• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ecodemica, Vol. 1 No. 2 Agustus 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurnal Ecodemica, Vol. 1 No. 2 Agustus 2019"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI KOMUNIKASI MASYARAKAT CIREUNDEU DALAM MEWARISKAN NILAI-NILAI TRITANGTU

(Studi Fenomenologi Mengenai Komunikasi Antar Budaya Masyarakat Cireundeu Dalam Upaya Pewarisan Nilai-Nilai Tritangtu)

Farhan Reza Wiyadi

Universitas BSI Bandung, [email protected]

ABSTRAK

Tritangtu merupakan metode yang dipercaya oleh pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Metode tersebut merupakan konsep tata lampah yaitu tekad, ucap, dan lampah, konsep tata wilayah yaitu hutan larangan, baladahan, dan tutupan, dan konsep tata wayah yang mengatur segala aspek mengenai waktu. Aspek tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui bagaimana dasar pewarisan nilai-nilai Tritangtu, mengetahui bagaimana proses komunikasi keluarga masyarakat Cireundeu dalam pewarisan nilai-nilai Tritangtu, dan mengetahui hambatan dalam proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu.

Penelitian ini merupakan penelitian studi fenomenologi dengan menggunakan metode kualitatif.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumen/arsip, dan informasi dari internet. Hasil penelitian ini adalah Masyarakat kampung Cireundeu melakukan upaya pewarisan nilai-nilai Tritangtu hingga saat ini karena ingin menjaga kesinambungan hidup. mereka percaya bahwa Tritangtu merupakan suatu konsep kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur sejak penjajahan Belanda, lebih tepatnya sejak berdirinya Sunda. Proses pewarisan dilakukan dengan menggunakan metode saba, yaitu dengan mengajak anak atau memberi contoh kepada anak, sehingga membuat anak penasaran dengan yang dicontohkan orang tuanya. Selanjutnya metode yang dilakukan dengan menggunakan metode mendidik sebelum lahir dan mendidik setelah lahir.

Terdapat dua faktor hambatan yang terjadi dalam proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu yaitu faktor internal dan external.

Kata Kunci : Strategi Komunikasi, Nilai-Nilai Tritangtu, Masyarakat Cireundeu

ABSTRACT

Tritangtu is a method that is believed by followers of the Sunda Wiwitan faith. The method is the concept of the layout that is determination, saying, and the area, the concept of the area of the forest is a prohibited forest, forest, and cover, and the concept of procedures governing all aspects of time. This aspect is a unity that cannot be separated. The purpose of this study is to find out how the basic inheritance of Tritangtu values, knowing how the communication process of the Cireundeu community in the inheritance of Tritangtu values, and to know the obstacles in the process of inheriting Tritangtu values. This research is a case study research using qualitative methods. Data collection is done by interviews, observations, documents / archives, and information from the internet. The results of this study are the people of Cireundeu village who have made efforts to inherit Tritangtu's values to date because they want to maintain life continuity. they believe that Tritangtu is a concept of belief inherited from ancestors since the Dutch colonialism, more precisely since the establishment of Sundanese. The process of inheritance is done using the saba method, which is by inviting children or giving examples to children, so that makes children curious about what their parents exemplified. Furthermore, the method is carried out using the method of educating before birth and educating after birth. There are two factors of obstacles that occur in the process of inheritance of Tritangtu values, namely internal and external factors.

Keywords: Communication Strategy, Values Tritangtu, Cireundeu Community

(2)

PENDAHULUAN

Sunda Wiwitan memiliki sebuah konsep yang dikenal sebagai Tritangtu. Tritangtu yang di percayai oleh pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan adalah konsep tata lampah yaitu tekad, ucap, dan lampah, konsep tata wilayah yaitu hutan larangan, baladahan, dan tutupan, dan konsep tata wayah yang mengatur segala aspek mengenai waktu. Aspek tersebut adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Ketiga aspek tersebut yang mendasari nilai- nilai Tritangtu yang tersebar di kalangan pemeluk Sunda Wiwitan. Ketiga aspek Tritangtu merupakan satu kesatuan dalam kehidupan manusia. Salah satu dari ketiganya lepas, maka kehidupan menjadi tidak harmonis dan akhirnya menimbulkan ketidakselarasan, kekacauan, bahkan bencana. Kekacauan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akhir- akhir ini, atau kerusakan alam yang mengakibatkan berbagai bencana, adalah akibat dari lepasnya salah satu dari konsep Tritangtu. Tritangtu tersebut merupakan konsep pemikiran yang diyakini oleh masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Perlu disadari dan dipahami bahwa kepercayaan memiliki kontribusi yang besar bagi bangsa Indonesia. Kontribusi kepercayaan selain menjadi akar bagi tumbuh kembangnya kebudayaan Indonesia, kepercayaan juga memberi ciri kebudayaan daerah tersebut dan juga kepercayaan-kepercayaan masyarakat mengandug makna dan nilai yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kepercayaan mempunyai arti yang sangat penting, bahkan dapat dikatakan menempati posisi yang sentral artinya aspek kepercayaan akan mempengaruhi berbagai aspek dalam keh Kepercayaan yang ada di Indonesia berjumlah 187 kelompok penghayat kepercayaan yang terdata oleh pemerintah. Kejawen, Kaharingan, dan Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia (Koran Sindo, 2017). Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang telah

dianut oleh sekelompok masyarakat Sunda sejak ratusan tahun lalu. Sunda Wiwitan memuja roh nenek moyang sebagai sosok yang disakralkan. Selain itu Sunda Wiwitan memiliki sebuah konsep pemikiran yang dinamakan Tritangtu. Kepercayaan dan konsep pemikiran tersebut bertahan sejak ratusan tahun yang lalu karena adanya pewarisan nilai- nilai melalui komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat.

Budaya dan komunikasi mempunyai hubungan timbal balik dimana budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan sama halnya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau pewarisan budaya. Penting bagi setiap lapisan masyarakat untuk mampu mengkomunikasikan warisan kebudayaan dengan strategi-strategi yang diterapkan sesuai dengan suatu kelompok masyarakat agar tidak terputus makna dari kebudayaan tersebut yang menyebabkan tidak bertahan atau hilangnya tradisi yang telah dipertahankan oleh nenek moyang akibat dari kesulitan mengidentifikasi, pewarisannya dan melestarikannya.

Komunikasi menjadi salah satu cara untuk pewarisan nilai kepercayaan. Pada hakikatnya komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak disengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi. Dalam hal ini terjadi sebuah komunikasi dimana orang tua berusaha mempengaruhi anak supaya tidak melupakan pedoman yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Keunikan dalam penelitian ini adalah mencari dan menggali informasi mengenai pewarisan nilai-nilai yang menjadi suatu pola tradisi bagi para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan Cireundeu, serta diharapkan dapat mengetahui bagaimana cara yang dilakukan

(3)

untuk mempertahankan nilai-nilai adatnya.

Pewarisan nilai adat di masyarakat Cireundeu ini berpatokan pada konsep Tritangtu yang merupakan pedoman atau tata cara hidup yang baik. Hal ini dapat memberikan gambaran tentang bagaimana pola pewarisan nilai-nilai adat dalam kepercayaan Sunda Wiwitan dapat berjalan secara turun temurun dengan mengacu pada konsep Tritangtu sebagai inti dari ajaran Sunda Wiwitan.

Pentingnya pengetahuan mengenai konsep Tritangtu di kampung Cireundeu yang disadari oleh para sesepuh serta pemuda sehingga melatar belakangi dicetuskan kembali konsep tersebut pada tahun 2009 yang pada saat itu sempat tidak di berlakukan. Hal tersebut bertujuan guna menjaga keseimbangan dan kesinambungan dalam kehidupan yang menjadi alasan bagi peneliti tertarik untuk meneliti keunikan mengenai “Strategi Komunikasi Masyarakat Cireundeu Dalam Pewarisan Nilai-Nilai Tritangtu”.

KAJIAN LITERATUR Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi merupakan paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Effendy, 2004) dalam (Prasanti, 2017). Strategi komunikasi harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi (Ulbert Silalahi, 1996) dalam (Prasanti, 2017).

Strategi komunikasi merupakan suatu cara atau taktik dasar dari rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan dengan memiliki

sebuah perencanaan komunikasi dengan manajemen komunikasi agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Adapaun strategi komunikasi yang peneliti maksud ialah strategi komunikasi konsep Harold D. Laswell yang dikutip dalam buku (Effendy, 2007).

Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan orang tua dalam proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu yang terjadi di kampung Cireundeu. Dalam pewarisan nilai-nilai seperti ini sangat diperlukan sebuah strategi agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai.

Komunikasi

Komunikasi adalah hal yang sering dilakukan oleh manusia. Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertukaran pesan atau informasi dengan manusia lainnya untuk mencapai suatu tujuan.

Dikutip melalui jurnal online, Onong Uchyana Effendy mendefinisikan komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan seseorang kepada orang lain untuk memberitahi atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik secara lisan maupun tidak langsung melalui media.

Selanjutnya hakikat komunikasi sendiri menurut Effendy adalah proses pernyataan antar manusia dan yang dinyatakan itu adalah fikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya (Ningsih, 2016). Komunikasi memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk diri sendiri maupun dalam

(4)

hubungannya dengan orang lain.

Komunikasi memberikan informasi yang mungkin diperlukan individu atau kelompok dalam mengambil sebuah keputusan. Alo Liliweri (2004) dalam jurnal (Ningsih, 2016) memberikan pendapat secara umum ada empat kategori fungsi komunikasi, yaitu:

1. Fungsi informasi 2. Fungsi instruksi 3. Persuasif

4. Fungsi menghibur

Berjalannya sebuah komunikasi terdapat beberapa proses yaitu dengan secara primer dan secara sekunder. Proses komunikasi merupakan proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh komunikator kepada komunikan. Pikiran tersebut bisa berupa gagasan, informasi, opini atau hal lain yang muncul di benak komunikator. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.

Berikut ini penjelasan tentang proses komunikasi (Effendy, 2007):

1. Proses komunikasi secara primer Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.

2. Proses komunikasi secara sekunder Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.

Melalui komunikasi proses pewarisan nilai-nilai adat dapat dilakukan dengan baik oleh orang tua kepada anaknya. Jika dalam hubungan keluarga tidak terjalin yang namanya komunikasi tidak mungkin proses pewarisan bisa berjalan dengan baik, bahkan nilai-nilai adat akan cepat terkikis seiring berjalannya waktu.

Maka dari itu orang tua harus memiliki cara bagaimana komunikasi yang hendak dilakukan agar tujuan dari komunikasi dapat tercapai.

Komunikasi Budaya

Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Komunikasi budaya yakni komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaan baik secara lisan maupun tulisan, seperti pada kajian penelitian penulis yang memiliki kaitan yang sangat erat dengan pemahaman

(5)

komunikasi budaya, yaitu perihal strategi komunikasi masyarakat Cireundeu dalam pewarisan nilai-nilai Tritangtu.

Menurut Lustig dan Koester dalam (Liliweri, 2011) komunikasi antar budaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang, yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu, memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan. Hall menyimpulkan bahwa, “tidak ada satu aspekpun pada manusia yang tidak disentuh dan diubah oleh budaya.” Hal yang membuat budaya itu unik adalah bahwa manusia berbagi budaya dengan manusia lain yang membukakan pengalaman yang sama dengan manusia tersebut. (Sirait &

Hidayat, 2015)

Semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kita kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal, misalnya derajat pengetahuan, derajat kesulitan dalam peramalan, derajat ambiguitas, dan kebingungan. Dengan demikian ketika masyarakat berada pada kondisi kebudayaan yang beragam maka komunikasi antar pribadi dapat menyentuh nuansa-nuansa komunikasi antar budaya.

Komunikasi Keluarga

Komunikasi keluarga adalah suatu kegiatan yang terjadi dalam kehidupan keluarga, tanpa adanya komunikasi kehidupan berkeluarga akan terasa sepi.

Kegiatan seperti berbicara, berdialog, bertukar pikiran akan hilang jika tidak ada komunikasi dalam keluarga. Hubungan antara komunikasi dan keluarga adalah salah satu alasan pentingnya mempelajari komunikasi keluarga. Menurut (Hurlock, 1997) dalam (Bahfiarti, 2016) komunikasi keluarga adalah pembentukan pola kehidupan keluarga dimana didalamnya terdapat unsur pendidikan, pembentukan sikap dan perilaku anak yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak, tidak hanya terbatas pada situasi sosial ekonominya atau keutuhan struktur dan interaksinya saja. Menurut (Yusuf, 2007 : 37) dalam (Bahfiarti, 2016) perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikan merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Komunikasi juga merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai. Bila hubungan yang dikembangkan oleh orang tua tidak harmonis, ketidaktepatan orangtua dalam memilih pola asuhan, pola komunikasi yang dialogis dan adanya permusuhan serta pertentangan dalam keluarga, maka akan terjadi hubungan yang tegang. Menurut (Gunarsa, 2002 :205) dalam (Bahfiarti, 2016) komunikasi dalam keluarga

(6)

terbentuk bila hubungan timbal balik selalu terjalin antara ayah, ibu dan anak.

Komunikasi yang efektif diharapkan agar proses menanamkan nilai- nilai berjalan dengan lancar, karena komunikasi yang efektif dapat menimbulkan pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan. Dengan adanya komunikasi yang efektif diharapkan menimbulkan keterbukaan antara orang tua dan anak dalam membicarakan masalah atau kesulitan yang dialami.

Kebudayaan

Peneliti menambahkan kebudayaan pada kajian literatur karena sesuai dengan ranah penelitian. Selain itu untuk dapat mengetahui mengapa Tritangtu dilestarikan oleh masyarakat Cireundeu dibutuhkan berbagai informasi mengenai kilas sejarah yang memiliki kolerasi dengan Tritangtu. Kebudayaan di setiap daerah di Indonesia sangat beragam, setiap individu memiliki cara sendiri dalam melestarikan budayanya sehingga membentuk kelompok yang memiliki pemahaman yang sama. Bentuk kebudayaan sunda yang masih lekat hingga saat ini adalah Tritangtu, ada tiga macam Tritangtu yakni Tritangtu dina raga, di buana, di nagara. Kebudayaan secara sederhana dapat dipahami sebagai hasil karya, karsa, dan cipta manusia, oleh karena itu kebudayaan akan selalu berhubungan dengan manusia.

Pengertian paling tua mengenai kebudayaan dikemukaan oleh Edward Burnett Tylor dalam karyanya yang brjudul Primitive Culture (Liliweri, 2011), bahwa kebudayaan adalah kompleks dari

keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat.

Peran kebudayaan menjadi sangat besar dalam ekosistem komunikasi, karena karakteristik kebudayaan antar komunitas dapat membedakan kebudayaan lisan dan tertulis yang merupakan kebiasaan suatu komunitas dalam mengkomunikasikan adat istiadatnya. Edward T. Hall (1959) mengatakan bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan (Liliweri, 2011).

Kepercayaan

Kepercayaan merupakan salah satu gagasan manusia tentang individu, orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik, sosial, dan dunia supranatural. Kepercayaan merupakan gejala yang bersifat intelektual terhadap kenyataan dari sesuatu atau kebenaran suatu pendapat. Selain agama-agama besa seperti Islam, Kristen, Hindu, dan Budha yang sudah membentuk komunitas penganut masing-masing, ada pula kepercayaan-kepercayaan lokal yang banyak jumlahnya di Indonesia.

Keberadaan kepercayaan-kepercayaan lokal yang banyak dipeluk oleh suku-suku di Indonesia semakin menambah keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Indonesian Cultures and Communities”(Mulid, 2012), Hildred Geertz menggambarkan khazanah keragaman dan kemajemukan masyarakat Indonesia sebagai berikut :

(7)

Terdapat lebih dari 300 kelompok etnis di Indonesia, masing-masing mempunyai identitas budayanya sendiri-sendiri, lebih dari 250 jenis bahasa daerah dipakai, dan hampir semua agama besar diwakili, selain agama asli yang banyak jumlahnya.

Beragamnya kepercayaan lokal di Indonesia sudah lama hidup subur dan berkembang di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia. kepercayaan bagi bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang sangat penting dan fundamental yang tidak bisa dipisahkan dari sisi kehidupan.

Dalam pancasila yang dirumuskan pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ini membuktikan secara jelas bahwa bangsa Indonesia pada hakikatnya percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini masing-masing pemeluk agama dan kepercayaan mempunyai pandangan tersendiri sesua ajaran agama dan kepercayaan mereka masing-masing.

Ada dua elemen penting dan mendasar dalam setiap bingkai kepercayaan lokal, yaitu lokalitas dan spiritualitas. Lokalitas akan mempengaruhi spiritualitas, spiritualitas akan memberi warna pada lokalitas. Keduanga saling mempengaruhi, bersinergi dan berintegritas. Spiritualitas lahir dari asas ajaran kepercayaan lokal itu sendiri, hal ini memunculkan ekspresi kerohanian dan praktik-praktik ritual sesuai kepercayaan lokal yang dianut oleh suatu daerah tertentu (Mulid, 2012).

Kepercayaan lokal menjadi lahan dan bahan penelitian yang dilaukan oleh para mahasiswa yang ingin mengungkap lebih jauh tentang sejarah yang terdapat pada kepercayaan-kepercayaan lokal.

Dalam kaitan ini peneliti pun tidak

ketinggalan melakukan penelitian terhadap kepercayaan-kepercayaan lokal ini.

Sunda Wiwitan

Sunda wiwitan merupakan salah satu kepercayaan lokal yang ada di Indonesia. Kepercayaan ini merupakan kepercayaan yang dianut oleh sekelompok masyarakat Sunda. Kepercayaan Sunda Wiwitan terdiri dari dua kata “Sunda dan Wiwitan”.

Menurut Djatikusumah, sunda dapat dimaknai dengan tiga konsep dasar yang dikutip dalam jurnal online (Indrawardana, 2014), yaitu :

1. Filosofis yang berarti bersih, indah bagus cahaya.

2. Etnis yang merujuk kepada sebuah komunitas masyarakat layaknya masyarakat lainnya.

3. Geografis yang merujuk pada penemuan suatu wilayah. Dalam hal ini dibedakan dengan istilah Sunda besar yang meliputi pulau besar di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan. Dan Sunda kecil yang meliputi Bali, Sumbawa, Lombok, Flores dan lain-lain.

Sedangkan wiwitan berati asal mula.

Dengan demikian, Sunda Wiwitan berati Sunda asal atau Sunda yang asli.

Di Indonesia terdapat beberapa kepercayaan lokal yang hingga saat ini masih ada seperti Agama Bali (Hindu Bali), Aluk Todolo (Tana Toraja), Agama Djawa Sunda (Kuningan), Buhun (Jawa Barat), Kejawen (Jawa Tengah dan Timur), dan tentunya Sunda Wiwitan (Koran Sindo, 2017).

(8)

Asal usul Sunda wiwitan tidak dapat diketahui secara pasti penanggalannya. Tidak sepeeti agama yang dapat diketahui kemunculannya melalui tanda seperti risalah kenabian.

Masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda wiwitan mempercayai bahwa nenek moyang mereka memerintahkan untuk menjaga dan memelihara bumi dengan baik, dengan tidak merusak bagian bumu dan segala isinya.

Tritangtu

Tritangtu merupakan ajaran kuno sunda mengenai kehidupan yang dipercayai oleh para pemeluk kepercayaan sunda wiwitan. Ajaran tersebut gencar dilestarikan oleh masyarakat kampung Cireundeu agar generasi penerus mengetahui apa saja nilai-nilai yang terkandung didalam ajaran Tritangtu tersebut.

Tritangtu atau azas kesatuan tiga, merupakan azas dasar masyarakat sunda lama. Azas demikian itu bukan hanya terdapat di masyarakat Sunda, tetapi juga di Minangkabau, Melayu, Sawu, Batak.

Itulah pandangan dunia masyarakat peladang. Masyarakat primodial ladang, seperti masyarakat umumnya di Indonesia, mempercayai bahwa semua eksistensi itu dualistik. Tetapi semua hal dualistik merupakan pasangan biner, yakni pasangan dua hal yang saling bertentangan.

Kondisi semacam ini tak boleh dibiarkan dalam ketegangan konflik, yang hanya berakhir dengan kemusnahan. Untuk itu diperlukan harmoni antara pasangan dualistik tersebut. Harmoni itu merupakan integrasi antara dua alamat dualistik, sehingga memuculkan “alamat yang

ketiga”. Dengan demikian, pemikiran dualistik menjelma menjadi pemikiran tritunggal.

Tritangtu adalah filosofi masyarakat dan kebudayaan sunda, yang di jawa disebut Niat, Ilmu, Laku. Tekad, Ucap, Lampah; Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh; Resi, Ratu, Rama; Kehendak, Pikiran, Perbuatan, adalah pola hubungan tiga yang permanen dan menjadi pegangan pemaknaan dalam budaya sunda. Dalam Tritangtu terdapat penjajaran, pembedaan, kesamaan peran, saling ketergantungan dalam membangun kesatuan.

Dalam proses pewarisan filosofi Tritangtu tekad, ucap, dan lampahnya tidak harus dalam hubungan linear, misalnya mendidik tekad dahulu baru mendidik ucap dan akhirnya mendidik lampah.

Pendidikan Tritangtu merupakan pendidikan dalam dinamika non-linear, bisa dari lampah mengarah ke ucap untuk membangun tekad, bisa juga tekad ke lampah baru ucap, atau berurutan mulai dari tekad, ucap, kemudian lampah (Sumardjo, 2011).

METODE PENELITIAN

Penelitian Strategi Komunikasi Masyarakat Cireundeu Dalam Upaya Pewarisan Nilai-Nilai Tritangtu yang dilakukan peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi dengan tujuan memberikan penjelasan bagaimana komunikasi atarbudaya yang dilakukan orang tua kepada anak untuk pewarisan nilai-nilai yang terkandung dalam Tritangtu melalui penanaman pemahaman Tritangtu dimulai sejak kecil.

(9)

Menurut Lexy J. Moloeng mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Agustinova, 2015).

Dalam penelitian Strategi Komunikasi Masyarakat Cireundeu Dalam Upaya Pewarisan Nilai-Nilai Tritangtu, peneliti akan meneliti terkait dengan strategi komunikasi dalam pewarisan nilai-nilai Tritangtu yang dilakukan oleh orang tua pada masyarajat Cireundeu.

PEMBAHASAN

Upaya pewarisan di kampung Cireundeu bukan tanpa alasan dilakukan, ada hal pendorong dilakukannya upaya tersebut, dimana sebagai masyarakat adat Sunda sudah seharusnya melestarikan nilai-nilai budaya yang ada, terlebih ada pepatah bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang tidak melupakan budayanya.

Ada enam gagasan dalam teori interaksi simbolik diantaranya adalah manusia mendasarkan tindakannya atas interpretasi mereka, dengan mempertimbangkan dan mendefinisikan objek – objek dan tindakan yang relevan pada situasi saat itu.

Masyarakat kampung Cireundeu berupaya melestarikan nilai-nilai Tritangtu tersebut karena melihat kondisi sekitar dimana nilai-nilai tersebut sudah dinilai sebagai metode kuno dan sudah hampir pudar.

Pada penelitian yang dilakukan peneliti pada akhir bulan Mei 2019 hingga bulan juli 2019 di kampung Cireundeu, peneliti

menemukan keunikan bahwa kampung tersebut sangat kental dan cinta terhadap nilai-nilai kebudayaan, hal tersebut membuat mereka tetap melestarikan nilai- nilai kebudayaannya. Dalam interaksi simbolik dijelaskan bahwa manusia membuat keputusan dan bertindak pada situasi yang dihadapinya sesuai dengan pergantian subjektifnya. Hal tersebut menegaskan bahwa saat ini nilai-nilai kebudayaan sudah hampir terlupakan dengan adanya arus perkembangan zaman, oleh karena itu masyarakat kampung Cireundeu melakukan berbagai cara agar nilai-nilai kebudayaan tetap ada atau tetap lestari. Keluarga merupakan sarana sosialisasi primer bag seseorang untuk mengenal dan belajar tentang budaya yang dimilikinya. Pandangan tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Goode (1995) isi proses pemasyarakatan ialah tradisi kebudayaan dengan meneruskannya pada generasi berikut dimana keluarga berfungsi sebagai saluran penerus yang tetap menghidupkan kebudayaan itu (Fitriyani, Suryadi, & Syam, n.d.).

Masyarakat kampung Cireundeu mengenal nilai-nilai budaya Tritangtu sejak zaman dulu dari sesepuh dan orang tua mereka.

Salah satu informan dalam penelitian yang dilakukan peneliti mengungkapkan bahwa Tritangtu merupakan metode yang paling tepat yang dipercayai oleh masyarakat Cireundeu sejak penjajahan Belanda.

Pengertian singkat mengenai Tritangtu yaitu tiga ketentuan. Tritangtu adalah cara berpikir masyarakat Sunda, masyarakat sunda memaknai Tritangtu sebagai falsafah hidup untuk mendapat harmoni dengan alam. Tiga ketentuan tersebut merupakan, tata wayah, tata wilayah, dan tata lampah. Manfaat melestarikan nilai-

(10)

nilai kebudayaan salah satunya untuk menjaga budaya dari pengaruh budaya asing. Melestarikan Tritangtu memiliki berbagai macam manfaat yang dirasakan oleh masyarakat kampung Cireundeu. Para informan yang peneliti temukan merasakan manfaat-manfaat dari melestarikan nilai- nilai Tritangtu tersebut. Manfaat yang dirasakan yaitu untuk keberlangsungan hidup atau kesinambungan dalam menjalani kehidupan dunia. Dari penataan wilayah pun kita merasakan manfaat dari melestarkan nilai-nilai Tritangtu. Ketika hujan tidak akan terjadi longsor dan jika kemarau tidak akan kekeringan. Hal itulah yang dirasakan masyarakat Cireundeu akan manfaat dari melestarikan nilai-nilai Tritangtu. Keterkaitan antara alam dan manusia melahirkan adanya pengetahuan, sistem nilai dan norma yang bertujuan untuk memperlakukan alam dengan baik.

Menurut (Garna, 1996) hal tersebut kemudian menjadi satu nilai yang diturnkan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi (Wijarnako, 2013).

Menurut Harold D. Laswell dalam (Oktavia, 2016), menyatakan bahwa dalam proses komunikasi harus dapat menjawab pertanyaan “who say what, in wich channel to whom and whit what effect”. Who berarti siapa yang menjadi komunikator, dalam hal ini masyarakat kampung Cireundeu khususnya para orang tua di kampung Cireundeu. Says what berarti isi pesan yang disampaikan, dalam hal ini pesan yang disampaikan merupakan pengertian mengenai Tritangtu. In wich channel berarti saluran media pembelajaran yang dipakai oleh orang tua kampung Cireundeu dengan cara langsung atau tatap muka, lebih tepatnya dengan

memberikan contoh. To whom berarti sasaran komunikan yaitu generasi penerus yang berada di kampung Cireundeu. With what effect merupakan akibat yang timbul setelah pesan itu disampaikan. Komunikasi merupakan satu hal yang pertama dilakukan keluarga bagi anak untuk memberikan sebuah pengetahuan.

Keluarga merupakan sarana pendidikan pertama bagi anak sebelum menginjak ke bangku sekolah, keluarga dituntut menyediakan situasi belajar yang nyaman. Ikatan keluarga dapat membantu anak mengembangkan sifat cinta kasih, kerja sama, disiplin, dan tingkah laku yang baik. Sesuai dengan yang dicantumkan pada kajian literatur mengenai komunikasi keluarga, komunikasi ini membentuk pola kehidupan keluarga yang didalamnya terdapat unsur pendidikan, pembentukan sikap, dan perilaku anak. Tanggung jawab pendidikan terletak ditangan kedua orang tua dan tidak bisa diberikan kepada orang lain. Tugas utama keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai pendidik akhlak dan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga lainnya.

Dalam proses pembelajaran memerlukan strategi komunikasi agar proses pewarisan bejalan sesuai dengan yang diinginkan. Sesuai dengan definisinya strategi komunikasi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Setelah peneliti melakukan penelitian di kampung Cireundeu, peneliti menemukan melalui informasi yang didapatkan dari informan bahwa strategi yang dilakukan masyarakat Cireundeu terutama orang tua dalam upaya pewarisan nilai-nilai Tritangtu dengan menggunakan

(11)

metode saba. Metode saba merupakan cara yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu sejak zaman dulu, saba berarti berkunjung.

Sebagai contoh metode masyarakat Cireundeu mempraktekan metode ini dengan mengajak anak ke gunung dengan berbagai aturan yang telah ditentukan oleh para leluhur. Dengan menggunakan metode tersebut, dengan sendirinya menimbulkan pertanyaan, kenapa hutan larangan, kenapa jangan menggunakan alas kaki. Masyarakat sunda memang tidak mengenal aturan siar, masyarakat adat lebih memberikan contoh kepada anak.

Orang tua memang tidak hanya sebatas mengajak tetapi juga harus mampu memberikan contoh kepada anak.

Masyarakat Cireundeu meyakini bahwa Tritangtu merupakan cara atau metode yang paling tepat untuk kesinambungan hidup. Maka dari itu ketika pergi kemanapun keluar daerah Cireundeu mereka tetap teguh terhadap keyakinan mereka. Konsep tersebut merukapan konsep Sunda, karena itu masyarakat Cireundeu tetap teguh dan sebagai orang Sunda harus terus melestarikan konsep tersebut. Konsep Tritangtu sudah menjadi kewajiban masyarakat Cireundeu yang memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan.

Konsep tersebut merupakan sebuah pedoman, pedoman merupakan hal atau pokok yang menjadi dasar atau pegangan dalam melaksanakan sesuatu. Sebelum anak menginjak usia manjing (dewasa) tanggung jawab akan pemahaman Tritangtu masih menjadi tanggung jawab orang tua. Ketika sudah dewasa itu merupakan pilihan mau tetap melestarikan nilai-nilai tersebut atau tidak, tapi harus tanggung resikonya sendiri. Menurut

penuturan informan yang penting bukan salah dari kami.

Hambatan internal yang dirasakan oleh orang tua masyarakat Cireundeu dalam upaya mewariskan nilai-nilai Tritangtu dengan perkembangan zaman modern ini, tidak sedikit anak-anak mengatakan bahwa nilai-nilai-nilai Tritangtu merupakan hal kuno. Tidak sedikit generasi muda yang menolak budaya yang hendak diwariskan, mereka menganggap bahwa nilai tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan kepentingan hidupnya, bahkan dianggap bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya yang baru diterima sekarang ini. Nilai-nilai modernisasi tidak selalu membawa kebaikan bagi pengembangan nilai-nilai kebudayaan lokal. Salah satu informan mengatakan bahwa kesadaran pribadi anak-anak di kampung Cireundeu masih kurang dalam perihal melestarikan nilai- nilai kebudayaan.

Pengaruh teknologi dan perkembangan zaman memberikan pengaruh pada upaya pewarisan nilai-nilai Tritangtu. Hal tersebut dirasakan oleh ketua adat kampung Cireundeu, beliau mengatakan memang pengaruh teknologi tidak bisa dipungkiri mempengaruhi upaya pewarisan nilai-nilai Tritangtu. Pengaruh dari kecanggihan teknologi ada pengaruh positif dan negatif. Dengan teknologi seperti handphone dan televisi memang mempengaruhi dalam kehidupan. Segala informasi mengenai kebudayaan terdapat disitu. Tetapi tetap butuh filter untuk menyaring informasi-informasi tersebut.

Kampung Cireundeu saat ini menjadi sebuah kampung wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun

(12)

internasional. Hal tersebut akan menjadi salah satu faktor yang menghambat proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu. Faktor lingkungan dinilai tidak terlalu berpengaruh dalam proses pewarisan nilai- nilai Tritangtu, namun jiga anak pergi ke luar Cireundeu, bersekolah atau bekerja memang dirasakan pengaruhnya.

Para orang tua di kampung Cireundeu mempunyai cara untuk mengatasi berbagai hambatan yang terjadi dalam upaya pewarisan nilai-nilai Titangtu. Ketua adat kampung Cireundeu melakukan upaya untuk mengatasi hambatan tersebut dengan mengadakan pertemuan rutin untuk membangun sebuah pondasi, agar pada batin masing-masing dari masyarakat adat kampung Cireundeu tertanam saringan yang berfungsi menyaring sebuah ilmu atau hal yang bisa mencelakakan dirinya. Para orang tua tidak pernah lelah dan bosan dalam memberitahu pengertian mengenai Tritangtu dengan metode saba. Mengajak anak-anak ke gunung dengan segala aturan yang telah ditetapkan oleh para leluhur. Bukan hanya sekedar berbicara apa itu Tritangtu, tetapi para orang tua pun memberikan contoh dan memberikan kesadaran bahwa Tritangtu ini harus tertanam di diri kalian masing- masing. Pembatasan aktivitas media seperti media televisi dan hp merupakan salah satu cara mengatasi hambatan external yang terjadi pada saat proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu.

Pendampingan merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh masyarakat kampung Cireundeu.

PENUTUP

Masyarakat kampung Cireundeu melakukan upaya pewarisan nilai-nilai Tritangtu hingga saat ini karena ingin

menjaga kesinambungan hidup. mereka percaya bahwa Tritangtu merupakan suatu konsep kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur sejak penjajahan Belanda, lebih tepatnya sejak berdirinya Sunda. Tritangtu merupakan ajaran yang mengatur wilayah, wayah, dan lampah seseorang. Wilayah terbagi menjadi hutan larangan, tutupan, dan baladahan. Wayah merupakan aturan waktu seperti membangun sebuah rumah atau acara pernikahan. Lampah merupakan konsep yang mengatur tingkah laku masyarakat Cireundeu.

Proses pewarisan dilakukan dengan menggunakan metode saba, yaitu dengan mengajak anak atau memberi contoh kepada anak, sehingga membuat anak penasaran dengan yang dicontohkan orang tuanya. Menjadi seorang orang tua tidak hanya memberitahu saja apa itu Tritangtu tetapi harus juga bisa memberikan contoh kepada anak. Selanjutnya metode yang dilakukan dengan menggunakan metode mendidik sebelum lahir dan mendidik setelah lahir. Mendidik sebelum lahir dengan cara menjaga kelakuan sebelum memiliki anak, sedangkan mendidik setelah lahir ialah dengan cara memberi suri tauladan yang baik kepada anak.

Terdapat dua faktor hambatan yang terjadi dalam proses pewarisan nilai-nilai Tritangtu yaitu faktor internal dan external.

Hambatan internal merupakan hambatan yang datang dari diri individu itu, contohnya seperti kesadaran generasi penerus untuk melestarikan nilai-nilai Tritangtu, tidak sedikit anak yang berpendapat bahwa nilai-nilai Tritangtu merupakan metode kuno, sudah bukan zamannya lagi mempelajari nilai-nilai kebudayaan di era modern seperti ini.

Sedangkan faktor external merupakan

(13)

faktor yang datang dari luar individu, seperti faktor lingkungan, faktor perkembangan zaman atau modernisasi.

REFERENSI

Agustinova, D. E. (2015). Memahami metode penelitian kualitatif.

Yogyakarta: Calpulis.

Bahfiarti, T. (2016). Komunikasi Keluarga. Makasar: Kedai Buku Jenny.

Effendy, O. U. (2007). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Fitriyani, A., Suryadi, K., & Syam, S.

(n.d.). PERAN KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN NILAI

BUDAYA SUNDA.

Indrawardana, I. (2014).

BERKETUHANAN DALAM SUNDA WIWITAN. 105–118.

Kodiran. (2004). PEWARISAN BUDAYA.

16(1).

Koran Sindo. (2017). Babak Baru Penghayat Aliran Kepercayaan di Indonesia. Sindo News.

Liliweri, A. (2011). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mulid, A. S. (2012). Dinamika

Perkembangan Sistem Kepercayaan Lokal di Indonesia. Jakarta:

Puslitbang Kehidupan Keagamaan.

Mulyadi, M. (2011). PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF SERTA PEMIKIRAN DASAR MENGGABUNGKANNYA Mohammad Mulyadi. 15(1), 127–

138.

Ningsih, L. J. (2016). STRATEGI KOMUNIKASI INTERPERSONAL

DALAM SAMARINDA. 4(3), 471–

481.

Oktavia, F. (2016). UPAYA

KOMUNIKASI INTERPERSONAL KEPALA DESA BORNEO

SEJAHTERA DENGAN MASYARAKAT DESA LONG LUNUK. 4(1).

Prasanti, D. (2017). STRATEGI

KOMUNIKASI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

PONDOK PESANTREN SALAFI.

3(April).

Santoso, E., & Setiansah, M. (2010). Teori Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sirait, D. M., & Hidayat, D. (2015). Pola komunikasi pada prosesi mangulosi dalam pernikahan budaya adat batak toba 1. II(1), 23–31.

Sumardjo, J. (2011). Pola Rasionalitas Budaya. Bandung: Kelir.

West, R. & L. H. T. (2008). Pengantar teori dan komunikasi analisis dan aplikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Wijarnako, B. (2013). PEWARISAN NILAI-NILAI KEARIFAN TRADISIONAL DALAM MASYARAKAT ADAT. 13.

BIODATA PENULIS

Farhan Reza Wiyadi menempuh pendidikan program Strata-1 pada tahun 2015 di Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Universitas Bsi Bandung dengan mengambil peminatan Televisi dan Film.

Pada tahun 2019 memulai penelitian mengenai Strategi Pewarisan Nilai-Nilai

(14)

Tritangtu yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu.

(15)

Referensi

Dokumen terkait

To limit the scope of the study, this research only focuses on aspect multisensory learning and assessment rubric for the young learner English which is suitable for

Bahwasannya terdapat 3 pelayanan dari e-Government yang dibuat oleh pemerintah kota Malang antara lain, Pelayanan pengaduan online, pelayanan data dan Informasi melalui