, ramai kami membicarakan tentang jam di ponsel yang langsung berubah mengikuti zona WITA. Tiba-tiba, si sulung yang sedang mengemudi melihat keanehan.
"Jual beras anjir? Koq gitu amat sih," selorohnya.
"Eh itu ada lagi," kata anak kami yang lain sambil tertawa.
"Sebentar, sebentar. Ini pasti ada arti yang lain. Coba kalian gugling," kata saya.
Ternyata anjir adalah istilah setempat untuk saluran air alias terusan atau disebut juga kanal. Daerah Banjar di Kalsel memiliki banyak sungai dan rawa. Agar rawa tersebut dapat ditanami dengan padi, maka dibuatlah anjir agar air bersifat asam yang ada di rawa dapat mengalir ke sungai. Itulah pertanian yang mengandalkan pasang surut sungai.
Hingga kini, beras anjir menjadi komoditas unggulan yang disukai masyarakat Banjar. Ukuran bulirnya kecil, teksturnya pera, tidak pulen. Mirip dengan bareh (beras) Solok yang disukai masyarakat Minang.
Saking fanatiknya orang Banjar dengan tekstur pera, di daerah Kandangan Kalsel bahkan cara yang paling tepat dalam memakan ketupat Kandangan adalah dengan meremasnya dulu hingga hancur berbutir.
Menurut mereka, dengan demikian kuah kental berlauk haruan (gabus) yang mengiringinya dapat terserap sempurna.
Sebagai fungsi tambahan, anjir tentunya juga digunakan untuk kepentingan transportasi. Kemampuan orang Banjar dalam membangun kanal ini kemudian diadopsi oleh Belanda. Di era akhir 1800-an,
Belanda membangun Anjir Serapat yang menghubungkan Sungai Barito ke Sungai Kuala Kapuas.
Panjangnya 28 kilometer dengan lebar 30 meter. Orang Banjar menggalinya dengan sundak, sebuah alat yang berbentuk papan tipis dari bahan kayu ulin.
Melalui terusan tersebut pada Juli 1957 Presiden Soekarno bertolak dari Banjarmasin ke jantung Borneo.
Melewati Anjir Serapat, dilanjutkan melalui Anjir Kelampan yang menghubungkan Sungai Kuala Kapuas menembus Sungai Kahayan. Hingga tibalah beliau di Pahandut, sebuah desa Dayak yang kemudian dikembangkan dan didesain untuk menjadi ibukota negara masa depan dengan nama Palangkaraya (sumber: Kompas).
Anjir di Banjar beda lagi dengan anjir di Jogja. Alkisah ketika awal pemisahan Mataram menjadi
Yogyakarta dengan Surakarta (palihan nagari), pemasangan patok batas alias anjir menjadi perselisihan tersendiri. Di Gunungkidul, bahkan sempat diadakan sayembara. Siapa saja yang bisa menenteramkan tempat perbatasan dan memutuskan patok (anjir) batas antara Yogyakarta dan Surakarta akan
memperoleh penghargaan dari Keraton Mataram (Yogyakarta) Hadiningrat.
Namun ada pula kisah anjir dalam arti kanal yang terletak di Yogya. Namanya adalah Selokan Mataram, sebuah kanal irigasi sepanjang 30 km yang menghubungkan Kali Progo dan Kali Opak. Selokan Mataram adalah proyek yang digagas Sultan Hamengkubuwono IX agar rakyat terhindar dari pengerahan tenaga kerja untuk kerja paksa (romusha) di masa pendudukan Jepang. Dengan dalih ini, Jepang menyetujui bahwa rakyat Mataram tidak diambil untuk romusha dan bekerja di proyek pembangunan kanal ini, beserta jembatan-jembatan yang diperlukan akibat terpotongnya jalan oleh Selokan Mataram.
Makin berkurangnya penggunaan Selokan Mataram untuk pengairan pertanian juga senasib senada dengan anjir-anjir di Banjar. Ditambah lagi dengan terkalahkannya jalur air ini dengan jalur darat. Di Jogja, pembangunan Jembatan Baru UGM membuat aksis baru timur-barat dari UGM hingga Jalan Magelang. Membuat area perkampungan Sinduadi yang dulu sangat nyaman untuk jalan pagi dan sore sambil menikmati gemericik area kanal menjadi tertelan kesibukan lalu lintas. Area pertanian juga semakin berkurang. Lahan pertanian beralih menjadi hunian. Juga kos-kosan untuk menyokong kehidupan kampus di kota pelajar ini.
Suasana di tanah banua tak jauh berbeda. Transportasi air di anjir kini teralihkan. Membaiknya kualitas jalan trans Kalimantan yang didukung dengan pembangunan jembatan membuat transportasi darat dengan mobil lebih disukai warga. Ditambah lagi dengan adanya pendangkalan akibat minimnya
pemeliharaan pada kanal-kanal tersebut. Lambat tapi pasti, wajah peradaban yang dahulu menengok ke sungai kini berpaling. Rumah dan bangunan menghadap ke jalan, membelakangi sungai dan anjir.
Tak jarang, situasi serupa juga terjadi pada daerah lain di negeri kita dengan budaya pesisir. Air yang dulu menjadi elemen alam yang dihargai dan dimuliakan kini dibelakangi. Tak hanya dibelakangi, air menjadi tempat pembuangan sampah. Tak heran Sungai Citarum di Jawa Barat menyandang gelar sebagai tempat sampah terpanjang di dunia. Inilah ironi Indonesia, negeri dengan wilayah perairan terbesar di dunia tetapi tidak menghargai air.