• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal manager jurnal technoscientia vol 11 no 2 februari 2019 full paper compressed

N/A
N/A
Himawan Prasetyo 1907155377

Academic year: 2023

Membagikan "Journal manager jurnal technoscientia vol 11 no 2 februari 2019 full paper compressed"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

Studi Eksperimental Pengaruh Rasio Porositas pada Sisipan Strip Berlubang Berlubang terhadap Karakteristik Perpindahan Panas dan Faktor Gesekan pada Penukar Panas Tabung Ganda. TWISTED TAPES PADA KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS DAN FAKTOR GESEKAN PADA PEMANAS TUBULAR GANDA.

Gambar 1. Spesimen hasil radiografi  pada Kecepatan Las 8, 10, 12 mm/s
Gambar 1. Spesimen hasil radiografi pada Kecepatan Las 8, 10, 12 mm/s

Analisis perubahan penggunaan lahan

Tahap analisis ini dilakukan dengan menggunakan software Idrisi Selva, dimana input datanya berupa peta proyeksi dasar (cover map). Hal ini didukung oleh perubahan sebagian besar penggunaan lahan bukan budidaya menjadi budidaya (12,36%) yang menunjukkan bahwa alih fungsi lahan hutan menjadi pengolahan tanah (perkebunan/pertanian) didahului oleh perubahan. dikelola dengan baik oleh.

Berdasarkan tren kubik perubahan penggunaan lahan pada Gambar 3, diketahui bahwa tren perubahan penggunaan lahan hutan ke non budidaya paling banyak terjadi di wilayah timur laut Kabupaten Rokan Hulu. Demikian pula tren perubahan penggunaan lahan hutan menjadi perladangan sebagian besar terjadi di wilayah timur laut dan terjadi secara sporadis di batas administratif Kabupaten Rokan Hulu.

Gambar 2. Peta penggunaan lahan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2000 dan Tahun 2012  Tabel 2
Gambar 2. Peta penggunaan lahan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2000 dan Tahun 2012 Tabel 2

Analisis faktor pendorong perubahan penggunaan lahan

Penentuan nilai pengaruh (bobot) berbagai faktor pendorong perubahan penggunaan lahan dimulai dengan mengkonversi data peta vektor menjadi raster. Format data raster ini digunakan untuk melakukan analisis faktor jarak spasial (ED) untuk setiap faktor pendorong dengan ukuran sel 30x30, karena data penggunaan lahan diinterpretasikan dari citra Landsat dengan resolusi spasial 30x30m. Faktor-faktor pendorong perubahan penggunaan lahan kemudian dilakukan dengan menggunakan uji v Cramer, dengan tujuan untuk mengukur hubungan antara satu variabel dengan setiap kelas penggunaan lahan dengan rentang nilai antara 0 dan 1, dimana 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel tersebut dengan variabel lainnya. faktor pendorong dan kelas penggunaan lahan tertentu, sedangkan nilai 1 menunjukkan hubungan yang erat.

Dari hasil uji Cramer, diperoleh bobot masing-masing faktor pendorong perubahan lahan pada Tabel 3. Dari hasil uji Cramer diketahui bahwa keenam faktor pendorong tersebut dapat digunakan dalam model prediksi penggunaan lahan. Faktor pendorong yang mempunyai bobot paling besar dalam mempengaruhi perubahan penggunaan lahan adalah kemiringan lereng dan.

Hal ini juga dapat diartikan bahwa kondisi lereng dan jarak terhadap daerah terjadinya perubahan penggunaan lahan (daerah gangguan) menjadi faktor penentu perubahan tersebut.

Tabel 3. Bobot hasil uji Cramer’s v faktor pendorong perubahan penggunaan lahan di  Kabupaten Rokan Hulu
Tabel 3. Bobot hasil uji Cramer’s v faktor pendorong perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Rokan Hulu

Membangun dan memvalidasi model prediksi perubahan

Prediksi perubahan penggunaan lahan Kabupaten Rokan Hulu

Faktor pendorong perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Rokan Hulu antara lain jarak terhadap jalan raya, jarak terhadap sungai, jarak terhadap wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan (daerah gangguan), jarak terhadap IUPHHK-HT, jarak terhadap kawasan hutan yang mengeluarkan izin kegiatan perkebunan dan data kemiringan lereng. . Teknologi (SNAST) 2018, kepada Bappenas untuk beasiswa magister dalam negeri tahun 2017, program studi magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang. Peraturan Daerah Kabupaten Rokan Hulu nomor 19 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Rokan Hulu.

Bobby Rachmat Fitriyanto, S.Hut., M.Ling., lahir di Pekanbaru pada tanggal 10 Mei 1988, menyelesaikan program studi Sarjana Manajemen Hutan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011 dan Program Studi Magister. Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2018. Muhammad Helmi, S.Si., M.Si., lahir di Denpasar tanggal 20 November 1969, menyelesaikan pendidikan sarjana pada program studi Penginderaan Jauh dan Kartografi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1996, Magister pada program studi Manajemen Sumber Daya Pesisir dan Laut dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007, dan gelar PhD dalam bidang Manajemen Sumber Daya Pesisir dari Universitas Diponegoro pada tahun 2016. Saat ini tercatat sebagai dosen tetap pada program studi Oseanografi Universitas Diponegoro dan anggota Pusat untuk Tim Kajian Mitigasi Bencana Pesisir dan Rehabilitasi.

Hadiyanto, S.T., M.T., lahir di Pekalongan pada tanggal 28 Oktober 1975, menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia dari Universitas Diponegoro pada tahun 1998, gelar Magister Bioteknologi dari Universitas Wageningan dan gelar Doktor pada program studi Proses Pangan Berbasis Kualitas Produk dari Wageningan Universitas.

Erizal 2

Dari pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa ketahanan pangan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di suatu wilayah, akses terhadap pangan secara fisik, ekonomi, dan sosial, serta daya serap pangan yang merupakan kebutuhan rumah tangga terhadap pangan. Sistem ini menarik untuk dikembangkan sehingga dapat memberikan informasi analisis keamanan pangan dengan variasi yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk 1) membuat rancangan atau model sistem informasi manajemen keamanan pangan yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi pangan di suatu daerah, 2) membangun sistem informasi keamanan pangan (prototype) yang dapat membantu pengambilan keputusan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan keamanan pangan.

Ada dua hal yang menjadi dasar perhitungan dalam penyajian informasi ketahanan pangan, yaitu: 1) aspek ketersediaan pangan (bulanan), 2) aspek pemanfaatan pangan. Model Entity Relationship Diagram (ERD) Sistem Informasi Manajemen Ketahanan Pangan yang dikembangkan ditunjukkan pada Gambar 2. Halaman Data Aspek/Kelompok Halaman ini disediakan untuk mencatat aspek penilaian pengelolaan ketahanan pangan.

Isbandi dan Rusdiana, S., 2014, Strategi mencapai ketahanan pangan ketersediaan pangan di tingkat daerah, Agri Ekonomika, vol.

Tabel 1. Indikator ketersediaan pangan
Tabel 1. Indikator ketersediaan pangan

Login

INFORMASI

Citra yang Digunakan

Gambar yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 gambar asli berwarna greyscale berukuran 512 x 512 piksel, dan 1 gambar watermark biner berukuran 128 x 128 piksel dalam format PNG. Deteksi tepi Canny menawarkan fleksibilitas tinggi, menemukan lokasi tepi, dan hanya menampilkan satu respons pada setiap tepi. Pengurangan noise pada citra asli untuk menghindari kesalahan deteksi tepi dilakukan melalui proses smoothing.

Proses Penyisipan Watermark Berikut ini adalah proses penyisipan

2006) membahas tentang file video digital dan cara menangani file video berukuran besar dengan menggunakan metode kompresi file video yaitu Discrete Cosine Transform (DCT). Elemen yang menentukan ukuran file video meliputi frame rate, ukuran gambar, dan resolusi. Untuk mengatasi masalah tersebut, berbagai cara kompres file video dicari dengan hasil yang baik.

Ini akan menentukan rasio antara kualitas video dan jumlah bit yang diperlukan untuk menyimpan file video dan mengirimkannya. Format file video merupakan format file untuk menyimpan data video digital pada sistem komputer, hampir semua video disimpan dalam bentuk kompresi, hal ini bertujuan untuk memperkecil ukuran file. Uraian format file video digital meliputi informasi kedalaman bit dan rasio sampling untuk informasi warna, yang dinyatakan dalam tiga nilai dalam bentuk 4:4:4 mengacu pada jumlah sampel yang diambil dari tiga saluran video. komponen video.

Kelebihan RBV adalah menggunakan bit rate yang bervariasi untuk mengompresi file video dan memiliki ukuran yang kecil dengan bit rate yang rendah serta kualitas yang lebih baik dibandingkan AVI.

VideoSpin

Movavi Video

Ada banyak perangkat lunak pengeditan video yang tersedia, termasuk VideoSpin, Windows Live Movie Maker, dan Movavi Video. Agar sampel yang diambil dapat representatif maka sampel tersebut harus mempunyai ciri-ciri yang sama atau relatif sama dengan ciri-ciri populasi, dengan menggunakan rumus (1). Pada hipotesis ini tidak dinyatakan bahwa  berbeda satu sama lain, artinya  tidak sama tidak menjadi masalah, sehingga uji ANOVA dapat digunakan untuk menganalisis banyak sampel dengan jumlah data yang sama pada setiap sampel. . kelompok atau berbeda.

Lebih dari sekedar membandingkan mean, uji ANOVA juga memperhitungkan keberagaman data yang dinyatakan dalam nilai varians. ANOVA multivariat berbeda dengan uji ANOVA yang hanya mengukur satu respon, MANOVA mengukur lebih dari satu respon dalam suatu percobaan. Penelitian ini diawali dengan studi literatur yang berkaitan dengan penelitian seperti pengetahuan tentang multimedia video, jenis-jenis penyimpanan file video atau format file video, media penyimpanan yang dapat digunakan, melakukan kajian tentang pengertian video, studi/observasi software Windows video . Live Movie Maker, VideoSpin (pinacle) dan Movavi Video dalam resolusi yang digunakan yaitu 720x480.

Perangkat lunak yang digunakan adalah Windows Live Movie Maker, Videopin dan Movavi, format video NTSC, jenis file AVI, resolusi 720x480, rasio piksel 4:3, rasio aspek standar D1 (0,09), bit rate 1500 kbps, frame rate 29, 97fps dan .

Tabel 2. Timeline penempatan objek  1. baris untuk penempatan gambar statis atau animasi dan
Tabel 2. Timeline penempatan objek 1. baris untuk penempatan gambar statis atau animasi dan

Videospin

Movavi Video

Pada sistem ini, data perubahan suhu dan kelembaban dikirimkan melalui SMS (Short Message Service). Sistem monitoringnya menggunakan sensor SHT 11, dimana sensor ini mendeteksi perubahan suhu dan kelembaban pada area sekitar. Dengan penambahan modul SIMENS GSM, perubahan suhu dan kelembapan akan dikirimkan melalui SMS ke Android.

Setelah itu sensor pertama (DHT11) akan membaca data suhu dan kelembaban di ruang server yang akan diproses oleh modul NodeMcu ESP8226. Sensor DHT 11 dengan hygrometer Tabel 2 merupakan data hasil pengujian suhu dan kelembaban pada ruang server. Hasil tersebut masih dalam batas normal standar suhu dan kelembaban ruang server berdasarkan Lampiran SE-16/PJ/2011 (Direktorat Jenderal Pajak, 2011).

Rancangan sistem pemantauan suhu dan kelembaban berbasis IoT pada ruang server ini bekerja dengan baik selama pengumpulan data 24 kali, tingkat akurasi alat ini mencapai 90%.

Gambar 8. Halaman cover video
Gambar 8. Halaman cover video

Data

  • Stratigrafi Terukur
  • Fosil Mikro

Perubahan lingkungan pengendapan semakin terlihat dengan adanya pengendapan Formasi Oyo di laut dangkal pada masa Miosen Akhir yang terdiri dari batupasir berkapur, kalsilutit tufa, dan konglomerat dengan pecahan batugamping (Pandita dkk., 2009). Perkembangan batugamping semakin nyata dengan terbentuknya Formasi Wonosari berumur Miosen Akhir sampai Pliosen yang diyakini mempunyai hubungan jari dengan Formasi Oyo, litologi penyusunnya tersusun atas batugamping berlapis dan batugamping terumbu (Pandita dkk., 2012). al., 2009). Formasi Oyo berada diatasnya yang terdiri dari 4 seri yaitu seri 6 dan seri 5 berupa batulempung karbonat, seri 4 dan seri 3 tersusun atas breksi batu apung berulang, tufa, batupasir dan batulempung dengan struktur slump, laminasi dan masif.

Sedangkan Formasi Wonosari terdiri dari batugamping kalsiruditik urutan 2 dan batugamping kalkarenit urutan 1. Analisis lingkungan pengendapan berdasarkan mikrofosil menggunakan data fosil bentonik dengan konsep lingkungan laut mengacu pada Tipsword et al.Lingkungan pengendapan Formasi Oyo dengan litologi perulangan berupa breksi batu apung, tufa, batupasir dan batulempung terletak pada rentang Neritik dalam hingga Bathial Bawah (Tabel 3).

Lingkungan pengendapan Formasi Wonosari dengan litologi berupa batugamping klastik kalsirudit dan kalkarenit berkisar dari neritik dalam hingga neritik luar (Tabel 5).

Gambar 15. Klasifikasi lingkungan  laut menurut Tipsword dkk. (1966)
Gambar 15. Klasifikasi lingkungan laut menurut Tipsword dkk. (1966)

Lingkungan Pengendapan

  • Pengukuran Densitas Komposit Cantula-poliester
  • Ketangguhan Impak Komposit Cantula-poliester
  • Penampang Patahan Hasil Pengujian Impak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh fraksi volume serat komposit poliester Cantula terhadap sifat mekanik adalah peningkatan ketangguhan impak dengan rata-rata fraksi volume 6831,5 J/m2, 7464,5 J/m2, 8549 J/m2 dan masing-masing 10151,5 J/m2 namun pada fraksi volume serat 50% mulai mengalami penurunan nilainya yaitu 9515 J/m2. Selain alasan tersebut, fraksi volume serat pada tikar yang lebih tipis juga lebih kecil (Yanuar dan Diharjo, 2003). Penelitian yang dilakukan Pramono dkk. 2007) pada material komposit yang diperkuat dengan serat eceng gondok acak dengan cara perendaman dalam NaOH 10% selama perendaman 2 jam dan variasi fraksi volume dan 50%) kekuatan impak tertinggi diperoleh pada komposit eceng gondok dengan fraksi volume 50 % sebesar 0,0059 N/mm2 dan energi serapan terjadi sebesar 1,17 J.

Pengujian Impact Spesimen komposit dibuat dengan menggunakan kombinasi metode hand lay-up dan press moulding dengan fraksi volume 50%. Nilai rata-rata densitas komposit poliester Cantula tertinggi terjadi pada fraksi volume serat 10% sebesar 396,75 kg/m³ dan densitas terendah pada fraksi volume serat 50% sebesar 282,65 kg/m³. Data kekuatan impak menunjukkan nilai kekuatan impak meningkat dari fraksi volume 10% menjadi maksimal 40%, namun pada fraksi volume 50% nilai kekuatan impak menurun.

Diketahui bahwa ketangguhan impak komposit Cantula-polyester yang paling optimal adalah pada fraksi volume serat 40%.

Gambar 17. Lingkungan Lower Fan  untuk Formasi Sambipitu dan Supra Fan
Gambar 17. Lingkungan Lower Fan untuk Formasi Sambipitu dan Supra Fan

Gambar

Gambar 4. Hasil uji korosi dengan polarisasi potensio dinamik pada Kecepatan Las 8,  10, dan 12 mm/s
Gambar 5. Hasil SEM pada Kecepatan Las 8 mm/s dan 12 mm/s WM
Gambar 6. Hasil EDS Daerah WM pada Kecepatan Las: (a) 8 mm/s (tanda 002 di  Gambar 5) dan
Gambar 1. Rangkaian reaktor tangki berpengaduk yang digunakan (Loandy, 2018)  PEMBAHASAN
+7

Referensi

Dokumen terkait