NRB 00812052002
Halo Adik-adik, Leguty Media hadir dengan buku Jangan Panik, Nak! Buku ini bisa dibaca bersama Ayah dan Bunda. Di dalam buku ini terdapat cerita tentang anak-anak yang diajak hati-hati dan tidak panik menghadapi berbagai masalah.
Seperti jangan panik ketika tersesat, jangan panik ketika bertemu orang asing. Misalnya tangan kalian terkena air panas, jangan panik! Segera taruh tangan kalian di air mengalir supaya bisa mengurangi peradangan.
Nah, setelah membaca buku ini, Adik-adik bisa tahu cara menghadapi masalah yang bisa saja terjadi di sekitar kita. Tetap semangat belajar, ya! Dan selalu berhati-hati, jangan panik!
Salam hangat Kakak Penulis
Kata Pengantar
2 21
Jangan Panik, Nak!
Penulis : Leguty Family
Editor : Teguh Indriawan dan S. Sholekah
NRB : 00812052022
Cetakan Pertama : Mei 2022
Penerbit : Leguty Media (Tangerang Selatan) Anggota IKAPI : (No.056/BANTEN/2021)
Website : https://legutykids.com Program Menulis Buku : 0821-1260-0268
Jangan Panik ketika
Naik Pesawat Pertama Kali
Ridha Muslimah Sacha
Namaku Shidiq. Usiaku lima tahun. Sekarang aku sedang berada di bandara. Umi dan Abi mengajakku ke rumah Nenek di Pulau Bangka.
Ini pertama kalinya aku naik pesawat terbang. Sebenarnya aku senang bisa naik pesawat.
Namun, aku takut ketika melihat pesawat yang besar. Suaranya pun menggelegar. Umi dan Abi menenangkanku. Di dalam pesawat juga ada Ibu Pramugari yang siap membantu dengan ramah.
Aku mengenakan sabuk pengaman. Pesawat lepas landas. Abi mengajakku berdoa agar Allah memberikan keselamatan selama di perjalanan dan tiba sampai tujuan. Dengan berdoa dan pasrah kepada Allah, hati menjadi tenang.
Umi mengajakku berpikir positif dan menikmati perjalanan. Tenangkan pikiran dan hati. Aku juga mengunyah permen agar telinga tidak pekak.
Gruduk ... gruduk!
Pesawat berguncang kecil saat menembus awan. Kata Abi, itu namanya turbulensi. Jangan panik, tetap tenang karena itu hal biasa.
Pesawat hendak mendarat, suaranya berderu kencang. Aku berusaha tenang.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga dengan selamat,” ucapku lega saat pesawat sudah mendarat. ***
3 20
Daftar Isi Jika Tangan Terkena Pisau
Tsamrotul Afuwah
Pada hari Minggu Ibu A libur tidak masuk bekerja di sekolah sebagai guru di TK Ayah Bunda di daerah Kaliwing. Karena hari ini hari libur, Ibu A mengajak A untuk membantu memasak di dapur.
Tadi pagi ada tukang sayur berhenti di depan rumah dan Ibu A belanja bahan-bahan, seperti sayur sup, ikan, dan kentang. A bertanya pada ibunya, “Ibu, mau masak apa hari ini?”
“Mau masak sayur sop, bergedel kentang, dan goreng ikan mujahir,” jawab Ibu.
“Wow, makanan kesukaanku, Ibu ...,” teriak A.
“Ayo ibu, saya bantuin!” kata A dengan semangat.
Lalu Ibu A memberikan bahan sayuran yang mau di kupas sambil berpesan, “Hati-hati ngupasnya dengan pisau, karena pisaunya tajam.”
“Aduh ... Ibu ...,” teriak A dengan keras diiringi suara tangisan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Ibu sambil menghampiri A.
“Sa ... kit ... Ibu ... ber ... darah, kena pisau jariku,” kata A sambil sesenggukan menahan sakit.
Lalu Ibu memeluk A sambil menenangkan tangisan A.
“Sudah, tidak apa-apa, sini Ibu obati,” kata Ibu.
Lalu ibu mengambil kotak obat dan mengobati jari telenjuk A
dengan obat Betadine dan dibalut dengan Hansaplast.
Sebelumnya dibersihkan dulu lukanya sama Ibu. Jangan panik, luka terkena pisau itu sakitnya sebentar. Kalau sudah diobati, nanti cepat sembuh lukanya. ***
1. Jangan Panik ketika Menumpahkan Air Endang Fatmawati 4
4 19
Jangan Panik ketika Menumpahkan Air
Endang Fatmawa
Namaku Farzana. Aku kelas tiga SD. Ibu selalu menyiapkannya teh manis, minuman kesukaanku.
Biasanya aku minumnya tanpa sedotan. Semenjak Ibu mulai mengandung adikku, Ibu mengajariku agar bisa mandiri. Belajar menyuap makanan sendiri, mandi sendiri, termasuk membuat minum sendiri.
He … he …. tak heran ketika pertama kali membuat minum, rasanya kurang manis. Namun, tidak apa-apa karena aku masih belajar. Ibu pun memakluminya.
Pada saat makan, aku biasanya sambil menonton TV. Ibu menyediakan camilan. Jadilah meja belajar penuh dengan buku, makanan, dan minuman.
Suatu sore ketika makan, tanpa sengaja siku tanganku menyenggol gelas. “Praak!” segelas teh jatuh ke lantai. Gelas pecah dan aku panik. Muncul perasaan bersalah dan takut dimarahi Ibu.
Wow, ternyata di luar dugaan, Ibu justru mendekat dan menenangkanku. Ibu berkata, “Sudah, ndak apa-apa, segera dilap dan jangan panik!”
Ya itulah Ibu. Beliau sosok yang sabar dan lembut. Jarang sekali marah, tetapi justru selalu menasihati. ***
Tetap Tenang ketika Menghadapi Masalah!
ZuestyHarz
Sabtu yang cerah, Karmel mengajak Joseph bermain bola di lapangan dekat rumah.
Permainan semakin seru ketika beberapa teman bergabung bermain. Tawa riang dan pekikan seruan gol berkali terdengar. Tiba-tiba bola melayang ke arah tukang cendol yang ada di pinggir jalan. Wajah pucat dan rasa takut pun tersirat.
“Karmel, ayo kita lari!” seru Joseph karena melihat teman-teman yang lain sudah berlari.
“Jangan! Tenang dulu,” ucap Karmel.
“Duh, gimana kalau Abang itu marah? Atau membawa kita ke Pak Polisi?” ujar Joseph panik. Tak lama Abang cendol memanggil mereka.
“Siapa yang punya bola ini?” tanya Abang cendol.
“Saya Bang,” jawab Karmel gugup.
“Lain kali hati-hati ya. Untung tidak kena ke dagangan saya,” ucap Abang cendol.
“Iya Bang, kami minta maaf ya.”
Bola pun dikembalikan. Karmel dan Joseph pamit dan segera meninggalkan tempat itu.
“Tuh kan, enggak apa-apa, coba kalau kita tadi ikutan panik dan lari, mungkin masalahnya akan semakin besar,” ucap Karmel.
Joseph pun mengangguk mengerti. ***